Anda di halaman 1dari 25

d.

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pengertian
Hipertermi adalah suhu inti tubuh di atas kisaran normal dikarenakan
kegagalan termoregulasi ( Herdman, 2015)
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh diatas rentang normal yang
tidak teratur, disebabkan ketidakseimbangan antara produksi dan
pembatasan panas (Sodikin, 2012 )
Hipertemi adalalah suhu tubuh yang tinggi karena terputusnya
thermoregulasi yang timbul saat tubuh menghasilkan atau menyerap lebih
banyak panas daripada yang hilang. Ini adalah suhu inti yang bertahan di
luar varians normal, biasanya lebih besar dari 39 ° C (102,2 ° F).
2. Etiologi
- Agen farmaseutikal
- Aktivitas berlebihan
- Dehidrasi
- Iskemia
- Pakaian yang tidak sesuai
- Penurunan Perpirasi
- Penyakit
- Sepsis
- Suhu lingkungan tinggi
- Trauma
3. Batasan Karakteristik
- Apneu
- Bayi tidak dapat mempertahankan menyusu
- Gelisah
- Hipotensi
- Kejang
- Koma
- Kulit kemerahan
- Kulit terasa hangat
- Letargi
- Postur abnormal
- Stupor
- Takikardia
- Takipnea
- vasodilatasi
4. Patofisiologi

1
Kuman Salmonella masuk bersama makanan atau minuman yang
terkontaminasi, setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke
jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid
mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat
kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju
organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama hati dan limpa. Di tempat
ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit retikuloendotelial sistem (RES)
dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak.
Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah
menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia sekunder) dan sebagian kuman
masuk ke organ tubuh terutama limpa, kandung empedu yang selanjutnya
kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus
dan menyebabkan reinfeksi usus. Dalam masa bakteremia ini kuman
mengeluarkan endotoksin. Endotoksin ini merangsang sintesa dan
pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang.
Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah mempengaruhi pusat
termoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala
demam.
Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut
monokines yang menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun
sistem, instabilitas vaskuler, depresi sumsum tulang dan panas. Infiltrasi
jaringan oleh makrofag yang mengandung eritrosit, kuman, limfosist
sudah berdegenerasi yang dikenal sebagai tifoid sel. Bila sel ini
beragregasi maka terbentuk nodul terutama dalam usus halus, jaringan
limfe mesemterium, limpa, hati, sumsum tulang dan organ yang terinfeksi.
Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang
hiperplasi (minggu I), nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III). Pada
dinding ileum terjadi ulkus yang dapat menyebabkan perdarahan atau
perforasi intestinal. Bila sembuh tanpa adanya pembentukan jaringan
parut.Diare juga menyebabkan distensi abdomen yang menyebabkan mual
muntah sehingga nafsu makan menurun dan menimbulkan
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

2
3
PATHWAY KEPERAWATAN
4
5. Masalah keperawatan lain yang muncul
1) Resiko defisit volume cairan b/d pemasukan yang kurang,
pengeluaran yang berlebihan, diare, panas tubuh
2) Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
intake kurang akibat mual, muntah, anoreksia
6. Intervensi keperawatan

N Diagnosa Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional


o hasil
1 Hipertemia b/d NOC : NIC :
penyakit (proses Termoregulasi Pengaturan suhu
infeksi salmonella Kriteria Hasil : - Monitor suhu - Mengetahui
thyposa) - Suhu tubuh setiap 2 jam perubahan tanda-
dalam rentang sesuai kebutuhan tanda vital pasien
- Monitor tekanan - Mengetahui
normal
- Nadi dan RR darah, nadi dan tanda-tanda
dalam rentang RR dehidrasi
- Monitor suhu - Mengidentifikasi
normal
- Tidak ada dan warna kulit adanya infeksi
- Tingkatkan
perubahan warna dan dehidrasi
intake cairan dan - Mencegah
kulit dan tidak ada
nutrisi adekuat terjadinya
pusing, merasa
dehidrasi
nyaman - Monitor tanda-
- Sebagai acuan
tanda hipertermi
dalam melakukan
dan hipotermi
tindakan
keperawatan
- Berikan - Mempercepat
pengobatan dalam penurunan
antipiretik sesuai produksi panas
dengan
kebutuhan
dengan
kolaborasi

5
dengan medis
Perawatan
- Memonitor suhu
Demam
secara kontinu
- Pantau suhu dan
tanda-tanda vital - Mengidentifikasi
lainnya adanya infeksi
- Monitor warna
dan dehidrasi
kulit - Mengetahui
dan suhu
status dehidrasi
- Monitor asupan
- Membantu untuk
dan keluaran
menurunkan
- Lakukan water
panas
tepid sponge
( kompres air - Membantu untuk
hangat) menurunkan
- Kompres pasien
panas
pada lipat paha - Menggantikan
dan aksila cairan yang
- Kolaborasi
hilang lewat
pemberian
keringat
cairan intravena

2 Resiko defisit NOC: Fluid management


volume cairan b/d - Keseimbangan - Pertahankan - Untuk memantau
pemasukan yang cairan catatan intake status hidrasi
- Hidrasi
kurang , dan output yang
- Status nutrisi :
pengeluaran yang akurat
intake makanan
- Timbang berat
berlebihan, diare, - Berat badan turun
dan minuman
badan setiap hari
panas tubuh mengidentifikasik
Kriteria Hasil :
an terjadinya

6
- Mempertahankan - Monitor status dehidrasi
- Mengidentifikasi
urine output hidrasi
adanya dehidrasi
sesuai dengan ( kelembaban
usia dan BB, BJ membran
urine normal, HT mukosa, nadi
normal adekuat, tekanan
- Tekanan darah,
darah
- Perubahan tanda-
nadi, suhu tubuh
ortostatik ), jika
tanda vital
dalam batas
diperlukan
mengidentifikasi
normal - Monitor vital
- Tidak ada tanda adanya dehidrasi
sign
- Menghitung
tanda dehidrasi,
balance cairan
Elastisitas turgor
- Monitor
kulit baik,
masukan
membran
makanan / cairan - Untuk
mukosa lembab,
dan hitung intake menentukan
tidak ada rasa
kalori harian terapi selanjutnya
haus yang - Monitor status - Membantu
berlebihan nutrisi mengganti cairan
yang hilang
- Berikan cairan
- Memaximalkan
IV pada suhu
intake
ruangan - Membantu agar
- Dorong
makan habis
masukan oral
lebih banyak
- Dorong keluarga
- Sebagai variasi
untuk membantu
makanan dan
pasien makan
minuman
- Tawarkan snack
( jus buah, buah
segar )

3 Resiko NOC : Managemen


ketidakseimbangan Nutritional Status : Nutrisi

7
nutrisi kurang dari food and Fluid - Kaji adanya - Mengetahui
kebutuhan tubuh Intake alergi makanan adanya riwayat
b/d intake kurang Kriteria Hasil : alergi
- Kolaborasi
- Membantu dalam
akibat mual, - Adanya
dengan ahli gizi
pemberian diet
muntah, anoreksia peningkatan
untuk
yang tepat sesuai
berat badan
menentukan
umlah yang
sesuai dengan
jumlah kalori
dibutuhkan
tujuan
dan nutrisi yang
- Berat badan
dibutuhkan
ideal sesuai
pasien. - Mengantisipasi
dengan tinggi
- Anjurkan pasien
adanya anemia
badan
untuk
- Mampu
meningkatkan
mengidentifikasi
intake Fe - Membantu proses
kebutuhan nutrisi
- Anjurkan pasien
- Tidak ada tanda penyembuhan
untuk
tanda malnutrisi penyakit dan
- Tidak terjadi meningkatkan
meningkatkan
penurunan berat protein dan
imun
badan yang vitamin C - Membantu dalam
- Berikan
berarti pemberian diet
makanan yang
yang tepat sesuai
terpilih ( sudah
umlah yang
dikonsultasikan
dibutuhkan
dengan ahli gizi) - Untuk mengatur
- Ajarkan pasien
variasi makanan
bagaimana
setiap hari
membuat catatan
makanan harian.
- Memantau agar
- Monitor jumlah
tidak kelebihan
nutrisi dan
intake
kandungan kalori
- Agar lebih
- Berikan
mengetahui
informasi

8
tentang pentingnya
kebutuhan nutrisi nutrisi
Monitoring
- Penurunan berat
nutrisi
badan
- Monitor adanya
mengidentifikasi
penurunan berat
kan adanya
badan
kekurangan
nutrisi
- Semakin banyak
aktivitas semakin
- Monitor tipe dan banyak
jumlah aktivitas kebutuhan nutrisi
- Dukungan
yang biasa
keluarga
dilakukan
- Monitor interaksi mempunyai peran
anak atau dalam pemberian
orangtua selama nutrisi
- Lingkungan yang
makan
bersih dapat
- Monitor
meningkatkan
lingkungan
nafsu makan
selama makan - Membantu
pemberian anti
- Monitor mual mual
- Penurunan hasil
dan muntah
lab
mengidentifikasi
- Monitor kadar
adanya
albumin, total
kekurangan
protein, Hb, dan
nutrisi
kadar Ht
- Membantu
memaksimalkan
intake

9
- Monitor - Mengetahui
makanan ketidakseimbang
kesukaan an nutrisi

- Monitor kalori
dan intake nutrisi

e. BAB II
TINJAUAN KASUS

IDENTITAS DATA
Nama : AN. L
Alamat : GENTASARI RT 11 RW 06
Tempat/ tgl. Lahir : CILACAP
Agama : ISLAM
Usia : 16 TAHUN
Suku Bangsa : INDONESIA
Nama Ayah / Ibu : AHMAD ZAHIDIN
Pendidikan Ayah : SD
Pekerjaan Ayah : TANI
Pendidikan Ibu : SARJANA
Pekerjaan Ibu : PNS

KELUHAN UTAMA
Riwayat kehamilan dan kelahiran
Prenatal : Pada saat kehamilan, tidak ada penyakit yang serius

10
Intranatal : Pada saat persalinan ibu melahirkan di puskesmas
dengan persalinan normal
Prostanal : Ibu pulang setelah 1 hari di rawat, Tidak ada kelainan
selama masa nifas di rumah, ibu kontrol di bidan
terdekat.
RIWAYAT MASA LAMPAU
Penyakit waktu kecil : sewaktu masih kecil pasien belum pernah sakit yang
serius hanya sakit ringan saja seperti batuk dan pilek
Pernah dirawat di RS : pasien belum pernah di rawat di puskesmas maupun di
Rumah sakit sebelumnya
Obat-obatan yang digunakan :obat yang digunakan ketika sakit hanya obat
puskesmas
Tindakan (operasi) : belum pernah dilakukan tindakan operasi...
Alergi : tidak mempunyai alergi obat dan alergi makanan
Kecelakaan : belum pernah mengalami kecelakaan
Imunisasi : riwayat imunisasi waktu kecil lengkap

RIWAYAT KELUARGA (DISERTAI GENOGRAM)

Pasien

Keterangan
: Perempuan

11
: Laki-laki

: Pasien

RIWAYAT SOSIAL
Yang mengasuh : pasien di asuh oleh kedu orangtuanya
Hubungan dengan anggota keluarga : hubungan dengan keluarga baik
Hubungan dengan teman sebaya : hubungan dengan teman sebaya baik
Pembawaan secara umum : secara umum pasien mempunyai pribadi
yang baik,mengenakan hijab saat
dilakukan pengkajian
Lingkungan rumah : pasien tinggal di lingkungan rumah yang
bersih

POLA KESEHATAN FUNGSIONAL GORDON


1. Persepsi kesehatan/ manajemen kesehatan
manajemen kesehatan ibu klien mengatakan mengerti jika ada keluarga
yang sakit segera akan di bawa fasilitas kesehatan terdekat dan selama
sakit ibu klien mengatakan bahwa anaknya sedang sakit dan butuh
pengobatan agar cepat sembuh
2. Nutrisi / metabolik
Sebelum sakit : pasien makan 3x/hr dengan lauk pauk dan sayur kadang
disertai buah
Selama sakit : pasien merasa mual sehingga tidak nafsu makan, hanya
habis 3 sendok dari porsi yang diberikan oleh puskesmas
3. Eliminasi
Sebelum sakit : pasien BAB rutin 1x/hr dengan konsistensi normal, BAK
6-7x/hr
Selama sakit : pasien BAB cair 5x/hr BAK 10x/hr
4. Pola latihan, aktivitas dan rekreasi

12
Sebelum sakit : pasien melakukukan aktivitas pemenuhan kebutuhan ADL
secara mandiri
Selama sakit : pasien dalam kebutuhan pemenuhan kebutuhan ADL di
bantu oleh keluarganya
5. Persepsi sensori dan kognitif
Sebelum sakit : persepsi sensori dan kognitif pasien semua dalam batas
normal
Selama sakit : persepsi sensori dalam batas normal sedangkan kemampuan
bahasa mengalami ketidaklancaran komunikasi dan pengambilan
keputusan pasien diserahkan kepada kedua orangtuanya

6. Pola tidur, istirahat dan relaksasi


Sebelum sakit : pasien tidur normal selama 6-8 jam /hari, bisa istirahat
secara maksimal
Selama sakit : pasien tidak bisa tidur seperti biasa, sering terbangun-
bangun karena diare
7. Pola konsep diri dan persepsi diri klien, pola emosi
Pasien menyadari bahwa dirinya sedang sakit dan membutuhkan
perawatan, pasien memandang dirinya adalah seorang perempuan, santri
dengan postur tubuh yang ideal
8. Peran/ hubungan
Pasien mempunyai hubungan yang baik dengan keluarganya
9. Pola seksual dan reproduksi
Pasien berjenis kelamin perempuan, sudah menstruasi dengan siklus yang
normal 28 hari, tidak mempunyai kelainan di organ reproduksi
10. Koping / toleransi stress
Pasien selalu mendiskusikan dengan keluarganya apabila ada masalah
11. Nilai, kepercayaan
Sebelum sakit : pasien melakukan ibadah secara rutin sholat 5 waktu
Selama sakit : klien hanya berbaring di tempat tidur dan di doakan oleh

13
kedua orang tuanya agar cepat sembuh.
KEADAAN KESEHATAN SAAT INI
Diagnosa medis : Thyfus Abdominalis
Tindakan operasi : belum pernah dilakukan tindakan operasi
Status nutrisi : pasien masih mual dan perut bagian ulu hati sakit
Status cairan : terpasang infus RL 30 tpm di tangan kanan
Obat-obatan : paracetamol tablet 3x1, ranitidin tablet 2x1,
domperidon 3x1, injeksi cefotaxim 1gr/12 jam per IV
Aktivitas : aktivitas selama sakit lebih banyak di tempat tidur
Tindakan keperawatan : kompres air hangat
Hasil laboratorium : hb: 10,8 gr %, Leukosit 6920 mm3, Eritrosit : 4, 70 jt,
Trombosit : 80 ribu, Hematokrit: 34 vol%, widal Ty
O: 1/160 Ty H: ≥ 1/320, IgG Dengue negative, IgM
dengue negatif
Hasil rontgen : tidak dilakukan pemeriksaan Rontgen
Data tambahan : -

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : lemas, kesadaran compos mentis
TB/ BB (persentile) : 153 cm / 48 kg
Mata : conjunctiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Hidung : simetris, tidak ada secret dan tidak ada polip
Mulut : simetris, tidak sianosis dan tidak ada sariawan
Telinga : simetris, fungsi pendengaran baik dan tidak ada
serumen dan Otitis Media Akut
Tengkuk : Tidak ada kaku kuduk
Dada : simetris, tidak ada nyeri dada
Jantung : tidak tampak ictus cordis, ictus cordis teraba di ics 5,
tidak ada pembesaran jantung dan tidak ada suara
tambahan jantung

14
Paru-paru : ekspansi dada simetris, , palpasi vocal fremitus kanan
dan kiri sama, perkusi sonor, auskultasi bunyi nafas
vesiculer tidak ada bunyi nafas tambahan
Perut : inspeksi perut datar, umbilicus tidak menonjol, tidak
ada bekas luka, perkusi tympani di kuadran I, III, IV
dan pekak di kuadran IV,palpasi ada nyeri tekan
dibagian epigastrik, auskultasi bising usus 40 x/menit
Punggung : tidak ada nyeri tekan dan tidak terllihat decubitus
Genitalia : berjenis kelamin perempuan, tidak ada kelainan pada
organ reproduksi
Ekstremitas : ekstremitas atas : tangan kanan terpasang infus RL 30
tpm, ekstremitas bawah tidak ada oedema, capilarry
revil < 3 detik
Kulit : teraba panas tidak
Tanda vital : Tekanan darah : 110/70 mmHg, S: 39,6 C, Nadi :
86x/mnt, Respiratori : 20 x/mnt
PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN
Kemandirian dan bergurau : dalam hal kegiatan pasien sudah tidak bergantung
kepada orangtua, aktivitas sehari-hari dilakukan secara mandiri, dan dalam
keseharian pasien senang bergurau, namun dalam kodisi sakit pasien aktivitas
dibantu keluarga dan pasien tampak sedih karena panas dan menahan sakit
Motorik halus : sudah bisa melewati tahap sesuai dengan pertumbuhannya
Kognitif dan bahasa : apabila ada masalah sudah bisa mencari pemecahan masalah
sendiri namu ada kalanya pemecahan masalah di musyawarahkan dengan kedua
orangtuanya, pasie dalam keseharian menggunakan bahasa jawa
Motorik kasar: sudah sesuai dengan tahap perkembangan dan pertumbuhannya
INFORMASI LAIN

15
ANALISA DATA

Data klien Pathway Masalah Etiologi


keperawatan

1. DS: Pasien Terjadi infeksi disaluran Hipertemi Proses


mengatakan pencernaan Penyakit
badannya panas
sudah 3 hr, pusing
Diserap usus, melalui
DO: akral dan pembuluh limfe masuk ke
kulit pasien teraba pembuluh darah
panas, mukosa
bibir tampak
kering, pasien Masuk ke organ tubuh
tampak lemah TD: (hati dan Limpha)
110/70 mmHg, S:
39,6 C, Nadi :
86x/mnt, Basil tidak dihancurkan
Respiratori : 20 berkembang biak di hati
x/mnt dan limpa

Masuk kembali ke darah

Menyebar ke seluruh tubuh

16
Hipertermi

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Hipertemi berhubungan dengan prose penyakit
INTEVENSI

NO DX NOC NIC RASIONAL

1 Setelah dilakukan tindakan NIC :


keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan ketidakefektifan Pengaturan suhu
termoregulasi teratasi dengan
kriteria hasi : - Monitor suhu setiap - Sebagai acuan untuk
2 jam sesuai mengetahui keadaan
kebutuhan pasien
indikator awal tujuan - Monitor tekanan - Mengetahui tanda-

Suhu 2 5 darah, nadi dan RR tanda dehidrasi


normal - Monitor suhu dan - Warna kulit dapat
Nadi 2 5 warna kulit menjadi tanda dari
Normal gangguan suhu tubuh
- Tingkatkan intake
Tingkat 2 5 - Mencegah terjadinya
pernafasan cairan dan nutrisi
dehidrasi
Melaporkan 2 5 adekuat
kenyamanan - Monitor tanda-tanda - Sebagai acuan dalam
suhu
hipertermi dan melakukan tindakan
Keterangan
hipotermi keperawatan
1 : sangat terganggu - Berikan pengobatan - Mempercepat dalam
2: banyak terganggu antipiretik sesuai penurunan produksi
3 : cukup terganggu
dengan kebutuhan panas
4: sedikit terganggu
dengan kolaborasi
5: tidak terganggu
dengan medis
indikator awal akhir Perawatan Demam
Sakit 2 5 - Pantau suhu dan
- Memonitor suhu
kepala tanda-tanda vital
secara kontinu
Perubaha 2 5 lainnya
n warna - Mengidentifikasi

17
kulit - Monitor warna kulit adanya infeksi dan
dan suhu
Keterangan : dehidrasi
- Mengetahui status
1 : berat - Monitor asupan dan
dehidrasi
2 : cukup berat keluaran
- Mempermudah
3 : sedang - Lakukan water
pengeluaran panas
4 : ringan tepid sponge
5: Tidak ada ( kompres air - Membantu untuk
hangat) menurunkan panas
- Kompres pasien
- Menggantikan cairan
pada lipat paha dan
yang hilang lewat
aksila
- Kolaborasi keringat
pemberian cairan
intravena

IMPLEMENTASI

NO/HARI/TG IMPLEMENTASI TTD


L

1/selasa / 15 - Jam 11.00 : Memonitor tanda-tanda vital hasil TD:


mei 2018
110/70 mmHg, S: 39,6 C, Nadi : 86x/mnt,
Respiratori : 20 x/mnt

- Jam 11.00 : Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr

- Jam 11.15 : Memberikan water tepid sponge


(kompres hangat) dengan melibatkan keluarga,
keluarga pasien kooperatif

- Jam 12.00 : Memonitor tetesan infus, infus


terpasang RL 30 tpm

- Jam 13.00 : memonitor suhu S: 39,4 TD: 100/70 R :


20x/mnt Nadi : 86x/mnt

- jam 14.00 : Berkolaborasi dengan medis dalam

18
pemberian antipiretik, paracetamol 1 tablet
(500mg)

2/Rabu/16 Mei - Jam 11.00 : Memonitor tanda-tanda vital hasil TD:


2018
100/70 mmHg, S: 37,6 C, Nadi : 84x/mnt,
Respiratori : 20 x/mnt

- Jam 11.00 : Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr

- Jam 11.15 : Memberikan water tepid sponge


(kompres hangat) dengan melibatkan keluarga,
keluarga pasien kooperatif

- Jam 12.00 : Memonitor tetesan infus, infus


terpasang RL 30 tpm

- Jam 13.00 : memonitor suhu S: 37,6 TD: 100/70 R :


20x/mnt Nadi : 86x/mnt

- jam 14.00 : Berkolaborasi dengan medis dalam


pemberian antipiretik, paracetamol 1 tablet
(500mg)

3/ Kamis/17 - Jam 11.00 : Memonitor tanda-tanda vital hasil TD:


Mei 2018
110/80 mmHg, S: 36,8 C, Nadi : 80x/mnt,
Respiratori : 20 x/mnt

- Jam 11.00 : Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr

- Jam 11.15 : Memberikan kompres hangat dengan


melibatkan keluarga, keluarga pasien kooperatif

- Jam 12.00 : Memonitor tetesan infus, infus


terpasang RL 30 tpm

EVALUASI

19
N HARI / EVALUASI
O TANGGAL /
JAM

1 Selasa /15 Mei S : Pasien mengatakan badannya masih panas, pusing


2018/jam
15.00 O : akral dan kulit pasien teraba panas, S: 38,6 celcius, mukosa
bibir tampak kering, pasien tampak lemah

A : masalah belum teratasi

P : Lanjutkan Intervensi

- Monitor suhu setiap 2 jam sesuai kebutuhan


- Monitor tekanan darah, nadi dan RR
- Monitor warna kulit
- Lakukan water tepid sponge ( kompres air hangat)
- Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
- Monitor asupan dan keluaran
- Kolaborasi pemberian antipiretik dan cairan intravena

2 Rabu/ 16 Mei S : Pasien mengatakan panasnya masih naik turun, pusing


2018/ jam
berkurang
15.00
O : akral dan kulit pasien teraba hangat, 100/70 mmHg, S: 37,6
C, Nadi : 84x/mnt, Respiratori : 20 x/mnt

mukosa bibir mulai lembab, pasien tampak lebih segar

A : masalah belum teratasi

P : Lanjutkan Intervensi

- Monitor suhu setiap 2 jam sesuai kebutuhan


- Monitor tekanan darah, nadi dan RR
- Monitor warna kulit
- Lakukan water tepid sponge ( kompres air hangat)
- Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
- Monitor asupan dan keluaran
- Kolaborasi pemberian antipiretik dan cairan intravena

3 Kamis/17 Mei S : Pasien mengatakan sudah tidak panas, tidak pusing


2018/jam
15.00 O : akral teraba dingin, TD: 110/80 mmHg, S: 36,8 C, Nadi :
80x/mnt, Respiratori : 20 x/mnt

20
pasien tampak lebih segar

A : masalah teratasi

P : Hentikan intervensi

f. BAB III PEMBAHASAN


1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data
untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Setiadi,
2012). Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses perawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien agar dapat
mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah kebutuhan kesehatan dan
keperawatan klien baik fisik, mental, sosial dan lingkungan. Pada saat
melakukan pengkajian , kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan data
seperti riwayat keperawatan, pemriksaan fisik, dan pemeriksaan data sekunder
lainnya ( Deswani, 2009).

Dari hasil pengkajian yang didapatkan penulis adalah pasien mengatakan


badannya panas sudah 3 hr, pusing, bab cair 5x, mual, tidak nafsu makan dari
data objektif diperoleh data : akral dan kulit pasien teraba panas, mukosa bibir
tampak kering, pasien tampak lemah TD: 110/70 mmHg, S: 39,6 C, Nadi :
86x/mnt, Respiratori : 20 x/mnt, pasien terlihat lemas, pasien hanya
menghabiskan 3 sendok dari jatah makanan yang diberikan oleh puskesmas.
Dari hasil pengkajian diatas dapat dilihat bahwa tanda dan gejala pada pasien
sesuai referensi yang menyebutkan manifesti yang terjadi pada pasien dengan
hipertermi adalah kenaikan suhu diatas rentang normal (36,5-37,5 celcius )
kulit kemerahan, pada sat disentuh kulit terasa panas (Huda, 2013)

21
Dari pemeriksaan laborat menunjukkan hb: 10,8 gr %, Leukosit 6920
mm3, Eritrosit : 4, 70 jt, Trombosit : 80 ribu, Hematokrit: 34 vol%, widal Ty O:
1/160 Ty H: ≥ 1/320, IgG Dengue negative, IgM dengue negative.Secara
umum data fokus yang ditemukan dalam kasus nyata tidak jauh berbeda
dengan data fokus dalam teori

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisis data subyektif dan data
obyektif yang telah diperoleh pada data pengkajian untuk menegakkan
diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berfikir
komplek tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik,
dan pemberi pelayanan kesehatan lain ( Deswani, 2009)
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu ,
keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan sebagai dasar seleksi
intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai
dengan kewenangan perawat, yang terdiri dari 3 komponen yaitu respon
manusia, faktor yang berhubungan (etiologi), tanda dan gejala / simptom
( Setiadi, 2012 ). Dari data yang didapatkan dari hasil pengkajian makan
penulis dapat menegakkan diagnosa keperawatan hipertermi berhubungan
dengan penyakit. Hipertermi adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu
tubuh dengan batasan karakteristik diatas kisaran normal (36,5-37,5 celcius ),
kulit kemerahan, kulit teraba hangat, nadi meningkat ( Herdman, 2015 ).
Diagnosa tersebut didukung oleh data subyektif yaitu pasien mengatakan
badannnya panas sudah 3 hr, pusing. Data yang dilihat atau data obyektif yaitu
akral dan kulit pasien teraba panas, S: 39,6 celcius, mukosa bibir tampak
kering, pasien tampak lemah dari pemeriksaan laborat menunjukkan hb: 10,8
gr %, Leukosit 6920 mm3, Eritrosit : 4, 70 jt, Trombosit : 80 ribu, Hematokrit:
34 vol%, widal Ty O: 1/160 Ty H: ≥ 1/320, IgG Dengue negative, IgM dengue
negative.
Disini penulis memprioritaskan diagnosa keperawatan hipertemi karena
pada dasarnya hipertermi merupakan masalah yang harus segera di atasi,
karena apabila tidak di atasi segera akan menimbulkan syok dan dehidrasi
3. Intervensi

22
Proses perencanaan keperawatan meliputi penetapan tujuan perawatan,
penetapan kriteria hasil, pemilihan intervensi yang tepat dan rasionalisasi dari
intervensi dan mendokumentasikan rencana keperawatan (setiadi, 2012).
Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit , penulis melakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam diharapkan masalah hipertermi teratasi dengan
kriteria suhu, nadi dan respirasi dalam rentang normal, kulit tidak teraba
hangat, kulit tidak kemerahan (Sodikin, 2012 ).
Rencana keperawatan untuk mengatasi masalah hipertermi yaitu Monitor suhu
setiap 2 jam sesuai kebutuhan dan monitor tekanan darah, nadi dan RR rasional
sebagai acuan untuk mengetahui keadaan pasien, monitor warna kulit rasional
warna kulit dapat menjadi tanda dari gangguan suhu tubuh, lakukan water tepid
sponge rasional mempermudah pengeluaran panas, berikan antipiretik rasional
membantu dalam menurunkan panas, berikan cairan intravena dengan
berkolaborasi rasional untuk mengganti cairan yang hilang melalui keringat
4. Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana intervensi untuk
mencapai tujuan yang spesifik. Implementasi membantu klien untuk mencapai
tujuan yang telah di tetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit dan pemulihan kesehatan (Deswani, 2009). Tindakan
keperawatan yang dilakukan penulis untuk mengatasi hipertermi adalah
memonitor suhu setiap 2 jam sesuai kebutuhan, memonitor tekanan darah, nadi
dan respirasi, memonitor warna kulit, melakukan water tepid sponge,
memberikan antipiretik, berkolaborasi dalam pemberian cairan intravena
5. Evaluasi

Setelah penulis melakukan tindakan keperawatan selama 3 hari, maka


penulis melakukan evaluasi. Evaluasi menggunakan metode sesuai teori SOAP
( Subyektif, Obyektif, Assesment, Planning ). Pada hari pertama S: pasien
mengatakan badannya masih panas, pusing, O : akral dan kulit pasien teraba
panas, S: 38,6 celcius, mukosa bibir tampak kering, pasien tampak lemah A :
masalah belum teratasi,P : Lanjutkan Intervensi : Monitor suhu setiap 2 jam
sesuai kebutuhan, monitor tekanan darah, nadi dan RR, monitor warna kulit,
lakukan water tepid sponge ( kompres air hangat), kompres pasien pada lipat

23
paha dan aksila, monitor asupan dan keluaran, kolaborasi pemberian antipiretik
dan cairan intravena

Pada hari ke dua S : Paien mengatakan panasnya masih naik turun, pusing
berkurang , O : akral dan kulit pasien teraba hangat, 100/70 mmHg, S: 37,6 C,
Nadi : 84x/mnt, Respiratori : 20 x/mnt, mukosa bibir mulai lembab, pasien
tampak lebih segar, P : Lanjutkan Intervensi : Monitor suhu setiap 2 jam sesuai
kebutuhan, monitor tekanan darah, nadi dan RR, monitor warna kulit, lakukan
water tepid sponge ( kompres air hangat), kompres pasien pada lipat paha dan
aksila, monitor asupan dan keluaran, kolaborasi pemberian antipiretik dan
cairan intravena

Pada hari ke tiga S : Pasien mengatakan sudah tidak panas, tidak pusing,
O : akral teraba dingin, TD: 110/80 mmHg, S: 36,8 C, Nadi : 80x/mnt,
Respiratori : 20 x/mnt, pasien tampak lebih segar, A : masalah teratasi, P :
Hentikan intervensi dan pasien diperbolehkan pulang.

g. DAFTAR PUSTAKA

Deswani. (2009). Proses Keperawatan Dan Berpikir Kritis. Jakarta : Salemba


Medika

Herdman, T.H. (2012). NANDA International : Diagnosis Keperawatan : Definisi


dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.

Herdman, T.H. (2015). NANDA International : Diagnosis Keperawatan : Definisi


dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta : EGC.

Huda Amin. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis


Dan NANDA. Yogyakarta : Mediaction Publishing.

Setiadi. (2012). Konsep Dan Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori


Dan Praktek. Yogyakarta : Graha Ilmu.

24
Sodikin. (2012). Prinsip Perawatan Demam Pada Anak. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar

Suprihatin, A. (2015). Asuhan Keperawatan Pada Anak Demam Thyipoid Dengan


Hipertermia Di Paviliun Seruni RSUD Jombang. .Diakses tanggal 20 Mei 2018
pukul 09.00

25