Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN REFLEKSI KASUS

Stase Keperawatan KMB

Disusun Oleh:

KELOMPOK 1

1. Andhika Wahyu, S.Kep.


2. Dwi Lusi Wahyuningsih, S.Kep.
3. Diah Purborini, S.Kep.
4. Margo Sutrisno, S.Kep.
5. Maskanah, S.Kep.
6. Rahmat Sutopo, S.Kep.
7. Setyasih, S.Kep.
8. Siti Nurhayati, S.Kep.
9. Gigih Prasetya, S.Kep.

PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN REGULER B13


STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
TAHUN AKADEMIK 2018 / 2019

LAPORAN REFLEKSI KASUS


“HIPERTENSI”
N KOMPONEN URAIAN
O
1. Latar belakang Diskusi refleksi kasus (DRK) merupakan suatu metode
kasus pembelajaran dalam merefleksikan pengalaman tenaga
keperawatan yang aktual dan menarik dalam memberikan
dan mengelola asuhan keperawatan di lapangan melalui
suatu diskusi kelompok yang mengacu pada pemahaman
standar yang ditetapkan.
Semakin bertambah umur seseorang semakin banyak pula
penyakit yang muncul dan sering diderita khususnya pada
lansia atau lanjut usia. Pada usia lanjut akan terjadi
berbagai kemunduran pada organ tubuh, oleh sebab itu
para lansia mudah sekali terkena penyakit seperti
hipertensi. Hipertensi atau penyakit “darah tinggi”
merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kenaikan
tekanan darah baik secara lambat atau mendadak.
Diagnosis hipertensi ditegakkan jika tekanan darah sistol
seseorang menetap pada 140 mmHg atau lebih. Nilai
tekanan darah yang paling ideal adalah 115/75 mmHg
(Agoes , 2011).
Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya hipertensi
meliputi risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) dan
faktor risiko yang dapat dikendalikan (minor). Faktor
risiko yang tidak dapat dikendalikan (mayor) seperti
keturunan, jenis kelamin, ras dan usia. Sedangkan faktor
risiko yang dapat dikendalikan (minor) yaitu obesitas,
kurang olah raga atau aktivitas, merokok, minum kopi,
sensitivitas natrium, kadar kalium rendah, alkoholisme,
stress, pekerjaan, pendidikan dan pola makan (Suhadak,
2010). Penyakit hipertensi akan menjadi masalah yang
serius, karena jika tidak ditangani sedini mungkin akan
berkembang dan menimbulkan komplikasi yang berbahaya
seperti terjadinya penyakit jantung, gagal jantung
kongestif, stroke, gangguan penglihatan, dan penyakit
ginjal. Hipertensi dapat dicegah dengan menghindari
faktor penyebab terjadinya hipertensi dengan pengaturan
pola makan, gaya hidup yang benar, hindari kopi, merokok
dan alkohol, mengurangi konsumsi garam yang berlebihan
dan aktivitas yang cukup seperti olahraga yang teratur
(Dalimartha, 2008).
2. Ringkasan Lansia Tn. T berumur 55 tahun, berada di bangsal Dahlia,
kasus sebelum sakit sehari-hari melakukan aktivitas seperti biasa
yaitu bangun pagi hari, bekerja, pergi ke sawah dan
pengajian. Memiliki kegiatan rutinitas yang cukup padat
Tn. T sering mengalami tekanan darah sampai 200/110
mmHg. Pada keadaan tertentu secara tiba-tiba kadang Tn.
T sering mengeluh pusing pada kepala, namun tidak tahu
cara mengobati dan jarang berkujung ke pelayanan
kesehatan.
3. Refleksi kasus Tn. T sudah mengalami hipertensi sudah sejak ± 2 tahun
yang lalu, sehingga rentang waktu sakit sudah cukup lama.
Namun masih dapat melakukan aktivitas seperti biasa,
bahkan bekerja pun masih dilakukan oleh Tn. T
4. Solusi/ Tindak Kesimpulan:
lanjut Pada kasus Tn. T ini terjadi tekanan darah tinggi namun
beliau tidak menyadari bahwa tekanan darahnya tinggi.
Pengetahuan mengenai pola hidup sehat untuk pasien
Hipertensi sangat dibutuhkan serta dukungan keluarga
yang selalu merawat untuk kesembuhan pasien tersebut.
Rencana tindak lanjut:
1. Meminum obat anti hipertensi secara berkala
2. Mengurangi makanan penyebab tekanan darah
tinggi
3. Mengurangi kegiatan yang menyebabkan kelelahan
4. Olahraga yang cukup
5. Hindari memikirkan masalah yang terlalu berat