Anda di halaman 1dari 6

Contoh Proposal Pengajuan Kredit

July 10, 2008 by Aji Kisworo Mukti

I. RINGKASAN PROPOSAL

Uraikan dengan singkat isi proposal terkait dengan:


- Siapa yang mengajukan?
- Bagaimana prospek pasarnya?
- Bagaimana proses usaha taninya?
- Apa rencana pengembangan usaha yang akan dilakukan?
- Berapa kebutuhan modal kerja dan investasi, proyeksi laba/rugi usaha dan analisa
keuangannya.

II. PROFIL KELOMPOK TANI/KOPERASI

2.1. Gambaran Ringkas Kelompok Tani/Koperasi

Apa nama kelompok tani/koperasi, kapan didirikan, oleh siapa, dimana, alamat kantornya,
berapa anggotanya, apa saja usahanya.

2.2. Stuktur Organisasi dan Profil Pengurus

Bagaimana struktur organisasi di dalam kelompok tani/koperasi, bagaimana susunan


pengurusnya, siapa saja pengurusnya?

III. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

3.1. Produk

Bawang merah merupakan tanaman semusim (Tanaman setahun), yang dimanfaatkan adalah
umbinya yang berlapis-lapis yang sebenarnya merupakan pangkal daun yang bagian atasnya
berbentuk silinder dan dari pangkal daun sampai bagian yang ada akarnya berubah bentuk dan
membengkak menjadi umbi yang berlapis-lapis.

3.2. Permintaan dan Penawaran

Permintaan Bawang Merah


Permintaan bawang merah bersumber dari permintaan dalam negeri dan permintaan luar
negeri. Permintaan dalam negeri terhadap bawang merah datang dari berbagai sumber yaitu :
Dari pasar bawang merah segar untuk memenuhi permintaan keperluan rumah tangga.
Bawang rah merupakan tanaman sayuran yang banyak digunakan oleh keluarga masyarakat
Indonesia, terutama sebagai bumbu penyedap masakan. Selain itu juga sering dipakai sebagai
bahan obat-obatan untuk penyakit tertentu;
Permintaan terhadap bawang merah terbesar dari rumah tangga (keluarga, restoran, hotel dan
lain-lain).
Permintaan yang datang untuk memenuhi keperluan industri olah lanjut yang menggunakan
bawang merah sebagai bahan baku misalnya untuk industri bawang goreng.
Besarnya jumlah permintaan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :
• Harga bawang yang berlaku di pasar enceran;
• Pendapatan rumah tangga;
• Harga bawang yang berlaku di pasar enceran;
• Harga barang komplemen yang lain;
• Harga barang turunan dari produk bawang merah;
• Hari-hari besar di mana permintaan terhadap bawang merah segar cendrung meningkat.
Permintaan terhadap bawang merah selain untuk keperluan bawang merah segar juga
diperlukan untuk keperluan industri olah lanjut yaitu industri bawang goreng.
Permintaan bawang merah juga berasal dari luar negeri, sehingga komoditas bawang merah
dapat diekspor. Besarnya permintaan terhadap bawang merah yang datang dari luar negeri
dapat dilihat dari kecendrungan meningkatnya ekspor mata dagangan ini.

Penawaran Bawang Merah


Besarnya jumlah penawaran bawang merah sangat dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut:
1) Ketersediaan lokasi yang sangat cocok untuk bercocok tanam bawang merah dan atau luas
panen;
2) Iklim;
3) Teknologi budidaya;
4) Harga faktor produksi.
Besarnya penawaran bawang merah dapat dikaitkan dengan produksi bawang merah di
Indonesia yang hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Produk bawang merah
mengalami kenaikan dengan trend yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Daerah penghasil bawang merah terbesar adalah Pulau Jawa terutama Jawa Tengah dengan
produksi ………. ton pada tahun 2007, disusul Jawa Timur sebesar …… ton dan Jawa Barat
…… ton pada tahun yang sama. Daerah lain di pulau Jawa yaitu di Sumatera Utara (terutama
di Pulau Samosir, danau Toba), Bali, Lombok, Lampung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan,
Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan daerah lain. Untuk tingkat Kabupaten, Brebes
merupakan daerah penghasil terbanyak dengan jumlah ……….. ton atau sekitar 22% dari
total produksi seluruh Indonesia.
Bilamana jumlah produksi bawang merah dalam negeri dianggap kurang memenuhi besarnya
permintaan, kekurangan pasokan dimaksud dipenuhi oleh impor bawang merah dari luar
negeri khususnya berasal dari (Filipina, Taiwan, China). Impor tersebut tidak saja untuk
konsumsi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan bibit.

3.3. Harga

Harga bawang merah di dalam merah negeri mengalami fluktuasi sesuai dengan kondisi
penawaran dan permintaan pada saat itu. Tingginya nilai tukar dollar Amerika terhadap
Rupiah memperngaruhi semua harga komodoti pertanian termasuk bawang merah. Pada saat
sekarang, harga rata-rata bawang lokal di beberapa daerah produsen sekitar Rp. 6.000 – Rp.
8.000 per kg untuk bawang kering konsumsi. Sedangkan untuk bawang bibit berkisar Rp.
10.000 – 12.500 per kg. Harga ini bervariasi dari satu daerah ke daerah lain, sehingga arus
perdagangan bawang merah dapat beralih dari Jawa ke Sumatera. Pergerakan bawang merah
antar provinsi/pulau sesuai perbedaan harga ini juga dialami oleh komoditi lain terutama cabai
merah.
Harga bawang ex. Impor untuk konsumsi di tingkat pedagang sebesar Rp. 6.400 per kg (ex.
India), dan Rp. 8,750 per kg (ex. Vietnam). Bawang bibit ex. Philipina Rp. 15.000 kg, dan ex.
Thailand Rp. 12.000 per kg. Para konsumen umumnya lebih memilih bawang lokal karena
rasa dan aroma yang lebih tajam.
Untuk analisa keuangan dalam MK PKT ini akan digunakan harga di tingkat petani sebesar
Rp. 3.500 kg bawang basah.

3.4. Jalur Distribusi Penjualan Bawang Merah


Jalur distribusi penjualan bawang merah dapat dilihat pada Gambar 3.1.

IV. ASPEK PRODUKSI/OPERASIONAL

4.1. Lokasi Usaha

Budidaya bawang merah ini akan dilakukan di Desa Mina Tani, Kecamatan Tani Makmur,
Kabupaten Sejahtera. Budidaya akan dilakukan pada lahan seluas 10 hektar yang dimiliki oleh
Kelompok Tani Hidup Petaniku. Anggota Kelompok Hidup Taniku sebanyak 10 orang, sehingga
rata-rata petani akan mengelola lahan seluas 1 hektar.

4.2. Proses Produksi

Proses produksi budidaya bawang merah terdiri dari pengolahan lahan, pembuatan bedengan,
penyediaan bibit, sampai dengan pemeliharaan tanaman dan panen.
1) Pengolahan Lahan
Bertujuan untuk menciptakan tanah sebagai media tumbuh tanaman menjadi gembur sehingga
tanah seperti ini akan dapat menunjang pertumbuhan akar dengan baik sedini mungkin.
Disamping itu pengolahan tanah juga dimaksudkan untuk dapat menciptakan iklim makro dari
tanah seperti yang dikemukakan dalam tabel 4.1 di atas juga dimaksudkan untuk membasmi sisa-
sisa gulma
2) Pembuatan Bedengan
Setelah struktur tanah yang gembur dapat diciptakan, pekerjaan selanjutnya yaitu membuat
bedengan-bedengan sesuai dengan ukuran yang dikehendaki serta arah bedengan yang benar.
Ukuran bedengan yang pas adalah lebarnya 80 – 100 cm dengan ketinggian bedeng 30 – 50 cm;
panjang bedengan disesuaikan dengan ukuran lahan setempat. Sedangkan jarak antara 1 (satu)
bedengan dengan bedengan lainnya (lebar parit) adalah 30 – 40 cm. Arah memanjang bedengan
tegak lurus dari arah/alur irigasi pokoknya.
3) Penyediaan Bibit
Bibit merupakan awal dari keberhasilan atau kegagalan. Oleh karena itu bibit haruslah bibit yang
sehat yang telah melewati masa dorman selama 3 – 4 bulan, dan akar telah mulai keluar. Umbi
masih terasa padat, utuh dan tidak cacat. Sehari sebelum tanam, dilakukan pemotongan sepertiga
dari pucuknya dengan maksud untuk mempercepat pertumbuhan umbi dan tumbuhnya tunas dan
umbi. Dasar pemilihan bibit yang baik lainnya adalah sebagai berikut :
a. Siung bawang merah yang akan dijadikan bibit sudah harus mengalami penyimpanan selama 3
bulan sejak dipanen
b. Diameter siung sebesar 1,5 – 2 cm
c. Keadaan umbi/siung harus merupakan bawang merah yang utuh bulat, padat, keras dan
mengkilat dengan kadar air sebesar 80%.
d. Di panen dari tanaman yang telah berumur dari 70 hari
e. Setiap siung yang ditanam akan mampu menghasilkan hasil panen 4 – 6 siung anakan.
f. Untuk luas tanam 1 ha memerlukan bibit berkisar antara 800 s/d 1200 Kg. Bibit bawang merah
yang sangat dianjurkan untuk digunakan adalah jenis/varietas bawang merah Ampenan,
Sumenep, Maja, Kuningan dan Medan.
4) Penanaman Bibit
Sebelum tanam, diatas bedengan dibuat alur tanam untuk tanah yang relatif subur dengan jarak
tanam 20 cm x 20 cm dengan kedalaman tanam 2 – 3 cm.
5) Pemupukan Awal
Bilamana pupuk kandang mudah didapat maka setiap hektar lahan memerlukan sebanyak 15 –
20 ton pupuk kandang yang harus dicampur merata dengan tanah sewaktu pekerjaan
mempersiapkan bedengan.
6) Pemeliharaan Tanaman
7) Panen

4.3. Bahan Baku dan Penolong yang Digunakan

Bahan baku utama dalam proses budidaya bawang merah adalah bibit. Bibit bawang merah
menggunakan varietas unggul yang biasanya merupakan jenis/varietas bawang merah Ampenan,
Sumenep, Maja, Kuningan dan Medan.
Bahan penolong dalam budidaya bawang merah adalah pupuk dan insektisida. Pupuk yang
digunakan adalah:

4.4. Peralatan

Apa saja peralatan yang digunakan, berapa jumlahnya, berapa nilainya, bagaimana kemampuan
kapasitas produksi peralatan tersebut?

V. ASPEK SUMBERDAYA MANUSIA

Jelaskan jumlah tenaga kerja yang saat ini digunakan, berapa upahnya atau gajinya, bagaimana
tingkat pendidikan mereka.

VI. RENCANA BISNIS

6.1. Rencana Produksi/Operasional


Berapa kapasitas produksi yang ingin dikembangkan berdasarkan potensi pasar dan kemampuan
yang dimiliki? Jumlahnya berapa, nilainya berapa, dan bagaimana cara mencapainya? Apa saja
kebutuhan sarana dan prasarana produksi yang diperlukan untuk mengembangkan usahanya,
termasuk berapa jumlah dan nilainya.

6.2. Rencana Pemasaran

Bagaimana rencana pemasaran hasil produksinya? Ke mana sasaran wilayah pemasaran, siapa
konsumennya? Strategi apa saja yang akan dilakukan untuk memasarkan hasil produksi?

6.3. Rencana Kebutuhan SDM

Jelaskan rencana kebutuhan SDM terkait dengan penambahan kapasitas produksi dan pemasaran,
berapa tambahan tenaga kerja yang dibutuhkan, apa kualifikasinya, berapa upahnya atau
gajinya?

6.3. Rencana Pendanaan

Bagaimana cara memperoleh pendanaan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran,
siapa yang akan membiayai pengembangan produksi dan pemasaran?

VII. ASPEK KEUANGAN

7.1. Analisa Kebutuhan Modal Kerja dan Investasi

Buatlah rincian kebutuhan modal kerja untuk pengembangan produksi dan pemasaran, misal:
kebutuhan bahan baku dalam jumlah dan nilainya, kebutuhan bahan penolong dalam jumlah dan
nilainya. Contoh: kebutuhan bibit, pupuk, dan lain-lain.
Buatkah rincian kebutuhan investasi untuk pengembangan produksi dan pemasaran, misal:
peralatan produksi dalam jumlah dan nilainya.

7.2. Proyeksi Laba (Rugi) dan Arus Kas

Berdasarkan rencana produksi dan pemasaran, kebutuhan modal kerja dan investasi, susunlah
proyeksi Laba/Rugi per siklus usaha, per tahun sampai tiga tahun atau lima tahun ke depan
sesuai permintaan perbankan atau lembaga keuangan lainnya. Laba/Rugi meliputi rincian sumber
pendapatan beserta nilainya dan sumber pengeluaran beserta nilainya. Selisih pendapatan dengan
pengeluaran adalah laba (rugi) usaha.
Buatlah proyeksi Arus Kas per siklus usaha, per tahun sampai tiga tahun atau lima tahun ke
depan sesuai permintaan perbankan atau lembaga keuangan lainnya. Proyeksi arus kas meliputi
arus kas masuk dan arus kas keluar. Arus kas masuk dapat berasal dari: kas awal, penerimaan
penjualan, penerimaan piutang, penerimaan dari kredit bank, dana sendiri. Arus kas keluar dapar
berasal dari: pengeluaran investasi, pengeluaran modal kerja, biaya produksi, pembelian bibit,
pupuk, saran produksi, biaya operasional, angsuran kredit, pajak.

7.3. Analisa Kelayakan Usaha

 Buatlah analisa kelayakan usaha tersebut berdasarkan beberapa kriteria:


 Return on Investment (ROI): rasio antara pendapatan bersih usaha dibandingkan dengan
total investasi yang dikeluarkan.
Return on Asset (ROA): rasio antara pendapatan bersih usaha dibandingkan dengan total
aset yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut.
 Net Present Value (NPV): nilai bersih saat ini dari proyeksi penerimaan-penerimaan
usaha yang dikerjakan.
 Internal Rate of Return (IRR): mengukur tingkat bunga tertinggi yang mampu ditanggung
oleh usaha yang akan dibiayai.