Anda di halaman 1dari 6

FOKUS GROUP

MATA KULIAH

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

“KONSEP BERPIKIR KRITIS”

KELOMPOK IV

ESTHER LITA YOHANA

YENNI MARYATI

ROFI ISTIYANI

NUR IKHSAN

UNIVERSITAS INDONESIA

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

EXTENSI 2018
BERPIKIR KRITIS

Definisi

Berpikir merupakan suatu proses yang berjalan secara berkesinambungan mencakup interaksi
dari suatu rangkaian pikiran dan persepsi.

Critical berasal dari bahasa Grika yang berarti: bertanya, diskusi, memilih, menilai, membuat
keputusan. Kritein yang berarti to choose, to decide,. Krites berarti Judge. Creation (bahasa
Inggris) yang berarti standar, aturan atau metode. Critical Thinking ditujukan pada situasi,
rencana dan bahkan aturan-aturan terstandar dan mendahului dalam membuat keputusan
(Mz.Kenzie).

Menurut Brunner and Suddarth (1997), Berpikir Kritis adalah proses kognitif atau mental
yang mencakup penilaian dan analisa rasional terhadap semua informasi dan ide yang ada
serta merumuskan kesimpulan dan keputusan.

Berpikir Kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk
menginterpretasikan dan mengevaluasi untuk membuat suatu penilaian atau keputusan
berdasarkan kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman (Perry dan Potter,
2005).

Strudder (1992), Berpikir Kritis adalah suatu proses pengujian yang menitik beratkan tentang
kejadian atau fakta yang mutakhir dan menginterpretasikannya, serta mengevaluasi pendapat
tersebut untuk mendapat suatu kesimpulan.

Kompetensi Berpikir Kritis

Menurut kataoka yashiro sailor (1994), Kompetensi berpikir kritis adalah Proses kognitif
yang perawat gunakan dalam mengambil keputusan klinis pada pasien, pemikiran kritis juga
digunakan oleh berbagai bidang ilmu disiplin lainnya, baik medis atau non medis.

Terdapat 2 jenis kompetensi pemikiran berpikir kritis:

1. Umum, terdiri dari:


Metode ilmiah, menggunakan pendekatan penalaran dalam mencari kebenaran dan
memverifikasi suatu fakta yang sesuai dengan kenyataan, contoh: perawat
menggunakan metode ini dalam penelitian praktek keperawatan.
Metode ini terdiri dari 5 langkah: Identifikasi masalah, pengumpulan data, hipotesa,
uji hipotesa dan evaluasi.
Penyelesaian Masalah, Mencakup mendapatkan informasi ketika mendapatkan
kesenjangan antara apa yang sedang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi.
Pengambilan keputusan, Dalam membuat keputusan seseorang harus mengkaji semua
pilihan, memimbang semua pilihan terhadap serangkaian kriteria dan membuat
pilihan akhir. Dengan tetap memperhatikan skala prioritas.
2. Khusus / spesifik dalam situasi klinis
Memncakup pertimbangan dignostik, kesimpulan klinis dan pembuatan keputusan
klinis. Dapat digunakan dalam bidang ilmu pendidikan lainnya.
3. Spesifik dalam proses keperawatan
Perawat dalam kondisi klinis melakukan pemikiran kritis yang tertuang dalam proses
keperawatan, mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan,
implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan.

Model Berpikir Kritis

Menurut costa and colleagues, model berpikir kritis dikenal dengan “the six Rs”

1. Remembering (mengingat)
2. Repeating (mengulang)
3. Reasoning (Memberi alasan/rasional)
4. Reorganizing (reorganisasi)
5. Relating (Berhubungan)
6. Reflecting (memantulkan/merenungkan)

Model THINK, terdiri dari

T : Total Recall, berarti mengingat fakta atau mengingat dimana dan bagaimana untuk
mendapatkan fakta atau data bila diperlukan, total recall juga membutuhkan kemampuan
untuk mengakses pengetahuan dengan adanya pengetahuan akan menjadikan sesuatu
dipelajari dan dipertahankan dalam pikiran.

H : Habits, merupakan pendekatan berpikir, ditinjau dari tindakan yang diulang berkali-
kali, sehingga menjadi kebiasaan yang alami.
I : Inquiry, atau penyelidikan atau menanyakan keterangan, merupakan latihan
mempelajari suatu masalah secara mendalam dan mengajukan pertanyaan yang mendekati
kenyataan, inquiry merupakan kebutuhan primer dalam berpikir, yang digunakan untuk
menyimpulkan sesuatu. Kesumpulan tidak dapat diambil jika tanpa inquiry, tetapi kesimpulan
akan lebih akirat jika menggunakan inquiry.

N : New ideas and Creativity, Ide baru dan kreativitas terdiri dari model berpikir unik
dan bervariasi yang khusus bagi individu.

K : Knowing How You Think, Kita harus berpikir tentang apa yang kita pikirkan.

Karakteristik Berpikir Kritis

1. Rasional, beralasan dan Reflektif, berdasarkan bukti dan fakta yang adekuat. Dimana
proses reflektif dalam ilmu keperawatan sesuai dengan reflektif GIBBS. Contoh: Ibu
Lita ingin menjadi perawat setelah menonton film yang berisi tentang perawat.
2. Memiliki pemahaman yang sehat dan konstruktif, dimana tidak mudah menerima atau
menolak sesuatu kecuali telah benar-benar mengerti dan memahami hal tersebut.
Contoh: Ketika seorang salesman mendesak, bahwa sebuah model abocath baru lebih
baik dari pada yang lama, perawat dapat mengimplementasikan cara berpikir kritis.
3. Otonomi, tidak mudah dimanipulasi dan memiliki pendirian yang kuat. Contoh:
Dalam keluarga yang tidak berpendidikan tinggi, tetapi terdapat 1 anak yang berupaya
keras untuk menempuh pendidikan tinggi walaupun semua saudaranya tidak ada yang
berpendidikan tinggi.
4. Kreatif, menciptakan ide-ide original dengan cara menghubungkan pemikiran dan
konsep serta mengimplementasikannya dalam tindakan keperawatan. Contoh: Perawat
A mengingat sebuah lagu yang dinyanyikan ibunya disaat ia merasa takut, dengan
menyanyikan lagu itu ia mampu menenangkan anak-anak di RS.
5. Adil, tidak berpihak atau tidak bias, contoh: perawat A sebagai KaRu perlu membuat
jadwal untuk liburan natal dan tahun baru, ia menanyakan pada staf nya untuk
menyatakan pilihannya setelah ia mampu menentukan jumlah staf yang ia butuhkan
untuk kedua liburan tersebut.
6. Dapat dipercaya dan dilakukan. Contoh: Berhubungan dengan menjaga suatu rahasia
pasien.
Tingkat Berpikir kritis

Menurut Kataoka Yohiro Sailor (1994), Terdapat 3 tingkat:

1. Tingkat Dasar
Pada perawat baru, berpikir kritis sambil melakukan prosedur perawatan yang masih
terbatas.
Contoh: Pada Perawat komunitas, saat perawat baru menemukan pasien TB tidak
kontrol selama 3 hari. Perawat tersebut hanya diam dan tidak mencari solusi atau
mencari penyebab kenapa pasien tersebut tidak datang.
2. Tingkat Komplek
Perawat mulai mencari bagaimana tindakan keperawatan mempunyai manfaat jangka
panjang bagi klien, mulai mengantisipasi alternatif lebih baik dan menggali lebih luas.
Contoh: Perawat mulai memikirkan penyebab kenapa pasien tidak kontrol dan
mencari solusi, solusi nya antara lain menghubungi pasien ketika tidak kontrol, atau
melakukan kunjungan rumah.
3. Tingkat Komitmen
Perawat memilih tindakan atau keyakinan berdasarkan alternatif yang diidentifikasi
pada tingkat berpikir yang komplek. Kematangan perawat tercermin dalam kebiasaan
mencari pilihan terbaik yang paling inovatif dan paling sesuai dengan kebutuhan
pasien.
Contoh: Perawat membuat SOP mengenai pasien yang tidak kontrol yaitu, jika tidak
kontrol sampai 3 hari perawat akan menghubungi pasien atau PMO terlebih dahulu.
Jika tidak kontrol lebih dari 3 hari, maka perawat akan melakukan kunjungan rumah
pasien TB tersebut.

Kesimpulan :

Berpikir kritis dalam keperawatan merupakan komponen dasar dalam mempertanggung


jawabkan profesi dan kualitas perawatan. Pemikir kritis keperawatan mempraktekan
keterampilan kognitif, meliputi analisa, menerapkan standar, prioritas, penggalian data,
rasional tindakan, prediksi dan sesuai dengan ilmu pengetahuan.
Referensi :

Potter, P.A., dan Perry, A.G., (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,
dan Praktis. (Renata Kumalasari et al, penerjemah) edisi ke 4. Jakarta: EGC

Doengoes, M.,E., (1995). Penerapan Proses keperawatan dan Diagnosa keperawatan. Jakarta:
EGC

Capernito-Moyet, L.J. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.