Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN RATARDASI MENTAL


A. Pengertian

Menurut International Stastistical Classification of Diseases and Related Health


Problem (ICD-10), retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental yang
terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya keterbatasan (impairment)
keterampilan (kecakapan, skills) selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada
semua tingkat inteligensia yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
(Lumbantobing, 2006).
Retardasi mental merupakan keadaan dengan intelegensi kurang (abnormal) atau
dibawah rata-rata sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa kanak-kanak).
Retardasi mental ditandai dengan adanya keterbatasan intelektual dan ketidakcakapan
dalam interaksi sosial (Sandra, 2010).
Retardasi mental adalah fungsi intelektual di bawah rata-rata yang muncul dengan
kurangnya perilaku adaptif, awitannya sebelum 18 tahun (Wong, 2009).
Menurut Muttaqin (2008) tuna grahita atau retardasi mental adalah suatu kondisi
yang ditandai oleh inteligensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan individu
untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang
dianggap normal.
American Association on Mental Deficiency (AAMD) membuat definisi retardasi
mental yang kemudian direvisi oleh Rick Heber (1961) sebagai suatu penurunan fungsi
intelektual secara menyeluruh yang terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan
dengan gangguan adaptasi sosial. Ada 3 hal penting yang merupakan kata kunci dalam
definisi ini yaitu penurunan fungsi intelektual, adaptasi sosial, dan masa perkembangan.
Penurunan fungsi intelektual secara umum menurut definisi Rick Heber diukur
berdasarkan tes intelegensia standar paling sedikit satu deviasi standar (1 SD) di bawah
rata-rata. Periode perkembangan mental menurut definisi ini adalah mulai dari lahir sampai
umur 16 tahun. Gangguan adaptasi sosial dalam definisi ini dihubungkan dengan adanya
penurunan fungsi intelektual. Menurut definisi ini tidak ada kriteria bahwa retardasi mental
tidak dapat diperbaiki seperti definisi retardasi mental sebelumnya.

3 |ASKEP RETARDASI MENTAL


B. Etiologi
Menurut Mutaqqin (2008) penyebab dari retardasi mental adalah sebagai berikut:
1. Faktor Genetik :Kelainan jumlah dan bentuk kromosom misalnya trisomi-21 atau
dikenal dengan Mongolia atau Down Syndrome
2. Faktor Prenatal : Gizi, Mekanis, Toksin, Endokrin, Radiasi, Infeksi (virus seperti
campak, influenza, TBC.), Stres, Imunitas, Anoksia embrio.
3. Faktor Perinatal
 Proses kelahiran yang lama : Proses kelahiran yang lama misalnya plasenta
previa, rupturetali umbilicus
 Posisi janin yang abnormal seperti letak bokong atau melintang, anomali
uterus, dan kelainan bentuk jalan lahir.
 Kecelakaan pada waktu lahir dan kegawatan fatal.
4. Faktor Pascanatal : Akibat infeksi (meningitis, ensefalitis,
meningoensefalitis),Trauma kapitis dan tumor otak, Kelainan tulang, Tengkorak,
Kelainan endokrin dan metabolik keracunan pada otak.

Terjadinya retardasi mental tidak dapat dipisahkan dari tumbuh kembang


seorang anak. Seperti diketahui faktor penentu tumbuh kembang seorang anak pada
garis besarnya adalah3,4,5 faktor genetik/heredokonstitusional yang menentukan sifat
bawaan anak tersebut dan faktor lingkungan. Yang dimaksud dengan lingkungan pada
anak dalam konteks tumbuh kembang adalah suasana (milieu) dimana anak tersebut
berada. Dalam hal ini lingkungan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak
untuk tumbuh kembang. Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang ini secara garis
besar dapat digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu:
a. Kebutuhan fisis-biomedis (asuh)
 Pangan (gizi, merupakan kebutuhan paling penting)
 Perawatan kesehatan dasar (Imunisasi, ASI, penimbangan bayi secara teratur,
pengobatan sederhana, dan lain lain)
 Papan (pemukiman yang layak)
 Higiene, sanitasi
 Sandang, Kesegaran jasmani, rekreasi

4 |ASKEP RETARDASI MENTAL


b. Kebutuhan emosi/kasih sayang (asih). Pada tahuntahun pertama kehidupan
hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu dan anak merupakan syarat
mutlak untuk menjamin suatu proses tumbuh kembang yang selaras, baik fisis,
mental maupun sosial.
c. Kebutuhan akan stimulasi mental (asah). Merupakan cikal bakal proses
pembelajaran (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental ini
membantu perkembangan mental psikososial (kecerdasan, ketrampilan,
kemandirian, kreativitas, kepribadian, moral-etika dan sebagainya).
Perkembangan ini pada usia balita disebut sebagai perkembangan psikomotor.
Kelainan/penyimpangan tumbuh kembang pada anak terjadi akibat gangguan pada
interaksi antara anak dan lingkungan tersebut, sehingga kebutuhan dasar anak
tidak terpenuhi. Keadaan ini dapat menyebabkan morbiditas anak, bahkan dapat
berakhir dengan kematian. Kalaupun kematian dapat diatasi, sebagian besar anak
yang telah berhasil tetap hidup ini mengalami akibat menetap dari penyimpangan
tersebut yang dikategorikan sebagai kecacatan, termasuk retardasi mental. Jelaslah
bahwa dalam aspek pencegahan terjadinya retardasi mental praktek pengasuhan
anak dan peran orangtua sangat penting.
Etiologi retardasi mental dapat terjadi mulai dari fase pranatal, perinatal dan
postnatal. Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan lebih dari 1000 macam penyebab
terjadinya retardasi mental, dan banyak diantaranya yang dapat dicegah.

Ditinjau dari penyebab secara langsung dapat digolongkan atas penyebab biologis
dan psikososial. Penyebab biologis atau sering disebut retardasi mental tipe klinis
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

 Pada umumnya merupakan retardasi mental sedang sampai sangat berat


 Tampak sejak lahir atau usia dini
 Secara fisis tampak berkelainan/aneh
 Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal, perinatal maupun postnatal
 Tidak berhubungan dengan kelas sosial

5 |ASKEP RETARDASI MENTAL


Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosiokultural mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :

a. Biasanya merupakan retardasi mental ringan


b. Diketahui pada usia sekolah
c. Tidak terdapat kelainan fisis maupun laboratorium
d. Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah)
e. Ada hubungan dengan kelas sosial
Melihat struktur masyarakat Indonesia, golongan sosio ekonomi rendah masih
merupakan bagian yang besar dari penduduk, dapat diperkirakan bahwa retardasi mental
di Indonesia yang terbanyak adalah tipe sosio-kultural.

C. Klafikasi
Klasifikasi retardasi mental menurut kesepakatan Asosiasi Keterbelakangan Mental
Amerika Serikat (American Association of Mental Retardation) sebagai berikut:
 Retardasi mental lambat belajar (slow learner, IQ= 85-90)
 Retardasi mental taraf perbatasan (borderliner, IQ= 70-84)
 Retardasi mental ringan (debil atau moron) (mild, IQ= 55-69)
 Retardasi mental sedang (moderate, IQ= 36-54)
 Retardasi mental berat/ imbecile (seveer, IQ= 20-35)
 Retardasi mental sangat berat atau idiot (profound, IQ= 0-19) (Mutaqqin, 2008).
Menurut Maslim (2003) klasifikasi retardasi mental berdasarkan PPDGJ III:
1. F70 Retardasi Mental Ringan (IQ 55-69)
Mulai tampak gejalanya pada usia sekolah dasar, misalnya sering tidak naik
kelas, selalu memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau
mengerjakan hal-hal yang berkaitan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang
berkaitan dengan kebutuhan pribadi. 80 % dari anak RM termasuk pada golongan ini.
Dapat menempuh pendidikan Sekolah Dasar kelas VI hingga tamat SMA. Ciri-
cirinya tampak lamban dan membutuhkan bantuan tentang masalah kehidupannya.

6 |ASKEP RETARDASI MENTAL


2. F71 Retardasi Mental Sedang (IQ 35-49)
Sudah tampak sejak anak masih kecil dengan adanya keterlambatan dalam
perkembangan, misalnya perkembangan wicara atau perkembangan fisik lainnya.
Anak ini hanya mampu dilatih untuk merawat dirinya sendiri, pada umumnya tidak
mampu menyelesaikan pendidikan dasarnya, angka kejadian sekitar 12% dari seluruh
kasus RM. Anak pada golongan ini membutuhkan pelayanan pendidikan yang khusus
dan dukungan pelayanan.
3. F72 Retardasi Mental Berat (IQ 20- 34)
Tampak sejak lahir, yaitu perkembangan motorik yang buruk dan kemampuan
bicara yang sangat minim, anak ini hanya mampu untuk dilatih belajar bicara dan
keterampilan untuk pemeliharaan tubuh dasar, angka kejadian 8% dari seluruh RM.
Memiliki lebih dari 1 gangguan organik yang menyebabkan keterlambatannya,
memerlukan supervisi yang ketat dan pelayanan khusus.
4. F73 Retardasi Mental Sangat Berat (IQ < 20)
Sudah tampak sejak lahir yaitu gangguan kognitif, motorik, dan komunikasi
yang pervasif. Mengalami gangguan fungsi motorik dan sensorik sejak awal masa
kanak-kanak, individu pada tahap ini memerlukan latihan yang ekstensif untuk
melakukan “self care” yang sangat mendasar seperti makan, BAB, BAK. Selain itu
memerlukan supervisi total dan perawatan sepanjang hidupnya, karena pada tahap ini
pasien benar-benar tidak mampu mengurus dirinya sendiri.
5. F78 Retardasi Mental lainnya
Kategori ini hanya dignakan bila penilaian dari tingkat Retardasi Mental
intelektual dengan memakai prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan
karena adanya hendaya sensorik atau fisik, seperti buta, bisu tli, dan penyandang yang
perilakunya terganggu berat atau fisiknya tidak mampu.

7 |ASKEP RETARDASI MENTAL


D. Manifestasi Klinis
Pada pemeriksaan fisik pasien dengan retardasi mental dapat ditemukan berbagai macam
perubahan bentuk fisik, misalnya perubahan bentuk kepala: mikrosefali, hidrosefali, dan down
syndrome. Wajah pasien dengan retardasi mental sangan mudah dikenali seperti
hipertelorisme, yaitu lidah yang menjulur keluar, gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi
wajah yang tampak tumpul. Biasanya penderita retardasi mental juga mengalami
keterlambatan motorik (Sandra, 2010).
Menurut Muttaqin (2008) anak tuna grahita dapat dikenali dari tanda sebagai berikut :
 Penampilan fisik tidak seimbang: kepala terlalu kecil/terlalubesar, mulut melongo,
mata sipit/mongoloid, badan bungkuk,
 Kecerdasan terbatas
 Tidak mampu mengurus diri sendiri tanpa bantuan orang lain sesuai usia
 Arah minat sangat terbatas kepada hal-hal yang terbatasdan sederhana saja-
Perkembangan bahasa/bicara lambat
 Tidak ada/kurang sekali perhatian terhadap lingkungannya(pandangan kosong)
dan perhatiannya labil, sering berpindah-pindah.
 Koordinasi gerakan kurang, gerakan kurang terkendali
 Daya ingatnya lemah, emosi sangat miskin dan terbatas,apatis, dan acuh tak
acuh terhadap sekitarnya.
 Sering ngiler/keluar cairan dari mulut.
Perubahan perilaku terkait usia pada anak dengan keterbelakangan mental yaitu:
1. Keterbelakangan Mental Ringan (IQ = 50 -70)
 Anak prasekolah (0-5 tahun): lebih lambat daripada rata-rata dalam berjalan,
makan sendiri, dan berbicara, namun pengamat sambil lalu tidak melihat
keterbelakangan ini.
 Usia sekolah (6-21 tahun): Belajar keterampilan motorik-pemahaman dan
kognisi (membaca dan arithmatic) di kelas tiga sampai kelas enam oleh remaja
tahap ini, dapat belajar untuk menyesuaikan diri secara sosial.
 Dewasa (21 tahun keatas): Biasanya mencapai keterampilan sosial dan
kejuruan yang diperlukan untuk merawat diri, membutuhkan bimbingan dan
bantuan ketika berada pada kondisi ekonomi sulit atau stress sosial.

8 |ASKEP RETARDASI MENTAL


2. Keterbelakangan Mental menengah (IQ = 35-49)
 Anak prasekolah (0-5 tahun): sebagian besar perkembangan kelihatan dengan
jelas terlambat.
 Usia sekolah (6-21 tahun): belajar berkomunikasi dan merawat kesehatan
dasar dan kebutuhan keamanan.
 Dewasa (21 tahun keatas): melakukan tugas tanpa keterampilan atau semi
terampil sederhana pada kondisi yang diawasi, berpartisipasi pada permainan
sederhana dan melakukan perjalanan sendiri di tempat yang dikenal, mampu
merawat diri sendiri.
3. Keterbelakangan Mental Berat (IQ = 20-34)
 Anak prasekolah (0-5 tahun): perkembangan motorik sangat tertunda, sedikit
atau tidak berbicara, mendapat mamfaat dari pelatihan mengerjakan sendiri
(misalnya makan sendiri).
 Usia sekolah (6-21 tahun): biasanya berjalan kecuali jika terdapat
ketidakmampuan motorik, dapat memahami dan merespon pembicaraan, dapat
mengambil mamfaat dari pelatihan mengenai kesehatan dan kebiasaan lain
yang dapat diterima
 Dewasa (21 tahun keatas): melakukan kegiatan rutin sehari-hari dan
memperbesar perawatan diri sendiri, memerlukan petunjuk dan pengawasan
ketat dalam lingkungan yang dapat dikendalikan.
4. Keterbelakangan Mental Sangat Berat (IQ dibawah 20)
 Anak prasekolah (0-5 tahun): keterbelakangan ekstrem disemua bidang,
kemampuan sensorik minimal, membutuhkan bantuan perawatan diri.
 Usia sekolah (6-21 tahun): semua bidang perkembangan tampak jelas tertunda,
respon berupa emosi dasar dan mendapatkan manfaat dari pelatihan dalam
penggunaan anggota badan dan mulut, harus diawasi dengan ketat.
 Dewasa (21 tahun keatas): barangkali dapat berjalan dan berbicara dengan cara
primitive, mendapatkan mamfaat dari aktivitas fisik regular, tidak dapat
merawat diri sendiri, tetapi membutuhkan bantuan perawatan diri (Sandra,
2010).

9 |ASKEP RETARDASI MENTAL


E. Patofisiologi

Faktor Faktor Faktor Faktor


Genetik Prenatal Perinatal Pascanatal

 Gizi  Proses
Kelainan
 Mekanis kelahiran  Akibat infeksi
jumlah dan
bentuk  Toksin yang lama  Trauma kapitis
 Posisi janin dan tumor otak
kromosom  Endokrin
yang  Kelainan tulang
 Radiasi
abnormal Tengkorak
 Infeksi
 Kecelakaan  Kelainan
 Stres pada waktu endokrin
 Imunitas lahir dan dan metabolik,
 Anoksia kegawatan keracunan pada
embrio fatal otak

Kerusakan pada fungsi otak:


Hernisfer kanan : keterlambatan perkembangan motorik kasar dan halus
Hernisfer kiri : keterlambatan perkembangan bahasa, sosial dan kognitif

Penurunan fungsi intelektual secara umum Gangguan perilaku adaptif sosial

Keluarga Hubungan sosial Perkembangan

 Kecemasan  Gangguan Fungsi


Keluarga komunikasi intelektual 
 Kurang verbal
 Pengetahuan  Gangguan
 Koping Bermain
 Isolasi sosial  Gangguan
keluarga tak
efektif  Kerusakan Tumbuh
interaksi Kembang
sosial  Risiko cedera

10 |ASKEP RETARDASI MENTAL


F. Komplikasi
1. Serebral palsi
2. Gangguan kejang
3. Gangguan kejiwaan
4. Gangguan konsentrasi/hiperaktif
5. Defisit komunikasi
6. Konstipasi (karena penurunan motilitas usus akibat obat-obatan, kurang mengkonsumsi
makanan berserat dan cairan) (IDAI, 2011).

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anak dengan retardasi mental adalah multidimensi dan sangat
individual. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua anak penanganan multidisiplin merupakan
jalan yang baik. Sebaiknya dibuat rancangan suatu strategi pendekatan bagi setiap anak secara
individual untuk mengembangkan potensi anak tersebut seoptimal mungkin. Untuk itu perlu
melibatakn psikolog untuk menilai perkembangan mental anak terutama kemampuan
kognitifnya,dokter anak untuk memeriksa fisik anak,menganalisis penyebab,dan mengobati
penyakit atau kelainan yang mungkin ada. Juga kehadiran pekerja social kadang-kadanng
diperlukan untuk menilai situasi keluarganya. Atas dasar itu maka buatlah strategi terapi.
Seringkali melibatkan lebih banyak ahli lagi,misalnya ahli saraf bila anka juga menderita
epilepsi,palsiserebral,dll. Psikiater,bila anaknya menunjukkan kelainan tingkah laku atau bila
orang tuanya membutuhkan dukungan terapi keluarga. Ahli rehabilitasi,bila diperlukan untuk
merangsang perkembangan motorik dan sensoriknya. Ahli terapi wicara,untuk memperbaiki
gangguan bicaranya atau untuk merangsang perkembangan bicarnya. Serta diperlukan buruh
pendidikan luar biasa untuk anak-anak yang retardasi mental ini.

1. Penatalakanaan Medis
Obat-obatan yang digunakan adalah :
 Obat-obat psikotropika (tiroidazin, mellaril) untuk remaja dengan perilaku yang
membahayakan diri sendiri.
 Psikostimulan menunjukkan tanda-tanda gangguan konsentrasi.
 Antidepresan (imipromin)
 Carbamazepin (tegretol) dan propanol (inderal)

11 |ASKEP RETARDASI MENTAL


H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Dorland (2010) beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan pada anak
yang menderita retardasi mental yaitu:
1. Kromosom kariotipe
Pemeriksaan analisis kromosom dilakukan bila dicurigai adanya kelainan kromosom
yang mendasari retardasi mental.
2. EEG (Elektro Ensefalogram)
3. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kepala dapat membantu menilai adanya kalsifikasi
serebral, perdarahan intra kranial pada bayi dengan ubun-ubun masih terbuka.
4. CT (Cranial Computed Tomography) atau MRI (Magnetic Resonance Imaging)
5. Titer virus untuk infeksi congenital
6. Serum asam urat (Uric acid serum)
7. Laktat dan piruvat
8. Plasma asam lemak rantai sangat panjang
9. Serum seng (Zn)
10. Logam berat dalam darah
11. Serum tembaga (Cu) dan ceruloplasmin
12. Serum asam amino atau asam organik
13. Plasma ammonia
14. Analisa enzim lisozom pada lekosit atau biopsy kulit:
15. Urin mukopolisakarida
16. Pada anak yang berumur diatas 3 tahun dilakukan tes intelegensia.

12 |ASKEP RETARDASI MENTAL


PROSES ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
2. Riwayat Kesehatan
3. Pemeriksaan Fisik : Pasien dengan retardasi mental dapat ditemukan berbagai
macam perubahan bentuk fisik, misalnya perubahan bentuk kepala : mikresefali,
hidrosefali, dan sindrom down. Wajah pasien retardasi mental sangat mudah dikenai
seperti hipertelorisme, lidah yang menjulur keluar, gangguan pertumbuhan gigi, dan
ekspresi wajah tampak tumpul.
4. Pengkajian Perkembangan : Dengan pemeriksaan DDST untuk menilai tumbuh
kembang anak. Lakukan atau bantu dengan tes intelegensia. Stanford, binet, Wechsler
Intellence, Scale, American Assiciation of Mental Retardation Adaptif Behavior
Scale.
5. Pengkajian riwayat kesehatan
a. Kaji adanya trauma prenatal, perinatal/pascanatal atau cedera fisik.
b. Kaji adanya infeksi prenatal, infeksi yang menyerang otak (meningitis,
ensefalitis)
c. Kaji apakah ibu pernah mengkonsumsi obat/alkohol.
d. Kaji apakah ada malnutrisi sewaktu ibu hamil.
e. Apakah ada abnormalitas kromosom
f. Observasi adanya manifestasi klinis dari retardasi mental, seperti :
 Tidak responsif terhadap kontak
 Kontak mata buruk selama menyusu
 Penurunan aktivitas spontan
 Penurunan kesadaran terhadap suara/gerakan
 Menyusu lambat.

13 |ASKEP RETARDASI MENTAL


B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan Tumbuh Kembang Berhubungan dengan Ketidakmampuan melakukan
keterampilan / perilaku sesuai kelompok usianya
2. Gangguan Interaksi sosial berhubungan dengan kesulitan bicara atau kesulitan
beradaptasi
3. Gangguan Komunikasi Verbal Berhubungan dengan berhubungan dengan
lambatnya ketrampilan ekspresi dan resepsi bahasa.

C. Intervensi
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1. Gangguan Setelah dilakukan tindakan 1. Bina hubungan saling percaya
Tumbuh tumbuh kembang anak dengan anak.
Kembang menjadi normal dengan 2. Kaji faktor-faktor penyebab
Berhubungan KH : kelainan perkembangan pada anak
dengan kelainan  BB sesuai dengan jenis 3. Identifikasi kebutuhan-kebutuhan
fungsi kognitif kelamin. anak.
 BB sesuai dengan umur 4. Berikan stimulasi aktivitas sesuai
 BB sesuai dengan TB umur

 Kecepatan memperoleh 5. Monitor pola dari pertumbuhan

BB (TB, BB , Lingkar kepala dan

 Kecepatan memperoleh rujuk pada ahli gizi untuk

TB memperoleh intervensi nutrisi

 Lingkar kepala sesuai


dengan umur

2. Gangguan Setelah dilakukan tindakan 1. Bantu anak mengidentifikasi


Interaksi sosial diharapkan anak mampu kekuatan diri
berhubungan melakukan interaksi social 2. Berikan pengetahuan kepada
dengan kesulitan dengan baik dengan KH : orang-orang terdekat mengenai
bicara atau retardasi mental

14 |ASKEP RETARDASI MENTAL


kesulitan  Anak mampu 3. Dorong anak untuk ikut
beradaptasi berinteraksi dengan berpartisipasi beraktivitas dengan
baik dengan teman teman dan anggota keluarga lain.
sebaya nya 4. Dorong anak untuk
 Mengurangi kekacauan mempertahankan hubungan
dalam berinteraksi dengan teman-temannya
5. Berikan penghargaan positif pada
hasil yang dicapai oleh anak.

3. Gangguan Setelah dilakukan tindakan 1. Tingkatkan komunikasi verbal


Komunikasi diharapkan anak mampu dan stimulasi taktil
Verbal melakukan Komunikasi 2. Berikan instruksi sederhana
Berhubungan Verbal dengan baik secara berulang
dengan dengan KH : 3. Berikan waktu yang cukup untuk
berhubungan  Menggunakan pesan berkomunikasi
dengan lambatnya tertulis 4. Dorong anak untuk
ketrampilan  Menggunakan bahasa berkomunikasi dengan dunia
ekspresi dan percakapan verbal luar. Contoh koran, TV,
resepsi bahasa.  Menggunakan kalender dan jam.
percakapan yang jelas.
 Menggunakan
gambar/lukisan
 Menggunakan bahasa
nonverbal

15 |ASKEP RETARDASI MENTAL