Anda di halaman 1dari 5

PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM BIDANG POLITIK

Hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan diatur oleh negara
dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dengan demikian, perempuan diberikan kebebasan dan
kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk berperan di semua bidang dan sektor. Tidak
hanya di ranah domestik, peran perempuan juga telah diakui di sektor publik. Undang-
Undang Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 46 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) menyatakan
bahwa sistem pemilihan umum, kepartaian, pemilihan anggota badan legislatif, dan sistem
pengangkatan di bidang eksekutif dan yudikatif harus menjamin keterwakilan perempuan
sesuai dengan persyaratan yang ditentukan (Lotulung dan Mulyana, 2018). Menurut Paige
(1971) dalam Mukarom (2008), partisipasi politik perempuan bisa dibagi ke dalam empat
tipe, yaitu:
1. Aktif, yaitu apabila seseorang memiliki kesadaran politik, dan kepercayaan kepada
pemerintah tinggi;
2. Apatis (pasif-tertekan), yaitu apabila kesadaran politik dan kepercayaan kepada
pemerintah rendah;
3. Militan radikal, yaitu apabila kesadaran politik tinggi, kepercayaan kepada
pemerintah sangat rendah;
4. Pasif, yaitu apabila kesadaran politik rendah, dan kepercayaan kepada pemerintah
sangat tinggi.
Namun, dalam sejarah perpolitikan Indonesia, kuota tersebut belum pernah tercapai
(Mukarom, 2008). Hasil pemilu 1999 hanya mampu menempatkan perempuan di kursi
parlemen sebesar 9,25%, pada pemilu 2004 meningkat menjadi 11,46%, pada pemilu 2009
menjadi 17,68%, dan pada pemilu 2014 naik sangat sedikit menjadi 17,86% (Suryadi, 2015).
Beberapa penyebab peran perempuan di bidang politik masih di bawah 30% adalah yakni
miskonsepsi peran perempuan yang menempatkan perempuan bukan sebagai pemimpin,
perempuan sebagai pemanis politik yang dihadirkan dalam proses politik sebagai penarik
massa pemilih, dan lemahnya tindakan-tindakan afirmatif yang dilakukan oleh para pihak
yang menjadi kondisi bagi lemahnya posisi perempuan dalam politik (Abdullah, 2014).
Sudah seharusnya peran perempuan di bidang politik ditingkatkan. Peningkatan partisipasi
perempuan dapat ditingkatkan dengan ikut terlibatnya perempuan menjadi anggota badan
legislatif, eksekutif, maupun yudikatif serta partai politik.
A. Partisipasi Perempuan di Lembaga Legislatif
Peningkatan jumlah perempuan terpilah tidak hanya menunjukkan bertambahnya minat
perempuan masuk dalam dunia politik untuk menjadi wakil rakyat, namun dapat juga
mengindikasikan meningkatnya pemahaman masyarakat bahwa perempuan memasuki dunia
politik adalah penting dan perlu didukung. Partai politik merupakan salah satu wadah dimana
perempuan bisa berkiprah dalam bidang politik atau dengan kata lain untuk meningkatkan
pemberdayaan politik perempuan, partai politik di Indonesia juga merupakan jenjang untuk
seseorang menjadi anggota parlemen

B. Partisipasi Perempuan di Lembaga Eksekutif


Sejak era reformasi di Indonesia, perempuan mendapat peluang besar untuk jabatan politik
yang penting di negara ini, seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia pernah dipimpin oleh
seorang Presiden perempuan yaitu Megawati Soekarno Putri. Dalam menjalankan roda
pemerintahan, pemerintah dibantu oleh aparat yang terdapat lembaga pemerintah. Salah satu
aparat pemerintah yang ada adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebagai PNS, baik laki-laki
dan perempuan dapat berperan dalam menjalankan program-program pemerintah. Jika
partisipasi perempuan dibuka seluas-luasnya sebagai PNS maka program-program
pemerintah dapat diarahkan pada kesetaraan gender.

C. Perempuan di Lembaga Yudikatif


Representasi perempuan di lembaga yudikatif dapat dilihat misalnya pada lembaga hukum.
Representasi perempuan diperlukan pada lembaga yudikatif karena banyak persoalan hukum
yang dialami perempuan belum mendapatkan penanganan dan perlindungan yang adil. Hal
ini tidak saja karena jumlah perempuan yang sedikit di lembaga-lembaga penegakan hukum,
tetapi juga karena masih kuatnya bias gender di dalam lembaga yang bersangkutan maupun
di dalam masyarakat.
Berikut ini dijelaskan hak-hak perempuan dalam bidang politik sebagai upaya peningkatan
partisipasi perempuan di bidang politik agar kuotanya dapat mencapai tiga puluh persen atau
lebih.
1. Hak memberikan suara dalam Pemilu
Sebelum memberikan suaranya dan memutuskan untuk memilih, perempuan bisa
mencari informasi dari berbagai sumber, sehingga pengetahuan politiknya bertambah.
Sementara dahulu suara perempuan diwakilkan sebagai suara rakyat yang lain, maka
sekarang seorang perempuan dapat langsung mendatangi tempat-tempat pemilihan
untuk memberikan hak suaranya.
2. Hak menjadi Anggota atau Pengurus Partai Politik
Banyaknya partai politik menimbulkan keleluasaan bagi masyarakat, termasuk kaum
perempuan didalamnya untuk memilih yang sesuai dengan idealisme yang dimiliki
dan aktif berperan serta didalamnya. Berperan serta di dalam partai politik merupakan
salah satu bentuk aktualisasi potensi diri, terutama dibidang politik. Di dalam partai
politik ini terbuka kesempatan luas untuk mengeksplorasi diri serta menyumbangkan
pemikiran yang berhubungan dengan kehidupan politik negara.
3. Hak menjadi Anggota Legislatif
Biasanya menjadi anggota legislatif ini bisa diminta oleh partai tertentu, atau bisa juga
menyampaikan aspirasi untuk mendaftarkan diri sebagai anggota legislatif.
Kesempatan inipun terbuka luas untuk perempuan, tentunya akan ada proses yang
harus dilewati untuk sampai pada posisi anggota legislatif. Sebenarnya sudah sejak
zaman revolusi, zaman orde lama sudah banyak perempuan yang duduk menjadi
anggota legislatif, namun sekarang ini kesempatan itu terus berkembang semakin luas.
Keikutsertaan perempuan di bidang legislatif dapat diaplikasikan dengan
mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten/Provinsi, DPD, ataupun DPR-
RI.
4. Hak menjadi Kepala Daerah
Sejak era reformasi bergulir, sudah banyak perempuan yang menjabat sebagai kepala
daerah. Masyarakat sudah terdidik bahwa kepala daerah bisa juga dijabat perempuan
selama kapabilitasnya memenuhi ketentuan. Perempuan dapat terlibat dalam
pemilihan di tingkat desa (sebagai lurah/kepala desa), kecamatan (sebagai camat),
kabupaten (sebagai bupati), kota (sebagai walikota), provinsi (sebagai gubernur), atau
bahkan tingkat nasional (sebagai presiden).
5. Hak menjadi Anggota KPU
Dahulu penyelenggaraan pemilu diisi oleh perwakilan partai peserta pemilu, tidak
demikian dengan sistem yang digunakan sekarang. Saat ini penyelenggara pemilu
adalah KPU, dan orang-orang yang berada di KPU berasal bukan dari partai.
Kesempatan juga terbuka luas bagi perempuan untuk duduk di KPU ini, sama luasnya
dengan kesempatan laki-laki.
6. Hak menjadi Anggota Yudikatif
Keterlibatan perempuan di bidang yudikatif tidak terlepas dari prestasi dan kontribusi
perempuan yang tidak hanya mengandalkan faktor kuantitas, namun juga tetap
mempertimbangkan aspek kualitas, profesionalisme, dan integritas. Perempuan dapat
berperan dalam berbagai lembaga yudikatif seperti Mahkamah Agung, Komisi Yudisial,
ataupun Mahkamah Konstitusional. Perempuandapat berperan sebagai hakim maupun jaksa.
Dengan keterlibatan perempuan dalam dunia peradilan, diharapkan akan melahirkan dunia
peradilan yang sensitif gender.

Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik yang terakhir telah diubah dengan
Undang-Undang 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik dan Undang-Undang No. 10 Tahun
2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD yang terakhir diganti dengan
Undang-Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan
DPRD, kedua Undang-undang ini merumuskan aturan tentang bentuk diskriminasi positif
(affirmative action) berupa kuota 30% bagi perempuan di ranah politik Indonesia. Tujuan
utama affirmative action terhadap perempuan, adalah untuk membuka peluang kepada
perempuan agar mereka yang selama ini sebagai kelompok marjinal bisa terintegrasi dalam
kehidupan secara adil. Untuk mencapai kuota tersebut, diperlukan sinergitas dan dukungan
dari semua pihak agar dapat mendorong keterlibatan perempuan dalam bidang politik
Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Irwan. 2014. Politisasi Gender dan Hak-Hak Perempuan: Kendala Struktural
Keterlibatan Perempuan dalam Pencalonan Legislatif. Palastren, 7(2): 277-290.
Suradi. 2015. Partisipasi Politik Perempuan Indonesia dalam Relasi Gender. Orasi, 6: 1-9.
Mukarom, Z. 2008. Perempuan dan Politik: Studi Komunikasi Politik tentang Keterwakilan
Perempuan di Legislatif. Mediator, 9(2): 257-270.
Lotulung, L.J., dan Mulyana, D. 2018. Perempuan dalam Politik di Sulawesi Utara.
Sosiohumaniora, 20(2): 138-144.
Kania, D. 2015. Hak Asasi Perempuan dalam Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia.
Jurnal Konstitusi, 12(4): 716-734.