Anda di halaman 1dari 11

Bisfosfonat

Bisfosfonat diabsorbsi kristal hidroksiapatit dalam tulang, memperlambat kecepatan


pertumbuhan maupun disolusi dan menurunkan kecepatan bone turnover/ pergantian tulang.
Bisfosfonat berperan penting dalam pencegahan dan pengobatan osteoporosis yang diinduksi
kortikosteroid. Asam alendronat atau natrium risedronat merupakan obat pilihan untuk keadaan
ini, tetapi etidronat dinatrium dapat digunakan jika obat ini tidak cocok atau tidak dapat
ditoleransi (lihat juga bagian 6.6) Bisfosfonat juga digunakan pada pengobatan penyakit Paget,
hiperkalsemia karena keganasan (bagian 9.4.1.2) dan metastase tulang pada kanker payudara
(bagian 8.3.4.1). Etidronat dinatrium dapat mengganggu mineralisasi tulang jika digunakan
secara terus menerus atau pada dosis tinggi (seperti pada pengobatan Penyakit Paget).
Osteonekrosis rahang. Osteonekrosis rahang telah dilaporkan pada penderita yang menerima
bisfosfonat intravena dan jarang pada mereka yang menggunakan bisfosfonat oral. Kesehatan
gigi dan mulut sebaiknya dijaga selama dan setelah pengobatan dengan bisfosfonat. Sebaiknya
perawatan gigi sebaiknya dilakukan sebelum pengobatan bisfosfonat dimulai.

Monografi:

NATRIUM ALENDRONAT
Indikasi:

untuk pengobatan osteoporosis pada wanita pascamenopause. Osteoporosis dikonfirmasi dengan


temuan masa tulang yang rendah atau dengan keberadaan atau riwayat fraktur osteoporotik.

Peringatan:

seperti bifosfonat lainnya, alendronat dapat menyebabkan iritasi lokal pada mukosa
gastrointestinal bagian atas. Kejadian sampingan pada esophagus dilaporkan terjadi pada
penggunaan alendronat dan beberapa diantaranya merupakan kasus parah dan memerlukan
perawat di rumah sakit, oleh karena itu dokter harus waspada terhadap reaksi esophagus ini dan
apabila terjadi pengobatan harus dihentikan. Peringatan harus diberikan pada pasien dengan
masalah gastrointestinal bagian atas sebelum menggunakan alendronat. Alendronat tidak
dianjurkan untk diberikan pada pasien dengan klirens kreatinin < 35 mL/min (gangguan fungsi
ginjal berat). Penyebab osteoporosis selain dari kekurangan estrogen, penuaan dan penggunaan
glukokortikoid harus dipertimbangkan. Hipokalsemia harus diobati sebelum terapi alendronat
dimulai. Gangguan metabolisme mineral seharusnya diobati dengan efektif, dikarenakan efek
positif dari alendronat, khususnya pada pasien dengan penyakit Paget dan pada pasien yang
kecepatan bone turnover meningkat dengan besar sebelum pengobatan dan pada pasien yang
mendapatkan glukokortikoid serta pada pasien yang absorbsi kalsiumnya menurun. Alendronat
seharusnya tidak diberikan pada wanita hamil dan menyusui.

Interaksi:
pemberian bersamaan dengan suplemen kalsium, antasida, dan pengobatan oral lainnya dapat
mempengaruhi absorbsi alendronat, oleh karena itu pasien harus menunggu sekurang-kurangnya
setengah jam setelah minum alendronat sebelum minum obat oral lainnya. Penggunaan
alendronat dengan HRT menyebabkan peningkatan masa tulang yang lebih besar dan penurunan
bone turnover yang lebih besar. Studi klinis menunjukkan, penggunaan alendronat dosis lebih
besar dari 10 mg per hari dengan produk yang mengandung aspirin dapat meningkatkan kejadian
sampingan upper gastrointestinal, namun kejadian ini tidak terlihat pada penggunaan alendronat
35 mg atau 70 mg sekali seminggu.

Kontraindikasi:

abnormalitas esophagus yang dapat memperlambat pengosongan esophagus seperti stricture atau
achalasia; tidak mampu berdiri atau duduk untuk sekurang-kurangnya 30 menit; hipersensitivitas
terhadap alendronate Na atau komponen obat lainnya.; hipokalsemia; pasien dengan peningkatan
resiko aspirasi tidak diberikan alendronat dalam bentuk larutan buffer.

Efek Samping:

kejadian gastrointestinal bagian atas (nyeri perut, dyspepsia, ulkus esophagus, disfagia dan
abdominal distention); ruam dan eritema; nyeri muskuloskeletal, konstipasi, diare, dlatulensi dan
sakit kepala; mual,muntah, keram otot. Efek samping yang dilaporkan pada penggunaan pasca
pemasaran: reaksi hipersensitivitas (termasuk urticaria dan angioedema); mual dan muntah,
esofagitis,erosi esophageal, ulkus esophagus, esophageal stricture atau perforasi, dan ulkus
orofaringeal, ulkus duodenum dan gaster (jarang, beberapa kasus berat dan dengan komplikasi);
rash; uveitis dan scleritis (jarang).

Dosis:

dosis yang direkomendasikan adalah 70 mg sekali seminggu atau 10 mg sekali sehari. Obat
diberikan harus diberikan sekurang-kurangnya setengah jam sebelum makan. Tidak diperlukan
penentuan dosis untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal ringan hingga sedang dan untuk
manula.

ASAM IBANDRONAT
Indikasi:

Osteoporosis pascamenopause pada wanita yang berisiko mengalami fraktur.

Peringatan:

Monitor kadar serum kalsium, penggunaan harus ditunjang dengan suplemen kalsium dan
vitamin D, hindari penyuntikan intra-arteri atau paravena karena dapat memicu kerusakan
jaringan, pasien dengan penyakit lain atau yang sedang menggunakan obat lain yang berpotensi
menimbulkan efek samping pada ginjal harus dievaluasi secara berkala selama masa pengobatan,
tidak dianjurkan penggunaan pada pasien dengan serum kreatinin diatas 200 µmol/L (2,3 mg/dL)
atau pasien dengan kadar klirens kreatinin dibawah 30 mL/menit, osteonekrosis rahang dapat
terjadi pada pemberian bifosfonat oral, tindakan pemeriksaan gigi harus dipertimbangkan dahulu
untuk pasien yang dalam masa terapi bifosfonat dengan faktor risiko (seperti kanker, kemoterapi,
radioterapi, kortikosteroid, kebersihan mulut yang rendah), keamanan pada anak belum diketahui
pasti.

Interaksi:

Berpotensi rendah terjadi interaksi dengan obat lain. Lihat lampiran 1 (bifosfonat).

Kontraindikasi:

Hipersensitivitas, hipokalsemia.

Efek Samping:

Umum: gastritis, diare, nyeri abdomen, dispepsia, mual, konstipasi, nyeri muskuloskeletal,
artralgia, mialgia, Influenza-like illness, lelah, sakit kepala, ruam, hipokalsemia, hipofosfatemia,
faringitis, reaksi esofageal, dan bila digunakan lebih lama akan menyebabkan nyeri punggung.
Tidak umum: nyeri tulang, astenia, reaksi pada area injeksi, flebitis/tromboflebitis, muntah.
Jarang: hipersensitivitas, angiodema, pembengkakan wajah/udem, urtikaria, anemia.

Dosis:

Oral: 2,5 mg sekali sehari. Obat harus diminum 60 menit sebelum mengonsumsi makanan atau
minuman pertama kali (selain air) atau mengonsumsi obat atau suplemen oral lainnya (termasuk
kalsium). Tablet harus ditelan utuh dengan segelas penuh air putih (180 hingga 240 mL) sambil
duduk atau berdiri dalam posisi tegak. Pasien tidak boleh berbaring selama 60 menit setelah
meminum obat ini. Air putih adalah satu-satunya minuman yang boleh diminum dengan obat ini.
Beberapa air mineral dapat mengandung kadar kalsium yang lebih tinggi sehingga tidak boleh
digunakan. Obat tidak boleh dikunyah atau dihisap karena dapat menyebabkan ulserasi
orofaringeal. Pengobatan osteoporosis pascamenopause, 150 mg satu kali sebulan.

Intravena: 3 mg intravena, dengan penyuntikan selama 15-30 detik, setiap tiga bulan. Jika ada
dosis yang terlupa, segera berikan dengan tepat. Dilanjutkan terjadwal setiap 3 bulan dari tanggal
penyuntikan terakhir kali.

ASAM ZOLEDRONAT
Indikasi:

hiperkalsemia malignan.

Peringatan:
kadar kreatinin, kalsium, fosfat dan magnesium dalam serum harus dimonitor setelah pengobatan
dimulai. Pasien pasca pengobatan tiroid, pasien dengan risiko hipokalsemia seperti pada
hipoparatiroidisme relatif. Tidak dianjurkan pada pasien dengan serum kreatinin < 400 µmol/l
atau < 4.5 mg/dl. Pada beberapa pasien yang memerlukan pengulangan pemberian obat, serum
kreatinin harus dievaluasi sebelum pemberian tiap dosis. Pasien dengan perburukan fungsi ginjal
harus dipantau dengan baik dan perlu dipertimbangan manfaat pemberian obat dibanding
kemungkinan risiko yang dapat terjadi. Jangan diberikan pada wanita hamil kecuali manfaat
resiko lebih besar pada ibu dibandingkan terhadap bayi.

Interaksi:

lihat lampiran 1

Kontraindikasi:

pasien yang hipersensitif terhadap asam zoledronat, bifosfonat, atau zat tambahan dalam obat ini,
kehamilan, menyusui.

Efek Samping:

hipokalsemia, anemia, influenza like symptoms termasuk nyeri pada tulang, mialgia, artralgia,
demam dan kaku, gangguan saluran cerna, sakit kepala, konjungtivitis, gagal ginjal (jarang gagal
ginjal akut), gangguan saraf pengecapan, mulut kering, stomatitis, nyeri dada, hipertensi,
dispnea, batuk, pusing, parastesia, gemetar, ansietas, gangguan tidur, pandangan kabur,
peningkatan berat badan, pruritus, ruam berkeringat, keram otot, hematuria, proteinuria, reaksi
hipersensitivitas (termasuk angioderma), asthenia, udem perifer, trombositopenia, leucopenia,
hipomagnesemia, hipokalemia, reaksi di tempat penyuntikan; jarang bradikardi, bingung,
hiperkalemia, hipernatremia, pansitopenia, osteoporosis rahang; sangat jarang uveitis dan
episkleritis.

Dosis:

dewasa dan lansia: dosis yang dianjurkan untuk HCM (albumin-corrected serum calcium ≥12.0
mg/dl atau 3.0 mmol/l) rekonstitusi 4 mg asam zoledronat dilarutkan dalam cairan infus
(dilarutkan dalam 50 mL 0.9% NaCl atau 5% glukosa) diberikan secara infus intravena dosis
tunggal selama 15 menit. Status hidrasi pasien harus dipantau terutama pada sebelum pemberian
infus dan cairan infus yang diberikan disesuaikan dengan kondisi klinik pasien.
Penderita gagal ginjal tidak ada penyesuaian dosis atau waktu infus yang diperlukan pada
pasien dengan gangguan ginjal ringan sampai sedang (kreatinin serum < 400µmol/l atau < 4.5
mg/dl).
Penderita insufisiensi hati tidak ada data klinik pada pengobatan pasien dengan penyakit hati
yang parah, tidak ada rekomendasi khusus untuk pasien ini.

IBANDRONAT
Indikasi:
kanker tulang metastase, menurunkan risiko komplikasi skeletal pada penyakit malignant pada
tulang termasuk hiperkalsemia, nyeri, kebutuhan radioterapi untuk mengatasi nyeri akibat luka
tulang (bone lesion) dan fraktur, dan menurunkan resiko fraktur.

Peringatan:

Hipokalsemia dan gangguan metabolisme tulang dan mineral harus diobati terlebih dahulu
sebelum terapi asam ibandronat dilakukan. Asupan kalsium dan vitamin D yang cukup sangat
penting pada semua pasien. Pasien harus menerima asupan kalsium dan vitamin D yang cukup,
jika asupan tersebut tidak terpenuhi dari makanan maka pasien harus diberi suplemen kalsium
dan vitamin D.
Bifosfonat oral sering mengakibatkan disfagia, esofagitis, dan esofageal atau luka pada lambung
(gastric ulcer). Oleh karena itu, pasien harus memperhatikan cara pemberian obat.
Dokter harus waspada terhadap tanda atau gejala reaksi esofageal yang mungkin terjadi selama
terapi dan pasien diperintahkan untuk tidak melanjutkan terapi asam ibandronat. Bantuan medis
harus segera dilakukan jika pasien mengalami gejala iritasi esofageal seperti disfagia, nyeri saat
menelan, rasa sakit pada belakang sternum atau dada terbakar.
Perhatian harus diberikan saat pemberian oral Asam Ibandronat bersamaan dengan AINS karena
AINS sering dikaitkan dengan iritasi gastrointestinal.
Osteonekrosis rahang pernah dilaporkan terjadi pada pasien kanker yang menerima pengobatan
termasuk bifosfonat intravena. Banyak dari pasien tersebut juga menerima kemoterapi dan
kortikosteroid. Osteonekrosis rahang juga dilaporkan terjadi pada pasien osteoporosis yang
menerima bifosfonat oral.
Pemeriksaan gigi sebaiknya dilakukan sebelum pengobatan dengan bifosfonat pada pasien yang
melakukan terapi lain dalam waktu yang bersamaan (kemoterapi, radioterapi, kortikosteroid).
Bagi pasien yang mengalami osteonekrosis rahang saat terapi bifosfonat, operasi gigi dapat
memperparah kondisinya.
Uji klinik tidak menunjukkan bukti penurunan pada ginjal dengan terapi asam ibandronat jangka
panjang. Namun, direkomendasikan untuk memonitor fungsi ginjal, kalsium, fosfat dan
megnesium serum pada pasien yang diterapi asam ibandronat.
Hidrasi berlebihan harus dihindari pada pasien yang memiliki resiko gagal jantung.

Interaksi:

Interaksi obat-makanan
Produk mengandung kalsium atau kation multivalen (seperti alumunium, magnesium, besi),
termasuk susu dan makanan, dapat mempengaruhi absorbsi asam ibandronat. Oleh karena itu,
produk tersebut harus diberikan dengan selang waktu minimal 60 menit setelah dosis oral asam
ibandronat.
Bioavailabilitas berkurang sekitar 75% jika tablet asam ibandronat diberikan 2 jam setelah
makan. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa tablet harus diberikan setelah puasa satu
malam (setidaknya 6 jam) dan puasa harus dilanjutkan selama 60 menit setelah dosis diberikan.
Hati-hati penggunaan bersamaan bifosfonat dengan aminogliserida karena keduanya dapat
menurunkan tingkat kalsium serum jika digunakan dalam jangka waktu yang lama dan
kemungkinan dapat menyebabkan hipomagnesemia.
Interaksi obat-obat
Ranitidin intravena meningkatkan bioavailabilitas asam ibandronat sekita 20% (masih dalam
rentang normal bioavailabilitas asam ibandronat), kemungkinan karena keasaman lambung yang
berkurang. Namun, tidak diperlukan penyesuaian dosis jika asam ibandronat diberikan
bersamaan dengan antagaonis H2 atau obat lain yang meningkatkan pH lambung.

Kontraindikasi:

Hipersensitif terhadap asam ibandronat atau golongan bifosfonat lainnya; asam ibandronat tidak
boleh diberikan pada anak-anak karena penelitian ilmiah yang masih terbatas; asam ibandronat
tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan ibu menyusui karena belum ada data keamanan
yang memadai.

Efek Samping:

Umum terjadi (>1% dan < 10%): hipokalsemia, dispepsia, mual, nyeri abdomen, esofagitis,
astenia. Tidak umum terjadi (> 0,1% dan < 1%): anemia, parestesia, disgesia (pengecapan yang
tidak normal), perdarahan, ulkus duodenum, gastritis, disfagia, mulut kering, pruritus, azotemia
(uremia), nyeri dada, gejala seperti influenza, mengantuk, nyeri, peningkatan hormon paratiroid
dalam darah.

Dosis:

Oral: 50 mg sekali sehari.


Tablet asam ibandronat harus diminum 60 menit sebelum makan dan minum (selain air putih),
atau minum obat dan suplemen lain (termasuk kalsium).
Tablet asam ibandronat harus diberikan setelah puasa selama semalam (minimal 6 jam) dan 60
menit sebelum makan dan minum pada pagi hari atau sebelum mengkonsumsi obat atau
suplemen lain (termasuk kalsium). Puasa dilanjutkan 30 menit setelah tablet diminum. Air putih
dapat diminum bersama dengan pemberian tablet asam ibandronat. Pasien tidak boleh berbaring
60 menit setelah minum tablet asam ibandronat.

KLODRONAT DINATRIUM
Indikasi:

hiperkalsemia malignant. Pengobatan osteolisis malignant. Mengurangi timbulnya metastase


tulang pada kanker payudara primer.

Peringatan:

selama pengobatan dengan klodronat jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh harus
diperhatikan terutama pemberian melalui infus intravena dan pada penderita dengan
hiperkalsemia atau gagal ginjal. Dosis pemberian secara intravena lebih tinggi dari yang
dianjurkan dapat menyebabkan kerusakan ginjal terutama jika diberikan dosis tinggi secara infus.
Kelebihan dosis: peningkatan serum kreatinin dan gagal ginjal telah dilaporkan setelah
pemberian klodronat secara infus. Pengobatan kelebihan dosis harus simtomatik. Hidrasi
ditingkatkan dan fungsi ginjal dan kalsium serum dimonitor.

Interaksi:

dilaporkan kejadian gagal ginjal jika digunakan bersama dengan antiinflamasi non steroid
(AINS) lebih sering diklofenak, hati-hati penggunaan bersama aminoglikosid karena dapat
menyebabkan peningkatan resiko hipokalsemia, penggunaan bersama estramustin fosfat dengan
klodronat dilaporkan meningkatkan kadar serum estramustin fosfat maksimal 80%, penggunaan
bersama makanan atau obat yang mengandung kation divalent misalnya antasida atau preparat
besi secara bermakna menurunkan bioavailabilitas klodronat.

Kontraindikasi:

hipersensitivitas, pemberian bersama dengan bifosfonat lain.

Efek Samping:

mual, muntah, diare dan reaksi pada kulit.

Dosis:

efikasi dan keamanan pada anak belum diketahui. Tidak ada dosis khusus untuk lansia.
Diberikan 2 kali sehari dosis terbagi, dosis yang separuh harus diminum pada hari yang sama.
Klodronat dinatrium tidak boleh digerus atau dilarutkan sebelum digunakan.

Dosis sehari 1600 mg diberikan dalam dosis tunggal. Bila digunakan dosis sehari lebih tinggi,
dosis melebihi 1600 mg dianjurkan diminum terpisah (sebagai dosis kedua). Dosis tunggal sehari
dan dosis pertama diminum pagi sebelum makan bersama segelas air putih, pasien tidak boleh
makan, minum atau menum obat lain satu jam setelah minum obat.
Jika dosis sehari 2 kali digunakan, dosis pertama diberikan seperti yang dianjurkan di atas. Dosis
kedua diminum pada saat makan, lebih dari 2 jam setelah dan 1 jam sebelum makan, minum
(selain air putih) atau minum obat lain.

Pengobatan hiperkalsemia malignant


Diberikan dosis awal tinggi 2400-3200 mg sehari dan tergantung respon individu, dapat
dikurangi secara bertahap sampai 1600 mg sehari untuk dosis pemeliharaan normokalsemia.

Pengobatan osteolisis malignant


Dosis awal 1600 mg sehari, secara klinik jika diperlukan dosis dapat ditingkatkan tapi tidak
boleh lebih dari 3200 mg sehari.

Mengurangi timbulnya metastase tulang pada kanker payudara primer,


Dosis yang dianjurkan 1600 mg sehari.
Penderita gagal ginjal : Hati-hati digunakan pada penderita gagal ginjal, dosis sehari tidak lebih
dari 1600 mg jangan digunakan terus menerus.
RISEDRONAT NATRIUM
Indikasi:

osteoporosis, osteoporosis akibat glukokortikoid, penyakit tulang Paget’s disease.

Peringatan:

abnormalitas esofageal dan faktor lain yang menunda transit atau pengosongan (misal: stricture
atau achalasia lihat juga di bawah keterangan efek samping), kerusakan ginjal, kondisi
hipokalsemia, disfungsi tulang dan metabolisme mineral (misal: defisiensi vitamin D dan
abnormalitas paratiroid) perlu diperbaiki sebelum memulai terapi, riwayat ganguan esofageal,
sebelum dimulai terapi diperlukan pemeriksaan gigi dengan tindakan pencegahan pada pasien
dengan faktor risiko seperti kanker, sedang menjalani kemoterapi, radioterapi, kortikosteroid,
tidak menjaga kebersihan mulut.

Interaksi:

pemberian pada waktu yang berbeda dengan obat mengandung kation seperti kalsium,
magnesium, besi, aluminium, antasida.

Kontraindikasi:

gangguan ginjal berat (klirens kreatinin kurang dari 30 mL/min), kehamilan, menyusui.

Efek Samping:

nyeri abdomen atas, diare, mual, konstipasi, dispepsia, muntah, nyeri abdomen, flatulens,
gastritis, distensi abdomen, hiatus hernia, mulut kering, influenza, nasofaringitis, infeksi saluran
kemih, bronkitis, gastroenteritis, infeksi saluran napas atas, sistitis, nyeri punggung, artralgia,
osteoartritis, nyeri ekstremitas, spasme otot, nyeri muskuloskeletal, nyeri leher, astenia, nyeri
dada, pireksia, sakit kepala, pusing, rasa ingin jatuh, hipertensi, batuk, depresi,
hiperkolesterolemia.

Dosis:

penyakit tulang Paget’s Disease, 30 mg sehari selama 2 bulan; dapat diulangi jika diperlukan,
setelah sekurang-kurangnya 2 bulan. Terapi osteoporosis pascamenopause untuk mengurangi
risiko fraktur vertebral dan pinggang, 5 mg per hari atau 35 mg sekali seminggu. Profilaksis
osteoporosis (termasuk osteoporosis akibat kortikosteroid) pada wanita pascamenopause, 5 mg
sehari. Anak. Tidak direkomendasikan.

Konseling. Tablet diminum utuh dengan segelas air pada keadaan perut kosong, paling sedikit 30
menit sebelum makanan/ minuman pertama pada hari itu atau jika tidak diminum pada pagi hari,
hindari makanan/ minuman sekurang-kurangnya selama 2 jam sebelum atau sesudah risedronat
(terutama hindari produk yang mengandung kalsium, seperti susu. Juga hindari suplemen yang
mengandung zat besi dan mineral dan antasida). Berdiri atau duduk tegak selama
paling sedikit 30 menit dan jangan berbaring sampai setelah makan pagi. Jangan menelan tablet
pada waktu akan tidur atau sebelum bangun dari posisi berbaring.
Selektif modulator reseptor estrogen, yang disebut SERMs untuk jangka pendek, memblokir efek
estrogen di jaringan payudara. SERM bekerja dengan duduk di reseptor estrogen dalam sel-sel
payudara. Jika SERM adalah di reseptor estrogen, tidak ada ruang untuk estrogen dan tidak dapat
melampirkan ke sel. Jika estrogen tidak terikat pada sel payudara, sel tidak menerima sinyal
estrogen untuk tumbuh dan berkembang biak.

Sel-sel pada jaringan lain dalam tubuh, seperti tulang dan rahim, juga memiliki reseptor estrogen.
Tetapi masing-masing reseptor estrogen memiliki struktur yang sedikit berbeda, tergantung pada
jenis sel itu adalah dalam. Jadi reseptor estrogen sel payudara yang berbeda dari reseptor
estrogen sel tulang dan kedua dari mereka reseptor estrogen yang berbeda dari reseptor estrogen
rahim. Seperti nama mereka mengatakan, SERM adalah "selektif" - ini berarti bahwa SERM
bahwa tindakan blok estrogen dalam sel-sel payudara dapat mengaktifkan aksi estrogen dalam
sel-sel lain, seperti tulang, hati, dan sel-sel rahim.

Ada tiga SERM:

 tamoxifen dalam bentuk pil (juga disebut sitrat tamoxifen; nama merek: Nolvadex); tamoxifen
dalam bentuk cair (nama merek: Soltamox)
 Evista (nama kimia: raloxifene)
 Fareston (nama kimia: toremifene)

Masing-masing adalah pil, biasanya diambil sekali sehari, kecuali untuk tamoxifen dalam bentuk
cair. Tamoxifen adalah yang tertua, paling terkenal, dan paling-diresepkan SERM.

SERM dapat digunakan untuk mengobati wanita sebelum dan setelah menopause.

Manfaat SERM
Karena tamoxifen adalah SERM yang paling umum digunakan, sebagian besar studi yang
membandingkan SERM ke inhibitor aromatase telah melihat tamoxifen dibandingkan inhibitor
aromatase. Beberapa penelitian telah membandingkan tamoxifen dengan inhibitor aromatase
untuk melihat jenis obat lebih efektif dalam mengobati tahap awal, kanker payudara hormon-
reseptor-positif pada wanita pascamenopause. Berdasarkan hasil, kebanyakan dokter pergi
dengan rekomendasi berikut:

 Inhibitor aromatase adalah jenis terbaik dari terapi hormonal untuk memulai dengan untuk
wanita menopause. Ketika mengobati stadium awal, kanker payudara reseptor hormon positif,
inhibitor aromatase memiliki manfaat lebih dan lebih sedikit efek samping yang serius dari
tamoxifen.
 Beralih ke inhibitor aromatase setelah mengambil tamoxifen selama 2 sampai 3 tahun (untuk
total 5 tahun terapi hormonal) menawarkan manfaat lebih dari 5 tahun tamoxifen. Mengambil
inhibitor aromatase selama 5 tahun setelah mengambil tamoxifen selama 5 tahun terus
mengurangi risiko kanker datang kembali, dibandingkan dengan tidak ada perawatan setelah
tamoxifen.
 Mengambil inhibitor aromatase selama 5 tahun setelah mengambil tamoxifen selama 5 tahun
terus mengurangi risiko kanker datang kembali, dibandingkan dengan tidak ada perawatan
setelah tamoxifen.

Untuk wanita premenopause didiagnosa menderita kanker payudara hormon-reseptor-positif,


SERM tamoxifen merupakan standar terapi pengobatan hormonal.

Efek samping dari SERM


SERM dapat menyebabkan beberapa efek samping yang serius, termasuk penggumpalan darah ,
stroke yang , dan kanker endometrium. Jika Anda dan dokter Anda mempertimbangkan
tamoxifen atau SERM lain sebagai bagian dari rencana perawatan Anda, beritahu dokter Anda
jika Anda merokok atau memiliki riwayat penggumpalan darah atau serangan jantung. Jika Anda
mengambil SERM, segera hubungi dokter Anda jika Anda memiliki gejala-gejala tersebut:

 perdarahan vagina abnormal atau debit


 nyeri atau tekanan di panggul
 kaki bengkak atau nyeri
 sakit dada
 sesak napas
 kelemahan , kesemutan, atau mati rasa di wajah Anda, lengan, atau kaki
 tiba-tiba kesulitan melihat
 pusing
 tiba-tiba parah sakit kepala

Efek samping yang paling umum dari SERM adalah:

 kelelahan
 hot flashes
 keringat malam
 keputihan
 perubahan suasana hati

Anda tidak harus mengambil SERM jika Anda sedang menyusui, hamil, mencoba untuk hamil,
atau jika ada kemungkinan bahwa Anda bisa hamil. Obat-obatan ini dapat menyebabkan
kerusakan pada embrio berkembang. Anda harus menggunakan jenis yang efektif non-hormonal
kontrol kelahiran - seperti kondom, diafragma bersama dengan spermisida, atau IUD non-
hormonal -sementara Anda mengambil SERM a. Tanyakan kepada dokter Anda jenis kontrol
kelahiran non-hormonal yang terbaik bagi Anda, serta berapa lama Anda harus menggunakan
jenis kontrol kelahiran setelah Anda berhenti mengambil SERM a.

Sebagai manfaat, SERM juga dapat meningkatkan kepadatan tulang, yang mengurangi risiko
osteoporosis