Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN SEMENTARA

ACIDIMETRI

Kelompok : B10
Anggota : 1. Syukron Karima I8316053
2. Windarti I8316061
Hari, tanggal : Kamis, 6 April 2017

Data percobaan dan pengamatan


a. Standarisasi larutan HCL
No Volume Borax (mL) Volume HCL 1 N titran (mL)
1 25
2 25
3 25
Rata-rata mL
Perubahan warna yang terjadi dari

b. Penetapan kadar Na2CO3 dalam soda


No Volume Soda (mL) Volume HCL 0,1 N titran (mL)
1 10
2 10
3 10
Rata-rata mL
Perubahan warna yang terjadi dari
c. Penetapan Konsentrasi NaOH dari sampel
No Volume NaOH (mL) Volume HCL 0,1 N titran (mL)
1 10
2 10
3 10
Rata-rata mL
Perubahan warna yang terjadi dari

Surakarta, 23 Maret 2017


Asisten, Praktikan,
1. Nenik Widiati
2. Titis Dhian Novita
Regita Alif Ergiyanti
NIM I8315048
Dosen Pembimbing,

Dr. Adrian Nur, S.T., M.T.


NIP 19730108 200012 1 001
LEMBAR KONSULTASI DAN PEMANTAUAN
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS KUANTITATIF

Nama : Syukron Karima


NIM : I8316053
Kelompok : B13
Program Studi : Diploma III
Jurusan : Teknik Kimia
Judul Praktikum : Acidimetri
Dosen Pembimbing : Dr. Adrian Nur, S.T., M.T.
Asisten : Regita Alif Ergiyanti
No Tanggal Konsultasi Catatan Pengarahan Tanda Tangan
LEMBAR KONSULTASI DAN PEMANTAUAN
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS KUANTITATIF

Nama : Windarti
NIM : I8316061
Kelompok : B13
Program Studi : Diploma III
Jurusan : Teknik Kimia
Judul Praktikum : Acidimetri
Dosen Pembimbing : Dr. Adrian Nur, S.T., M.T.
Asisten : Regita Alif Ergiyanti
No Tanggal Konsultasi Catatan Pengarahan Tanda Tangan
Nama :
NIM :
Kelompok :
Bab :
Tanggal :

PRETEST
ACIDIMETRI
ACIDIMETRI
(KONSEP KIMIA ANALITIK)

Titrasi adalah cara analisis yang memungkinkan kita untuk mengukur jumlah
yang pasti dari suatu larutan dengan mereaksikan larutan dengan suatu larutan lain
yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan yang ada dalam labu buret disebut
titran. Titran adalah larutan dalam buret yang diteteskan secara perlahan melalui
kran ke dalam labu erlenmeyer yang mengandung larutan pereaksi lain. Larutan
yang ada dalam erlenmeyer disebut titrat, titrat adalah reagensia (suatu larutan
standar) yang ditambahkan dari dalam sebuah buret untuk bereaksi dengan
analitnya. Larutan standar adalah suatu larutan yang konsentrasinya telah
ditetapkan dengan akurat. (Syukuri, 1999).
Asidimetri adalah analisis volumetrik yang menggunakan larutan baku basa
untuk menentukan konsentrasi asam yang ada. Alkalimetri adalah analisis
volumetrik yang menggunakan larutan baku asam untuk menentukan konsentrasi
basa yang ada. Perbedaan antara asidimetri dan alkalimetri adalah asidimetri
mencari konsentrasi asam sedangkan alkalimetri mencari konsentrasi basa, selain
itu larutan standar yang digunakan berbeda alkalimetri menggunakan larutan baku
asam sedangkan asidimetri menggunakan larutan baku basa. (Daintith, 1997).
Titik ekuivalen adalah titik dimana jumlah mol asam tepat bereaksi sempurna
dengan jumlah mol basa atau telah ternetralkan oleh basa. . Titik akhir titrasi
adalah keadaan dimana reaksi telah berjalan dengan sempurna yang biasanya
ditandai dengan pengamatan visual melalui perubahan warna indicator. Perbedaan
antara titik ekivalen dan titik akhir titrasi adalah titik akhir titarsi dapat diketahui
kapan terjadina karena kita dapat melihat perubah warna ang terjadi sedangkan
saat terjadi titik ekivalen kita tidak akan mengetahuinya karena tidak terlihat
perubahan seperti saat terjadi titik akhir titrasi. (Raymond Chang, 2003)
Teori asam-basa Arrhenius menyatakan asam sebagai zat yang menghasilkan
ion hidrogen dalam larutan sedangkan basa sebagai zat yang menghasilkan ion
hidroksida dalam larutan. Teori asam-basaBrowsted Lowry menyatakan bahwa
asam sebagai pendonor proton (ion hidrogen) sedangkan basa sebagai akseptor
proton (ion hidrogen). Teori asam-basa Lewis menyatakan bahwa asam sebagai
senyawa yang dapatmenerima pasangan elektron bebas sedangkan basa sebagai
senyawa yang dapat memberi pasangan elektron bebas. (Raymond Chang, 2003)
Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat dan
teliti. Senyawa yang digunakan untuk membuat larutan baku dinamakan senyawa
baku. Senyawa baku dibedakan menjadi dua, yaitu : Larutan baku primer
adalah bahan dengan kemurnian tinggi yang digunakan untuk membakukan
larutan standar dan untuk membuat larutan baku dimana kadarnya atau
konsentrasinya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan
senyawanya dan volume larutan yang dibuat. (Phiin’s, 2012)
Adapun syarat-syarat larutan standar primer ialah :
1. Mempunyai kemurnian yang tinggi ( 100 % )
2. Mempunyai rumus molekul yang pasti
3. Tidak mengalami perubahan selama penimbangan
4. Mempunyai berat ekivalen tinggi sehingga kesalahan penimbangan dapat
diabaikan
5. Zat tersebut harus stabil baik pada suhu kamar ataupun pada waktu dilakukan
pemanasan, standar primer biasanya dikeringkan terlebih dahulu sebelum
ditimbang
6. Mudah diperoleh
Biasanya zat standar primer memiliki massa molar ( Mr ) yang besar, hal ini
untuk memperkecil kesalahan pada waktu proses penimbangan. Menimbang zat
dalam jumlah besar memiliki kesalahan relatif yang lebih kecil dibanding dengan
menimbang zat dalam jumlah yang kecil.(Phiin’s, 2012)
Beberapa contoh dari larutan standar primer antara lain Contohnya : H2C2O4 .
2H2O, Asam Benzoat (C6H5COOH), Na2CO3, K2Cr2O7, As2O3, KBrO3, KIO3,
NaCl. (Phiin’s, 2012)
Larutan baku sekunder adalah bahan yang telah dibakukan sebelumnya oleh
baku primer kareana sifatnya yang tidak stabil, larutan yang konsentrasinya
ditentukan dengan cara pembakuan . (Phiin’s, 2012)
Adapun syarat – syarat larutan standar sekunder :
1. Derajat kemurniannya lebih rendah dari larutan primer
2. Berat ekivalennya tinggi
3. Larutan relatif stabil didalam penyimpanan
Beberapa contoh dari larutan standar sekunder antara lain NaOH, CH3COOH,
HCl. (Phiin’s, 2012)
Pada percobaan ada beberapa faktor-faktor kesalahan yang menyebabkan tidak
akuratnya hasil titrasi yang didapat antara lain ialah kurang telitinya dalam
melakukan proses titrasi, Kurang tepatnya pada saat pembuatan larutan
N2B4O7 dan H2C2O4 seperti pada saat penimbangan, terjadi perubahan skala buret
yang tidak konstan, kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna
indikator, terlalu banyak meneteskan indikator PP atau MM.
Aplikasi dalam bidang pangan adalah aplikasi analisis kuantitatif dan
pengukuran pH dalam bidang pangan adalah dapat menentukan persen boraks
yang ada dalam bakso atau dalam bahan pangan yang biasa digunakan dalam
kehidupan sehari-hari, menentukan persen cuka yang digunakan untuk kebutuhan
rumah tangga, membuat garam dapur (NaCl) dari pencampuran antara NaOH dan
HCl, mengetahui zat-zat yang dapat dijadikan bahan aditif makanan, membuat
soda kue (Natrium Bikarbonat) untuk pengembang kue, pembuatan yogurt dan
pembuatan nata de coco.

Sumber:
https://www.academia.edu/19978876/Konsep_Kimia_Analitik
Diakses pada hari Senin, 27 Maret 2017 pada pukul 10:42 WIB
ACIDIMETRI
(ASIDI ALKALIMETRI)

Praktikum ini berjudul Asidi Alkalimetri yang bertujuan untuk


menentukan kadar Na2CO3 dalam soda kue dan kandungan asam asetat dalam
sampel. Reaksi yang digunakan adalah reaksi asidi alkalimetri. Reaksi penetralan
atau asidi alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama dalam
penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Asidi dan alkalimetri ini dengan
tujuan untuk mengetahui konsentrasi yang sebenarnya dari larutan yang
dihasilkan. Larutan standar yang digunakan dalam proses analisis kimia dengan
metode titrasi asam basa. Prinsip titrasi ini adalah menentukan jumlah asam jika
ditambahkan dalam jumlah ekuivalen atau sebaliknya. Proses titrasi diakhiri
apabila telah mencapai titik ekivalen yaitu titik dimana penambahan sedikit titran
akan menyebabkan perubahan pH yang cukup besar.
Pada tahap pertama yang dilakukan untuk pembuatan larutan HCl dengan
larutan boraks 0,1 N. Pertama-tama diambil larutan baku boraks 0,1 N
menggunakan pipet volume, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml, kemudian
ditambahkan 2 tetes indikator metil oranye, larutan kemudian dititrasi dengan
larutan baku HCL dan melakukan duplo. Warna awal larutan berwarna oranye
berubah menjadi merah. Fungsi dari penambahan indikator metil orange adalah
untuk mengetahui titik akhir titrasi. Indikator metil orange berada pada rentang
pH 3,2 – 4,4 sehingga cukup tepat untuk digunakan sebagai indikator karena pada
titik ekivalen ditandai dengan perubahan warna larutan. Pada percobaan kali ini
didapatkan volume sebelum diduplo 9,7 ml, dan melakukan duplo didapatkan
volume 11,6 ml jadi volume titrasi rata-rata yaitu 10,65 ml. Dari data yang
didapatkan diketahui nilai konsentrasi HCl sebesar 0,083 N. Reaksi yang tejadi :
2HCl + Na2B4O7. 10 H2O 4 H3BO3 +2 NaCl + 5H2O
Dari reaksi di atas terlihat bahwa HCl tepat menghabiskan boraks. Dan diketahui
bahwa larutan boraks adalah basa lemah.
Pada percobaan ini 10 mL larutan sampel soda kue ditambahkan 2 tetes
metil orange, kemudian larutan dititrsi dengan larutan baku HCl. Dalam
penentuan kadar Na2CO3 diketahui 59,9 ml. Konsentrasi sangat berpengaruh
dalam perhitungan kadar Na2CO3, dari percobaan diatas diperoleh konsentrasi
Na2CO3 adalah 0,497 N, massa Na2CO3 adalah 2,63 gram sehingga dapat
diperoleh kadar Na2CO3 adalah 26,3 %. Padahal kadar Na2CO3 yang ideal adalah
15 %. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perhitungan kadar Na2CO3 yaitu,
volume HCL, normalitas HCL, massa atom relatif dan massa Na2CO3. Pada
larutan Na2CO3, setelah diberi indikator metil oranye terjadi perubahan warna
yang semula orange berubah menjadi orange tua dan diperoleh warna akhir merah
muda. Reaksi yang terjadi :
Na2CO3 + 2 HCl 2 NaCl + H2O + CO2
Pada percobaan yang mengenai pembakuan larutan NaOH 0,1 N dengan
larutan HCl 0,1 N yang telah distandarisasi ini, diambil 10 ml NaOH dan
dimasukkan ke dalam erlenmeyer, setelah itu ditambahkan 3 tetes fenolpthalein,
kemudian dititrsi dengan larutan baku HCl. Maka terjadi perubahan warna dari
ungu menjadi warna bening. Volume titrasi sebelum diduplo adalah 8,9 ml, dan
volume ke dua yaitu 7,4 ml , jadi volume titrasi rata-rata adalah 8,14 mL. Dari
data yang didapatkan konsentrasi NaOH sebesar 0,068 N.
Percobaaan mengenai penentuan kadar asam asetat dalam asam cuka
dilakukan dengan membakukan larutan NaOH 0,1 N dengan larutan HCl 0,1 N
dengan bantuan indikator fenolptalien. Pertama-tama diambil 10 mL sampel asam
cuka menggunkan pipet volume, kemudian ditambahkan 3 tetes indikator
fenolptalein, kemudian larutan tersebut dititrasi dengan larutan baku NaOH. Lalu
dilakukan duplo. Setelah melakukan titrasi terjadi perubahan warna dari merah
muda menjadi berwarna bening. Hasil yang didapatkan volume sebelum
dilakukan duplo adalah 24,4 ml, dan dilakukan duplo volume yang didapat adalah
34,5 ml, jadi volume titrasi rata-rata 29,45 ml. Dari volume rata-rata tersebut
dapat kita ketahui konsentrasi asam asetat dengan cara perhitungan yang dapat
dilakukan diatas, konsentrasi asam asetat sebesar 0,200 N. Dengan massa sampel
sebesar 10,6 gram, sehingga dapat dihitung kadar asam asetat dalam sampel
sebesar 11,32 %. Reaksi yang terjadi:
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O

Sumber:
https://www.academia.edu/9386020/Percobaan_I_KAK_perbaikan
Diakses pada hari Selasa, 28 Maret 2017 pada pukul 10:45 WIB