Anda di halaman 1dari 8

1

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................. 2
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Klasifikasi Malnutrisi .................................................................... 4
A. Berat badan terhadap umur ...................................................... 4
B. Tinggi badan terhadap umur .................................................... 5
C. Berat terhadap tinggi badan ...................................................... 5
2.2 Definisi Malnutrisi Pada Anak....................................................... 6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 8
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gizi buruk (malnutrisi) merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan,

khususnya di berbagai negara berkembang (who, 2004). The united nations

children’s fund (unicef) pada tanggal 12 september 2008, menyatakan malnutrisi

sebagai penyebab lebih dari 1/3 dari 9,2 juta kematian pada anak-anak dibawah

usia 5 tahun di dunia. UNICEF juga memberitakan tentang terdapatnya

kemunduran signifikan dalam kematian anak secara global di tahun 2007, tetapi

tetap terdapat rentang yang sangat jauh antara negara-negara kaya dan

miskin, khususnya di Afrika dan Asia Tenggara (CWS, 2008).

Menurut klasifikasinya malnutrisi dibagi 3 yaitu : marasmus, kwashiorkor

dan marasmus-kwashiorkor. Marasmus merupakan bentuk malnutrisi protein

kalori, terutama akibat kekurangan kalori berat dan kronis, paling sering terjadi

selama tahun pertama kehidupan, disertai retardasi pertumbuhan serta atrofi lemak

subkutan dan otot. Kwashiorkor merupakan bentuk malnutrisi protein-energi yang

disebabkan defisiesi protein yang berat, asupan kalori biasanya juga mengalami

defisiensi. SedangkanMarasmic – Kwashiorkor merupakan suatu keadaan

defisiensi kalori dan protein, disertai penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya

lemak subkutan, dan biasanya dehidrasi.

Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah : Pemasukan kalori yang

tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat, kelainan metabolik, malformasi

kongenital. Kwashiorkor penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya

intake protein yang berlangsung kronis. SedangkanPenyebab

marasmic – kwashiorkor dapat dibagi menjadi dua penyebab yaitu malnutrisi


3

primer dan malnutrisi sekunder. Malnutrisi primer adalah keadaan kurang gizi yang

disebabkan oleh asupan protein maupun energi yang tidak adekuat. Malnutrisi sekunder

adalah malnutrisi yang terjadi karena kebutuhan yang meningkat, menurunnya

absorbsi dan/atau peningkatankehilangan protein maupun energi dari tubuh.


4

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Klasifikasi Malnutrisi

1. Klasifikasi yang sering dipakai :

A. Berat badan terhadap umur

1. Klasifikasi menurut Gomez

a. > 90% : normal

b. 90 – 75% : malnutrisi ringan ( Grade 1 )

c. 75 – 61% : malnutrisi sedang ( Grade 2)

d. </= 60% : malnutrisi berat ( Grade 3 )

2. Klasifikasi menurut Jelliffe

- 110 – 90% : normal

- 90 – 81% : malnutrisi ringan ( Grade 1 )

- 80 – 61% : malnutrisi sedang ( Grade 2 dan 3 )

- </= 60% : malnutrisi berat ( Grade 4 )

3. Klasifikasi menurut WHO

- Persentil ke 50 - 3 : normal

- Persentil </= 3 : malnutrisi

4. Klasifikasi di Indonesia

Menggunakan modifikasi Gomez pada KMS, kemudian kenaikan berat badan

dicatat pada KMS. Bila terdapat kenaikan tiap bulan adalah normal, bila tidak

terdapat kenaikan : risiko tinggi terjadinya gangguan pertumbuhan.


5

B. Tinggi badan terhadap umur

1. Kanawati dan McLaren

- >/= 95% : normal

- 95 – 90% : malnutrisi ringan

- 90 – 85% : malnutrisi sedang

- 85% : malnutrisi berat

2. CDC/WHO

- >/= 90% : normal

- < 90% : malnutrisi kronis

C. Berat terhadap tinggi badan

1. McLaren/Read

- 110 – 90% : normal

- 90 – 85% : malnutrisi ringan

- 85 – 75% : malnutrisi sedang

- <75% dengan / tanpa edema : malnutrisi berat

2. Waterlow

- 110 – 90% : normal

- 90 – 80% : malnutrisi ringan

- 80 – 70% : malnutrisi sedang

- <70% : malnutrisi berat

3. CDC/WHO

- 85 – 80% : malnutrisi sedang

- < 80% : malnutrisi akut


6

4. NCHS

- Persentil ke 75 – 25 : normal

- Persentil ke 10 – 5 : malnutrisi sedang

- Persentil ke 5 : malnutrisi berat

D. Lingkar Lengan Atas

- > 85% atau > 14 cm : normal

- < 76% atau < 12,5 cm : malnutrisi berat

2.2 Definisi Malnutrisi Pada Anak

A. Marasmus

Marasmus merupakan bentuk malnutrisi protein kalori, terutama akibat

kekurangan kalori berat dan kronis, paling sering terjadi selama tahun pertama

kehidupan, disertai retardasi pertumbuhan serta atrofi lemak subkutan dan otot.

B. Kwashiorkor

Kwashiorkor merupakan bentuk malnutrisi protein-energi yang

disebabkan defisiesi protein yang berat, asupan kalori biasanya juga mengalami

defisiensi. Gejala meliputi retardasi pertumbuhan, perubahan pigmen rambut dan

kulit, edema, defisiensi imun dan perubahan patologis pada hati.

C. Marasmic – Kwashiorkor

Marasmic – Kwashiorkor merupakan suatu keadaan defisiensi kalori dan protein,

disertai penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan, dan biasanya

dehidrasi.
7

BAB 3

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Seorang anak laki-laki 6 tahun menderita malnutrisi tipe kwashiorkor.

Penatalaksanaan yang dilakukan adalah pemberian cairan dan makanan untuk

stabilisasi, selain itu diberikan antibiotik sebagai profilaksis. Pantau apakah ada

perbaikan jika membaik, berikan edukasi pada ibu tentang cara memberikan

stimulasi sensorik, dukungan emosional, pemberian makanan sebagi tindak lanjut

dirumah bagi anak gizi buruk.dan mengontrol perkembangan gizi anak.


8

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal

Bina Gizi Dan Kesehatan Ibu Dan Anak Direktorat Bina Gizi 2011

2. Ilmu kesehatan anak fkui. Defisiensi gizi. Buku kuliah 1. Jakarta.

Hal.360-64.

3. tatalaksana pemeriksaan anak gizi buruk

4.Respiratory.usu.ac.id/bitstream/123456789/20564/3/chapter%20II/pdf

gizi.depkes.go.id