Anda di halaman 1dari 4

Nama : Dwi Rani Prihandini

NIM : 140210103032

BUDIDAYA SAYURAN HIDROPONIK

Hidroponik merupakan sistem budidaya tanaman dengan menggunakan


media selain tanah, tetapi menggunakan media bersifat inert seperti kerikil, pasir,
gambut, rockwoll, batu apung atau serbuk gergaji dan ditambahkan larutan hara
yang berisi seluruh unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Budidaya
sayuran hidroponik memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan
pertanian konvensional diantaranya yaitu:
1. Penggunaan lahan lebih efisien
2. Pengendalian hama dan penyakit lebih mudah.
3. Perawatan lebih mudah
4. Tidak bergantung dengan iklim
5. Penggunaan pupuk dapat diatur
6. Harga sayuran yang dihasilkan lebih tinggi
Terdapat beberapa macam-macam sistem hidroponik yaitu sistem air tetes,
NFT, Aeroponik, dan sistem sumbu. Sistem air tetes merupakan sistem
hidroponik dengan cara menyemprotkan larutan nutrisi pada akar-akar tanaman
untuk menjaga kelembapan. NFT merupakan sistem hidroponik dengan cara
mengalirkan larutan nutrisi secara tipis. Aeroponik merupakan sistem hidroponik
yang bergantung pada kesediaan energi listrik karena sistem ini memanfaatkan
kabut unsur hara yang disemprotkan pada akar tanaman. Sistem sumbu
merupakan sistem hidroponik yang menggunakan sumbu sebagai perantara antara
larutan nutrisi dengan akar tanaman.
Teknik hidroponik dapat memanipulasi sinar matahari dengan menggunakan
lampu LED. Light Emitting Diode (LED) dapat digunakan untuk pertumbuhan
tanaman karena tidak mengeluarkan suhu tinggi. Pertumbuhan tanaman akan
maksimum apabila dibantu dengan penyinaran dengan panjang gelombang dan
dan lama penyinaran dari jenis lampu yang sesuai. Warna yang sering digunakan
dalam teknik hidropnik adalah warna merah, warna putih, dan warna biru.
Alat dan bahan yang sering digunakan dalam teknik hidroponik adalah
Instalasi/barang bekas, Stock nutrisi, Pompa, Rockwool, Selang, Benih, Sumbu
flannel, TDS meter, Net pot, pH meter, dan Air. Pembuatan stock nutrisi dalam
teknik hidroponik dapat dilakukan dengan mencampurkan stock nutrisi A dan
stock nutrisi B. Stock nutrisi A dengan 5 liter air dicampurkan dengan stock B
dengan 5 liter air. Membuat konsentrasi perlakuan dengan mencampurkan 5 ml
(stock A+5 liter) dan 5 ml (stock B+ 5 liter) tadi dengan 1 liter air. Campuran ini
akan menghasilkan larutan dengan konsentrasi 1000 ppm.
Aplikasi nutrisi dalam teknik hidroponik harus memperhatikan masa
pembibitan dan umur tanaman yang dihidroponik. Berikut konsentrasi nutrisi
yang disarankan sesuai umur tanaman.

Masa budidaya (umur Konsentrasi nutrisi


tanaman)
Masa pembibitan (bibit umur 5- 500 ppm (2,5 ml stok A + 2,5 ml stok B
10 hari setelah semai) untuk setiap 1 liter air)
1 minggu setelah pindah tanam 900 ppm (4,5 ml stok A + 4,5 ml stok B
(MSPT) untuk setiap 1 liter air)
2 minggu setelah pindah tanam 1100 ppm (5,5 ml stok A + 5,5 ml stok B
(MSPT) untuk setiap 1 liter air)
3 minggu setelah pindah tanam 1300 ppm (6,5 ml stok A + 6,5 ml stok B
(MSPT) untuk setiap 1 liter air)
4 minggu setelah pindah tanam 1500 ppm (7,5 ml stok A + 7,5 stok B ml
(MSPT) untuk setiap 1 liter air)

Teknik pembibitan pada hidroponik dapat dilakukan dengan cara memotong


rockwool menjadi potongan dadu dengan ukuran 2 x 2 cm dan menenmpatkannya
pada nampan. Kemudian menyiram potongan rockwool menggunakan air hingga
lembab. Setelah itu, melubangi rockwool 2-3 kali ukuran benih menggunakan lidi
atau tusuk gigi. Menanam benih pada rockwool yang telah dilubangi. Kemudian
letakkan bibit di tempat yang terkena sinar matahari Kemudian proses dilanjutkan
dengan melakukan perawatan terhadap bibit selada yang tumbuh. Proses
perawatan bibit yang paling utama yaitu melakukan penyiraman secara rutin.
Penyiraman dilakukan dengan beberapa tahapan, antara lain:
 Ketika bibit berumur 5 HST – 10 HST (siap pindah tanam), bibit disiram
menggunakan larutan nutrisi dengan konsentrasi 500 ppm. Larutan nutrisi
dengan konsentrasi 500 ppm dibuat dengan mencampurkan 2,5 ml stok A +
2,5 ml stok B ke dalam 1 liter air.
 Ketika bibit telah berumur 10 HST dan telah berdaun 4, maka bibit siap
untuk dipindah tanam ke instalasi hidroponik.

Salah satu contoh sayuran yang dapat di budidayakan dengan teknik


hidroponik adalah sayuran kangkung seperti yang dilakukan oleh mahasiswa
pendidikan biologi. Mahasiswa pendidikan biologi 2014 melakukan penanaman
kangkung dengan teknik hidroponik selama 6 minggu. Pada minggu pertama
melakukan penananman benih kangkung pada media rockwooll, setelah benih
tumbuh menjadi bibit, bibit kemudian di letakkan di instalasi hidroponik. Setiap
minggu dilakukan pengecekan yang meliputi pengukuran pH dan kelembapan dan
memberikan larutan nutrisi AB sesuai kebutuhan. Minggu pertama penanaman di
instalasi tanggal 5 November 2017 kangkung diberikan nutrisi sebesar 300 ppm,
kemudian minggu kedua tanggal 13 November 2017 dilakukan pengamatan dan
pemberian nutrisi sebesar 700 ppm, minggu ketiga tanggal 20 November
dilakukan pengamatan dan nutrisi sebesar 800 ppm dan panen pertama dengan
berat 230,5 gram. Pada minggu ke empat tanggal 27 November 2017 dilakukan
pengamatan dan penambahan nutrisi sebesar 900 ppm dan volume air pada tandon
sebesar 5 liter. Minggu kelima tanggal 4 Desember 2017 dilakukan pengamatan
dilakukan penambahan nutrisi sampai 1200 ppm dan minggu terakhir tanggal 11
Desember dilakukan pengamatan dan pemanenan dengan berat total yang didapat
yakni 400 gram, selain itu yang dilakukan adalah membersihkan tandon.
Pada penanaman kangkung ini, volume total air pada instalasi hidroponik
adalah 40 litel. pH dari awal hingga akhir stabil antara 7,3 – 7,5. Pengaplikasian
pupuk AB sebanyak 1 ml = 200 ppm untuk pemakaian 1 liter air, karena air yang
digunakan adalah 40 liter maka pupuk yang ditambahkan adalah 1 ml x 40= 40
ml, jadi untuk menambahkan 200 ppm pada instalasi hidroponik dibutuhkan
pupuk A 40 ml dan pupuk B 40 ml.