Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDIDIKAN KESEHATAN

“POSYANDU BENTENG KESEHATAN”


Dosen pengampu:

Kurniawan Erman, S.Kep., Ners., M.Kes.,

Disusun Oleh:

- Wina Sriandini : 1507. 14201. 450


- Liliosa F. Mumu : 1608. 14201. 492
- Arling Tamar :
- Daworis : 1608. 14201. 473
- Kornelis Horo : 1608. 14201. 491
- Arni B. Junifa : 1305. 14201. 199

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Analisis Situasi


Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan
dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan.
Posyandu merupakan salah satu Upaya Kesehatan Bersumberdaya
Masyarakat (UKBM). Posyandu dimulai terutama untuk melayani balita
(imunisasi, timbang berat badan) dan orang lanjut usia (Posyandu Lansia).
Salah satu kegiatan posyandu adalah imunisasi. Imunisasi adalah
proses untuk membuat seseorang imun atau kebal terhadap suatu penyakit.
Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang merangsang sistem
kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut. Imunisasi bertujuan
untuk membangun kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit,
dengan membentuk antibodi dalam kadar tertentu. Agar antibodi tersebut
terbentuk, seseorang harus diberikan vaksin sesuai jadwal yang telah
ditentukan. Jadwal imunisasi tergantung jenis penyakit yang hendak dicegah.
Salah satu jenis imunisasi dasar adalah DPT (difteri, pertusis, tetanus).
Penyakit difteri, pertusis, dan tetanus adalah tiga penyakit berbeda yang
masing-masing memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan
kematian.
Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri terjadi di Yaman dan Bangladesh,
terutama di lokasi-lokasi pengungsian. Dalam waktu tak lebih dari empat
bulan di akhir tahun 2017, dari Yaman dilaporkan 333 orang menampakkan
gejala difteri, dan 35 orang diantaranya meninggal dunia (angka kematian
kasus=10,5%). Sementara itu, di pengungsian etnis Rohingya di Cox’s Bazar
Bangladesh 804 kasus difteri tercatat dengan 15 kematian antara 3
November hingga 12 Desember 2017.
Menurut informasi Badan Intelejensi Negara pada tahun 2017 kasus
difteri ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Kementrian
Kesehatan. Menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kemenkes RI,
Elizabeth Jane Soepardi, jumlah kasus Difteri Januari-November 2017 dari
20 provinsi berjumlah 590 laporan kasus. Sepanjang Desember, enam orang
telah meninggal akibat bakteri yang menyerang saluran pernapasan bagian
atas. Case Fatality Rate adalah 4,6% yang berarti dari 100 orang yang
menderita difteri, terdapat 4-5 penderita yang meninggal. Jumlah kematian
akibat difteri meningkat menjadi 38 dari 32 kasus selama Januari-November
2017.
Kasus tertinggi terjadi di Sumatera Barat sebanyak 110 kasus, dan
Jawa Timur 67 kasus. Di tahun 2016, tercatat 415 kasus dengan jumlah
kasus meninggal sebanyak 24 kasus, sehingga (CFR sebesar 5,8 persen).
Kasus terbanyak terjadi di Jawa Timur dengan 209 kasus dan Jawa Barat
sebanyak 133 kasus. Menurut data WHO tahun 2011, tercatat 3.353 kasus
difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini
menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah
kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di
antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak
memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Oleh karena itu peran
posyandu sangat berpengaruh sebagai pencegahan primer terjadinya
penyakit.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah adalah


sebagai berikut:

Bagaimana solusi yang tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat


akan pentingnya posyandu dan imunisasi?
BAB II

TUJUAN DAN MANFAAT

2.1. Tujuan

2.1.1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari kegiatan pendidikan kesehatan ini adalah


untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya posyandu dan
imunisasi.

2.1.2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari kegiatan pendidikan kesehatan ini antara


lain, yaitu:

1. Mengidentifikasi faktor penyebab kurangnya minat masyarakat untuk


berkunjung ke posyandu.
2. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.
3. Menganalisis respon masyarakat setelah diberikan pendidikan kesehatan.

2.2. Manfaat

Adapun manfaat dari kegiatan pendidikan kesehatan ini antara lain,


yaitu:

1. Mengetahui faktor penyebab kurangnya minat masyarakat untuk


berkunjung ke posyandu.
2. Mengetahui masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.
3. Mengetahui respon masyarakat setelah diberikan pendidikan kesehatan.
BAB III

KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

3.1. Dasar Pemikiran


Imunisasi adalah cara yang baik untuk menjaga kesehatan dengan
maksimal. Dengan melakukan imunisasi, maka akan terhindari dari berbagai
macam penyakit. Selain itu imunisasi bisa mencegah adanya penularan
penyakit berbahaya dari orang lain sehingga risiko mendapatkan kecacatan
atau kematianpun akan jauh menurun. Posyandu adalah tempat termudah
masyarakat untuk mendapat imunisasi dan informasi seputar kesehatan yang
seharusnya menjadi prioritas masyarakat dalam upaya pencegahan primer.
Kurangnya keaktifan dari kader posyandu mengakibatkan kurangnya
pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya posyandu dan
imunisasi, yang dimana hal tersebut merupakan perilaku yang mengancam
kesehatan. Diperkuat dari hasil survei yang dilakukan di Desa Makmur,
47,4% masyarakat tidak rutin ke posyandu setiap bulan. Cakupan imunisasi
bayi dan balita hanya 15%, 0,12% cakupan imunisasi ibu hamil. Selain itu
prevalensi diare yang tinggi yaitu 150 kasus dari 250 bayi/balita dan 17
bayi/balita terkena difteri.

3.2. Kerangka Penyelesaian Masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan, untuk


meningkatkan keaktifan kader posyandu dan meningkatkan kesadaran
masyarakat perlu adanya pengembangan program oleh perawat komunitas.
Alternatif program yang dapat dilaksanakan antara lain:

1. Pendidikan kesehatan pentingnya posyandu dan imunisasi.


2. Kegiatan pelatihan (refresh materi) secara rutin setiap bulan bagi kader
posyandu.
3. Mengadakan lomba kader posyandu.
4. Memberikan reward bagi balita yang telah menyelesaikan imunisasi
lengkap.
5. Fasilitasi konsultasi gizi dan senam hamil yang didampingi keluarga.
BAB IV

RENCANA PELAKSANAAN

4.1. Realisasi Penyelesaian Masalah

Berdasarkan analisis situasi dan perumusan masalah maka realisasi


penyelesaian masalah yang dapat dilakukan yaitu melakukan penyuluhan terkait
pentingnya posyandu dan imunisasi serta pencegahan penyakit menular.

4.2. Khalayak Sasaran

Khalayak sasaran kegiatan ini adalah seluruh kader posyandu yang ada di
Desa Makmur, keluarga yang memiliki balita, serta ibu hamil. Selain itu tokoh
masyarakat diberdayakan dalam kegiatan ini karena memiliki peran besar dalam
mempengaruhi masyarakat.

4.3. Metode yang Digunakan

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu penyuluhan oleh perawat
kepada khalayak sasaran dan penyampaian program-program baru posyandu.
Lokasi yang digunakan adalah aula Balai Desa Makmur. Penyuluhan dimulai
satu hari pada hari sabtu.
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

- Pokok Bahasan : Pentingnya Posyandu dan pencegahan penyakit menular


- Sasaran : Kader posyandu, keluarga yang memiliki balita, Ibu Hamil
dan tokoh masyarakat
- Tempat : Aula Balai Desa Makmur
- Penyuluh : Liliosa
- Hari/ tanggal : Jum’at, 01 Desember 2018
- Waktu : 13.00 s/d 14.00