Anda di halaman 1dari 15

strategi global

Promosi kesehatan adalah salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan yang berorientasi pada
penyampaian informasi tentang kesehatan guna penanaman pengetahuan tentang kesehatan
sehingga tumbuh kesadaran untuk hidup sehat. Penerapan promosi kesehatan di lapangan biasanya
melalui pendidikan kesehatan dan penyuluhan kesehatan.
Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang mempunyai
dua sisi, yakni sisi ilmu dan sisi seni. Dilihat dari sisi seni, yakni praktisi atau aplikasi pendidikan
kesehatan adalah merupakan penunjang bagi program-program kesehatan lain. Ini artinya bahwa
setiap program kesehatan yang telah ada misalnya pemberantasan penyakit menular/tidak menular,
program perbaikan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak, program
pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang serta didukung oleh adanya promosi
kesehatan.
Promosi kesehatan bukanlah hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan
pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di dalamnya terdapat usaha untuk
dapat memfasilitasi dalam rangka perubahan perilaku masyarakat.

Dalam hal ini organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu bentuk definisi mengenai
promosi kesehatan :
“Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and improve, their
health. To reach a state of complete physical, mental, and social, well-being, an individual or group
must be able to identify and realize aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the
environment“. (Ottawa Charter,1986).
Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan tersebut diatas bahwa Promosi Kesehatan adalah proses untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain
itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka
masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu
mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya).
Selanjutnya, Australian Health Foundation merumuskan batasan lain pada promosi kesehatan
sebagai berikut : “Health promotion is programs are design to bring about “change”within people,
organization, communities, and their environment”.
Artinya bahwa promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk
membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan
lingkungannya.
Dengan demikian bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut
pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan
perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson,1998). Promosi kesehatan merupakan
proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Proses
pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat; Artinya proses
pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kelompok-kelompok potensial di masyarakat, bahkan
semua komponen masyarakat. Proses pemberdayaan tersebut juga dilakukan dengan menggunakan
pendekatan sosial budaya setempat. Proses pembelajaran tersebut juga dibarengi dengan upaya
mempengaruhi lingkungan, baik lingkungan fisik termasuk kebijakan dan peraturan perundangan.
Konsep Promosi Kesehatan
• Proses untuk meningkatkan kemampuan orang dalam mengendalikan dan meningkatkan
kesehatannya. Untuk mencapai keadaan sehat, seseorang atau kelompok harus mampu
mengidentifikasi dan menyadari aspirasi, mampu memenuhi kebutuhan dan merubah atau
mengendalikan lingkungan (Piagam Ottawwa, 1986)

• Promosi Kesehatan merupakan program yang dirancang untuk memberikan perubahan terhadap
manusia, organisasi, masyarakat dan lingkungan.

Adapun visi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :


1. Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan,
baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.
2. Pendidikan kesehatan disemua program kesehatan, baik pemberantasan penyakit menular,
sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan lainnya dan
bermuara pada kemampuan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan individu, kelompok, maupun
masyarakat.

Dalam mencapai visi dari promosi kesehatan diperlukan adanya suatu upaya yang harus dilakukan
dan lebih dikenal dengan istilah “ Misi ”. Misi promosi kesehatan merupakan upaya yang harus
dilakukan dan mempunyai keterkaitan dalam pencapaian suatu visi.

Misi Promosi Kesehatan


• Advokat (advocate)
Ditujukan kepada para pengambil keputusan atau pembuat kebijakan. Advokasi merupakan
perangkat kegiatan yang terencana yang ditujukan kepada para penentu kebijakan dalam rangka
mendukung suatu isyu kebijakan yang spesifik. Dalam hal ini kegiatan advokasi merupakan suatu
upaya untuk mempengaruhi para pembuat keputusan (decission maker) agar dapat mempercayai
dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan perlu mendapat dukungan melalui
kebijakan atau keputusan-keputusan.

• Menjembatani (mediate)
Menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor yang terkait dengan kesehatan. Kegiatan
pelaksanaan program-program kesehatan perlu adanya suatu kerjasama dengan program lain di
lingkungan kesehatan, maupun lintas sektor yang terkait. Untuk itu perlu adanya suatu jembatan dan
menjalin suatu kemitraan (partnership) dengan berbagai program dan sektor-sektor yang memiliki
kaitannya dengan kesehatan. Karenanya masalah kesehatan tidak hanya dapat diatasi oleh sektor
kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut.
Oleh karena itu promosi kesehatan memiliki peran yang penting dalam mewujudkan kerjasama atau
kemitraan ini.

• Memampukan (enable)
Agar masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan secara mandiri. Masyarakat
diberikan suatu keterampilan agar mereka mampu dan memelihara serta meningkatkan
kesehatannya secara mandiri. Adapun tujuan dari pemberian keterampilan kepada masyarakat
adalah dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga sehingga diharapkan dengan peningkatan
ekonomi keluarga, maka kemapuan dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan keluarga akan
meningkat.

Strategi Promosi Kesehatan Global (WHO, 1984)


• Advokasi (advocacy)
Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-orang di bidang
kesehatan, utamanya promosi kesehatan, sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan. Advokasi
ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan, bagaimana orang-orang yang bergerak di bidang
kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan memerhatikan
kesehatan. Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat kebijakan untuk membuat
peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan dan peraturan tersebut dapat menciptakan
lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sehat dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi, 2007).
Advokasi bergerak secara top-down (dari atas ke bawah). Melalui advokasi, promosi kesehatan
masuk ke wilayah politik. Agar pembuat kebijakan mengeluarkan peraturan yang menguntungkan
kesehatan. Advokasi adalah suatu cara yang digunakan guna mencapai suatu tujuan yang merupakan
suatu usaha sistematis dan terorganisir untuk mempengaruhi dan mendesakkan terjadinya
perubahan dalam kebijakan public secara bertahap maju. Misalnya kita memberikan promosi
kesehatan dengan sokongan dari kebijakan public dari kepala desa sehingga maksud dan tujuan dari
informasi kesehatan bias tersampaikan dengan kemudahan kepada masyarakat atau promosi
kesehatan yang kita sampaikan dapat menyokong atau pembelaan terhadap kaum lemah (miskin)

• Dukungan Sosial (social support)


Agar kegiatan promosi kesehatan mendapat dukungan dari tokoh masyarakat. Dukungan social
adalah ketersdiaan sumber daya yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis sehingga kita
dapat melaksanakan kehidupan dengan baik, dukungan social ini adalah orang lain yang berinteraksi
dengan petugas. Contoh nyata adalah dukungan sarana dan prasarana ketika kita akan melakukan
promosi kesehatan atau informasi yang memudahkan kita, atau dukungan emosional dari masyarakat
sehingga promosi yang diberikan lebih diterima.

• Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)


Di samping advokasi kesehatan, strategi lain dari promosi kesehatan adalah pemberdayaan
masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang
kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. Jadi
sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan masyarakat
dalam suatu program. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari masyarakat maka suatu program
kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki daya ungkit yang lebih besar bagi perubahan
perilaku karena dapat menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat bahwa kegiatan-kegiatan
kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita (Kapalawi, 2007). Dengan pemberdayaan masyarakat,
diharapkan masyarakat dapat berperan aktif atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Sebagai unsur
dasar dalam pemberdayaan, partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan. Pemberdayaan masyarakat
dalam bidang kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam
bidang-bidang lainnya.
Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi, 2008):
1. Adanya saling percaya antaranggota masyarakat
2. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif
3. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat
4. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat.
Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang
diberdayakan, disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses pemberdayaan.
Dengan begitu, kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses. Agar masyarakat
mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kesehatannya. Pemberdayaan masyarakat adalah
suatu bentuk upaya melibatkan peran serta dari masyarakat ketika kita melakukan promosi
kesehatan. Sebagai contoh yaitu pemanfaatan kader yang telah dilatih atau anggota masyarakat yang
mempunyai kemampuan dalam memberikan promosi kesehatan.

Strategi Promkes (Piagam Ottawa, 1986)


WHO, lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa pada tahun
1986, telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap negara untuk
menyelenggarakan promosi kesehatan. Berikut akan disediakan terjemahan dari Piagam Ottawa pada
bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. Menurut Piagam Ottawa, kegiatan-
kegiatan promosi kesehatan berarti:
1. Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy)
Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. Promosi kesehatan menempatkan
kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua level, mengarahkan
mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka dan agar mereka
menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan.
Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun dapat saling
mengisi termasuk legislasi, perhitungan fiskal, perpajakan, dan perubahan organisasi. Ini adalah
kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan, pendapatan, dan kebijakan sosial
yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. Kegiatan terpadu memberikan kontribusi untuk
memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih sehat, pelayanan jasa publik yang lebih sehat
dan lebih bersih, dan lingkungan yang lebih menyenangkan. Kebijakan promosi kesehatan
memerlukan identifikasi hambatan untuk diadopsi pada kebijakan publik di luar sektor kesehatan,
serta cara menghilangkannya. Hal ini dimaksudkan agar dapat membuat pilihan yang lebih sehat dan
lebih mudah untuk pembuat keputusan. Kebijakan Berwawasan Kesehatan artinya setiap keputusan
pimpinan selalu memandang atau mempunyai cara pandang tentang kresehatan. Contoh sederhana
ketika camat mengeluarkan ijin mendirikan bangunan maka harus ada ketentuan bahwa yang
membuat bangunan harus membangun bangunan dengan didukung sarana kesehatan seperti
jamban keluarga..
2. Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments)
Masyarakat kita kompleks dan saling berhubungan. Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-
tujuan lain. Kaitan yang tak terpisahkan antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk
sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi kesehatan. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia, bangsa,
kawasan, dan komunitas yang serupa, adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan
yang timbal-balik —untuk memelihara satu sama lain, komunitas, dan lingkungan alam kita.
Konservasi sumber daya alam di seluruh dunia harus ditekankan sebagai tanggung jawab global.
Perubahan pola hidup, pekerjaan, dan waktu luang memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan.
Pekerjaan dan waktu luang harus menjadi sumber kesehatan untuk manusia. Cara masyarakat
mengatur kerja harus dapat membantu menciptakan masyarakat yang sehat. Promosi kesehatan
menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman, yang menstimulasi, memuaskan, dan
menyenangkan.
Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang berubah pesat.—terutama di daerah
teknologi, daerah kerja, produksi energi dan urbanisasi–- sangat esensial dan harus diikuti dengan
kegiatan untuk memastikan keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat. Perlindungan alam
dan lingkungan yang dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk
promosi kesehatan apa saja. Lingkungan yang Mendukung adalah lingkungan dimana kita akan
menjadikan contoh yang baik tentang kesehatan lingkungan ketika kita akan melakukan promosi
kesehatan. Contoh adanya sekolah sehat yang mempunyai lingkungan yang sehat.
3. Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions)
Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur
prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai
kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas –-kepemilikan
mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. Pengembangan komunitas menekankan
pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan
kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk
memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta
terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan, sebagaimana penggalangan
dukungan. Gerakan Masyarakat merupakan suatu partisifasi masyarakat yang menunjang kesehatan.
Contoh gerakan Jum’at bersih.
4. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills)
Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan informasi,
pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup. Dengan demikian, hal ini
meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol kesehatan dan
lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan.
Memungkinkan masyarakat untuk belajar melalui kehidupan dalam menyiapkan diri mereka untuk
semua tingkatannya dan untuk menangani penyakit dan kecelakaan sangatlah penting. Hal ini harus
difasilitasi dalam sekolah, rumah, tempat kerja, dan semua lingkungan komunitas. Keterampilan
Individu adalah kemapuan petugas dalam menyampaikan informasi kesehatan dan kemampuan
dalam mencontohkan (mendemostrrasikan). Contoh sederhana ketika petugas memberikan promosii
kesehatan tentang pembuatan larutan gula garam, maka petugas harus mampu membuatnya dan
bias mencontohkannya.
5. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services)
Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara individu,
kelompok komunitas, profesional kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, dan pemerintah.
Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang berkontribusi untuk
pencapaian kesehatan. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat pada arah promosi
kesehatan, di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan klinis dan pengobatan.
Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang merupakan hal sensitif dan ia juga
harus menghormati kebutuhan kultural. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu dan
komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat, dan membuka saluran antara sektor kesehatan dan
komponen sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan fisik yang lebih luas.
Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian yang kuat untuk penelitian kesehatan
sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan profesional. Hal ini harus membawa kepada
perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada
kebutuhan total dari individu sebagai manusia seutuhnya. Reorientasi Pelayanan Kesehatan artinya
setiap kegiatan promosi kesehatan diorientasikan bagaimana pelayanan kesehatan yang seharusnya
dan dapat terjangkau. Contoh adalah pemanfaatan sarana kesehatan terdekat sebagai wadah
informasi dan komunikasi tentang kesehatan.
6. Bergerak ke masa depan (moving into the future)
Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan mereka sehari-
hari di mana mereka belajar, bekerja, bermain, dan mencintai. Kesehatan diciptakan dengan
memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan dan membuat kontrol
terhadap kondisi kehidupan seseorang, dan dengan memastikan bahwa masyarakat yag didiami
seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian kesehatan oleh semua anggotanya.
Merawat, kebersamaan, dan ekologi adalah isu-isu yang penting dalam mengembangkan strategi
untuk promosi kesehatan. Untuk itu, semua yang terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita
sebagai acuan utama.

PENDEKATAN PROMOSI KESEHATAN MENURUT STRATEGI GLOBAL

MAKALAH

“PENDEKATAN PROMOSI KESEHATAN”

“MENURUT STRATEGI GLOBAL”

Disusun oleh :

1. Eli Rahmawat

2. Ota Depri Ria Nitami

3. Ika Fajar Kusuma Wardani

4. Eka Yeni Purwat

5. Tria Intan Nawangsasi

6. Nur Diana Darmayant

7. Mayva Kurnia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

INSTITUT ILMU KESEHATAN

BHAKTI WIYATA
KEDIRI

2013

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Promosi kesehatan adalah salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan yang berorientasi pada
penyampaian informasi tentang kesehatan guna penanaman pengetahuan tentang kesehatan
sehingga tumbuh kesadaran untuk hidup sehat. Penerapan promosi kesehatan di lapangan
biasanya melalui pendidikan kesehatan dan penyuluhan kesehatan.

Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang


mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan sisi seni. Dilihat dari sisi seni, yakni praktsi atau aplikasi
pendidikan kesehatan adalah merupakan penunjang bagi program-program kesehatan lain. Ini
artnya bahwa setap program kesehatan yang telah ada misalnya pemberantasan penyakit
menular/tdak menular, program perbaikan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya kesehatan
ibu dan anak, program pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang serta
didukung oleh adanya promosi kesehatan.

Promosi kesehatan bukanlah hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di dalamnya
terdapat usaha untuk dapat memfasilitasi dalam rangka perubahan perilaku masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana lingkup pendekatan promkes menurut strategi global ?

2. Apa yang dimaksud pendekatan perubahan perilaku ?

3. Apa yang dimaksud pendekatan edukasi ?

4. Apa yang dimaksud pendekatan yang berpusat pada klien ?

5. Apa yang dimaksud pendekatan perubahan sosial ?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui lingkup pendekatan promkes menurut strategi global


2. Untuk mengetahui pendekatan perubahan perilaku

3. Untuk mengetahui pendekatan edukasi

4. Untuk mengetahui pendekatan yang berpusat pada klien

5. Untuk mengetahui pendekatan perubahan sosial

D. MANFAAT

1. Agar mahasiswa lebih terampil dalam melakukan promosi kesehatan dalam setap program
kesehatan yang diselenggarakan

2. Bagi para pembaca, sebagai bahan bacaan dan referensi


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. PENDEKATAN PROMKES MENURUT STRATEGI GLOBAL

Strategi global promosi kesehatan diperkenalkan oleh World Health Organizaton (WHO) pada
tahun 1984, di mana ada tga strategi pokok untuk mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan
yaitu Advokasi, Dukungan Sosial (Social Support), dan Pemberdayaan Masyarakat(Empowerment).

1. Advokasi

Melakukan pendekatan atau lobi (lobbying) dengan para pembuat keputusan agar mereka
menerima commited dan akhirnya mereka bersedia mengeluarkan kebijakan atau keputusan-
keputusan untuk membantu dan mendukung program yang akan dilaksanakan. Kegiatan ini
disebut advokasi. Dengan kata lain, advokasi dapat diartkan sebagai upaya pendekatan
(approaches) terhadap orang lain yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan
suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan. Dalam pendidikan kesehatan para pembuat
keputusan baik baik di tngkat pusat maupun daerah disebut sasaran tersier. Bentuk kegiatan
advokasi bias dilakukan secara formal dan informal.

Bentuk kegiatan advokasi antara lain adalah sebagai berikut :

a. Lobi politk (political lobbying)

Lobi adalah berbincang-bincang secara informal dengan para pejabat untuk menginformasikan dan
membahas masalah dan program kesehatan yang akan dilaksanakan. Langkah-langkah yang akan
dilaksanakan dimulai dari penyampaian masalah kesehatan yang ada, dampak dari masalah
kesehatan, kemudian solusi untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut. Pada saat lobi harus
disertai data yang akurat (evidence based) tentang masalah kesehatan tersebut.

b. Seminar dan atau persentasi

Seminar atau persentasi menyajikan masalah kesehatan di hadapan para pembuat keputusan baik
lintas program maupun lintas sektoral. Penyajian masalah kesehatan disajikan secara lengkap
dengan data dan ilustrasi yang menarik, serta rencana program dan pemecahannya. Kemudian
masalah tersebut dibahas bersama-sama dan pada akhirnya akan diperoleh komitmen dan
dukungan terhadap program yang akan dilaksanakan.

c. Media

Advokasi media adalah melakukan kegiatan advokasi dengan menggunakan media, khusunya
media massa (media cetak dan media elektronik). Masalah kesehatan disajikan dalam bentuk
tulisan dan gambar, berita, diskusi interaksif, dan sebagainya. Media massa mempunyai
kemampuan yang kuat untuk membentuk opini publik dan dapat mempengaruhi bahkan
merupakan tekanan (pressure) terhadap para penentu kebijakan dan para pengambil keputusan.
d. Perkumpulan (asosiasi) peminat

Asosiasi atau perkumpulan orang-orang yang mempunyai minat atau keterkaitan terhadap
masalah tertentu, termasuk juga perkumpulan profesi. Misalnya perkumpulan masyarakat peduli
AIDS, kemudian kelompok ini melakukan kegeiatan-kegiatan untuk menanggulangi AIDS. Kegiatan
tersebut dapat memberikan dampak terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil para birokrat di
bidang kesehatan dan para pejabat lain untuk peduli HIV/AIDS.

Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan para penentu kebijakan atau para pembuat
keputusan sehingga mereka memberikan dukungan, baik kebijakan, fasilitas, maupun dana
terhadap program yang ditawarkan. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang dapat memperkuat
argumentasi pada saat melakukan advokasi, yaitu sebagai berikut :

a. Meyakinkan (credible)

Program yang ditawarkan harus meyakinkan para penentu kebijakan dan pembuat keputusan.
Oleh karena itu, harus didukung oleh data dari sumber yang dapat dipercaya. Dengan kata lain
program yang diajukan harus didasari oleh permasalahan yang utama dan factual artnya masalah
tersebut memang ditemukan di lapangan dan pentng untuk segera diatasi. Kalau tdak diatasi
akan membawa dampak yang lebih besar dari masyarakat.

b. Layak (feasible)

Program yang diajukan harus tersebut secara teknis, politk, dan ekonomi harus memungkinkan
atau layak. Layak secara teknis artnya program tersebut dapat dilaksanakan dengan sarana dan
prasarana yang tersedia. Layak secara politk artnya program yang diajukan tdak akan membawa
dampak politk pada masyarakat. Layak secara ekonomi artnya program tersebut didukung oleh
dana yang cukup, dan apabila program tersebut merupakan program layanan, maka masyarakat
mampu membayarnya

c. Relevan (relevant)

Program yang diajukan tersebut minimal harus mencakup dua kriteria yaitu memenuhi kebutuhan
masyarakat dan benar-benar dapat memecahkan masalah yang dirasakan masyarakat. Oleh sebab
itu semua program harus ditujukan untuk menyejahterakan masyarakat dengan cara membantu
pemecahan masalah masyarakat dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

d. Pentng (urgent)

Program yang diajukan tersebut harus mempunyai urgensi yang tnggi dan harus segera
dilaksanakan, kalau tdak akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi. Oleh sebab itu,
program yang diajukan adalah program yang paling pentng di antara program-program yang lain.

e. Prioritas tnggi (high priority)


Program mempunyai prioritas tnggi apabila feasible baik secara teknis, politk maupun ekonomi,
relevan dengan kebutuhan masyarakat dan mampu memecahkan masalah kesehatan masyarakat

2. Dukungan Sosial (Social support)

Dukungan sosial ialah menjalin kemitraan untuk pembentukan opini publik dengan berbagai
kelompok opini yang ada di masyarakat sepert tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga swadaya
masyarakat, dunia usaha/swasta media massa, organisasi profesi, pemerintah, dll. Bina suasana
dilakukan untuk sasaran sekunder atau petugas pelaksana di berbagai tngkat administrasi ( dari
pusat hingga desa).

Strategi dukungan sosial adalah suatu kegiatan untuk mencari dukungan social melalui tokoh
masyarakat (toma), baik formal maupun informal. Kegiatan promkesmemperoleh dukungan sosial
atau bisna suasana dari TOMA atau TOGA sehingga dapat menjembatani antara pengelola
promkes dengan masyarakat. Kegiatan mencari dukungan social melalui TOMA pada dasarnya
adalah menyosialisasikan program-program kesehatan agar masyarakat mau menerima dan
berpartsipasi terhadap program kesehatan.

Oleh sebab itu, strategi ini dapat dikatakan sebagai upaya bina suasana atau membina suasana
yang kondusif terhadap kesehatan yaitu upaya untuk membuat suasana atau iklim yang kondusif
atau menunjang pembangunan kesehatan sehingga masyarakat terdorong untuk melakukan
perilaku hidup bersih dan sehat. Beberapa bentuk kegiatan tersebut adalah pelathan-
pelathan para toma, seminar, lokakarya,pendidikan/penyuluhan, sarasehan, pertemuan berkala,
kunjungan lapangan, study banding dan sebagainya. Sasaran pada dukungan social adalah sasaran
sekunder, misalnya tokoh masyarakat dan tokoh keluarga.

3. Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)

Pemberdayaan masyarakat adalah mengembangkan kemampuan masyarakat agar dapat berdiri


sendiri, serta memiliki keterampilan untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan mereka sendiri

Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat langsung.
Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (visi promosi kesehatan). Bentuk kegiatan
pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan, antara lain: penyuluhan
kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam bentuk misalnya: koperasi,
pelathan-pelathan untuk kemampuan peningkatan pendapatan keluarga (income generatng
skill). Sasaran pemberdayaan masyarakat adalah sasaran primer.

Dengan meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak terhadap kemampuan


dalam pemeliharan kesehatan mereka, misalnya: terbentuknya dana sehat, terbentuknya pos obat
desa, berdirinya polindes, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan semacam ini di masyarakat sering
disebut "gerakan masyarakat" untuk kesehatan.
B. PENDEKATAN EDUKASI

Pendidikan adalah upaya persuasive atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau
melakukan tndakan-tndakan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Inforamsi
tentang kesehatan disajikan, kemudian masyarakat dibantu untuk menggali nilai dan sikap
sehingga mereka dapat membuat keputusan sendiri untuk mengadopsi praktk kesehatan yang
baru sesuai dengan informasi kesehatan yang diberikan. Orang yang mendukung pendekatan ini
akan member art tnggi proses pendidikan dan akan menghargai individu untuk memilih perilaku
sendiri.

Tujuannya adalah memberikan informasi dan memastkan pengerahuan dan pemahaman


masyarakat tentang masalah kesehatan, serta menetapkan keputusan untuk mengubah perilaku
atas dasar informasi kesehatan yang diberikan, misalnya : pekerja seks komersial diberi
penyuluhan tentang kondom dalam mencegah HIV/AIDS, ibu hamil diberi penyuluhan tentang cara
mengolah makanan yang baik dan benar, dan sebagainya.

C. PENDEKATAN YANG BERPUSAT PADA KLIEN

Pendekatan ini berdasar pada hubungan seimbang antara profesi kesehatan dengan klien. Profesi
kesehatan memberi bimbingan, dukungan dan dorongan agar klien dapat membuat
pilihan. Tujuannya adalah bekerjasama dengan klien agar dapat membantu mereka
mengidentfikasi apa yang ingin mereka ketahui dan lakukan, memilih dan membuat keputusan
sesuai dengan kepentngan dan keinginan mereka. Klien dianggap sejajar, yakni mempunyai
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan berkontribusi serta mempunyai hak mutlak untuk
mengontrol tujuan kesehatan mereka sendiri. Sebagai contoh : isu ant-merokok, dengan adanya
isu tersebut masyarakat diharapkan dapat mengidentfikasi apa yang ingin mereka ketahui dan
kerjakan berkaitan dengan isu tersebut, dan sebagainya.

Peran promotor kesehatan bertndak sebagai fasilitator untuk membantu masyarakat


mengidentfikasi kebutuhan-kebutuhan mereka agar memperoleh pengetahuan dan keterampilan
sesuai dengan masalah kesehatan yang mereka temui. Pemberdayaan diri masyarakat/klien
merupakan sentral dari tujuan pendekatan berpusat pada klien.

D. PENDEKATAN PERUBAHAN SOSIAL

Pendekatan ini memberikan nilai pentng bagi hak demokrasi untuk mengubah masyarakat agar
mempunyai komitmen pada kesehatan. Orang-orang yang menerapkan pendekatan ini dapat
melakukan aksi politk atau sosial untuk mengubah lingkungan fisik dan sosial yang mendukung
kesehatan.

Adapun tujuannya adalah melakukan perubahan pada lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi,
supaya mendukung lingkungan yang dapat meningkatkan derajat kesehatan. Lingkungan fisik yang
dimaksud misalnya air, tanah, dan udara, apabila salah satu dari lingkungan fisik tersebut tercemar
maka dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan. Sebagai contoh : ibu hamil minum air yang
berasal dari tanah yang tercemar oleh limbah pabrik dalam waktu lama, maka akan menyebabkan
gangguan kehamilan dan gangguan janin; untuk mencegah supaya air tanah tdak tercemar limbah
pabrik banyak aksi social yang dilakukan untuk mendukung supaya air tanah tdak tercemar, dan
sebagainya.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Promosi kesehatan adalah salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan yang berorientasi pada
penyampaian informasi tentang kesehatan guna penanaman pengetahuan tentang kesehatan
sehingga tumbuh kesadaran untuk hidup sehat.

Strategi global promosi kesehatan diperkenalkan oleh World Health Organizaton (WHO) pada
tahun 1984, di mana ada tga strategi pokok untuk mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan
yaitu Advokasi, Dukungan Sosial , dan Gerakan Masyarakat. Terdapat lima pendekatan bagi
promosi kesehatan yang menunjukkan nilai yang melekat pada masing-masing pendekatan
tersebut, yaitu pendekatan perubahan perilaku, pendekatan edukasi, pendekatan yang berpusat
pada klien, dan pendekatan perubahan sosial.

B. SARAN

1. Kepada mahasiswa kesehatan khususnya bidan agar lebih terampil dalam melakukan
pendekatan promosi kesehatan dalam setap program kesehatan yang diselenggarakan

2. Kepada pembaca agar memahami bagaimana lingkup dari pendekatan promosi kesehatan,
dan dapat digunakan sebagai referensi
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, lia. 2010 .Promosi Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika

Novita, nesi. 2011.Promosi Kesehatan dalam pelayanan kebidanan.

Jakarta: Salemba Medika

http:// midwife-fateema-pendekatan-promkes-sglobal.htm

(diakses tanggal 27.12.2013 jam 15.20)