Anda di halaman 1dari 7

A.

Tujuan

Menentukan kadar kreatinin dalam darah dan menginterpretasikan hasil


serta menghubungkan dengan keadaan patologi klinik.

B. Prinsip Percobaan

Kreatinin dengan Asam pikrat menghasilkan komplek kreatinin pikrat.

C. Dasar Teori
1. Kreatinin
Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir
metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir
konstan dan diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin
diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi,
konentrasinya relative sama dalam plasma hari ke hari, kadar yang lebih
besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal.
(Corwin J.E, 2009).
Kadar kreatinin berbeda setiap orang, umumnya pada orang yang
berotot kekar memiliki kadar kreatinin yang lebih tinggi daripada yang
tidak berotot. Hal ini juga yang memungknkan perbedaan nilai normal
kreatinin pada wanita dan laki-laki. Nilai normal kadar kreatinin pada
wanita adalah 0,5 – 0,9 mg/dL. Sedangkan pada laki-laki adalah 0,6 – 1,1
mg/dL.
Peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin serum mengindikasikan
adanya penurunan fungsi ginjal sebesar 50 %, demikian juga peningkatan
kadar kreatinin tiga kali lipat mengisyaratkan penurunan fungsi ginjal
sebesar 75 %. ( Soeparman dkk, 2001 ).

2. Fungsi Kreatinin
Kreatinin dalam darah berfungsi untuk memonitor fungsi ginjal.
Selain itu, kreatinin juga sering digunakan sebagai monitor pasien dengan
konsumsi obat – obatan yang bersifat racun terhadap ginjal seperti
antibiotik golongan aminoglikosida.
3. Metabolisme Kreatinin
Kreatinin dalam urin berasal dari filtrasi glomerulus dan sekresi
oleh tubulus proksimal ginjal. Berat molekulnya kecil sehingga dapat
secara bebas masuk dalam filtrat glomerulus. Kreatinin yang diekskresi
dalam urin terutama berasal dari metabolisme kreatinin dalam otot
sehingga jumlah kreatinin dalam urin mencerminkan massa otot tubuh dan
relatif stabil pada individu sehat (Levey, 2003; Remer et al. 2002; Henry,
2001).
Kreatin terutama ditemukan di jaringan otot (sampai dengan 94%).
Kreatin dari otot diambil dari darah karena otot sendiri tidak mampu
mensintesis kreatin. Kreatin darah berasal dari makanan dan biosintesis
yang melibatkan berbagai organ terutama hati. Proses awal biosintesis
kreatin berlangsung di ginjal yang melibatkan asam amino arginin dan
glisin. Menurut salah satu penelitian in vitro, kreatin secara hampir
konstan akan diubah menjadi kreatinin dalam jumlah 1,1% per hari.
Kreatinin yang terbentuk ini kemudian akan berdifusi keluar sel otot untuk
kemudian diekskresi dalam urin. Pembentukan kreatinin dari kreatin
berlangsung secara konstan dan tidak ada mekanisme reuptake oleh tubuh,
sehingga sebagian besar kreatinin yang terbentuk dari otot diekskresi lewat
ginjal sehingga ekskresi kreatinin dapat digunakan untuk menggambarkan
filtrasi glomerulus walaupun tidak 100% sama dengan ekskresi inulin yang
merupakan baku emas pemeriksaan laju filtrasi glomerulus. Meskipun
demikian, sebagian (16%) dari kreatinin yang terbentuk dalam otot akan
mengalami degradasi dan diubah kembali menjadi kreatin. Sebagian
kreatinin juga dibuang lewat jalur intestinal dan mengalami degradasi
lebih lanjut oleh kreatininase bakteri usus. Kreatininase bakteri akan
mengubah kreatinin menjadi kreatin yang kemudian akan masuk kembali
ke darah (enteric cycling). Produk degradasi kreatinin lainnya ialah 1-
metilhidantoin, sarkosin, urea, metilamin, glioksilat, glikolat, dan
metilguanidin.
Kreatinin dalam makanan

Diserap usus Kreati


n

Sintesis krestinin oleh hepar

KREATININ

Ekskresi oleh ginjal

KREATININ URIN

Gambar. Metabolisme kreatin dan kreatinin


dalam tubuh (Modifikasi Wyss, 2000)

Metabolisme kreatinin dalam tubuh ini menyebabkan ekskresi


kreatinin tidak benar-benar konstan dan mencerminkan filtrasi glomerulus,
walaupun pada orang sehat tanpa gangguan fungsi ginjal, besarnya
degradasi dan ekskresi ekstrarenal kreatinin ini minimal dan dapat
diabaikan (Wyss, 2000).
4. Nilai Rujukan
 Dewasa
Laki-laki : 0,6-1,3 mg/dl.
Perempuan : 0,5-1,0 mg/dl. (Wanita sedikit lebih rendah karena
massa otot yang lebih rendah daripada pria).
 Anak
Bayi baru lahir : 0,8-1,4 mg/dl.
Bayi : 0,7-1,4 mg/dl.
Anak (2-6 tahun) : 0,3-0,6 mg/dl.
Anak yang lebih tua : 0,4-1,2 mg/dl. Kadar agak meningkat seiring
dengan bertambahnya usia, akibat pertambahan massa otot.
 Lansia
Kadarnya mungkin berkurang akibat penurunan massa otot dan
penurunan produksi kreatinin. (Franscesco, 2008).

5. Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium


 Obat tertentu (lihat pengaruh obat) yang dapat meningkatkan kadar
kreatinin serum.
 Kehamilan
 Aktivitas fisik yang berlebihan
 Konsumsi daging merah dalam jumlah besar dapat mempengaruhi
temuan laboratorium. (Guyton, 2008)

6. Gejala
Gejala Kreatinin Tinggi Beberapa orang yang memiliki penyakit
ginjal sehingga kadar kreatinin darah menjadi tinggi, mereka tidak merasa
gejala apapun. Namun beberapa orang dapat mengelami gejala kreatinin
tinggi sebagai berikut:
 Rasa lelah atau lemah
 Dehidrasi
 Kebingungan
 Sesak napas
7. Pemeriksaan Laboratorium
Kreatinin dalam darah dapat diketahui dengan cara melakukan
pemeriksaan darah. Ada beberapa tes yang khusus untuk mengukur
kreatinin untuk membantu menentukan fungsi ginjal.
 Kreatinin serum
Kreatinin adalah produk limbah dalam darah yang berasal dari
aktivitas otot. Produk limbah ini biasanya dibuang dari darah melalui
ginjal, tapi ketika fungsi ginjal melambat, tingkat kreatinin
akanmeningkat. Biasanya hasil pemeriksaan serum kreatinin digunakan
untuk menghitung GFR.
Jumlah kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih
bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat
metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek.
Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera
fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan
masif pada otot.
 Kreatinin Klirens
(Ccr atau CrCl) untuk mengukur berapa banyak kreatinin yang
dibersihkan oleh tubuh, atau seberapa baik fungsi penyaringan filter.
Kreatinin Klirens adalah kombinasi dari pemeriksaan urin dan darah.
Nilai kreatinin klirens normal untuk pria adalah antara 97-137 mililiter
per menit, dan nilai normal pada wanita adalah 88-128 mililiter per
menit. (Guyton, 2008)

8. Masalah Klinis

Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Oleh karena


itu kreatinin dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator khusus pada
penyakit ginjal dibandingkan uji dengan kadar nitrogen urea darah (BUN).
Sedikit peningkatan kadar BUN dapat menandakan terjadinya hipovolemia
(kekurangan volume cairan); namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl dapat
menjadi indikasi kerusakan ginjal. Kreatinin serum sangat berguna untuk
mengevaluasi fungsi glomerulus.( Cairns, 2008)

Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan kadar kreatinin


adalah : gagal ginjal akut dan kronis, nekrosis tubular akut,
glomerulonefritis, nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia, pre-
eklampsia, hipertensi esensial, dehidrasi, penurunan aliran darah ke ginjal
(syok berkepanjangan, gagal jantung kongestif), rhabdomiolisis, lupus
nefritis, kanker (usus, kandung kemih, testis, uterus, prostat), leukemia,
penyakit Hodgkin, diet tinggi protein (mis. daging sapi [kadar tinggi],
unggas, dan ikan [efek minimal]).

Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin adalah :


Amfoterisin B, sefalosporin (sefazolin, sefalotin), aminoglikosid
(gentamisin), kanamisin, metisilin, simetidin, asam askorbat, obat
kemoterapi sisplatin, trimetoprim, barbiturat, litium karbonat, mitramisin,
metildopa, triamteren.

Penurunan kadar kreatinin dapat dijumpai pada : distrofi otot (tahap


akhir), myasthenia gravis.

Untuk menilai fungsi ginjal, permintaan pemeriksaan kreatinin dan


BUN hampir selalu disatukan (dengan darah yang sama). Kadar kreatinin
dan BUN sering diperbandingkan. Rasio BUN/kreatinin biasanya berada
pada kisaran 12-20. Jika kadar BUN meningkat dan kreatinin serum tetap
normal, kemungkinan terjadi uremia non-renal (prarenal); dan jika
keduanya meningkat, dicurigai terjadi kerusakan ginjal (peningkatan BUN
lebih pesat daripada kreatinin). Pada dialisis atau transplantasi ginjal yang
berhasil, urea turun lebih cepat daripada kreatinin. Pada gangguan ginjal
jangka panjang yang parah, kadar urea terus meningkat, sedangkan kadar
kreatinin cenderung mendatar, mungkin akibat akskresi melalui saluran
cerna.( Cairns 2008).

Rasio BUN/kreatinin rendah (<12)>20) dengan kreatinin normal


dijumpai pada uremia prarenal, diet tinggi protein, perdarahan saluran
cerna, keadaan katabolik. Rasio BUN/kreatinin tinggi (>20) dengan
kreatinin tinggi dijumpai pada azotemia prarenal dengan penyakit ginjal,
gagal ginjal, azotemia pascarenal.

Cairns, D., 2008, Essential of Pharmaceutical Chemistry, Third edition, London:


Pharmaceutical Press; Pages 177-180
Corwin, J.E., 2009, Buku Saku Patofisiologi, Terjemahan Nike Budhi S, Edisi III
Cetakan I, EGC, Jakarta; hlm 647-660
Franscesco, S., Veronique, W.S., Tilamn, D., and Beatrice, D.L., 2008, Restoring
glutathione as a therapeutic strategy in chronic kidney disease, Nephrol
Dial Transplant, 19, 1951-55
Guyton, A.N., Hall, J.E., 2008, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11, EGC,
Jakarta, 79-95
Henry, J.B. 2001. Clinical Diagnosis and Management by Laboratory Methods.
20th edition. WB Saunders Company. Philadelphia.
Levey, A.S., Coresh, J., Balk, E., Kausz, A., Levin, A., Steffes, M.W., et al. 2003.
National Kidney Foundation Practice Guidelines for Chronic Kidney
Disease: Evaluation, Classification, and Stratification. Ann Intern Med.
Remer, T., Neubert, A., Maser-Gluth, C. 2002. Anthropometry-based reference
values for 24-h urinary creatinine excretion during growth and their use in
endocrine and nutritional research. American Journal of Clinical Nutrition.
Wyss, M. and Kaddurah-daouk, R. 2000. Creatine and creatinine metabolism.
Physiological reviews.