Anda di halaman 1dari 4

TUGAS FIQH IQTISHAD

KAIDAH FIQH & KAIDAH USHUL

Nama: Jini Nurul Jannati


NIM : 1701412
Kelas : IEKI 3B

Kaidah Fikih:
ُ‫ك جُلُّه‬
ُ ‫ك ُكلُّهُ الَ يُ ْت َر‬
ُ ‫َما الَ يُ ْد َر‬

“Jika kita tidak mampu mengerjakan sebagian, tetap jangan tinggalkan


seluruhnya.”

Dalil dari kaidah di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

َ َّ ‫فَاتَّقُوا‬
‫َّللا َما ا ْستَطَ ْعتُ ْم‬

“Bertakwalah pada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16).

Dalam hadits shahihain disebutkan,


‫َوإِ َذا أَ َمرْ تُ ُك ْم ِبأ َ ْم ٍر فَأْتُوا ِم ْنهُ َما ا ْستَطَ ْعتُ ْم‬
“Jika kalian diperintah suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”
(HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337)

Seorang ulama pernah berkata, “Jika kalian diperintahkan untuk melakukan


sesuatu amalan (sunnah), maka lakukankah meskipun cuma sekali, supaya kalian
tercatat ke dalam golongan orang-orang yang pernah melakukannya”

Namun yang jadi cacatan, bahwa kaidah “Apa yang tidak bisa dikerjakan
semuanya, jangan ditinggal semuanya”, ini hanya berlaku untuk melaksanakan
kebaikan dan ketaqwaan, bukan untuk melaksanakan maksiat ataupun
kemungkaran. 1

Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri berkata perintah itu dibagi tiga:
1
Khalifah Muhammad Ali, Jangan ditinggal semua kalau tidak bisa diambil semua, diakses dari
https://khalifahma.wordpress.com/2013/03/10/jangan-ditinggal-semua-kalau-tidak-bisa-diambil-
semua/, pada tanggal 19 september 2018
1. Perintah yang jika tidak mampu dikerjakan seluruhnya, maka kerjakan
sebagian yang mampu dilakukan. Misalnya, jika mampu mengeluarkan zakat
yang wajib seluruhnya saat ini, maka dikeluarkan sebagiannya dahulu.
Misalnya pula, jika tidak mampu shalat sambal berdiri, maka rukun lainnya
tetap dilakukan, tanpa menggugurkan seluruhnya. Untuk yang pertama ini
masuk dalam kaedah, jika tidak bisa mengerjakan seluruhnya, jangan
ditinggalkan sebagiannya.
2. Ada perintah yang jika tidak mampu dilakukan sebagiannya, maka gugur
seluruhnya. Misalnya, jika seseorang tidak mampu berpuasa sehari penuh,
maka gugur kewajiban puasa satu hari penuh. Walaupun ketika itu ia mampu
mengerjakan sebagian hari puasa. Misalnya pula, jika seseorang punya
kewajiban kafarah untuk memerdekakan seorang budak, lalu ia hanya mampu
tunaikan sebagiannya, maka jadi gugur seluruhnya. Yang seperti ini para
ulama sebut dalam kaedah,

ُ‫ضهُ َك ُسقُوْ ِط ُكلُه‬


ُ ‫ار ُكلُهُ َو ُسقُوْ طُ بَ ْع‬ ْ ‫ضهُ َك‬
ِ ‫اختِ َي‬ ْ َ‫َما َال يَتَبَ َعضُ ف‬
ُ ‫اختِيَا ُر بَ ْع‬

“Sesuatu yang tidak bisa terpisah-pisah, maka memilih sebagiannya, sama


saja dengan memilih seluruhnya, juga menggugurkan sebagiannya sama saja
dengan menggugurkan seluruhnya.”

Kalau bagian pertama seperti yang dicontohkan dalam pembayaran zakat, itu
satu kesatuan yang bisa dipisah-pisah. Namun untuk bagian kedua
ini tidak bisa dipisah satu dan lainnya.

3. Ada perintah yang tidak dibingungkan bisa masuk pada bagian pertama
ataukah bagian kedua. Misalnya mandi dan wudhu. Untuk mandi, menurut
pendapat terkuat, antara bagian satu dan lainnya boleh terpisah karena tidak
ada kewajiban muwalah (berturut-turut). Sedangkan untuk wudhu, perlu
ditinjau ulang. 2

2
Nahi Munkar, Jika mampu sebagian, jangan tinggalkan seluruhnya, diakses dari
https://rumaysho.com/10072-jika-mampu-melakukan-sebagian-jangan-tinggalkan-seluruhnya.html,
pada tanggal 19 september 2018
Contoh Penerapan :

Kaidah Fiqih ini bisa diterapkan di dalam penggunaan sistem ekonomi islam,
bank-bank syari’ah di Indonesia memang masih belum sempurna dalam
mengambil kebijakan, sistem didalamnya masih belum sepenuhnya sesuai syari’at
islam, namun jika tidak bisa mengambil seluruhnya bukan berarti harus
meninggalkan seluruhnya, bank-bank syari’ah ini harus di dukung agar terus maju,
walaupun ia baru mengambil sebagiannya dari sistem ekonomi dalam islam yang
sebenarnya.

Kaidah Ushul:
ٍّ‫الٍَّقٍٍَّّنٍٍّّلٍٍٍَّّّزٍّوٍّلٍٍّّبٍّالشٍّك‬
“Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keraguan.”

Kaidah tentang keyakinan dan keraguan berdasarkan kepada beberapa buah hadits.
Antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah yang
menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. Bersabda :

‫ لٍّ َخرجنٍّ منٍّ المسجدٍّ حتى َسمعٍّ صو ًتا أوَجدٍّ رَحً ا‬,ٍّ‫اذاوجدأحدكمٍّ فى بطنه شَ ًئا فأشكلٍّ علَهٍّ أخرجٍّ منهٍّ شَئٍّ أمٍّ ل‬

Artinya: “Apabila salah seorang dari kamu mendapatkan sesuatu di dalam


perutnya, lalu timbul keraguan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak,
maka janganlah keluar dari mesjid, sehingga ia mendengar suaranya atau
mencium baunya.”3

Hadits di atas menunjukkan adanya keraguan bagi yang sedang sahalat atau
menunggu (duduk di masjid) untuk melaksanakan shalat berjamaah. Secara
logika, orang tersebut dalam keadaan suci (sudah berwudhu). Dan orang tersebut
ragu-ragu apakah ia telah mengeluarkan angin atau tidak, maka ia harus dianggap
masih dalam keadaan suci. Karena keadaan inilah yang sudah meyakinkan tentang
kesuciannya sejak semula, sedang keraguanya baru timbul kemudian. Oleh karena
itu, orang tersebut tidak perlu berwudhu lagi sebelum mendapatkan bukti berupa
bunyi atau baunya.
3
Ammi Nur Baits,Solusi Ragu Jumlah Rakaat Shalat, diakses dari
https://konsultasisyariah.com/28366-solusi-ragu-jumlah-rakaat-shalat-ada-kuis-berhadiah.html,
pada tanggal 19 september 2018
Dan sabda Rasulullah di lain tempat berbunyi:

‫ك َو ْشيَ ْب ِن‬
َّ ََّّ ‫ح اش‬ ْ َ‫صلَّى أَثَالَ ثًا أَ ْم أَرْ بَ َعةً فَ ْلي‬ َ ‫ك أَ َح ُد ُك ْم فِ ْى‬
َ ‫صالَ تِ ِه فَلَ ْم يَ ْد ِر َك ْم‬ َّ ‫عَل َى َما ا ْستَ ْيقَنَ إِ َذا َش‬
ِ ‫ط َر‬

Artinya: “Apabila salah seorang kamu meragukan shalatnya, lalu ia tidak


mengetahui berapa raka’at yang telah dikerjakan, tiga atau empat, maka
hendaklah dilempar yag meragukan itu dan dibinalah menurut apa yang
diyakinkan.” (HR. Muslim) 4

Hadits tersebut secara tidak langsung memberitahukan bahwa dua buah hitungan
yang diragukan mana yang benar, agar ditetapkan hitungan yang terkecillah yang
memberikan keyakinan. Sebab dalam menghitung sebelum sampai ke hitungan
yang besar pastilah melalui hitungan yang lebih kecil terlebih dahulu, karena yang
kecil (sedikit) itulah yang sudah meyakinkan. Dalil ‘aqli (akal) bagi kaidah
keyakinan dan keraguan adalah bahwa keyakinan lebih kuat dari pada keraguan,
karena dalam keyakinan terdapat hukum qath’i yang meyakinkan. Atas dasar
petimbangan itulah bisa dikatakan bahwa keyakinan tidak boleh dirusak oleh
keraguan. 5

Contoh penerapan nya:


Seseorang yang merasa ragu dengan kesuciannya ketika ia hendak shalat, dan ia
yakin bahwa ia telah batal pada wudhu nya, maka ia masih belum punya wudhu
atau tidak suci.

4
Jamaludin, Keyakinan tidak hilang karena keraguan, diakses dari
https://jamaludinassalam.wordpress.com/2012/07/01/makalah-ushul-fiqh-keyakinan-tidak-hilang-
karena-keraguan/, pada tanggal 19 september 2018
5
Abdullah Khairul Azam, Ushul Fikih, diakses dari https://www.scribd.com/doc/193549808/Usul-
Fikih-Mt/, pada tanggal 10 oktober 2018