Anda di halaman 1dari 7

 10 nilai kedaton sultan ternate

1. Istana Kesultanan Ternate

Benda-benda cagar budaya yang memperlihatkan bukti kejayaan Kesultanan Ternate,


terdiri dari berbagai monumen baik artefak mau pun bangunan yang tersebar di seluruh bagian
Pulau Ternate. Peninggalan-peninggalan itu antara lain istana (kedaton) yang didirikan oleh
Sultan Mohammad Ali tahun 1823, runtuhan Mesjid Raya yang didirikan oleh Sultan
Mohammad Zain abad XVII M.Kedaton SULTAN TERNATE dibangun pada tanggal 24
November 1813 oleh Sultan Muhammad Ali diatas bukit Limau Santosa dengan luas areal
44,560 m2. Berbentuk segi delapan dengan dua buah tangga terutama pada sisi kiri
dan kanan depannya.Bangunan ini menggambarkan seekor singa yang sedang
duduk.
2. Benteng
Selain itu terdapat pula perbentengan yang mengelilingi istana kompleks makam dan
berbagai benda keraton yang kini dihimpun dalam istana, yang telah dialihkan fungsinya sebagai
keraton.
Menurut Prof. DR. Hasan M. Ambary, setidaknya di Pulau Ternate terdapat dua kompleks para
raja Ternate, pertama di kaki bukit Foramadyahe dan yang kedua terletak di dekat kompeks
Mesjid Agung Ternate. Yang dimakamkan di Foramadyahe antara lain Sultan Khairun dan
Sultan Baabullah, sedangkan yang dimakamkan di dekat Mesjid Agung adalah para Sultan (dan
eluarganya) yang memerintah antara abad XVIII-XIX.
Makam-makam yang menarik perhatian adalah makam para sultan yang terdapat di sekitar
Mesjid Agung. Makam tertua di sini adalah makam Sultan Sirajul Mulk Amiruddin Iskandar
Qaulin yang wafat pada Sabtu 10 Syawal 1213 H atau 13 Maret 1799 M, seperti tertera pada
kaligrafi jirat/nisannya.
3. Seni kaligrafi
Seni kaligrafi di makam-makam Mesjid Agung ini tersusun dengan indahnya, bergaya tulis
Naskhi, dengan ragam hias floralistik khas Ternate yang memiliki persamaan gaya seni
Polynesia. Makam-makam lainnya bernama Sultan Maulana Tajul Muqayyam (1811) Sultan
Maulana Tajul Mulk Amiruddin Qaulan (1850), Sultan Ayanhar Putra (1896), dan Sultan
Muhammad Uthman (1943).

4. Cagar budaya
Museum Istana Kesultanan Ternate sesuai dengan pupusnya kesultanan seiring dengan
Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, bukan lagi sebagai pusat kendali politik atas
wilayah-wilayah yang pernah dibawahinya di masa lalu, sekarang berfungsi sebagai pusat
pelestarian benda cagar budaya bekas Kesultanan Ternate.Istana dengan bangunan gaya Eropa
Abad XIX ini mengahadap ke arah laut, berada satu kompleks dengan Mesjid Kesultanan yang
didirikan oleh Sultan Hamzah, Sultan Ternate ke-9, Istana Kesultanan Ternate terletak pada
dataran pantai di Kampung Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Kabupaten Maluku
Utara.Istana kekar yang dikelilingi perbentengan ini, berubah fungsi menjadi Museum
Kesultanan Ternate, yang menyimpan, merawat dan memamerkan benda-benda pusaka milik
kesultanan seperti senjata, pakaian besi, pakaian kerajaan, perhiasan, mahkota, topi-topi perang
(helmet), alat-alat rumah tangga, naskah-naskah (Al Quran kuna, maklumat, surat-surat
perjanjian) dan sebagainya. Senjata-senjata yang dipamerkan antara lain senapan, meriam kecil,
peluru-peluru bulat, tombak, parang dan perisai. Mengenai senjata tradisional (tombak dan
pedang/keris/parang) terdapat catatan penting yang dikemukakan oleh Cornelis Speelman (1670)
dan J.H. Toblas (1857) di mana disebutkan mengenai ekspor senjata (tombak dan pedang) dari
Kerajaan Tobungku (Sulawesi Tenggara) ke Ternate dalam jumlah besar, terutama sebagai upeti,
mengingat pantai timur Sulawesi pada abad XVI-XVII menjadi wilayah kekuasaan Ternate.
Sebagai kesultanan, Ternate tentu memiliki tingkat kemakmuran tinggi, setidaknya seperti yang
tampak pada penampilan fisik kerajaan dan keluarga kerajaan.Emas merupakan salah satu
indikatornya.Penggunaan berbagai bentuk emas sebagai hiasan tubuh, seringkali membuat
tercengang orang Eropa yang menyaksikannya. Catatan Francis Drakke (1580) menggambarkan
pakaian Sultan Ternate yang bertemu dengannya sebagai: “…Pakaian benang emas yang mewah,
perhiasan-perhiasan dari emas dan kalung raksasa dari emas murni…”.

5. Perhiasan yang di gunakan oleh keluarga kesultanan

Koleksi emas Kesultanan Ternate baik yang diperagakan dalam vitrim museum yang
disimpan oleh keluarga kesultanan antara lain berupa mahkota, kelad bahu, kelad lengan,
giwang, anting-anting, buah baju, cincin, gelang, serta bentuk hiasan lainnya.
Cukup menggugah perhatian kita pula adalah berbagai koleksi yang berkaitan dengan
administrasi kesultanan, seperti alat utlis, stempel kerajaan/kesultanan, maklumat, surat-surat
perjanjian dan sejumlah naskah, termasuk plakat yang ditempatkan pada pintu depan istana.
Setidaknya terdapat 11 maklumat yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang
dikirim kepada Sultan Ternate, antara lain mengenai: pergantian Gubernur Jenderal,
meninggalnya Raja Willem III dan dilantiknya Ratu Wihelmina dan sebagainya. Yang penting
dari maklumat adalah penyambutan secara lengkap nama dan gelar Sultan Ternate yang dikirimi
maklumat yang juga seringkali ditemukan terpahat pada nisan-nisan.
Sejumlah surat perjanjian/kontrak juga dalam koleksi museum antara lain kontrak-kontrak yang
ditanda-tangani oleh Sultan Ternate dengan kongsi-kongsi dagang maupun perorangan. Dari
kontrak-kontrak tersebut, Sultan memperoleh sejumlah konsesi/uang sebagai salah satu sumber
pemasukan keuangan Kesultanan. Salah satu kontrak itu dibuat/ditandatangani oleh Sultan
Muhammad Uthman pada 27 September 1902 berkenaan dengan eksplorasi mutiara dan
perikanan di Teluk Banggai.Pada pintu depan istana, terdapat plakat beraksara Arab dan
terjemahan dalam bahasa Melayu, yang intinya mengenai pembangunan istana pada 30
Dzukqiddah 1228 Hijriah atau 1871 Masehi.
6. Nilai-nilai agama
Dari penelitian di lapangan, di Ternate diperoleh enam Al Quran yang ditulis oleh ulama
setempat, dua di antaranya mencantumkan nama penyusunnya. Satu di antaranya disusun oleh
Fakih Shaleh Afifuddin Abdulbaqi bin Abdullah al Adenani, yang menyelesaikan
penyusunannya pada & Dzulkhaidah 1050 H (1640 M). Satu Al Quran lainnya diberikan oleh
Sultan Muhammad Zain kepada Imam Mesjid Jiko (Ternate), yang juga disusun oleh ulama
setempat pada 1284 H/1834 M. Keraton (kedaton) Kesultanan Ternate yang dialihfungsikan
sebagai museum ini didirikan oleh Sultan Muhammad Ali pada 1228 H/1814 M di atas tanah
seluas 44.560 M2, berketinggian sekitar 50 meter di atas muka laut dan berjarak 250 meter dari
garis Pantai Resen. Melengkapi khasanah budaya masa Kesultanan Ternate ini adalah hadirnya
benteng-benteng Portugis, yakni Benteng Santa Lucia (1502 M), Benteng Santo Paolo (1522 M),
Benteng Santo Pedro dan Benteng Santa Ana; Belanda yaitu Ford Orange (1609).
Jauh mendahului lahirnya UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya maka pada
tanggal 7 Desember 1976, para ahli waris Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Muda
Mudzafar Syah, menyerahkan Keraton (bangunan dan lingkungannya) kepada Pemerintah (pasal
7 (1)) cq. Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dipelihara, dipugar dan dilestarikan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Silih bergantinya bangsa Eropa yang menduduki atau berusaha menduduki Ternate yang kaya
rempah-rempah ini, membuktikan betapa strategis posisi Ternate untuk mengontrol perdagangan
di Maluku dan Laut Sulawesi.Benteng, Keraton dan benda-benda sebagai dokumen sejarah dii
Ternate, harus tetap dilestarikan untuk memupuk rasa kebanggaan nasional dan memperkokoh
kesadaran jatidiri sebagai bangsa yang berdasarkan Pancasila.
Optimalisasi benda-benda cagar budaya Ternate, baik untuk obyek/daya tarik wisata budaya
maupun bagi obyek kajian ilmu pengetahuan sejarah dan kebudayaan hendaknya memperhatikan
dan menjamin keaslian dan terpeliharanya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.Seluruh
aparat terkait di Ternate, baik Depdikbud maupun Polri, Bea Cukai dan sebagainya, sesuai
dengan Pasal 15 UU No. 5 Tahun 1992 yang antara lain melarang (a) membara benda cagar
budaya ke luar wilayah Republik Indonesia, dan (b) memindahkan benda cagar budaya dari
daerah satu ke daerah lainnya. Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi dan meningkatnya arus
wisatawan, termasuk faktor-faktor yang harus diwaspadai, tanpa harus mengundang tindakan
berlebihan.
Usaha pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah, antara lain melalui berbagai pemugaran.
Pemugaran Keraton Ternate dimulai dari tahun anggaran 1978/1979 – 1981/1982, yang
peresmian purnapugarnya dilakukan oleh Mendikbud DR. Daud Jusuf, sedangkan purnapugar
Mesjid Ternate diresmikan oleh Dirjen Kebudayaan Prff. DR. Haryati Sobadio pada 15 Oktober
1983. Tentu saja ini masih jauh dari memadai dibandingkan dengan jumlah benda cagar budaya
di Ternate. Kemampuan biaya yang dapat disediakan oleh pemerintah amat terbatas dan
karenanya sangat diharapkan keterlibatan penyediaan dana dari masyarakat dunia usaha.

7. Nilai budaya
Di masa yang lalu, Ternate memegang peranan yang cukup penting di belahan timur
nusantara. Di abad ke-16 , kekuasaan Ternate – lewat kesultanannya – meliputi seluruh wilayah
kepulauan Maluku hingga ke Sulawesi Utara. Di belahan utaranya, kekuasaan kesultanan
Ternate mencakup Philipina bagian selatan hingga di gugusan kepulauan Marhsall yang berada
di lautan Pasifik.Awalnya, kesultanan Ternate lebih dikenal dengan kerajaan Gapi yang
merupakan salah satu dari empat kerajaan Islam yang mendiami gugusan kepulauan Maluku.
Kerajaan yang didirika oleh Baab Mashur Malamo di tahun 1257 ini juga adalah termasuk
kerajaan islam tertua yang pernah ada di Nusantara. Kekuatan militer dan kekayaan rempah-
rempah yang dimilikinya menjadikan kerajaan ini meraih masa kegemilangan di pertengahan
abad ke 16. Kesultanan Ternate juga memegang peranan vital dalam proses penyebaran nilai-
nilai Islam di belahan timur Nusantara, bahkan hingga ke daratan Philipina. Penerapan syariat-
syariat islam dalam sebuah organisasi kesultanan diperkenalkan oleh Sultan Zainal Abidin untuk
pertama kalinya. Ketentuan-ketentuan dan aturan islami inilah yang di kemudian hari di jadikan
standar kehidupan di wilayah kerajaan-kerajaan Maluku Kie Raha.

Istana Ternate sendiri menempati sebuah landscape perbukitan Limau Sentausa yang
jaraknya cukup dekat dengan pantai.Bangunan istana nya terbangun di sebuah kawasan seluas
tak kurang dari 44, 500 m2 dan berjarak tak begitu jauh dari pusat keramaian Ternate.Berada di
kelurahan Sao-sio, istana ini memiliki kawasan pekarangan luas yang di tumbuhi berbagai
vegetasi hijau. Pemandian dan alun-alun kecil (sunyie lamo) yang berada di sana juga turut
memperkaya panoramanya. Di hadapan bangunan istana terbentang perairan yang tenang
sementara di belakangnya berdiri gunung gamalama. Pemandangan alam seperti ini jarang bisa
di temukan di keraton-keraton kesultanan lain di Nusantara. Mirip dengan benteng, kedaton
Ternate juga di pagari oleh bangunan tembok (benteng naka) setinggi tak kurang dari 3 meter.
Untuk menuju ke istana dari bagian depan, terdapat 27 anak tangga di sisi kanan dan kiri
bangunan yang bisa dinaiki. Di kawasannya juga terdapat bangunan tempat tinggal sultan beserta
keluarganya.Terdapat pula makam para leluhur sultan.Tak hanya itu, kawasan istana ini juga
memiliki situs-situs bersejarah di antaranya ‘air keramat’ (air sentosa), ruang pertemuan adat
(ngara lamo) dan masjid kesultanan.

8. Nilai seni

Di bagian dalam, interior bangunan berarsitektur eropa ini dipenuhi oleh hiasan yang terbuat
dari emas.Di salah satu ruangannya bisa di saksikan busana mewah yang tersulam dengan
benang emas, lengkap dengan kalung emas yang berukuran besar.Terdapat pula mahkota, cincin,
kelad bahu, giwang, gelang dan kelad lengan.Semuanya berbahan dasar emas.

Saksi-saksi bisu kejayaan kesultanan Ternate di masa lalu juga bisa di nikmati.Istana ini juga
menyimpan koleksi senjata perang yang terdiri dari tombak, perisai, parang, pluru-peluru
berbentuk bulat, senapan dan juga meriam berukuran kecil.Ada pula pakaian kerajaan, busana
yang terbuat dari besi, perlengkapan rumah-tangga dan naskah-naskah tua seperti dokumen
perjanjian, maklumat, dan Al-Quran.

9. Nilai kebangsaan

Hubungan yang terjalin antar kesultanan Ternate dengan bangsa asing juga tergambar lewat
koleksi- koleksi menarik yang bisa dinikmati pengunjung.Seperti misalnya cinderamata berupa
topi, busana, tembaga dan perisai yang di berikan oleh Portugis di tahun 1510. Hubungan baik
antara ternate dan suku-suku melayu lain juga bisa di buktikan dari keberadaan sebuah tongkat
dari Mindanao, sulu dan sabah. Terdapat pula kelapa kembar yang di berikan oleh raja sangir
pada kepada sultan Ternate di tahun 1750.Tak hanya Portugis, Belanda juga pernah
menginjakkan kakinya di Ternate.Ini bisa di saksikan lewat pemberian topi perang dari J.P Coen
(gubernur jendral VOC) di tahun 1618 atau juga kelewang pemberian Van der capellen di tahun
1815.Di tahun 1840, raja Willem III juga pernah memberikan cinderamata kepada kesultanan
Ternate berupa lampu-lampu dan cermin.Selain itu terdapat pula koleksi-koleksi menarik dari
benda-benda etnografi, filologi, arkeologi, keramik dan juga seni rupa lainnya.Di sebuah ruangan
yang menjadi penghunbung antara ruang utama dan ruang keluarga bisa di saksikan gatuba
madopolo, simbol kesultanan Ternate. Wujudnya berupa burung garuda yang memiliki dua
kepala dengan ornament hati berwarna merah di bagian dadanya. Bila burung garuda di symbol
negara Indonesia mencengkram untaian kata-kata bhinneka tunggal ika, maka gatuba madopolo
mencengkram tulisan limau gapai yang berarti sebuah kota yang tertinggi. Gatuba madopolo
telah di gunakan sebagai symbol kesultanan Ternate sejak 1322.Di kedaton Ternate juga terdapat
ruangan yang difungsikan sebagai area pertemuan sultan dengan warga masyarakat yang
dipimpinnya.Area ini juga di penuhi dengan perabotan tua namun tetap memiliki kesan
mewah.Di saat-saat tertentu, ruangan yang di sebut dengan pendopo kesultanan ini juga
berfungsi sebagai tempat latihan menari dan kesenian lokal lainnya termasuk pula
pementasannya.

10. Nilai wawasan

Dalam wawasan masyarakat Maluku Utara, Kedaton Ternate merupakan ekspresi dari
kekayaan alam dan budaya Maluku Kie Raha berupa kearifan lokal, tradisi,
pola hidup, dan adat istiadat. Keragaman, keunikan, dan keindahan itu
tidak saja menjadi aset budaya masyarakat Maluku Utara namun juga
masyarakat Indonesia yang sudah seharusnya dilestarikan untuk kemudian
menciptakan pusaka masa depan. Upaya pengenalan kembali kawasan
Kedaton Ternate dengan pendekatan participatory mapping (pemetaan
partisipatoris) dapat diangap sebagai wujud kepedulian atas penurunan
minat generasi muda dalam mempelajari sejarah Maluku Kie Raha.
Menjejaki sejarah dan budaya Ternate melalui peta hijau tidak ditujukan
untuk sekedar mengenali nama benda atau bangunan, tapi juga untuk
menyadarkan bahwa di sekitar kita banyak bertaburan norma dan ajaran
yang bernilai tinggi dan positif. Itulah kearifan yang masih bisa
digunakan dalam menjalani kehidupan di masa mendatang; norma, ajaran,
dan kearifan yang telah membentuk identitas masyarakat Maluku Utara.
“Kesadaran sejarah”… mungkin itu yang kita perlukan saat ini.

10 NILAI KADATON SULTAN TERNATE

OLEH :

NAMA :Chatrin olivia okono


NPM : 12105 65201 13 053
SEMESTER : II (DUA)
RUANG : IAN 1

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MALUKU UTARA
2014