Anda di halaman 1dari 6

Bacaan Doa Duduk Antara Dua Sujud/:

Rabbighfirlii

warhamnii

wajburnii

warfa'nii

warzuqnii

wahdinii

wa'aaifinii

wa'fuanii

Terjemahan :

Ya Allah ampunilah aku,

sayangii aku,

tutuplah aib-aibku,

angkatlah derajatku

berilah aku rezeki,

Berilah aku petunjuk,

jadikanlah aku sehat,

maafkanlah aku.
Soal:

Apa hukum doa qunut witir dan bagaimana tata caranya? Apakah
dianjurkan membaca doa qunut witir setiap shalat malam ataukah
hanya sebagiannya saja? Dan apakah doa qunut itu terbatas pada
doa yang terdapat dalam hadits saja? Kemudian bolehkah
menggunakan lafadz doa dengan shighah jamak (plural) ataukah
hanya terbatas pada doa yang terdapat dalam hadits saja? Dan
bagaimana menurut anda mengenai masalah melagukan doa qunut
seperti melagukan Al Qur’an?

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah menjawab:

Pendapat yang disebutkan oleh Imam Ahmad dan banyak para ulama
adalah bahwa doa qunut dianjurkan di rakaat terakhir dari shalat
witir dan ini berlaku sepanjang tahun. Disebutkan dalam Al Mughni:

‫المروذي رواية في أحمد قال‬: ‫رمضان شهر من النصف في أنه إلى أذهب كنت‬، ‫قلت إني ثم‬: ‫دعاء هو‬
‫وخير‬، ‫أبي عن روي ما ووجهه‬: “‫وسلم عليه هللا صلى هللا رسول أن‬، ‫الركوع قبل فيقنت يوتر كان‬

“Imam Ahmad dalam riwayat Al Marudzi mengatakan: dulu aku


berpendapat bahwa qunut witir itu disunnahkan setelah pertengahan
bulan Ramadhan, lalu aku berpendapat bahwasanya doa qunut itu
adalah doa dan kebaikan (sehingga berlaku sepanjang tahun).
Alasannya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab:
‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasa
membaca qunut dalam shalat witir sebelum rukuk’”

Dan dari Ali radhiallahu’anhu,

‫وسلم عليه هللا صلى هللا رسول أن‬، ‫وتره آخر في يقول كان‬: ‫ سخطك من برضاك أعوذ إني اللهم‬.‫إلخ‬

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasa berdoa di rakaat


terakhir shalat witir: Allahumma inni a’udzu biridhaka min sakhatik…
dst.”
Dan ‫( كان‬kaana) menunjukkan perbuatan yang dilakukan terus-
menerus. Dan juga karena amalan ini disyariatkan di shalat witir
maka ia disunnahkan di sepanjang tahun. Sebagaimana juga dzikir-
dzikir yang lain.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau punya pendapat tidak


dianjurkan membaca qunut witir kecuali pada pertengahan akhir
bulan Ramadhan. Dan sebagian ulama Hanabilah berpendapat
demikian. Ini juga pendapat madzhab Malik dan Syafi’i. Sebagian
ulama juga berpendapat dianjurkan untuk terkadang meninggalkan
qunut witir agar orang awam tidak menganggapnya wajib.

Adapun doa yang dibaca ketika qunut witir, hendaknya berdoa


dengan doa yang diriwayatkan dari Al Hasan bin Ali, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkanku doa yang
dibaca ketika qunut witir, yaitu:

َّ‫وباركَّ توليتَّ فيمن وتولني عافيتَّ فيمن وعا ِفني هديتَّ فيمن اهدِني اللهم‬
ِ ‫قضيتَّ ما شرَّ و ِقني أعطيتَّ فيما لي‬
‫وتعاليتَّ ربنا تباركتَّ عاديتَّ من ي ِعزَّ وال واليتَّ من يذِلَّ ال وإنه عليك يُقضى وال تقضي إنك‬

/Allahummahdini fiiman hadayta wa ‘aafinii fiiman ‘aafayta wa


tawallanii fiiman tawallayta wa baariklii fiiman a’thoyta waqinii syarro
maa qodhoyta wallaa yuqdhoo ‘alaika wa innahu laa yadzillu man
waalayta walaa ya’izzu man ‘aadayta tabaarakta robbanaa wa
ta’aalayta/

“Ya Allah beri aku hidayah sehingga aku termasuk orang yang
mendapat hidayah, beri aku keselamatan sehingga aku termasuk
orang yang selamat, jadikanlah aku mencintai-Mu sehingga aku
termasuk diantara orang-orang yang mencintai-Mu, berkahilah apa-
apa yang engaku berikan kepadaku, lindungilah aku dari takdir yang
buruk, sungguh engkau lah yang menetapkan taqdir dan tidak ada
selain-Mu yang menetapkan takdir, karena orang yang engkau cintai
tak akan terhinakan, dan orang yang engkau musuhi tidak akan
mulia. Maha Suci dan Maha Tinggi engkau Rabb kami” (HR. At
Tirmidzi no. 464, Abu Daud no. 1425, dishahihkan Al Albani dalam
Shahih Abu Daud).

Juga doa yang diriwayatkan dari Ali radhiallahu’anhu, yaitu:

‫كما أنتَّ عليكَّ ثناءَّ أُحصي ال منكَّ بك وأعو َّذُ عقوبتِكَّ من بمعافاتِكَّ وأعو َّذُ سخ ِطكَّ من برضاكَّ أعو َّذُ إِني اللهم‬
َّ‫نف ِسكَّ على أثنيت‬

/Allohumma inii a’uudzu biridhooka min sakhotika, wa a’uudzu


bimu’aafatika min ‘uquubatika, wa a’uudzu bika minka laa uh-shii
tsanaa-an ‘alaika, anta kamaa atsnayta ‘alaa nafsika/

“Ya Allah, dengan ridha-Mu aku mohon perlindungan dari murka-Mu,


dengan ampunan-Mu aku mohon perlindungan dari hukuman-Mu,
dan dengan hikmah-Mu aku mohon perlindungan dari takdir yang
buruk, tidak terhitung pujian untuk Mu, Engkau sebagaimana pujian
yang Engkau sematkan pada Diri-Mu” (HR. Tirmidzi no. 3566,
dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Atau dengan doa yang dibaca Ubay1, yang pertama:

َّ‫ ونستغفرك نستعينك إنا اللهم‬، ‫ نكفُ ُركَّ وال عليك ونُثنِي‬، ‫ونترك ونخل َُّع‬
َُّ ‫يفجرك من‬

/Allohumma innaa nasta’iinuka wa nastaghfiruka wa nutsnii ‘alaika


walaa nakfuruka, wa nakhla’u wa natruku man yafjuruka/

“Yaa Allah aku memohon pertolonganMu dan memohon ampunanMu,


aku memujiMu dan tidak kufur kepadaMu, dan kami berlepas diri dan
meninggalkan orang yang berbuat maksiat kepadaMu”

Yang kedua:

ِ ُ‫ ونسج َُّد ن‬، ‫ ونحف َُّد نسعى وإليك‬، ‫الجدَّ عذابكَّ نخشى‬
َّ‫ نعب َُّد إياكَّ اللهم‬، ‫صلي ولك‬ ِ ، ‫ رحمتكَّ ونرجو‬، َّ‫إن‬
َّ‫بالكفار عذابك‬
َِّ َّ‫ُمل ِحق‬
/Allohumma iyaaka na’budu, walaka nusholli wa nasjudu, wa ilaika
nas’a wa nahfadu, nakhsya ‘adzaabakal hidda, wa narjuu rohmataka,
innaa ‘adzaabaka bilkuffari mulhiqun/

“Yaa Allah hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu


kami shalat dan sujud, hanya kepadaMu kami memohon dan meminta
pertolongan, kami takut akan adzabMu yang pedih, dan kami
mengharapkan rahmatMu, sungguh adzabMu kepada orang-orang
kafir itu pasti”

Karena Umar bin Khathab radhiallahu’anhu membaca kedua doa


tersebut ketika qunut. Dan ditambahkan juga dengan doa:

َّ َّ‫ل كفرةَّ عذِب‬


‫اللهم‬ َِّ ‫ب أه‬
َِّ ‫صدونَّ الذين والمشركينَّ الكتا‬ ُ ‫ويكذبُونَّ آياتِكَّ ويجحدُونَّ سبي ِلكَّ عن ي‬
ِ َّ‫سلك‬
ُ ‫ُر‬
َّ‫عونَّ ُحدُودكَّ ويتعدون‬
ُ ‫ل عما وتعاليتَّ تباركتَّ أنتَّ إال إلهَّ ال آخرَّ إلها معكَّ ويد‬ َُّ ‫علوا الظالمونَّ يقو‬
ًّ ‫كبيرا‬

/Allohumma ‘adzib kafarota ahlil kitaabi wal musyrikiinalladziina


yashudduna ‘an sabiilika wa yajhaduuna aayaatika wa yukadzibuuna
rusulaka wa yata’addauna huduudaka wa yad’uuna ma’aka ilaahan
aakhor laa ilaaha illa anta tabaarokta wa ta’aalayta ‘amma yaquuluzh
zhoolimuuna ‘uluwwan kabiiron/

“Yaa Allah adzablah orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan
musyrikin yang menyimpang dari jalanMu dan mendustakan ayat-
ayatMu dan mendustakan para Rasul-Mu dan melewati batasan-
batasanMu, dan menyembah sesembahan yang lain selain diriMu,
tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Maha Suci Engkau
dan Maha Tinggi Engkau terhadap apa yang dikatakan orang-orang
zhalim itu, Engkau Maha Tinggi dan Maha Besar” (HR. Al Baihaqi
dalam Sunan Al Kubra, 2/211, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul
Ghalil [2/170]).

Dari sini juga diketahui bolehnya menambah doa-doa tersebut


dengan doa-doa yang sesuai dengan keadaan. Namun dengan
berusaha memilih doa-doa yang diajarkan Rasulullah yang padat
kalimatnya. Tapi hendaknya tidak terlalu banyak memberikan
tambahan doa-doa, sehingga bisa membuat makmum bosan dan
kesusahan.

Jika doa itu diaminkan banyak orang maka hendaknya menggunakan


lafadz jamak. Dan terkadang lafadz jamak ini lebih afdhal walaupun
ia berdoa sendirian.

Adapun melagukan dan mendayu-dayukan bacaan doa sehingga


sampai taraf yang tidak lagi menjadi doa yang khusyuk dan penuh
harap, maka ini tidak boleh. Karena yang dituntut dalam berdoa
adalah ketundukan hati, tawadhu dan khusyuk. Ini lebih menguatkan
untuk dikabulkannya doa.

Wallahu a’lam.

(Fatawa Syaikh Abdullah bin Jibrin, 24/42, Asy Syamilah)