Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH IMUNOLOGI

IMUNOLOGI KANKER

DOSEN

Dr. Refdanita, M.Si., Apt

Wakhidah Umi S 15330097

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM STUDI FARMASI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa saya juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi. Karena keterbatasan
pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan
dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, Oktober 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Judul ........................................................................................................................ i

Kata Pengantar ...................................................................................................... ii

Daftar Isi................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang.................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah .............................................................................. 2

1.3. Tujuan Makalah ................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 3

2.1. Asal dan Terminalogi ......................................................................... 3

2.2. Antigen Tumor ................................................................................... 6

2.3. Respon Imun Terhadap Tumor ........................................................ 9

2.4. Usaha Tumor Melepaskan Diri Dari Tumor ................................. 14

2.5. Keganasan Sistem Imun ................................................................... 15

2.6. Imunodiagnosis ................................................................................. 21

2.7 Pendekatan Terapi PadaTumor ...................................................... 22

2.8 Immunosurveillance kanker ............................................................ 28

BAB III PEMBAHASAN .................................................................................... 30

BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 32

4.1. Kesimpulan ........................................................................................ 32

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 33

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sejak lahir setiap individu sudah dilengkapi dengan sistem pertahanan,


sehingga tubuh dapat mempertahankan keutuhannya dari berbagai gangguan yang
datang dari luar maupun dari dalam tubuh. Sistem imun dirancang untuk
melindungi inang (host) dari patogen-patogen penginvasi dan untuk
menghilangkan penyakit. Sistem imun diklasifikasikan sebagai sistem imun
bawaan (innate immunity system) atau sering juga disebut respon/sistem
nonspesifik serta sistem imun adaptif (adaptive immunity system) atau
respon/sistem spesifik, bergantung pada derajat selektivitas mekanisme
pertahanan. Sistem imun terbagi menjadi dua cabang: imunitas humoral, yang
merupakan fungsi protektif imunisasi dapat ditemukan pada humor dan imunitas
selular, yang fungsi protektifnya berkaitan dengan sel.
Imunologi merupakan cabang ilmu biomedis yang berkaitan dengan
respons organisme terhadap penolakan antigenic, pengenalan diri sendiri dan
bukan dirinya, serta semua efek biologis, serologis dan kimia fisika fenomena
imun. Dalam menghadapi serangan benda asing yang dapat menimbulkan infeksi
atau kerusakan jaringan, tubuh manusia dibekali sistem pertahanan untuk
melindungi dirinya. Sistem pertahanan tubuh yang dikenal sebagai mekanisme
imunitas alamiah ini, merupakan tipe pertahanan yang mempunyai spektrum luas,
yang artinya tidak hanya ditujukan kepada antigen yang spesifik. Selain itu, di
dalam tubuh manusia juga ditemukan mekanisme imunitas yang didapat yang
hanya diekspresikan dan dibangkitkan karena paparan antigen yang spesifik. Tipe
yang terakhir ini, dapat dikelompokkan manjadi imunitas yang didapat secara
aktif dan didapat secara pasif.

1
1.2 Rumusan masalah

1. Pengertian imunologi?
2. Bagaimana asal dan terminlogi imunologi tumor?
3. Bagaimana antigen tumor bekerja?
4. Bagaimana respon imun bekerja terhadap tumor?
5. Bagaimana usaha imun melepaskan diri dari tumor?
6. Bagaimana keganasan tumor pada sistem imun?
7. Apa yang dimaksud dengan imunodiagnosis?
8. Bagaimana dan apa saja pendekatan terapi terhadap tumor?
9. Apa yang dimaksud immunosurveillance kanker dan bagaimana
mekanismenya?

1.3 Tujuan Makalah

1. Mengetahui Pengertian imunologi


2. Mengetahui asal dan terminologi imunologi kanker/tumor
3. Mengetagui respon imun terhadap tumor
4. Mengetahui usaha imun melepaskan diri dari tumor
5. Mengetahui keganasan tumor terhadap tumor
6. Mengetahui apa yang dimaksud imunodiagnosis
7. Mengetahui macam-macam pendekatan terapi terhadap tumor
8. Mengetahui antigen tumor bekerja
9. Mengetahui apa yang dimaksud immunosurviellance kanker dan
mekanismenya

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ASAL DAN TERMINOLOGI

Keseimbangan antara jumlah sel yang diproduksi tubuh dan yang mati,
pada kebanyakan organ dan jaringan hewan dewasa dipertahankan dengan baik.
Berbagai jenis sel matang dalam tubuh memiliki masa hidup tertentu.
Keseimbangan antara jumlah sel yang diproduksi dan yang mati diawasi sistem
pengontrol yang baik. Kadang pertumbuhan sel tidak dapat dikontrol, sel
membentuk klon yang berkembang dan menimbulkan tumor atau neoplasma.

Tumor yang tumbuhnya tidak terus menerus dan tidak menginvasi


jaringan sehat sekitarnya secara luas disebut tidak ganas (benigna). Tumor yang
terus tumbuh dan menjadi progresif invasif disebut ganas (maligna). Istilah tumor
adalah spesifik untuk tumor yang ganas. Tumor ganas cenderung bermetastasis,
gerombol sel tumor kecil dapat terlepas dari tumor, menginvasi pembuluh darah
atau limfe dan dibawa ke organ lain untuk seterusnya berproliferasi. Dalam hal
ini, tumor primer di satu pihak menimbulkan tumor sekunder di tempat lain.

Tumor dibagi menurut sel embrionik asalnya. Pada kebanyakan karsinoma


(>80%), tumor berasal dari jaringan endodermal atau ektodermal seperti kulit atau
epitel organ internal dan kelenjar. Tumor terbanyak kolon, payudara, prostat dan
paru adalah karsinoma. Leukemia dan limfoma adalah tumor ganas sel
hematopoietik sumsum tulang dan di Amerika Serikat merupakan sekitar 9% dari
kejadian tumor. Leukemia berproliferasi sebagai sel tunggal, sedang limfoma
cenderung tumbuh sebagai masa tumor. Sarkoma yang menupakan sekitar 1%
insidens tumor di Amerika Serikat, berasal dari jaringan ikat mesodermal seperti
tulang, lemak dan tulang rawan.

Tumor terjadi lebih sering pada orang dengan supresi sistem imun
dibanding dengan orang normal. Prevalensi tumor pada orang yang mendapat

3
radiasi adalah 100 kali lebih besar dibanding dengan orang normal. Pada
kebanyakan organ dan jaringan hewan dewasa, keseimbangan antara perbaikan
dan kematian sel dipertahankan. Berbagai jenis sel matang tubuh memiliki masa
hidup tertentu; bila sel tersebut mati, sel baru diproduksi oleh proliferasi dan
diferensiasi berbagai sel asal. Kadang timbul sel yang tidak lagi memberikan
respons terhadap mekanisme kontrol hidup sel normal. Sel tersebut menjadi klon
sel yang menjadi besar, membentuk tumor atau neoplasma.

A. Transformasi sel maligna

Transformasi adalah perubahan yang diturunkan dalam sel dan dilakukan dengan
manipulasi di laboratorium

1. Transformasi limfosit, rangsangan limfosit dalam keadaan istirahat


dengan lektin, antigen atau limfokin, akan menimbulkan transformasi yang
berupa pembelahan sel, proliferasi dan diferensiasi
2. Transformasi genetik dapat dilakukan dengan DNA. Pneumokok hidup
yang non-virulen dapat dijadikan virulen dengan DNA asal pneumokok
mati
3. Sel dapat menunjukkan transformasi neoplastik dalam biakan dan
memperoleh kemampuan untuk berproliferasi yang tidak terbatas.

Morfologi dan sifat pertumbuhan sel normal daliakan dapat diubah dengan bahan
kimiawi karsinogen, iradiasi dan virus tertentu. Pada beberapa kasus, bila sel
tersebut disuntikkan ke dalam hewan menunjukkan proses transformasi maligna
dan sering menunjukkan sifat in vitro yang sama dengan sel tumor (Gambar 14
dan 14.2).

B. Tumor penyakit gen

Dewasa ini telah diketahui adanya sejumlah kerusakan dalam mekanisme


molekular yang mengatur proliferasi dan homeostasis pada hampir semua jenis
sel. Pada keadaan normal, pertumbuhan sel dipetahankan seimbang oleh berbagai

4
regulatir yang mengatur kecepatan sel membagi dini diferensiasi dan mati.
Beberapa regulator

adalah intrinsik sedang lainnya berhubungan dengan sinyal yang diperoleh sel dari
lingkungan.

5
Tumor terjadi melalui proses transmasi, bila sel mengalami perubahan
genetik dan mendapat kemampuan untuk melepaskan diri dari mekanisme
regulator seperti disebut di atas. Proses diduga terjadi bertahap yang mengubah sel
normal menjadi derivat klon yang sangat ganas.

2.2. ANTIGEN TUMOR

Imunitas tumor ialah proteksi sistem imun terhadap timbulnya tumor. Meskipun
adanya respons imun alamiah terhadap tumor dapat dibuktikan, namun imunitas
sejati hanya terjadi pada subset tumor yang mengekspresikan antigen imunogenik,
misalnya tumor yang diinduksi virus onkogenik yang mengekspresikan antigen
virus. Berbagai jenis virus yang dilaporkan menunjukkan hubungan dengan
tumor.

Identifikasi molekular antigen tumor telah dapat memberikan berbagai informasi


mengenai respons imun terhadap tumor dapat merupakan faktor kuncidalam
perkembangan imunoterapi anti-tumor. Antigen tumor yang unik dapat digunakan
sebagai molekul sasaran untuk dikenal sistem imun untuk dihancurkan secara
spesifik. Antigen tersebut dapat dibagi sesuai gambaran ekspresinya pada sel
tumor dan sel normal.

A. Tumor Specific Antigen

TSA atau TSTA merupakan antigen sasaran ideal untuk terapi imun tumor.
Respons imun terhadap antigen demikian memberikan banyak harapan untuk
dapat menghancurkan sel tumor tanpa merusak sel sehat. Contoh TSA adalah
protein yang diproduksi akibat mutasi satu atau lebih gen. Jenis TSA yang lain
adalah protein dalam tumor yang diinduksi virus. TSA sangat menarik ditinjau
dari imunoterapi, meskipun sampai sekarang belum memberikan keuntungan yang
jelas.

B. Tumor Associated Antigen

Ada 2 jenis antigen tumor yaitu TSTA dan TATA. Yang pertama tidak ditemukan
pada sel normal, dapat timbul oleh mutasi sel tumor yang memproduksi protein

6
sel yang berubah. Proses protein terjadi dalam sitosol dan menghasilkan peptida
yang diikat MHC-I dan menginduksi CTL yang tumor spesifik (Gambar 14.3).

TATA tidak unik untuk tumor, dapat merupakan protein yang diekspresikan
oleh sel normal selama perkembangan fetal waktu sistem imun masih imatur tidak
dapat memberikan respons. Pada keadaan normal tidak diekspresikan pada
dewasa. Pada banyak hal, tumor tidak menunjukkan antigen unik yang dapat
dikenal limfosit untuk diproses sebaga antigen. Tumor dapat dikenal sistem imuri
atas dasar perubahan kuantitatif dalam ekspresi profil proteinnya. Antigen tersebut
tidak tumor spesink, disebut TAA.

1. Antigen onkofetal adalah contoh TAA Antigen tersebut disandi oleh gen
yang diekspresikan selama embriogenesis dan perkembangan janin, namun
transkripsional tenang pada dewasa. Gen tersebut menyandi protein yang
diduga berperan dalam pertumbuhan cepat sel embrio dan diaktifkan
kembali untuk fungsi yang sama pada tumor yang tumbuh cepat.
Golongan antigen onkofetal juga diekspresikan testis normal, dikenal
sebagai antigen tumor testis, paru, kepala, leher dan kandungan kencing.
Dewasa ini dikenal lebih dari 50 jenis TAA dan banyak epitop yang sudah
dapat diidentifikasi sel T.

2. Jenis TAA lain adalah tissue-specific differentiation antigen, protein yang


diekspresikan

7
pada sel yang menjadi tumor dan ekspresinya ditemukan terus sesudah
transformasi neoplastik. Jadi antigen tersebut menunjukkan asal jaringan
tumor.
a. Melanoma diferentiating antigen gp 100
Gen tersebut menyandi protein yang berfungsi dalam jalur biosintesis
melanin sel kulit dan juga diekspresikan oleh banyak tumor mela noma
dengan pigmen
b. PSA diekspresikan jaringan prostat normal dan dengan tumor
c. Carcinoembryonic Antigen CEA yang dapat dilepas ke dalam
sirkulasi, ditemukan dalam serum
d. AFP ditemukan dengan kadar tinggi penderita dengan berbagai
neoplasma. Kadar CEA yang meningkat (di atas 2,5 mg/ml) ditemukan
dalam sirkulasi penderita tumor kolon, tumor pankreas, beberapa jenis
tumor paru, tumor payudara dan lambung. CEA telah pula ditemukan
dalam darah penderita nonneoplastik seperti emfisema, kolitis
ulseratif, pankreatitis, peminum alkohol dan perokok dalam serum
fetus normal, eritroblastoma testis dan hepatoma.

8
2.3 RESPONS IMUN TERHADAP TUMOR

A. Imunitas humoral
Meskipun imunitas selular pada tumor lebih banyak berperan dibanding
imunitas humoral, tetapi tubuh membentuk juga antibodi terhadap antigen
tumor. Anti-bodi tersebut ternyata dapat menghancurkan sel tumor secara
langsung atau dengan bantuan komplemen atau melalui sel efektor ADCC.
Yang akhir memiliki reseptor Fc misalnya sel NK dan makrofag
(opsonisasi) atau dengan jalan mencegah adhesi sel tumor. Pada penderita
tumor sering ditemukan kompleks imun, tetapi pada kebanyakan tumor
sifatnya masih belum jelas. Antibodi diduga lebih berperan terhadap
selyang bebas (leukemia, metastase tumor) dibanding tumor padat. Hal
tersebutmungkin disebabkan karena antibodi membentuk kompleks imun
yang mencegah sitotoksisitas selT Efektor imun humoral dan selular yang
dapat menghancurkan sel tumor in vitro terlihat pada Tabel 14.2.Pada

9
umumnya, destruksi sel tumor lebih efisien bila sel tumor ada dalam
suspensi.Adanya destruksi tumor sulit dibuktikanpada tumor yang padat.
Hal tersebut mungkin disebabkan karena antibodi membentuk kompleks
imun yang mencegah sitotoksisitas sel T. Efektor imun humoral dan
selular yang dapat meghancurkan sel in vitro terlihat pada tabel 14.2.

Pada umumnya, destruksi sel tumor lebih efisien bila sel tumor ada dalaqm
suspensi. Adanya destruksi tumor sulit dibuktikan pada tumor yang padat.

B. Imunitas selular

Pada pemeriksaan patologi anatomi kanker, sering ditemukan infiltrat sel-


sel yang terdiri atas sel fagosit mononuklear, limfosit, sedikit sel plasma
dan sel mast. Meskipun pada beberapa neoplasma, infiltrat sel
mononuklear merupakan indikator untuk prognosis yang baik, tetapi pada
umumnya tidak ada hubungan antara infiltrasi sel dengan prognosis.
Sistem imun dapat langsung menghancurkan sel kanker tanpa sensitasi
sebelumnya.

10
Limfosit matang akan mengenal TAA dalam pejamu, meskipun
TAA merupakan self protein yang disandi gen normal. Adanya limfosit
yang self reaktif nampaknyaberlawanan dengan self-tolerans. Bila sel B
dan sel T menjadi matang dalam sumsum tulang dan timus, limfosit yang
terpajan dan berikatan dengan self antigen akan mengalami apoptosis.
Namun banyak self-antigen tidak dielkspresikan dalam sumsum tulang
atau timus. Oleh karena deletion sentral tidak lengkap dan limfosit self-
reaktif yang mengenal antigen tidak diekspresikan dalam sumsum tulang
atau timus, maka sistem imun biasanya tidak responsif terhadap self-
antigen oleh karena ada dalam keadaan anergi.Mengapa sel autoreaktif
dipertahankan dalam keadaan inaktif, tidaklah jelas. Diduga limfosit
anergik tidak memberikan respons terhadap self-antigen dengan kadar
yang diekspresikan pada keadaan normal oleh sel sehat, namun responsif
terhadap peningkatan ekspresi antigen pada sel kanker.

1.CTL

Banyak studi menunjukkan bahwa kanker yang mengekspresikan antigen unik


dapat memacu CTL/Tc spesifik yang dapat mnghancurkan kanker. CTL biasanya
mengenal peptida asal TSA yang diikat MHC-I. CTL tidak selalu efisien,
disamping respons CTL tidak selalu terjadi pada kanker.

2. Sel NK

Sel NK adalah sitotoksik yang mengenal sel sasaran yang tidak antigen

11
spesifik dan juga tidak MHC dependen. Diduga bahwa fungsi terpenting sel NK
adalah antikanker. Sel NK juga mengekspresikan IgG-R yang dapat membunuh
sel sasaran melalui ADCC dan melalui penglepasan protease, perforin dan
granzim

3. Makrofag

Makrofag juga memiliki enzim dengan fungsi sitotoksik dan melepas


mediator oksidatif

12
seperti superoksid dan oksida nitrit. Makrofag juga melepas TNF-α
yang mengawali apoptosis. Diduga makrofag mengenal sel kanker melalui IgG-R
yang berikatan dengan antigen kanker. Makrofag juga dapat memakan dan
mencerna sel kanker dan mempresentasikannya ke sel CD4+. Jadi Makrofag dapat
berfungsi sebagai inisiator dan efektor imun terhadap tumor. Imunitas nonspesifik
dan spesifik terhadap tumor terlihat pada Gambar 14.6 dan 14.7.

13
2.4 USAHA TUMOR MELEPASKAN DIRI DARI RESPON IMUN

Kebanyakan tumor timbul pada individu yang tidak imunokompromais. Hal itu
berarti bahwa tumor sendiri memiliki mekanisme untuk menghindarkan diri dari
imunitas nonspesifik dan spesifik. Diduga ada berbagai mekanisme sehingga sel
tumor tidak dapat dipresentasikan dan diproses oleh karena tidak memiliki B7
(CD80) (Gambar 14.8) Dan CD86 sebagai molekul kostimulator.

Sel tumor juga tidak mengekspresikan molekul untuk mengaktifkan sel T


terutama MHC-II atau molekul adhesi ICAM-I atau LFA3. Banyak tumor
mengekspresikan sedikit MHC-I yang menimbulkan resistensi terhadap sel Tc.
Tumor lain mengekspresikan FasL yang menginduksi apoptosis limfosit yang
menginfiltrasi jaringan dengan tumor. Tumor sendiri dapat melepas berbagai
faktor imunosupresif seperti TGF-β yang merupakan sitokin imunosupresif poten.

14
2.5 KEGANASAN SISTEM IMUN

Transformasi maligna sel dapat terjadi dengan hilangnya ekspresi MHC-I.Hal itu
dapat berhubungan dengan meningkatnya potensi metastasis dan diduga karena
menurunkan kemungkinan sel ganas untuk dikenal sel T, tetapi tidak oleh sel NK.
60% kanker mamae dengan metastase tidak mengekspresikan MHC-I

A.Penyakit limfoproliferatif

Transformasi maligna sel limfoid dapat menimbulkan sejumlah penyakit


limfoproiferatif seperti leukemia limfosistil kronis, limfomgobulinemia
Waldenstrom dan beberapa jenis krioglobulinemia.

Tumor sistem imun dapat dibagi menjadi limfoma atau leukemia. Perbedaan
secara tradisional antara leukemia dan limfoma adalah bahwa limfoma
berproliferasi sebagai tumor padat dalam jaringan limfoid seperti sumsum tulang,
KGB atau timus. Contohnya limfoma Hodgkin dan non--Hodgkin. Leukemia
cenderung berproliferasi sebagai sel tunggal dan ditemukan dari peningkatan
jumlah sel dalam darah atau kelenjar limfe. Leukemia dapat berkembang dalam
jaringan limfoid atau mieloid. Pada limfoma sel abnormal hanya ditemukan dalam

15
jaringan (terutama kelenjar limfoid dan limpa) namun ada tumpang tindih antara
leukemia dan limfoma.

Pada beberapa kasus teknik diagnostik histologois dan morfologis mungkin


kurang adekuat untuk membedakan keduanya. Sistem deteksi modern yang
sensitif mampu mengenali sel abnormal dalam darah perifer pada hampir 50%
penderita limfoma non Hodgkin.

1. Limfoma Hodgkin

Limfoma Hodgkin yang juga dikenal sebagal penyakit Hodgkin merupakan suatu
penyakit yang khas, menyerang usia muda. Biopsi kelenjar limfoid merupakan
keharusan untuk menemukan sel Reed Sternberg. Sel tersebut adalah sel
Bnukdleat besar dengan nukleolus eosinofilik.

2. Limfoma Non-Hodgkin

16
Limfoma Non-Hodgkin tersering ditemukan pada usia lanjut, walau dapat juga
ditemukan pada anak dan dewasa. Diagnosis memerlukan biopsi kelenjar limfoid.
Limfoma on-Hodgkin dibagi sesuai asal sel (B atau T) dan fase kematangan sel.
Tabel-klasifikasi WHO mengenai limfoma Non-Hodgkin terlihat pada Tabel 14.3.

3. Limfoma angioimunoblastik

Sering ditemukan adanya anemia hemolitik autoimun dan


hipergamaglobulinemia. Histologi kelenjar limfoid menunjukkan adanya infiltrat
campuran limfoid dengan pembentukan pembuluh darah kecil.

4. Limfoma/leukemia sel T dewasa

Leukemia jenis ini sering ditemukan di Karibia dan Jepang. Ditimbulkan oleh
virus HTCL tipe 1 yang ditandai dengan proliferasi CD4 yang aktif
mengekspresikan CD25.

5. Leukemia limfositik kronis

17
Tes diagnostik dilakukan dengan phenotvping limfosit. Pada 95% kasus
ditemukan sel yang berasal dari sel B (B-CLL). Sel tersebut menunjukkan
ekspresi CD5 yang biasa ditemukan pada antigen panT (CD19, CD5). Beberapa
sel tersebut juga ditemukan pada neonatus dan beberapa penyakit autoimun.

6. Hairy Cell Leukenia (HCL)

HCL merupakan penyakit limfoproliferatif sel B yang lain yang cenderung


ditemukan pada usia lanjut. Lebih banyak ditemukan pada pria dibanding wanita.
Sering ditemukan pansitopenia dan sel limfoid dengan penampilan "hairy" yang
ditimbulkan oleh proyeksi sitoplasma halus yang banyak. Fibrosis sumsum tulang
dapat terjadi dan limfosit menunjukkan ekspresi molekul adhesi CDIlc yang
abnormal.

7. Common Acute Lymphoblastie Leukimia

cALL berasal dari sel B yang berkembang menjadi sel plasma dan sangat agresif.
Tanpa terapi, cALL dapat menimbulkan kematian dalam beberapa minggu
setelahdiagnosis ditegakkan. Mieloma berasal dari sel plasma matang, tumbuh
perlahan, melepas imunoglobulin monoklonal dan penderita dapat hidup
bertahun-tahun tanpa terapi.

8. Mikosis fungoides

Mikosis fungoides merupakan limfoma sel T kulit yang khas menegani pria usia
pertengahan. Sel ganas adalah sel T CD4 dengan nukleus yang menunjukkan
gambaran yang tidak normal. Meskipun definisi mikosis fungoides terbatas pada
kulit namun dapat menjadi sistemik yang ditandai dengan limfadenopat,
splenomegali dan leukemia yang disebut sindrom Sezary.

9. Mieloma multipel

Mieloma multipel MIM) ditemukan terutama pada usia di atas 70 tahun,


lebihbanyak pada pria dibanding wanita. Dalam serum ditemukan paraprotein

18
yaitu suatu imunoglobulin abnormal yang diproduksi klon sel B yang ganas.
Mieloma IeG merupakan yang terbanyak (37%), (270%), IgD(1,5% dan IgM
(0,2%) dan (0,1%).

10.Gamopati monoklonal

amopati monoklonal adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan para


potein yang tidak memiliki ciri para protein ganas. Diduga bahwa stimulasi imun
menimbulkan proliferasi selektif klon sel B.

11.Makroglobulinemia Waldenstrom

Merupakan suatu penyakit yang umumnya terjadi pada usia sangat lanjut, yaitu di
atas 80-90 tahun. Namun kini mulai banyak ditemukan pada usia yang lebihmuda.
Penyakit ini ditandai dengan perkembangan paraprotein IgM. Perbandingan klinis
antara mieloma multipel dan makroglobulinemia Waldenstrom terlihat pada Tabel
14.

12. Krioproteinemia

Krioprotein (termasuk krioglobulin dan kriofibrinogen) merupakan serum protein


abnormal yang akan diendapkan pada suhu di bawah normal. Protein ini
selanjutnya akan membentuk kompleks imun dan secara parsial mengaktifkan
jalur komplemen klasik. Kadar C4 serum yang rendah disertai C3 normal
merupakan temuan yang khas pada krioproteinemia, yang terjadi sebagai akibat
aktivasi jalur klasik yang tidak sempurna pada fase cair.

B. Keganasan yang disebabkan virus

Virus herpes dan virus retro menginfeksi sel tanpa menimbulkan sitolisis atau
membunuhnya. Virus dapat memacu pertumbuhan sel terinfeksi yang tidak
terkontrol.

19
EBV dapat menimbulkan infeksi mononukleosis/ glandular fever, limfoma dan
karsinoma nasofaringeal.Limfoma yang dipacu EBV sering terjadi pada penderita
imunodefisien dan daerah malaria. EBV memproduksi protein yang merangsang
pertumbuhan sel terinfeksi tidak terkontrol dan mencegah apoptosis.

Infeksi virus lainnya seperti virus herpes 8 (HV8) dapat menimbulkan sarkoma
Kaposis pada individu imunodefisien. Keganasan sel T jarang terjadi. Bila terjadi
sering disebabkan virus T limfotropik (HLV1), suatu retrovirus yang menyandi
protein Tax dan menunjukkan efek serupa dengan IL-2 (faktor pertumbuhan sel
T). HLV1 jarang terjadi di negara berkembang. Berbagai virus yang daoat
menimbulkan keganasan terlihat pada Tabel 14.5.

20
2.6 IMUNODIAGNOSIS

Imunodiagnosis tumor dapat dengan 2 tujuan yaitu menemukan antigen spesifik


terhadap sel tumor dan mengukur respons imun pejamu terhadap sel tumor (Tabel
14.6). Sel tumor dapat ditemukan dalam sitoplasma. Ciri-ciri suatu tumor dapat
ditentukan dari sitoplasma, permukaan sel atau produk yang dihasilkan atau
dilepasnya yang berbeda baik dalam sifat maupun dalam jumlah dibanding orang
nomal.

Petanda tumor mempunyai sifat anti-gen yang lemah. Adanya antibodi


monoklonal telah banyak membantu dalam imunodiagnosis sel tumor dan
produknya. Sampai sekarang, imunodiagnosis tumor belum dapat dipraktekkan
untuk menemukan tumor dini, tetapi mempunyai arti penting di klinik dalam
memantau progres atau regresi tumor tertentu.

21
2.7 PENDEKATAN TERAPI PADA TUMOR

Meskipun pengobatan tumor seperti operasi, kemoterapi, radiasi telah


meningkatkan masa hidup penderita, manipulasi respons imun terhadap tumor
untulk meningkatkan destruksi tumor, merupakan hal yang penting. Mengontrol
tumor dengan cara-cara imunologis berperan dalam eradikasi tumor primer,
metastasis, dan residu yang tertinggal setelah regimen terapi konvensional.

Hasil imunoterapi yang ideal adalah eradikasi spesifk tumor dengan kerusakan
minimal terhadap sel normal pejamu. Namun, seperti diketahui dari definisi, sel
tumor dapat melepaskan diri dari pengenalan imunologik. Kemajuan justru terjadi
akibat sistem imun penderita yangtidak dapat mengontrolnya. Untuk imunoterapi
efektif diperlukan pengertian mengapa sistem imun telah gagal memberikan
respons terhadap tumor dan bagaimana strategi manipulasi sistem imun dapat
dikembangkan untuk memperoleh respon imun yang potensial. Dalam 20 tahun
terakhir berbagai usaha telah dilakukan untuk mengobati tumor dengan cara
imunologik. BCG dan K. parvum telah lama digunakan dalam usaha imunoterapi
nonspesifik, namun tidak menunjukkan keberhasilan yang diharapkan.

A. Imunoterapi

1. Antibodi monoklonal

22
Imunoterapi (IT) pasif yang menggunakan mAb untuk menghancurkan sel ganas
telah dicoba, namur tidaklah spesifik. Anti-CD20 adalah mAb yang banyak
digunakan dalam onkologi mAb membunuh sel tumor melalui apoptosis atau
aktivasi komplemen, ADCC atau fagositosis. Sebagai contoh CD20 diekspresikan
pada sel B normal dan sel limfoma. Infus anti CD20 dapat mengurangi atau
menyembuhkan 50% limfoma sel B. Anti-CD20 menghancurkan sel B ganas
melalui aktivasi komplemen dan sitotoksisitas selular, serta menginduksi
apoptosis sel B.

Anti-CD20 telah pula dikonjugasikan dengan bahan radioaktif untuk


mengantarkan dosis tinggi radioaktif langsung ke tempat tumor. Anti-CD20 juga
merusak sel nomal dan bila dilabel dengan bahanradioaktif dapat juga digunakan
untuk mengetahui luas penyebaran limfomadalam tubuh (Gambar 14.12).
Antigentumor potensial yang sudah digunakan pada imunoterapi tumor terlihat
pada Tabel 14.7.

2. Manipulasi sinyal kostimulator untuk meningkatkan imunitas

Imunitas tumor dapat ditingkatkan dengan memberikan sinyal kostimulator yang


diperlukan untuk mengaktifkan prekursor TL (CTL-Ps). Bila CTL-Ps tikus
dinkubasikan dengan sel melanoma in vitro, terjadi pengenalan antigen, tetapi
tanpa sinyal kostimulator, CTL-Ps tidak berproliferasi menjadi sel efektor CTL.
Hasil penemuan tersebut memberikan kemungkinan bahwa B7 sel tumor yang
ditransfeksi dapat digunakan untuk induksi respons CTL in vivo.

Oleh karena antigen melanoma memiliki sejumlah berbagai tumor, diduga dapat
dibuat panel cell line melanome B7yang ditransfeksi untuk ekspresi antigen tumor
dan HLA. Antigen tumor (a) yang diekskresikan tumor penderita dapat
ditentukan, selanjutnya penderita dapat divakssinasi dengan cell line B7 yang
ditransfeksi dan diradiasi yang mengekspresikan antigen tumor yang sama
(Gambar 14.13)

3. Imunotoksin

23
Imunoterapi dengan mAb terhadap TAA telah dicoba bersama toksin yang dapat
mencegah proses selular atau bersama radioisotop yang membantu membunuh
DNA dan melepas partikel dengan energi tinggi. Namun dosis yang diperlukan

24
tinggi dan toksik untuk sumsum tulang. Cara pemberian antibodi ini belum
berhasil.

4. Sitokin

Sitokin dapat meningkatkan respon imun terhadap tumor. Isolasi dan mengklon
berbagai gen sitokin dapat menghasilkan sitokin dalam jumlah besar. Berbagai
sitokin telah dievaluasi dalam terapi tumor seperti IFN-a, IFN-B, IFN-y, IL-2,-IL-
4, IL-6, IL-12, GM-CSF dan TNF. Kesulitan dalam terapi dengan sitokin ini
adalah jaring sitokin adalah jaring sitokin yang sangat kompleks yang sangat
menyulitkan untuk mengetahui letak intervensinya yang tepat

5. Peningkatan aktivitas APC

Peningkatan aktivitas APC dapat memodulasi imunitas tumor. SD tikus yang


dibiakkan dengan GM-CSF dan fragmen tumor yang diinfuskan kembali ke dalam
tikus mengaktifkan sel Th dan CTL spesifik untuk antigen tumor. Sejumlah

25
ajuvan seperti M. bovis (BCG) dan K. parvumtelah digunakan dalam booster
imunitas tumor. Ajuvan ini meningkatkan aktivas makrofag, ckspresi berbagai
sitokin, molekulMHC-II dan molekul kostimulator B7. Makrofag yang diaktifkan
menupakan aktivator Th yang lebih baik, sehingga humoral dan selular.

6. Vaksinasi dengan SD

Beberapa sel dendritik imatur dapat memfagositosis antigen lebih efektif


dibandingsel dendritik matang. Pemberian sel imatur tersebut diharapkan akan
dapat menginduksi respons antitumor CTL yang lebih baik. Pemberian SD yang
ditransfeksi dengan RNA asal sel tumor dapat menginduksi ekspansi sel T tumor
spesifk. Cara alternatif menggunakan monosit CD4" dari darah perifer yang
menghasilkan SD atas pengaruh GM-CSF dan IL-4.

7. Imunoterapi aktif

Imunoterapi aktif telah digunakan dalam usaha mencegah anergi sel T. Anergi
terjadi bila antigen tumor dipresentasikan ke sel T tanpa bantuan molekul
kostimulator. Jalan mudah untuk melakukan hal itu ialah dengan menginfuskan
sitokin. IL-2 akan mengaktifkan sel TNK secara langsung. Namun IL-2 dapat
menimbulkan efek samping berat yaitu kebocoran kapiler, edem dan hipotensi.
Pemberian IFN sistemik, baik IFN-a dan IFN-B meningkatkan ekspresi MHC-1.
IFN juga menunjukkan efek anti-proliferasi terhadap sel tumor, meskipun
pemberian sistemik memberikan efek samping.

8. Imunisasi dengan antigen virus

Imunisasi dengan antigen virus berdasarkan atas adanya beberapa jenis tumor
(limfoma) yang ditimbulkan virus onkogenik. Pada limfoma Burkitt sudah
diusahakanmembuat vaksin untuk memacu sel Terefektor. Hal yang sama telah
dilakukan pada penderita dengan mor serviks, terhadap sel Te yang menupakan
efektor pada HPV. Vaksinasi dalam pencegahan tumor serviks uteri yang
disebabkan HPV dibahas dalam Bab 19: Imunisasi. Vaksin-vaksin tumor terlihat
pada Tabel 14. 8.

26
B. Lymphokine Activated Killer cells

CTC/Tc dapat diaktifkan di luar tubuh dan kemudian diinfuskan kembali dengan
atau tanpa IL-2. Limfosit perifer dibiak-

kan dengan IL-2 untuk memperolehsel LAK sitotoksik yang diaktifkan. Sel
tersebut tidak lain adalah sel NK, jadi tidak mempunyai spesifisitas sel T,tetapi
hanya bereaksi dan membunuh sel tumor saja yang tidak atau sedikit
mengekspresikan MHC-L. Cara tersebut menunjukkan toksisitas yang bermakna.

C. Tumor Infiltrating Lymphocyte

Pada pemeriksaan histologi tumor padat ditemukan infiltrasi sel. TIL tersebut
terutama terdiri atas makrofag dan limfosit yang berupa sel NK dan CTL. Seperti
halnya dengan LAK, TIL diperoleh dari penderita dengan tumor diaktifkan
denganIL-2. TIL adalah limfosit CD8 yang diperoleh dari tumor penderita yang
beberapa di antaranya spesifik untuk tumor. Cara yang juga menginfuskan
kembali ke penderita dengan atau tanpa IL-2 ini menunjukkan toksisitas yang
berarti.

D.Macrophage Activated Killer

27
Pendekatan lain yaitu nggunakan sitokin dan makrofag yang diaktifkan. Monosit
diisolasi dari darah perifer penderita dengan tumor, dibiakkan in vitro dengan
sitokin (FN-) yang mengaktifkan sel dan meningkatkan sitotoksisitas sebelum
dinfuskan kembali ke penderita. Meskipun sel yang diperoleh sangat sitotoksik
dan fagositik, namun nonspesifik.

E. Terapi gen

Terapi gen ditujukan untuk melokasikan sitokin ke tempat yang diperlukan.


Bilasitokin hanya ditujukan ke tempat tumor, akan mengurangi efek samping
sistemik.Cara ini dilakukan dengan mengangkat sel tumor lalu dilakukan
transfeksi dengan gen sitokin. Bila sel tersebut diinfuskan kembali sel tumor
tersebut akan mensekresi sitokin seperti IL-2 ataun IFN-y, sehingga dapat
mengaktifkan sel T. Bila sel T sudah memberikan respons terhadap transfected
cell dan menjadi sel memori akan mempunyai kemampuan membunuhsel untuk
waktu yang lama. Sampai sekarang cara itu belum menunjukkan hasil efektif, baik
yang diberikan sendiri atau yang diberikan bersamaan dengan kemoterapi,
radioterapi atau operasi.

2.8 Immunosurveillance kanker


Immunosurveillance adalah suatu mekanisme yang digunakan oleh tubuh
untuk bereaksi melawan setiap antigen yang diekspresikan oleh neoplasma.
Fungsi primer dari sistem imun adalah untuk mengenal dan mendegradasi
antigen asing (nonself) yang timbul dalam tubuh. Dalam immunosurveillance,
sel mutan dianggap akan mengekspresikan satu atau lebih antigen yang dapat
dikenal sebagai nonself. Sel mutan dianggap sering timbul dalam tubuh
manusia dan tetapi secara cepat dihancurkan oleh mekanisme imunologis. Pada
tikus yang kehilangan imunitas seluler dan terpapar agen onkogenik akan lebih
cepat timbul tumor. Ini dianggap merupakan bukti mekanisme
immunosurveillance. Pasien dengan stadium lanjut lebih sering dalam keadaan
imunosupresi dibanding pasien stadium awal. Pasien yang memakan obat
imunosupresif setelah transplantasi renal mengalami peningkatan insidensi

28
keganasan (100 kali lebih besar dari kontrol). Hampir 50% tumor pada pasien
imunosupresi berasal dari jaringan mesenkim, contohnya sarkoma sel
retikulum, tapi insiden neoplasia intraepitelial seperti CIN (Cervical
Intraepithelial Neoplasia) juga lebih banyak dilaporkan. Walaupun ada
penjelasan bagaimana immunosurveillance mengatasi kanker, tapi kurang bukti
bahwa mekanisme imun dapat menghalangi pertumbuhan kanker. Sel NK
ternyata paling berperan dalam immunosurveillance tumor, ia dapat membunuh
sel tumor langsung tanpa perlu disensitisasi terlebih dahulu. Dalam
immunosurveillance dianggap ada keadaan imunosupresi yang menyertai
keadaan tumbuhnya tumor, terutama depresi sel NK. Salah satu syarat induksi
tumor dengan bahan karsinogenik pada hewan percobaan adalah adanya
gangguan pada sistim imun terutama sel NK.

29
BAB III

PEMBAHASAN

Imunoterapi merupakan bentuk perawatan kanker yang memanfaatkan


sistem kekebalan tubuh (imun) manusia untuk melawan kanker.Hal ini bisa
dilakukan dengan dua cara. Yang pertama adalah merangsang sistem kekebalan
tubuh sendiri untuk menghentikan pertumbuhan dan perkembang biakan sel
kanker dalam tubuh. Cara kedua yaitu memberikan zat khusus buatan manusia
yang memiliki fungsi dan sifat seperti imun, misalnya protein imun.

Berdasarkan jurnal ‘’Cancer Immunology For The Clinical’’ tabel diatas


merupakan contoh imunoterapi kuratif yaitusuatu kegiatan pengobatan kanker
yang ditujukan untuk penyembuhan, pengurangan, serta pengendalian penyakit
kanker, agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. Pertama meliputi
terapi Allogeneic hematopoietic stemm cells yaitu sel induk hematopoietik yang
diguakan berasal dari pendonor (alogeik) terdapat pada sumsum tulang, pembuluh
darah perifer dan darah tali pusat, diindikasikan untuk terapi keganasan
hematologi yang berdampak pada kesembuhan , kedua High-dose interleukin

30
2diindikasikan untuk melanoma metastatik, adenokarsenoma, metastasis sel
ginjal, kemudian Type I interferon dan BCG , diindikasikan untuk kanker kandung
kemih. Antitumor Antibodies monoclonal diindikasikan limfoma (rituximab),
HER2+, kanker payudara (trastuzumab) dan kanker kolorektal (cetuximab).
Sipuleucel – T vaccine diindikasikan untuk kanker prostat. Rekayasa genetik sel T
infus diindikasikan untuk leukimia dan limfoma. Terakhir anti-chepoint
monoclonal antibodies diindikasikan untuk melanoma metastik (anti-CTLA-
4,anti-PD-1), anti-PD-L1) , adenokarsinoma sel ginjal (anti-PD-1) , paru-paru
(Anti-PD-1), dan kandung kemih (anti-PD-1).

31
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan jurnal ‘’Cancer Immunology For The Clinical’’ tabel diatas


merupakan contoh imunoterapi kuratif yaitusuatu kegiatan pengobatan kanker
yang ditujukan untuk penyembuhan, pengurangan, serta pengendalian penyakit
kanker, agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. Pertama meliputi
terapi Allogeneic hematopoietic stemm cells yaitu sel induk hematopoietik yang
diguakan berasal dari pendonor (alogeik) terdapat pada sumsum tulang, pembuluh
darah perifer dan darah tali pusat, diindikasikan untuk terapi keganasan
hematologi yang berdampak pada kesembuhan , kedua High-dose interleukin
2diindikasikan untuk melanoma metastatik, adenokarsenoma, metastasis sel
ginjal, kemudian Type I interferon dan BCG , diindikasikan untuk kanker kandung
kemih. Antitumor Antibodies monoclonal diindikasikan limfoma (rituximab),
HER2+, kanker payudara (trastuzumab) dan kanker kolorektal (cetuximab).
Sipuleucel – T vaccine diindikasikan untuk kanker prostat. Rekayasa genetik sel T
infus diindikasikan untuk leukimia dan limfoma. Terakhir anti-chepoint
monoclonal antibodies diindikasikan untuk melanoma metastik (anti-CTLA-
4,anti-PD-1), anti-PD-L1) , adenokarsinoma sel ginjal (anti-PD-1) , paru-paru
(Anti-PD-1), dan kandung kemih (anti-PD-1).

32
DAFTAR PUSTAKA

Louis M. Weiner, MD. 2015. Cancer Immunology For The Cllinician . Journal
Clinical Advances In Hematologu & Oncology Volume 13
Antarini, dkk , Respon Imun Terhadap Tumor Atau Kanker, Universitas 17
Agustus 1945, Serologi Imunologi
Kresno Siti B. 2002. Peranan Imunitas Pada Kanker Dan Infeksi . Patologi Klinik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Rahma dkk. 2015. Reaksi Imunologi Kanker.Fakultas Matematika Dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Hasanuddin Makassar
Gunawan. 2014. Kemoterapi Kanker. Fakultas Farmasi Universitas Surabaya
Safitri. 2011. Peranan Sistem Imun Terhadap Sel Kanker. Fakultas Matematika
Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Muhammadiyah. DR. Hamka. Jakarta
Yusinta dkk. 2015 Imunologi Dasar. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas
Diponegoro Semarang

33