Anda di halaman 1dari 7

KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHA PEMBUATAN “CAPTIKUS” TERHADAP PENDAPATAN

PETANI DI DESA WIAU LAPI KECAMATAN TARERAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN

THE CONTRIBUTION OF “CAPTIKUS” PRODUCTION BUSINESS TO FARMERS’ INCOME IN


WIAU LAPI VILLAGE TARERAN SUBDISTRICT SOUTH MINAHASA

Dianira.C.Halor*, Lindon.Pangemanan**, C.A.L.D.Bujung***

*Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sariputra Indonesia Tomohon


**Dosen Universitas Sam Ratulangi Manado
***Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sariputra Indonesia Tomohon
Dianira.halor94@gamail.com

ABSTRAK
Pohon aren memiliki potensi ekonomi yang tinggi karena hampir semua bagiannya dapat
memberikan keuntungan finansial. Buah dan air sadapan yang berupa nira yang merupakan bahan
baku dalam pembuatan minuman beralkohol. Masyarakat Sulawesi utara khususnya di Kabupaten
Minahasa Selatan sudah lama menggunakan pohon aren sebagai sumber mata pencarian dengan
mengambil bagian nira untuk memproduksi “captikus” (minuman beralkohol tinggi). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui berapakah besar kontribusi pendapatan usaha pembuatan “captikus”
terhadap total pendapatan petani “captikus” di Desa Wiau Lapi Kecamatan Tareran Kabupaten
Minahasa Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Di desa wiau lapi
memiliki penduduk 1,674 jiwa dengan jumlah kelompok keluarga 280 dan ada banyak petani
pembuat “captikus” berdasarkan data jumlah masyarakat yang jumlah presentasi paling tinggi yaitu
dengan jumlah 50 petani “captikus”. Penelitian ini dilaksanakan dalam jangka waktu 3 bulan mulai
dari bulan februari sampai dengan bulan april 2018. Lokasi penelitian bertempat di Desa Wiau Lapi
kecamatan tareran kabupaten minahasa selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan kontribusi
pendapatan petani captikus adalah 8,240,000 dengan nilai presentase 78,812% menunjukkan
usahatani captikus di desa Wiau Lapi menguntungkan untuk di kembangkan karena petani sudah
mulai intensif mengelolah usahatani captikus dan di tunjang oleh kontribusi lainnya.

Kata Kunci : Kontribusi Pendapatan Usaha, Pendapatan Petani

ABSTRACT
Sugar palm trees have a high economic potential because almost all of its parts can provide
financial benefits. Their fruits and water can be used as the main ingredient in making alcoholic
beverages. The people of North Sulawesi, especially in South Minahasa regency have used palm
trees as a source of livelihood by taking part of sap to produce “captikus” (high alcoholic
beverages). This study aims to find out how big the contribution of “captikus” production business
in Wiau Lapi village Tareran district south Minahasa. This research is a qualitative descriptive
study. The population in Wiau Lapi amounted to 1.674 people with 280 family and there are many
“captikus” farmers which amounted to 50 “captikus” farmers. This research was conducted within 3
months starting from February to April 2018. The location of the research took place in the Wiau
Lapi, Tareran, south Minahasa. The results of this study indicates that the contribution of
“captikus” production to farmers’ income is Rp.8,240,000 with presentation value of 78,812%. It
indicates that “captikus” production in Wiau Lapi village is profitable to be developed since
farmers have started to manage “captikus” production intensively and been supported by other
contribution.

Keywords: Contribution of business income, Revenue of farmers

PENDAHULUAN

Tanaman aren yang tumbuh di daerah tinggi karena hampir semua bagiannya
pegunungan telah lama dimanfaatkan oleh memberikan keuntungan financial. Demikian
masyarakat Sulawesi Utara sebagai sumber pula batangnya dapat menghasilkan sagu dan
mata pencaharian melalui produksi captikus. ijuk (untuk keperluan rumah tangga) yang
Pohon aren memiliki potensi ekonomi yang memiliki nilai ekonomis (Wirosuhardjo, 2009).

1
Salah satu peluang usaha tanaman budaya dan kebiasaan masyarakat lokal dalam
potensial yang dimanfaatkan oleh masyarakat mengkonsumsi “captikus” juga tergolong sangat
khususnya di Provinsi Sulawesi Utara adalah tinggi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
tanaman aren, enau atau dikenal oleh Di desa Wiau Lapi memiliki jumlah
masyarakat Minahasa Selatan adalah adalah penduduk 1,674 jiwa dengan jumlah kelompok
palma yang terpenting setalah kelapa karena keluarga 280 dan ada banyak petani pembuat
merupakan tanaman serba guna. “captikus” berdasarkan data jumlah masyarakat
Pengembangan usaha ini sangat menjanjikan. yang jumlah presentasi paling tinggi yaitu
Karena selain kekutan produksi yang baik, dengan jumlah 50 petani “captikus”.

METODE

Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan kecamatan tareran kabupaten Minahasa


mulai dari bulan Februari sampai dengan bulan Selatan. Dari karakteristik populasi akan
April tahun 2018. Tempat penelitian di menentukan jumlah sampel yang akan diteliti
laksanakan di Desa Wiau Lapi Kecamtan apabila karakteristik sampel bersifat homogen
Tareran Kabupaten Minahasa Selatan. Metode cenderung jumlah sampel sedikit atau
pengambilan sampel dilakukan secara survei sebaliknya.
terhadap petani captikus di desa wiau lapi

HASIL PENELITIAN
Karakteristik Petani Captikus

1. Umur

Tabel 1. Umur Petani Captikus


Umur (tahun) Jumlah Presentase
Responden (%)
(Orang
30-40 3 30
41-50 3 30
51-60 4 40
Total 10 100

Berdasarkan analisa data yang dilakukan dapat berumur 30-40 tahun berjumlah 3 orang atau
dilihat bahwa golongan umur responden 30%. Sehingga bisa disimpulkan jika petani
dominan adalah umur 51-60 tahun sebanyak 4 captikus di desa wiau lapi masih produktif
responden atau 40% dari total responden,untuk karena umur yang produktif berkisar di umur
petani umur 41-50 tahun berjumlah 3 orang 15-60 tahun.
atau 30% dari total responden dan petani yang

2. Tingakat Pendidikan
Tabel 2. Tingkat Pendidikan Petani
Tingkat Jumlah Presentase (%)
pendidikan Responden
SD 5 50
SLTP 4 40
SLTA 1 10
Total 10 100
Pendidikan sangat perlu captikus tingkat
bagi petani sebagai modal bagi petani dalam pendidikan petani di SLTP sebanyak 4 orang
melaksanakan usahatani proses yang di lalui atau 40% dari total responden petani captikus,
oleh seseorang untuk meningkatkan dan tingkat pendidikan petani captikus di SLTA
pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Tingkat sebanyak 1 orang atau 10% dari total
pendidikan yang dimiliki petani sangat responden petani captikus.
membantu dalam meningkatkan produksi dan Sehingga hasil menunjukkan tingkat pendidikan
pendapatan petani. Dari hasil penelitian responden pada umumnya berada pada tingkat
menunjukkan bahwa tingkat pendidikan petani dasar sebanyak 5 oarang atau 50% dari total
captikus paling banyak berada di SD sebanyak responden petani captikus di desa wiau lapi.
5 orang atau 50% dari total responden petani

2
3. Jumlah Anggota Keluarga

Tabel 3. Jumlah Anggota Keluarga Petani Captikus


Jumlah Jumlah Presentase
Anggota Responden (%)
keluarga (Orang)
2 1 10
3-4 8 80
5 1 10
Total 10 100

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan atau 10% dan responden anggota keluarga 5
bahwa jumlah responden petani captikus orang berjumlah 1 responden atau 10%.
dengan anggota keluarga 3-4 orang berjumlah Sehingga hasil penelitian menunjukkan bahwa
8 orang responden atau 80%, jumlah sebagian besar responden petani captikus di
responden anggota petani captikus dengan desa wiau lapi memiliki anggota keluarga
anggota keluarga 2 orang berjumlah 1 orang sebanyak 3-4 orang.

4. Jumlah Produksi

Tabel 4. Jumlah Produksi Captikus


Jumlah Jumlah Presentase
Produksi Petani (%)
(Jerigen/Bulan) (Orang)
≤10 2 20
≥10 8 80
Jumlah 10 100

Berdasarkan hasil penelitian jumlah produksi jumlah produksi ≤10 jerigen/bulan berjumlah 2
yang paling tinggi adalah ≥10 jerigen/bulan orang petani dengan presentase 20% dari total
adalah 8 orang petani dengan presentase 80% responden petani captikus di desa wiau lapi.
dari total responden petani captikus, untuk

5. Harga Jual
Tabel 5. Harga Jual Captikus
Harga Jual Kadar Jumlah Presentase
(Rp/Jerigen) Alkohol Petani (%)
(%) (Orang)
Rp.600,000 40 8 80
Rp.800,000 45 2 20
Jumlah 10 100

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan petani responden menjual captikus dengan


bahwa harga jual captikus dengan kadar kadar 45% ke konsumen dengan harga
alkohol 40% ke konsumen dengan harga Rp. Rp.800,000 atau sekitar 20% dari total
600,000 per jerigen berjumlah 8 orang atau responden petani captikus di desa wiau lapi.
80% dari total petani captikus. Dan 2 orang

6. Biaya Produksi Usahatani Captikus

Tabel 6. Biaya Produksi Usahatani Captikus


Komponen Biaya Jumlah (Rp) Presentase (%)
I. Biaya Tetap :
-Penyusutan Alat 347,000 0,09
Toatl Biaya Tetap 347,000 0,09
II. Biaya Variabel
-Tenaga Kerja 3,000,000 0,82
-Transportasi 300,000 0,82

3
Biaya produksi yang
Total
dimaksud
Biaya Variabel
dalam penelitian 3,300,000
menunjukkan bahwa rata-rata0,90 biaya produksi
ini adalah seluruh biaya yang digunakan
Total Biaya I + II mulai captikus perbulannya sebesar
3,647,000 100 Rp. 3,647,000
dari persiapan produksi sampai pada terdiri dari biaya tetap Rp. 347,000 dan biaya
pemasaran produksi captikus. Hasil penelitian variabel Rp. 3,300,000.

7. Penerimaan dan Pendapatan Petani Captikus Di Desa Wiau Lapi

Tabel 7. Penerimaan dan Pendapatan Petani Captikus DiDesa Wiau Lapi


Uraian Jumlah (Rp)
Penerimaan :
Kadar 40% Rp. 51,600,000
Kadar 45% Rp.12,800,000
Total Penerimaan Rp,64,400,000

Biaya Tetap Rp. 347,000


Biaya Variabel Rp.3,000,000
Total Pendapatan Rp. 3,300,000
Total Pendapatan Rp.6,300,000
Rata-Rata Pendapatan Rp. 7,070,000

Berdasarkan Gambar 7 diatas menunjukkan total penerimaan dari responden petani


bahwa hasil penerimaan dan pendapatan captikus Rp.64,400,000. Biaya produksi yang
captikus dengan kadar 40% sebesar terdiri dari biaya variabel sebesar
Rp.51,600,000 dengan total responden petani 8 Rp.3,300,000. Hasil penelitian menunjukkan
orang atau 80%, petani yang menjual dari bahwa pendapatan yang di terima petani
setiap petani yang menjual captikus 45% captikus perbulan rata-rata sebesar Rp.
mendapatkan penerimaan Rp.12,800,000 7,070,000 adalah 10 jerigen yang berisi 25 liter
dengan responden 2 orang petani, sehingga captikus.

8. Kontribusi Usahatani captikus atau usaha lainnya

Tabel 8. Kontribusi Usahatani atau Usaha Lainnya


No Pendapatan Pendapatan Pendapatan Kontribusi
Usaha Usaha Lain Total Pendapatan
Captikus (%)
(Rp)
1 6,400,000 2,000,000 8,400,000 76,19
2 6,400,000 2,000,000 8,400,000 76,19
3 7,200,000 1,000,000 8,200,000 87,8
4 6,000,000 1,000,000 7,000,000 85,71
5 7,200,000 5,000,000 12,200,000 59,07
6 6,000,000 2,000,000 8,000,000 75
7 6,000,000 1,000,000 7,000,000 85,71
8 6,000,000 1,000,000 7,000,000 85,71
9 6,000,000 2,000,000 8,000,000 75
10 7,200,000 1,000,000 8,200,000 87,8
∑ 64,400,000 18,000,000 82,400,000 788,12
Rata-rat 6,440,000 1,800,000 8,240,000 78,812

Pendapatan dari sektor pertanian dapat rata-rata dari kontribusi tersebut adalah
memberikan sumbangan atau kontribusi Rp.1,800,000 per bulannya, Jadi jumlah
terhadap pendapatan total rumah tangga kontribusi pendapatan petani untuk 10
petani. Berdasarkan tabel di atas menunjukkan responden petani captikus adalah Rp.
bahwa pendapatan petani captikus adalah Rp. 82,400,000 untuk 10 responden petani
64,400,000 untuk 10 responden petani captikus.
captikus, jadi pendapatan petani captikus rata- Jadi total pendapatan rata-rata petani captikus
rata Rp. 6,440,00 per bulannya, sedangkan adalah Rp.82,400,000 dan biaya penerimaan
kontribusi usaha lainnya adalah Rp. 18,000,000 rata-rata Rp. 8,240,000 dengan nilai presentase
untuk 10 responden petani captikus dan biaya 78,812%.
PEMBAHASAN

4
Dari hasil analisis kedua variabel dengan 4. Jumlah Produksi
menggunakan analisis kualitatif ada beberapa 5. Harga Jual
faktor yang mempengaruhi : 6. Biaya Produksi
1. Umur 7. Penerimaan dan Penerimaan
2. Tingkat Pendidikan 8. Kontribusi Usaha
3. Jumlah Anggota Keluarga 9. Jenis Usaha Lain

1. Umur dibawah suatu atap dalam keadaan saling


Menurut peneliti salah satu faktor yang ketergantungan.
mempengaruhi kemampuan fisik seseorang Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa
bahkan menentukan gerak kondisi fisik jumlah anggota keluarga 3-4 orang
adalah faktor umur. berjumlah 8 orang atau 80%, jumlah
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat anggota keluarga 2 orang berjulah 1 orang
bahwa dominan adalah umur 51-60 tahun atau 10%, dan anggota keluarga 5 orang
sebanyak 4 responden atau 40%, dan umur berjumlah 1 orang atau 10%. Sehingga
41-51 tahun sebanyak 3 responden atau dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
30%, dan umur 30-40 tahun sebanyak 3 memiliki anggota keluarga sebanyak 3-4
responden atau 30%. Sehingga dapat orang atau 80%.
disimpulkan umur produktif berkisar di umur Hal ini di dukung oleh teori (Hasyim, 2006)
51-60 tahun. mengatakan banyaknya jumlah tanggungan
Hal ini di dukung teori dari (Mulyasa, keluarga akan mendorong petani melakukan
2003) mengatakan bahwa perkembangan banyak aktifitas terutama dalam mencari
kemampuan bepfikir terjadi seiring dengan dan menambah pendapatan keluarga.
bertambahnya umur, menunjukkan bahwa
semakin tua umur seorang petani akan1. 4. Jumlah Produksi
semakin menambah pengalaman dan Menurut peneliti jumlah produksi
semakin bertambah kompetensi petani adalah menciptakan, menghasilkan, dan
tersebut dalam berusaha tani. membuat suatu produk untuk meningkatkan
2. Pendidikan suatu pendapatan atau hasil dari petani.
Menurut peneliti pendidikan merupakan Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa
proses yang dilalui oleh seseorang untuk jumlah produksi yang paling tinggi adalah ≥
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan 10 jerigen adalah 8 orang petani dengan
dan sikap. presentase 70%, dan jumlah produksi ≤10
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat jerigen adalah 2 orang petani dengan
bahwa tingkat pendidikan paling banyak presentase 20%. Sehingga dapat
berada di SD sebanyak 5 orang atau 50%, disimpulkan jumlah produksi paling banyak
tingkat pendidikan SLTP sebanyak 4 orang adalah ≥10 jerigen dengan responden 8
atau 40%, dan tingkat pendidikan SLTA orang dengan presentase 80%.
sebanyak 1 orang atau 10%. Sehingga Hal ini di dukung oleh teori (Soekartiwi,
dapat disimpulkan tingkat pendidikan paling 2010) produktivitas dipengaruhi oleh faktor
banyak berada di SD sebanyak 5 orang atau kesulitan dalam usaha meningkatkan
50%. kesejahteraan hidupnya dapat berupa
Hal ini di dukung oleh teori (Machfoedz, modal,rendahnya tingkat pendidikan dan
2012) yang mengatakan bahwa pendidikan rendahnya tingkat produksi petani.
mengajarkan pada individu aneka macam
kemampuan untuk berfikir dan bertindak2. 5. Harga Jual
dalam memenuhi setiap kebutuhan Menurut peneliti harga jual adalah nilai
pekerjaannya dengan upaya peningkatan yang telah disepakati antara pembeli dan
taraf hidup petani. penjual suatu produk yang memuaskan
keinginan konsumen.
3. Jumlah Anggota Keluarga Berdasarkan tabel 5 harga jual captikus
Menurut peneliti keluarga adalah unit dengan kadar 40% sebesar Rp. 600,000 per
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas jerigen, dimana 1 jerigen berisi 25 liter
kepala keluarga dan beberapa orang yang captikus, 1 liter captikus dengan kadar 40%
terkumpul dan tinggal disuatu tempat dijual dengan harga Rp.24,000 berjumlah 8
orang atau 80%. Captikus dengan kadar

5
45% di jual dengan harga Rp. 800,000 per alkohol 45% dengan harga jual Rp.800,000
jerigen,di mana 1 jerigen berisi 25 liter per jerigen.
captikus, 1 liter captikus dengan kadar Hal ini didukung oleh teori (Anastasia, 2017)
alkohol 45% dijual dengan harga Rp.32,000 Mengatakan bahwa peranan alokasi harga
berjumlah 2 orang petani atau 20%. sangat berfungsi dalam membantu para
Sehingga dapat disimpulkan harga jual pembeli dan penjual untuk memperoleh atau
captikus yang paling tinggi adalah kadar jasa terlebih pada distribusi pertanian.
hasil yang baik sehingga penerimaan dan
6. Biaya Produksi pendapatan petani dapat mencukupi
Menurut peneliti biaya produksi adalah beragam kebutuhan.
biaya yang sangat menentukan proses
produksi suatu barang yang dihasilkan. 8. Kontribusi Usaha Tani
Berdasarkan tabel 6 biaya produksi Menurut peneliti pendapatan dari sektor
menunjukkan bahwa komponen biaya tetap pertanian dapat memberikan sumbangan
hannya membutuhkan sekitar 1,05% adalah atau kontribusi terhadap pendapatan total
biaya penyusutan alat sebesar Rp. 347,000, rumah tangga petani.
biaya variabel yang meliputi biaya tenaga Berdasarkan tabel 8 total pendapatan
kerja sebesar Rp.3,000,000 atau 1,21%, petani captikus adalah Rp 64,400,000 untuk
biaya transportasi sebesar Rp.300,000 atau 10 responden petani, pendapatan petani
12,15%. Sehingga bisa disimpulkan untuk rata-rata Rp.6,440,000 per bulannya,
memproduksi 1 jerigen (25 liter) captikus di kontribusi lainnya Rp.18,000,000
perlukan biaya produksi sebesar pendapatan petani rata-rata Rp.1,800,000
Rp.3,647,000. per bulannya. Jumlah kontribusi
Hal ini di dukung oleh teori (Soekartiwi, pendapatani petani Rp.82,400,000 untuk 10
2012) efisiensi akan tercapai bila petani responden dengan biaya rata-rata
mampu mengalokasikan faktor produksi Rp.8,240,000 dengan presentase 78,812%.
sedemikian rupa sehingga produksi tinggi Sehingga bisa disimpulkan kontribusi
tercapai, bila petani mendapat keuntungan usahatani captikus adalah Rp.8,240,000
besar dalam usahataninya dikatakan bahwa dengan presentase 78,812%.
alokasi faktor produksi efisien secara Hal ini di dukung oleh (Mulyadi, 2007)
alokatif. mengatakan bahwa keberhasilan dan
kesuksesan usahatani dapat dilihat dari
7. Penerimaan dan Pendapatan besarnya kontribusi pendapatan yang
Menurut peneliti penerimaan dan dihasilkan dari kontribusi usahatani atau
pendapatan dilapangan pertanian usaha lainnya.
tergantung pada seberapa besar
pendapatan petani. 9. Jenis Usaha Lainnya
Berdasarkan tabel 7 bahwa hasil Menurut peneliti selain mengusahakan
penerimaan dan pendapatan dari setiap produksi captikus petani juga melakukan
petani yang menjual captikus dengan kadar usaha lain untuk menunjang kontribusi
alkohol 40% sebesar Rp.51,600,000 pendapatan petani dalam menunjang taraf
dengan total responden 8 orang petani. hidup keluarga petani captikus.
Menjual captikus dengan kadar 45% Berdasarkan tabel 9 menunjukkan total
sebesar Rp.12,800,000 dengan 2 pendapatan usaha lainnya adalah
responden. Sehingga penerimaan sebesar Rp.18,000,000 untuk 10 responden, dengan
Rp64,400,000. Biaya tetap sebesar Rp. biaya rata-rata kontribusi Rp.1,800,000.
347,000 dan biaya variabel sebesar Sehingga dapat disimpulkan hasil ini bisa
Rp.3,300,000. Sehingga dapat disimpulkan membantu kontribusi pendapatan dalam
hasil pendapatan yang diperoleh petani keluarga petani captikus.
captikus di desa Wiau Lapi sebesar
Rp.7,070,000.
Hal ini di dukung oleh teori (Anastasia,
2015) mengatakan bahwa pendapatan yang
timbul dari penjualan harus memperoleh

KESIMPULAN

6
1. Usahatani captikusyang dilaksanakan di menguntungkan dan layak untuk
desa Wiau Lapi dapat memberikan dikembangkan.
keuntungan yang besar bagi para petani 2. Penjualan captikus biasanya menggunakan
yang mengusahakannya dengan jerigen yang berisi 25 liter captikus.
mendapatkan keuntungan yang bervariasi Pendapatan yang diterima oleh petani yang
sesuai daengan jumlah produksi dengan mengusahakan captikus dengan kadar
kadar alkohol yang dijual. Hal ini juga alkohol 45% mendapatkan sebesar
ditunjukkan lewat biaya kontribusi Rp.800,000 per jerigen atau Rp.32,000 per
pendapatan usaha petani captikus yaitu liter. Captikus dengan kadar alkohol 40%
Rp.8,240,000 perbulan dengan nilai mendapatkan sebesar Rp.600,000 atau
presentase 78,812%. Hasil yang Rp.24,000 per liter.
menunjukkan bahwa usahatani captikus

SARAN

Perlu adanya peningkatan produksi captikus tersebut yang sampai saat ini masi belum ada
sehingga bisa menambahkan pendapatan dari kejelasan tentang peraturan yang mengatur
petani captikus dan diharapkan pemerintah produksi captikus sehingga menyebabkan
agar dapat mendukung para petani captikus petani captikus kurang mendapatkan perhatian
dalam dalam menggembangkan usahatani dari pemerintah.

Daftar Pustaka

Anastasia, 2017. Akuntansi Keuangan Machfoedz, 2012. Penyuluhan Pembangunan


Menengah. Yogyakarta : C.V Andi Offset. Pertanian. Surakarta (ID) : 11 Maret
University Press.
Anastasia, 2015. Efesiensi Penerimaan dan
Pendapatan Aset Daerah (PAD) Sub Mulyadi, 2007. Akuntansi Biaya. Edisi ke-5
Sektor Pariwisata Kabupaten di yogyakarta : Graha Ilmu.
Yogyakarta 2008-2012. Jurnal Organisasi
dan Manajemen. Soekartiwi, 2010. Prinsip Dasar Ekonomi
Pertanian. Teori dan Aplikasi. Rajawali
Hasyim, 2006. Sosial Keluarga dalam Press. Jakarta
Pendapatan. Pt. Bumi Aksara.
Soekartiwi, 2012. Efesiensi Biaya Produksi.
Mulyasa, 2003. Kurikulum Berbasis Rajawali Press. Jakarta
Kompetensi : Konsep, Karakteristik, dan
Implementasi. Bandung (ID) : : Remaja Wirosuhardjo, 2009. Pengembangan
Rosdakarya. Pemanfaatan Tanaman. Rinerka Cipta.
Jakarta