Anda di halaman 1dari 5

PRAKTIKUM TITRASI ASAM BASA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN

Yasmine Almira Fitriyani (240210170075)

Departemen Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran, Jatinangor


Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21, Jatinangor, Sumedang 40600 Telp. (022)
7798844, 779570 Fax. (022) 7795780 Email: yasmineaf66@gmail.com

ABSTRAK

Abstrak

Keywords:

PENDAHULUAN

Pendahuluan

METODOLOGI

Dalam praktikum ini, dilakukan 3 pengujian, yaitu penentuan kadar NH 3 pada pupuk
dengan cara destilasi, standarisasi HCl terhadap Na 2CO3, dan standarisasi NaOH terhadap HCl.
Untuk menentukan kadar NH3 pada pupuk dengan cara destilasi, alat-alat yang dibutuhkan adalah
alat destilasi, buret 50 ml, labu erlenmeyer 100 ml dan volume pipet 10 ml. Bahan-bahan yang
diperlukan adalah larutan HCl 0,1 N, larutan NaOH 0,1 N, indikator metil merah, NaOH 20% dan
larutan (NH4)2SO4. 10 ml larutan pupuk amonium sulfat diambil dengan pipet, kemudian
dimasukkan ke dalam alat destilasi. Setelah larutan pupuk dimasukkan ke dalam alat destilasi,
larutan NaOH 20% dimasukkan ke dalam alat destilasi sebanyak 20 ml. Kemudian, disiapkan 25 ml
HCl 0,1 N sebagai penampung destilat. Destilasi dilakukan hingga NH 3 pada larutan yang
didestilasi habis, dan destilat yang ditampung tidak lagi berada pada suasana basa. Kemudian
ditambahkan 3 tetes larutan indikator metil merah pada destilat untuk dititrasi dengan larutan NaOH
sampai destilat berubah warna dari merah ke orange.
Pada standarisasi HCl terhadap Na 2CO3 anhidrous, pertama dibuat larutan HCl 0,1 N dan
larutan metil orange. Untuk membuat larutan HCl 0,1 N, sebanyak 8,33 ml HCl pekat (12 N)
diambil dengan pipet, kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 1000 ml berisi akuades. Labu
kemudian ditambahkan akuades lagi sampai tercapai tanda batas, dan larutan HCl dikocok sampai
homogen. Untuk membuat larutan metil orange, indikator metil orange ditimbang sebanyak 1 gr
dalam botol timbang. Indikator kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 100 ml secara kuantitatif
dan ditambahkan alkohol 70% ke dalam labu sampai tanda batas. Larutan kemudian dikocok
sampai homogen. Setelah larutan HCl 0,1 N dan larutan metil orange dibuat, larutan Na 2CO3 dapat
distandarisasi. 10 ml larutan Na 2CO3 anhidrous 0,1 N diambil dengan pipet, dan dimasukkan ke
dalam labu erlenmeyer 100 ml. Ke dalam labu erlenmeyer kemudian ditambahkan 3 tetes larutan
indikator metil orange. Larutan Na2CO3 kemudian dititrasi dengan larutan HCl 0,1 N hingga
indikator berubah warna dari orange menjadi merah terang.
Pada standarisasi NaOH terhadap HCl, HCl standar dipipet sebanyak 10 ml, kemudian
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 100 ml. Larutan HCl kemudian ditambahkan 3 tetes
indikator PP 1%. Larutan HCl kemudian akan berwarna merah muda pekat. HCl kemudian dititrasi
dengan menggunakan NaOH sampai warna larutan berubah dari merah muda pekat menjadi merah
muda berbayang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Larutan Primer dan Sekunder


Larutan standar primer adalah larutan yang dibuat dari senyawa yang telah diketahui secara
pasti konsentrasinya, sehingga dapat digunakan untuk mengukur konsentrasi larutan senyawa lain
yang belum diketahui (Vogel, 1939). Pembuatan larutan standar primer dilakukan dengan cara
menimbang beberapa gram dari senyawa yang akan digunakan sebagai standar, dan
mengencerkannya dalam air akuades. Senyawa yang akan digunakan sebagai larutan standar harus
bersifat non-higroskopis. Maka dari itu, senyawa harus memiliki massa molekul yang relatif tinggi,
sehingga senyawa akan tahan terhadap oksidasi dan perubahan komposisi dari kontak dengan udara.
Senyawa harus mudah larut, mudah didapatkan dan disimpan dalam keadaan murni, mudah
dimurnikan kembali, dan mudah dikeringkan, serta dapat digunakan untuk menguji kemurnian
senyawa lain secara kualitatif.
Larutan standar sekunder adalah larutan yang dapat digunakan untuk standarisasi, namun
konsentrasinya tidak diketahui dengan menimbang senyawa sebelum pembuatan larutan standar,
melainkan setelah dilakukan titrasi dengan larutan standar primer dalam perbandingan volume
tertentu (Vogel, 1939). Pada umumnya, konsentrasi larutan standar sekunder lebih rendah dari
konsentrasi larutan primer.

Penambahan Asam pada Air


Dalam pembuatan larutan asam, dilarang menambahkan air ke dalam wadah yang telah
berisi asam. Pembuatan larutan asam dilakukan dengan cara menyediakan wadah yang telah berisi
air, dan kemudian ditambahkan asam. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya reaksi eksplosif
yang disebabkan oleh timbulnya energi. Air yang diteteskan ke asam akan menghasilkan energi
yang cukup kuat, sehingga air yang ditambahkan akan mendidih. Energi yang dihasilkan juga cukup
kuat untuk menyebabkan asam menyembur keluar wadah dan mengenai pengguna laboratorium
(Warekois, 2002). Reaksi antara air dan asam ini tidak akan terjadi apabila asam ditambahkan ke
dalam air.

Penggunaan Na2CO3 Anhidrous

Pengubahan Senyawa Hidrous Menjadi Anhidrous


Senyawa hidrous dapat diubah menjadi senyawa anhidrous dengan cara dipanaskan hingga
tidak lagi ada uap air yang keluar dari kristal senyawa tersebut. Pada saat senyawa berada dalam
kondisi anhidrous, senyawa bersifat higroskopis. Reaksi ini bersifat reversibel, atau dapat
berlangsung dua arah. Senyawa yang telah dikeringkan dan menjadi senyawa anhidrous dapat
berubah kembali menjadi senyawa hidrous dengan cara disiram dengan air, dan dibiarkan hingga
kering secara alami dan membentuk kristal dengan sendirinya.

Penggunaan Metil Orange pada Standarisasi HCl terhadap Na2CO3


Dalam standardisasi HCl terhadap Na 2CO3, digunakan indikator metil orange. Penggunaan
indikator ditentukan oleh target pH yang dimiliki oleh indikator tersebut. Indikator metil orange
memiliki target pH antara 3,1 – 4,4. Dalam suasana asam, indikator metil orange akan berwarna
merah, dan dalam suasana basa, indikator metil orange akan berwarna kuning. Karena Na 2CO3
adalah garam natrium yang terbuat dari asam, ketika dilarutkan dalam air, Na 2CO3 akan berdisosiasi
menjadi H2CO3 dan NaOH. Untuk mempermudah pembedaan warna saat tercapai titik ekivalen,
digunakan metil orange yang akan berubah warna dari oranye pada suasana basa, menjadi merah
pada suhu asam setelah ditambahkan titran HCl.

Titik Akhir Titrasi dan Titik Ekivalen


Terdapat dua istilah yang sering digunakan dalam titrasi untuk menentukan konsentrasi
suatu larutan, yaitu titik akhir titrasi dan titik ekivalen. Titik akhir titrasi adalah titik atau saat
dimana indikator yang ditambahkan ke larutan analit mengalami perubahan warna akibat dari
perubahan pH yang terjadi pada larutan analit (Kenkel, 2003). Perubahan warna ini seringkali
terjadi pada saat larutan analit dan larutan titran hampir berada dalam kesetimbangan atau pada titik
ekivalen. Titik ekivalen adalah suatu titik titrasi dimana larutan analit bereaksi secara
kesetimbangan dengan larutan analit yang ditambahkan ke dalam labu erlenmeyer yang digunakan
sebagai wadah larutan analit. Penambahan titran dihentikan ketika sudah tercapai titik ekivalen, dan
penghentian harus tepat pada saat indikator mulai menunjukkan perubahan warna.

Reaksi Na2CO3 dengan HCl

Perbedaan Hasil

Penggunaan Indikator PP pada Standarisasi NaOH terhadap HCl


Indikator Fenolftalein (PP) adalah indikator yang bekerja dengan baik pada suasana basa,
karena target pH indikator PP adalah 8,2 – 10,0. Indikator ini digunakan untuk menandakan bahwa
pada titrasi, sudah tercapai titik ekivalen dengan adanya perubahan warna dari merah muda pekat ke
merah muda berbayang. Perubahan warna tersebut disebabkan oleh adanya kenaikan pH dari
suasana asam ke suasana basa, sehingga warna merah muda memudar.

Titrasi Langsung dan Titrasi Tidak Langsung

Penambahan NaOH di Awal Destilasi


Penambahan larutan basa pada awal destilasi NH 3 adalah suatu tahapan dalam metode
penentuan kadar nitrogen dalam suatu senyawa oleh Kjeldahl. Larutan yang mengandung sulfat
didestilasi dengan tambahan larutan yang bersifat basa untuk meningkatkan titik didih larutan yang
akan didestilasikan.

Penggunaan Metil Merah

Reaksi Kadar NH3 Pada (NH4)2SO4

Pembahasan Hasil dan Penentuan Kadar NH3

KESIMPULAN
Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Jeffery, G.H., J. Bassett, J. Mendham dan R.C. Denney. 1989. Vogel’s Textbook of Quantitative
Chemical Analysis. Longman Scientific & Technical, Essex.
Kenkel, J. 2003. Analytical Chemistry for Technicians Third Edition. CRC Press, Florida.
McPherson, P. 2015. Practical Volumetric Analysis. Royal Society of Chemistry, Cambridge.
Warekois, R.S., R. Robinson dan Pamela B.P. 2017. Phlebotomy Worktext and Procedures Manual.
Elsevier, Missouri.

LAMPIRAN