Anda di halaman 1dari 16

PERATURAN DIREKTUR

RUMAH SAKIT HARAPAN MULIA


NOMOR 001/SK-DIR/RSHM/I/2018

TENTANG
PERATURAN TATA KELOLA STAF KEPERAWATAN
(NURSING STAFF BYLAWS)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DIREKTUR RUMAH SAKIT HARAPAN MULIA

Menimbang: bahwa untuk melaksanakan Peraturan tentang Tata Kelola


Rumah Sakit Harapan Mulia, perlu menetapkan Peraturan Tata
Kelola Staf Keperawatan (Nursing Staff Bylaws) Rumah Sakit
Harapan Mulia;

Mengingat: 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


Tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
Tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia.
Tahun 2009 Nomor 153);
3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004
Tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 116).
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014
Tentang Keperawatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 307, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5612);
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014
Tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5607);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3637);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4502);
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
920/Menkes/Per/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan
Swasta di Bidang Medik;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
HK.02.02/MENKES/148/I/2010 tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 17 Tahun 2013
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 473);
10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
1796/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Registrasi Tenaga
Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 603);
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 49
Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan Rumah Sakit;
12. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
129/Menkes/SK/II/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit;
13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
369/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT HARAPAN
MULIA TENTANG PERATURAN TATA KELOLA STAF
KEPERAWATAN

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Rumah sakit adalah Rumah Sakit Harapan Mulia
2. Pemilik adalah PT.Allikhlas.
3. Direksi adalah Pejabat Pengelola Rumah Sakit Harapan Mulia, yang terdiri
dari Direktur dan Wakil Direktur.
4. Peraturan Tata Kelola Korporasi (Corporte Bylaws) adalah peraturan yang
mengatur rumah sakit sebagai korporasi yang mengatur peran, tanggung
jawab, tugas dan kewajiban, kewenangan dan hak Pemilik, Dewan
Pengawas, Direktur, Staf Medis dan Keperawatan serta hubungan antar
unsur-unsur tersebut.
5. Profesional kesehatan adalah mereka yang telah mendapat pendidikan
formal sehingga memiliki kompetensi untuk melaksanakan fungsi pelayanan
kesehatan berdasarkan ilmu, ketrampilan, dan prilaku sesuai dengan moral,
etika, dan hukum.
6. Pelayanan Kesehatan adalah setiap kegiatan pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada perseorangan; terdiri atas upaya kesehatan promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif.
7. Pelayanan keperawatan adalah asuhan keperawatan yang dilakukan oleh
perawat atau bidan guna menunjang pelayanan medis.
8. Unit Pelayanan adalah unit yang menyelenggarakan upaya kesehatan; terdiri
dari rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, rawat intensif, kamar operasi,
kamar bersalin, radiologi, laboratorium, rehabilitasi medis dan lain-lain.
9. Komite Keperawatan adalah wadah non-struktural rumah sakit yang
mempunyai fungsi utama mempertahankan dan meningkatkan
profesionalisme tenaga keperawatan melalui mekanisme kredensial,
penjagaan mutu profesi, dan pemeliharaan etika dan disiplin profesi.
10. Kewenangan Klinis tenaga keperawatan adalah uraian intervensi
keperawatan dan kebidanan yang dilakukan oleh tenaga keperawatan
berdasarkan area praktiknya.
11. Kredensial adalah proses evaluasi terhadap tenaga keperawatan untuk
menentukan kelayakan pemberian Kewenangan Klinis.
12. Rekredensial adalah proses re-evaluasi terhadap tenaga keperawatan yang
telah memiliki Kewenangan Klinis untuk menentukan kelayakan pemberian
Kewenangan Klinis tersebut.
13. Penugasan Klinis adalah penugasan Direktur Rumah Sakit kepada tenaga
keperawatan untuk melakukan asuhan keperawatan atau asuhan kebidanan
di Rumah Sakit tersebut berdasarkan daftar Kewenangan Klinis.
14. Audit Keperawatan adalah upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu
pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan menggunakan
rekam medisnya yang dilaksanakan oleh profesi perawat dan bidan.
15. Mitra Bestari adalah sekelompok tenaga keperawatan dengan reputasi dan
kompetensi yang baik untuk menelaah segala hal yang terkait dengan tenaga
keperawatan.
16. Buku Putih adalah dokumen yang berisi syarat-syarat yang harus dipenuhi
oleh tenaga keperawatan yang digunakan untuk menentukan Kewenangan
Klinis.

BAB II
PERATURAN TATA KELOLA STAF KEPERAWATAN
Bagian Kesatu
Maksud dan Tujuan

Pasal 2
Peraturan Tata Kelola Staf Keperawatan dimaksudkan untuk menciptakan suatu
kerangka kerja (framework) agar setiap staf keperawatan dapat melaksanakan
fungsi profesionalnya dengan baik guna menjamin terlaksananya mutu layanan
keperawatan sebagaimana yang diharapkan oleh semua pihak.

Pasal 3
Peraturan Tata Kelola Staf Keperawatan bertujuan:
a. mewujudkan layanan keperawatan bermutu tinggi berbasis keselamatan
pasien (patient safety);
b. memungkinkan dikembangkannya berbagai macam peraturan bagi staf
keperawatan guna menjamin mutu profesionalnya;
c. menyediakan forum bagi pembahasan isu-isu menyangkut staf
keperawatan; dan
d. mengontrol serta menjamin agar berbagai peraturan mengenai staf
keperawatan sesuai dengan kebijakan Pemerintah Daerah yang dituangkan
dalam Peraturan Tata Kelola Korporasi (Corporate Bylaws) serta peraturan
perundang-undangan.

Bagian Kedua
Organisasi Staf Keperawatan dan Tanggung jawab

Pasal 4
(1) Organisasi staf keperawatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dengan rumah sakit.
(2) Organisasi staf keperawatan rumah sakit bertanggung jawab dan berwenang
menyelenggarakan pelayanan keperawatan di rumah sakit dalam rangka
membantu pencapaian tujuan pemerintah di bidang kesehatan.

Bagian Ketiga
Pengangkatan dan Pengangkatan Kembali Staf Keperawatan

Pasal 5
(1) Keanggotaan staf keperawatan merupakan previlege yang dapat diberikan
kepada perawat atau bidan yang secara terus menerus mampu memenuhi
kualifikasi, standar dan persyaratan yang ditentukan.
(2) Keanggotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tanpa
membedakan ras, agama atau kepercayaan, warna kulit, jenis kelamin,
keturunan, status ekonomi dan pandangan politisnya.

Pasal 6
Untuk dapat bergabung dengan rumah sakit sebagai staf keperawatan maka
perawat atau bidan harus memiliki kompetensi yang dibuktikan dengan Surat
Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik Perawat (SIPP) atau Surat Izin
Praktek Bidan (SIPB), kesehatan jasmani dan rohani yang laik (fit) untuk
melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya serta memiliki prilaku dan moral
yang baik.
Pasal 7
Tatalaksana pengangkatan dan pengangkatan kembali staf keperawatan rumah
sakit adalah dengan mengajukan permohonan kepada Direktur, dan selanjutnya
Direktur dengan mempertimbangkan rekomendasi dari Komite Keperawatan
dapat mengabulkan atau tidak mengabulkan permohonan tersebut.

Pasal 8
Masa kerja staf keperawatan rumah sakit adalah:
a. untuk staf keperawatan organik sampai memasuki masa pensiun sesuai
ketentuan yang berlaku;
b. untuk staf keperawatan mitra selama 2 (dua) tahun dan dapat diangkat
kembali untuk beberapa kali masa kerja berikutnya sepanjang yang
bersangkutan masih memenuhi persyaratan; dan
c. untuk staf keperawatan relawan (voluntir) selama 1 (satu) tahun dan dapat
diangkat kembali untuk beberapa kali masa kerja berikutnya sepanjang yang
bersangkutan masih menghendaki dan memenuhi semua persyaratan.

Pasal 9
Bagi staf keperawatan organik yang sudah pensiun sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 huruf a dapat diangkat kembali sebagai staf keperawatan berstatus mitra
atau relawan sepanjang yang bersangkutan menginginkan dan memenuhi
persyaratan.

Bagian Keempat
Kategori Staf Keperawatan

Pasal 10
Kategori staf keperawatan rumah dikelompokkan menjadi:
a. Staf organik, yaitu perawat atau bidan tetap, berkedudukan sebagai sub-
ordinat, bekerja untuk dan atas nama rumah sakit, dan tanggunggugatnya
dapat dialihkan kepada lembaga tersebut;
b. Staf mitra, yaitu perawat atau bidan yang bergabung sebagai mitra,
berkedudukan setara dengan rumah sakit, bertanggungjawab secara mandiri,
dan tanggunggugatnya dapat dipikul bersama dengan rumah sakit (joint
liability);
c. Staf relawan, yaitu perawat atau bidan yang menyumbangkan tenaga dan
pikirannya secara sukarela, bekerja untuk dan atas nama rumah sakit, dan
tanggunggugatnya dapat dialihkan kepada rumah sakit; dan
d. Staf tamu, yaitu perawat atau bidan yang tidak tercatat sebagai staf rumah
sakit, tetapi karena reputasi dan atau keahliannya diundang secara khusus
untuk membantu menangani kasus-kasus yang tidak mampu ditangani sendiri
oleh staf yang ada di rumah sakit atau untuk mendemonstrasikan keahlian
tertentu dalam rangka alih teknologi.

Bagian Kelima
Kewenangan Klinik

Pasal 11
(1) Setiap perawat atau bidan yang bekerja di rumah sakit sebagai staf
keperawatan fungsional, diberikan kewenangan klinik (clinical privilege)
oleh Direktur setelah mempertimbangkan rekomendasi dari Komite
Keperawatan.
(2) Penentuan kewenangan klinik didasarkan atas jenis ijasah, sertifikat
kompetensi dan pengalaman dari masing-masing staf keperawatan yang
bersangkutan.

Pasal 12
Kewenangan klinik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) akan
dievaluasi secara terus menerus untuk ditentukan apakah kewenangan yang telah
diberikan dapat dipertahankan, diperluas, dipersempit atau dicabut secara
keseluruhan.

Pasal 13
(1) Dalam hal dikehendaki agar kewenangan kliniknya diperluas maka staf
keperawatan fungsional yang bersangkutan harus mengajukan permohonan
kepada Direktur dengan menyebutkan alasannya serta melampirkan bukti
pendukung berupa sertifikat pelatihan dan/ atau pendidikan dari lembaga
yang berwenang.
(2) Direktur berwenang mengabulkan atau tidak mengabulkan permohonan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah mempertimbangkan
rekomendasi dari Komite Keperawatan.
(3) Setiap permohonan perluasan kewenangan klinik yang disetujui atau ditolak
harus dituangkan dalam Surat Keputusan Direktur dan disampaikan kepada
pemohon.

Pasal 14
Kewenangan klinik sementara (temporary clinical previlege) dapat diberikan
kepada Staf Tamu atau Staf Pengganti dengan memperhatikan rekomendasi dari
Komite Keperawatan.

Pasal 15
Dalam keadaan emergensi atau bencana yang menimbulkan banyak korban maka
setiap staf keperawatan rumah sakit diberikan kewenangan klinik darurat
(emergency privilege) guna memungkinkan yang bersangkutan dapat melakukan
tindakan penyelamatan di luar kewenangan klinik regulernya, sepanjang yang
bersangkutan mampu melakukan.

Bagian Keenam
Pembinaan

Pasal 16
Dalam hal staf keperawatan dinilai kurang mampu atau melakukan tindakan klinik
yang tidak sesuai dengan Standar Prosedur Operasional atau kewenangan
kliniknya sehingga menimbulkan cidera, kecacatan, kematian, atau kerugian pada
pasien maka Sub-Komite Etik dan Disiplin Profesi dapat melakukan penelitian.

Pasal 17
(1) Bilamana hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
membuktikan kebenarannya maka Sub-Komite Etik dan Disiplin Profesi
melaporkan kepada Komite Keperawatan dan selanjutnya Komite tersebut
dapat mengusulkan kepada Direktur untuk mengenakan sanksi
administratif.
(2) Pemberlakuan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dituangkan
dalam bentuk Keputusan Direktur dan disampaikan kepada staf keperawatan
yang bersangkutan dengan tembusan kepada Komite Medik.
(3) Dalam hal staf keperawatan tidak dapat menerima sanksi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) maka yang bersangkutan dapat mengajukan
sanggahan secara tertulis dalam waktu 15 (lima belas) hari sejak diterimanya
Surat Keputusan, dan selanjutnya Direktur memiliki waktu selama 15 (lima
belas) hari untuk memutuskan secara adil dan seimbang dengan
mengundang semua pihak yang terkait.
(4) Penyelesaian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan
mengikat.

Bagian Ketujuh
Pengorganisasian Staf Keperawatan

Pasal 18
Semua staf keperawatan yang melaksanakan asuhan keperawatan di unit-unit
pelayanan rumah sakit, termasuk unit-unit pelayanan yang melakukan kerjasama
operasional dengan rumah sakit, wajib menjadi anggota staf keperawatan rumah
sakit.

Pasal 19
Dalam melaksanakan tugasnya, staf keperawatan dikelompokkan sesuai bidang
spesialisasi/ keahliannya atau dikelompokkan menurut cara lain berdasarkan
pertimbangan yang bersifat khusus.

Pasal 20
Kelompok staf keperawatan rumah sakit bertugas:
a. melaksanakan kegiatan profesi yang komprehensif meliputi upaya kesehatan
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif;
b. membuat catatan keperawatan sesuai fakta, tepat waktu dan akurat;
c. meningkatkan kemampuan profesionalnya melalui program pendidikan
dan/ atau pelatihan berkelanjutan;
d. menjaga agar kualitas pelayanan sesuai standar profesi, standar asuhan
keperawatan, dan etika keperawatan; dan
e. menyusun, mengumpulkan, menganalisa dan membuat laporan pemantauan
indikator mutu klinik.

Pasal 21
Kelompok staf keperawatan rumah sakit bertanggungjawab:
a. melakukan evaluasi atas kinerja staf keperawatan berdasarkan data yang
komprehensif;
b. memberikan rekomendasi melalui Ketua Komite Keperawatan kepada
Direktur terhadap permohonan penempatan ulang staf keperawatan di rumah
sakit untuk mendapatkan surat keputusan Direktur;
c. memberikan masukan melalui Ketua Komite Keperawatan kepada Direktur
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan asuhan keperawatan; dan
d. melakukan perbaikan standar prosedur operasional serta dokumen-dokumen
terkait.

Pasal 22
Kelompok staf keperawatan rumah sakit berwenang:
a. melakukan anamnesis untuk memperoleh riwayat kesehatan pasien yang
akurat;
b. memeriksa dengan semua indera serta alat bantu guna memastikan status
kesehatan pasien;
c. mengevaluasi dan membuat kesimpulan yg valid kaitannya dg aset dan
potensi kesehatan individu;
d. merawat pasien selama periode ketergantungan;
e. merujuk dokter, atau dokter gigi, atau profesional lainnya;
f. berkolaborasi dengan profesi kesehatan lainnya; dan
g. bekerjasama dengan pasien, keluarga pasien, provider, dan pembuat
kebijakan.

Pasal 23
Kelompok staf keperawatan rumah sakit berkewajiban:
a. menyusun standar prosedur operasional asuhan keperawatan, meliputi
bidang administrasi, manajerial dan bidang asuhan keperawatan;
b. menyusun indikator mutu klinis;
c. menyusun uraian tugas dan kewenangan untuk masing-masing anggota.

Pasal 24
(1) Kelompok staf keperawatan dipimpin oleh seorang Ketua.
(2) Ketua Kelompok Staf Keperawatan dapat dijabat oleh salah satu dari staf
keperawatan.
(3) Ketua Kelompok Staf Keperawatan ditetapkan dengan keputusan Direktur.
Bagian Kedelapan
Penilaian

Pasal 25
Penilaian kinerja yang bersifat administratif dilakukan oleh Direktur sesuai
ketentuan yang berlaku.
Evaluasi yang menyangkut keprofesian dilakukan oleh Komite Keperawatan
sesuai ketentuan yang berlaku.

Pasal 26
Staf keperawatan yang memberikan asuhan keperawatan dan menetap di unit
kerja tertentu secara fungsional menjadi tanggung jawab Komite Keperawatan,
khususnya dalam pembinaan masalah keprofesian.
BAB III
KOMITE KEPERAWATAN
Bagian Kesatu
Pembentukan

Pasal 27
(1) Dalam rangka mewujudkan tata kelola klinis yang baik, setiap Rumah Sakit
harus membentuk Komite Keperawatan.
(2) Komite Keperawatan merupakan organisasi non struktural yang dibentuk di
Rumah Sakit yang keanggotaannya terdiri dari tenaga keperawatan.
(3) Komite Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan
merupakan wadah perwakilan dari staf keperawatan.

Bagian Kedua
Susunan Organisasi dan Keanggotaan

Pasal 28
Komite Keperawatan dibentuk dan ditetapkan oleh Direktur.

Pasal 29
(1) Susunan organisasi Komite Keperawatan sekurang-kurangnya terdiri dari:
a. Ketua Komite Keperawatan;
b. Sekretaris Komite Keperawatan; dan
c. Subkomite.
(2) Dalam keadaan keterbatasan sumber daya, susunan organisasi Komite
Keperawatan sekurang-kurangnya dapat terdiri dari ketua dan sekretaris
merangkap subkomite.

Pasal 30
(1) Keanggotaan Komite Keperawatan ditetapkan oleh kepala/direktur Rumah
Sakit dengan mempertimbangkan sikap profesional, kompetensi,
pengalaman kerja, reputasi, dan perilaku.
(2) Jumlah personil keanggotaan Komite Keperawatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) disesuaikan dengan jumlah tenaga keperawatan di Rumah
Sakit.
Pasal 31
(1) Ketua Komite Keperawatan ditetapkan oleh Direktur dengan memperhatikan
masukan dari tenaga keperawatan yang bekerja di Rumah Sakit.
(2) Sekretaris Komite Keperawatan dan ketua subkomite ditetapkan oleh
Direktur berdasarkan rekomendasi dari ketua Komite Keperawatan dengan
memperhatikan masukan dari tenaga keperawatan yang bekerja di Rumah
Sakit.

Pasal 32
(1) Subkomite sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) huruf c, terdiri
dari:
a. subkomite kredensial;
b. subkomite mutu profesi; dan
c. subkomite etik dan disiplin profesi.
(2) Subkomite kredensial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a bertugas
merekomendasikan Kewenangan Klinis yang adekuat sesuai kompetensi
yang dimiliki setiap tenaga keperawatan.
(3) Subkomite mutu profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
bertugas melakukan audit keperawatan dan merekomendasikan kebutuhan
pengembangan profesional erkelanjutan bagi tenaga keperawatan.
(4) Subkomite etik dan disiplin profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c bertugas merekomendasikan pembinaan etik dan disiplin profesi.

Bagian Ketiga
Fungsi, Tugas, Kewenangan, dan Tanggungjawab

Pasal 33
(1) Komite Keperawatan mempunyai fungsi meningkatkan profesionalisme staf
keperawatan fungsional di rumah sakit dengan cara:
a. melakukan kredensialing bagi seluruh tenaga keperawatan yang akan
melakukan pelayanan keperawatan dan kebidanan di rumah sakit;
b. memelihara mutu profesi staf keperawatan; dan
c. menjaga disiplin, etika, dan perilaku profesi perawat dan bidan.
(2) Dalam melaksanakan fungsi kredensialing sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a, Komite Keperawatan memiliki tugas sebagai berikut:
a. menyusun daftar rincian Kewenangan Klinis dan Buku Putih;
b. melakukan verifikasi persyaratan kredensialing;
c. merekomendasikan Kewenangan Klinis tenaga keperawatan;
d. merekomendasikan pemulihan Kewenangan Klinis;
e. melakukan Kredensial ulang secara berkala sesuai waktu yang
ditetapkan;
f. melaporkan seluruh proses Kredensial kepada Ketua Komite
Keperawatan untuk diteruskan kepada Direktur rumah sakit;
(3) Dalam melaksanakan fungsi memelihara mutu profesi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b, Komite Keperawatan memiliki tugas
sebagai berikut:
a. menyusun data dasar profil tenaga keperawatan sesuai area praktik;
b. merekomendasikan perencanaan pengembangan profesional
berkelanjutan tenaga keperawatan;
c. melakukan audit keperawatan dan kebidanan; dan
d. memfasilitasi proses pendampingan sesuai kebutuhan.
(4) Dalam melaksanakan fungsi menjaga disiplin dan etika profesi staf
keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, Komite
Keperawatan memiliki tugas sebagai berikut:
a. melakukan sosialisasi kode etik profesi tenaga keperawatan;
b. melakukan pembinaan etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan;
c. merekomendasikan penyelesaian masalah pelanggaran disiplin dan
masalah etik dalam kehidupan profesi dan pelayanan asuhan
keperawatan dan kebidanan;
d. merekomendasikan pencabutan Kewenangan Klinis; dan
e. memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan etis dalam
asuhan keperawatan dan kebidanan.

Pasal 34
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Komite Keperawatan berwenang:
a. memberikan rekomendasi rincian Kewenangan Klinis;
b. memberikan rekomendasi perubahan rincian Kewenangan Klinis;
c. memberikan rekomendasi penolakan Kewenangan Klinis tertentu;
d. memberikan rekomendasi surat Penugasan Klinis;
e. memberikan rekomendasi tindak lanjut audit keperawatan dan kebidanan;
f. memberikan rekomendasi pendidikan keperawatan dan pendidikan
kebidanan berkelanjutan; dan
g. memberikan rekomendasi pendampingan dan memberikan rekomendasi
pemberian tindakan disiplin.
Pasal 3
Komite Keperawatan bertanggungjawab kepada Direktur rumah sakit mengenai
pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan kinerja staf keperawatan fungsional di
rumah sakit.

Bagian Keempat
Hubungan Komite Keperawatan dengan Direktur

Pasal 36
(1) Direktur menetapkan kebijakan, prosedur dan sumber daya yang diperlukan
untuk menjalankan fungsi dan tugas Komite Keperawatan.
(2) Komite Keperawatan bertanggung jawab kepada Direktur.

Bagian Kelima
Panitia Adhoc

Pasal 37
(1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Komite Keperawatan dapat
dibantu oleh panitia adhoc.
(2) Panitia adhoc sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Direktur
rumah sakit berdasarkan usulan ketua Komite Keperawatan.
(3) Panitia adhoc sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari tenaga
keperawatan yang tergolong sebagai Mitra Bestari.
(4) Tenaga keperawatan yang tergolong sebagai Mitra Bestari sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dapat berasal dari rumah sakit lain, organisasi
profesi perawat, organisasi profesi bidan, dan/atau institusi pendidikan
keperawatan dan institusi pendidikan kebidanan.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 38
Peraturan Internal Staf Keperawatan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan kepada Komite Keperawatan


untuk mensosialisasikan dan menempatkannya di bagian perpustakaan rumah
sakit.

Ditetapkan di: Cibarusah,


pada tanggal: 8 Januari 2018

DIREKTUR,

(Dr. Yulio Asrul Chandra, MARS)