Anda di halaman 1dari 9

30

Koperasi Asas-csas, Teori dan Praktik


Rochdale ataukah asas-asas koperasi berdasarkan komitmen-komit-
men atau pembaharuan yang dibuat oleh ICA?
B. ASAS-ASAS KOPERASI
Asas koperasi atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Coopera-tive Principles ini berasal
dari bahasa Latin: Principium yang berarti basis atau landasan dan inipun bisa mempunyai
beberapa pengertian yaitu sebagai: Cita-cita utama atau kekuatan/peraturan dari organisasi.
Pengertian tentang principium ini perlu diperhatikan secara seksama dan secara hati-hati. Dalam
kepustakaan koperasi Indonesia, beberapa penulis mengaitkan pengertian principium ini dengan
landasan koperasi atau landasan idiil dan sebagainya. Dalam Bab IV Undang-Undang No. 12/1967
yang membahas masalah Asas dan Sendi Dasar Koperasi, di mana dikatakan bahwa asas koperasi
adalah kekeluargaan dan kegotong-royongan, sedangkan dalam Sendi Dasar Koperasi di antaranya
dimasukkan keanggotaan yang sukarela, pembagian sisa hasil usaha diatur menurut jasa masing-
masing anggota, pembatasan bunga atas modal dan sebagainya, yang semuanya ini oleh ICA
dikelompokkan sebagai cooperative principles.
ICA sendiri tampaknya mengalami kesulitan dalam mendefinisikan kata principle itu,
untuk mana akhirnya ICA harus membentuk suatu Komisi. Menurut Komisi tersebut, principle
adalah praktilepraktik/kegiatan-kegiatan utama yang sangat diperlukan dalam mencapai tujuan-
tujuan dari gerakan koperasi. Banyak orang yang tidak sependapat dengan definisi ini, karena
prinsip itu pada dasarnya tetap, sedangkan praktik itu bisa berubah-ubah sesuai dengan kondisi
ekonomi dan sosial sesuatu negara. W.P.Watkins, mantan Direktur ICA, menyatakan bahwa
principles itu aaalah cita-cita yang melekat pada koperasi. Cita-cita itu tetap (tidak berubah),
sedang praktik bisa berubah-ubah sesuai dengan situasi. Jadi kita bisa berpegang pada pendapat
bahwa principle itu adalah cita-cita yang menentukan sifat dari koperasi sebagai suatu organisasi.
Rochdale atau lebih dikenal dengan "The Rochdale Society of Equitable Pioneers" terdaftar pada
tanggal 24 Oktober 1844 dan memulai usahanya pada tanggal 21 Desember 1844. Cita-cita dari
Rochdale Pioneers, yang dinyatakan sebagai peraturan dari perkumpulan itu kemudian dikenal
sebagai asas-asas Rochdale atau Rochdale Principles, telah mengilhami cara kerja dari gerakan-
gerakan koperasi sedunia.
Kedelapan buah asas Rochdale tersebut adalah:
1. Pengendalian secara demokrasi (Democratic control).
2. Keanggotaan yang terbuka (Open membership).
3. Bunga terbatas atas modal (Limited interest on capital).
4. Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota proporsional dengan pembeliannya (The
distribution of surplus in devidend to the members in Proportion to their Purchases).
5. Pembayaran secara tunai atas transaksi perdagangan (Trading strictly on a cash basis).
6. Tidak boleh menjual barang-barang palsu dan harus murni (Selling only pure and
unadelterated goods).
7. Mengadakan pendidikan bagi anggota-anggotanya tentang asas-asas koperasi dan
perdagangan yang saling membantu. (Providing for the education of the members in Co-
operative principles as well as for mutual trading).
8. Netral dalam aliran agama dan politik (Political and religious neutrality).
Menjadi pertanyaan sekarang, apakah sesuatu organisasi itu baru dapat disebut koperasi, kalau
organisasi tersebut menjalankan ke-8 asas tersebut? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat.
Dr.Mohammad Hatta dalam Almanak Koperasi 1957-1958 membagi asas-asas Rochdale tersebut
dalam 2 bagian:
Dasar-dasar pokok:
1. Demokrasi koperatif, yang artinya bahwa kemudi (pengelolaan) dan tanggung jawab,
adalah berada di tangan anggota sendiri.
2. Dasar persamaan hak suara.
3. Tiap orang boleh menjadi anggota.
4. Demokrasi ekonomi, keuntungan dibagi kepada anggota menurut jasa-jasanya.
5. Sebagian dari keuntungan diperuntukkan pendidikan anggota.
Menurut Dr. Mohammad Hatta, untuk disebut koperasi, sesuatu organisasi itu setidak-tidaknya
harus melaksanakan 4 asas tersebut di atas.
Dasar-dasar moral.
1. Tidak boleh dijual dan dikedaikan barang-barang palsu.
2. Harga barang harus sama dengan harga pasar setempat.
3. Ukuran dan timbangan barang harus benar dan dijamin.
4. Jual beli dengan tunai. Kredit dilarang karena menggerakkan hati orang untuk membeli di
luar kemampuannya.
Memang dalam kenyataannya, kita melihat, bahwa tidak semua kedelapan buah asas Rochdale
itu dipatuhi oleh perkumpulan koperasi di semua negara di dunia ini. Untuk mengetahui sejauh
mana asas-asas Rochdale itu dilaksanakan di Indonesia, kita dapat melihat dari ketentuan yang
tersurat dalam undang„undang koperasi kita, serta anggaran dasar dari perkumpulan-perkumpulan
koperasi di Indonesia.
Prof. Henzler dari Jerman membagi asas-asas koperasi dalam asas-asas struktural (structural
principles) dan asas fungsional (functional principles). Democratic control, termasuk dalam asas
struktural, sedangkan asas-asas yang berkaitan dengan masalah manajemen, kebijaksanaan harga,
pemberian kredit, menentukan metode dan standar dari prosedur-prosedur operasi adalah asas-asas
fungsional. Asas-asas struktural itu berlaku sama untuk semua jenis koperasi, sedangkan asas
functional bisa berbeda pada beberapa jenis koperasi. Keraguan orang tentang apakah semua
kedelapan asas dari Rochdale harus diterapkan di semua negara, juga adalah karena sebagaimana
kita ketahui asas-asas Rochdale itu adalah hasil pengalaman koperasi konsumen, sedangkan pada
dewasa ini koperasi sudah berkembang meliputi berbagai bidang usaha dan kegiatan seperti
koperasi simpan pinjam, koperasi kredit, koperasi asuransi, dan sebagainya. Menjadikan
pertanyaan apakah asas-asas Rochdale yang mendasarkan pada pengalaman koperasi konsumen
itu, seluruhnya bisa diterapkan untuk semua jenis koperasi?
Menanggapi permasalahan tersebut maka dalam Kongres ICA di London yang diadakan
pada tahun 1934 dibentuklah suatu Komite Khusus untuk meneliti "Pengetrapan dari asas-asas
Roch- dale pada Koperasi" dan Komite dapat menyelesaikan tugasnya pada tahun 1937. Hasil
karya dari Komite khusus tersebut adalah bahwa dari 8 asas Rochdale tersebut, 7 buah dianggap
sebagai asas yang pokok (essential principles), yaitu:
1. Keanggotaan terbuka (Open Membership).
2. Pengendalian yang demokratis (Democratic Control).
3. Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota proporsional denganjumlah transaksinya
(Distribution of the Surplus to the members in Proportion to their transaction).
4. Bunga terbatas atas modal (Limited Interest on Capital).
5. Netral dalam agama dan politik (Political and Religious Neutrality).
6. Pembayaran secara tunai (Cash Trading).
7. Pengadaan pendidikan bagi anggotanya (Promotion of Education) .
Asas yang ke-8 yaitu tentang dilarangnya menjual barang-barang yang dipalsukan dan harus
murni, dihapus.
Meskipun demikian komite memandang perlu bahwa di antara ke-7 asas pokok itu perlu
diadakan pembedaan dalam tingkat kepentingannya; 4 buah asas yang pertama itu dianggap
sebagai wajib dan perlu ditaati oleh semua koperasi sedangkan asas yang tiga terakhir, tidak
merupakan persyaratan bagi keanggotaan pada ICA. Komite memandang 3 asas terakhir itu
sebagai suatu metode untuk bertindak dan cara bagaimana berorganisasi.
Meskipun laporan dari komite tersebut telah disetujui dan disahkan oleh Kongres ICA yang
diadakan di Paris pada tahun 1937, namun dengan memperhatikan perkembangan sosial, ekonomi,
teknologi dan sebagainya, ICA berusaha untuk meninjau kembali klasifikasi dari asas-asas
Rochdale yang telah mereka sepakati itu, ualam arti menentukan dari 8 asas koperasi itu, mana
yang utama dan perlu tetap dipertahankan, mana yang perlu dibuang atau mana yang perlu
ditambah. Untuk itu Komite Pusat dari ICA pada tahun 1964 telah membentuk suatu Komisi
tentang Asas-asas Koperasi. Komisi ini diberi wewenang untuk menentukan Asas Rochdale mana,
yang bisa dipertahankan pada dewasa ini, mana yang harus diubah dan bagaimana mengubahnya,
agar bisa tetap digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas gerakan koperasi dan yang dianggap
sudah kehilangan arti bagi gerakan koperasi untuk diganti dengan yang lain. Komite itu juga diberi
wewenang untuk merumuskan asas-asas yang baru, jika memang diperlukan. Hasil kerja komisi
ini dilaporkan dalam Kongres ICA yang ke-23 yang diadakan di Vienna pada tahun 1966 dan
laporan tersebut disetujui oleh Kongres. Hasil kerja dari Komisi adalah sebagai berikut:
1. Keanggotaan sukarela dan terbuka (Voluntary and open mem- bership).
2. Pengelolaan secara demokrasi (Democratic administration) .
3. Bunga yang terbatas atas modal (Limited interest on capital) .
4. Pembagian sisa hasil usaha kepada anggota secara proporsional dengan transaksi.
(Distribution of the surplus to the members in Proportion to their transactions) .
5. Pendidikan koperasi (Cooperative education)
6. Kerja sama antar koperasi (Cooperation among Cooperatives).
Asas-asas ini disebut sebagai asas-asas umum (General Principles) yang harus dipatuhi oleh
semua jenis koperasi dalam segala sistem ekonomi sosial. Berbeda dengan hasil Komite 1937,
Komisi 1964 ini tidak memberikan perbedaan tingkatan dalam keabsahannya dari asas-asas
tersebut dan tidak memberikan perbedaan prioritas antara sesama asas-asas tersebut. Komisi 1964
menyatakan: "Semua mempunyai wewenang yang sama dan harus ditaati secara sama." (All
posses equal authority and . must be equally observed). Selanjutnya tentang asas„asas hasil dari
Komisi 1964 tersebut dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Keanggotaan Terbuka dan Atas Dasar Sukarela
Terbuka artinya siapa saja yang bisa menerima manfaat dari koperasi bebas untuk menjadi
anggota. Anggota yang sukarela berarti menggabungkan diri tanpa ada yang merintangi.
Keanggotaan yang terbuka itu hanya mungkin, jika keanggotaannya adalah sukarela. Rochdale
sendiri tidak mengembangkan unsur sukarela ini dalam asasnya, meskipun organisasi itu sendiri
didirikan secara sukarela. Komisi 1964 tidak menghendaki adanya hambatan-hambatan atau
restriksi dalam pelaksanaan keanggotaan terbuka ini. Hambatan yang direkayasa, seperti
penetapan simpanan pokok yang tinggi untuk menjadi anggota atau menentukan adanya suatu
biaya pendaftaran masuk menjadi anggota (entrance fee), dilarang. Keanggotaan yang terbuka ini
berjalan bersamaan dengan persamaan hak suara. Edgard Milhaud, seorang sosialis dari Prancis,
menyatakan "Berkoperasi itu hanya bisa dilaksanakan jika mereka mempunyai kedudukan yang
sama." Dua unsur lain yang tersirat dalam hasil kerja dari Komisi 1964 ini adalah: asas
nondiskriminasi dan asas pertanggungan jawab. Asas nondiskriminasi maksudnya adalah bahwa
keanggotaan tidak boleh membeda-bedakan kedudukan sosial, politik dan agama dari para
anggotanya. Jadi ini adalah sebagai akibat wajar dari ke- anggotaan yang terbuka itu.
Tentang unsur pertanggungan jawab anggota tidak hanya ter- batas pada penyetoran
simpanan dan keikutsertaan dalam usaha koperasi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap
keikutsertaan mereka dalam pengendalian usaha yang berasaskan democratic control itu. Aspek
lain yang perlu diperhatikan dalam masalah keanggotaan ini adalah bahwa pada koperasi itu
anggota-anggotanya juga adalah pelanggan. Ini adalah ciri-ciri khusus clari koperasi. Sebagai
konsekuensi yang wajar, suatu koperasi akan kehilangan ciri khususnya ini dan 'tliturunkan"
menjadi organisasi yang mata-mata mencari keuntungan, jika koperasi itu mengambil
kebijaksanaan membatasi penerimaan anggota serta secara luas mengadakan transaksi dengan
bukan anggota.
2. Democratic Control
Menurut Prof. Paul Lambert asas ini adalah asas utama yang membedakan koperasi dengan
usaha-usaha yang kapitalistis dan bisa diterapkan kepada semua jenis koperasi. Asas ini
sesungguhnya merupakan pola pemikiran dari gerakan kaum Chartist di Inggris pada tahun 1830-
an, yang rupanya mempengaruhi pemikiran orang-orang dari Rochdale Pioneers. Dalam
pengelolaan organisasi, Rochdale Pioneers telah memberlakukan ketentuan: satu anggota satu
suara dan mengingat bahwa anggota adalah pelanggan, maka pengendalian secara demokratis itu
berarti pengendalian koperasi oleh anggota pelanggan (member-users) dari koperasi itu sendiri.
Selanjutnya Komisi 1966 tersebut mempertegas bahwa perkumpulan koperasi adalah organisasi
yang demokratis dan bahwa anggota-anggota dari perkumpulan tingkat primer harus bisa
memanfaatkan persamaan hak suara (1 anggota 1 suara) dan berperan serta dalam pengambilan
keputusan yang menyangkut kepentingan organisasi.
3. Bunga Tetap Atas Modal
Asas "bunga tetap atas modal" (fixed interest on capital), adalah mula-mula disuarakan
oleh Robert Owen dan ternyata kemudian diterima oleh Koperasi Rochdale. Mereka khawatir
bahwa dengan pembayaran bunga atas modal itu akan menyeret koperasi ke dalam alam yang
kapitalistis. Dasar pertimbangan lain dimasukkannya unsur ini sebagai asas, adalah agar modal itu
tidak merupakan sumber dari keuntungan usahae Komite 1937 merumuskan asas ini dengan istilah
"limited interest on capital". Tetapi perlu dicatat bahwa ini tidak berarti bahwa koperasi itu wajib
membayar bunga atas modal. Yang dimaksudkan di sini adalah jika koperasi itu akan membayar
bunga atas modal, hendaknya bunga itu terbatas dan tetap.
4. Pembagian Sisa Hasil Usaha kepada Anggota Secara Propor- sional dengan Transaksinya
(Patronage Dividend)
Umumnya orang menganggap bahwa asas ini berasal dari Roch- dale Pioneers, tetapi
sesungguhnya sebelumnya asas ini sudah dite- rapkan oleh Lennoxtown Society of Scotland, di
mana pada dasarnya mereka berpendapat bahwa bilamana ada suatu surplus dalam usaha,
hendaknya surplus tersebut digunakan untuk mem- bangun atau mengembangkan masyarakat
koperasi.
Dalam hal inilah terdapat perbedaan pendapat antara Owenisme dan Rochdale Pioneers, di
mana yang disebut terakhir ini berpendapat bahwa surplus tersebut dapat dibagikan kepada
anggota sesuai dengan jumlah pembeliannya. Mereka ini menyadari bahwa pada tahun 1840-an
buruh-buruh di Inggris sedang menghadapi kelaparan, yang membutuhkan dana dan bantuan.
Dasar pertimbangan lain adalah kebijaksanaan harga yang mereka ambil. Dalam menjual barang
mereka lebih senang memilih harga pasar (at current market price) daripada harga menurut biaya
(at cost price). Dengan demikian berarti koperasi bisa menyisihkan suatu margin di atas biaya,
yang dapat digunakan untuk membiayai pengelolaan, penyusutan serta bisa menyisihkan dana-
dana untuk pendidikan dan cadangan dan bisa menyisihkan suatu jumlah ter- tentu untuk
dikembalikan kepada anggota, atas kelebihan terhadap biaya yang telah mereka bayarkan.
5. Pendidikan Koperasi
Pendidikan Koperasi adalah mutlak untuk dilaksanakan oleh setiap organisasi koperasi. Komisi
1966 ICA menyatakan bahwa semua koperasi harus menyelenggarakan pendidikan bagi peng-
urus, petugas, karyawan dan umum tentang asas-asas dan teknik berkoperasi baik dipandang dari
sudut ekonomi maupun dari sudut demokrasi. Dengan ditingkatkannya pengetahuan parapengurus,
petugas, karyawan dan umum, diharapkan bahwa asas-asas koperasi akan lebih mudah dapat
diterapkan dalam praktik, karena selama ini tampaknya terdapat jurang antara cita-cita berkoperasi
dan praktik berkoperasi. Sesungguhnya Komite 1937 juga telah menyatakan bahwa pendidikan
adalah merupakan asas yang penting dari Rochdale Pioneers, tetapi anehnya Komite 1937 itu
menempatkan pendidikan itu sebagai asas-asas sekunder.
6. Kerja Sama antar Koperasi
Kerja sama antar koperasi ini adalah suatu keharusan kalau koperasi ingin tetap hidup dan
demi untuk pertumbuhan gerakan koperasi dalam memperjuangkan kebebasan dan menjunjung
martabat manusia. Sebagaimana kita ketahui menjelang akhir abad ke-20 ini teknologi telah
mengalami perkembangan yang cepat sekali dan bahkan oleh beberapa pakar disebut sebagai era
technological revolution. Perusahaan-perusahaan dan industri-industri berkem- bang dan menjadi
semakin besar. Terjadilah konsentrasi ekonomi baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat
internasional. Perkembangan yang semakin pesat ini dikhawatirkan akan memperkecil peran dari
seseorang, konsumen, pengusaha kecil dan pro dusen primer dan akhirnya mereka akan kehilangan
kebebasannya. Melihat kenyataan kehidupan yang demikian ini, ICA, berpendapat bahwa kerja
sama antar koperasi itu merupakan suatu keharusan, kalau koperasi ingin tetap hidup dan demi
untuk perkembangan dari gerakan koperasi dalam memperjuangkan kebebasan dan menjunjung
martabat manusia.
Tentang permasalahan asas-asas koperasi seperti tersebut di atas tampaknya tidak berhenti
sampai di sini saja. Pada Kongresnya di Stockholm, Swedia, 1988 timbul keinginan-keinginan
untuk mengkaji ulang asas-asas koperasi. Dalam pertemuan tersebut dipertanyakan "sejauh mana
prinsip-prinsip koperasi itu masih bisa bertahan dalam susunan ekonomi pasar bebas yang
mengarah pada globalisasi." Sebagaimana kita ketahui, asas-asas Rochdale itu dilahirkan dalam
era Revolusi Industri di Inggris, bersamaan dengan timbulnya Kapitalisme yang masih dini,
sedangkan sekarang ini, setelah 150 tahun dihitung dari lahirnya asas-asas Rochdale, kapitalisme
sudah jauh berkembang. Jika pada tahun 1884 yaitu tahun di mana dilahirkan asas-asas koperasi
Rochdale, Inggris dan beberapa negara di Eropa sedang mengalami Revolusi Industri, maka pada
dewasa ini negara-negara tersebut telah menjadi negara- negara industri maju dan sudah mengarah
kepada tahap pasca in- dustri.
Disamping itu perlu juga diperhatikan adanya perubahan politik dan sistem ekonomi di Uni
Soviet yang terjadi pada akhir abad ke-20 yang diikuti oleh negara-negara Blok Timur lainnya,
yaitu dari sistem ekonomi sosialis, yang bersifat otoriter, ke sistem ekonomi pasar. Hal ini bisa
terjadi berkat kebijaksanaan glasnostnya Gorbachev yang dilakukan secara hati-hati dan bertahap
seperti telah diuraikan dalam Bab I. Mereka telah melepaskan struktur kehidupan lama dan secara
mantap bergerak ke arah sistem pasar dan mau tidak mau mereka harus menyiapkan diri
menyongsong datangnya kebijaksanaan ekonomi dunia yang baru, yang mengarah kepada
liberalisasi perdagangan secara global maupun secara regional. Bagi negara-negar.a yang sedang
berkembang, yang industrinya belum sangat maju, mau tidak mau harus dapat menyesuaikan
dirinya dengan lingkungan yang selalu berkembang dan ini bukan merupakan pekerjaan yang
mudah, mengingat bahwa negara-negara sedang berkembang, pada umumnya dalam bidang
ekonomiaya tertinggal beberapa dasawarsa, dibandingkan dengan negara- negara industri.
Perkembangan ekonomi dunia menjelang akhir abad ke-20 ini merupakan era baru ekonomi dunia,
yang mengacu kepada globalisasi. Globalisasi yang ditumpang oleh liberalisasi perdagangan
internasional, mau tidak mau akan mendorong negara-negara di dunia ini mengadakan deregulasi
dan debirokrasi, dalam kebijaksanaan dan pelaksanaan ekonominya. Mengadakan deregulasi dan
debirokrasi berarti meniadakan atau menguraagi "bariers of entry" (hambatan-hambatan masuk
dalam industri), mengurangi aturan-aturan yang membatasi dunia usaha dan swastanisasi badan-
badan usaha milik negara. Situasi dan kondisi yang demikian ini dengan sendirinya akan menekan
kehidupan dan perkembangan gerakan koperasi, terutama bagi gerakan koperasi di negara-negara
sedang berkembang dan ini merupakan tantangan yang harus dijawab oleh gerakan koperasi
dengan kondisi seperti sekarang ini di mana koperasi cara bekerjanya masih harus menda- sarkan
pada asas-asas yang disusun 150 tahun yang lalu. Liberalisasi perdagangan internasional akan
berpengaruh ter- hadap kehidupan dunia usaha di dalam negeri dari masing-masing negara, berupa
peningkatan persaingan dalam dunia usaha. Perubahan yang terjadi dalam dunia usaha tersebut
bisa merupakan peluang bagi usaha koperasi tetapi sekaligus bisa merupakan ancaman bagi dunia
usaha koperasi.
Dalam menghadapi permasalahan-permasalahan seperti tersebut di atas dan dalam rangka
usaha penyesuaian diri menyongsong datangnya era globalisasi, rupanya gerakan koperasi di
negara- negara industri, berada pada posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan posisi dari
gerakan koperasi di negara-negara sedang berkembang, karena, sebagaimana kita ketahui, pada
umumnya sistem ekonomi dari negarænegara industri itu adalah kapitalistis dan bahwa sistem ini
bekerja berdasarkan kondisi-kondisi persa- ingan, yang selanjutnya akan mendorong perusahaan
baik koperasi maupun nonkoperasi untuk bekerja secara efisien. Persaingan ini tidak hanya
terbatas pada persaingan pangsa pasar antara para produsen/penjual atau persaingan antara para
pembeli atas barang- barang yang mereka inginkan, tetapi juga meliputi persaingan antara para
pembeli dan penjual sumber daya, dan sebagainya. Kondisi-kondisi persaingan-persaingan bebas
di negara-negara industri ini umumnya berjalan dengan baik, karena didukung oleh Undang-
Undang AntiTrust, yang pada dasarnya tidak memberi ruang hidup bagi monopoli, seperti yang di
Amerika Serikat dikenal dengan Sherman Antitrust Act (1890) di mana dalam Pasal 2 dikatakan
"Every person who shall monopolize, or attempt to monopolize, or combine or conspire with any
other persons to monopolize any part of the trade or commerce among the several states, or with
foreign nations, shall be deemed quilty of a misdemeanor and) on conviction there of, shall be
punished by fine not exceeding five thousand dollars (raised to $. 50.000 in 1955) or by
imprisonment not exceeding one year, or by both said Punishments in the discretion of the court".
(Setiap orang yang akan melakukan monopoli atau berusaha melakukan monopoli atau
menggabungkan atau bersekutu dengan seseorang atau dengan orang-orang untuk melakukan
monopoli dari sebagian perdagangan atau usahanya di antara beberapa negara bagian atau dengan
negara asing, dapat dinyatakan bersalah melakukan perbuatan buruk dan dapat dituntut, dapat
dihukum dengan denda sebanyak-banyaknya $. 5000 (tahun 1955 dinaikkan menjadi $. 50.000)
atau hukuman penjara setinggi-tingginya I tahun atau menurut kedua-duanya sebagaimana
ditetapkan oleh pengadilan). Dalam amandemen tahun 1974 kata misdemeanor diubah men- jadi
felony dan dendanya dinaikkan menjadi $. 1 juta untuk badan- badan hukum dan $. 100.000 untuk
yang lain dan hukuman penj aranya dinaikkan menjadi 3 tahun. Dengan kondisi-kondisi seperti
tersebut di atas maka koperasi-koperasi di negara-negara industri umumnya mempunyai
keunggulan dalam daya saing dan efisiensi kerja dibandingkan dengan kondisi-kondisi yang
dimiliki oleh koperasi-koperasi di negara- negara sedang berkembang. Hal ini berarti bahwa dalam
menyongsong era globalisasi diperkirakan koperasi-koperasi di negara-negara industri tersebut
tidak akan mengalami tekanan-tekanan sangat berat seperti apa yang akan dialami oleh koperasi-
koperasi di negara-negara sedang berkembang. Kongres ICA tahun 1988 yang diadakan di
Stockholm itu telah memilih "Koperasi dan Nilai Dasarnya" sebagai salah satu tema, dan menurut
beberapa pakar koperasi, usaha ICA tersebut dipacu oleh tulisan dari Alexander Laidlaw dalam
bukunya yang berjudul: 'Cooperative in the Year 2000" yang diterbitkan pada tahun 1980. Dengan
adanya refleksi awal ini, Kongres memutuskan agar refleksi tersebut diikuti dengan analisa yang
lebih terinci, termasuk konsultasi secara meluas dengan organisasi-organisasi anggota ICA, Tugas
ini oleh ICA dipercayakan kepada SVEN ARE Boor, Ketua Kelompok Kerja Riset ICA dan
mantan Direktur Institut Riset Koperasi di Swediay dengan dibantu oleh Komisi Penasihat yang
terdiri dari 13 pakar perkoperasian clunia, berasal dari 12 negara, ditambah seorang dari Sekretariat
ICA, yang bertindak sebagai Sekietaris Tim. Hasil kerja dari BOOK ini yang berjudul:
"Cooperative Values in a Changing World" dilaporkan dalam Kongres ICA yang diadakan di
Tokyo pada tahun 1992, yang ternyata kemudian dijadikan bahan acuan utama dalam Kongres
tersebut. Di samping itu Kongres juga memberikan tugas kepada Ian Mac Pherson dari University
of Victoria, Canada yang juga adalah anggota Tim Penasihat Book, untuk mengkoordinir
penyusunan rancangan asas-asas koperasi yang nantinya akan menjadi salah satu bahan
pembahasan utama dalam Kongres ICA tahun 1995 yang akan diadakan di Manchaster. Laporan
dari Sven Ake Book tersebut disusun melalui beberapa pendekatan, yaitu dengan cara
mengidentifikasi nilai-nilai koperasi yang tradisional dan kemudian mendiskusikannya untuk
dikaji berdasarkan pengalaman-pengalaman pada dasawarsa sekarang ini untuk mengetahui
prospeknya di masa mendatang. Menjadi pertanyaan, adakah koperasi mempunyai perilaku untuk
menjadikan dunianya cepat tanggap terhadap lingkungannya. Apakah asas-asas koperasi yang
sudah kuno itu benar-benar meru- pakan salah satu faktor penyebab mengapa koperasi itu tidak
bisa bertindak secara cepat tanggap? Berbicara soal perdagangan bebas dan globalisasi, maka
permasalahannya tidak bisa terlepas dari masalah peluang usaha. Mampukah gerakan koperasi di
Indonesia menangkap peluang-peluang usaha yang diciptakan oleh sistem per- dagangan bebas
itu? Untuk menjawab tantangan Abad Globalisasi bagi gerakaii koperasi maka pada tanggal 20-23
September 1995 ICA telah menyelenggarakan Kongresnya yang Ice-31 di kota Manchaster, suatu
kota yang berdekatan dengan Rochdale tempat kelahiran perkum- pulan koperasi pertama di
Inggris. Kongres tersebut dihadiri oleh wakil-wakil dari gerakan koperasi-koperasi berasal dari
100 negara. Kongres dibuka oleh Ketuanya, Lars Marcus. Kongres ke-31, mendapat sambutan dan
tanggapan dari para wakil-wakil negara dan tampak sudah keinginan mereka untuk dapat
mengantisipasi globalisasi perekonomian dunia pada abad ke-210 Berbagai resolusi disampaikan
di Kongres di antaranya: masalah identitas (jati diri) koperasi dan deklarasi gerakan koperasi
terhadap abad ke-21, resolusi tentang demokrasi koperasi, pem- bangunan sumber daya manusia
koperasi dan resolusi tentang pendanaan. Rapat Anggota ICA (ICA General Assembly) yang
diadakan dalam bulan September 1995, yaitu pada Kongres Seratus Tahun ICA mengesahkan
pernyataan ICA tentang Identitas Koperasi yang memuat Definisi Koperasi, Nilai-nilai Koperasi
dan Prinsip-prinsip Koperasi, seperti yang tertera dalam halaman 46. Jati diri koperasi yang telah
dirumuskan oleh Kongres ICA tahun 1995 di Manchester Inggris, kini sudah diakui secara interna-
sional dan bahkan sudah dikukuhkan di kawasan Asia Pasifik pada Konferensi Menteri-Menteri
Koperasi Asia Pasifik padå Oktober 1999 di Beijing. Selanjutnya Rapat Anggota ICA menyatakan
bahwa prinsip- prinsip koperasi yang tercakup dalam identitas koperasi tersebut akan
menggantikan prinsip-prinsip koperasi yang telah diterima dan disetujui oleh ICA dalam
Kongresnya di Wina pada tahun 1966. Diharapkan dengan prinsip-prinsip yang baru, seperti yang
tercakup dalam Identitas Koperasi tersebut, koperasi mampu mem- perkuat dan memperjelas
jatidirinya, khususnya dalam era globalisasi abad Ice-21 yang akan datang.