Anda di halaman 1dari 5

Dosis obat harus diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan tergantung dari

banyak factor, antara lain usia, bobot badan, beratnya penyakit dan keadaan data tangkis penderita.

Takaran pemakaian yang dimuat dalam Farmakope Indonesia dan farmakope negara-negara lain hanya
dimaksudkan sebagai pedoman saja. Begitu pula dosis maksimal (MD), yang bila dilampaui dapat
mengakibatkan efek toksis, bukan merupakan batas yang mutlak untuk ditaati. Dosis maksimal dari
banyak obat dimuat di semua farmakope, tetapi kebiasaan ini sudah ditinggalkan Farmakope Eropa dan
Negara-negara Barat, karena kurang adanya kepastian mengenai ketepatannya, antara lain berhubung
dengan variasi biologi dan factor-faktor tersebut di atas. Sebagai gantinya kini digunakan dosis lazim,
yaitu dosis rata-rata yang biasanya (lazim) memberikan efek yang diinginkan.

Doses farmakope luar negeri sebetulnya berlaku untuk orang Barat dewasa berdasarkan bobot rata-rata
150 pound (68 kg). tubuh orang Indonesia umumnya lebih kecil dengan berat rata-rata 56 kg, sehingga
seharusnya mendapatkan takaran yang lebih rendah pula. Dalam praktek, hal ini tidak atau kurang
diperhatikan, tidak pula mengenai besar-kecilnya pasien, karena perbedaan dosis dari kedua bobot
badan hanya kurang lebih 16%. Selisih ini dapat diabaikan mengingat variasi individual mengenai daya
resorbsi obat di dalam tubuh yang jauh lebih besar, kadang-kadang sampai lebih dari 50%.

(Tjay, TH, 2007)

Faktor-faktor yang memodifikasi aksi obat:

1. Berat badan

2. Umur

3. Jenis kelamin

4. Kondisi patologik pasien

5. Idiosinkrasi

(Anief, M, 2000)

Kerja obat dalam tubuh dipengaruhi oleh banyak variabel. Perbedaan-perbedaan nya adalah perbedaan-
perbedaan fisik di antara pasien, faktor-faktor psikologi, bentuk sediaan, rute pemberian obat dan efek
samping serta reaksi yang berlawanan.

Perbedaan Fisik

Usia pasien memiliki pengaruh yang nyata terhadap kerja obat. Baik anak-anak dan orang tua
memerlukan dosis yang lebih sedikit pada beberapa pengobatan. Ukuran tubuh adalah suatu faktor yang
berhubungan terhadap kerja obat. Seseorang yang berbadan besar memerlukan dosis yang lebih banyak
daripada dosis rata-rata yang digunakan untuk menghasilkan suatu efek tertentu, sedangkan bagi orang
yang kurus, akan mendapatkan efek walaupun pada dosis yang sedikit. Dosis obat untuk anak-anak
biasanya dihitung menurut berat badan, luas permukaan tubuh dan umur.
Jumlah makanan yang terdapat dalam lambung secara langsung mempengaruhi kerja obat. Obat yang
terdapat dalam lambung yang kosong biasanya mencapai aliran darah lebih cepat daripada ketika
lambung penuh. Obat-obat yang mengiritasi lambung sering diminum setelah makan, obat-obat yang
lain diberikan ketika lambung kosong.

Adanya penyakit dapat mengubah kerja obat. Perubahan fungsi gastrointestinal, misalnya, dapat
menghambat atau mempercepat penyerapan obat yang diberikan secara oral. Fungsi ginjal yang
terganggu dapat menurunkan jumlah obat yang diekskresikan. Jika dosis obat yang diberikan tinggi dapat
menyebabkan akumulasi yang serius. Dalam kasus ini, obat-obat tersebut merupakan kontraindikasi
untuk pasien dengan gangguan ginjal.

Faktor Psikologi

Banyak kerja obat adalah hasil dari kepercayaan pasien tersebut. Jika seorang percaya bahwa obat akan
bekerja, kesempatan akan ada. Efek ini didokumentasikan oleh penelitian ”efek palebo”. Sebaliknya,
ketidakpercayaan pasien, sebuah tingkah laku umum yang depresi, dan perasaan putus asa biasa
mengurangi aktivitas obat. Orang-orang yang mengatur pengobatan seharusnya menyadari bahwa
tingkah laku mereka terhadap obat dapat mempengaruhi pasien, secara tak langsung mempengaruhi
kerja obat. Bentuk Sedian. Banyak terdapat bentuk sedian yang berbeda. Bentuk sedian dapat
mempengaruhi seberapa cepat suatu obat mulai bekerja, intensitas kerjanya dan lama kerja obat
tersebut.

Larutan adalah cairan yang berisi zat-zat yang terlarut. Pelarutnya dapat berupa air atau alkohol seperti
eliksir, tinktur, dll. Obat dalam bentuk larutan dapat diserap dengan mudah dan cepat. Makin besar
konsentrasi larutan makin cepan diabsorbsi.

Suspensi adalah cairan yang pertikelnya tercampur, tidak terlarut. Jika berbotol-botol suspensi yang
ditinggalkan di rak, akan memisah menjadi suatu endapan yang membentuk di dasar, dan suatu cairan
yang ada di permukaan. Sedian ini harus dikocok untuk mendistribusikan kembali partikel-partikel
sebelum dituang.

Obat-obat dalam bentuk solid dapat berupa tablet, kapsul dan pil. Kapsul biasanya dibuat dari gelatin
dan membungkus serbuk obat. Gelatin terlarut cepat dalam lambung dan obat diserap dengan cepat
setelahnya. Tablet dan pil terdapat dalam berbagai jenis warna, bentuk, dan ukuran. Beberapa sediaan
tersebut disalut gula atau coklat untuk menutupi rasa yang tidak enak. Yang lainnya ada pula dalam jenis
enteric-coated, yang dibungkus oleh zat yang tahan terhadap enzim pencernaan yang terdapat di
lambung. Obat ini dapat diserap di intestin. Banyak obat yang digunakan secara oral dalam bentuk tablet,
walaupun orang biasanya menganggapnya sebagai pil.

Untuk obat-obat yang digunakan secara topikal, dapat berupa lotions, ointments dan creams. Sediaan ini
digunakan dengan cara menyapukannya pada kulit.

Suppositoria adalah obat yang dicampur dengan zat pelican dan dibentuk sedemikian rupa sehingga
dapat digunakan melalui rectum dan vagina.
Obat-obat yang diinjeksikan biasanya didapatkan dalam tempat yang disebut ampul atau vial. Ampul
adalah suatu wadah yang terbuat dari kaca yang biasanya berisi satu dosis larutan obat. Vial adalah
suatu wadah kaca yang kecil dengan penutup karet yang dapat berisi satu dosis obat atau beberapa dosis
obat. Vial yang berisi beberapa dosis obat ditujukan sebagai multiple-dose vial. Kadang-kadang, suatu
vial berisi serbuk obat. Tipe dan jumlah tertentu cairan harus ditambahkan ke dalam vial untuk
merekonstitusikan sediaan sebelum dimasukkan ke dalam syringe dan disuntikkan. (Lannon, MC, 1986)

Dosis obat harus diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan tergantung dari
banyak factor, antara lain usia, bobot badan, beratnya penyakit dan keadaan data tangkis penderita.

Takaran pemakaian yang dimuat dalam Farmakope Indonesia dan farmakope negara-negara lain hanya
dimaksudkan sebagai pedoman saja. Begitu pula dosis maksimal (MD), yang bila dilampaui dapat
mengakibatkan efek toksis, bukan merupakan batas yang mutlak untuk ditaati. Dosis maksimal dari
banyak obat dimuat di semua farmakope, tetapi kebiasaan ini sudah ditinggalkan Farmakope Eropa dan
Negara-negara Barat, karena kurang adanya kepastian mengenai ketepatannya, antara lain berhubung
dengan variasi biologi dan factor-faktor tersebut di atas. Sebagai gantinya kini digunakan dosis lazim,
yaitu dosis rata-rata yang biasanya (lazim) memberikan efek yang diinginkan.

Doses farmakope luar negeri sebetulnya berlaku untuk orang Barat dewasa berdasarkan bobot rata-rata
150 pound (68 kg). tubuh orang Indonesia umumnya lebih kecil dengan berat rata-rata 56 kg, sehingga
seharusnya mendapatkan takaran yang lebih rendah pula. Dalam praktek, hal ini tidak atau kurang
diperhatikan, tidak pula mengenai besar-kecilnya pasien, karena perbedaan dosis dari kedua bobot
badan hanya kurang lebih 16%. Selisih ini dapat diabaikan mengingat variasi individual mengenai daya
resorbsi obat di dalam tubuh yang jauh lebih besar, kadang-kadang sampai lebih dari 50%.

Dari percobaan, mencit I (17,3 g) memberikan respon lebih cepat dibanding mencit II (34,7 g). Hal ini
sesuai dengan teori, dimana mencit dengan berat yang lebih ringan akan lebih cepat memberikan
respon. Karena orang yang lebih kurus memberikan respon yang lebih cepat daripada yang gemuk.

Berdasarkan puasa atau tidaknya mencit, mencit III (puasa) menunjukkan respon yang lebih cepat
daripada mencit V (tanpa puasa). Hal ini sesuai teori, bahwa dengan adanya makanan di sekeliling
dinding lambung, akan menurunkan jumlah obat yang terabsorbsi, sedangkan lambung yang kosong,
akan mempermudah obat untuk diabsorbsi. Hasil kerja obat di dalam tubuh kita memang sangat
mungkin dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang kita konsumsi. Ini dikenal sebagai peristiwa
interaksi obat-makanan. Selain dengan makanan, berbagai obat yang kita konsumsi pada saat bersamaan
juga dapat saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi obat-makanan (food-drug interaction) atau
interaksi antarobat (drug interaction) ini dapat mengurangi khasiat atau kemanjuran obat, bahkan dapat
menimbulkan efek yang membahayakan. (Lannon, MC, 1986)

Berdasarkan jenis kelamin, mencit VI (betina) menunjukkan respon yang lebih cepat dibandingkan
dengan mencit IV (jantan). Hal ini sesuai dengan teori bahwa wanita lebih sensitif terhadap obat dari
pada pria. Wanita lebih sensitif terhadap obat daripada pria disebabkan oleh faktor hormonal. Pada
wanita terdapat hormon estrogen yang menyebabkan perubahan-perubahan sehingga mempengaruhi
juga responnya terhadap obat. (Anief, M, 2000)
VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Variasi biologi mempengaruhi pemberian dosis obat.

Berat badan mempengaruhi respon farmakologi.

Kondisi puasa mempengaruhi respon farmakologi.

Jenis kelamin mempengaruhi respon farmakologi.

7.2. Saran

Disarankan agar memakai dua atau lebih spesies hewan agar dapat dilihat perbandingan respon
farmakologi antarspesies.

Disarankan agar dosis yang diberikan ada yang seragam dan ada yang tidak, satu menyesuaikan dengan
perbandingan berat badan, sedang yang lainnya tidak menyesuaikan dengan berat badan, sehingga
dapat dilihat perbandingannya antara kedua dosis di atas.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. (2000). Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hal.
17-18.

Anonim. (2008). Drug Abuse and Addiction

http://www.nida.nih.gov/drugpages/prevention.html

Anonim. (2008). Patient Factors that Affect Drug Response

www.answers.yahoo.com

Bentley, PJ. (1981). Elements of Pharmacology, A Primer On Drug Action. Cambridge :


CambridgeUniversity Press. Page 93-94.

Lannon, MC. (1986). Essentials of Pharmacology and Dosage Calculation. Second Edition. Philladelphia :
JB. Lippincott. Page 5-6.

Mae Sri Hartati Wahyuningsih. (2009). Obat, Dosis, dan jadwal Pemberian dalam Preskripsi Dokter
http://obat-dosis-jadwal-pemberian-dlm-preskripsidokter/trackback/

Setiawati, Arini dan Armen Muchtar. (2007). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respons Pasien terhadap
Obat. Farmakologi dan Terapi. Editor: Gunawan, S.G. Edisi ke-5. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 886.

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. (2007). Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek
Sampingnya. Edisi Keenam, Cetakan Pertama. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Hal. 45-46.