Anda di halaman 1dari 10

“AQIQAH” atau kekahan

Aqiqah yaiku kegiatan mbelah kewan ternak yaiku wedus.kanngo sukure dewe marang
allah swt sing wis ngaruniani anak lanang/wadon. Jika anak yang dilahirkan laki-laki
biasanya menyembelih dua ekor kambing, dan bila anak yag dilahirkan adalah
perempuan maka akan menyembelih satu ekor kambing. hukume yaiku sunah
kanggo wong tua utawa wali saka anak kuwi. Akulturasi budaya Jawa-Islam sangat
terlihat dalam upacara Aqiqah.

Tujuan

Aqiqah duwe tujuan kanggo ningkatke jiwa sosial lan tulung tinulung karo
tetangga,kanggo rasa sukur marang allah swt sing wis ngekei nikmat lan rejekising wis di
kekne kanggo dewe’e

Tata cara

Pelaksanaane isoh neng dino ke pitu pat belas utawa selikur utawa dina-dina sing liyane
sing mestekke. Pelaksanaan aqiqah kui apikke dilakoni dewe karo wong tua bayi.
Praktekke kui ora podo karo tuntunan sunah sing masyarakat anane panyembelihan
kewan kanggo pelaksanaan aqiqah.

- Nyukur rambut kuwi sunah mu’akkad nyukur rambut kuwi podo karo awake dewe
nguwak rambut sing elek. kui kanggo mbuka bolongan pori-pori sing ana ning
sirah supaya gelombang panas isoh metu. Kui manfaate kanggo nguatke indra
pengliatan, penciuman,lan pendengaran bayi.
- Pewenehan jeneng,iku uduk gor kanggo identitas pribadi, nanging kanggo
nyerminke karakter bayi.

Setelah upacara sepasaran dilangsungkan, kemudian pada hari ketujuh dilanjutkan dengan
acara penyembelihan kambing, mencukur rambut bayi dan memberi nama. Dalam Islam,
kebiasaan ini dikenal dengan sebutan aqiqah. Para tamu dan tetangga diundang untuk
menghadiri acara tersebut dengan maksud yang sama dengan acara sepesaran di atas, yakni
mendoakan agar supaya sang bayi yang akan diaqiqahi menjadi insan yang senantiasa taat
kepada perintah Allah, menjadi anak yang shaleh dan berbakti kepada orang tuanya serta
berguna bagi masyarakat.

Pelaksanaannya pun hampir sama dengan sepasaran. Dengan melalui pendekatan syariat, para
tamu diundang dan diminta untuk membaca kitab Maulid Nabi Muhammad saw dan kitab
manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan kenduri,
seperti membaca tahlil dan ditutup dengan doa. Setelah selesai, para undangan disuguhkan
dengan makanan yang menu utamanya ialah berupa daging sembelihan hewan aqiqah.

Amalan aqiqah kini sudah semakin dipahami dengan baik oleh ummat Islam. Beberapa
saat setelah kelahiran bayi, banyak keluarga yang sesegera mungkin menyembelih
kambing ataupun domba, satu ekor untuk bayi perempuan dan dua hewan untuk bayi
laki-laki. Daging itupun selanjutnya dimasak dengan aneka menu, ada yang sate, gulai,
tongseng, ataupun dendeng. Dilengkapi dengan nasi putih, sayur, lauk dan beberapa
menu lain siap dihidangkan kepada para tamu ataupun dibagikan dengan cara
diantarkan ke rumah-rumah tetangga. Hidangan tersebut terkadang diistilahkan
dengan bancakan.
Namun sebelum penghidangan atau pembagian bancakan dilakukan, biasanya terlebih
dahulu seorang ustadz atau kiai memimpin rangkaian dzikir dan doa,
beserta sholawatan. Sambil mengumandangkan sholawat, semua hadirin berdiri penuh
rasa hikmat. Sang bayi selanjutnya digendong mengelilingi lingkaran kalangan. Satu per
satu hadirin secara bergantian menggunting sedikit bagian rambut sang bayi. Pada titik
inilah puncak sebuah upacara ritual aqiqahan mencapai momentum sakralnya.
Uborampe
Bahan – bahan itu salah satunya : Tumpeng weton, Sayur 7 macamm seluruhnya bisa
dipotong terkecuali kangkung serta kacang panjang, Telor ayam di rebus sejumlah 7,
11, atau 17 butir, Cabai, bawang merah, Bumbu gudangan TIDAK PEDAS, Jika/saringan
santan dari bamboo, Buah-buahan sejumlah 7 jenis, mesti dengan pisang raja,
Kembang Setaman, Bubur 7 rupa. Seluruhnya bahan – bahan itu mesti ada serta tak
bisa ada yang tertinggal satupun.
Bukan sekedar hingga disitu, kebiasaan yang sarat bakal nilai filosofis jawa ini juga
masih tetap berlanjutg. Yang pertama Tumpeng weton diletakan di kamar bayi,
kemudian didoakan baru bisa dikonsumsi. Pada dasarnya bancakan dihaturkan untuk
keselamatan si jabang bayi, mohon keselamatan pada Tuhan YME, serta pada yang
“momong“, dan pada beberapa leluhur yang turunkan supaya senantiasa menuntun
serta mengasuh. Banca’an ini sebaiknya dikonsumsi minimum 7, 11, atau 17 orang. 7
berarti pitu = pitulungan atau pertolongan. 11artinya sewelas = kawelasan atau belas
kasih. 17 berarti pitulas = pitulungan serta kawelasan,.

BROKOHAN
Brokohan merupakan salah satu upacara tradisi jawa untuk
menyambut kelahiran bayi yang dilaksanakan sehari setelah bayi
lahir. Kata Brokohan sendiri berasal dari kata barokah-an, yang
artinya memohon berkah dan keselamatan atas kelahiran bayi.

Dalam acara ini biasanya para tetangga dekat dan sanak saudara
berdatangan berkumpul sebagai tanda turut bahagia atas kelahiran
bayi yang dapat berjalan dengan lancar. Tak sedikit para tetangga
yang membawa bermacam oleh-oleh berupa perlengkapan bayi dan
makanan untuk keluarga yang melahirkan.
Simbolitas Mencapai Hidup Sejati, Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
Sebagian ubarampe pelengkap ritual dalam tradisi Jawa adalah pisang satu sisir atau dua
sisir. Pisangnya bisa pisang raja, baik raja biasa dan raja pulut. Hanya kalau pisang raja sedang
sulit dicari, maka sebagai penggantinya bisa pisang apa saja, tentu dengan skala prioritas
tertentu. Pemakaian pisang raja ini memiliki maksud sebagai simbol dari permohonan
terkabulnya doa ambeg adil paramarta berbudi bawa leksana, atau menjadi orang yang berwatak
adil, berbudi luhur, dan tepat janji, Kalau pisang raja pulut, juga memiliki maksud lain, yakni
agar terbebas dari marabahaya.
Setelah acara selamatan selesai, orang yang punya hajat mengambil pisang pada bagian
tcngahnya. Pelaku tidak mengambil pisang yang dipinggir (Pisang Sangkal). Hal ini dilakukan
sebagai penghayatan dan kesadaran bahwa kehidupan di dunianya yang sekarang ini sedang
berada pada fase zaman madya (era tengah). Pada era zaman madya ini, manusia belum
sepenuhnya memiliki kehendak sendiri, masih terkait dengan iradah dan qudrah Tuhan, di mana
pisang sangkal disimbolisasi, bagi pelaku ritual merupakan analog zaman wusana (akhir). Dalam
hal ini tindakan tersebut dimaksudkan sebagai cara dan upaya memasrahkan diri kepada takdir
Tuhan, atas semua yang sudah dilakukan. Ini merupakan wujud dari tindakan atas firman Tuhan,
fa idza 'azamtafatawakkal 'alallah (jika kamu memiliki keinginan kuat atas sesuatu, dan sudah
mengusahakan secara maksimal, maka kemudian bertawakallah kepada Allah).
Penggunaan pisang sebagai ubarampe dalam selamatan juga dikaitkan dengan pelajaran
tentang etika kehidupan. Yakni agar pelaku ritual dapat menjalankan hidup sebagaimana watak
pisang. Ia dapat hidup di mana saja (ajur ajer), selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Semua bagian dari dirinya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Buah untuk dinikmati manusia
dengan kandungan gizi dan vitamin cukup baik. Daun dapat untuk dijadikan pembungkus
makanan, bagi sementara orang desa, bisa sebagai tutup kepala di saat musim hujan, dan paling
tidak bisa digunakan untuk makanan ternak. Gedebok pisang dapat digunakan sebagai bahan
pupuk, yang bagus menjadi keranjang untuk tembakau, juga untuk digunakan dalam berbagai
bentuk karya seni. Bahkan sisa bonggol pisang masih dapat dimanfaatkan sebagai penyangga
tungku besar pembuat jenang di pedesaan, atau untuk pupuk. Galihnya dapat diambil airnya,
yang dapat digunakan sebagai penguat rambut. Kalaupun akhirnya bonggol pisang tetap
dibiarkan, maka ia akan menjadi busuk dan menjadi pupuk. Dengan menyajikan pisang,
diharapkan pelaku ritual menyadari kekurangan dirinya dalam hal kemanfaatan bagi manusia
lain, dan fungsinya dihadirkan di dunia.
Selain buah pisang, ubarampe lain yang sering ditemukan dalam ritual selamatan adalah
"jajan pasar" yang lengkapnya terdiri dari: kelapa, padi, pala kependhem, rujak degan, buah
asam, cam cao, nanas, kopi, dan lain-lain. Kelengkapan dari jajan pasar antara daerah satu
dengan daerah lain sering berbeda. Akan tetapi esensinya hampir sarna, yakni sebagai sedekah
untuk keselamatan hidup, terutama selamat dalam bidang ruhani, batin atau selamat dari hal-hal
yang berasal dari alam halus, sehingga disebut sebagai "seratan winadi". Jajan pasar adalah
lambang dari sesrawungan (hubungan kemanusiaan, silaturrahmi), lambing kemakmuran. Hal ini
diasosiasikan bahwa pasar adalah tempat bermacam-macam barang, seperti dalam jajan pasar
ada buah-buahan, makanan anak-anak, sekar setaman, rokok dan sebagainya. Dalam jajan pasar
juga sering ada uang dalam bentuk “ratusan" yang dalam bahasa Jawa "satus", yang merupakan
simbol dari sat (asat) dan atus (resik). Uang "satus" berarti lambang bahwa manusia telah bersih
dari dosa (Endraswara, 2003: 199).
Sebagaimana sudah dikemukakan, bahwa salah satu ubarampe ritual islam Jawa adalah
tumpeng. Selain tumpeng yang sudah disebut, masih banyak jenis tumpeng lain seperti tumpeng
sangga langit, arga dumilah, megono dan sebagainya. Salah satu tumpeng yang sering digunakan
adalah tumpeng robyong, yang semakin hari semakin estetis bentuknya. Bentuknya adalah
seperti kerucut atau gunung. Puncak tumpeng diberi lombok merah, dibawahnya ada bawang
merah, disusul dengan berbagai hiasan daun-daunan dan sayur-sayuran kacang panjang. Dasar
tumpeng berisi berbagai ubarampe, seperti: ikan, daging, telur, toge, kacang panjang, dan
gudangan. 'I'umpeng robyong sebagai lambang gambaran kesuburan dan kesejahteraan. Puncak
tumpeng merupakan lambang puncak keinginan manusia, yakni untuk mencapai kemuliaan
sejati. Titik puncak juga merupakan wujud dari gambaran kekuasaan Tuhan yang bersifat
transendental. Tumpeng yang menyerupai gunung (bahasa Jawa: meru) melukiskan kemakmuran
sejati.
Dalam tradisi mistik Jawa, dari puncak gununglah mengalir air yang menjadi simbol
kehidupan. Air menghidupkan berbagai kesuburan. 'I'umhuhan yang dibentuk robyong disebut
sebagai "semi" atau "semen" (tunas bakal hidup) atau hidup itu sendiri. Bakal hidup itu dalam
keadaan bersih dan suci, yang dilambangkan dengan tumpeng berwarna putih. .likn bakal hidup
itu kemudian kelak akan kembali kepada Tuhan, tentu saja harus dalam keadaan suci, sehingga
akan mendapatkan pepadhang (penerangan) dan rahayu (keselamatan), atau juga pencerahan.
Pepadhang adalah nur (cahaya dari Tuhan) yang dengan itulah manusia akan kembali ke
haribaan-Nya secara damai. Adapun tentang ubarampe yang menjadi pelengkap tumpeng
bermacam-macam. Semua disesuaikan dengan kcperluan maupun juga karena kondisi tempat
atau daerah. Nuansanya sama, bahwa ubarampe tersebut menggambarkan perjalanan hidup
manusia dari keberadaan di dunia menjadi keberadaan setelah dunia sekarang ini. Diantaranya
yang sering ditemukan adalah:
a. Telur, sebagai lambang dari "wiji dadi" (benih) terjadinya manusia.
b. Bumbu megana (gudangan), merupakan lukisan bakal (embrio) hidup manusia).
c. Kecambah, simbol dari benih dan bakal manusia yang akan selalu tumbuh seperti kecambah.
d. Kacang panjang. Dalam kehidupan sehari-hari semestinya manusia selalu berpikir panjang (nalar
kang mulur) dan jangan memiliki pikiran yang picik (mulur mungkrete nalar paring saluwir),
sehingga akan selalu dapat menanggapi segala hal dan keadaan dengan penuh kesadaran dan
bijaksana.
e. Tomat. Kesadaran akan menimbulkan perbuatan yang gemar mad-sinamadan dan berupaya
menjadi jalma limpat seprapat tamat.
f. Bawang merah (jawa: brambang). Perbuatan yang selalu penuh pertimbangan.
g. Kangkung. Manusia semacam itu tergolong sebagai manusia yang linangkung (tingkat tinggi).
h. Bayam (bayem). Karenanya bukan mustahil kalau hidupnya menjadi ayem tentrem (penuh
kedamaian dan ketentraman),
i. Cabe merah (lombok abang). Akhirnya akan muneul keberanian dan tekad untuk menegakkan
kebenaran Tuhan, dan berani manunggal kepada asma, sifat, dan af'al Tuhan.
j. Ingkung: cita-cita manunggal diwujudkan dengan selalu n'jungkung (bersujud), dan diperoleh
dengan selalu manekung (muhasabah, khalwat, i'tikaf, semadhi atau tahannuts).
Terkadang, selamatan juga dilengkapi dengan jenang baro-baro sebagai simbol dari
kakang mbarep adhi ragil. Hal ini terkait dengan ajaran mistik Jawa bahwa setiap manusia
memiliki empat saudara yang dikenal dengan sebutan kakang kawah adhi ari-ari. Sedangkan dua
saudara yang lain adalah rah (darah) dan puser (tali pusar). Keempat saudara tersebut dalam
konteks Jawa dihayati sebagai sing ngemong awak (yang menjaga dan memelihara manusia),
atau dalam Islam disebut scbagai al-mala-ikat al-hafadzah (malaikat Tuhan sebagai penjaga).
Karenanya harus dihormati, tidak disia-siakan, dan selalu “disapa" dalam setiap ritual
wilujengan. Sering juga ada bubur tujuh warna (putih, merah, kuning, abu-abu merah muda,
hitam, hijau) sebagai symbol jumlah hari, langit dan sebaganya yang disebutkan tujuh-tujuh
dalam al-Qur'an. Ada juga bubur merah dan putih sebagai simbol terjadinya manusia yang
melalui benih dari ibu (biyung dengan bubur merah) dan benih dari bapak (putih). Jenang merah
putih juga dipahami sebagai simbol watak Sayyidina Hasan dan Husein. Hasan berwatak tenang
penuh kesucian, dan Husein berwatak pemberani dalam menegakkan kebenaran. Tetapi kedua
cucu rasulullah terdekat itu sama-sama meninggal sebagai syahid (martir), dan dijanjikan oleh
nabi sebagai "pemuda penghulu surga". Keduanya kalau dipadukan menjadi simbol dari al-insan
al-kamil. Sementara itu, ubarampe dalam bentuk bunga dan air putih, adalah simbol kehidupan
yang selalu berkaitan. Selain itu simbol dari kenyataan bahwa Allah menciptakan daratan
(bunga) dan lautan (air putih), serta dunia dan akhirat yang memang harus dilalui oleh manusia.
Sering orang Jawa dikritik oleh saudara-saudara muslim yang lebih puritan, "kalau
berdoa kan langsung saja berdoa, tidak usah memakai sarana-sarana dalam bentuk benda." Yang
dimaksud benda di sini adalah berbagai ubarampe dalam ritual sedekahan dan selamatan. Orang
muslim Jawa memiliki argumen yang logis. Rasulullah Muhammad SAW pernah menyampaikan
sabdanya "ash-shadaqatu li dafil bala"'(bahwa bersedekah itu dapat menghindarkan diri dari
kecelakaan, kejelekan dan sejenisnya). Kaum muslim Jawa mengapresiasi hadits ini dalam
tindakan, bahwa dalam setiap permintaan kepada Tuhan, selain berdoa dengan lisan dan shalat,
juga menyertai permohonan itu dengan bersedekah yang fungsinya sesuai dengan hadits tersebut.
Shadaqah tersebut kemudian diberi muatan makna lebih spesifik, bahwa yang bersedekah,
jcnisnya disesuaikan dengan jenis doa yang dihaturkan kepada Tuhan. Dengan demikian maka
sedekahan dan selamatan tersebut. sebcnarnya bukan barang bid'ah, syirik apalagi sesat. Karena
hal itu sebagai salah satu cara mengapresiasi tuntunan Rasulullah secara lebih praktis, mudah
dipahami dan dapat dilaksanakan oleh semua kalangan masyarakat.
c. Kelahiran Bayi
Pada kelahiran seorang bayi, tentunya pada tradisi jawa diadakan beberapa upacara adat
yang akan dilakukan demi menyambut bayi yang baru lahir. Tradisi yang di maksud adalah
aneka tradisi jawa yang terkait dengan ritual dan tradisi kelahiran . berbagai ritual dan do’a
tersebut adalah yang terkait dengan apa yang sering di sebut dengan (selamatan berupa
wilujengan atau kenduri atau shadaqahan (sedekah) tentu masih banyak ritual dan do’a yang
terkait dengan berbagai siklus kehidupan dan kematian manusia.
No Siklus Jenis Ritual Waktu Pelaksanaan
1. Kelahiran Ngupati atau Ngapati Kehamilan mencapai Usia 120 hari
2. Nglimani Kehamilan (pertama) mencapai usia 5 Bulan
3. Mitoni juga disebut Kehamilan mencapai usia 7 Bulan
Tingkeban
4. Nyangani Kehamilan (pertama) mencapai usia 9 bulan
5. Brokohan Selamatan Kelahiran bayi, pada hari bayi lahir
6. Sepasaran Selamatan hari ke-5 kelahiran bayi, pemberian
nama dengan aqiqahan, biasanya disertai
dengan kenduri dan bancakan (selametan).
7. Puputan Selamatan setelah sisa tali pusar lepas (jatuh)
8. Selapanan Selamatan hari ke-35 dari kelahiran bayi.hari
memperbagus fisik sang bayi. Biasanya di
sertai dengan kenduri dan bancakan.
9 Tedhak Siti Selamatan anak usia 7 lapan (245 hari). Do’a
kepada Allah agar anak menjadi anak yang
jujur, ahli ibadah, ahli kepada ilmu, dermawan
dan etos yang tinggi.
10 Setahunan Selamatan ketiak usia anak sudah 1 tahun.
.

Orang Jawa memiliki pandangan yang sudah pasti mengenai kebudayaan Jawa selain
memiliki bentuk - bentuk kelompok sosial kuno yang khas, juga memiliki dialek Jawa yang
berbeda (Koentjaraningrat, 1994:25). Pada masyarakat jawa terdapat tradisi Munyen. tradisi
dilakukan masyarakat dalam menyambut kelahiran seorang anak manusia. Upacara selamatan
pra-kelahiran pun digelar dengan berbagai harapan positif terhadap bayi yang hendak
lahir. Kenduri, semacam acara makan bersama masyarakat sekitar dengan hidangan tertentu
sesuai usia janin dalam kandungan. Ketika janin masih berusia tiga bulan dalam kandungan,
diadakan selamatan Jenang bening, Bubur Sumsum, dan Nasi Punar Phontang (Nasi
Kuningserta lauk pauk dan jamur).
Lalu ketika janin berusia 4 bulan, dilakukan selamatan dengan sebutan Ngupati.
Wujudnya berupa ketupat, gudeg, nasi pecel, tumpeng, enten-enten dan ketan. Lalu pada masa
kehamilan 7 bulan, ada selamatan lagi yang disebutMitoni atau Ningkebi dengan
upacaranya disebut Tingkeban. Bahkan ketika usia kehamilan mencapai 9 bulan ada selamatan
lagi yang disebut Mrocoti. Pada Upacara adat pada saat memperingati kehamilan 9 bulan
terdapat makanan khas yang du sajiakan. Karena pada hari – hari upacara makanan tersebut ada
Makanan atau masakan yang disajikan antara lain: jenang procot, kupat, nasi golong (nasi kepal
dan di bulat-bulatkan), bulus angrem, dhawet, dan lain-lain. Tujuannya agar nanti bayi yang di
lahirkan bisa keluar dengan cepat dan selamat tanpa ada gangguan apapun.
Pada saat menjelang proses kelahiran, terdapat kebiasaan yang unik yang dilakukan oleh
masayarakat Jawa. Ketika Bayi akan lahir, pintu, jendela, panci – panci di buka semua, kecuali
pintu kamar yang untuk melahirkan. Ibu hamil mengunyah sambetan.(sejenis ramuan).
sambetan terdiri dari dlingu (Acorus Calamus L. Botani), blengke ( Zingiber Cassummunar) dan
kunir (Curcuma Longa Line) yang kemudian di kunyah, disembur, dioles keperut. Mengambil
daun talas memarut temu dan dicampur minyak klentik / minyak kelapa.
Memarut temulawak(Curcuma xantorriza) kemudian diperas, ditambah minyak kelapa kemudian
ditaruh di daun talas dan diminum oleh ibu hamil tersebut sebelum melahirkan. Kemudian
menyediakan telur ayam kampung. Apabila sudah melahirkan diminumkan madu dan telur ayam
kampung untuk mengembalikan tenaga sanng ibu.
Setelah bayi lahir, ari – ari bayi dipotong dengan kulit bambu (welad) yang telah dibaluti
kunyit, maupun pisau dan gunting, tali pusat itu dimasukkan ke dalamkendhi (periuk dari tanah)
yang masih baru. Kemudian ditutup dengan daun pisang raja, ditaburi kembang telon (kantil,
mawar, melati), minyak wangi, garam, jarum, benang, gereh pethek (sejenis ikan asin) dua ikat
sirih keris dan jambe serta kemiri. Juga disertakan kertas bertuliskan huruf abjad Arab hijaiyah ‫ي‬
‫ ا‬- , a – z, 1 – 10, bunga tujuh macam yaitu bunga mawar merah, putih, melati, kenanga hijau,
kenanga kuning, kanthil putih, bunga sepatu merah, lafadz bismillah, syahadat, dimasukkan ke
dalam anyaman janur dan dimasukkan ke kendhi. Baru di atasnya ditutup dengan cobek dari
tanah yang dilubangi agar ada udaranya. lubang kendhi dihiasi carangan(batang bambu kecil),
yang menurut keyakinan masyarakat sekitar lubang tersebut bermanfaat ketika anak sedang flu,
lubang itu ditiup sehingga anak tersebut sembuh dari flunya. Selanjutnya, kendhi tersebut
dihanyutkan di sungai, dengan maksud agar kelak anak tersebut gemar merantau dan
mendapatkan jodoh yang jauh. Ada pula yang digantung di luar rumah, yaitu untuk kerukunan
dan kelak anaknya sendiri yang menghanyutkan. Apabila satu keturunan ada yang dijadikan satu
tempat dengan ari – ari kakaknya. Namun juga ada yang ditanam (dikubur) oleh ayahnya sendiri
dengan maksud supaya mendapatkan jodoh yang dekat. Saat menanamnya pun mengikuti aturan,
harus berpakaian rapi, ari-ari digendong dengan selendang dan dipayungi. Setiap hari
kelahirannya (weton) ari-ari ditaburi bunga telon.
Saat sisa usus bayi yang melekat pada pusar mengering dan lepas, sering disebut Puput
Puser. Menurut adat, bila bayi laki-laki, lubang pusernya disumbat dengan dua buah mrica agar
kelak menjadi lelaki sejati. Bila bayinya perempuan, lubang pusar disumbat dengan ketumbar.
Sore harinya biasanya diadakan upacara selamatan dengan hidangan terdiri dari nasi
dan janganan (sayuran), jenang merah putih, baro-baro dan jajan pasar. Sedangkan sesajinya
berupa golong lima yaitu ikan, padupan, bunga cempaka dan uang logam, ditempatkan
di takir (daun pisang dibentuk bundar). Setelah selesai dengan urusan ari – ari sekarang giliran
ibu bayi dimandikan (mandi wiladah), setelah melahirkan ibu diharuskan
memakaiStagen/benting di bengkung (benting) selama 100 hari. Perut ibu diberi pupuk yang
terdiri dari jeruk nipis, kapur sirih, minyak kayu putih dioleskan dengan tujuan untuk
mengembalikan kondisi perut agar kembali seperti semula (ramping). Duduknya ibu diharuskan
dengan abu hangat yang diletakkan didaun pisang kemudian dibungkus dengan kain, diatasnya
pakai Sapu Oman ( tangkai padi) dengan tujuan agar darah dalam perut tidak membeku, bisa
lancar dan keluar. Mata ibu dipupuhi, pilis dikening bertujuan untuk darah putih tidak kemata.
Dari prosesi adat masyarakat Jawa pada saat melahirkan, tentunya terdapat tradisi lain
yang di lakukan setelah melahirkan sampai dengan si anak berumur 1 tahun. Pada hari ke-35 dari
kelahiran bayi.hari di adakannya Selapanan, kemudianThedak Siti dan Setahunan. Dari tradisi
yang ada di Jawa, memberikan arti tersendiri kepada generasi masyarakatnya. Dimana tradisi
tersebut akan memberikan pelajaran yang baik tetunya mengandung nilai-nilai religi dan estetika
terhadap tradisi tersebut. Maka dari generasi masyarakat Jawa selalu memeperingati teradisi
tersebut, walaupun sudah berada pada zaman modern dengan adanya rumah sakit bersalin yang
kadang kala prosesi kelahirannya tidak sama dengan adat Jawa atau Jawa. Tetapi masyarakat
Jawa mencoba menjaga tradisi tersebut demi generasinya.
d. Budaya Kenduri dan Selamatan sebagai Sedekah
Sebagian kalangan muslim Jawa memiliki tradisi mengadakan kenduri dan selamatan
(wilujengan), sebagai apresiasi atas semangat bersedekah dari ajaran Islam. Dalam Ensiklopedi
Kebudayaan Jawa (2005: 232-233) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kenduren adalah
upacara sedekah makanan karena seseorang telah memperoleh anugerah atau kesuksesan sesuai
dengan apa yang dicita-citakan. Dalam hal ini kenduren mirip dengan tasyakuran. Acaranya
bersifat personal. Undangan biasanya terdiri dari kerabat, kawan sejawat, dan tetangga. Mereka
berkumpul untuk berbagi suka. Suasana santai sambil disertai dengan pembicaraan yang
bermanfaat serta berbagai suri tauladan yang bisa dicontoh. Hidangan sedekah dalam kenduren
atau wilujengan menunya lebih bebas. Hampir tidak ada kewajiban menu tertentu, sehingga
terbangun suasana akrab, penuh silaturrahmi, berbagi suka dan menunjukkan rasa syukur kepada
Tuhan.
Kenduri selamatan dalam ritus orang Islam Jawa memiliki arti penting, dan menjadi
bagian tidak terpisah dari sistem religi orang Jawa. Undangan bersifat bebas, yang umumnya
dilaksanakan di malam hari. Jika ada acara yang bersamaan biasanya sebagian melaksanakan
sesudah shalat Ashar mendekati Maghrib, lalu lainnya sesudah Isya' kalau masih ada yang
bersamaan, sebagian memberi alokasi sesudah maghrib. Tempatnya mengambil lokasi pada
serambi atau pendapa (aula) rumah. Jika ruang kurang mencukupi, maka benda-benda dalam
ruangan dialihkan terlebih dahulu. Selamatan kadang mengambil tempat di serambi masjid atau
halaman luar ruangan. Hidangan yang disediakan umumnya adalah nasi tumpeng dengan lauk
pauknya, dan untuk hal-hal khusus, seperti syukuran atau kiriman, memakai nasi tumpeng rasul
(tumpeng yang sudah dikasih garam dan santan kelapa, sejenis nasi uduk), dilengkapi dengan
lauk daging ayam yang dimasak secara utuh (ingkung).
Disebut tumpeng rasul (metua dalam kang lempeng artinya lewatilah jalan yang lurus
mengikuti ajaran Rasul Allah), karena memiliki nilai simbolis hidup dengan mengikuti jalan
lurus sesuai ajaran Rasul (Utusan Tuhan), dengan ciri khas adalah ingkung (inggala njunqkung
atau bersujud), yakni beribadah sepenuhnya kepada Allah, Disebut nasi uduk, yang sebenarnya
adalah nasi wudlu', karena selama proses memasaknya, maka orang (pcrcmpuan) yang memasak
dalam keadaan suci, dengan berwudlu' terlebih dahulu. Selain itu juga diberi suguhan air the
manis, paling tidak air kemasan, dan bagi yang mampu masih diberi suguhan ala kadarnya.
Pada zaman sekarang, pada acara selamatan tertentu, seperti ulang tahun misalnya,
terkadangjuga diberi suguhan roti dan kue ulang tahun, sebagaimana berlaku pada masyarakat
Barat. Semua hidangan tersebut, oleh tuan rumah dimaksudkan sebagai shadaqah, yang diberikan
kepada mereka yang diundang dan tetangga terdekat di sekitarnya (Koentjaraningrat,1994: 345-
346). Suguhan dihidangkan sejenak setelah para tamu undangan datang, duduk bersila,
melingkari suguhan. Kemudian tuan rumah atau yang mewakili, memberikan sambutan dalam
bentuk menyerahkan upacara kepada ulama atau sesepuh (yang dituakan) setempat, sambil
menyebutkan apa yang menjadi kepentingan dari acara kenduri tersebut. Setelah itu, yang
diserahi untuk memimpin upacara baru memulai dengan menyatakan kembali apa yang menjadi
kepentingan tuan rumah, sehubungan dengan dilaksanakannya upacara tersebut. Selain itu juga
memintakan maaf, jika ada kekurangan dan sambutan kurang memadai. Baru kemudian, upacara
diteruskan dengan dzikir serta ungkapan-ungkapan wirid dari beberapa ayat al-Qur'an serta
bacaan lain yang berkaitan dengan keperluan dari acara tersebut. Upacara ditutup dengan
pembacaan doa, sebagaimana yang diinginkan oleh tuan rumah, sedangkan para tamu undangan
mengamini sambil mengangkat tangan dalam posisi berdoa, dari doa tersebut.
Setelah doa selesai, kemudian tuan rumah mempersilahkan para tamunya untuk
menikmati minuman dan santapan atau suguhan selain tumpeng. Sementara itu, nasi tumpeng
dan semua lauk pauknya dibagikan kepada para tamu yang hadir. Tetangga terdekat yang
berhalangan hadir, biasanya tetap diberi bagian, yang dititipkan pada tetangga dekatnya.
Sebagian dari nasi tumpeng disantap di tempat dengan tidak menggunakan sendok (muluk),
sedangkan sebagian sisanya yang lain, dibungkus untuk dibawa pulang. Jika tidak tersedia
bungkusan, maka biasanya tuan rumah meminjamkan piring atau wadah lain untuk membawa
pulang nasi kenduri, yang oleh masyarakat disebut sebagai "nasi berkat". Disebut sebagai "nasi
berkat", karena memiliki dua konotasi makna dan tujuan. Pertama, bahwa nasi tumpeng tersebut
dihidangkan setelah ada ritual dan doa, sehingga diharapkan keberkahan dari Allah diberikan
kepada mereka yang ikut berdoa, atau bagi mereka yang menyantap hidangan tersebut. Kedua,
bahwa berkat berasal dari bahasa Arab "barkah" yang maknanya bertambah. Hal ini sesuai
dengan ketentuan Firman Allah, bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya,
Sedangkan kenduri adalah media tasyakur tersebut, sehingga ada harapan Allah memberikan
tambahan keberkahan dan pahala serta kesejahteraan bagi tuan rumah dan yang diundang.
Dengan penjelasan tersebut nampak bahwa inti dari kenduri adalah bersyukur kepada
Allah, dan menyampaikan permohonan (doa) kebaikan kepada Allah, disertai dengan
memberikan sesuatu, yakni hidangan sebagai shadaqah kepada orang lain. Memberikan sesuatu
kepada orang lain, merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam, karena di
dalamnya terdapat manfaat yang sangat besar. Sebagaimana yang dikatakan oleh al Jurjawi
dalam sebuah kitab karya beliau :
"Sesunggunya hikmah dari disyari'atkannya hibah (memberikan sesuatu kepada orang lain) itu
sangat besar besar sekali. Karena dapat menghilangkan sifat dengki dan hasut, serta memupuk
rasa cinta kasih dalam hati. Ia juga menunjukkan kemulyaan akhlak, kesucian anggota badan,
sifat yang luhur, keutamaan serta kemulyaan yang sangat agung.” (Hikmah l-Tasyri wa
Falsafatuh, hlm. 124).

http://lindalaila.blogspot.com/2014/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html