Anda di halaman 1dari 19

KOMUNIKASI TERAUPETIK

DENGAN TENAGA KESEHATAN LAIN

OLEH :

DEDI IRAWAN NIM 04021381821002


NOVALIA RAHMA NIM 04021381821005
SHENI TRIPUSPA SARI NIM 04021381821008
INTANIA NOVRIDHATAMI NIM 04021381821011
DIAN PUTRI PERMATA SARI NIM 04021381821014
WIWIN WIKAYANI NIM 04021381821017
KIKE PRATIWI NIM 04021381821020
ADI SETIAWAN NIM 04021381821023
AULIA SAFITRI NIM 04021381821026
RAMA ARIWIJAYA NIM 04021381821029
INDAH NOVIYANTI NIM 04021381821032

DOSEN PEMBIMBING :
Fuji Rahmawati, S.Kep, Ns, M.Kep.

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR
Assalammualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah Komunikasi Keperawatan. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi
tugas pelajaran Keperawatan maternitas

Penyelesaian makalah ini saya memperoleh dukungan, bimbingan, serta


pengarahan dari berbagai pihak dalam bentuk moril maupun materil. Untuk itu
dengan segala kerendahan hati izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada

1. Ibu Fuji Rahmawati, S.Kep, Ns, M.Kep, yang telah meluangkan banyak
waktunya untuk membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini
2. Teman-teman seperjuangan yang telah bekerja sama dalam menyelesaikan
makalah ini
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua.

Wassalammu’alaikum. Wr. Wb.

Indralaya, Oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1 Latar belakang ..................................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 1
BAB II................................................................................................................................. 2
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 2
2.1 Konsep Umum Komunikasi Teraupetik.............................................................. 2
2.1.1 Definisi Komunikasi Teraupetik ..................................................................... 2
2.1.2 Komunikasi dalam kelompok ......................................................................... 3
2.2 Komunikasi dengan Tim kesehatan lain ............................................................. 5
2.2.1 Komunikasi antara perawat-dokter ................................................................ 6
2.2.2 Komunikasi antara Perawat dengan Perawat .................................................. 7
2.2.3 Komunikasi antara perawat dengan Ahli terapi .............................................. 8
2.2.4 Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Farmasi .......................................... 9
2.2.5 Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Gizi .............................................. 10
2.2.6 Komunikasi terkait kasus pemicu ................................................................. 10
2.2.7 Konflik dalam berkomunikasi ....................................................................... 14
BAB III ............................................................................................................................. 15
PENUTUP ........................................................................................................................ 15
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 15
3.2 Saran ................................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 16

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Di Indonesia ada berbagai macam profesi dalam kesehatan. Profesi
tersebut juga mengakibatkan banyaknya institusi kesehatan, diantaranya dokter,
bidan, ahli gizi, kesehatan masyarakat, radiologi, teknobiomedik, farmasi, analis
kesehatan, dan perawat. Semua profesi tadi diwajibkan saling bekerjasama dalam
menjalankan profesionalitas profesinya masing-masing.

Perawat merupakan satu dari banyaknya profesi kesehatan yang ada.


Semua profesi kesehatan yang ada tentu memiliki visi yang sama yakni
terwujudnya pelayanan kesehatan yang prima. Namun dalam pelaksanaannya
perawat tidak sendirian. Perawat ditemani oleh dokter, analis kesehatan, tim
kesehatan masyarakat, analis kesehatan, ahli gizi, radiologi dan lainnya.

Kemudian bagaimana caranya supaya tugas antar profesi keperawatan


dapat berjalan secara harmonis dan pelayanan kesehatan menjadi maksimal?
Kolaborasi pendidikan dan praktik antar profesi kesehatan tentunya sangat
dibutuhkan. Semua jenis profesi harus mempunyai keinginan untuk berkolaborasi.
Perawat, bidan, dokter, dan semua profesi lain merencanakan dan
mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya di bangku pelajar. Ketergantungan antar
profesi pun dapat tetap ada asalakan dalam batas-batas lingkup praktek yang
sesuai dengan aturan yang ada.

1.2 Rumusan masalah

 Apa yang dimaksud dengan komunikasi teraupetik?


 Bagaimana komunikasi teraupetik antara perawat dengan tenaga kesehatan
lain?

1.3 Tujuan
 Menjelaskan pengertian komunikasi teraupetik
 Menjelaskan komunikasi teraupetik antara perawat dengan tenaga kesehatan
lain.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Umum Komunikasi Teraupetik

2.1.1 Definisi Komunikasi Teraupetik


Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong dan
membantu proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Northouse
(1998) mendefinisikan komunikasi terapeutik sebagai kemampuan atau
keterampilan perawat dalam berinteraksi untuk membantu klien
beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar
bagaimana berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi
terapeutik merupakan komunikasi interpersonal, artinya komunikasi antara
orang-orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya
menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal dan
nonverbal (Mulyana, 2000).

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanankan


secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan
pasien (Indrawati, 2003). Komunikasi terapeutik bukan merupakan
pekerjaan yang dapat dikesampingkan, namun harus direncanakan,
disengaja, dan merupakan tindakan professional seorang perawat. Akan
tetapi, jangan sampai karena terlalu asik dan sibuk bekerja, kemudian
melupakan pasien sebagai manuasia dengan bergbagai macam latar
belakang dan masalahnya (Arwani, 2003).

Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli diatas dapat disimpulkan


bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi terencanakan yang terjadi
antara perawat dan klien secara langsung atau tatap muka dengan tujuan
untuk menyelesaikan masalah dan membantu proses penyembuhan klien
(Depkes RI, 1997; Northouse, 1998; Mulyana, 2000; Indrawati, 2003;
Arwani, 2003).

2
2.1.2 Komunikasi dalam kelompok
Kozier.,et all (2010) menyampaikan bahwa kelompok adalah dua atau
lebih individu yang berbagi kebutuhan dan tujuan berama, melibatkan satu
sama lain ke dalam tindakan yang mereka lakukan, dan akhirnya bersatu
padu serta memisahkan diri dari pihak lain demi kebaikan interaksi yang
mereka lakukan. Kelompok hadir untuk membantu manusia mencapai
tujuan yang tidak dapat dicapai dengan kemampuan individu.

a. Dinamika kelompok
Komunikasi yang berlangsung antar anggota kelompok dikenal dengan
dinamika kelompok. Tata cara komunikasi ini akan ditentukan oleh
sejumlah variabel dan faktor yang saling terkait. Setiap anggota
kelompok akan memberikan pengaruh pada dinamika kelompok,
didasarkan pada motivasi mereka dalam berpartisipasi, kesamaan
mereka dengan anggota kelompok yang lain, kedewasaan anggota
kelompok dalam mengespresikan perasaan mereka dan tujuan
kelompok tersebut.

b. Tipe kelompok layanan kesehatan


Sebagian besar kehidupan perawat dihabiskan dibanyak ragam
kelompok, dari dua hingga organisasi profesional yang besar. Sebagai
partisipan kelompok, perawat mungkin diharuskan menjalani peran
yang berbeda baik menjadi anggota atau pemimpin, pemberi saran atau
penerima saran sesuai dengan kapasitasnya. Tipe kelompok layanan
kesehatan yang umum meliputi kelompok kerja, kelompok penyuluhan,
kelompok swabantu, kelompok terapi, dan kelompok pendukung sosial
terkait kerja. Kerja profesional dalam kelompok bergantung pada gaya
kepemimpinan, tanggung jawab anggota, tanggung jawab
kepemimpinan, dan identifikasi tugas dalam fase grup berbeda.

TABEL 1.1 Perbandingan kelompok yang efektif dan tidak


efektif.(Kozier,.et all.,2010).

3
Faktor Kelompok efektif Kelompok tidak efektif
Suasana Nyaman dan rileks, suasana kerja Tegang, kurangnya privasi dan
tempat orang mendemonstrasikan komitmen sukarela terhadap
peran serta mereka kelompok.
Tujuan Tujuan, tugas, dan hasil lebih mudah Tujuan tidak jelas, disalah
dipahami, dimengerti, dan mengerti dan dipaksakan
dimodifikasi agar anggota kelompok
dapat berkomitmen terhadap tujuan
melalui kerjasama.
Kepemimpinan Kepemimpinan demokratis. Otoriter : pemimpin mendominasi
dan partisipasi Pergantian kepemimpinan dilakukan kelompok atau anggota terlalu
anggota berdasarkan pengetahuan dan tunduk. Partisipasi anggota tidak
pengalaman yang dimiliki. seimbang, didominasi oleh
beberapa orang
Komunikasi Terbuka, ide-ide dan pemikiran Tertutup: hanya upaya untuk
pendapat dukungan menhasilkan ide yang
mendapatkan dukungan. Perasaan
diabaikan. Anggota dapat
memiliki tujuan yang
bertolakbelakang dengan tujuan
kelompok
Pengambilan Dilakukan oleh kelompok meskipun Dilakukan oleh otoritas tertinggi
keputusan berbagai prosedur berdasarkan dalam kelompok dengan
situasi yang ada. keterlibatan yang minimal dari
anggota kelompok yang lain.
Kohesi Difasilitasi melalui penghargaan Pemimpin mengklaim berjasa
terhadap anggota kelompok yang dalam pencapaian, komentar
lain, ekspresi perasaan yang terbuka, bersifat kritis da berfokus pada
percaya dan dukungan karakteristik personal.
Pemecahan Tinggi: kritik yang mebangun sering Rendah: kritik tidak membangun,
masalah dilontarkan. Jujur, relatif nyaman, muncul dalam bentuk serangn
dan diorientasikan untuk pemecahan pribadi yang terang terangan atau

4
masalah. tersembunyi.
Kreativitas Mendapatkan dukungan Tidak memperoleh dukungan

2.2 Komunikasi dengan Tim kesehatan lain


Perawat menjalankan peran yang membutuhkan interaksi dengan berbagai
anggota tim pelayanan kesehatan. Unsur yang membentuk hubungan perawat
klien juga dapat diterapkan dalam hubungan sejawat, yang berfokus pada
pembentukan lingkungan kerja yang sehat dan mencapai tujuan tatanan klinis.
Komunikasi ini berfokus pada pembentukan tim, fasilitasi proses kelompok,
kolaborasi, konsultasi, delegasi, supervisi, kepemimpinan, dan manajemen.
Dibutuhkan banyak keterampilan komunikasi, termasuk berbicara dalam
presentasi, persuasi, pemecahan masalah kelompok, pemberian tinjauan performa,
dan penulisan laporan. Didalam lingkungan kerja, perawat dan tim kesehatan
membutuhkan interaksi sosial dan terapeutik untuk membangun kepercayaan dan
meperkuat hubungan. Semua orang memilki kebutuhan interpribadi akan
penerimaan, keterlibatan, identitas, privasi, kekuatan dan kontrol, serta perhatian.
Perawat membutuhkan persahabatan, dukungan, bimbingan, dan dorongan dari
pihak lain untuk mengatasi tekanan akibat stress pekerjaan dan harus dapat
menerapkan komunikasi yang baik dengan klien, sejawat dan rekan kerja. (Potter
& Perry, 2009).

Agar efektif sebagai profesional keperawatan, itu tidak cukup untuk sangat
berkomitmen untuk klien. Pada akhirnya, iklim perusahaan tempat kerja akan
memiliki efek pada hubungan yang terjadi antara perawat dan klien pribadi.
Kegagalan dalam komunikasi antara penyedia layanan kesehatan adalah salah satu
faktor yang paling umum. Komitmen untuk kolaborasi dalam hubungan kerja
dengan para profesional lain membantu mempertahankan kualitas tinggi dari
perawatan klien. Keberhasilan kelompok bergantung pada hubungan baik
diantara tim, terutama pemimpin tim dengan anggota tim yang lain. Untuk
mendorong terjadinya komunikasi, pemimpin tim harus selalu mengamati prinsip
komunikasi menurut WHO, 1999 :

5
 Seluruh anggota tim harus bebas mengemukakan dan menjelaskan
pandangan mereka dan harus didorong untuk bertindak seperti itu.
 Sebuah pesan atau komunikasi, baik lisan maupun tertulis harus
dinyatakan dengan jelas dan dalam bahasa atau ungkapan yang dapat
dimengerti
 Komunikasi mempunyai 2 unsur yaitu mengirim dan menerima, bila
pesan yang dikirim tidak diterima komunikasi tidak berjalan. Dengan
demikian pemimpin tim harus selalu meggunakan suatu cara untuk
memeriksa apakah efek yang diharapkan terjadi.
 Perselisihan atau pertentangan adalah normal dalam hubungan antar
manusia, hal ini sudah diatur sedemikian sehingga dapat mencapai
hasil yang konstruktif.

2.2.1 Komunikasi antara perawat-dokter


Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi
yang telah cukup lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien.
Perawat bekerja sama dangan dokter dalam berbagai bentuk. Perawat
mungkin bekerja di lingkungan di mana kebanyakan asuhan keperawatan
bergantung pada instruksi medis. Perawat diruang perawatan intensif dapat
mengikuti standar prosedur yang telah ditetapkan yang mengizinkan
perawat bertindak lebih mandiri.

Perawat dapat bekerja dalam bentuk kolaborasi dengan


dokter.Contoh : Ketika perawat menyiapkan pasien yang baru saja
didiagnosa diabetes pulang kerumah, perawat dan dokter bersama-sama
mengajarkan klien dan keluarga begaimana perawatan diabetes di
rumah.Selain itu komunikasi antara perawat dengan dokter dapat terbentuk
saat visit dokter terhadap pasien, disitu peran perawat adalah memberikan
data pasien meliputi TTV, anamnesa, serta keluhan-keluhan dari
pasien,dan data penunjang seperti hasil laboraturium sehingga dokter dapat
mendiagnosa secara pasti mengenai penyakit pasien.Pada saat perawat
berkomunikasi dengan dokter pastilah menggunakan istilah-istilah medis,

6
disinilah perawat dituntut untuk belajar istilah-istilah medis sehingga tidak
terjadi kebingungan saat berkomunikasi dan komunikasi dapat berjalan
dengan baik serta mencapai tujuan yang diinginkan.

Komunikasi antara perawat dengan dokter dapat berjalan dengan


baik apabila dari kedua pihak dapat saling berkolaborasi dan bukan hanya
menjalankan tugas secara individu, perawat dan dokter sendiri adalah
kesatuan tenaga medis yang tidak bisa dipisahkan. Dokter membutuhkan
bantuan perawat dalam memberikan data-data asuhan keperawatan, dan
perawat sendiri membutuhkan bantuan dokter untuk mendiagnosa secara
pasti penyakit pasien serta memberikan penanganan lebih lanjut kepada
pasien. Semua itu dapat terwujud dwngan baik berawal dari komunikasi
yang baik pula antara perawat dengan dokter.

Tips untuk permintaan kejelasan kepada dokter:


1) Mengidentifikasi semua nama (Sebutkan nama dokter, sebutkan nama
dan posisi, mengidentifikasi klien dan diagnosis klien atau orang-
orang lain yang terlibat dalam masalah dengan nama.
2) Meringkas masalah (data faktual singkat tentang masalah),
3) Menyatakan tujuan ,
4) Menyarankan solusi pemecahan masalah yang relevan sesuai dengan
praktek klinik,
5) Menulis kesimpulan (menjelaskan siapa yang akan bertanggung jawab
untuk pelaksanaan, mengklarifikasi informasi terutama jika ini
percakapan telepon, menentukan kerangka waktu pelaksanaan).
(Arnold & Boogs, 2007).

2.2.2 Komunikasi antara Perawat dengan Perawat


Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada klien komunikasi
antar tenaga kesehatan terutama sesama perawat sangatlah penting.
Kesinambungan informasi tentang klien dan rencana tindakan yang telah,
sedang dan akan dilakukan perawat dapat tersampaikan apabila hubungan
atau komunikasi antar perawat berjalan dengan baik.Hubungan perawat
dengan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat

7
diklasifikasikan menjadi hubungan profesional, hubungan struktural dan
hubungan intrapersonal.

Hubungan profesional antara perawat dengan perawat merupakan


hubungan yang terjadi karena adanya hubungan kerja dan tanggung jawab
yang sama dalam memberikan pelayanan keperawatan.Hubungan
sturktural merupakan hubungan yang terjadi berdasarkan jabatan atau
struktur masing- masing perawat dalam menjalankan tugas berdasarkan
wewenang dan tanggungjawabnya dalam memberikan pelayanan
keperawatan.

Laporan perawat pelaksana tentang kondisi klien kepada perawat


primer, laporan perawat primer atau ketua tim kepada kepala ruang tentang
perkembangan kondisi klien, dan supervisi yang dilakukan kepala ruang
kepada perawat pelaksana merupakan contoh hubungan
struktural.Hubungan interpersonal perawat dengan perawat merupakan
hubungan yang lazim dan terjadi secara alamiah. Umumnya, isi
komunikasi dalam hubungan ini adalah hal- hal yang tidak terkait dengan
pekerjaan dan tidak membawa pengaruh dalam pelaksanaan tugas dan
wewenangnya.

2.2.3 Komunikasi antara perawat dengan Ahli terapi


Ahli terapi respiratorik ditugaskan untuk memberikan pengobatan
yang dirancang untuk peningkatan fungsi ventilasi atau oksigenasi
klien.Perawat bekerja dengan pemberi terapi respiratorik dalam bentuk
kolaborasi. Asuhan dimulai oleh ahli terapi (fisioterapis) lalu dilanjutrkan
dengan dievaluasi oleh perawat. Perawat dan fisioterapis menilai kemajuan
klien secara bersama-sama dan mengembangkan tujuan dan rencana
pulang yang melibatkan klien dan keluarga. Selain itu, perawat merujuk
klien ke fisioterapis untuk perawatan lebih jauh. Contoh : Perawat
merawat seseorang yang mengalamai penyakit paru berat dan merujuk
klien tersebut pada ahli terapis respiratorik untuk belajar latihan untuk
menguatkaan otot-otot lengan atas, untuk belajar bagaimana menghemat

8
energi dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan belajar teknik untuk
mempertahankan bersihan jalan nafas.

2.2.4 Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Farmasi


Seorang ahli farmasi adalah seorang profesional yang mendapat
izin untuk merumuskan dan mendistribusikan obat-obatan. Ahli farmasi
dapat bekerja hanya di ruang farmasi atau mungkin juga terlibat dalam
konferensi perawatan klien atau dalam pengembangan sistem pemberian
obat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan
mempertahankan dengan mendorong klien untuk proaktif jika
membutuhkan pengobatan. Dengan demikian, perawat membantu klien
membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan,
mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung
jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama tenaga
kesehatan lainnya. Perawat harus selalu mengetahui kerja, efek yang
dituju, dosis yang tepat dan efek smaping dari semua obat-obatan yang
diberikan. Bila informasi ini tidak tersedia dalam buku referensi standar
seperti buku-teks atau formula rumah sakit, maka perawat harus
berkonsultasi pada ahli farmasi.

Saat komunikasi terjadi maka ahli farmasi memberikan informasi


tentang obat-obatan mana yang sesuai dan dapat dicampur atau yang dapat
diberikan secara bersamaan. Kesalahan pemberian dosis obat dapat
dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama mengetahui dosis
yang diberikan. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim
medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat. Selain itu, ahli
farmasi dapat menyampaikan pada perawat tentang obat yang dijual bebas
yang bila dicampur dengan obat-obatan yang diresepkan dapat berinteraksi
merugikan, sehingga informasinini dapat dimasukkan dalam rencana
persiapan pulang. Seorang ahli farmasi adalah seorang profesional yang
mendapat izin untuk merumuskan dan mendistribusikan obat-obatan. Ahli
farmasi dapat bekerja hanya di ruang farmasi atau mungkin juga terlibat
dalam konferensi perawatan klien atau dalam pengembangan sistem
pemberian obat.

9
2.2.5 Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Gizi
Kesehatan dan gizi merupakan faktor penting karena secara
langsung berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pelayanan gizi di RS merupakan hak setiap orang dan memerlukan
pedoman agar tercapai pelayanan yang bermutu.

Agar pemenuhan gizi pasien dapat sesuai dengan yang diharapkan


maka perawat harus mengkonsultasikan kepada ahli gizi tentang – obatan
yang digunakan pasien, jika perawat tidak mengkonunikasikannya maka
dapat terjadi pemilihan makanan oleh ahli gizi yang bisa saja menghambat
absorbsi dari obat tersebut. Jadi diperlukanlah komunikasi dua arah yang
baik antara kedua belah pihak.

2.2.6 Komunikasi terkait kasus pemicu


Fokus dalam segmen model komunikasi kesehatan dapat
melukiskan hubungan interpersonal dalam tim kesehatan. Northouse
(1998) mengungkapkan ada 3 area permasalahan yang dimiliki dalam
hubungan interprofesional yaitu:
1) Stres Peranan (Role Stress)
2) Rendahnya pemahaman interpersonal (lack of interpersonal
understanding)
3) Otonomi yang keras (autonomy struggle)
Bertemu dengan orang sakit setiap hari merupakan tugas yang tidak
mudah. Pekerjaan profesional kesehatan secara konstan menempatkan
mereka dalam kontak dengan pasien yang sedang bergelut dengan kondisi
kritis dalam hidupnya dan mereka sedang mencoba mengatasi emosi atau
penyakit yang serius. Sumber masalah role stress yang dialami para
professional kesehatan berhubungan dengan penyelesaian peran
professional itu sendiri. Jenis role stress dibagi dua jenis yaitu role conflict
dan role overload. Kasus role conflict dapat ditunjukan salah satunya
dengan reality shock.

Kramer (1974) dalam teorinya tentang Reality Shock menjelaskan


bahwa stress dapat disebabkan oleh adanya kesenjangan atau perbedaan

10
antara lingkungan pendidikan dengan pelayanan. Hal itu biasanya dialami
oleh lulusan perawat baru. Perawat X sebagai perawat baru yang bekerja di
sebuah Rumah Sakit merasakan bahwa pendidikan yang ia tempuh selama
ini ternyata belum cukup untuk mempersiapkan dirinya dalam lingkungan
kerja. Perawat X akhirnya mengalami reality shock yang menyebabkan
terhambatnya komunikasi terapeutik antara perawat dan klien. Karena baru
pertama masuk dunia kerja, perawat X juga merasakan kesulitan
berkomunikasi dengan tim kesehatan lain, apalagi untuk berbicara di
depan suatu forum tim kesehatan. Hubungan interpersonal antara perawat
dan profesi lain pun harus terpelihara dengan baik. Hubungan tersebut
dapat diwujudkan dengan meningkatkan pemahaman interpersonal
mengenai peran masing-masing individu atau profesi.

Perawat X harus paham benar tentang perannya sebagai perawat


dan berusaha tidak memasuki batas wilayah peran profesi lainnya sehingga
tidak memicu konflik internal tim kesehatan. Kolaborasi antara perawat X
dengan perawat atau tim kesehatan lain dapat terwujud jika hubungan
interpersonal perawat X berjalan dengan baik. Area-area rentang konflik
seperti yang digambarkan di atas merupakan hal yang perlu diwaspadai,
terutama dalam menjalin kolaborasi antar anggota tim kesehatan atau
interprofesional. Untuk mempertahankan hubungan yang harmonis serta
mengurangi beban stress di lingkungan kerja, akhirnya para professional
kesehatan membuat jadwal pertemuan rutin yang digunakan sebagai sarana
sharing atau berdiskusi tentang masalah-masalah yang ada di lingkungan
kerja. Pertemuan tersebut antara lain rapat rutin tim kesehatan dan case
conference.

 Rapat Tim Kesehatan


Rapat tim kesehatan adalah media komunikasi antara tim
kesehatan (rapat multidisiplin) untuk membahas manajerial ruang
untuk membicarakan hal-hal yang terkait dengan manajerial.Tujuan
rapat tim keehatan yaitu menyamakan persepsi terhadap informasi
yang didapat dari masalah yang ditemukan (khususnya masalah

11
manajerial), meningkatkan kesinambungan pemberian pelayanan
kesehatan, mengurangi kesalahan informasi, dan meningkatkan
koordinasi antara anggota tim kesehatan.
 Case conference
Konferensi kasus meliputi pertemuan-pertemuan yang
dijadwalkan secara rutin (Regularly Scheduled Series or Conferences).
Pertemuan tersebut dilaksanakan harian, mingguan, atau bulanan
untuk diskusi tentang masalah-masalah manajemen pasien spesifik
untuk meningkatkan perawatan pasien dalam sebuah institusi. Case
conference adalah diskusi kelompok tim kesehatan tentang kasus
asuhan keperawatan klien atau keluarga. Setiap tim kesehatan
memiliki jadwal case conference masing-masing dan biasanya
diadakan dua kali tiap bulannya. Peserta case conference melibatkan
tim kesehatan yang terkait seperti perawat, dokter, atau anggota
profesi lainnya jika diperlukan. Waktu pertemuan dua kali dalam
sebulan atau disesuaikan dengan kondisi atau tingkat urgensi kasus,
dan lamnya pertemuan tentatif.
Tujuan diadakannya case conference yaitu mengenal kasus dan
permasalahannya, mendiskusikan kasus untuk mencari alternatif
penyelesaian masalah asuhan keperawatan, meningkatkan koordinasi
dalam rencana pemberian asuhan keperawatan, dan meningkatkan
pengetahuan dan wawasan dalam mengangani kasus.Case conference
juga digunakan untuk mengembalikan konflik dalam kolaborasi
(Arnold & Boggs, 2007), yaitu dengan cara mengutarakan inisiatif
untuk mendiskusikan masalah, menggunakan keterampilan mendengar
aktif, menyediakan dokumentasi data yang relevan terhadap isu,
mengajukan resolusi, menciptakan iklim dimana para pertisipan
memandang negosiasi sebagai sebuah usaha kolaborasi, membuat
ringkasan yang jelas terhadap hasil feedback, merekam semua
keputusan dalam sebuah catatan. Kegiatan case conference ini harus
melalui tahap persiapan sebelumnya. Perawat Y dapat memilih salah
satu topik yang akan disampaikan dalam case conference.

12
Topik tersebut meliputi kasus pasien baru, kasus pasien yang
tidak ada perkembangan, kasus pasien pulang, kasus pasien yang
meninggal, dan kasus pasien dengan masalah yang jarang ditemukan.
Pemilihan topik dapat dilakukan dengan mengkaji terlebih dahulu
data-data pasien yang selama ini dipegang oleh perawat X. Dengan
data-data tersebut, perawat X dapat membuat suatu analisa
permasalahan yang akan disampaikan saat case conference.
Case conference sebagai salah satu kegiatan penting dalam
proses kolaborasi antara tim kesehatan. Kolaborasi merupakan proses
kompleks yang membutuhkan sharing pengetahuan yang direncanakan
dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat pasien.
Kolaborasi dalam case conference ini meliputi suatu pertukaran
pandangan atau ide yang memberikan perspektif kepada seluruh
kolaborator tentang suatu permasalahan dalam asuhan keperawatan.
Efektifitas hubungan kolaborasi profesional membutuhkan mutual
respek baik setuju atau ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi
tersebut. Partnership kolaborasi merupakan usaha yang baik sebab
dapat menghasilkan outcome yang lebih baik bagi pasien.

 Menangani masalah-masalah staf perawat


Langkah-langkah dalam pemecahan masalah antar kelompok petugas
kesehatan : Mengatur pelaksanaan untuk komunikasi kolaboratif,
melakukan pertemuan untuk menyatukan perspektif kelompok,
mengidentifikasi masalah utama, memiliki tujuan yang jelas dan
relevan, saling menghormati dan menghargai nilai-nilai dan martabat
semua pihak, anggota kelompok dapat bersikap tegas tapi tidak
manipulatif, bersikap objektif, mendiskusikan solusi dengan
mengidentifikasi manfaat/kekurangan dari solusi, menghargai
alternatif solusi demi kepentingan klien, menghincari situasi konflik,
menghindari emosi, memutuskan untuk mengimplementasikan solusi
terbaik, menentukan orang yang bertanggung jawab untuk
implementasi, membangun garis waktu dan metode evaluasi.(Armold
& Boogs, 2007).

13
Komunikasi interpersonal ditempat kerja yang multikultural meliputi
verbal, nonverbal, dan mendengar. Komuikasi nonverbal meliputi
pengaturan ruang, lingkungan, penampilan, kontak mata, postur tubuh,
gerak, ekspresi, waktu dan isayarat suara. Komunikasi verbal dengan
prilaku asertif, sedangkat komunikasi diam dengan menjadi pendengar
yang baik dengan menyadari pengalaman, sikap yang mepengaruhi
dalam mempresepsikan pesan.

Hambatan lain dalam berkomuniksi dengan Tim Kesehatan Lain


meliputi: menjadi emosional daripada berfokus pada masalah,
menyalahkan orang lain, tertutup dan tidak menghargai serta
memahami perspektif orang lain ( Arnold & Boggs, 2007).

2.2.7 Konflik dalam berkomunikasi


Tujuan utama dalam menangani konflik di tempat kerja adalah
untuk menemukan kualitas tinggi dan solusi yang dapat diterima bersama.
Dalam banyak contoh, berbagai jenis hubungan dapat berkembang melalui
penggunaan teknik komunikasi manajemen konflik. Pada situasi klinis
sebagai suatu proses kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dengan
mengikuti langkah :

 Memperoleh data faktual : Mendapatkan semua informasi yang


relevan tentang isu-isu spesifik yang terlibat dan sekitar respon
perilaku klien untuk masalah perawatan kesehatan.
 Pertimbangkan sudut pandang lain: Memiliki beberapa ide tentang apa
masalah mungkin relevan dari sudut pandang orang lain, memberikan
informasi penting tentang pendekatan interpersonal yang terbaik untuk
digunakan.
 Intervensi awal : Buat forum untuk komunikasi dua arah , sebaiknya
bertemu secara berkala dengan tim kesehatan lain mencakup
permasalahan klien.

14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam melaksanakan tugasnya, perawat tidak dapat bekerja tanpa
berkolaborasi dengan profesi lain. Profesi lain tersebut diantaranya adalah dokter,
ahli gizi, apoteker dsb. Setiap tenaga profesi tersebut mempunyai tanggung jawab
terhadap kesehatan pasien. Bila setiap profesi telah dapat saling menghargai,
maka hubungan kerja sama akan dapat terjalin dengan baik. Selain itu perawat
juga mempunyai tanggung jawab dan memiliki untuk senantiasa memelihara
hubungan baik antara sesama perawat dan dengan tenaga kesehatan lainnya, baik
dalam memelihara kerahasiaan suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai
tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh

3.2 Saran
Untuk mempelajari sesuatu tidaklah cukup hanya dengan melihat saja,
penyaji menyarankan kepada semuanya agar lebih banyak membaca guna
memahami tentang konsep dasar dari makalah ini. Semoga apa yang di sampaikan
dalam makalah memberi manfaat untuk kita semua.

15
DAFTAR PUSTAKA

16