Anda di halaman 1dari 4

F4.

Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

PENYULUHAN ASI EKSKLUSIF

I. LATAR BELAKANG

ASI merupakan makanan yang pertama, utama, dan terbaik bagi bayi, yang
bersifat alamiah. ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan bayi. Terkait itu, ada suatu hal yang perlu
disayangkan, yakni rendahnya pemahaman ibu, keluarga, dan masyarakat mengenai
pentingnya ASI bagi bayi. Akibatnya, program pemberian ASI Eksklusif tidak
berlangsung secara optimal.

Pentingnya pemberian ASI Eksklusif terlihat dari peran dunia yaitu pada
tahun 2006 WHO (World Health Organization) mengeluarkan Standar Pertumbuhan
Anak yang kemudian diterapkan di seluruh dunia yang isinya adalah menekankan
pentingnya pemberian ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan. Setelah
itu, barulah bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI sambil tetap disusui
hingga usianya mencapai 2 tahun. Sejalan dengan peraturan yang di tetapkan oleh
WHO, Di Indonesia juga menerapkan peraturan terkait pentingnya ASI Eksklusif
yaitu dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 33/2012 tentang
pemberian ASI Eksklusif. Peraturan ini menyatakan kewajiban ibu untuk menyusui
bayinya sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan.

Selain itu pentingnya ASI juga terlihat pada acara dunia yaitu Pekan ASI
sedunia Agustus 2008, The World Alliance For Breast Feeding Action (WABA)
memilih tema Mother Support: Going For the Gold. Makna tema tersebut adalah
suatu gerakan untuk mengajak semua orang meningkatkan dukungan kepada ibu
untuk memberikan bayi-bayi mereka makanan yang berstandar emas yaitu ASI yang
diberikan eksklusif selama 6 bulan pertama dan melanjutkan ASI bersama makanan
pendamping ASI lainnya yang sesuai sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih (Depkes,
2010).
ASI Ekskusif merupakan makanan pertama, utama dan terbaik bagi bayi, yang
bersifat alamiah. ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan bayi (Prasetyono, 2009). Khasiat ASI begitu besar
seperti ASI dapat menurunkan risiko bayi mengidap berbagai penyakit. Apabila bayi
sakit akan lebih cepat sembuh bila mendapatkan ASI. ASI juga membantu
pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Menurut penelitian, anak – anak
F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

yang tidak diberi ASI mempunyai IQ (Intellectual Quotient) lebih rendah 7 – 8 poin
dibandingkan dengan anak-anak yang diberi ASI secara eksklusif. Karena didalam
ASI terdapat nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi yang tidak ada
atau sedikit sekali terdapat pada susu sapi, antara lain: Taurin, Laktosa, DHA, AA,
Omega-3, dan Omega-6

II. PERMASALAHAN DI KELUARGA DAN MASYARAKAT

Meskipun menyusui dan ASI sangat bermanfaat, namun belum terlaksana


sepenuhnya, diperkirakan 85% ibu-ibu di dunia tidak memberikan ASI secara
optimal. Data mengenai pemberian ASI pada bayi di beberapa Negara pada tahun
2005-2006 diperoleh bahwa bayi di Amerika mendapatkan ASI eksklusif justru
meningkat 60-70%. Pada Tahun 2010 cakupan ASI Eksklusif di India saja sudah
mencapai 46%, di Philippines 34%, di Vietnam 27% dan di Myanmar 24% (Yuliarti
2010). Begitu pula yang terjadi di Indonesia, data dari Sentra laktasi Indonesia
mencatat bahwa berdasarkan survei demografi dan kesehatan Indonesia 2007-2010,
hanya 48% ibu yang memberikan ASI eksklusif. Di Indonesia, rata-rata ibu
memberikan ASI eksklusif hanya 2 bulan, sementara pemberian susu formula
meningkat 3 kali lipat. Dan berdasarkan data dari Bappenas tahun 2010 menyatakan
bahwa hanya 31% bayi di Indonesia mendapatkan ASI Eksklusif hingga usia 6 bulan.

Kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI ekslusif dipengaruhi oleh


promosi produk-produk makanan tambahan dan formula. Pengetahuan akan
mempengaruhi sikap terhadap perilaku hidup sehat dan dalam menanggulangi
masalah yang kurang mengerti tentang manfaat pemberian ASI Eksklusif tersebut.
Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari banyak ibu-ibu yang mempunyai sikap dan
kebiasaan yang dilakukan tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukannya baik
atau tidak dalam pemberian ASI.

Di kabupaten Takalar, khususnya kecamatan Polombangkeng Utara, tidak


semua ibu memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Keadaan ini disebabkan oleh
beberapa hal, mulai dari ketidak tahuan ibu akan pentingnya ASI eksklusif, kesibukan
ibu, hingga produksi ASI yang kurang pada ibu tersebut.

12
F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Berdasarkan keadaan tersebut, maka pengetahuan masyakarat khususnya


pemahaman orang tua bayi dan balita mengenai pentingnya ASI eksklusif perlu
ditingkatkan agar jumlah bayi yang memperoleh ASI eksklusif bertambah.

III. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

Oleh karena permasalahan yang terjadi di atas, maka kami bermaksud untuk
mengadakan penyuluhan kesehatan dengan materi “Pentingnya ASI Eksklusif”. Pada
penyuluhan ini akan disampaikan mengenai pengertian ASI eksklusif, pentingnya
inisiasi menyusu dini, kandungan gizi pada ASI, bagaimana cara menyusui yang
benar, manfaat ASI, waktu yang tepat untuk pemberian makanan pendamping ASI,
dan lain sebagainya. Selain itu, pemateri akan mengidentifikasi berapa banyak ibu
yang tidak memberikan ASI eksklusif pada anaknya. Pada penyuluhan ini, diberikan
pula kesempatan kepada peserta untuk bertanya.

IV. PELAKSANAAN

Penyuluhan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan Polansia dan Posyandu


di jl. Tidung Mariolo, Rappocini, Kota Makassar pada hari/tanggal Senin, 21 Agustus
2017.

1. Tahap Perkenalan dan Penggalian Pengetahuan Peserta


Setelah memberi salam dan perkenalan pemateri terlebih dahulu menyampaikan
maksud dan tujuan diberikan penyuluhan sebelum materi disampaikan. Kemudian
pemateri memberi pertanyaan pembuka untuk mengetahui tingkat pengetahuan
peserta tentang materi yang akan diberikan.
2. Tahap Penyajian Materi
Materi penyuluhan disajikan dengan bantuan flipchart. Penyuluhan dilakukan
selama 15 menit dilanjutkan dengan sesi diskusi.

V. EVALUASI

1. Evaluasi Struktur
Dokter bersama tim medis lainnya datang tepat waktu di Posyandu dimana pada
saat itu juga dilakukan penimbangan bayi.

13
F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

2. Evaluasi Proses
Peserta yang hadir kurang lebih 20 orang. Pelaksanaan penyuluhan berjalan
sebagaimana yang diharapkan dimana peserta memperhatikan materi yang
disampaikan dan sebagian besar peserta aktif melontarkan pertanyaan.
3. Evaluasi Hasil
Hampir sebagian besar peserta yang hadir telah memahami apa yang
dimaksudkan namun masih ada yang bertanya tentang hubungan KB dengan ASI
eksklusif.

Pendamping,

dr. Linda Tanod

14