Anda di halaman 1dari 11

Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

Modul 5
UJI STATISTIKA NON PARAMETRIK KASUS DATA SAMPEL TUNGGAL

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Dengan mempelajari modul ini diharapkan mahasiswa mampu memahami, memilih dan
menerapkan tehnik uji statistika non parametrik untuk kasus data sampel tunggal

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mempelajari dan memahami pendahuluan mahasiswa dapat:
1. Mengerti dan memahami tehnik uji statistika untuk kasus data sampel tunggal
2. Menerapkan berbagai tehnik uji statistika untuk kasus data sampel tunggal

KEGIATAN BELAJAR
Uji statistika satu sampel bertujuan untuk menguji hipotesis atas sampel terhadap
parameter lokasinya. Dalam uji statistika parametrik digunakan uji t satu sampel. Namun
karena ukuran sampel kecil atau skala pengukuran yang lemah, menyebabkan uji t tidak
dapat diterapkan. Uji ini dapat digunakan untuk menentukan permasalahan-permasalahan,
antara lain :
1. Adanya perbedaan-perbedaan yang berarti antara frekuensi-frekuensi yang diamati
dengan frekuensi yang kita harapkan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu.
2. Adakah perbedaan yang berarti antara proporsi yang diamati dengan proporsi yang
kita harapkan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu
3. Adakah alasan untuk percaya bahawa sampel ini telah ditarik dari suatu populasi
tertentu
4. Apakah ada alasan untuk percaya bahwa sampel yang diambil merupakan sampel
yang acak dari populasi tertentu yang diketahui
Bahasan kasus yang berasl dari sampel tunggal ini ada lima uji yang dicoba untuk
dipaparkan yaitu :
a. Uji satu Sampel Chi-kuadrat
b. Uji satu Sampel Kolmogorov-Smirnov
c. Uji Run
d. Uji Tanda
e. Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon

A. Uji satu sampel Chi-kuadrat


Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan diantara berbagai
kategori yang dibuat dari sejumlah objek, subjek, atau jawaban responden. Disini tujannya
ingin menguji hipotesis apakah terdapat perbedaan yang nyata antara banyaknya frekuensi
yang diamati dari objek tersebut atau jawaban yang diharapkan dengan frekuensi yang
diharapkan berdasarkan hipotesis nol. Jumlah kategori yang kan dibentuk boleh dua atau
lebih.
Rumus :
k
(Oi  Ei ) 2
 
2

i 1 Ei

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 39


-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

Dimana :
Oi = Banyaknya kasus yang diamati dalam kategori ke-i
Ei = Banyaknya kasus yang diharapkan dalam kategori ke-i di bawah
hipotesi nol (Ho)
k = Banyaknya kategori

Kaidah keputusan :
2hit ≤ 2α(db) Tolak Ho
2hit > 2α(db) Terima Ho
db = k-1
Nilai X lihat pada table C (Buku S. seigel)

Contoh 1 :
Kita ingin mengetahui apakah latar belakang asal usaha peserta Perkebunan Inti Rakyat
Perkebunan (PIR-BUN) I Talang Jaya mempunyai pengaruh terhadap frekuensi
penyadapan karet yang mereka lakukan. Untuk itu ditentukanlah sembilan latar belakang
asal usaha petani peserta tersebut yaitu : (1) Asal tanaman perkebunan, (2) tanaman
pangan, (3) buruh tani, (4) peternak, (5) nelayan, (6) tukang, (7) pedagang, (8) sopir, dan
(9) gelandangan dan pengemis (gepeng). Frekuensi penyadapan standar adalah setengah
lingkaran dua hari satu kali sadap (1/2S,D/2). Hasil diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 6.1. Data intensitas penyadapan karet di PIR I Talang Jaya selama satu bulan
Latar Belakang
Frekuensi Total
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Harapan 20 20 20 20 20 20 20 20 20
Intenistas 30 11 26 28 20 18 10 17 20 180

Apakah terdapat perbedaan dalam intensitas penyadapan akibat perbedaan latar belakang
asal usaha peserta di PIR-BUN I Talang Jaya ?
Jawab :
Ho : f1 = f2 = ……. = f9
H1 : minimal ada satu f1 yang tidak sama

k
(Oi  Ei ) 2

2
 hitung
i 1 Ei

(30  20) 2 (11  20) 2 ( 20  20) 2


 2 hitung    ...................   19,7
20 20 20
X2α(db) = X20,05(8) = 15,51
Keputusan :
X2hit >X2tab Terima Ho, artinya tidak benar terjadi perbedaan dalam
hal intensitas penyadapan karet akibat perbedaan latar belakang asal usaha peserta di PIR I
Talang Jaya.
Catatan :
Bila k = 2 maka frekuensi yang diharapakna harus ≥ 5
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 40
-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

Bila k > 2 maka frekuensi yang diharapkan harus 20% > 5


Bila kriteria di atas tidak dipenuhi, maka untuk mengatasi permasalahan tersebut
dianjurkan untuk menggabungkan k yang ada, sehingga menjadi lebih sedikit.

B. Uji Satu Sampel Kolmogorov-Smirnov


Uji ini digunakan untuk membandingkan tingkat kesesuaian antara distribusi
serangkaian nilai sampel ysng berasal dari hasil observasi dengan suatu nilai distribusi
teoritis tertentu, sehingga kita dapat menyimpulkan nilai dari sampel memang berasal dari
distribusi teoritis tersebut.
Uji ini pada dasarnya menghitung distribusi frekuensi komulatif yang bakal terjadi
di bawah distribusi teoritisnya, dan membandingkan distribusi frekuensi komulatif hasil
observasi dengan distribusi frekuensi komulatif teoritis. Dengan uji ini kita ingin
menetapkan suatu titik dimana kedua distribusi tersebut memiliki perbedaan terbesar.
Rumus :
D  maks F0 ( x )  S N ( x )

Dimana :
F0(x) = distribusi frekuensi komulatif teoritis dibawah H0
SN(x) = distribusi frekuensi komulatif dari hasil observasi
X = sembarang skor yang mungkin
D = deviasi

Kaidah keputusan :
a. Untuk sampel berukuran < 35
Dhit  Dα(x). . . . . Tolak H0
Dhit  Dα(x) . . . . . Terima H0
Nilai Dα(x) dapat dilihat pada Tabel E hal. 303 Buku S. Siegel
b. Untuk sampel berukuran > 35 , nilai D α(x) dapat dilihat pada Tabel E hal. 303 Buku
S.Siegel dengan rumus tertentu yang sudah disediakan.

Contoh :
Dalam suatu penelitian ingin membuktikan suatu teori komunikasi yang menyatakan
bahwa penyampaian informasi yang disampaikan lewat kontak langsung antara
komunikator dengan komunikan yang lebih efektif. Untuk menguji seberapa benar teori
ini berlaku di lapangan, seorang peneliti menanyakan kepada 20 orang petani sampel di
suatu daerah yang telah terjangkau informasi pertanian. Media mana menurut mereka yang
paling efektif menyampaikan pesan yang ada di daerah pertanian mereka. Diketahui
menurut teori, media yang paling efektif yaitu (1) PPL, baru kemudian diikuti oleh media
(2) kontak tani, (3) TV, (4) radio dan (5) Koran. Penelitian tersebut memperoleh hasil
sebagai berikut, 15 sampel memilih media PPL, 2 sampel memilih media kontak tani, 1
sampel memilih media TV, 2 sampel memilih media radio.
Dari data hasil penelitian tersebut, ujilah hipotesis nol yang menyatakan bahwa tidak
terdapat banyak perbedaan dalam macam media penyampaian informasi pertanian,
gunakan α = 0,01
Jawab:
Ho: tidak terdapat perbedaan daya efektifitas diantara macam media
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 41
-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

H1: tidak semua media sama efektifitasnya


Atau dalam bentuk rumusan lain
H0 : f1 = f2 = . . . . = f5
H1 : minimal ada satu f1 yang tidak sama

Tabel 6.2. Frekuensi macam media yang digunakan dalam penyampaian informasi
pertanian di suatu daerah pertanian
Media
Kontak
PPL TV Radio Koran
Tani
F 15 2 1 2 0
F0(x) 1/5 2/5 3/5 4/5 5/5
S20(x) 15/20 17/20 18/20 20/20 20/20
Maks
11/20 9/20 6/20 4/20 0
F0 ( x )  S 20 ( x )

Dari tabel di atas diperoleh D maks = 11/20 = 0,55 dan Dά(N) = D0,01(20) = 0,356
Jadi Dhit > Dtab dan diputuskan Tolak Ho, artinya memang terdapat perbedaan jenis media
terhadap efektif tidaknya dalam penyampaian informasi pertanian yang diterima petani.

C. Uji Run Satu Sampel


Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah cara kita dalam memperoleh data dari
sampel nyang diambil dari populasinya sudah merupakan sampel random. Uji ini
didasarkan atas banyaknya “RUN” yang ditampilkan oleh suatu sampel. Run ini diperoleh
didasarkan atas urutan dimana skor-skor atau observasi-observasi itu diperoleh. Run
didefenisikan sebagai suatu urutan lambang-lambang yang sama, yang diikuti serta
mengikuti lambang-lambang yang sama, yang diikuti lambang-lambang yang berbeda, atau
tidak mengikuti atau diikuti lambang apapun.

Misal : kita memiliki sederet tanda yang digunakan dalam uji tanda sebagai berikut :

+ + - - - + + - - - - + + - +
1 2 3 4 5 6 7
7 run

Langkah – langkah penggunaan Uji Run :


1. Menyusun observasi ke dalam n1 dan n2 menurut urutan kejadiannya.
2. Menghitung jumlah runnya (r)
3. Menghitung nilai kritis dan r, dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Bila n1 dan n2  20, gunakan Tabel F,  = 0,025 pada uji satu arah dan /2 = 0,05
untuk uji dua arah.
b. Bila n1 dan n2  20, gunakan tabel Z, dengan rumus :
2n1 n2
r  r   1
Z  r
n  n
r , 1 2

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 42


-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

2n1 n2
r 1
Z n1  n2 2n1 n2  2n1 n2  n1  n2 
2n1 n2  2n1 n2  n1  n2 
r 
 n1  n2  2  n1  n2  1
n  n   n  n
1 2
2
1 2  1

Kaidah keputusan:
a. Untuk n1, n2  20
1. Bila r observasi jatuh diantara dua nilai kritis Terima Ho
2. Bila observasi jatuh  F2(α) atau  F1(α) Tolak Ho

b. Untuk n1 , n2  20
Uji dua arah 2p = p’
1. jika p’  Z Terima Ho
2. jika p’  Z Tolak Ho

Contoh : (untuk sampel berukuran kecil )


Suatu penelitian sosial ekonomi pertanian mengenai tanggapan petani atas program
pembangunan pertanian yang dilaksanakan di Sumsel dilakukan. Wawancara dilakukan
terhadap 10 pasang orang petani di desa tersebut (Bapak dan Ibu tani). Karena wawancara
ini tidak bisa diselesaikan dalam tempo satu hari, si peneliti mempunyai kekhawatiran
bahwa apa yang ditanyakan kepada seorang petani akan mempengaruhi jawaban yang akan
diberikan calon responden pasangannya yang lain. Hasil jawaban dari responden ini dibuat
dalam bentuk skor seperti berikut ini.

No. Sampel Skor Ibu tani Skor


Bapak tani
1 34 11 20
2 40 12 15
3 60 13 54
4 29 14 63
5 60 15 70
6 31 16 66
7 65 17 25
8 72 18 27
9 60 19 23
10 63 20 67

Untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut, ia akan melakukan uji run dengan


menggunakan  = 0,05.

Jawab:
Untuk menguji dengan uji run, data skor yang diperoleh diganti dengan tanda + atau -,
tergantung apakah skor tersebut jatuh di atas atau di bawah median kelompok. Diketahui
median kelompok adalah 57. Hasil pengamatan tersebut sehingga menjadi:
No. Sampel Skor Posisi skor Ibu tani Skor Posisi skor
Bapak tani thd Median thd Median
1 34 - 11 20 -
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 43
-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

2 40 - 12 15 -
3 60 + 13 54 -
4 29 - 14 63 +
5 60 + 15 70 +
6 31 - 16 66 +
7 65 + 17 25 -
8 72 + 18 27 -
9 60 + 19 23 -
10 63 + 20 67 +

Ho : (+) dan (-) merupakan urutan yang random


Hi : (+) dan (-) tidak random
 : 0,05 (dua arah).
Dari data pada tabel diperoleh nilai r = 10
Untuk n1 dan n2 = 10, dari tabel F (Buku S. Seigel), maka akan kita putuskan untuk
menolak Ho bila r  6 atau r  16.

Keputusan:
Karena r tidak  6 dan tidak juga r  16, maka keputusan kita adalah terima Ho, yaitu
artinya bahwa skor sampel yang menjadi objek penelitian kita tersebut merupakan sampel
yang diambil secara random.

Catatan :
Untuk uji satu arah, jika ramalan untuk observasi kita, run yang akan diperoleh sedikit,
maka gunakan tabel F1 dengan  = 0,025 dan bila r < F1(0,025) Tolak Ho.
Jika sebaliknya, yaitu bila yang akan diperoleh besar, maka gunakan tabel F 2 dengan  =
0,025, sehingga bila r > F2(0,025) Tolak Ho.

D. Uji Tanda Untuk Sampel Tunggal.


Uji tanda ini digunakan untuk membandingkan median populasi dengan skala ordinal
, yang dilambangkan dengan tanda + dan -, tergantung dari nilai beda mediannya. Data
yang diperoleh dari hasil observasi yang akan dianalisis diubah menjadi serangkaian tanda-
tanda tersebut.

Langkah – langkah :
1) Menghitung nilai beda ( Xi-Mo ), bila beda tersebut positif diberi tanda + dan bila
negatif diberi tanda –

Dimana : Xi = Nilai sampel ke-I


Mo = Median hipotesis
i = 1, 2, 3, ………
2) Mencari nilai peluang P ( K  k n. p )
Dimana : K = variabel acak yang menyatakan jumlah tanda yang kita kehendaki
menurut hipotesis yang diberikan , k = nilai statistik uji yang diamati.
Hipotesis :
1. Uji 2 arah ……………….. Ho ; M = Mo
Hi ; M ≠ Mo
Kaedah keputusan :
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 44
-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

2P ( K<k n.p ) < α ………………………… Tolak Ho


≥ α ………..……………….. Terima Ho , atau
P ( K<k n.p ) < α/2 ……………………… Tolak Ho
≥ α/2 ……………………… Terima Ho
2. Uji satu arah ………………Ho: M=Mo (≤)
Hi : M>Mo
Hipotesis ini digunakan karena peluang untuk mendapatkan tanda (–) paling
sedikit.
Kaedah keputusan :
P ( K <k n.p ) > α ………………………… Tolak Ho
≤ α ………………………… Terima Ho
3. Uji satu arah …………… Ho : M = Mo ( ≥ )
Hi : M < Mo
Hipotesis ini digunakan karena peluang untuk mendapatakan tanda (+) paling
sedikit.

Kaedah keputusan :
P ( K<k n.p ) < α ……………………… Tolak Ho
≥ α ……………………... Terima Ho
Untuk melihat nilai tabel silahkan lihat Tabel A.1. Buku Daniel dan Tabel A.2. Buku
Walpole.

Contoh: :
Dalam suatu laporan Departemen Pertanian dikatakan bahwa tingkat adopsi teknologi
petani di Indonesia memberikan median skor sebesar 97,5. Membaca ini seorang peneliti
mempunyai keinginan untuk melihat tingkat adopsi teknologi di daerah Sumatera Selatan
dibandingkan dengan tingkat adopsi teknologi secara nasional tersebut. Diambillah sampel
dari 12 daerah yang telah dianggap mengadopsi teknologi di bidang pertanian. Hasil
penelitian tersebut dalam bentuk skor adalah :
93,6 89,1 97,7 84,4 97,8 94,5
88,3 97,5 83,7 94,5 85,5 82,6
Dari data tersebut apakah peneliti dapat menyimpulkan bahwa median skor tingkat adopsi
teknologi di daerah Sumsel lebih rendah dari tingkat adopsi secara nasional ? Gunakan α
= 0,05

Jawab:
Ho : m = 97,5
Hi : m < 97,5
α = 0,05

Uji satistik :
Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Skor 93,6 89,1 97,7 84,4 97,8 94,5 88,3 97,5 83,7 94,5 85,5 82,6
Tanda - - + - + - - 0 - - - -
Ada 9 pengamatan menghasilkan tanda (–)
Ada 2 pengamatan menghasilkan tanda (+)
Ada 1 pengamatan menghasilkan tanda (0)
Karena tanda (+) yang berjumlah sedikit maka kita dapat menentukan bahwa nilai k = 2
Jadi P ( K  k n. p )  P( K  2 11; 0,50 )  0,0327
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 45
-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

Keputusan : 0,0327 < 0,05, maka tolak Ho yang artinya memang benar tingkat adopsi
teknologi pertanian di Sumsel lebih rendah dibandingkan tingkat teknologi rata-rata secara
nasional.

Catatan :
Bila jumlah sampel besar, yaitu n > 12, maka boleh menggunakan rumus distribusi normal
( Z ) sebagai berikut :
(k  0,5)  0,5n
Z 
0,5n
Kita menggunakan rumus k + 0,5 bila k < n/2.
Atau menggunakan rumus k - 0,5 bila k > n/2.

Sandainya kita terapkan pada contoh tadi , maka :


(2  0,5)  0,5 x11
Z   1,81
0,5 x11
Zhitung = 0,352
0,0352 < 0,05 ………………….. Tolak Ho

E. Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon


Tujuan uji ini sama dengan tujuan uji tanda terdahulu, yaitu membandingkan median
hipotesis dengan median hasil observasi. Namun dalam uji Peringkat Bertanda Wilcoxon
ini kita menggunakan skala interval, yaitu dengan memperhitungkan besar selisih antara
median observasi dengan median hipotesisnya ( M – Mo ).

Asumsi-asumsi :
1. Merupakan sampel acak berukuran n dari suatu populasi dengan median M yang
belum diketahui.
2. Merupakan variabel kontinyu.
3. Sampel berasal dari populasi yang simetrik.
4. Skala pengukuran minimal menggunakan skala nominal.
5. Pengamatan yang saling bebas.

Rumus
Di = Xi – Mo

dimana :
Di = deviasi
Xi = median hasil observasi ke-i
Mo = median hipotesis.

Langkah – langkah :
a. Kurangi tiap nilai median pengamatan (Xi) dengan median hipotesis (Mo) untuk
mencari nilai Di. Bila Xi – Mo = 0, maka singkirkanlah pengamatan ini.
b. Berilah peringkat selisih ini dari selisih yang paling kecil ke yang paling besar
dengan melihat nilai mutlaknya. Bila ada selisih yang sama , maka peringkat untuk

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 46


-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

Di dari pengamatan tersebut, peringkatnya ditentukan dengan membuat rata-rata


dari sejumlah peringkat yang sama tersebut.
c. Berilah tanda terhadap hasil masing-masing peringkat tersebut, sesuai dengan
tanda deviasinya.
d. Jumlahkan dari masing-masing kedua jenis peringkat tersebut, jumlah yang positif
dilambangkan dengan T +, dan jumlah yang negatif dilambangkan dengan T -.
e. Mencari T hit yaitu dari nilai T + atau T - yang menghasilkan jumlah terkecil (tanpa
memperhatikan adanya) yang merupakan nilai statistik ujinya.

Hipotesis :
1. Uji dua arah : Ho : M = Mo
H1 : M ≠ Mo
Kaidah keputusan :
Bila : T hit ≤ d (α)(n) ………….. Tolak Ho
T hit > d (α)(n) ………….. Terima Ho
2. Uji satu arah : Ho : M = Mo (≥)
H1 : M < Mo
Pada hipotesis ini, bila nilai T + cukup kecil, kita akan menolak Ho.

Kaidah keputusan :
Bila : T hit ≤ d (α)(n) ………. Tolak Ho
T hit > d (α)(n) ………. Terima Ho
3. Uji satu arah : Ho : M = Mo (≤)
H1 : M > Mo
Pada hipotesis ini, bila nilai T - cukup kecil, kita akan menolak Ho.
Kaidah keputusan :
Bila : T hit ≤ d (α)(n) …………… Tolak Ho
T hit > d (α)(n) …………… Terima Ho

Contoh:
Suatu studi yang dilakukan untuk melihat tingkat pemakaian pupuk urea di daerah
pertanian irigasi Belitang (OKUT) selama 10 tahun terakhir ini didapat besarnya
median skor pemakaian pupuk tersebut, yaitu : 119. Kemudian seorang peneliti ingin
melihat perbandingan tingkat pemakaian pupuk urea ini di daerah irigasi Tugu Mulyo
(MURA). Diambil sampel acak sebanyak 16 petani contoh. Hasil penelitian tersebut
adalah sebagai berikut : 136, 103, 91, 122, 96, 145, 140, 128, 126, 120, 99, 125, 91,
142, 119, 137. dari data ini, apakah peneliti tersebut dapat mengambil kesimpulan
bahwa median skor yang diambil tersebut sama dengan 119, gunakan α = 0,05.

Jawab
Ho : M = 119
H1 : M ≠ 119
α : 0,05
Tabel 6.3. Analisis Uji Bertanda Wilcoxon terhadap skor tingkat pemakaian pupuk urea di
Tugu Mulyo
Tk.Pemakaian D = Xi - Mo Peringkat Peringkat
NO pupuk urea Di bertanda Di
1 136 +17 6 +6
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 47
-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

2 103 -16 5 -5
3 91 -28 14,5 -14,5
4 122 +3 2 +2
5 96 -23 11,5 -11,5
6 145 +26 13 +13
7 140 +21 10 +10
8 138 +19 8 +8
9 126 +7 4 +4
10 120 +1 1 +1
11 99 -20 9 -9
12 125 +6 3 +3
13 91 -28 14,5 -14,5
14 142 +23 11,5 +11,5
15 119 0 0 0
16 137 +18 7 +7
T - = 40,5
T+ = 64,5

T merupakan statistik uji dalam kasus ini. Karena T - = 40,5 lebih kecil dari T + = 64,5,
maka statistik uji kita adalah T = 40,5. Sampel ke-15 disingkirkan dari analisis ini karena ia
memberikan nilai D sama dengan nol.
Ttabel = d0,05(15) = 26. Karena T = 40,5 > 26, maka kita putuskan untuk menerima Ho, artinya
memang benar tidak ada perbedaan mengenai median tingkat pemakaian pupuk urea di
kedua daerah pertanian Sumsel tersebut.

Latihan Soal:
1. Ingin diketahui apakah teori Maslow mengenai urutan kebutuhan berlaku di salah satu
masyarakat desa. Menurut Maslow, kebutuhan yang paling rendah adalah untuk
memenuhi kebutuhan fisik dan paling tinggi untuk aktualisasi diri. Kebutuhan
aktualisasi diri diberi skor 5, sedangkan kebutuhan fisik 1. Untuk tujuan ini diambil
sampel sebanyak 10 orang masyarakat dan dicatat apa jawaban mereka. Jumlah sampel
masyarakat yang menjawab atas pertanyaan yang diajukan seperti berikut ini:
Urutan kebutuhan menurut Maslow
1 2 3 4 5
Jumlah sampel yang memilih 2 2 3 1 2
urutan tersebut

Dari data di atas dapatkah disimpulkan bahwa masyarakat desa tidak mementingkan
suatu kebutuhan tertentu dengan menggunakan  = 0,01.
2. Suatu lembaga survai melaporkan bahwa selama enam bulan, para karyawan baru
bagian penjualan di sebuah perusahaan pestisida pada umumnya menghabiskan waktu
119 jam per bulan untuk mendatangi calon-calon pembeli produk. Selanjutnya diambil
16 sampel karyawan penjualan baru dari perusahaan pestisida lain dan didapat data
sebagai berikut: 136 103 91 122 96 145 140 138 126
120 99 125 91 142 119 137

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 48


-Modul 5-
Modul Kuliah Statistik Bidang Sosek (PPK 324)

Berdasarkan data di atas ujilah dengan menggunakan  = 0,05. Gunakan Uji Tanda dan
Uji Peringkat Bertanda Wilcoxon

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsri 49


-Modul 5-