Anda di halaman 1dari 14

45

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini peneliti menguraikan tentang hasil penelitian, analisa data, dan

pembahasan mengenai hasil temuan peneliti sesuai dengan tujuan yang

ditetapkan. Data yang disajikan dalam penelitian ini berupa data umum dan data

khusus. Di dalam data umum mencakup karakteristik responden yang meliputi

usia, jenis kelamin. Sedangkan data khususnya meliputi jumlah cairan yang

masuk, dan tekanan darah intraoperatif pada responden.

4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian


Rumah sakit umum daerah bangil adalah rumah sakit Type C milik

pemerintah kabupaten pasuruan . Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan

Nomor : 206/Menkes/SK/II/1993 tanggal 26 Februari 1993. Merupakan rumah

sakit rujukan di kabupaten pasuruan terletak di jalur poros Surabaya- banyuwangi,

berdiri diatas tanah seluas kurang lebih 2 H. gedung besar, tempat yang nyaman

dan kualitas pelayanan yang terus ditingkatkan, sehingga dapat memuaskan

pelanggan dan masyarakat.

RSUD Bangil melayani rawat jalan dan rawat inap serta terdapat pelayanan

penunjang yang berstandart dan telah terakreditasi lulus tingkat paripurna sejak

tahun 2016 sampai sekarang. Pada pelayanan rawat jalan terdapat 16 poliklinik,

rawat inap terdapat 9 ruang rawat inap dengan kapasitas 250 tempat tidur.

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Bangil di Instalasi

Bedah Sentral pada tanggal 16 – 28 April 2018. Subyek penelitian ini adalah
46

pasien yang menjalani pembedahan sectio caesarea dengan spinal anestesi di

RSUD Bangil. Jumlah subyek dalam penelitian ini adalah 36 pasien.

Instalasi Bedah Sentral RSUD Bangil terletak di pusat RSUD Bangil.

Instalasi Bedah Sentral buka pada hari senin sampai sabtu jam 07.00 - 14.00, dan

melayani operasi cito selama 24 jam dalam 1 minggu. Instalasi Bedah Sentral

terdiri dari 1 lantai dan terdapat 5 kamar operasi, ruang premedikasi, ruang

pemulihan, ruang administrasi, dan depo farmasi. Instalasi Bedah Sentral

melayani tindakan pembedahan orthopedi, neuro surgery, obgyn, ginekologi,

bedah umum, urologi, kulit, mata, dan THT.

Ruang Pemulihan merupakan bagian dari Instalasi Bedah Sentral RSUD

Bangil. Ruang pemulihan memiliki kapasitas 8 tempat tidur. Terdapat alat-alat

untuk melakukan observasi pasien post operasi.

4.2 Hasil Penelitian


4.2.1 Data Umum

Responden pada penelitian ini adalah pasien sectio casarea dengan spinal

anestesi yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi di RSUD Bangil kabupaten

Pasuruan. Pengambilan data ini dilakukan dari tanggal 16 sampai 30 April 2018.

Responden penelitian ini berjumlah 36 responden. Pelaksanaan observasi jenis

pembedahan dilaksanakan dengan pengumpulan data demografi pasien serta

observasi pemberian cairan RL di ruang premedikasi Instalasi Bedah Sentral,

sedangkan observasi tekanan darah intraoperatif dilaksanakan setiap 5 menit

sekali post induksi anestesi sampai sign out di Instalasi Bedah Sentral.

4.2.1.1 Karakteristik Usia Pasien


47

Gambar 4.1 Diagram Karakteristik Usia Pasien di Instalasi Bedah Sentral

RSUD Bangil.

Gambar 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia

pada rentang 20 – 29 tahun sebanyak 28 responden (78%).

4.2.1.2 Karakteristik Jenis Kelamin

Gambar 4.2 Diagram Karakteristik Jenis Kelamin Pasien di Instalasi Bedah

Sentral RSUD Bangil pada bulan April 2018.

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa lebih semua responden berjenis

kelamin perempuan sebanyak 36 responden (100%).

4.2.1.3 Karakteristik Pendidikan Terakhir


48

Gambar 4.3 Diagram Karakteristik status ASA Pasien di Instalasi

Bedah Sentral RSUD Bangil pada bulan April

Gambar 4.3 menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari responden

berstatus ASA 1 dengan jumlah 27 responden (75%).

4.2.2 Data Khusus


4.2.2.1 Karakteristik jumlah pemberian preloading cairan RL

Tabel 4.4 Karakteristik Jumlah preloading cairan yang diterima

Gambar 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden

mendapatkan preloading cairan sejumlah 1000 ml, sebanyak 31 pasien

(86%), dan pada 5 pasien (14%) mendapatkan preloading sekitar 900-950

ml.
49

Pada uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov terhadap preloading

cairan didapatkan nilai P> 0.05, yakni 0.357 yang artinya data terdistribusi

normal.

4.2.2.2 Karakteristik Tekanan darah intraoperatif

SISTOLIK (mmHg) DIASTOLIK (mmHg)


menit ke 5 119.6 (107-137) 72.5 (63-84)
menit ke 10 106.3 (90-138) 65.7 ( 60-82)
menit ke 15 103.1 (92-137) 63.0 (57-75)
menit ke 20 106.2 (91-133) 65.3 (59-77)
menit ke 25 112.1 (90-130) 66.8 (56-74)
menit ke 30 117.8 (94-140) 69.3 (56-76)
menit ke 35 121.0 (99-138) 71.9 (61-80)
menit ke 40 121.8 (99-134) 73.4 ( 60-80)
menit ke 45 120.1 ( 96-138) 72.6 (59-84)
menit ke 50 120.2 (93 – 135) 72.6 (59-84)

Tabel 1 memperlihatkan bahwa hasil rata-rata tekanan darah pada setiap

5menit pasca anestesi spinal pada pemberian cairan kristaloid mengalami

penurunan pada menit awal (10 menit pertama). Pada menit tersebut murni tidak

terdapat pengunaan obat-obatan untuk meningkatkan tekanan darah.

4.2.2.3 Analisis Hubungan antara pemberian preloading cairan dengan


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
stabilitas tekanan darah intraoperatif
S5 S10 S15 S20 S25 S35 S40 S45 S50
N 36 36 36 36 36 36 36 36 36
Tabela,b4.4Mean
Normal Parameters Uji normalitas118.28
TDS 109.03 106.47 106.17 112.14 116.72 120.97 120.08 120.17
Std. Deviation 11.473 11.668 10.869 10.410 11.943 12.340 8.827 9.572 9.512
Most Extreme Absolute .121 .102 .076 .086 .095 .191 .140 .149 .146
Differences Positive .121 .102 .076 .086 .087 .134 .130 .102 .103
Negative -.103 -.051 -.062 -.073 -.095 -.191 -.140 -.149 -.146
Kolmogorov-Smirnov Z .725 .614 .458 .514 .568 1.147 .841 .896 .876
Asymp. Sig. (2-tailed) .670 .845 .985 .954 .904 .144 .479 .399 .427
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
50

Tabel 4.5 uji normalitas TDD

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

D5 D10 D15 D20 D25 D35 D40 D45 D50


N 36 36 36 36 36 36 36 36 36
Normal Parameters a,b Mean 72.47 68.75 66.39 66.11 67.11 69.06 71.67 72.56 72.58
Std. Deviation 6.059 5.613 5.633 4.628 4.458 4.666 5.221 6.203 6.162
Most Extreme Absolute .100 .129 .179 .118 .127 .105 .116 .103 .101
Differences Positive .086 .108 .143 .118 .127 .105 .068 .083 .085
Negative -.100 -.129 -.179 -.105 -.086 -.079 -.116 -.103 -.101
Kolmogorov-Smirnov Z .597 .773 1.071 .710 .759 .629 .695 .619 .607
Asymp. Sig. (2-tailed) .868 .588 .201 .694 .612 .824 .719 .838 .855
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
51

Tabel 4.6 Tabulasi sistolik

Sistolik Tekanan Darah (mmHg) Sig (-2 tailed)

S5 119.6 (107-137) 0.023

S10 106.3 (90-138) 0.036

S15 103.1 (92-137) 0.039

S20 106.2 (91-133) 0.046

S25 112.1 (90-130) 0.034

S30 117.8 (94-140) 0.034

S35 121.0 (99-138) 0.006

S40 121.8 (99-134) 0.025

S45 120.1 ( 96-138) 0.002

S50 120.2 (93 – 135) 0.004

Tabel 4.7 Tabulasi Diastolik

Diastolik Tekanan Darah (mmHg) Sig (-2 tailed)

D5 72.5 (63-84) 0.027

D10 65.7 ( 60-82) 0.035

D15 63.0 (57-75) 0.037

D20 65.3 (59-77) 0.044

D25 66.8 (56-74) 0.043

D30 69.3 (56-76) 0.044

D35 71.9 (61-80) 0.002

D40 73.4 ( 60-80) 0.001

D45 72.6 (59-84) 0.000

D50 72.6 (59-84) 0.000


52

Pada uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov baik terhadap TDS dan

TDD didapatkan nilai P> 0.05 seperti pada tabel 4.4 dan tabel 4.5, yang artinya

data terdistribusi normal. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan pemberian

preloading cairan dengan stabilitas tekanan darah intraoperatif, digunakan uji

pearson menggunakan SPSS 16.0. Tabel 4.6 dan tabel 4.7 didapatkan hasil p-

value : (α < 0,05) untuk TDS dan TDD pada menit ke 5 sampai menit ke 50. yang

berarti H1 diterima dan H0 ditolak yang artinya ada hubungan antara pemberian

preloading cairan dengan stabilitas tekanan darah intraoperatif.


53

4.3 Pembahasan
4.3.1 Pemberian preloading cairan pada Pasien di RSUD Bangil
Hasil penelitian pemberian preloading cairan pada pasien di IBS RSUD
Bangil, dapat diketahui bahwa dari 36 pasien yang menerima preloading cairan,

responden terbanyak adalah 31 pasien dengan 1000 ml cairan, diikuti dengan

pasien sejumlah 5 pasien yang mendapatkan preloading 900 – 950 ml.


Hal yang terpenting pada penatalaksanaan hipotensi adalah oksigenasi
dua organ penting yaitu jantung dan otak. Selama hipovolemik yang berhubungan

dengan disfungsi hemodinamik, tubuh mencoba untuk mengkompensasi defisit

perfusi dengan meredistribusi aliran ke organ vital (jantung dan otak) yang

mengakibatkan kurangnya perfusi pada organ lain seperti usus, ginjal, otot, dan

kulit. Aktifasi sistem saraf simpatis dan sistem renin-angiotensin-aldosteron

merupakan mekanisme kompensatorik untuk menjaga perfusi perifer. Banyaknya

substansi vasoaktif yang beredar dan mediator inflamasi merupakan kejadian

tambahan yang terjadi pada situasi tersebut. Bagaimanapun juga, kompensasi

aktivasi neurohumoral bermanfaat saat pertama kali, mekanisme ini merusak dan

mungkin mengakibatkan hasil yang buruk pada pasien sakit kritis. Jadi, perbaikan

yang adekuat volume intravaskuler tetap merupakan tindakan yang penting dalam

pengaturan pasien bedah.


Terapi fisiologis hipotensi selama spinal ini adalah dengan memberikan

preload yang cukup dengan menaikkan aliran balik vena ke jantung dan

selanjutnya dapat memperbaiki cardiac output. Pemberian cairan mungkin

bertahan dalam kompartemen intravaskuler atau seimbang dengan kompartemen

cairan interstisial/intraseluler. Tujuan utama penatalaksanaan cairan adalah

jaminan hemodinamik yang stabil oleh perbaikan sirkulasi volume plasma.

Bagaimanapun juga, kelebihan akumulasi cairan, terutama sekali dalam jaringan

interstisial harus dihindari.


54

Cairan pengganti yang diberikan didasarkan pada 5 aspek utama yang

penting untuk dipertimbangkan, antara lain:

1. jenis cairan yang harus diberikan

2. jumlah cairan harus jelas

3. kriteria petunjuk terapi cairan harus jelas

4. kemungkinan efek samping yang harus dipertimbangkan

5. biaya

Hidrasi akut dengan memberikan cairan kristaloid sebanyak 1000 - 1500

ml tidak menimbulkan bahaya overhidrasi; tekanan darah, denyut jantung dan

nadi dalam batas-batas normal . Menurut Wollman pemberian cairan kristaloid

sebanyak 1000 ml hanya menaikkan tekanan vena sentral sebanyak 2 cm air dan

nilainya masih dalam batas normal. (Mangku, 2010)

Pada pasien Sectio Casarea ini diberikan cairan kristaloid berupa RL.

Cairan kristaloid adalah larutan berbahan dasar air dengan molekul kecil.

Sehingga, membran kapiler permeabel terhadap cairan tersebut. Cairan kristaloid

akan menimbulkan penyebaran ke ruang interstitial lebih banyak. Ekspansi

volume plasma dalam bentuk kristaloid akan bekerja untuk mengembalikan

volume intravaskular dengan meningkatkan tekanan onkotik pada ruang

intravaskular. Dimana air akan berpindah ke dalam ruang intravascular yang

menyebabkan peningkatan sirkulasi volume. Hal ini akan meningkatkan substansi

dari tekanan venous central, cardiac output, stroke volume (SV), tekanan darah,

pengeluaran urin dan perfusi kapiler (Butterworth, 2013)

Selama dilakukan penelitian, tidak ditemukan gangguan – gangguan akibat

pemberian cairan, seperti alergi dan mual – muntah. Sehingga, pemberian cairan
55

pengganti sebelum tindakan operasi, bila sesuai dengan kebutuhannya tidak akan

menimbulkan efek tersebut.

4.3.2 Stabilitas tekanan darah intraoperatif pada Pasien sectio caesarea

dengan spinal anestesi di RSUD Bangil

Telah dilakukan observasi secara langsung pada pasien sectio caesarea

dengan spinal anestesi di IBS RSUD Bangil untuk memantau perubahan

hemodinamik (tekanan darah sistol (TDS) dan tekanan darah diastol (TDD), yaitu

sebelum anestesi spinal dilakukan, pada menit ke-5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45

dan 50 pasca anestesi spinal.

Hasilnya memperlihatkan bahwa hasil rata-rata tekanan darah pada menit

ke- 5 pasca anestesi spinal pada pemberian cairan kristaloid dan koloid mengalami

penurunan pada menit awal (10 menit pertama). Pada menit tersebut murni tidak

terdapat pengunaan obat-obatan untuk meningkatkan tekanan darah.

Tindakan anestesi spinal yang biasa digunakan untuk operasi elektif perut

bagian bawah banyak menimbulkan komplikasi, salah satu komplikasi yang

sering terjadi adalah hipotensi. Hipotensi bila berlangsung lama dan tidak diterapi

akan menyebabkan hipoksia jaringan dan organ dan bila keadaan ini berlanjut

terus akan mengakibatkan keadaan syok hingga kematian

Hipotensi pasca anestesi spinal disebabkan oleh terjadinya pemblokkan

pada tonus simpatik. Blok simpatis akan menyebabkan hipotensi, hal ini

menyebabkan menurunnya resistensi vaskular sistemik dan curah jantung. Pada

keadaan ini akan terjadi pooling darah dari jantung dan toraks ke mensentrium,

ginjal, dan ekstremitas bawah ( Linguori, 2007). Mekanisme yang mendasari

terjadinya hipotensi pada anestesi spinal diakibatkan paralisis serabut preganglion


56

saraf simpatis yang mentransmisikan implus motorik ke otot polos pembuluh

darah perifer yang akan menyebabkan arteri dan arteriol mengalami dilatasi pada

daerah yang mengalami denervasi simpatis sehingga terjadi resistensi vaskuler

perifer total dan tekanan darah rata-rata turun. Selanjutnya akan terjadi dilatasi

vena dan venula dengan pooling darah dan dapat menurunkan curah balik ke

jantung sehingga menyebabkan penurunan curah jantung dan tekanan darah

( Leksana, 2006). Anestesi spinal yang tinggi, diatas thorak 4-5 akan

menyebabkan blok simpatis dari serabut-serabut yang menginervasi jantung dan

venous return menyebabkan hipotensi yang dalam ( Dorland, 2010)

Usia 36 responden yang dilakukan tindakan Sectio caesarea dengan spinal

anestesi di RSUD Bangil yaitu 7 pasien 20 tahun, 4 pasien 21 tahun, 2 pasien 22

tahun, 3 pasien 23 tahun, 5 pasien 24 tahun, 1 pasien 25 tahun , 1 pasien 26 tahun,

4 pasien 28 tahun,2 pasien 30 tahun, 3 pasien 32 tahun dan 4 pasien berusia 36

tahun.

Usia merupakan salah satu faktor risiko hipotensi pada pemberian anestesia

spinal yang sama namun penurunan tekanan darah pasien yang berusia lebih muda

akan lebih ringan daripada yang lebih tua. Hal tersebut mungkin disebabkan lebih

tingginya tonus autonom pembuluh darah yang tersisa setelah kompensasi yang

lebih aktif. Penurunan curah jantung akan sesuai dengan bertambahnya usia. Hal

tersebut juga menjelaskan penurunan tekanan darah secara proporsional yang

lebih besar pada pasien lanjut usia setelah terjadi vasodilatasi perifer.

4.3.3 Analisis Hubungan antara Pemberian Preloading Cairan dengan

Stabilitas Tekanan Darah Intraoperatif di RSUD Bangil.


57

Pada uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov baik terhadap TDS dan

TDD didapatkan nilai P>0.05, yang artinya data terdistribusi normal. Untuk

mengetahui ada tidaknya hubungan pemberian preloading cairan dengan stabilitas

tekanan darah intraoperatif, digunakan uji pearson menggunakan SPSS 16.0.

Tabel 4.6 didapatkan hasil p-value : (α < 0,05) untuk TDS dan tabel 4.7 p-value

TDD pada menit ke 5 sampai menit ke 50. yang berarti H1 diterima dan H0 ditolak

yang artinya ada hubungan antara pemberian preloading cairan dengan stabilitas

tekanan darah intraoperatif.

Penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Muzlifah dan Choy

pada tahun 2009, yang menyatakan bahwa Pemberian preloading pada pasien

yang akan dilakukan anestesi spinal dengan 10 – 20 ml/kg BB cairan intravena

(kristaloid atau koloid) secara luas dapat dilakukan untuk mencegah hipotensi

pada anestesi spinal. Pemberian cairan tersebut secara rasional untuk

meningkatkan volume sirkulasi darah dalam rangka mengkompensasi penurunan

resistensi perifer .

Cairan kristaloid adalah larutan berbahan dasar air dengan molekul kecil.

Sehingga, membran kapiler permeabel terhadap cairan tersebut. Cairan kristaloid

akan menimbulkan penyebaran ke ruang interstitial lebih banyak dan mudah serta

lebih cepat dalam mengisi volume plasma. Disamping itu, cairan kristaloid RL

lebih mudah dijangkau dari segi biaya. Hasil penelitian ini mendukung

penggunaan cairan kristaloid karena terbukti ada hubungan antara

mempertahankan tekanan darah pada pasien seksio sesarea dengan anestesi spinal.
58

4.4 Keterbatasan Penelitian


Dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan antara lain :
1. Pada penelitian ini responden yang digunakan masih heterogen dimana

masih ada faktor perancu lainnya diantaranya, tinggi dan berat badan

pasien dan diagnose masuk operasi, .