Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

TUBERKULOSIS (TB)

A. PENGERTIAN
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang
hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah
paru-paru (IPD, FK, UI).Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi.

B. PENYEBAB
Etiologi Tuberculosis Paru adalah Mycobacterium Tuberculosis yang berbentuk
batang dan Tahan asam.Penyebab Tuberculosis adalah M. Tuberculosis bentuk batang
panjang 1 – 4 /m. Dengan tebal 0,3 – 0,5 m. selain itu juga kuman lain yang memberi
infeksi yang sama yaitu M. Bovis, M. Kansasii, M. Intracellutare.

C. TANDA DAN GEJALA


 Gejala umum Tb paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum
,malaise , gejala flu , demam ringan suhu diatas 37,5’C , nyeri dada , batuk
darah(Mansjoer , 1999).
 Gejala lain yaitu kelelahan, anorexia, penurunan Berat badan ( Luckman dkk).
 Demam : subfebril menyerupai influenza
 Batuk:batuk kering (non produktif)  batuk produktif (sputum)
 Hemaptoeberat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yangmengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalannafas.
 Sesak Nafas: pada penyakit TB yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah ½
bagian paru-paru
 Nyeri dada
 Malaise:anoreksia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, keringat
malam

D. CARA PENULARAN
Penyakit tuberculosis (TB) bisa ditularkan melalui kontak langsung dengan pasien
TB, seperti terpapar hembusan nafasnya, cairan tubuhnya, droplet, dan peralatan makan.

1
E. PATHWAY

2
F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapar terjadi pada pasien dengan TB Paru adalah:
1. Batuk darah.
2. Pneumothorax.
3. Gagal nafas.
4. Gagal jantung.
5. Efusi pleura.
6. Abses paru.

G. PENGOBATAN
Di Indonesia Klasifikasi yang dipakai berdasarkan DEPKES.
1. Kategori 1 :
Paduan obat 2HRZE/4H3R3 atau 2HRZE/4HR atau 2HRZE/6HE.Obat tersebut
diberikan pada penderita baru Y+TB Paru BTA Positif, penderita TB Paru BTA
Negatif Roentgen Positif yang “sakit berat” dan penderita TB ekstra Paru Berat.
2. Kategori II :
Paduan obat 2HRZES/HRZE/5H3R3E3.Obat ini diberikan untuk : penderita
kambuh (relaps), pendrita gagal (failure) dan penderita dengan pengobatan setelah
lalai ( after default)
3. Kategori III :
Paduan obat 2HRZ/4H3R3.Obat ini diberikan untuk penderita BTA negatif dan
roentgen positif sakit ringan, penderita ekstra paru ringan yaitu TB Kelenjar Limfe
(limfadenitis), pleuritis eksudativa uiteral, TB Kulit, TB tulang (kecuali tulang
belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
Adapun tambahan dari pengobatan pasien TB obat sisipan yaitu diberikan bila pada akhir
tahap intensif dari suatu pengobatan dengan kategori 1 atua 2, hasil pemeriksaan dahak
masih BTA positif, diberikan obat sisipan ( HRZE ) setiap hari selama satu bulan.
Jenis obat yang dipakai
- Obat Primer -Obat Sekunder
1. Isoniazid (H) 1. Ekonamid 6. Tiasetazon
2. Rifampisin (R) 2. Protionamid 7. Viomisin
3. Pirazinamid (Z) 3. Sikloserin 8. Kapreomisin
4. Streptomisin 4. Kanamisin
5. Etambutol (E) 5. PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)
3
1. Prinsip Pengobatan Tb
Sesuai dengan sifat kuman TB, untuk memperoleh efektifitas pengobatan,
maka prinsip-prinsip yang dipakai adalah :
 Menghindari penggunaan monoterapi. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)diberikan
dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlahcukup dan dosis
tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hal ini untukmencegah timbulnya
kekebalan terhadap OAT.
 Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat, pengobatandilakukan
dengan pengawasan langsung (DOT = Directly ObservedTreatment) oleh seorang
Pengawas Menelan Obat (PMO).
 Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
2. Tahap Intensif
 Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
 Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanyapenderita
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
 Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)dalam 2
bulan.
3. Tahap Lanjutan
 Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namundalam
jangka waktu yang lebih lama.
 Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant)sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.

H. EFEK SAMPING OBAT


 Isoniazid (H) :
1. Tanda tanda keracunan pada saraf tepi, kesemutan dan nyeri otot atau gangguan
kesadaran.
Efek ini dapat dikurangi dengan pemberian piridoksin (vitamin B6 dengan dosis
5 - 10 mg per hari atau dengan vitamin B kompleks)
2. Kelainan yang menyerupai defisiensi piridoksin (syndroma pellagra)
3. Kelainan kulit yang bervariasi, antara lain gatal-gatal
Bila terjadi efek samping ini pemberian OAT dapat diteruskan sesuai dosis.

4
 Rifampisin (R)
Efek samping Rifampisin yang berat tapi jarang terjadi adalah :
1. Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas, kadang-kadang disertai
dengan kolaps atau renjatan (syok). Penderita ini perlu dirujuk ke UPK
spesialistik karena memerlukan perawatan darurat.
2. Purpura, anemia haemolitik yang akut, syok dan gagal ginjal. Bila salah satu
dari gejala ini terjadi, Rifampisin harus segera dihentikan dan jangan diberikan
lagi meskipun gejalanya sudah menghilang. Sebaiknya segera dirujuk ke UPK
spesialistik.
Efek samping Rifampisin yang ringan adalah:
1. Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan
2. Sindrom flu berupa demam, menggigil, nyeri tulang
3. Sindrom perut berupa nyeri perut, mual, muntah, kadang-kadang diare.
Efek samping ringan sering terjadi pada saat pemberian berkala dan dapat sembuh
sendiri atau hanya memerlukan pengobatan simtomatik.
Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni, keringat, air mata,
air liur.Hal ini harus diberitahukan kepada penderita agar penderita tidak jadi
khawatir. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme obat dan tidak
berbahaya.
 Pirazinamid (Z)
1. Efek samping utama dari penggunaan Pirazinamid adalah hepatitis.
2. Nyeri sendi dan kadang-kadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout
yang kemungkinan disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam
urat.
3. Kadang-kadang terjadi reaksi hipersensitas misalnya demam, mual, kemerahan
dan reaksi kulit yang lain.
 Streptomisin
1. Efek samping utama dari Streptomisin adalah kerusakan syaraf kedelapan yang
berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran.
Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan dosis
yang digunakan dan umur penderita.Kerusakan alat keseimbangan biasanya
terjadi pada 2 bulan pertama dengan tanda-tanda telinga mendenging (tinitus),
pusing dan kehilangan keseimbangan.Keadaan ini dapat dipulihkan bila obat
segera dihentikan atau dosisnya dikurangi dengan 0,25 gr. Jika pengobatan
5
diteruskan maka kerusakan alat keseimbangan makin parah dan menetap
(kehilangan keseimbangan dan 74 tuli). Risiko ini terutama akan meningkat pada
penderita dengan gangguan fungsi ekskresi ginjal. Reaksi hipersensitas kadang-
kadang terjadi berupa demam yang timbul tiba-tiba disertai dengan sakit kepala,
muntah dan eritema pada kulit.Hentikan pengobatan dan segera rujuk penderita
ke UPK spesialistik.
2. Efek samping sementara dan ringan misalnya reaksi setempat pada bekas
suntikan, rasa kesemutan pada sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat
terjadi segera setelah suntikan. Bila reaksi ini mengganggu (jarang terjadi) maka
dosis dapat dikurangi dengan 0,25 gr.
3. Streptomisin dapat menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh diberikan
pada wanita hamil sebab dapat merusak saraf pendengaran janin.
 Etambutol (E)
Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya
ketajaman penglihatan, buta warna untuk warna merah dan hijau.Meskipun
demikian, keracunan okuler tersebut tergantung pada dosis yang dipakai.Efek
samping jarang terjadi bila dosisnya 15 - 25 mg/Kg BB per hari atau 30 mg/Kg BB
yang diberikan 3 kali seminggu.Setiap penderita yang menerima Etambutol harus
diingatkan bahwa bila terjadi gejala-gejala gangguan penglihatan supaya segera
dilakukan pemeriksaan mata. Gangguan penglihatan akan kembali normal dalam
beberapa minggu setelah obat dihentikan. Karena risiko kerusakan okuler sulit
dideteksi pada anak-anak, maka Etambutol sebaiknya tidak diberikan pada anak.

I. CARA PENCEGAHAN
 UNTUK PENDERITA :
 Minum obat sampai habis sesuai petunjuk
 Menutup mulut ketika batuk atau bersin
 Tidak meludah di sembarang tempat
 Meludah di tempat yang terkena sinar matahari langsung atau ditempat yang
sudah ada karbol/lisol
 Menggunakan masker
 Mencuci tangan setelah maupun sebelum melakukan aktifitas
 Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi

6
 UNTUK KELUARGA :
 Jemur kasur seminggu sekali
 Buka jendela lebar-lebar agar udara dan sinar matahari bisa langsung masuk
 Mengurangi kepadatan anggota keluarga
 Untuk dirumah disarankan untuk peralatan makan tidak di bedakan. Dengan
mencuci peralatan makan pien deng baiklin 1:10 tutup botol.

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi penyebaran infeksi pada diri sendiri maupun orang lain b.d virulensi
kuman, pertahanan primer tidak adekuat, kurang pengetahuan untuk menghindari
pemajanan pathogen.
2. Tidak efektifnya pembersihan jalan nafas b.d secret kental, upaya batuk buruk.
3. Resiko kerusakan pertukaran gas b.d kerusakan membrane alveolar kapiler,
penurunan permukaan efektif paru.
4. Perubahan nurisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia.
5. Hiperthermia b.d proses peradangan.
6. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan penyakit
b.d kurang/tidak lengkap informasi yang ada.

7
K. ASUHAN KEPERAWATAN
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1. Resiko tinggi penyebaran infeksi Tujuan : 1. Kaji patologi penyakit dan potensial
pada diri sendiri maupun orang Setelah dilakukan asuhan keperawatan penyebaran infekasi melalui droplet
lain b.d virulensi kuman, selama 3 x 24 jam klien dapat 2. Anjurkan klien untuk batuk / bersin pada tisu
pertahanan primer tidak adekuat, mengidentifikasi tindakan untuk dan menghindari meludah
kurang pengetahuan untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi dengan 3. Lakukan tindakan isolasi sebagai pencegahan
menghindari pemajanan kriteria hasil : 4. Pertahankan teknik aseptic saat melakukan
pathogen. - klien menunjukkan perubahan pola tindakan perawatan
hidup untuk meningkatkan lingkungan 5. Kaji adanya tanda-tanda klinis proses infeksi
yang aman. 6. Identifikasi adanya factor resiko terjadinya
infeksi ulang
7. Beritahu klien dan keluarga tentang
pentingnya pengobatan yang tuntas
8. Kolaborasi pemberian obat anti tuberculosis

2. Tidak efektifnya pembersihan Tujuan : 1. Kaji fungsi pernafasan, bunyi nafas, kecepatan
jalan nafas b.d secret kental, Setelah dilakukan asuhan keperawatan irama, kedalaman, penggunaan otot aksesori
upaya batuk buruk. selama 3 x 24 jam, klien data 2. Kaji kemempuan klien untuk mengeluarkan
mempertahankan jalan nafas adekuat. sputum/batuk efektif
Dengan kriteria hasil : 3. Berikan posissi semi atau fowler tinggi

8
- klien dapat mengeluarkan secret tanpa 4. Bantu klien untuk latihan nafas dalam dan
bantuan, menunjukkan perilaku batuk efektif
memperbaiki bersihan jalan nafas 5. Bersihkan secret dari mulut/trachea, lakukan
penghisapan jika perlu
6. Pertahankan asupan cairan 2500 ml per hari
7. Kolaborasi pemberian obat agen mukolitik,
bronkodilator

3. Resiko kerusakan pertukaran gas Tujuan : 1. Kaji dispnea, takipnea, peningkatan upaya
b.d kerusakan membrane alveolar Setelah dilakukan asuhan keperawatan bernafas, terbatasnya ekspansi dada dan
kapiler, penurunan permukaan selama 3 x 24 jam, klien tidak menunjukkan kelemahan
efektif paru. gejala distress pernafasan, dengan kriteria 2. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat
hasil : sianosis, perubahan warna kulit
- Rentang AGD dalam batas normal, tidak 3. Tingkatkan tirah baring/batasi aktifitas, bantu
ada dyspnea ADL
4. Kolaborasi pemberian oksigen dan
pengawasan AGD

4. Perubahan nurisi kurang dari Tujuan : 1. Kaji status nutrisi, turgor kulit, integritas
kebutuhan tubuh b.d anoreksia. Setelah dilakukan asuhan keperawatan mukosa oral, berat badan dan kekurangan BB,
selama 3 x 24 jam, klien bebas dari tanda kemampuan menelan, riwayat mual, muntah,

9
malnutrisi, dengan kriteria hasil : BB naik, diare
2. Pastikan pola diet yang disukai atau tidak
disukai klien
3. Berikan diit tinggi protein dan karbohidrat
dalam porsi kecil tetapi sering
4. Awasi masukan/pengeluaran dan perubahan
BB secara periodic
5. Dorong orang terdekat untuk membawa
makanan kesukaan klien, kecuali
kontraindikasi
6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
komposisi diet

5. Hiperthermia b.d proses Tujuan : 1. Pantau suhu tubuh klien, perhatikan


peradangan. Setelah diberikan asuhan keperawatan menggigil/diaphoresis
selama 3 x 24 jam, klien diharapkan panas 2. Batasi penggunan pakaian atau linen tebal
badan klien berkurang dengan kriteria hasil: 3. Berikan kompres hangat, hindari penggunaan
1. Suhu badan pasien normal alcohol
2. Pasien tidak mengalami komplikasi yang 4. Anjurkan untuk mempertahankan masukan
berhubungan. cairan adekuat untuk mencegah dehidrasi
5. Kolaborasi pemberian antipiretik

10
6. Kurang pengetahuan mengenai Tujuan : 1. Kaji kemampuan klien untuk belajar, tingkat
kondisi, aturan tindakan dan Setelah dilakukan asuhan keperawatan partisipasi
pencegahan penyakit b.d selama 3 x 24 jam, klien memahami proses 2. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan klien
kurang/tidak lengkap informasi penyakit dan kebutuhan pengobatan, dengan ke perawat (hemoptisis, nyeri dada, demam,
yang ada. kriteria hasil : klien melakukan perubahan sulit bernafas)
pola hidup untuk memperbaiki kesehatan 3. Berikan instruksi dan informasi tertulis khusus
untuk klien (jadwal obat)
4. Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, efek
samping dan alasan pengobatan lama
5. Anjurkan klien untuk tidak merokok dan
minum alcohol
6. Berikan inforamasi mengenai proses penyakit,
prognosis, cara pencegahan dan penularan

11
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC


Mansjoer, dkk. (1999). Kapita Selekta Kedokteran edisi 3.Jakarta: FK UI
Tucker, dkk. (1998). Standart Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
DepKes RI Tahun 2005. PHARMACEUTICAL CARE UNTUK
PENYAKITTUBERKULOSIS.

Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002

Nanda. 2015. Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima Medika : Jakarta

Nanda Nic-Noc. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda Nic-Noc Ed 2. Mediaction. Jogja

Doenges, E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3.EGC : Jakarta.

12