Anda di halaman 1dari 19

Tugas Kelompok I

Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman

Serangga Hama

OLEH :

Ledhya Prilsilia Husni 05011381621098


Muhammad Ridho 05011381621097
Virna Indah Kartika Sari 05011181621050
Bayu Saputra 05011381621083

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2017
Serangga Hama
Serangga adalah satu-satunya binatang invertebrata yang memiliki sayap dan ada yang tidak
memiliki sayap. Pada umumnya bentuk dari tubuh serangga adalah silindir. Serangga mempunyai
ciri khas,yaitu tubuh beruas-ruas,ruas-ruas tersebut terbagi menjadi caput,thorax dan abdomen serta
serangga dewasanya mempunyai 3 pasang tungkai.
Serangga di katakan hama,apabila merugikan atau merusak tanaman secara ekonomis. Serangga
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1 Memiliki tubuh beruas-ruas yang terdiri dari ; capuk (kepala),thorax (dada) dan
abdomen (perut)
2 Memiliki 3 pasang kaki atau tungkai
3 Memiliki 2 pasang sayap atau 1 pasang sayap
4 Memiliki 1 pasang antene

Untuk penggolongan ordo serangga yang berpotensi menjadi hama, ordo-ordo ini terbagi
menjadi 8 golongan yaitu :
Ordo – Ordo Serangga Hama
1) Ordo Orthoptera
Orthoptera berasal dari kata ortho =lurus dan pteron =sayap, serangga ini bersayap lurus
pada waktu istirahat memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang
dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan
melebar dengan vena-vena yang teratur.
Serangga ini merupakan serangga ordo orthoptera sebagai pemakan tumbuhan tetapi juga
sebagai predator pada serangga lain. Hama ini menyerang pada saat pertumbuhan tanaman hingga
saat pengisian bulir padi.
Tipe perkembangannya merupakan paurometabola atau metamorfosis sederhana yang melalui
tiga stadia yaitu telur - nimpa – dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan
pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya.
Tipe alat ordo ini yaitu memiliki mulut menggigit-mengunyah (mandibulata). Alat mulut seperti
ini digunakan untuk memotong atau menggigit dan mengunyah makanan padat, dicirikan dengan
adanya mandibula yang kuat
Hama Sexava sp. (Belalang Pedang) merupakan salah satu hama penting yang dapat
menyebabkan kerusakan serius pada tanaman kelapa. Serangan yang dilakukan pada imago
memakan daun tanaman kelapa dari bagian tepi daun (margi folii) sementara nimfanya memakan di
antara tulang-tulang daun sehingga menimbulkan lubang-lubang pada daun. Pada serangan berat
yang tertinggal hanya beberapa pelepah pucuk, sedangkan daun-daun di bagian bawah hanya
tertinggal lidinya saja, sehingga tanaman kelapa tidak dapat menghasilkan buah selama 1 sampai 2
tahun.
“Hama ini menyerang pada lahan percobaan dengan intensitas serangan yang cukup besar
karena penularan dari petakan diluar penelitian. Hama ini menyebabkan daun pada tanaman padi
tidak utuh lagi sehingga proses penyerapan fotosintesis kurang sempurna”.(Wahyuningsih, 2010)
Berikut gambar spesies dari Belalang Sembah (Otomantis sp.) :

Gambar 2. Belalang menyerang tanaman


Gambar 1. Belalang Sembah (b)
(Otomantis sp.) (a) Sumber:
http://www.petanihebat.com/2014/05/me
ngatasi-opt-pada-pembibitan-kelapa.html
Beberapa jenis serangga ordo orthoptera ini adalah :

Gambar3. Belalang sembah(Otomantis sp.)


Sumber:https://ngapakers.com/gambar-belalang/

Gambar 4.Belalang kembara (Locusta migratoria)


Sumberhttps://m.timesindonesia.co.id/read/
128484/20160712/073408/hama-belalang-serang-lahan-di-sumba-timur/

Belalang Setan
Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Animalia
Fillum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Orthoptera
Famili : Pyrgomorphidae
Genus : Aularches
Spesies : A. miliaris
Nama : Aularches miliaris (Linnaeus, 1758)
Binominal
Sumber : id.wikipedia.com

Belalang setan atau dalam bahasa ilmiahnya Aularches miliaris sedangkan dalam bahasa
inggrisnya adalah Spotted Grasshopper, keberadaannya jarang ditemui dan di India Selatan
dikabarkan terancam punah. Aularches miliaris dapat ditemukan di ASIA Selatan dan ASIA
Tenggara. Di Indonesia sendiri, Aularches miliaris masih bisa ditemukan di Taman Nasional
Baluran, Situbondo Propinsi Jawa Timur, akan tetapi populasinya sedikit.
Belalang ini berukuran besar dan berwarna cerah. Sayapnya berwarna hijau kecoklatan dengan
bercak kuning. Di bagian perutnya terdapat garis-garis merah. Warna nimfa cokelat kehitaman
dengan garis-garis putih.
Belalang ini sangat pemalas. Jika di ganggu,binatang ini tidak terbang dan hanya menjatuhkan
diri. Jika dipegang,belalang akan mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari kepala dan membuat
suara mencicit seperti pada waktu kawin. Belalang setan makan pada waktu malam hari dan bersifat
polifag (pemakan segala macam tanaman).
Makanan serangga ini,di antaranya pisang,kelapa,pinang,dadap,serta kadang jeruk dan tebu.
Kepala dan dada (thorax) berwarna biru gelap dengan garis kuning di bawah mata sampai keatas
mulut, pada dada (thorax) bagian dorsal terdapat gerigi, tungkai berwarna biru gelap, pada femur
tungkai belakang terdapat gerigi berwarna kuning, abdomen berwarna merah cerah dengan garis-
garis hitam, sayap depan (tegmina) berwarna dasar hijau-coklat dengan bintik-bintik kuning seperti
motif macan tutul. Warna tubuh yang berwarna-warni ini berfungsi sebagai pertahanan diri dari
predator atau musuh alaminya.
Selain menggunakan warna tubuh yang menarik, Aularches miliaris memiliki mekanisme
pertahanan diri lainnya seperti mengeluarkan busa yang beracun atau cairan yang berbau busuk
(evil-smelling) dari thorax dan mengeluarkan suara berderit (sama seperti suara yang dikeluarkan
pada saat mating atau kawin). Oleh sebab itu belalang ini sering disebut sebagai belalang setan.
Selain belalang setan, Aularches miliaris juga disebut sebagai belalang busa, belalang tutul utara
atau belalang kopi. Seperti halnya jenis belalang lainnya belalang setan yang berjenis kelamin
jantan memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari pada betina.
Daur hidup :
Telur akan menetas setelah berumur lebih kurang 4 bulan. Sementara itu,lamanya masa nimfa dan
dewasa lebih kurang 5-6 bulan.

2) Ordo Hemiptera ( bangsa kepik )


Hemiptera berasal dari kata hemi = setengah dan pteron = sayap.Sayap depan menebal pada
bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut
Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian
kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli.
Serangga ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak
sebagai pemakan tumbuhan. Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang
mingisap cairan tubuh serangga lain.
Tipe perkembangannya merupakan paurometabola atau metamorfosis sederhana yang melalui
tiga stadia yaitu telur - nimpa – dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan
pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya
Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan
alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran
makanan dan saluran ludah dan menusuk menghisap(houstelata).
Hama Walang Sangit merupakan hama penting yang berbahaya dan sangat merusak karena
dapat mengakibatkan menurunnya produksi padi sekaligus menurunkan kualitas gabah (Azzamy,
2016)
Serangga ini menyerang dengan cara menghisap cairan tangkai bunga serta bulir padi pada fase
pengisian bulir dan pemasakan bulir. Sehingga menyebabkan pengisian bulir padi tidak sempurna
bahkan menyebabkan bulir padi hampa (Azzamy, 2016)
Berikut ciri-ciri dari Ordo Hemiptera :
Ini adalah contoh hama yang lain dari ordo hemiptera yaitu kepik hijau (Nezara viridula L) yang
menyerang tanaman kedelai:

Gambar 5. Kepik Hijau (Nezara Gambar 6. Kepik Hijau (Nezara


viridula L) (a) viridula L), hama pengisap polong
pada tanaman kedelai (b)
Sumber:

Gambar 7.Walang sanit(Leptorixa oratorius Thumb.)


Sumber:http://www.bowerbird.org.au/observations/30005
3) Ordo Homoptera (bangsa kutu)

Homptera berasal dari kata Homo artinya "sama" dan pteron berarti "sayap". Serangga
golongan ini mempunyai sayap depan berstruktur sama, yaitu seperti selaput (membran). Sebagian
dari serangga ini mempunyai dua bentuk, yaitu serangga bersayap dan tidak bersayap. Misalnya,
kutu daun ( Aphis sp.), sejak menetas sampai dewasa tidak bersayap. Namun, bila populasinya
tinggi sebagian serangga tadi membentuk sayap untuk memudahkan pindah dari satu tempat ke
tempat lain.
Tipe perkembangan hidup ordo Homoptera adalah paurometabola (telur → nimfa →
imago). Kutu daun bersifat partenogenetik , yaitu embrio berkembang didalam imago betina tanpa
pembuahan terlebih dahulu. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama
tanaman .
Alat mulut juga bertipe menusuk mennghisap(housetelata).
Jenis serangga dari golongan ini, antara lain wereng hijau ( Nephotettixapicalis ), wereng
cokelat ( Nilaparvata lugens ), kutu daun penular CVPD ( Diaphorina citri ), kutu daun ( Aphis
sp.);kutu daun ( Myzus persicae) ; kutu daun atau white fly ( Bemisia tabaci Genn); kutu daun jeruk
dan mawar ( Aleurocanthus spiniferus ); kutu daun kelapa ( Aleurodicus destructor Mask); kutu
putih pada tebu ( Oregma lanigera Zehntn); kutu sisik atau kutu perisai hijau pada kopi dan cengkeh
( Coccus viridis ), kutu dompolan ( Pseudococcus citri Risso).
Menurut Aminatun (2012) “Pada Hama Wereng Coklat, menyerang tanaman padi pada
saat memasuki fase pertumbuhan (tanaman muda) hingga fase keluarnya malai. Pada fase
tanaman muda, tanaman diserang dengan cara dihisap cairan selnya dan kemudian akan muncul
gejala seperti menguningnya tanaman padi tersebut, kemudian berwarna coklat dan akhirnya
seluruh tanaman mengering”.
Aminatun (2012) mengatakan “Sedangkan pada fase tanaman yang sudah tua (sudah
keluar malai) serangan wereng coklat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhenti dan
mengakibatkan bulir padi menjadi hampa (kosong)”.
Berikut gambar dari Wereng Coklat (Nilaparvta lugens):

Gambar. 8. Wereng Coklat Gambar 9. Penyakit yang disebabkan


(Nilaparvta lugens) (a) oleh Wereng
Coklat (Nilaparvta lugens)(b)
Sumber:
a
debbyeka.blogspot.co.id/2015/09/weren
g-batang-cokelat.html?m=1

Berikut ialah contoh serangga lain dari ordo homoptera yaitu kutu daun
hitam (Toxoptera aurantii):
a

Gambar 10. Kutu Daun Gambar 11. Gejala yang disebabkan


a Hitam (Toxoptera aurantii) oleh kutu daun
hitam (Toxoptera aurantii) (b)
Sumber:
http://www.tanijogonegoro.com/2015/0
4/kutu-daun-aphis-gossypii.html

4)Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat)


Lepidoptera berasal dari kata lepidos = sisik dan pteron = sayap ordo ini, hanya stadium
larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator.
Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar. Sayap terdiri dari dua
pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni.
Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia :
telur – larva - kepompong – dewasa.
Tipe alat mulutnya yaitu pada fase larva memiliki tipe mulut pengunyah, sedangkan ketika
imago memiliki tipe mulut penghisap.
Penggerek batang padi kuning (Tryporiza incertulas Wlk) merupakan hama penting.
Serangan yang dilakukan bisa terjadi semenjak di persemaian sampai masa pertumbuhan dan
perkembangan tanaman padi. Gejala serangannya antara lain anakan padi menjadi kerdil atau mati
dan malai menjadi hampa.“Ordo Lepidoptera adalah serangga yang umum dan mudah untuk
dikenal oleh setiap orang, karena dapat langsung dikenali oleh sisik-sisik pada sayap sayap yang
lepas seperti debu pada jari seseorang apabila serangga ini dipegang”.(Arifin, 2016)
Artona catoxanth Hamp adalah hama yang menyerng kelapa.Ulat muda pada awalnya
mengetam daun yang tua sehingga terbentuk lubang-lubng pada daun. Setelah itu,menggerek
pinggir daun. Serangan berat menyebabkan daun daun tua berwarna merah kehitaman ,sepeti
terbakar,dan buah buahanya berguguran. Hama Artona catoxantha merupakan salah satu Organisme
Pengganggu Tumbuhan (OPT) utama pada tanaman kelapa, hama ini memiliki siklus hidup antara
telur sampai menjadi kupu-kupu berlangsung selama 29 – 37 hari dengan metamorfosis sempurna
telur-larva-kepompong-ngengat, yaitu :
Stadia Telur.
Stadia telur berlangsung selama 3 – 4 hari, telur ulat Artona berbentuk lonjong (bulat panjang),
berwarna putih bening atau hijau kekuningan bening dan memiliki ukuran panjang sekitar 0,5 mm –
1 mm.
Stadia Larva.
Stadia larva berlangsung selama 17 – 22 hari, warna larva putih kekuningan, jernih dan
berukuran 11 – 12 mm. Pada bagian punggung terdapat garis yang lebar dan memanjang berwarna
hitam ungu, disebelah garis tebal terdapat garis kecil. Larva memiliki kepala yang berwarna kuning
kemerahan, tubuh larva bagian depan berukuran lebih besar daripada tubuh bagian belakang.
Stadia Kepompong.
Stadia kepompong berlangsung antara 10 – 12 hari, kepompong yang masih muda berwarna
kekuning-kuningan, sedangkan kepompong yang sudah tua berwarna merah sauh karena tertutup
oleh lapisan kulit kokon. Kepompong memiliki ukuran panjang berkisar antara 12 – 14 mm dan
lebar 6 – 7 mm.
Stadia Ngengat (Kupu-kupu).
Kupu-kupu Artona berukuran panjang antara 10 – 15 mm dengan jarak antar sayap 13 – 16 mm,
berwarna hitam merah kecoklatan, dan pada kuduk, tubuh bagian bawah serta pinggir sayap depan
terdapat sisik-sisik kuning. Sepanjang siang hari, kupu-kupu Artona diam dan berdiri pada kedua
kakinya, berjajar sampai berpuluh-puluh ekor pada anak-anak daun kelapa yang menggantung.
Aktif pada pagi dan petang hari, baik kupukupu jantan maupun betina beterbangan mengitari
pohon-pohon kelapa untuk kawin. Biasanya kupu-kupu betina mulai meletakkan telurnya pada anak
daun di bagian bawah, berkelompok sebanyak 3 – 12 butir.

Contoh hama Arton cotoxanth yang menyerang daun kelapa

Gambar 12 Arton cotoxanth Hamp


Gejala hama Arton cotoxanth yang di serang daun kelapa

Berikut salah satu contoh serangga lain dari ordo lepidoptera yaitu ngengat:

Gambar 14. Gejala penyerangan Ngengat


Gambar 13. Ngengat (Hippotion
(Hippotion celerio) pada tanaman jagung:
celerio)(a)
tongkol jagung berlubang.
Sumber:
http://www.herdinbisnis.com/2011/12/baga
imana-ngengat-itu-menyerang-
tanaman.html

5.)Ordo Coleoptera (bangsa kumbang)


Coleoptera berasal dari kata Coleos atau "seludang" dan pteron atau "sayap". Serangga golongan
ini memiliki sayap depan yang mengalami modifikasi, yaitu mengeras dan tebal seperti seludang.
Sayap depan atau seludang ini berfungsi untuk menutupi sayap belakang dan bagian tubuhnya.
Sayap depan yang bersifat demikian disebut elitron , sedangkan sayap belakang strukturnya tipis
seperti selaput. Pada saat terbang kedua sayap depan tidak berfungsi, namun waktu istirahat sayap
belakang dilipat di bawah sayap depan.
Perkembangan hidup serangga ordo Coleoptera adalah holometabola (telur → larva → pupa →
imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak
berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas/libera
Tipe alat mulut larva dan imago memiliki sifat yang sama, yaitu menggigit-mengunyah.
Coleoptera adalah ordo serangga yang paling besar di antara ordo-ordo serangga hama. Oleh karena
itu, ordo serangga ini banyak bentuknya. Sifat hidup serangga ordo Coleoptera sebagian ada yang
merusak tanaman, namun ada pula yang bersifat predator.
Serangga ordo Coleoptera yang merusak tanaman, antara lain kumbang kelapa atau kumbang
tanduk ( Oryctes rhinoceros L.); penggerek batang albizzia ( Xystrose ra festiva ); kumbang perusak
pucuk kelapa ( Brontispa longissima ); penggerek buah kopi ( Stephanoderes hampei ); kumbang
daun kangkung, semangka, terung, dan lain-lain ( Epilachna sp.); kumbang daun kedelai
( Phaedonia inclusa Stal.); oteng-oteng ( Aulocophora s imilis Oliver); penggerek batang cengkeh
( Nothopeus fasciatipennis Wat.); hama bubuk beras ( Calandra oryazae L.); penggerek ubi jalar
( Cylas formicarius ); penggerek cabang kopi ( Xyleborus morigerus ).
Brontispa sp. Adalah contoh ordo Coleoptera yang berperan sebagai hama penting pada
tanaman kelapa. Larvanya hidup diantara anak-anak daun yang belum membuka (janur). Kumbang
Tanduk (Oryctes rhinoceros L), juga merupakan hama penting pada tanaman kelapa. Bekas
serangan pada kelapa terlihat adanya potongan-potongan yang berbentuk segitiga pada daun.
Potongan tersebut terbentuk karena pada saat daun belum membuka, kumbang menggerek anak
daun tersebut (Arisandi, 2012)-.
a
Berikut gambar dari Kumbang Badak (Oryctes rhinoceros L):

Gambar 15. Kumbang badak (Oryctes


Gambar 14. Kumbang badak
rhinoceros L) menyerang tanaman
(Oryctes rhinoceros L)
kelapa. (b).
aa Sumber: Sumber:
https://pixabay.com/en/rhinocero http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsu
s-beetle- rabaya/tinymcpuk/gambar/file/Xylotrupe
beetle-beetles-397080/ s%20Gideon%20web.pdf

6.) Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk)


Diptera berasal dari kata di = dua dan pteron = sayap. Serangga ordo Diptera meliputi serangga
pemakan tumbuhan, pengisap darah dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang
sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan
disebut halter.
Tipe alat mulut umumnya memiliki tipe menusuk-menghisap
Metamorfosenya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —>
larva —> kepompong —> dewasa
Beberapa contoh anggotanya adalah :Lalat Predator Pada Aphis (Asarcina aegrota F)Lalat
Rumah (Musca domesticaLinn.)Lalat Parasitoid (Diatraeophaga striatalis)Lalat Buah (Dacus spp.)
Contonya spesies penting ordo ini yaitu Lalat buah karena banyak menyebabkan kerugian
pada buah-buahan. Serangga ini menyerang dengan cara lalat betina menusuk buah atau sayur
mengunakan ovipositornya untuk meletakkan telurnya dalam lapisan epidermis. Setelah telur
menetas, larva akan menggerek buah dan menyebabkan buah membusuk di bagian dalam.
Bila diamati, pada buah yang terserang akan tampak lubang kecil kehitaman bekas tusukan.
Buah menjadi rusak, lembek, busuk dan akhirnya rontok. Lalat buah juga meletakkan telurnya tidak
hanya di dalam buah, tetapi juga pada bunga dan batang. Batang yang terserang menjadi benjolan
seperti bisul sehingga buah yang dihasilkan kecil-kecil dan menguning.
Berikut gambar Lalat Buah (Dacus spp.) :

Gambar 16. Lalat Buah (Dacus spp.) Gambar 17. Akibat Serangan dari Lalat
(a) Buah (Dacus spp.). (b).
Sumber: Sumber:
https://majalahserangga.wordpress.com
https://karonewsupdate.wordpress.com/201
/2011/07/12/lalat-buah-tephritid/ 2/09/27/kementan-usulkan-anggaran-
%3A rp100-miliar-berantas-hama-lalat-buah/

7.)Thysanoptera(thrips)
Thyasoptera berasal dari kata Thysanos artinya "rumbai" dan pteron berarti "sayap".
Golongan serangga ini berukuran amat kecil. Sayapnya berjumlah dua pasang dengan bentuk
memanjang, sempit, membranus, dan pada bagian tepinya terdapat rambut-rambut halus berumbai .
Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antena
(sepasang), mata facet dan occelli
Perkembangan hidup serangga Thysanoptera adalah paurometabola (telur → nimfa →
imago).
Tipe alat mulut nimfa dan imago bersifat menusuk mengisap atau memarut-mengisap.
Golongan hama ini dapat merusak daun, bunga, dan buah tanaman. Daun yang terserang hama
menjadi keriting atau salah bentuk. Bunga yang terserang menjadi salah bentuk atau gugur,
sedangkan serangan pada buah menyebabkan bercak-bercak atau gugur. Jenis serangga dari
Golongan Thysanoptera yang sering merusak tanaman, antara lain: thrips hitam pada
tanaman jagung ( Heliothrips striatoptera Kob); thrips pada bibit padi dan jagung ( Thrips oryzae
Will); thrips bawang ( Thrips tabaci Lind).
Thrips merupakan hama penting yang menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan
sel daun muda sehingga pertumbuhannya terhambat. Gejala serangan hama ini adalah pada daun
terdapat titik-titik putih keperakan. Noda keperakan tidak lain akibat adanya luka dari cara makan
hama thrips. Kemudian noda tersebut akan berubah warna menjadi coklat muda. Dan juga pada
daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas.
Berikut gambar dari hama Thrips :
Gambar 19. Thrips menyerang
Gambar 18. Thrips (Thrips tanaman cabai
Sp) (a) Sumber:
http://tabloidsahabatpetani.com/
melawan-hama-thrips-pada-
tanaman-cabe/
8.)Isoptera(Rayap) http://tabloidsahabatpetani.com/
Isoptera berasal dari kata Iso = sama dan ptera= sayap. Serangga ordo Isopetera memiliki
tipe yang sama antara bentuk ukuran dan pembuluh antara sayapan depan dan belakang,berselaput
dalm hal teksutr sayap,
Isoptera adalah serangga yang hidup secara koloni(kasta-kasta)yaitu 1) Kasta Reproduksi
terbagi atas kasta reproduksi primer imago yang bersayap dan bertugas mendirikan koloni baru dan
dipimpin raja dan ratu sedangkan kan kasta reproduksi suplementer yang tidak memiliki sayap dan
terbentuk setelah beberapa raja dan ratu mati 2) Kasta steril yang terdiri atas kasta pekerja dan kasta
prajurit.
Tipe perkembangan paurometabola. Seranga ini memiliki tipe mulut menggigit mengunyah
“Rayap mampu mendegradasi selulosa karena pada saluran pencernaannya terdapat
mikroorganisme simbion seperti bakteri dan protozoa. Bakteri simbion yang terdapat pada usus
belakang rayap merupakan golongan bakteri selulotik, karena mampu menguraikan selulosa
dengan bantuan enzim selulase.” (Maliana, Khotimah, Diba, 2013)
Berikut adalah contohnya Rayap kayu kering ( cryptotermes )Rayap yang merusak kayu kering
atau pohon yang masih hidup ( Coptotermes )

Gam bar 20 . Rayap kayu


kering ( cryptotermes )

Gejala serangan hama

Secara umum gejala serangan hama berbeda


dengan gejala serangan penyakit. Serangga hama
yang menyerang tanaman memiliki gejala yang khas tergantung cara menyerangnya apakah
menggigit menguyah,menusuk menghisap atau menghisap tidak menusuk“Senyawa Tanin berperan
sebagai pertahanan tanaman terhadap serangga dengan cara menghalangi serangga dalam mencerna
makanan. Tanin dapat mengganggu serangga dalam mencerna makanan karena tanin akan mengikat
protein dalam sistem pencernaan yang diperlukan serangga untuk pertumbuhan sehingga proses
penyerapan protein dalam sistem pencernaan menjadi terganggu”. (Widnyana, 2016). Serangga
merusak tanaman dengan cara :
1 Memakan bagian-bagian tanaman (menggerek dan mengorok)
2 Menghisap cairan,menyebabkan puru
3 Meletakkan telur
4 Membuat sarang atau pelindung
5 Menularkan penyakit
Tipe alat mulut serangga pada umumnya terbagi menjadi 2 macam,yaitu mandibulata (menggigit
mengunyah) dan haustelata (menusuk mengisap). Selain itu,beberapa jenis serangga mengalami
modifikasi tipe alat mulut dan fungsinya. Beberapa tipe alat mulut serangga antara lain :
1 Menggigit mengunyah (mandibulata). Pada serangga tipe ini berfungsi sebagai alat untuk
memotong makanan dan mengunyahnya. Maksila untuk memegang dan untuk menghancurkan
makanan. Gejala kerusakannya berupa sobekan pada daun,lubang-lubang pada daun,gerekan pada
buah atau batang. Contoh serangga yang memiliki tipe alat mulut ini adalah belalang,larva
Lepidoptera dan Coleoptera. “Tipe mulut ini merupakan tipe yang sering dijumpai pada serangga
muda dan dewasa. Mandibula serangga tipe ini mengalami sklerotisasi, bergerak secara
transversal sehingga dapat digunakan untuk memotong seperti pisau. Serangga biasanya mampu
menggigit dan mengunyah makanannya”.(Ariesta et al., 2014) Contoh serangga yang bertipe mulut
penggigit adalah serangga ordo orthoptera ( belalang ), larva ordo lepidoptera ( ulat ) dan ordo
coleoptera ( bangsa kumbang ).

Gambar 21.Tanaman kangkung yang


di serang serangga dengan alat mulut(mandibulata)

2 Menusuk menghisap (haustelata). Alat mulut tipe ini bentuknya memanjang. Mandibel dan
maksila berfungsi seperti jarum (stilet) untuk menusuk jaringan dan mengisap cairan tanaman.
Gejala kerusakannya berupa bintik-bintik pada daun,mengkerut,menguning, dan kering. Contoh tipe
ini dimiliki wereng,tonggeret,kutu daun (Homoptera),dan kepik (Hemiptera).Serangga yang bertipe
ini adalah serangga ordo homoptera ( wereng, tonggoret, kutudaun) dan ordo hemiptera ( kepik ).
“Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.) merupakan salah satu hama tanaman padi di daerah
tropik yang banyak menimbulkan kerugian. Serangga hama tersebut dapat merusak tanaman padi
secara langsung dengan menghisap cairan sel dalam tanaman dan secara tidak langsung dengan
menjadi vektor bagi penularan sejumlah penyakit tumbuhan yang diakibatkan virus”.(Febrianti
and Rahayu)
Gambar 22.tanaman daun pisang
3 Menjilat atau mengisap tidak menusuk. Tipe alat mulut ini juga memanjang. Dalam keadaan
tidak berfungsi alat mulut digulung sehingga mirip “belalai”. “Belalai” ini adalah maksila.
Mandibel pada umumnya tidak ada. Labium sudah tereduksi sehingga yang tampak hanya kedua
palpinya. Contoh serangga yang memiliki tipe alat mulut seperti ini adalah kupu-kupu dan ngengat.

Gambar 23.serangga yang menjilat atau menghisap


Sumber:himakova.ik.ipb.ac.id

Melihat posisi alat mulut terhadap kepala,maka dapat di bedakan :


1. Tipe hipognatous. Alat mulut terletak pada bagian vertal dari kepala. Contoh : belalang dan
ulat.
Gambar 24(Merdeka.com) Gambar 25 (8villages.com)

2. Tipe prognatous. Alat mulut terletak pada bagian anterior dari kepala. Contoh : kepik dan
predator.

Gambar 26. (aisfamilygreen.wordpress.com)

3. Tipe opisthognatos. Alat mulut terletak pada bagian vertal dari kepala, tetapi mengarah ke
belakang. Contoh : tonggeret,wereng dan kutu daun.

Gambar 27. (satelitpost.com)


Perkembangan dan Pertumbuhan Serangga

Serangga bersifat dioecious,dengan memproduksi karena adanya penyatuan sel telur dan
sperma.mekansime reproduksi serangga ovipar yaitu dikeluarkan oleh serangga betina dasa sesaat
setelah mengalami fertilisasi. Tipe reproduksi pada serangga,selain ovipar, secara keseluruhan
terdapat 6 tipe,yaitu ovoparity,paedogenesis,polyembriony, dan functional hermaphroditisim.
1. Ovoparity,ini telur tetap berada pada saluran kelamin serangga betina sampai perkembangan
embrio selesai.
2. Viviparity,ini embrio tetap di beri makan oleh induknya setelah masa perkembangan
embrionya selesai. Terdapat 3 tipe sistem reproduksi ini adalah adenotrophic
viviparity,psaudoplacental viviparity, dan hemocoelous viviparity.
3. Paedogenesis,terjadi pada serangga pradewasa,seperti pada larva dapat melahirkan lebih
banyak larva untuk beberapa generasi tanpa kehadiran serangga dewasa.
4. Parthenogenesis digolongkan berdasarkan kepada jenis kelamin yang di hasilkan oleh
sitologis,yaitu arrhenotoky,thelytoky dan amphitoky.
5. Polyembriony,satu telur dapat menghasilkan dua atau lebih individu.
6. Funcitional Hermaphroditisim,satu serangga memiliki karakteristis serangga jantan dan
betina.

Perkembangan pada serangga seperti pada makhluk lainnya dimulai dari pembentukan
telur,pembentukan embrio,dan perkembangan pascaembrio. Perkembangan pascaembrio dilakukan
dengan proses metamorfosis. Metamorfosis berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta = melebihi,
sedangkan morphe = bentuk. Jadi metamorfosis merupakan suatu urutan perubahan yang di alami
seekor serangga pada pertumbuhan dan perkembangannya dari telur melewati masa belum dewasa
(nimfa,larva dan pupa) menuju ke bentuk dewasa atau imago. Terdapat 4 tipe metamorfosis yang di
lakukan oleh serangga, yaitu ametabolous, paurometabolous, hemimetabolous,dan holometabolous
Yaitu :
A. Tanpa metamorfosis ( ametabola )
Maksud dari metamorfosis ini adalah pada tipe ini serangga hanya akan mengalami sedikit
perubahan pada bentuk luar tubuh nya selama masa pertumbuhan. Serangga pradewasa ( gaeag )
memiliki bentuk tubuh luar yang sama dengan serangga dewasa yang membedakan nya adalah
ukuran tubuh dan kematangan alat kelamin nya. Tipe metamorfosis ini terjadi pada serangga-
serangga tak bersayap (apterygota ). Contoh nya adalah kutu buku. “Jenis metamorfosis yakni:
Ametabola yakni serangga yang tidak mengalami metamorfosis contoh pada kutu, metamorfosis
tidak sempurna (Hemimetabola) yang terjadi pada serangga dari ordo Odonata, dan metamofosis
sempurna (Holometabola) contoh pada Lepidoptera.” (Hutabarat, 2016)

Gambar 28.mplk.politanikoe.ac.id.

B. Metamorfosis bertingkat ( Paurometabola )


Serangga yang mengalami metamorfosis ini mengalami perubahan yang bertahap tetapi
perubahan yang terjadi tidak banyak. Dimulai dengan perubahan ukuran setiap pergantian kulit,
muncul bakal sayap. Serangga muda yang mengalami paurometabola disebut nimfa. Serangga yang
dewasa disebut dengan imago. Perbedaan antara nimfa dan imago terletak pada ukuran,
perkembangan sayap dan alat kelamin nya. Serangga tipe ini nimfa maupun imago bisa berperan
sebagai hama. “Kutukebul A. dugesii memiliki tipe metamorfosis paurometabola
(metamorfosis bertingkat). Secara umum, serangga pradewasa dengan tipe
metamorfosis ini disebut nimfa. Metamorfosis serangga ini dimulai dari telur,
berkembang menjadi nimfa, dan selanjutnya berkembang menjadi imago.” (Pabowo, 2012). Contoh
serangga tipe ini adalah ordo orthoptera ( belalang ), ordo hemiptera ( kepik ) dan ordo isoptera
( rayap ).

Gambar 29.trendilmu.com

C. Metamorfosis tidak lengkap ( hemimetabola )


Serangga jenis ini tidak mengalami tahap pupa atau kepompong. Serangga ini hanya
mengalami 3 tahap metamrfosis yaitu telur- nimfa – imago. Contoh serangga tipe ini adalah capung.
“Peranan hormon dalam metamorfosis meliputi proses pengelupasan kulit larva, dan pembentukan
pupa pada serangga holometabola, dan pengelupasan kulit nimfa pada serangga hemimetabola”.
(Dwi et al., 2012)

Gambar 30.jempol kaki.com

D. Metamorfosis sempurna ( Holometabola )


Serangga tipe ini mengalami 4 tahap perkembangan yaitu telur – larva – pupa – imago.
Larva dan imago memiliki bentuk yang sangat berbeda. Pada tingkat larva serangga akan
mengalami pertumbuhan secara periodik dan pada tingkat larva ini lah serangga akan aktif makan.
Setelah tingkat larva, serangga akan mengalami tahap pupa. Pada tingkatan pupa serangga akan
mengalami perubahan bentuk luar dan dalam serta sayap yang berkembang secara internal. Setelah
itu serangga akan mencapai tingkat imago. Contoh serangga yang mengalami holometabola adalah
ordo lepidoptera ( kupu-kupu ) dan nyamuk. “Nyamuk Cx. quinquefasciatus mengalami
metamorfosis sempurna (holometabola).
Gambar 31.wordpress.com

Daur hidupnya terdiri atas 4 stadium dimulai dari telur, larva, pupa, dan dewasa. Fase telur, larva,
dan pupa merupakan fase akuatik, sedangkan nyamuk dewasa merupakan fase terestrial”.(Saepudin,
2014)
Pertumbuhan serangga ditandai dengan perubahan bentuk dan ukuran. Serangga yang baru
keluar dari telur ukurannya sangat kecil. Dalam waktu singkat serangga berganti kulit. Pada saat
kulit baru masih lunak serangga memperbesar ukuran tubuhnya. Serangga dewasa (imago) tidak
lagi mengalami pergantian kulit sehingga ukurannya tidak dapat bertambah. Lama waktu antara
terjadinya pengantian kulit disebut stadium. Sedangkan wujud/bentuk serangga pada stadium
tersebut disebut instar.

Faktor yang dapat mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Serangga


A. Faktor Abiotik
· 1. Cahaya
Cahaya mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan, perkembangannya dan tahan
kehidupannya serangga baik secara langsung maupun tidak langsung. Cahaya mempengaruhi
aktifitas serangga, cahaya membantu untuk mendapatkan makanan, tempat yang lebih sesuai. Setiap
jenis serangga membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda untuk aktifitasnya. Serangga diurnal
yaitu serangga yang membutuhkan intensitas cahaya tinggi aktif pada siang hari.Serangga
krepskular adalah serangga yang membutuhkan intensitas cahaya sedang aktif pada senja
hari. Serangga nokturnal adalah serangga yang membutuhkani intensitas cahaya rendah aktif pada
malam hari.
· 2. Suhu
Suhu merupakan faktor penting yang mempengaruhi kehidupan serangga, baik terhadap
perkembangan maupun aktivitasnya. Pengaruh suhu terhadap serangga terbagi menjadi beberapa
kisaran. Pertama, suhu maksimum dan minimum yaitu kisaran suhu terendahatau tertinggi yang
dapat menyebabkan kematian pada serangga; kedua adalah suhu estivasi atau hibernasi yaitu
kisaran suhu diatas atau dibawah suhu optimum yang dapat mengakibatkan serangga mengurangi
aktivitasnya atau dorman; dan ketiga adalah kisaran suhu optimum. Pada sebagian besar serangga
kisaran suhu optimumnya adalah 15-380 C.
· 3. Curah Hujan
Curah hujan merupakan pemicu perkembangan eksternal dan berguna untuk merangsang
keluarnya kasta reproduksi dari sarang. Serangga tidak keluar jika curah hujan rendah. Curah hujan
yang terlalu tinggi juga dapat menurunkan aktivitas serangga. Curah hujan umumnya memberikan
pengaruh fisik secara langsung pada kehidupan koloni serangga.
·
4. Kelembapan
Serangga seperti juga hewan yang lain harus memperhatikan kandungan air dalam tubuhnya,
akan mati bila kandungan airnya turun melewati batas toleransinya. Berkurangnya kandungan air
tersebut berakibat kerdilnya pertumbuhan dan rendahnya laju metabolisme. Kandungan air dalam
tubuh serangga bervariasi dengan jenis serangga, pada umumnya berkisar antara 50-90% dari berat
tubuhnya. Pada serangga berkulit tubuh tebal kandungan airnya lebih rendah. Agar dapat
mempertahankan hidupnya serangga harus selalu berusaha agar terdapat keseimbangan air yang
tepat. Kelembaban juga mempengaruhi sifat-sifat, kemampuan bertelur dan pertumbuhan serangga.

B. Faktor Biotik
Faktor biotik adalah semua faktor yang pada dasarnya bersifat hidup dan berperan dalam
keseimbangan populasi OPT. Termasuk dalam faktor biotik adalah parasit, predator, kompetisi dan
resistensi tanaman. Faktor makanan adalah unsur utama yang menentukan perkembangan OPT.
Tersedianya inang (tanaman dan hewan) yang menjadi sumber makanan merupakan factor
pembatas dalam menentukan taraf kejenuhan populasi (carryng Capacity) lingkungan atas OPT.
Untuk faktor kompetitor, apabila terdapat jenis lain atau individu lain yang kebutuhannya sama di
suatu tempat yang sama maka terjadi kompetisi, Kompetisi intraspesifik menyebabkan pemencaran
dan perkelahian, Kompetisi interspesifik (Jenis hama berbeda tetapi makanan sama). Di dalam hal
ini yang paling sering predator kalah saing. Selain itu musuh alami kadang juga merupakan faktor
yang bisa mengendalikan populasi hama
DAFTAR PUSTAKA

Ariesta, R. K. et al. (2014) ‘Inventarisasi Jenis-Jenis Serangga Pada Bunga Kelapa Sawit Di
Perkebunan Kelapa Sawit Pt Agri Andalas (Persero) Pasar Ngalam Kecamatan Air
Periukan Kabupaten Seluma Dan Implementasinya Pada Pembelajaran Biologi SMAN 3
Seluma Kelas X.B’.
ARIFIN, L. (2016) ‘Keanekaragaman serangga pada tumpangsari tanaman pangan sebagai tanaman
sela di pertanaman kelapa sawit belum menghasilkan’, 7(1), pp. 33–40.
Dwi, S. et al. (2012) ‘PERKEMBANGAN KONSENTRASI HORMON PERTUMBUHAN
UNTUK METAMORFOSIS ULAT SUTERA ( BOMBYX MORI L .)’, pp. 376–383.
Febrianti, N. and Rahayu, D. (2012) ‘Aktivitas Insektisidal Ekstrak Etanol Daun Krinyuh
(Eupatorium odoratum) Terhadap Wereng Cokelat (Nilapavarta lugens Stal.)’, Seminar
Nasional IX Pendidikan Biologi FKIP UNS, pp. 661–664.
HUTABARAT, D. K. (2016) ‘SENSILA ANTENA PADA RATU DAN PEKERJA LEBAH Apis
dorsata DAN Tetragonula laeviceps : DENSITAS DAN ANALISIS
ULTRAMORFOMETRIK DESMINA KRISTIANI HUTABARAT’.
Maliana, Y. et al. (2013) ‘Aktivitas Antibakteri Kulit Garcinia mangostana Linn Terhadap
Pertumbuhan Flavobacterium dan Enterobacter Dari Coptotermes curvignathus Holmgren’,
2(1), pp. 7–11.
Pabowo, R. and Wilayah, D. I. (2012) ‘SERANGGA PARASITOID DAN PREDATOR
KUTUKEBUL Aleurodicus dispersus Russell DAN Aleurodicus dugesii Cockerell
(HEMIPTERA: ALEYRODIDAE) DI WILAYAH BOGOR DAN BEBERAPA WILAYAH
LAINNYA’.
SAEPUDIN, I. (2014) ‘EFEKTIVITAS METOPREN DAN KELAINAN MORFOLOGI PADA
LARVA Culex quinquefasciatus’.
WAHYUNINGSIH, S. (2010) ‘EFEKTIVITAS PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN HASIL PADI SAWAH ( Oryza sativa L .) IRMAN ANDRIAWAN DEPARTEMEN
AGRONOMI DAN HORTIKULTURA’.
Widnyana, K. (2016) ‘KAJIAN FITOKIMIA DAN POTENSI EKSTRAK DAUN TANAMAN
MIMBA (Azadirachta indica A. Juss) SEBAGAI PESTISIDA NABATI’, (11), pp. 402–
406.