Anda di halaman 1dari 36

Laporan Praktikum UOP 1

POMPA SENTRIFUGAL

Disusun Oleh:
Kelompok 10

David Kristianto (1606908035)


Faldy Ilman Fariski (1706104382)
Luthfiya Naifa Putri (1606871392)
Martha Ivana S. (1406607924)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2018
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................................................... 3
BAB I. Pendahuluan ................................................................................................................................... 4
I. Tujuan Percobaan ........................................................................................................................... 4
II. Teori Dasar .................................................................................................................................. 4
BAB II. Percobaan .................................................................................................................................... 20
I. Alat dan Bahan .............................................................................................................................. 20
II. Variable Praktikum .................................................................................................................. 21
III. Prosedur Percobaan.................................................................................................................. 21
BAB III. Pengolahan Data dan Analisis.................................................................................................. 23
I. Data Percobaan ............................................................................................................................. 23
II. Pengolahan Data ....................................................................................................................... 24
A. Percobaan I ................................................................................................................................ 25
B. Percobaan II .............................................................................................................................. 25
III. Grafik Hubungan Parameter ................................................................................................... 26
A. Percobaan I ................................................................................................................................ 26
B. Percobaan II .............................................................................................................................. 27
IV. Analisis ....................................................................................................................................... 29
A. Analisis Percobaan .................................................................................................................... 29
B. Analisis Grafik dan Perhitungan ............................................................................................. 30
4.2.1 Percobaan 1 ........................................................................................................................ 30
4.2.2 Percobaan 2 ........................................................................................................................ 33
C. Analisis Kesalahan .................................................................................................................... 34
Daftar Pustaka .......................................................................................................................................... 36

2
Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat karunia-Nya
lah kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum UOP 1: Modul Pompa Sentrifugal ini. Pertama-
tama, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., selaku Dosen Penanggungjawab Modul Pompa
Sentrifugal.
2. Kuntum Khaira, selaku Asisten Laboratorium Praktikum UOP 1: Modul Pompa
Sentrifugal yang telah membimbing kami dalam melaksanakan praktikum.
3. Pihak-pihak lain yang turut membantu penulis, baik secara langsung maupun tidak langsung
selama penulisan laporan ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Laporan ini telah disusun dengan sebaik-baiknya oleh penulis agar dapat bermanfaat
menjadi sumber referensi di bidang Teknik Kimia untuk banyak pihak. Penulis memohon maaf
jika dalam laporan ini terdapat kesalahan ataupun kata-kata yang tidak sesuai. Maka dari itu, kami
mengharapkan adanya masukan dan kritik dari sebagai acuan perbaikan pada penulisan berikutnya.
Terimakasih.

Jakarta, 8 Oktober 2018

Praktikan

3
BAB I. Pendahuluan

I. Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan-hubungan parameter - parameter
kinerja pompa seperti energi pompa (BHP), energi fluida (FHP), efisiensi, head, dan kecepatan
spesifik.

II. Teori Dasar


1. Klasifikasi Jenis Pompa

Pompa merupakan perlatan mekanis yang berfungsi untuk menaikkan cairan dari
tempat yang rendah menuju ke tempat lebih tinggi, untuk mengalirkan cairan dair area dengan
tekanan rendah menuju tekanan tinggi, atau menjadi penguat laju aliran pada sistem jaringan
perpipaan. Berdasarkan dari perbedaan prinsip perubahan bentuk energi yang dihasilkan,
pompa diklasifikasikan menjadi:

1. Pompa Putar (Rotary Pump)

Rotary pump bekerja dengan merangkap cairan dan mendorongnya melalui rumah
pompa yang tertutup, sehingga mampu mengeluarkan cairan dengan aliran yang lancar. Rotary
pump terbagi menjadi 5, yaitu:

• Pompa roda gigi luar


• Pompa roda gigi dalam
• Pompa sekrup (Screw pump)
• Pompa baling geser (Vane pump)
• Pompa cuping (Lobe pump)
2. Pompa Torak (Piston pump)

Piston pump merupakan salah satu jenis positive displacement pump dimana ia
menggunakan perubahan energi mekanis pompa menjadi energi aliran fluida. Fluida masuk
melalui katup isap dan keluar melalui katup buang dengan tekanan yang tinggi. Pompa ini
mengeluarkan cairan dalam jumlah yang terbatas dengan debit yang dihasilkan tergantung

4
pada putaran dan panjang langkah piston. Berdasarkan dari jumlah silindernya, piston pump
terbagi menjadi:

• Pompa torak silinder tunggal


• Pompa torak silinder ganda
• Bent – Axis Pump
3. Pompa Sentrifugal (Centrifugal Pump)
Pompa sentrifugal mempunyai elemen utama sebuah motor dengan sudut impeller yang
berputar dengan kecepatan tinggi. Fluida yang masuk akan dipercepat oleh impeller yang
berfungsi untuk menaikkan kecepatan fluida ataupun tekanannya, lalu melemparkan keluar
dari volute. Jenis pompa sentrifugal adalah:
• Pompa radial
• Pompa aksial (propeller)
• Pompa aliran campur (mixed flow)

2. Pompa Sentrifugal

Pompa sentrifugal merupakan jenis pompa yang memanfaatkan gaya sentrifugal untuk
memindahkan fluida dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan medium pipa dan
mempunyai motor pada sistemnya. Daya dari motor diberikan pada poros pompa untuk
memutar impeller untuk meningkatkan laju tekanan dan aliran fluida yang dipasangkan pada
poros tersebut. Cairan memasuki pompa impeller sepanjang atau dekat dengan sumbu berputar
dan dipercepat oleh impeller, mengalir secara aksial radial luar atau ke dalam ruang diffuser
atau volute, kemudian keluar ke dalam sistem perpipaan hilir. Pompa sentrifugal sering
digunakan untuk debit besar melalui head yang lebih kecil. Pada kasus tertentu, pompa
sentrifugal modern mampu mengirimkan hingga 1.000.000 (gl/min) dengan head hingga 300
ft.

5
Gambar 1. Pompa sentrifugal
Sumber: http://www.introtopumps.com

3. Prinsip Kerja pada Pompa Sentrifugal

Pompa sentrifugal terbagi menjadi dua jenis, yaitu Volute Pump dan Diffuser Pump.
Volute Pump mempunyai dua bagian utama, yaitu impeller dan rumah volute. Impeller diputar
oleh poros yang digerakkan oleh motor listrik yang menyebabkan terjadinya gaya sentrifugal.
Gaya sentrifugal ini akan bekerja pada zat cair yang masuk ke dalam pompa, sehingga zat cair
tersebut akan mengalir melalui saluran diantara sudut-sudut impeller.

Gambar 2. Volute Pump


Sumber: http://www.britanica.com
Zat cair tersebut selanjutnya akan dibawa berputar dan dilempar oleh impeller
dalam arah radial, sehingga tekanan maupun kecepatan yang diterima oleh zat cair
bertambah. Sebagian besar energi yang diterima oleh zat cair berupa energi kinetik,
sementara itu energi kinetik perlu diubah menjadi energi tekanan. Pengubahan ini terjadi
dalam rumah volute, yaitu suatu saluran yang mempunyai luas penampang lintang semakin

6
besar. Zat cair yang dilempar oleh impeller dialirkan lewat rumah volute, diperlambat
kecepatannya hingga tekanannya naik, kemudian dikeluarkan lewat discharge pompa.

Gambar 3. Diffuser pump


Sumber: http://www.modernhydraulics.net
Sedangkan pada diffuser pump, impelernya dikelilingi oleh diffuser yang berfungsi
untuk memperlambat kecepatan zat cair secara perlahan-lahan sehingga menjadi lebih
efisien jika dibandingkan dengan volute pump. Energi yang dihasilkan oleh gaya
sentrifugal adalah energi kinetik. Jumlah energi yang diberikan kepada cairan harus
sebanding dengan kecepatan yang dihasilkan oleh impeller. Impeller yang berputar pada
kecepatan tinggi akan menghasilkan energi yang besar pada fluida. Volute casing akan
menahan cairan sehingga aliran akan melambat, dan pada discharge nozzle kecepatan
cairan akan menurun. Di discharge nozzle inilah kecepatan akan diubah ke tekanan sesuai
dengan prinsip Be. Pada discharge nozzle, kecepatan liquid menurun dan kecepatannya
diubah ke tekanan sesuai dengan prinsip Bernoulli, dengan F = 0 saat aliran frictionless
dan akan bernilai positif untuk aliran real.

𝑃𝑃 𝑣𝑣 2 𝑑𝑑𝑑𝑑
∆ � + 𝑔𝑔 + � = − − 𝐹𝐹
𝜌𝜌 2 𝑑𝑑𝑑𝑑

Pada setiap titik didapat persamaan tangensial (𝜃𝜃 = 𝑟𝑟𝑟𝑟), angular velocity (ω)
adalah konstan di setiap titik pada impeller, dengan persamaan:

𝜔𝜔 = 2𝜋𝜋 𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟

Akan tetapi tangential velocity akan meningkat seiring dengan meningkatnya

7
radius, sehingga dapat disimpulkan bahwa tangential velocity berubah atau bertambah
besar dari pusat blade menuju ujung impellernya.

Dengan mengaplikasikan persamaan Bernoulli dari “tips blade” ke outlet, kembali


dengan mengabaikan perbedaan ketinggian, dan friksi. Perlu diperhatikan dalam hal ini
𝑑𝑑𝑑𝑑𝑎𝑎𝑎𝑎
pompa tidak lagi melakukan kerja pada fluida saat fluida
 meninggalkan ujung blade,
𝑑𝑑𝑑𝑑

sehingga bernilai 0, dan outlet velocity dalam hal ini harganya sangat kecil dan diabaikan
terhadap perubahan tekanan sehingga didapat persamaan Bernoulli:

𝑣𝑣2 2 𝑃𝑃3 − 𝑃𝑃2


=
2 𝜌𝜌

Persamaan di atas mengindikasikan bahwa bagian pompa mulai dari ujung blade
hingga outlet discharge memiliki prinsip mengubah energi kinetik menjadi tekanan yang
cukup besar (injection work).

4. Komponen-Komponen pada Pompa Sentrifugal

Secara umum, komponen pompa sentrifugal tersusun atas komponen berputar yang
terdiri dari poros dan impeller, serta komponen statis yang terdiri dari rumah pompa (casing),
penutup casing, dan bantalan (bearing).

Gambar 4. Komponen pada pompa sentrifugal


Sumber: http://www.oilandgasclub.com
1. Rumah pompa (Casing)

8
Casing merupakan komponen utama dari pompa sentrifugal dan didesain
berbentuk sebuah diffuser atau volute casing yang mengelilingi impeller pompa. Volute
casing berfungsi untuk menurunkan kecepatan aliran fluida yang masuk ke dalam
pompa. Desain volute casing pada sisi outlet pompa membentuk corong yang berfungsi
untuk menkonversikan energi tekanan yang membantu menyeimbangkan tekanan
hidrolik pada shaft pompa.

Gambar 5. Volute Casing


Sumber: http://www.paulbrimhall.com
2. Impeller

Gambar 6. Impeller pada pompa


Sumber: http://www.indiamart.com

Impeller merupakan bagian utama yang berputar dan sangat berpengaruh pada
pompa sentrifugal yang berfungsi untuk mentransfer energi dari putaran motor menuju
fluida yang dipompa dengan jalan mengakselerasinya dari tengah impeller ke luar sisi
impeller. Impeller yang dibutuhkan pada setiap pompa bergantung atas kebuthan
tekanan, kecepatan aliran, dan kesesuaian sistem pompa. Impeller mempunyai
beberapa tipe, yaitu:

• Open

9
• Semi-Open
• Closed: Single Suction and Double Suction
• Non-clogging
• Axial flow
• Mixed flow

3. Poros (Shaft)

Gambar 7. Shaft pompa


Sumber:http://www.globalpumps.in
Shaft berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari penggerak selama
beroperasi dan tempat tumpuan impeller dan bagian – bagian lainnya yang berputar.
Untuk mendapatkan pompa sentrifugal yang bekerja di titik efisiensi terbaiknya, gaya
bending poros harus secara sempurna terdistribusikan ke seluruh bagian impeller
pompa.
4. Bantalan (Bearing)

10
Gambar 8. Bearing yang digunakan pada pompa
Sumber: http://www.pumpsandsystems.com
Bearing berfungsi untuk menumpu atau menahan (constrain) beban dari poros
agar dapat berputar dan untuk memperlancar putaran poros dan menahan poros agar
tetap pada tempatnya, sehingga kerugian gesek dapat diperkecil. Pada pompa
sentrifugal, bearing yang digunakan berupa journal bearing yang berfungsi untuk
menahan gaya berat dan gaya-gaya yang searah dengan gaya berat tersebut serta thrust
bearing yang berfungsi untuk menahan gaya aksial yang pada poros pompa relative
terhadap stator pompa.
5. Kopling (Coupling)

11
Gambar 9. Kopling pada pompa sentrifugal
Sumber: http://www.ksb.com
Kopling berfungsi untuk menghubungkan dua shaft, dimana satu shaft
merupakan poros penggerak dan satu yang lainnya merupakan shaft yang digerakkan.
Jenis-jenis kopling yang digunakan pada pompa berupa rigid coupling, flexible
coupling, grid coupling, gear coupling, elastrometic coupling, dan disc coupling.
6. Packing & Seal
Packing pada pompa merupakan system yang digunakan untuk mengontrol
kebocoran fluida yang mungkin terjadi pada sisi perbatasan antara bagian pompa yang
berputar. Jika terjadi kebocoran pada pompa sentrifugal, pompa akan dilakukan sealing
menggunakan mechanical seal dan gland packing.

Gambar 10. Sistem mechanical seal


Sumber: http://www.flowserve.com

Gambar 11. Sistem gland seal

12
Sumber: http://usa.datwyler
7. Sistem Lubrikasi
Sistem lubrikasi pada pompa berfungsi untuk mengurangi koefisen gesek antara
dua permukaan yang bertemu sehingga mengurangi resiko keausan dan dapat berupa
lub oil atau greaster.

5. Parameter yang Mempengaruhi Kinerja Pompa Sentrifugal

Parameter yang mempengaruhi kinerja pompa sentrifugal adalah energi pompa (BHP),
energi fluida (FHP), efisiensi, head, kapasitas, dan kecepatan spesifik.

1. Fluid Horse Power (FHP)


Fluid Horse Power (FHP) merupakan energi yang diterima oleh fluida, dengan
persamaan:
𝐹𝐹𝐹𝐹𝐹𝐹 = 𝑚𝑚 × Δ𝐻𝐻
Dengan Δ𝐻𝐻 = total head pompa
2. Brake Horse Power (BHP)

BHP atau Brake Horse Power adalah tenaga yang dikembangkan oleh mesin di
Flywheel sebelum ditransmisikan melalui drive train. Sedangkan, WHP adalah Water
Horse Power atau daya hidraulik yang merupakan daya yang diteruskan dari pompa
menuju fluida. Kerja yang dihasilkan oleh pompa merupakan fungsi dari total head dan
berat cairan yang dipompa pada periode tertentu.

𝑄𝑄∗𝐻𝐻𝑇𝑇 ∗𝑠𝑠𝑠𝑠
𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊 = … (1)
3960

𝑄𝑄∗𝐻𝐻𝑇𝑇 ∗𝑠𝑠𝑠𝑠
𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵 = … (2)
3960∗ƞ

Dengan,

Ƞ = efisiensi pompa

Q = kapasitas (gpm)

HT = differensial head total (ft)

13
SG = specific gravity cairan

BHP yang merupakan input ke pompa akan lebih besar dari WHP (output) karena
hydraulic dan mechanical losses yang terjadi pada pompa.
3. Head Pump

Gambar 12. Head pada pompa


Sumber: http://www.me-mechanicalengineering.com
Head pompa digunakan untuk mengukur energi kinetik yang dihasilkan oleh
pompa. Ia merupakan pengukuran tinggi dari kolom cairan yang dapat dihasilkan pompa
dari energi kinetik yang diberikan pada cairan. Head mempunyai persamaan yaitu:
𝑃𝑃∗2.31
𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻 = … (3)
𝑠𝑠𝑠𝑠

Dengan head mempunyai satuan feet (ft), P sebagai tekanan (psi), dan sg sebagai
specific gravity cairan. Sementara, persamaan Bernoulli untuk head adalah sebagai berikut:

𝑣𝑣 2 𝑃𝑃 𝑣𝑣 2 𝑃𝑃
�𝑧𝑧 + + � + 𝐻𝐻 = �𝑧𝑧 + + � + ℎ𝑙𝑙 … (4)
2 𝛾𝛾 1 2 𝛾𝛾 2

𝑃𝑃 𝑃𝑃1 𝑣𝑣2 2 𝑣𝑣1 2


𝐻𝐻 = (𝑧𝑧2 − 𝑧𝑧1 ) + � 2 − �+� − � + ℎ𝑙𝑙 … (5)
𝛾𝛾 𝛾𝛾 2 2

𝐻𝐻 = ∆𝑧𝑧 + ∆ℎ𝑝𝑝 + ∆ℎ𝑣𝑣 + ∆ℎ𝑙𝑙 … (6)

𝐻𝐻 = 𝐻𝐻𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 + ∆ℎ𝑣𝑣 + ℎ𝑙𝑙,𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 + ℎ𝑙𝑙,𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 … (7)

∆𝑧𝑧 = perbedaan head permukaan cairan pada sisi keluar dengan sisi hisap
∆ℎ𝑝𝑝 = perbedaan head tekanan pada sisi keluar dengan sisi hisap
∆ℎ𝑣𝑣 = perbedaan head kecepatan pada sisi keluar dengan sisi hisap
𝐻𝐻 = jumlah head elevasi dengan head tekanan
ℎ𝑙𝑙 = jumlah head loss major dan head loss minor

14
4. Head Kerugian (Head Loss)
Head loss merupakan energi untuk mengatasi kerugian-kerugian yang terdiri atas
kerugian gesek di dalam pipa-pipa, dan kerugian di dalam belokan-belokan,
sambungan (fittings), katup-katup, dan sebagainya. Persamaan head loss (hl):
ℎ𝑙𝑙 = ℎ𝑙𝑙,𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 + ℎ𝑙𝑙,𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 … (8)

5. Head Kerugian Minor (Minor head loss)


Head kerugian minor adalah saat dimana tekanan hilang akibat gesekan yang terjadi
pada komponen-komponen sistem pipa. Persamaan head kerugian minor:
𝑣𝑣 2
ℎ𝑙𝑙,𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 = 𝐾𝐾 … (9)
𝑔𝑔

Dengan:
𝐾𝐾 = koefisien kerugian minor
𝑔𝑔 = percepatan gravitasi (𝑚𝑚/𝑠𝑠 2 )
𝑣𝑣 = kecepatan rata-rata aliran fluida dalam pipa (𝑚𝑚/𝑠𝑠)

6. Head Kerugian Mayor (Major head loss)


Pada head kerugian mayor, tekanan hilang akibat gesekan aliran fluida pada system
aliran penampang pipa yang konstan. Perhitungan kerugian gesek di dalam pipa
dipengaruhi oleh pola aliran, dimana pola aliran laminar (Re < 2000) dan turbulen
(Re > 2000) akan menghasilkan faktor gesekan yang berbeda. Persamaan head
kerugian mayor:
𝑙𝑙𝑣𝑣 2
ℎ𝑙𝑙,𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 = 𝑓𝑓 … (10)
𝐷𝐷 2𝑔𝑔

Dengan:
𝑓𝑓 = faktor gesekan
𝑔𝑔 = percepatan gravitasi (𝑚𝑚/𝑠𝑠 2 )
𝑙𝑙 = panjang pipa (𝑚𝑚)
𝑣𝑣 = kecepatan rata-rata aliran fluida dalam pipa (𝑚𝑚/𝑠𝑠)
𝐷𝐷 = diameter dalam pipa (𝑚𝑚)
Apabila aliran laminar, faktor gesekan dapat dicari dengan rumus:

15
64
𝑓𝑓 = … (10)
𝑅𝑅𝑅𝑅

Sedangkan, apabila aliran turbulen maka faktor gesekan dapat dicari dengan rumus:
16
𝑓𝑓 = … (11)
𝑅𝑅𝑅𝑅

7. Kapasitas
Kapasitas merupakan laju alir dimana cairan digerakkan atau didorong oleh pompa
sehingga mencapai titik yang diinginkan pada prosesnya. Kapasitas diukur dalam
satuan galloons per minute (gpm) atau meter cubic per hour (m3/hr). Persamaan
kapasitas:
Q = 449 x V x A … (12)
Dengan:
Q = kapasitas (gpm)
V = kecepatan cairan (ft/sec)
A = luas pipa (ft2)

8. Net Positive Suction Head (NPSH)

Gambar 13. Net Positive Suction Head


Sumber: http://www.engineeringtoolbox.com

NPSH adalah kebutuhan minimum pompa untuk bekerja secara normal dan
dibutuhkan untuk mencegah kavitasi, dimana kavitasi merupakan gejala
menguapnya zat cair yang sedang mengalir (membentuk buih atau gelembung uap)
akibat tekanannya turun sampai dibawah tekanan uap jenuhnya. Saat bergerak di

16
sepanjang impeller, kenaikan tekanan akan menyebabkan gelembung uap pecah
dan menumbuk permukaan pompa. Jika permukaan saluran/pipa terkena tumbukan
gelembung uap tersebut secara terus menerus dalam jangka lama akan
mengakibatkan terbentuknya lubang-lubang pada dinding saluran atau sering
disebut erosi kavitasi. Kavitasi menyebabkan suara berisik, getaran dan turunnya
performansi pompa. Oleh karena itu, NPSH yang tersedia (NPSH available,
NPSHA) dibutuhkan untuk memberikan tekanan lebih dari cairan diatas tekanan
uapnya saat tiba di suction agar pompa tidak mengalami kavitasi. NPSHA harus
lebih besar daripada NPSHR (NPSH required) agar pompa dapat beroperasi dengan
benar. Persamaan NPSHA:

𝑃𝑃𝑎𝑎 −𝑃𝑃𝑣𝑣
𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝐴𝐴 = − ℎ𝑠𝑠 − ℎ𝑙𝑙𝑙𝑙 … (13)
𝛾𝛾

𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝐴𝐴 = NPSH available (m)


𝑃𝑃𝑎𝑎 = tekanan pada permukaan cairan (kPa)
𝑃𝑃𝑣𝑣 = tekanan uap jenuh (kPa)
𝛾𝛾 = berat jenis zat cair (kg/m3)
ℎ𝑠𝑠 = head statis (m)
ℎ𝑙𝑙𝑙𝑙 = kerugian head dalam pipa isap (m)

6. Kavitasi
Kavitasi merupakan fenomena perubahan fase uap dari zat cair yang sedang
mengalir, karena tekanannyaberkurang hingga dibawah tekanan uap jenuhnya. Hal ini
terjadi karena tekanan dibagian suction lebih kecil atau hanya sedikit lebih besar dari
tekanan uap fluida yang dipompa. Kavitasi akan menurunkan kapasitas pompa, erosi, dan
suara berisik akibat tumbukan antar gelembung gas yang merusak pompa maupun
perpiaan. Apabila tekanan suction berada jauh di bawah tekanan uap fluida maka pompa
tidak bisa berfungsi lagi karena hanya gas yang masuk kedalam pompa. Secara umum,
terdapat beberapa macam tipe kavitasi pompa sentrifugal berdasarkan penyebabnya, yaitu:
1. Suction cavitation (kavitasi pada suction)

Suction cavitation terjadi akibat kekurangan NPSHA, dimana seharusnya jumlah


NPSHA minimal harus sama atau lebih besar dari NPSHR untuk menghindari suction

17
cavitation. Perbedaan yang besar antara NPSHA dengan NPSHR dapat menyebabkan
resiko kerusakan pada pompa terutama pada air yang relatif dingin (kurang dari 150 ºF).

2. Recirculation cavitation

Recirculation cavitation diakibatkan oleh laju aliran yang rendah pada pompa. Ada
dua tipe dari recirculation cavitation yaitu suction side (terjadi di suction) dan discharge
side (terjadi di discharge).

• Suction recirculation cavitation

Jika fluida yang memasuki nozzle suction pompa alirannya terbalik maka akan
menghasilkan vortex dengan kecepatan tinggi baik di mata impeller (impeller eye) maupun
daerah di dekatnya, di nozzle suction, atau di pipa yang dekat dengan nozzle suction.
Kecepatan aliran yang tinggi akan menghasilkan tekanan lokal yang rendah, tekanan lokal
tersebut bisa turun sampai di bawah tekanan uap-nya sehingga akan terjadi kavitasi. Tanda-
tanda terjadinya suction recirculation adalah terdapat kerusakan kavitasi di daerah pressure
side dari inlet vanes atau dekat impeller eye.

• Discharge recirculation cavitation

Fluida yang meninggalkan sisi discharge impeller atau nozzle discharge pompa
pada flow rate (laju aliran) yang rendah kemungkinan bisa saja berbalik arah, sehingga
menghasilkan vortex (pusaran) berkecepatan tinggi antara dua arah aliran sehingga
menyebabkan area bertekanan rendah. Tekanan dapat turun sampai di bawah tekanan uap
(vapor pressure) fluida sehingga dapat menyebabkan kavitasi. Kerusakan akibat
recirculation cavitation terjadi pada daerah discharge dari batas luar impeller, cutwater,
bagian dalam nozzle discharge, atau pada pipa dekat nozzle discharge.

3. Vane Passing Syndrome Cavitation

Vane Passing Syndrome Cavitation terjadi ketika clearance antara ujung impeller
dengan cutwater (bagian ujung impeller yang berbentuk wedge-shape) terlalu kecil,
sehingga menyebabkan turbulensi. Kerusakan akibat Vane Passing Syndrome Cavitation

18
dapat diamati pada bagian center dari cutwater, ujung blade impeller, discharge pelindung
ujung impeller, dan casing pompa bagian downstream teapt dibelakang cutwater.

19
BAB II. Percobaan

I. Alat dan Bahan


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, alat dan bahan yang dibutuhkan adalah
sebagai berikut:

Alat:

1. 1 Set pompa sentrifugal


Pompa sentrifugal berfungsi untuk memperbesar energi fluida melalui gaya sentrifugal dan
bekerja secara mengubah energi mekanik dalam bentuk kerja poros menjadi energi fluida.
Energi inilah yang mengakibatkan pertambahan head tekanan, head kecepatan, dan head
potensial pada fluida yang mengalir kontinyu.
2. Tangki
Tangki berfungsi untuk mewadahi air (sebagai penampung air) yang akan dialirkan ke
pompa dan wadah kembalinya air dari pompa.
3. Alat pengukur tekanan
Pada percobaan pompa sentrifugal, alat pengukur tekanan yang digunakan adalah jenis
gauge pressure. Hasil pengukuran gauge pressure relative terhadap atmosfir. Terdapat 2
perubahan tekanan yang diukur, yaitu tekanan pada discharge nozzle dan pada suction
nozzle dengan satuan inch/H2O tangki.
4. Flowmeter
Flowmeter merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui adanya suatu aliran material
dalam suatu jalur aliran, dengan segala aspek aliran itu sendiri yaitu kecepatan aliran atau
flowrate dan total massa atau volume material yang mengalir dalam waktu tertentu.
5. Stroboscope
Stroboskop merupakan alat yang digunakan untuk menentukan frekuensi dari gerakan
suatu objek. Untuk objek yang bergerak secara bergetar dan berayun, stroboskop berfungsi
dalam membekukan gerakan onjek tersebut dengan kawalan frekuensi stroboskop yang
tertentu. Dalam percobaan ini stroboskop digunakan untuk membantu praktikan dalam
menentukan nilai torsi dari pompa sentrifugal. Dengan mengatur frekuensi stroboskop dan
menyamakan dengan frekuensi dari rpm pompa maka praktikan dapat melihat nilai torsi

20
dari proses tersebut. Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah fluida air.
Air digunakan karena jumlahnya yang relatif banyak sehingga memudahkan praktikan
dalam melakukan percobaan.

Bahan:

1. Air

II. Variable Praktikum


Pada praktikum pompa sentrifugal, terdapat variable tetap dan variable bebas pada
percobaan pertama dan percobaan kedua. Variable tetap merupakan faktor-faktor yang diukur,
diteliti, dan diamati (dependent variable) untuk menentukan adanya penguruh variable bebas,
sedangkan variable bebas merupakan faktor-faktor yang menyebabkan fenomena yang
diobservasi atau diamati (independent variable).

Percobaan 1

Variable Bebas: debit aliran (Q, gpm)

Variable Tetap: putaran (ω, rpm)

Percobaan 2

Variable Bebas: putaran (ω, rpm)

Variable Tetap: debit aliran (Q, gpm)

III. Prosedur Percobaan


A. Menentukan hubungan RPM, flowrate, dan ΔP dengan variasi putaran
kecepatan motor

1. Menvariasikan putaran dari 1100, 1200, 1300, 1400, 1500 rpm dengan laju alir pada
masing-masing tiap putaran sebagai berikut 4, 6, 8, 10 L/s;

2. Mencatat data P1 dan P2 yang terukur pada manometer;

21
3. Membaca nilai torsi dengan menggunakan stroboscope;

4. Mentabelkan data-data dan memplot dalam satu grafik ΔP terhadap laju alir pada
beberapa rpm.

B. Menentukan hubungan RPM, flowrate, dan ΔP dengan variasi debit aliran

1. Menvariasikan laju alir dari 8, 10, 12 L/s dengan laju alir pada masing-masing tiap
laju alir sebagai berikut 1100, 1200, 1300, 1400, 1500 rpm;

2. Mencatat data P1 dan P2 yang terukur pada manometer;

3. Membaca nilai torsi dengan menggunakan stroboscope;

4. Mentabelkan data-data dan memplot dalam satu grafik ΔP terhadap laju alir pada
beberapa rpm.

22
BAB III. Pengolahan Data dan Analisis

I. Data Percobaan
Percobaan 1 : Variasi Q pada RPM Tetap
Tabel 1. Pengamatan saat Q divariasikan pada RPM Tetap

Q RPM Torsi P1 pada suction P2 pada discharge


(gpm) (lbf-in) nozzle (in H2O) nozzle (in H2O)
4 6.7 0 50
6 9.7 -1 52
1100
8 11.9 -4 47.5
10 12 -7 41.5
4 5.7 -1 75.5
6 5.9 -2 70
1200
8 6.3 -4 60
10 8.5 -7 56.5
4 7.2 -1 86.5
6 10.7 -2 95.5
1300
8 10.8 -4 69.5
10 6.2 -7 64.5
4 5.1 -1 101.5
6 6.1 -2 104.5
1400
8 6.2 -5 82.5
10 10.6 -8 73
4 4.1 -1 117
6 3.2 -2 114
1500
8 8.2 -5 105
10 12.8 -8 98

Percobaan 2 : Variasi RPM pada Q Tetap


Tabel 2. Pengamatan saat RPM divariasikan pada Q Tetap

23
Q RPM Torsi P1 (in P2 (in
(gpm) (lbf-in) H2O) H2O)
1100 6.3 -4 51.5
1200 7.4 -4 62.5

8 1300 12.9 -4 76.5


1400 8.4 -4 89.5
1500 11.5 -4 98
1100 8.5 -8 40
1200 7.4 -8 57.5

10 1300 9.6 -8 65.3


1400 14 -8 87
1500 15.1 -8 97.5
1100 11.7 -11 41
1200 12.8 -11 50.5

12 1300 13.2 -11 63


1400 14.8 -11 78.3
1500 16.3 -11 93.3

II. Pengolahan Data


• Konversi satuan
1) in H2O menjadi ft H2O : 0.0833
2) ft H2O menjadi ft Head : 1
• Rumus-rumus yang digunakan :
3.1.Menentukan BHP :

2𝜋𝜋 × 𝜏𝜏(𝑙𝑙𝑙𝑙. 𝑖𝑖𝑖𝑖) × 𝜔𝜔(𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟)


𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵 =
𝑖𝑖𝑖𝑖 𝑓𝑓𝑓𝑓. 𝑙𝑙𝑙𝑙
12 � � × 33000 � �
𝑓𝑓𝑓𝑓 ℎ

3.2.Menentukan FHP :

24
𝑄𝑄(𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔) × ∆𝑃𝑃(𝑓𝑓𝑓𝑓 𝐻𝐻2 𝑂𝑂) × 1ℎ𝑝𝑝
𝐹𝐹𝐹𝐹𝐹𝐹 =
3960(𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔)(𝑓𝑓𝑓𝑓 𝐻𝐻2 𝑂𝑂)

3.3.Menentukan efisiensi :

𝐹𝐹𝐹𝐹𝐹𝐹
𝜂𝜂 = × 100%
𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵

A. Percobaan I

Tabel 1. Hasil Percobaan Variasi Q pada 𝝎𝝎 Tetap

B. Percobaan II

Tabel 4. Hasil Percobaan Variasi 𝝎𝝎 pada Q Tetap

25
III. Grafik Hubungan Parameter
A. Percobaan I
• Hubungan antara Perubahan Laju Alir terhadap Torsi Pompa

14

12

10

8
Torsi

0
0 2 4 6 8 10 12
Q

1100 rpm 1200 rpm 1300 rpm 1400 rpm 1500 rpm

Grafik 1. Hubungan antara Q dan Torsi

• Hubungan antara peningkatan RPM terhadap Rata-rata BHP

RPM vs BHP Rata-Rata


0.2
0.18
0.16
0.14
0.12
BHP av

0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600
RPM

Grafik 2. Hubungan antara ω dan BHP Rata-rata

26
• Hubungan antara Peningkatan Laju Alir terhadap Efisiensi Pompa

0.25

0.2

0.15 1100 rpm


Efisiensi

1200 rpm
0.1 1300 rpm
1400 rpm
0.05 1500 rpm

0
0 2 4 6 8 10 12
Q

Grafik 3. Hubungan antara Q dan ŋ

B. Percobaan II
• Hubungan antara Penurunan Tekanan terhadap RPM

10
9
8
Perubahan Tekanan

7
6
5 8 gpm
4 10 gpm
3 12 gpm
2
1
0
0 500 1000 1500 2000
RPM

Grafik 4. Hubungan antara ω dan ΔP

• Hubungan antara Perubahan Tekanan terhadap BHP

27
0.45
0.4
0.35
0.3
BHP 0.25
8 gpm
0.2
10 gpm
0.15
12 gpm
0.1
0.05
0
0 2 4 6 8 10
Delta P

Grafik 5. Hubungan antara ΔP dan BHP


• Hubungan antara Efisiensi terhadap BHP

0.12

0.1

0.08
Efisiensi

0.06 8 gpm
10 gpm
0.04
12 gpm

0.02

0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
BHP

Grafik 6. Hubungan antara BHP dan Efisiensi

28
IV. Analisis
A. Analisis Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah mengetahui parameter-parameter perancangan


dan pengoperasian pompa sehingga kita dapat memperhitungkan pengoperasian pompa
yang optimum, baik dari segi penggunaan energi maupun segi keamanan. Parameter-
parameter tersebut adalah energi pompa (BHP), efisiensi (η), maupun head.
Pompa yang digunakan dalam percobaan adalah pompa sentrifugal. Fungsi dari
pompa ini adalah mengkonversi energi dari suatu penggerak utama (motor atau turbin)
yang pertama-tama diubah menjadi kecepatan atau energi kinetik dan kemudian menjadi
energi tekanan sebuah fluida yang dipompa.
Untuk menjaga kualitas pompa, praktikan diharuskan menyalakan pompa sesuai
petunjuk yang ada di modul. Dalam pelaksanaanya dibimbing oleh asisten. Percobaan
pertama yang dilakukan adalah variasi Q pada RPM tetap. Variasi yang dilakukan oleh
praktikan adalah nilai RPM dari 1000 – 1400 dengan interval 100 dan untuk nilai Q 10-
14 dengan interval 1, sehingga didapatkan 25 data untuk percobaan pertama ini.
Selanjutnya, untuk percobaan kedua yang dilakukan adalah variasi RPM pada Q tetap.
Variasi yang dilakukan adalah nilai Q 10-14 dengan interval 1 dan variasi nilai RPM dari
1000-1400 dengan interval 100.
Data yang perlu dicatat adalah P1, P2, torsi dan frekuensi pada stroboscope. Hal-
hal yang harus diperhatikan dalam percobaan adalah:
 Perubahan nilai P1 dimana pada awalnya P1 = 0 atau P suction = P atmosfir,
diharapkan P1 tidak melebihi 0 karena secara teoritis, air tidak dapat mengalir,
dan perlakuan secara terus menerus akan menyebabkan kerusakan alat.
 Penggunaan stroboscope harus dilakukan sampai putaran (torsi) dapat dibaca. Bila
putaran masih sangat kencang, frekuensi stroboscope diatur secara cepat, dan bila
putaran mulai melambat, pengaturan frekuensi stroboscope pun harus diatur
secara perlahan, sehingga putaran seakan-akan berhenti dan torsi dapat dibaca.
 Untuk percobaan variasi RPM pada Q tetap, ketika variasi RPM dilakukan, nilai
Q akan berubah sehingga harus diperhatikan / disesuaikan kembali sesuai nilai Q
yang ditetapkan.
Pada saat percobaan, neddle valve mengalami kebocoran sehingga lama-kelamaan

29
air terakumulasi di bawah alat. Hal ini tentunya mempengaruhi kinerja dari pompa
sentrifugal, yang selanjutnya akan dibahas pada analisis kesalahan.

B. Analisis Grafik dan Perhitungan

Parameter –parameter dalam pompa sentrifugal adalah kapasitas (Q), head, BHP
(Brake Horse Power), BEP (Best Efficiency Point) dan kecepatan spesifik. Parameter-
parameter ini bisa divariasikan untuk mendapatkan kerja pompa yang memuaskan. Pada
percobaan yang kita lakukan parameter kunci yang divariasikan adalah Q, head, dan BHP.
Kapasitas (Q) berarti laju alir dimana liquid bergerak atau didorong oleh pompa ke
titik tertentu yang diinginkan dalam proses. Satuan yang kita gunakan gallons per minute
(gpm) atau kubik meter per jam (m3/hr). Q berubah seiring dengan perubahan proses dalam
operasi yang dipengaruhi oleh:
• Karakteristik liquid proses (misal : densitas, viskositas)
• Ukuran pompa, seksi inlet dan outlet
• Ukuran impeller
• Kecepatan rotasi impeller (RPM)
• Ukuran dan bentuk rongga diantara baling-baling
• Pump suction, suhu discharge, dan kondisi tekanan

4.2.1 Percobaan 1

• Hubungan antara Perubahan Laju Alir (Q) terhadap Torsi (𝝉𝝉) Pompa
Dari data percobaan 1, yang menghasilkan perbandingan antara nilai laju alir (Q)
yang merupakan variabel bebas dari percobaan dengan nilai torsi yang dihasilkan melalui
pembacaan, memperlihatkan nilai perbandingan yang berbanding lurus. Dimana, semakin
besar nilai Q (laju alir) pada tiap RPM yang tetap, maka didapat nilai torsi yang semakin
besar juga. Sehingga, pada grafik antara perubahan laju alir (Q) terhadap nilai dari torsi
pompa dapat terlihat bahwa torsi berbanding lurus dengan laju alir. Hubungan ini dapat
dilihat dengan menggunakan persamaan
𝑄𝑄(𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔)∆𝐻𝐻(𝑓𝑓𝑓𝑓𝐻𝐻2 𝑂𝑂)104
η=
2𝜋𝜋 𝜏𝜏(𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙. 𝑖𝑖𝑖𝑖)𝜔𝜔(𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟)

30
Dimana:
𝑄𝑄 = Laju Alir (𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔)
𝜏𝜏 = Torsi (𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙. 𝑖𝑖𝑖𝑖)

Untuk mendapatkan nilai head (∆𝐻𝐻(𝑓𝑓𝑓𝑓𝐻𝐻2 𝑂𝑂)) yang diinginkan atau akan di set
konstan, saat laju alirnya ditingkatkan maka energi pompa (BHP) akan semakin besar juga.
Sehingga putaran impeller pompa juga harus semakin besar. Hal tersebut berakibat pada
torsi yang harus meningkat juga. Karena torsi merupakan suatu kemampuan mesin untuk
memutar atau menggerakan motor (Impeller pada pompa). Oleh Karena itu, dapat
dipastikan bahwa data percobaan berupa perbandingan yang lurus antara nilai laju alir (Q)
dengan torsi (𝜏𝜏) sesuai dengan teori beserta rumus diatas dan sesuai dengan grafik 1 pada
percobaan 1 yaitu menghasilkan grafik yang memiliki bentuk linear keatas antara nilai laju
alir (Q) dengan torsi (𝜏𝜏).

• Hubungan antara Peningkatan RPM terhadap Nilai Rata-rata BHP


Pada grafik 2 dari percobaan 1 berupa hubungan antara peningkatan RPM terhadap
nilai rata-rata BHP memperlihatkan bahwa semakin meningkat putaran dari impeller
(RPM) maka akan semakin meningkat juga BHP (Energi per satuan waktu dan daya yang
diberikan impeller pompa ke fluida) yang dihasilkan. Hal tersebut sesuai dengan teori
perhitungan dari persamaan dibawah ini, yang memperlihatkan hubungan yang berbanding
lurus antara nilai BHP akan berbanding lurus dengan putaran impeller (𝜔𝜔). Dikarenakan
apabila nilai putaran impeller ditingkatkan (nilai RPM meningkat) maka akan
meningkatkan pula nilai BHP pada sisi sebelah kiri sama dengan pada persamaan dibawah
ini.
𝜏𝜏(𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙. 𝑖𝑖𝑖𝑖)𝜔𝜔(𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟)
𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵 = 2𝜋𝜋
𝑖𝑖𝑖𝑖 𝑓𝑓𝑓𝑓. 𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙
12 � � 33000 � �
𝑓𝑓𝑓𝑓 ℎ𝑝𝑝
Dimana:
𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵 = Brake Horse Power (Energi per satuan waktu dan daya yang diberikan impeller
pompa ke fluida)
𝜔𝜔 = Putaran dari impeller (RPM)

31
• Hubungan antara Peningkatan Laju Alir (Q) terhadap Efisiensi Pompa (𝜼𝜼)
Pada grafik 3 dari percobaan 1 berupa hubungan antara peningkatan laju alir
terhadap efisiensi pompa terlihat bahwa dengan diberikan variasi melalui peningkatan laju
alir, maka efisiensi kerja pompa akan relatif semakin meningkat secara linear. Tetapi, pada
beberapa titik akan mengalami sedikit penurunan efisiensinya kemudian akan naik lagi
seiring dengan kenaikan laju alir.
Lalu, apabila kita analisis lebih lanjut mengenai penurunan efisiensi pada satu titik
tersebut dapat disebabkan karena penurunan nilai head pompa. Pada saat efisisensi dari
pompa menurun tetapi laju alirnya meningkat disebabkan karena terjadinya penurunan
delta P. Dengan penurunan nilai delta P, setalah kita analisis pada titik tersebut juga terjadi
penurunan nilai dari head pompa. Hal tersebut sesuai dengan persamaan dibawah ini yang
memperlihatkan apabila delta P turun maka nilai head pompa juga akan turun Karena
keduanya berbanding lurus. Persamaan tersebut dapat dilihat sebgai berikut:

∆P (ft. H2O)
HT = ∆𝐻𝐻 =
ρ. Sp. Gr
Dimana:
HT = ∆𝐻𝐻 = Head Pompa
∆P = Perubahan Tekanan
Lalu, apabila kita amati pada grafik 3 percobaan 1 diatas, terjadi peningkatan secara
linear antara peningkatan laju alir (Q) terhadap efisiensi dari pompa (η). Hal tersebut sesuai
dengan teori yang tertera mengenai hubungan antara laju alir terhadap efisiensi pada
persamaan dibawah ini. Dimana saat laju alir (Q) dinaikkan maka akan menyebabkan nilai
efisiensi (η) juga akan mengalami peningkatan dikarenakan antara Q dan η memiliki
perbandingan yang lurus. Hubungan ini dapat dilihat pada persamaan berikut:

𝑄𝑄(𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔)∆𝐻𝐻(𝑓𝑓𝑓𝑓𝐻𝐻2 𝑂𝑂)104
η=
2𝜋𝜋𝜋𝜋(𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙𝑙. 𝑖𝑖𝑖𝑖)𝜔𝜔(𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟)
Dimana:
𝑄𝑄 = Laju Alir (𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔)

32
η = Efisiensi Pompa(%)

4.2.2 Percobaan 2

• Hubungan antara Perubahan Tekanan dengan Nilai Putaran Impeller (RPM)


Berdasarkan grafik yang telah dibuat pada bab III, dapat dilihat bahwa semakin
besar nilai Q, nilai perubahan tekanannya (ΔP) pun semakin besar. Selain itu juga dapat
dilihat pada nilai Q yang tetap, nilai perubahan tekanan memiliki kecenderungan untuk
bertambah besar saat nilai putaran impeller (RPM) dinaikkan. Berdasarkan persamaan
bernoulli, semakin besar nilai putaran impeller pompa, akan semakin besar juga energi
kinetik yang diberikan pada cairan. Dimana, persamaan bernoulli adalah sebagai berikut:
𝑃𝑃 𝑣𝑣 2 𝑑𝑑𝑑𝑑
∆ � + 𝑔𝑔𝑔𝑔 + � = − − 𝐹𝐹
𝜌𝜌 2 𝑑𝑑𝑑𝑑
Adapun nilai energi kinetik yang terjadi karena putaran impeller tersebut akan
diubah menjadi energi tekanan melalui konversi energi. Dimana energi tekanan tersebut
berbentuk perubahan tekanan yang terjadi antara masukan dan keluaran pompa. Jadi,
semakin besar nilai putaran impeller, akan semakin besar juga perubahan tekanannya. Data
yang telah diolah sesuai dengan teori tersebut.

• Hubungan antara Perubahan Tekanan dengan BHP


Berdasarkan grafik yang telah dibuat, dapat dilihat pada nilai Q tetap, nilai
perubahan tekanan (ΔP) bertambah seiring dengan kenaikan nilai BHP. BHP atau brake
horse power adalah energi yang diberikan shaft kepada impeller pompa. Dimana nilai BHP
tersebut sama dengan besarnya torsi dikalikan dengan kecepatan sudut (nilai putaran
impeller dalam RPM). Sehingga, BHP berbanding lurus dengan nilai putaran
impeller/kecepatan sudut. Semakin cepat putaran impeller, akan semakin besar nilai BHP.
Dimana semakin cepat putaran impeller, akan semakin besar juga nilai perubahan tekanan
yang didapat. Sehingga, semakin besar BHP, nilai perubahan tekanan yang terjadi juga
akan semakin besar.

33
• Hubungan antara Efisiensi dengan BHP
Berdasarkan grafik yang telah dibuat pada bab sebelumnya, terlihat bahwa nilai
efisiensi yang didapatkan cukup fluktuatif, atau naik-turun. Saat nilai Q bertambah, nilai
efisiensi juga cenderung untuk bertambah. Dimana nilai efiseinsi terbesar didapatkan saat
Q bernilai terbesar juga, yaitu pada 16 gpm. Selanjutnya, pada nilai Q tetap, semakin besar
nilai BHP, nilai efisiensinya cenderung untuk naik. Walaupun terdapat data dimana nilai
efisiensi turun dengan bertambahnya nilai BHP. Adapun rumus efisiensi adalah sebagai
berikut:
𝐹𝐹𝐹𝐹𝐹𝐹
𝜂𝜂 = 𝑥𝑥 100%
𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵

Dimana berdasarkan rumus matematis tersebut, nilai efisiensi dan BHP berbanding
terbalik. Sehingga pada saat nilai FHP tetap/konstan, nilai efisiensi akan turun dengan
bertambahnya nilai BHP. Namun, pada percobaan ini nilai FHP tidak konstan, sehingga
hubungan antara efisiensi dan BHP tidak dapat ditentukan berdasarkan hubungan
matematis tersebut, karena dipengaruhi juga oleh nilai FHP.

C. Analisis Kesalahan
Pada percobaan ini terdapat beberapa kesalahan yang terjadi, seperti nilai efisiensi pompa
yang didapatkan sangat kecil. Adapun kesalahan tersebut disebabkan oleh faktor human
error dan kesalahan paralaks. Pada saat praktikum, praktikan mengalami kesulitan saat
melakukan pembacaan torsi pompa di torsimeter karena putaran rotor yang tidak dapat
berhenti cukup lama, walaupun praktikan telah dibantu oleh tachometer. Selanjutnya, nilai
laju alir, kecepatan sudut, dan tekanan seringkali berubah karena lamanya waktu yang
digunakan praktikan saat membaca torsi. Pergeseran nilai-nilai tersebut mengakibatkan
data yang diambil oleh praktikan menjadi kurang teliti/akurat. Kesalahan juga terjadi
karena praktikan kurang teliti saat membaca skala pressure gauge sehingga nilai tekanan
yang didapatkan juga menjadi kurang akurat.

34
BAB IV. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan:

1. Parameter yang berpengaruh terhadap kerja pompa sentrifugal adalah energi pompa (BHP),
energi fluida (FHP), efisiensi, dan head atau penurunan tekanan.
2. Hubungan laju alir dengan torsi berbanding lurus, yaitu semakin meningkat laju alir (Q)
maka semakin meningkat juga torsi (𝜏𝜏) yang bekerja pada pompa.
3. Hubungan antara peningkatan RPM terhadap nilai rata-rata BHP memperlihatkan bahwa
semakin meningkat putaran dari impeller (RPM) maka akan semakin meningkat juga BHP
(Energi per satuan waktu dan daya yang diberikan impeller pompa ke fluida) yang
dihasilkan.
4. Hubungan laju alir dengan efisiensi pompa berbanding lurus, yaitu semakin meningkat
nilai laju alir (Q) yang diberikan maka akan meningkatkan efisiensi (η) pompa.
5. Hubungan antara nilai perubahan tekanan dengan nilai putaran impeller (RPM) berbanding
lurus, nilai perubahan tekanan akan semakin besar dengan bertambahnya nilai putaran
impeller.
6. Hubungan antara nilai perubahan tekanan dengan BHP berbanding lurus, dimana nilai
perubahan tekanan semakin besar saat nilai BHP semakin besar pula.
7. Efisiensi tidak hanya dipengaruhi oleh nilai BHP saja, melainkan dipengaruhi oleh nilai
FHP dan BHP.

35
Daftar Pustaka

Anonim. 1989. Petunjuk Praktikum Proses & Operasi Teknik I. Depok: Departemen Teknik Gas &
Petrokimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

McCabe, Warren L. 1985. Unit Operation of Chemical Engineering. New York: McGraw Hill.

Anonim. 2018. What is a Centrifugal Pump. [ONLINE] https://www.introtopumps.com/pumps-101/what-


is-a-centrifugal-pump/. Diakses pada 6 Oktober 2018.

Sahdev, Mukesh. 2015. Centrifugal Pumps: Basics Concepts of Operation, Maintenance, and
Troubleshooting, Part I.

Glover, Travis F. 1975. Understanding NPSH for Pumps. Technical Publishing Co.

36

Anda mungkin juga menyukai