Anda di halaman 1dari 93

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir

Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan


Kementerian Kelautan dan Perikanan

ISSN 1907-0659

KUALITAS AIR YANG MENDUKUNG POTENSI


BUDIDAYA DI PERAIRAN PESISIR PULAU PARI: ASPEK
MIKROBIOLOGI
Lies Indah Sutiknowati

VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-A DI PERAIRAN


SELAT MAKASSAR: PENDEKATAN WAVELET
Sri Suryo Sukoraharjo

ANALISIS MORFOSTRUKTUR DAN TOMOGRAFI


UNTUK IDENTIFIKASI KETERDAPATAN AKTIVITAS
HIDROTERMAL BAWAH LAUT DI KAWASAN PERAIRAN
Gambaran struktur selubung bumi bagian atas HALMAHERA
Eko Triarso, Haryadi Permana, Rainer Arief Troa & Joko
untuk lintasan bagian tengah Busur Sangihe-
Prihantono
Busur Halmahera berdasarkan citra tomografi
kecepatan gelombang P (Vp).
PENILAIAN KERENTANAN PESISIR SEMARANG
TERHADAP KENAIKAN MUKA AIR LAUT DENGAN
MENGGUNAKAN INDEKS KERENTANAN KOMPOSIT
Ifan Ridlo Suhelmi

PEMETAAN INDEKS KERENTANAN PESISIR TERHADAP


PERUBAHAN IKLIM DI SUMATERA BARAT DAN
SEKITARNYA
Muhammad Ramdhan, Semeidi Husrin, Nasir Sudirman & Try
Altanto

MORFOLOGI DASAR LAUT DAN KETEBALAN SEDIMEN


PERMUKAAN PERAIRAN KALIMANTAN SELATAN
M. Hasanudin

ANALISIS PENENTUAN ZONA LABUH JANGKAR UNTUK


TAMAN WISATA PERAIRAN PULAU PIEH, SUMATERA
BARAT
Semeidi Husrin

VARIASI DIURNAL SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL)


MELALUI PENGAMATAN RAMA MOORING DI SAMUDERA
HINDIA
Tukul Rameyo Adi, Bangun Mulyo S, Indroyono Soesilo,
Teguh Hariyanto, Sugiarta Wirasantosa, Salvienty Makarim &
Weidong Yu

Jakarta ISSN
J. Segara Volume 8 Nomor 2 Hal. 65 - 150 1907-0659
Desember 2012
ISSN 1907-0659

VOLUME 8 NO.2 DESEMBER 2012


Nomor Akreditasi: 319/AU1/P2MBI/10/2010
(Periode Oktober 2010 - Oktober 2013)

Jurnal SEGARA adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang
perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan
sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan. Naskah yang dimuat dalam jurnal ini terutama
berasal dari hasil penelitian maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan kelautan Indonesia, yang dilakukan oleh
para peneliti, akademisi, mahasiswa, maupun pemerhati permasalahan kelautan baik dari dalam dan luar negeri. Terbit
pertama kali tahun 2005 dengan frekuensi terbit dua kali dalam satu tahun.

Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab


Dr. Budi Sulistiyo
Pemimpin Pengelola Redaktur
Prof. Dr. Ngurah N. Wiadnyana

Dewan Editor
Prof. Dr. Wahyoe S. Hantoro Prof. Dr. Ir. Bangun Mulyo Sukojo, DEA, DESS
Dr. Sugiarta Wirasantosa Dr. Irsan S. Brodjonegoro
Dr. Ir. Sam Wouthuyzen, M.Sc. Dr.rer.nat. Edvin Aldrian
Dr. I Wayan Nurjaya Dr. Andreas A. Hutahean, M.Sc.
Dr.-Ing. Widodo Setiyo Pranowo

Mitra Bestari Edisi ini


Dr. I. Nyoman Radiarta (Lingkungan, SIG dan Remote Sensing)
Dr. Nani Hendiarti (Penginderaan Jauh Kelautan dan Pesisir)
Lili Sarmili, M.Sc. (Geologi Kelautan)
Dr. Herryal Zoelkarnaen Anwar, M.Eng. (Manajemen Resiko Bencana)
Dr.rer.nat. Rina Zurida (Paleoklimat, Paleoseanografi, Plaeoenvironment)
Dr.-Ing.Widjo Kongko, M.Eng. (Teknik Pantai, Teknik Gempa/Tsunami)

Mitra Bestari
Prof. Dr. Rosmawaty Peranginangin (Pasca Panen Perikanan) Prof. Dr. Cecep Kusmana (Ekologi dan Silvikultur Mangrove)
Prof. Dr. Safwan Hadi (Oseanografi) Dr. Agus Supangat, DEA (Oseanografi)
Prof. Dr. Hasanuddin Z. Abiddin (Geodesi dan Geomatika) Dr. Ivonne M. Radjawane, M.Si., Ph.D. (Oseanografi Pemodelan)
Ir. Tjoek Aziz Soeprapto, M.Sc (Geologi) Dr. Ir. Ario Damar, M.Si. (Ekologi Laut)
Dr. Hamzah Latief (Tsunami) Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc. (Oseanografi Fisika)
Dr. Haryadi Permana (Geologi-Tektonik) Dr. Wahyu Widodo Pandoe (Oseanografi)

Redaksi Pelaksana
Ir. Tukul Rameyo Adi, MT.
Bagus Hendrajana, ST, M.Sc
Lestari Cendikia Dewi, M.Si.
Herlina Ika Ratnawati, S.Si.
Sekretariat Redaksi Design Grafis
Dian Pitaloka, S.S. Dicky Hartawan, S.Ikom.
Mariska Astrid Kusumaningtyas, S.Si Dani Saepuloh, A.Md.

Redaksi Jurnal Ilmiah Segara bertempat di Kantor Pusat Balitbang Kelautan dan Perikanan
Alamat : JL. Pasir Putih I Ancol Timur Jakarta Utara 14430
Telpon : 021 - 6471-1583
Faksimili : 021 - 6471-1654
E-mail : jurnal.segara@gmail.com
Website : http://p3sdlp.litbang.kkp.go.id
Jurnal Segara Volume 8 No. 2 Desember 2012 diterbitkan oleh
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir
Tahun Anggaran 2012
ISSN 1907-0659

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir


Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Volume 8 Nomor 2 Desember 2012


Hal. 65 - 150

KUALITAS AIR YANG MENDUKUNG POTENSI BUDIDAYA DI


PERAIRAN PESISIR PULAU PARI: ASPEK MIKROBIOLOGI
Lies Indah Sutiknowati

VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-A DI PERAIRAN


SELAT MAKASSAR: PENDEKATAN WAVELET
Sri Suryo Sukoraharjo

ANALISIS MORFOSTRUKTUR DAN TOMOGRAFI UNTUK


IDENTIFIKASI KETERDAPATAN AKTIVITAS HIDROTERMAL
BAWAH LAUT DI KAWASAN PERAIRAN HALMAHERA
Eko Triarso, Haryadi Permana, Rainer Arief Troa & Joko
Prihantono

PENILAIAN KERENTANAN PESISIR SEMARANG TERHADAP


KENAIKAN MUKA AIR LAUT DENGAN MENGGUNAKAN
INDEKS KERENTANAN KOMPOSIT
Ifan Ridlo Suhelmi

PEMETAAN INDEKS KERENTANAN PESISIR TERHADAP


PERUBAHAN IKLIM DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA
Muhammad Ramdhan, Semeidi Husrin, Nasir Sudirman & Try
Altanto

MORFOLOGI DASAR LAUT DAN KETEBALAN SEDIMEN


PERMUKAAN PERAIRAN KALIMANTAN SELATAN
M. Hasanudin

ANALISIS PENENTUAN ZONA LABUH JANGKAR UNTUK


TAMAN WISATA PERAIRAN PULAU PIEH, SUMATERA
BARAT
Semeidi Husrin

VARIASI DIURNAL SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL) MELALUI


PENGAMATAN RAMA MOORING DI SAMUDERA HINDIA
Tukul Rameyo Adi, Bangun Mulyo S, Indroyono Soesilo, Teguh
Hariyanto, Sugiarta Wirasantosa, Salvienty Makarim & Weidong
Yu
PENGANTAR REDAKSI

Jurnal Segara adalah jurnal yang diterbitkan dan didanai oleh Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan
Perikanan.

Jurnal Segara Volume 8 No. 2 Desember 2012 merupakan terbitan ke dua di Tahun Anggaran
2012. Naskah yang dimuat dalam Jurnal Segara berasal dari hasil penelitian maupun kajian
konseptual yang berkaitan dengan kelautan Indonesia, yang dilakukan oleh para peneliti, akademis,
mahasiswa, maupun pemerhati permasalahan kelautan dari dalam dan luar negeri.

Pada nomor ke dua 2012, jurnal ini menampilkan 8 artikel ilmiah hasil penelitian tentang:
Kualitas Air yang Mendukung Potensi Budidaya di Perairan Pesisir Pulau Pari: Aspek Mikrobiologi;
Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Selat Makassar: Pendekatan Wavelet; Analisis
Morfostruktur dan Tomografi untuk Identifikasi Keterdapatan Aktivitas Hidrotermal Bawah Laut di
Kawasan Perairan Halmahera; Penilaian Kerentanan Pesisir Semarang terhadap Kenaikan Muka
Air Laut dengan Menggunakan Indeks Kerentanan Komposit; Pemetaan Indeks Kerentanan Pesisir
terhadap Perubahan Iklim di Sumatera Barat dan Sekitarnya; Morfologi Dasar Laut dan Ketebalan
Sedimen Permukaan Perairan Kalimantan Selatan; Analisis Penentuan Zona Labuh Jangkar untuk
Taman Wisata Perairan Pulau Pieh, Sumatera Barat; Variasi Diurnal Suhu Permukaan Laut (SPL)
Melalui Pengamatan Rama Mooring di Samudera Hindia.

Diharapkan artikel tersebut dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi di bidang kelautan Indonesia. Akhir kata, Redaksi mengucapkan terima kasih yang
tidak terhingga atas partisipasi aktif peneliti dalam mengisi jurnal ini.

REDAKSI

i
ISSN 1907-0659

Volume 8 Nomor 2 DESEMBER 2012

DAFTAR ISI Halaman

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................................................... ii

LEMBAR ABSTRAK .............................................................................................................. iii-vi

Kualitas Air yang Mendukung Potensi Budidaya di Perairan Pesisir Pulau Pari: Aspek
Mikrobiologi
Lies Indah Sutiknowati .......................................................................................................... 65-75

Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Selat Makassar: Pendekatan Wavelet


Sri Suryo Sukoraharjo ............................................................................................................ 77-87

Analisis Morfostruktur dan Tomografi untuk Identifikasi Keterdapatan Aktivitas Hidrotermal


Bawah Laut di Kawasan Perairan Halmahera
Eko Triarso, Haryadi Permana, Rainer Arief Troa & Joko Prihantono ................................... 89-96

Penilaian Kerentanan Pesisir Semarang Terhadap Kenaikan Muka Air Laut dengan
Menggunakan Indeks Kerentanan Komposit
Ifan Ridlo Suhelmi .................................................................................................................. 97-106

Pemetaan Indeks Kerentanan Pesisir Terhadap Perubahan Iklim di Sumatera Barat dan
107-115
Sekitarnya
Muhammad Ramdhan, Semeidi Husrin, Nasir Sudirman & Try Altanto .................................
117-125
Morfologi Dasar Laut dan Ketebalan Sedimen Permukaan Perairan Kalimantan Selatan
M. Hasanudin ........................................................................................................................

Analisis Penentuan Zona Labuh Jangkar untuk Taman Wisata Perairan Pulau Pieh,
127-138
Sumatera Barat
Semeidi Husrin ......................................................................................................................

Variasi Diurnal Suhu Permukaan Laut (SPL) Melalui Pengamatan Rama Mooring di
139-150
Samudera Hindia
Tukul Rameyo Adi, Bangun Mulyo S, Indroyono Soesilo, Teguh Hariyanto, Sugiarta
Wirasantosa, Salvienty Makarim & Weidong Yu .....................................................................

ii
KUALITAS AIR YANG MENDUKUNG POTENSI BUDIDAYA
DI PERAIRAN PESISIR PULAU PARI: ASPEK MIKROBIOLOGI

WATER QUALITY TO SUPPORT POTENTIAL AQUACULTURE DEVELOPMENT


IN THE COASTAL WATER OF PARI ISLAND: MICROBIOLOGY ASPECT
Lies Indah Sutiknowati
ABSTRAK ABSTRACT

Perairan laut Pulau Pari merupakan perairan yang Pari Island was planed for developing aquaculture therefore
direncanakan untuk kepentingan budidaya, oleh karena itu penelitian water quality assessments is important. One of the parameters to
terhadap kualitas perairan ini menjadi sangat penting. Salah satu evaluate waters quality for aquaculture is based on the microbiology
parameter untuk menilai kualitas suatu perairan budidaya adalah condition. Research on microbiology condition for aquaculture in Pari
kondisi mikrobiologisnya. Penelitian tentang kondisi mikrobiologis island waters was carried out in Mei and October 2010, stressing on
terhadap perairan laut P. Pari telah dilakukan pada Mei dan Oktober total coliform, isolation pathogen bacteria, heterotrophic, and total
2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemantauan cell bacteria. Method to analyze coliform bacteria was filtration,
kondisi kualitas perairan laut P. Pari yang akan digunakan untuk pathogenic bacteria identification was done after biochemical test,
kepentingan budidaya ditinjau dari aspek mikrobiologisnya. heterotrophic bacteria was identified by pour plate and total cell
Parameter mikrobiologis yang dianalisis adalah kepadatan total used Acridine Orange Epifluorescence Microscopy. The results
bakteri koli, isolasi bakteri patogen, bakteri heterotrofik dan indicate that abundance of total coliform cell was very high in Pari
kepadatan total sel. Analisis total bakteri koli menggunakan metode island waters about 7,000-7,640 colonies forming unit (cfu)/100
filtrasi, identifikasi bakteri patogen dilakukan uji biokimia, dan ml, heterotrophic in seawater (5-10) x 105 cfu/ml, heterotrophic in
metode tuang untuk analisis kepadatan bakteri heterotrofik. Hasil sediment (40-45) x 105 cfu/m,; and abundance of total cell was
yang diperoleh adalah kepadatan total bakteri koliform sangat tinggi (49-9,400) x 106 cell/ml. The dog-conch (Strombus turturella) and
yang terdapat di perairan P. Pari yakni sebesar 7.000-7.640 unit blood-clamps (Anadara granosa) can live in Pari Island and there
pembentukan koloni (upk)/100ml. Kepadatan bakteri heterotrofik is a significant increase in the litter of sea grass with relatively
di perairan berkisar antara (5-10) x 105 upk/ml, kepadatan bakteri growth in average 2 mm/day and 0.44 mm/day. During the growth
heterotrofik di sedimen (40-45) x 105 upk/ml. Jumlah total sel sebesar of snails and clamps found several genus of pathogenic bacteria
(49-9.400) x 106 sel/ml. Siput gonggong (Strombus turturella) dan are harmless as Aeromonas, Pseudomonas, Citrobacter, Proteus,
kerang darah (Anadara granosa) dapat hidup dan pertumbuhannya Shigella and Yersinia. Measurement of water fertility is through an
signifikan dengan memanfaatkan serasah dan substrat di padang observation on the content of nutrient in the waters, sediments and
lamun dengan pertumbuhan cangkang yang relatif baik yaitu rata- density of plankton parameters. The conclusion is Pari island waters
rata mencapai 2 mm/hari dan 0,44 mm/hari. Selama pertumbuhan productivity was in good condition and supported by litter, density
siput dan kerang terdapat bakteri patogen dengan beberapa marga of heterotrophic bacteria and plankton, then can used for marine
yang dianggap tidak berbahaya seperti Aeromonas, Citrobacter, aquaculture especially for Strombus turturella and Anadara granosa.
Pseudomonas, Proteus, Yersinia dan Shigella. Pengukuran
kesuburan perairan menggunakan pengamatan unsur hara di Keywords: bacteria, heterotrophic, pathogen, aquaculture, Pari
perairan dan sedimen serta kepadatan planktonnya. Kesimpulan Island
penelitian adalah produktifitas perairan P. Pari sangat baik
kondisinya didukung oleh serasah, kepadatan bakteri heterotrofik
dan plankton sehingga dapat digunakan untuk budidaya kekerangan
siput gonggong (Strombus turturella) dan kerang darah (Anadara
granosa).

Kata kunci: bakteri, heterotrofik, patogen, budidaya, Pulau Pari

VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-A


DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR: PENDEKATAN WAVELET

CHLOROPHYLL-A CONCENTRATION VARIABILITY AT MAKASSAR STRAIT: A WAVELET APPROACH


Sri Suryo Sukoraharjo
ABSTRAK ABSTRACT

Perairan Indonesia tak dapat dipisahkan dari pengaruh Indonesian waters could not be separated from the influence
dinamika regional di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Akibat of regional dynamics in The Pacific Ocean and Indian Ocean.
dari pengaruh ini aliran Arus Lintas Indonesia (Arlindo) mengalami As a result of these influences Indonesian Throughflow (ITF)
variabilitas tinggi seperti variabilitas konsentrasi klorofil-a yang experiences high variability such as the variability of chlorophyll-a
merupakan salah satu parameter dalam menentukan produktivitas concentration, that is a parameter in determining the primary
primer di laut. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a productivity in the sea. Distribution of high and low concentrations
sangat terkait dengan kondisi oseanografis suatu perairan. Tulisan of chlorophyll-a is strongly associated with an oceanographically
ini membahas variabilitas konsentrasi klorofil-a di sumber awal condition. This paper desribes the variability of chlorophyll-a
Arlindo dan hubungannya dengan kelimpahan konsentrasi klorofil-a concentration in the initial source of ITF and its relationship with
di Perairan Selat Makassar. Massa air Arlindo dengan kandungan the abundance of chlorophyll-a concentrations in the waters
konsentrasi klorofil-a rendah saat melalui Perairan Selat Makassar of Makassar Strait. The ITF water mass with low content of
mengalami peningkatan konsentrasi klorofil-a sehingga kesuburan chlorophyll-a concentration as through the waters of Makassar Strait
perairan di sekitar Selat Makassar menjadi relatif lebih tinggi. has increased the concentration of chlorophyll-a so that the fertility
waters around The Makassar Strait has become relatively higher.
Kata kunci: variabilitas klorofil-a, Arlindo, Selat Makassar
Keywords: variability chlorophyll-a, Indonesian Throughflow,
Makassar Strait

iii
ANALISIS MORFOSTRUKTUR DAN TOMOGRAFI
UNTUK IDENTIFIKASI KETERDAPATAN AKTIVITAS HIDROTERMAL
BAWAH LAUT DI KAWASAN PERAIRAN HALMAHERA

MORPHOSTRUCTURE AND TOMOGRAPHY ANALYSIS FOR IDENTIFICATION


THE PRESENCE OF SUBMARINE HYDROTHERMAL ACTIVITY IN HALMAHERA WATERS

Eko Triarso, Haryadi Permana, Rainer Arief Troa & Joko Prihantono
ABSTRAK ABSTRACT

Pulau Halmahera dikelilingi oleh laut dengan kedalaman lebih Halmahera Island is surrounded by the sea to a depth of
dari 1.000 meter. Morfologi dasar laut di sekitar Pulau Halmahera over 1,000 meters. Morphology of the seabed around Halmahera
hampir berarah utara-selatan. Fisiografi ini terbentuk oleh penunjaman Island is nearly north-south trending. Physiography is formed by the
landai ke timur dari Lempeng Laut Maluku yang membentuk Busur slighty angle of subduction slope to the east of the Molucca Sea
Gunungapi Halmahera yang aktif sejak 11 juta tahun lalu. Penelitian Plate forming the active Halmahera volcanic arc since 11 million
dilakukan dengan melakukan analisis morfostruktur dan tomografi years ago. This research was done to analyse the morphostructure
untuk identifikasi keterdapatan aktivitas hidrotermal bawah laut di and tomography, to identify the submarine hydrothermal activity
kawasan Perairan Halmahera, sebelum dilakukan pengambilan in the Halmahera Waters, prior to data collection through marine
data melalui ekspedisi kelautan. Kombinasi antara analisis expeditions. The combination of morfostructure and tomography
morfostruktur dan tomografi tersebut dapat menggambarkan pola analysis can describe structural geology patterns, subsurface
struktur geologi dan struktur bawah permukaan bumi yang diduga structures are thought to affect the presence of submarine
mempengaruhi keterdapatan aktivitas hidrotermal bawah laut. hydrothermal activity. Based on the analysis, it was identified the
Berdasarkan pada hasil analisis morfostruktur dan tomografi, telah presence of two pathways of hydrothermal activity and volcanism
diidentifikasikan keterdapatan dua jalur aktivitas hidrotermal dan in Halmahera Waters, surrounding islands are affected by different
kegunungapian di kawasan Perairan Halmahera dan pulau-pulau magma sources.
di sekitarnya yang dipengaruhi oleh sumber magma berbeda.
Keywords: morfostructure, tomography, hydrothermal activity,
Kata kunci: morfostruktur, tomografi, aktivitas hidrotermal, Halmahera
Halmahera

PENILAIAN KERENTANAN PESISIR SEMARANG


TERHADAP KENAIKAN MUKA AIR LAUT DENGAN MENGGUNAKAN INDEKS KERENTANAN KOMPOSIT

VALUATING SEMARANG COASTAL VULNERABILITY DUE TO SEA LEVEL RISE


USING COMPOSIT VULNERABILITY INDEX

Ifan Ridlo Suhelmi


ABSTRAK ABSTRACT

Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan General sea level rise will produce various physical and
dampak fisik dan lingkungan yang beragam. Tingkat kerentanan environmental impacts. Vulnerability level of an area related to sea
suatu wilayah terhadap fenomena kenaikan muka air laut dapat level rise can be estimated by using vulnerability index assessment
diukur dengan menggunakan metode penilai indeks kerentanan. method. The current research was conducted to measure the
Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kerentanan vulnerability of coastal area due to sea level rise. Mapping of
wilayah pesisir akibat adanya fenomena kenaikan muka air laut. vulnerability level is done through composite approach of physical
Pemetaan tingkat kerentanan dilakukan dengan menggunakan and social vulnerabilities. Physical vulnerability is estimated by
pendekatan komposit antara kerentanan fisik dan kerentanan considering various factors such as tidal range, proximity to coastline,
sosial. Kerentanan fisik diukur dengan memperhatikan faktor type of aquifer, hydrolic conductivity,depth of ground water from
jangkauan pasang surut, jarak ke pantai, jenis akuifer, konduktivitas ground level, volume of river flow, depth of river at the rivermouth, rate
hidrolik, kedalaman air tanah ke tingkat di atas permukaan laut, of sea level rise, geomophology, coastal slope, significant wave height
debit sungai, kedalaman air di hilir, tingkat kenaikan muka air and sedimentation rate. Social vulnerability, however, is evaluated
laut, geomorfologi, kemiringan lereng pesisir, tinggi gelombang among others from the effort to reduce sediment supply, river flow
dan tingkat sedimen. Sedangkan aspek kerentanan sosial antara management, technical engineering of coastal region, groundwater
lain dilihat dari aspek usaha pengurangan pasokan sedimen, consumption, landuse pattern and environmental protection and
pengaturan aliran sungai, rekayasa teknik wilayah pantai, konsumsi coastal protection structure. The current approach uses spatial
air tanah, pola penggunaan lahan dan perlindungan degradasi alam approach by means of Geographic Information System to process
serta struktur perlindungan pesisir. Pendekatan yang dilakukan and analize data. The result of this research showed that the composit
adalah pendekatan spasial dengan meggunakan alat Sistem index was able to determinate the vulnerability of the location.
Informasi Geografis untuk pengolahan dan analisa data. Hasil kajian
menunjukkan indeks komposit ini mampu memberikan gambaran Keywords: Composit vulnerability index, sea level rise,
tingkat kerentanan wilayah pesisir terhadap kenaikan muka air laut. Geographic Information System
Hal ini ditunjukkan dengan nilai indeks kerentanan Pantai Marina
yang lebih rendah dibandingkan dengan Pelabuhan Tanjungemas.

Kata kunci: Indeks kerentanan komposit, kenaikan muka air


laut, Sistem Informasi Geografi

iv
PEMETAAN INDEKS KERENTANAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA

MAPPING OF COASTAL VULNERABILITY INDEX DUE TO CLIMATE CHANGE


IN WEST SUMATERA AND ITS SURROUNDINGS

Muhammad Ramdhan, Semeidi Husrin, Nasir Sudirman & Try Altanto

ABSTRAK ABSTRACT

Wilayah Pesisir Sumatera Barat secara geografis memiliki Coastal areas are the strategic areas for West Sumatra,
panjang garis pantai 2.159 km yang bersifat strategis. Populasi geographically West Sumatra has a coastline lenght of 2,159 km. The
penduduk di wilayah kabupaten/kota pesisir Sumatera Barat number of people living in the district / city coastal of West Sumatra
adalah 2.629.052 jiwa. Perubahan iklim yang terjadi pada dekade is 2,629,052. Climate change in recent decades led to rising sea
terakhir menyebabkan kenaikan muka air laut. Hal ini menjadikan levels. This makes the region vulnerable coastal areas to be used
wilayah pesisir sebagai wilayah yang rentan untuk tempat aktivitas as a development activity. Therefore we need a study to determine
pembangunan. Oleh karena itu Sumatera Barat memerlukan the level of vulnerability of the coastal region to sea level rise. The
suatu kajian untuk menentukan tingkat kerentanan wilayah peisisir method used in this study is by using Geographic Information System
terhadap kenaikan muka air laut di Sumatera Barat. Metode yang (GIS) tools to determine a Coastal Vulnerability Index based on
digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat Sistem Informasi the modification of which has been developed by the United States
Geografis (SIG) untuk menentukan suatu Indeks Kerentanan Geological Surveys. Result of seven coastal areas of West Sumatera
Pesisir setelah melakukan modifikasi dari yang telah dilakukan that are studied, the percentage of vulnerability index obtained as
oleh United States Geological Surveys. Hasil dari 7 wilayah pesisir follows: 23.82% is very low index, 68.59% is low index, 5.79% is
Sumatera Barat yang dikaji tingkat kerentanannya terhadap medium index, 0.95% is high index and 0.85% is very high index.
perubahan iklim, diperoleh persentase tingkat kerentanan sebagai
berikut: 23,82 % termasuk kedalam area dengan kategori sangat Keywords: vulnerability, coastal, climate change, West Sumatra
rendah, 68,59 % kategori rendah, 5,79 %, kategori menengah,
0,95% kategori tinggi dan 0,85% kategori sangat tinggi.

Kata kunci: kerentanan, pesisir, perubahan iklim, Sumatera


Barat

MORFOLOGI DASAR LAUT DAN KETEBALAN SEDIMEN PERMUKAAN


PERAIRAN KALIMANTAN SELATAN

THE MANGROVE IN KURI LOMPO ESTUARY, MAROS REGENCY SOUTH SULAWESI:


THE CONDITION AND THE UTILIZATION

M. Hasanudin
ABSTRAK ABSTRACT

Pemetaan batimetri dan sub bottom profile dilakukan untuk Bathymetric mapping and sub bottom profiling was conducted
mengetahui kondisi morfologi dasar laut, ketebalan sedimen to determine the condition of the seabed morphology, sediment
permukaan, dan membuktikan tentang keberadaan sungai thickness and to prove the existence of ancient rivers in South
purba di Perairan Kalimantan Selatan. Survei dilakukan dengan Kalimantan Waters. Survey was conducted using a single beam echo
menggunakan single beam echosounder dan Sub Bottom Profiler, sounder and Sub Bottom Profiler, by sending underwater acoustic
yaitu dengan cara mengirimkan gelombang suara ke dasar perairan waves into the bottom of the sea which then record the time delay
yang kemudian menangkap gelombang pantul, baik yang berasal from the reflected waves, both derived from the sea floor as well as
dari permukaan dasar laut maupun yang berasal dari lapisan yang those originating from the layer beneath it. The bathymetric of South
berada di bawahnya. Batimetri Perairan Kalimantan Selatan relatif Kalimantan waters is relatively flat (1°-3°) and the slope is increased
datar dengan kemiringan antar 1° hingga 3° dan menurun secara gradually to southern part of South Kalimantan waters (Matasiri
landai hingga Kepulauan Matasiri, kemudian menurun dengan Island), then increase steeper (3°-5°) in southern Matasiri Island. The
kemiringan yang lebih besar yaitu 3° hingga 5°. Kedalaman terbesar largest known depth is 70 m that located in south western of Matasiri
yang diketahui adalah 70 m yang berada di barat daya Pulau Island. a channel that is believed to ancient river found near the Barito
Matasiri. Pada daerah yang dekat dengan Muara Sungai Barito River Estuary. Sub surface sediment thickness that recorded varies
ditemukan adanya kanal yang diperkirakan adalah sungai purba. from 0.5 m to 10 m. the thickest sediment was found in the northwest
Ketebalan sedimen permukaan bervariasi dari 0,5 m hingga 10 m. of Matasiri Islands. Areas with large sedimentation are also found in
Daerah yang memiliki sedimen paling tebal berada di sebelah barat the south western and south eastern of the mouth of the Barito River.
laut Kepulauan Matasiri. Daerah dengan sedimentasi yang tebal juga
ditemui di sebelah barat daya dan tenggara muara Sungai Barito. Keywords: bathymetry, Sub bottom Profiler, sediment
thickness, Matasiri , South Kalimantan
Kata kunci: batimetri, Sub Bottom Profiler, ketebalan sedimen,
Matasiri, Kalimantan Selatan

v
ANALISIS PENENTUAN ZONA LABUH JANGKAR
UNTUK TAMAN WISATA PERAIRAN PULAU PIEH, SUMATERA BARAT

ANALYSIS OF ANCHORAGE AREA DETERMINATION FOR MARINE TOURISM PARK


OF PIEH ISLAND, WEST SUMATERA

Semeidi Husrin

ABSTRAK ABSTRACT

Pulau Pieh merupakan bagian Taman Wisata Perairan Pieh Island in West Sumatera Province of Indonesia is rich
(TWP) yang terletak di wilayah Kabupaten Padang Pariaman, of underwater biodiversity. The island is administratively declared
Provinsi Sumatera Barat merupakan kawasan yang kaya akan as part of the Marine Tourism Park. However, with beautiful white
keanekaragaman hayati bawah laut. Pulau yang memiliki keindahan sandy beaches and wide spread of corals surrounding the island has
pasir putih dan hamparan karang masih belum memiliki infrastruktur not been supported by basic infrastructures, such as safe anchorage
yang memadai untuk menunjang pengelolaan kawasan ini sebagai areas which can be further developed as a jetty or a pier for any visiting
TWP. Salah satu infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh Pulau boats or ships. Geographically, the island is located in the middle
Pieh adalah lokasi labuh jangkar yang kedepannya bisa dimanfaatkan of an open ocean and its small dimension makes the determination
sebagai lokasi pembangunan infrastruktur lain, seperti dermaga of a safe anchorage area becoming far more difficult. Therefore,
pendaratan kapal. Letak geografi Pulau Pieh yang berada di tengah studies related to physical oceanography, i.e. tides, waves, wind and
lautan luas dan dimensi pulau yang tergolong kecil menyulitkan currents around the island is very important to analyse alternatives
penentuan lokasi labuh jangkar yang aman bagi kapal-kapal yang of safe anchorage areas. Based on comprehensive analysis of
berlabuh di Pulau ini. Oleh karena itu, studi mengenai karakteristik physical oceanography parameters, the safest anchorage area
oseanografi (pasang surut, gelombang, angin dan arus) di kawasan ini in Pieh Island was suggested in the North East area of the island.
menjadi sangat penting untuk dapat menentukan beberapa alternatif
zona labuh jangkar. Berdasarkan analisis mendalam parameter- Keywords: tides, waves, current, anchorage area, Pieh Island,
parameter oseanografi fisik, zona labuh jangkar teraman berhasil West Sumatera
ditentukan yang berlokasi di sebelah Timur Laut dari Pulau Pieh.

Kata kunci: pasang surut, gelombang, arus, zona labuh-


jangkar, Pulau Pieh, Sumatera Barat

VARIASI DIURNAL SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL)


MELALUI PENGAMATAN RAMA MOORING DI SAMUDERA HINDIA

THE DIURNAL VARIATION OF SEA SURFACE TEMPERATURE (SST) THROUGH


THE RAMA MOORING OBSERVATION IN INDIAN OCEAN

Tukul Rameyo Adi, Bangun Mulyo S, Indroyono Soesilo, Teguh Hariyanto, Sugiarta Wirasantosa,
Salvienty Makarim & Weidong Yu

ABSTRAK ABSTRACT

Variasi atau siklus harian Suhu Permukaan Laut (SPL) Diurnal cycles or variation of sea surface temperature (SST)
merupakan sebuah fenomena laut yang sangat menarik untuk is an interesting phenomenon to be investigated since it relates with
dipahami. Khususnya di perairan Samudera Hindia, fenomena sea-air interaction phenomena such as Madden Julian Oscilation
ini berhubungan erat dengan fenomena interaksi laut-atmosfer (MJO) and diurnal warming in large ocean. An integrated observation
yang terkait dengan variabilitas iklim seperti fenomena Madden by using a subsurface mooring and atmospheric buoy in Indian Ocean
Julian Oscilation dan pemanasan laut dalam skala luas. Studi through RAMA (Research Moored Array for African-Asian-Australian
ini berdasarkan pada sistem pemantauan laut-atmosfer terpadu Monsoon Analysis) Buoy Project provided a time series physical
menggunakan mooring dan buoy di Samudera Hindia dalam oceanography and meteorological data.The diurnal cycles of SST
program RAMA (Research Moored Array for African-Asian-Australian analysis use hourly SST data at depth of 1 meter and 10 meter for
Monsoon Analysis) yang menghasilkan data time series oseanografi the period from March 2009 to February 2010.The diurnal variation
fisis dan meteorologi. Analisa variasi diurnal SPL dilakukan dengan of SST has significant amplitude, varies from 0.5 to 2 centigrade, for
menggunakan data per jam (hourly data) SPL pada kedalaman 1 period March 2009 to February 2010. The seasonal montly mean
meter dan 10 meter untuk perioda waktu Maret 2009 sampai dengan diurnal cycle calculation for SST indicated the changes of maximum
Februari 2010. Dari hasil studi, variasi diurnal SPL di wilayah penelitian values of SST due to season, while in March-April-May 2009 the SST
memiliki amplitudo yang cukup signifikan, antara 0,5 sampai dengan reached mostly maximum values compared to other seasons and
2 derajat celcius dalam periode Maret 2009 sampai dengan Februari the SST had lower values in September-November-December 2009.
2010. Nilai rerata bulanan variasi SPL berubah mengikuti pola musim.
Sedangkan nilai rerata musiman variasi SPL tertinggi tercatat pada Keywords: Sea Surface Temperature, Diurnal Variation, RAMA
perioda Maret-April-Mei 2009, dan nilai rerata musiman terendah Buoy, Indian Ocean
tercatat pada periode September-November-Desember 2009.

Kata kunci: Suhu Permukaan Laut, Variasi Diurnal, RAMA


Buoy, Samudera Hindia

vi
Kualitas Air yang Mendukung Potensi Budidaya...Aspek Mikrobiologi (Sutiknowati, L.I.)

KUALITAS AIR YANG MENDUKUNG POTENSI BUDIDAYA


DI PERAIRAN PESISIR PULAU PARI: ASPEK MIKROBIOLOGI
Lies Indah Sutiknowati1)
1)
Peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Diterima tanggal: 27 Maret 2012; Diterima setelah perbaikan: 10 Juli 2012; Disetujui terbit tanggal 10 Oktober 2012

ABSTRAK

Perairan laut Pulau Pari merupakan perairan yang direncanakan untuk kepentingan budidaya, oleh karena
itu penelitian terhadap kualitas perairan ini menjadi sangat penting. Salah satu parameter untuk menilai kualitas
suatu perairan budidaya adalah kondisi mikrobiologisnya. Penelitian tentang kondisi mikrobiologis perairan laut
P. Pari telah dilakukan pada Mei dan Oktober 2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemantauan
kondisi kualitas perairan laut P. Pari yang akan digunakan untuk kepentingan budidaya ditinjau dari aspek
mikrobiologisnya. Parameter mikrobiologis yang dianalisis adalah kepadatan total bakteri koli, isolasi bakteri
patogen, bakteri heterotrofik dan kepadatan total sel. Analisis total bakteri koli menggunakan metode filtrasi,
identifikasi bakteri patogen dilakukan uji biokimia, dan metode tuang untuk analisis kepadatan bakteri heterotrofik.
Hasil yang diperoleh adalah kepadatan total bakteri koliform sangat tinggi yang terdapat di perairan P. Pari yakni
sebesar 7.000-7.640 unit pembentukan koloni (upk)/100ml. Kepadatan bakteri heterotrofik di perairan berkisar
antara (5-10) x 105 upk/ml, kepadatan bakteri heterotrofik di sedimen (40-45) x 105 upk/ml. Jumlah total sel
sebesar (49-9.400) x 106 sel/ml. Siput gonggong (Strombus turturella) dan kerang darah (Anadara granosa)
dapat hidup dan pertumbuhannya signifikan dengan memanfaatkan serasah dan substrat di padang lamun
dengan pertumbuhan cangkang yang relatif baik yaitu rata-rata mencapai 2 mm/hari dan 0,44 mm/hari. Selama
pertumbuhan siput dan kerang terdapat bakteri patogen dengan beberapa marga yang dianggap tidak berbahaya
seperti Aeromonas, Citrobacter, Pseudomonas, Proteus, Yersinia dan Shigella. Pengukuran kesuburan perairan
menggunakan pengamatan unsur hara di perairan dan sedimen serta kepadatan planktonnya. Kesimpulan
penelitian adalah produktifitas perairan P. Pari sangat baik kondisinya didukung oleh serasah, kepadatan bakteri
heterotrofik dan plankton sehingga dapat digunakan untuk budidaya kekerangan siput gonggong (Strombus
turturella) dan kerang darah (Anadara granosa).

Kata kunci: bakteri, heterotrofik, patogen, budidaya, Pulau Pari

ABSTRACT

Pari Island was planed for developing aquaculture therefore water quality assessments is important. One
of the parameters to evaluate waters quality for aquaculture is based on the microbiology condition. Research on
microbiology condition for aquaculture in Pari island waters was carried out in Mei and October 2010, stressing
on total coliform, isolation pathogen bacteria, heterotrophic, and total cell bacteria. Method to analyze coliform
bacteria was filtration, pathogenic bacteria identification was done after biochemical test, heterotrophic bacteria
was identified by pour plate and total cell used Acridine Orange Epifluorescence Microscopy. The results indicate
that abundance of total coliform cell was very high in Pari island waters about 7,000-7,640 colonies forming
unit (cfu)/100 ml, heterotrophic in seawater (5-10) x 105 cfu/ml, heterotrophic in sediment (40-45) x 105 cfu/m,;
and abundance of total cell was (49-9,400) x 106 cell/ml. The dog-conch (Strombus turturella) and blood-clamps
(Anadara granosa) can live in Pari Island and there is a significant increase in the litter of sea grass with relatively
growth in average 2 mm/day and 0.44 mm/day. During the growth of snails and clamps found several genus of
pathogenic bacteria are harmless as Aeromonas, Pseudomonas, Citrobacter, Proteus, Shigella and Yersinia.
Measurement of water fertility is through an observation on the content of nutrient in the waters, sediments
and density of plankton parameters. The conclusion is Pari island waters productivity was in good condition
and supported by litter, density of heterotrophic bacteria and plankton, then can used for marine aquaculture
especially for Strombus turturella and Anadara granosa.

Keywords: bacteria, heterotrophic, pathogen, aquaculture, Pari Island

PENDAHULUAN Jakarta Utara (Gambar 1). Pulau Pari mempunyai


luas daratan sekitar 897,71ha dengan luas perairan
Pulau Pari merupakan bagian dari Kepulauan mencapai 6.997,50 km2. Temperatur pada siang hari
Seribu yang terdiri dari 105 gugus pulau terbentang dari 280-310 C dan malam hari sekitar 240-260 C dengan
Teluk Jakarta hingga ke utara yang berujung di Pulau intensitas hujan sangat tinggi pada Oktober-April.
Sebira yang berjarak kurang lebih 150 km dari pantai Kondisi perairan di Kepulauan Seribu mengikuti kondisi
Korespondensi Penulis:
Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430. Email: lies_indah@yahoo.com.sg 65
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 65-75

umum perairan Indonesia yang dipengaruhi oleh dilakukan di beberapa negara, ditemukan parasit
musim barat atau musim timur dan musim peralihan dan mikroba patogen pada organ luar dan dalam
(Mardesyawati & Timotius, 2010). Penduduk P. Pari biota laut, salah satunya adalah penelitian di Amerika
umumnya memanfaatkan perairannya untuk budidaya Serikat yang menemukan kontaminasi patogen pada
rumput laut dan ikan seperti kerapu dan kakap merah sedimen dan biota perairan (Bitton & Harvey, 1993).
sebagai mata pencaharian dan mencukupi kebutuhan
gizinya. Bakteri heterotrofik pada suatu perairan menjadi
salah satu indikator aktifitas penguraian senyawa
Alternatif budidaya laut di perairan P. Pari adalah organik yang menunjukkan kesuburan perairan dan
jenis kekerangan meliputi siput gonggong dan kerang berkaitan dengan pakan alami bagi biota laut. Bakteri
darah yang merupakan biota laut penting dari sektor heterotrofik di lingkungan laut berperan sangat vital
perikanan dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Siput sebagai dekomposer yang menguraikan material
gonggong dan kerang darah merupakan kekerangan organik menjadi konstituen yang lebih sederhana
yang potensial dan sebarannya hampir ditemukan di sebagai unsur hara yang esensial (Rheinheimer,
seluruh perairan pesisir pantai (Dody & Marasabessy, 1980; Aksornkoe, 1993). Beberapa jenis bakteri
2007a; Baqueiro et al., 2000; Stern & Wolff, 2006). heterotrofik antara lain Pseudomonas, Micrococcus,
Kegiatan budidaya siput gonggong dan kerang darah Sarcina, Staphylococcus dan Flavobacterium.
dapat membantu perekonomian masyarakat nelayan/
pembudidaya di P. Pari, namun dalam pelaksanaannya Tujuan penelitian ini adalah untuk pemantauan
perlu diwaspadai adanya penurunan kualitas perairan. kondisi kualitas air menurut aspek mikrobiologi
terhadap kegiatan budidaya kekerangan yaitu siput
Salah satu parameter penunjang keberhasilan gonggong dan kerang darah di Perairan P.Pari. Hasil
budidaya adalah kualitas perairan yang didukung oleh dari penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi
kondisi bakteriologis (Sutiknowati & Ruyitno, 2008). mengenai mikroba yang menunjang keberhasilan
Pengamatan yang sudah umum dilakukan adalah budidaya, termasuk pada budidaya kekerangan.
pada kelompok bakteri koli, bakteri heterotrofik dan
bakteri patogen. Semakin banyak jumlah bakteri koli METODE PENELITIAN
dan bakteri patogen yang terdapat pada perairan
budidaya dapat menyebabkan kematian benih secara 1. Lokasi dan Waktu Penelitian
massal dan turunnya kualitas paska panen (Faghri et
al., 1984). Bakteri patogen atau non patogen umumnya Penelitian dilakukan di Perairan P. Pari dengan
dapat ditemukan pada tubuh biota laut. Bakteri stasiun pengamatan berada pada posisi geografis
patogen yang biasa ditemukan antara lain Salmonella, 108o36’579” BT dan 5o51’777” LS (Gambar 1). Penelitian
Vibrio, Aeromonas, Proteus, Citrobacter, dan bakteri dilakukan terhadap pembesaran kekerangan siput
tersebut dapat hidup pada organ luar maupun dalam gonggong dan kerang darah. Pembesaran dilakukan
biota (WHO, 1977). Bakteri non patogen umumnya dalam keramba tancap (pen-culture) yang berfungsi
termasuk dalam kelompok bakteri heterotrofik (Jawetz untuk melokalisir area sehingga kekerangan terhindar
et al., 1982). Pada beberapa penelitian yang telah dari pemangsa, dan biota budidaya tetap terkumpul

Gambar 1. Lokasi Penelitian di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

66
Kualitas Air yang Mendukung Potensi Budidaya...Aspek Mikrobiologi (Sutiknowati, L.I.)

dalam area keramba (Gambar 2). Pengambilan menggunakan membran filter selulosa nitrat (porositas
sampel dilakukan dengan waktu yang berbeda yaitu 0,45 μm dan diameter 47 mm). Membran filter
Mei (trip I) dan Oktober (trip II) Tahun 2010. Perairan kemudian diletakkan dalam cawan petri berupa
Pulau Pari dipengaruhi oleh arus pasang surut yang compact dry yang berisi media. Media dibasahi dengan
cukup dominan dengan substrat dasar terdiri dari pasir aquadest steril terlebih dulu dan selanjutnya
kasar, pasir halus hingga lumpur berpasir. Selain itu di diinkubasikan dalam inkubator dengan suhu 35oC
daerah pesisir perairan ini ditumbuhi mangrove yang selama 24 jam. Koloni yang tumbuh berwarna ungu
jarang serta lamun yang cukup padat. Jenis lamun (koliform) dan biru (E.coli) dihitung dan kemudian
yang tumbuh di perairan ini didominasi oleh Enhalus dikonversikan kedalam konsentrasi bakteri per 100 ml
acoroides. Kondisi tinggi permukaan air saat surut (Gambar 3).
terendah sekitar 30 cm. Pengambilan (koleksi) sampel
berupa air laut dan sedimen (Tabel 1), dilakukan pada: 3. Isolasi Bakteri Patogen
keramba budidaya kekerangan dan ekosistem lamun,
sekitar tubir P. Pari (terdapat sumur), sekitar dermaga, Isolasi bakteri patogen genus Vibrio dan
ekosistem mangrove, dan pada biota kekerangan Salmonella didasarkan pada metode Barrow & Miller
(siput gonggong dan kerang darah). (1976).

2. Analisis Total Bakteri Koli Isolasi bakteri genus Vibrio dilakukan dengan
menuang sampel air sebanyak 0,5 ml atau menuang
Analisis total bakteri koli (WHO, 1982) dilakukan 0,5 ml dari 1 gr sedimen atau serasah atau daging
dengan mengambil contoh air pada masing-masing biota yang sudah dilarutkan kedalam 9 ml air laut steril,
lokasi yang telah dipilih menggunakan botol sampel. langsung pada media TCBS (Thiosulfate Citrate Bile
Sebanyak 1 ml & 5 ml sampel air disaring dengan Salt Sucrose Agar) secara aseptis dan diinkubasikan
menggunakan membran filter selulosa nitrat (dengan pada inkubator dengan suhu 35oC selama 24 jam.
porositas 0,45 μm dan diameter 47 mm). Untuk sampel Bakteri yang tumbuh selanjutnya diuji pada beberapa
daging, ambil potongan daging sebanyak 1 gr media uji TSI, LDB, MR-VP, dan NaCL untuk
masukkan kedalam 9 ml air laut steril dan dihomogenkan mendeterminasi jenis bakteri.
menggunakan vortex. Sebanyak 5 ml sampel disaring

Gambar 2. Keramba tancap pada ekosistem lamun, untuk budidaya kekerangan (siput gonggong dan
kerang darah) di Perairan P. Pari.

Tabel 1. Koleksi sampel

No. Lokasi Jenis bakteri dan waktu sampling


sampling Total Trip Heterotrofik Trip Patogen Trip
koliform

1 Sekitar keramba air I, II Air, sedimen I, II Air, sedimen I, II


2 lamun air I, II air II Air, serasah I, II
3 sumur air II Air, sedimen II - -
4 Sekitar dermaga air II air I, II - -
5 mangrove air II Air, sedimen II air I, II
6 Siput gonggong Daging I, II - - Daging I, II
7 Kerang darah Daging I, II - - Daging I, II

67
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 65-75

Gambar 3. Cawan petri berisi media selektif untuk pembiakan koliform dan E.Coli. Tampak beberapa koloni
berwarna ungu dan biru yang akan dihitung dengan menggunakan cellcounter.
Isolasi bakteri patogen genus Salmonella dan disimpan pada suhu 4°C (Mitra & Takahata, 2008).
dilakukan dengan menuang sampel air sebanyak 1 ml Selanjutnya disiapkan alat saring yang terdiri dari filter
atau menuang 1 gr sedimen atau serasah atau daging membran polikarbonat milipore berdiameter 25 mm,
biota ke dalam media enrichment, kemudian berpori-pori 0,2 μm dan dihubungkan pada vacuum
diinkubasikan dalam inkubator selama 24 jam pada pump EYELA Type A-10005. Sebanyak 1 ml sampel
suhu 35oC. Selanjutnya dari kultur media enrichment, diambil secara aseptis menggunakan pipet tip mikro
diambil sebanyak 1 ml sampel dan diinokulasikan ke steril dan dimasukkan ke dalam alat saring yang telah
dalam media selenit, selanjutnya sampel diinkubasikan disiapkan.
ke dalam inkubator dengan suhu 35oC selama 24 jam.
Dengan menggunakan jarum ose, kultur bakteri pada Untuk menentukan jumlah bakteri yang ada di
media selenit diinokulasikan ke media XLD agar, dalam suatu medium dapat digunakan beberapa cara,
kemudian sampel diinkubasikan ke dalam inkubator salah satunya adalah dengan cara menjumlah bakteri
selama 24 jam pada suhu 35oC. Bakteri yang tumbuh secara keseluruhan (total cell counts) yaitu menghitung
pada media XLD agar selanjutnya diuji pada media uji semua bakteri yang ada di dalam suatu medium biakan,
TSI, SIM, LDB, Sulfit, dan Urea untuk mendeterminasi baik yang hidup maupun yang mati (Lay, 1994).
jenis bakteri. Perhitungan total sel (total cell count) dengan metode
AODC (Acridine Orange Direct Count) adalah salah
4. Isolasi Bakteri Heterotrofik satu metode perhitungan bakteri secara langsung
menggunakan cat fluorokrom acridine orange (3,6-
Populasi bakteri heterotrofik dianalisis dengan tetrametyl diaminoacridine) dengan teknik mikroskop
metode pour plate (WHO, 1982) dengan pengenceran epifluoroscence (Zimmerman & Meyer-Reil, 1974;
hingga 10-4 menggunakan buffer phosphate yang Hobbie et al.1977). Pada sel bakteri yang teramati
ditanam ke dalam media marine agar dan media terdapat perbedaan warna yaitu warna hijau merupakan
modified marine agar sebanyak 1 ml. Masing- masing bakteri yang masih hidup dan berwarna orange
sampel diulang sebanyak 2 kali, ditanam dengan merupakan bakteri yang sudah mati. Hal ini disebabkan
metode pour plate dengan menggunakan kurang lebih karena sel bakteri yang hidup mampu mereduksi zat
20 ml media marine agar (AL) dan modified marine warna acridine orange secara enzimatik sehingga
agar (AT) pada cawan petri steril. Sampel diinkubasikan menjadi berwarna hijau, sedangkan sel-sel mati akan
pada inkubator dengan suhu ruang, selama 7 hari. tampak orange (Hadioetomo, 1993).
Setelah 7 hari, koloni yang tumbuh dihitung dengan
jumlah koloni antara 30-300 upk. Metode ini berlaku 6. Mengukur Kondisi Lingkungan
untuk sampel air dan sedimen. Jumlah koloni diantara
kisaran tersebut kemudian diolah menurut perhitungan Untuk mengetahui kondisi lingkungan perairan P.
Hadioetomo (1993). Nilai yang diperoleh merupakan Pari sebagai lokasi budidaya biota laut dilakukan
jumlah koloni bakteri heterotrofik dalam suatu sampel. pengukuran kondisi lingkungan meliputi suhu, oksigen
terlarut (DO) dan pH menggunakan ‘HORIBA’; salinitas
5. Menghitung Total Sel diukur dengan refraktometer; dan turbiditas perairan
menggunakan turbidimeter. Seluruh parameter tersebut
Sampel sedimen sebanyak 0,5 gram dilarutkan diukur secara langsung di lapangan (in situ).
dalam air laut steril kemudian dihomogenisasikan
dengan menggunakan vortex. Sebanyak 0,5 ml sampel
ditambahkan ke dalam 2,29 ml larutan pewarna
acridine orange sehingga diperoleh pengenceran 10-1

68
Kualitas Air yang Mendukung Potensi Budidaya...Aspek Mikrobiologi (Sutiknowati, L.I.)

HASIL DAN PEMBAHASAN lebih tinggi dari konsentrasi total bakteri koliform di
perairan. Daging siput gonggong dan kerang darah
1. Analisis Total Bakteri Koliform tidak layak dimakan mentah, dan harus direbus
terlebih dulu agar dapat dikonsumsi oleh masyarakat
Pengamatan pada Mei 2010 (trip I) saat surut atau dilakukan purifikasi untuk membersihkan daging
menunjukkan kepadatan total bakteri koliform yang siput gonggong dan kerang darah dari bakteri koliform
terdapat pada perairan sekitar keramba budidaya dan E.coli. Adanya kepadatan koliform dan E.coli yang
kekerangan dan di ekosistem lamun sekitar 7.000- tinggi adalah akibat dari limbah domestik yang masuk
7.640 koloni/100ml (Gambar 4). Bakteri E.coli yang ke perairan (Suhendar & Heru, 2007). Bakteri tersebut
merupakan golongan koliform juga ditemukan di dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan biota
perairan keramba, yaitu sekitar 590-825 koloni/100ml. yang di budidayakan atau bahkan mematikan manusia
Saat surut tidak diperoleh sampel air pada lokasi yang mengkonsumsi biota yang dibudidayakan (Girard
sumur, dermaga dan ekosistem mangrove (Tabel 1). et al., 2005).
Kepadatan total bakteri koliform dan E. coli ditemukan
pada organ siput gonggong dan kerang darah dengan Berdasarkan pada Kriteria Baku Mutu Air Laut
konsentrasi sekitar 1.980-2.050 koloni/100ml (koliform) yang dikeluarkan Kantor Menteri Negara Lingkungan
dan 486-590 koloni/100ml (E.coli). Hidup (2004) bahwa konsentrasi bakteri total koliform
sebesar 1000 sel /100 ml untuk budidaya maka
Pengamatan pada Oktober 2010 (trip II) saat perairan laut P. Pari dikategorikan tidak layak untuk
pasang menunjukkan konsentrasi total bakteri budidaya kekerangan (diantaranya siput gonggong
koliform lebih rendah dibanding pada Mei (Gambar dan kerang darah). Suatu daerah perairan baik sungai,
4). Konsentrasi yang rendah ditemukan pada perairan muara maupun estuaria dikatakan tercemar bila
keramba, ekosistem lamun, perairan dermaga, sumur kepadatan bakteri koli pada perairan permukaannya
dan ekosistem mangrove, dan konsentrasi bakteri melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Baku
koliform yang terdapat pada sampel siput gonggong Mutu Air Laut yang dikeluarkan Kantor Menteri Negara
lebih tinggi (Gambar 4). Bakteri E.coli ditemukan Lingkungan Hidup.
dengan konsentrasi lebih rendah, kecuali pada sampel
siput gonggong yang memiliki konsentrasi lebih tinggi. 2. Bakteri patogen yang ditemukan
Pada Oktober tidak dilakukan perhitungan konsentrasi
total bakteri koliform dan bakteri E.coli pada kerang Bakteri patogen terbagi dalam dua kelompok
darah di dalam keramba pembesaran karena habis genus (marga) yaitu Vibrio dan Salmonella. Pada
dimangsa predator atau hilang terbawa air saat pasang. lokasi penelitian di P. Pari ditemukan kelompok
Salmonella yang terdiri dari Citrobacter sp, Yersinia
Tingginya konsentrasi total bakteri koliform dan sp dan Shigella sp; sedangkan kelompok Vibrio terdiri
E.coli pada biota siput gonggong dan kerang darah dari Vibrio sp, V. parahaemolyticus, Aeromonas sp,
menunjukkan bahwa kekerangan merupakan inkubator Pseudomonas sp, dan Proteus sp (Tabel 2). Ke tujuh
bagi bakteri koliform dan E.coli untuk tumbuh dan marga bakteri patogen tersebut diperoleh dari sampel
dapat menginfeksi manusia sehingga menyebabkan air laut, sedimen, kekerangan, ekosistem lamun dan

Gambar 4. Kepadatan Total Bakteri Koliform dan E.coli di perairan P.Pari pada Mei (trip I) dan Oktober (trip
II), 2010.

69
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 65-75

mangrove. Pada siput gonggong dan kerang darah makanan sebagai pendegradasi bahan organik menjadi
ditemukan 5 genus (marga) bakteri patogen. Bakteri bahan anorganik yang dapat dimanfaatkan oleh biota
patogen yang ditemukan dominan adalah bakteri lain yaitu fitoplankton, dan merupakan piramida dasar
genus aeromonas. dari sistem rantai makanan, sehingga kehidupan laut
menjadi lestari. Bakteri heterotrofik digunakan sebagai
Bakteri yang spesifik ditemukan dalam air laut salah satu indikator kesuburan suatu perairan karena
adalah bakteri Proteus dan dalam sedimen adalah kemampuanmya menguraikan senyawa organik.
bakteri Yersinia. Bakteri patogen yang ditemukan Bakteri heterotrofik mempunyai hubungan simbiosis
pada penelitian ini pada umumnya lemah dan tidak dengan fitoplankton pada kehidupan laut dan disebut
berbahaya kecuali Vibrio yang bisa menyebabkan sebagai algaecidal bacteria (Rheinheimer, 1984).
gastroenteritis (WHO, 1977). Bakteri patogen yang
ditemukan di siput gonggong dan kerang darah Hubungan simbiosis terjalin dengan adanya
merupakan indikator bahwa biota laut dapat terinfeksi perjalanan nutrien yang dibawa oleh sungai ke laut
melalui air laut dan sedimennya. dan dimanfaatkan oleh fitoplankton terutama diatom.
Namun diatom saling bersaing dengan dinoflagellata
3. Isolasi Bakteri Heterotrofik untuk mendapatkan nutrien (Suminto & Hirayama,
1993). Menurut pemikiran para ahli plankton,
Kepadatan bakteri heterotrofik di P. Pari dinoflagellata berasosiasi dengan bakteri yang
ditemukan sekitar (5-45) x 105 koloni/ml (Gambar dapat mengakibatkan dinoflagellata menjadi single
5), yang diperoleh dari perairan, sedimen keramba species bloom pada fenomena red tide (Praseno &
dan dermaga (trip I & II), juga pada ekosistem Sugestiningsih, 2000). Menurut Lignell (1992), bakteri
lamun, lokasi sumur, lokasi dermaga, dan ekosistem yang hidup dari serasah mangrove akan mengeluarkan
mangrove (trip II). Bakteri heterotrofik ditemukan semacam enzim yang dibutuhkan oleh fitoplankton
bervariasi kepadatannya diduga karena padang untuk perbanyakan sel-selnya. Kelimpahan fitoplankton
lamun menyumbang banyak senyawa organik yang di Perairan Pulau Pari sangat bervariasi, kelimpahan
merupakan sumber karbon bagi bakteri heterotrofik. tertinggi terlihat di stasiun mangrove dan keramba
Padang lamun mempunyai fungsi ekologis sebagai dengan kelimpahan fitoplankton mencapai 1.720.000–
produsen primer, pendaur ulang unsur hara, penstabil 2.080.000sel/m3 dan marga diatom masih mendominasi
substrat dan penangkap sedimen, sebagai habitat dan perairan dibandingkan marga dinoflagellata.
makanan serta tempat berlindung bagi organisme laut
lainnya, dan sebagai substrat bagi perifiton (Hutomo, 4. Total sel bakteri
1985; Erftemeijer, 1993). Lokasi penelitian di P. Pari,
mempunyai luasan lamun sebesar 17,5-25,5 % dengan Total sel bakteri yang terhitung dengan tiga kali
kerapatan sebesar 63,2-71,6 tunas/m2. Biomass dari pengulangan pada perairan P. Pari pada Mei (trip I) dan
lamun di P. Pari adalah sebesar 423,27-948,36 gr.brt. Oktober (trip II) 2010 menunjukkan angka yang tinggi
krg./m2. yaitu sekitar 4,29 x 106 - 9,46 x 109 sel/ml (Tabel 3). Hal
ini menunjukkan bahwa perairan P. Pari mengandung
Bakteri heterotrofik di laut berperan dalam rantai banyak nutrien yang dibutuhkan oleh bakteri dan adanya

Tabel 2. Bakteri patogen yang ditemukan

Lokasi Kelompok Kelompok Dominant


Salmonella Vibrio bakteri patogen

Air sekitar keramba Citrobacter Vibrio


Yersinia Aeromonas Aeromonas
Proteus
V.parahaemolyticus
Pseudomonas
Sedimen keramba Citrobacter Vibrio Aeromonas
Yersinia Aeromonas
Proteus
lamun Yersinia Vibrio Aeromonas
Aeromonas di serasah
mangrove Yersinia Vibrio Aeromonas
Aeromonas
Siput Gonggong Citrobacter Vibrio Aeromonas
Yersinia Aeromonas
Kerang darah Shigella sp Vibrio Aeromonas

70
Kualitas Air yang Mendukung Potensi Budidaya...Aspek Mikrobiologi (Sutiknowati, L.I.)

ketersediaan nutrien tersebut mengakibatkan jumlah habitat alami kekerangan siput gonggong dan kerang
bakteri meningkat (Darmayati, 2010). Ketersediaan darah (Dody & Marasabessy, 2007b). Namun Siput
nutrisi dari ekosistem lamun dan mangrove seperti gonggong yang dipelihara di dalam keramba dapat
nitrogen, fosfat dan kalium memungkinkan jumlah berkembang dengan baik, ukuran panjang cangkang
bakteri meningkat. Total sel yang diamati termasuk awal saat penebaran berkisar antara 25,05 mm
didalamnya sel bakteri pencemar maupun bakteri hingga 61,10 mm dengan ukuran rata-rata mencapai
non patogen, sehingga jumlah total sel bakteri hanya 51,10 mm serta kisaran bobot antara 18,55 gram hingga
menunjukkan kepadatan sel bakteri di perairan P. Pari. 30,41 gram. Setelah masa pemeliharaan selama 1
bulan, panjang cangkang rata-rata mencapai 55.85
Bakteri yang teramati pada umumnya berbentuk mm atau terjadi pertambahan cangkang sebesar 4 mm.
batang, pendek (rod) dan bulat (coccus).
Pada awal masa pemeliharaan (Mei 2010),
5. Pertumbuhan Siput Gonggong anakan siput gonggong didominasi oleh kelompok
berukuran 24-28 mm dan setelah satu bulan masa
Berkaitan dengan kepadatan bakteri indikator pemeliharaan nampak pertumbuhan cangkang
pencemaran, perairan P. Pari tidak dapat digunakan mulai terjadi. Pertumbuhan cangkang anakan siput
untuk budidaya kekerangan mengingat P. Pari bukan gonggong terus berlangsung selama 7 bulan (Gambar

Gambar 5. Kepadatan Bakteri Heterotrofik di perairan dan sedimen P. Pari pada Mei (trip I) dan Oktober
(trip II) 2010.

Tabel 3. Total sel bakteri di perairan P.Pari, pada Mei (trip I) dan Oktober (trip II) 2010

No. Lokasi sampling Trip I Trip II


(Sel/ml) (Sel/ml)

1a Perairan keramba 1,15x108 1,01x108


b Perairan keramba 1,05x108 7,19x109
c Perairan keramba 9,27x109 1,36x108
2a Perairan lamun 1,19x10 9,46x109
8

b Perairan lamun 7,80x109 9,29x109


c Perairan lamun 8,52x109 8,83x109
3a Perairan mangrove 2,43x10 1,88x109
9

b Perairan mangrove 1,75x109 2,84x109


c Perairan mangrove 2,19x109 9,96x108
4a Perairan dermaga 4,39x107 5,14x106
b Perairan dermaga 2,34x107 4,91x106
c Perairan dermaga 3,07x107 4,29x106

71
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 65-75

6 dan 8) dengan rata-rata laju pertumbuhan cangkang berlangsung selama 7 bulan (Gambar 7 dan Gambar 9)
mencapai 2 mm/hari. Selama waktu pemeliharaan dengan rata-rata laju pertumbuhan cangkang sebesar:
siput tidak diberi makan karena siput memanfaatkan 0,44 mm/hari.
serasah yang ada di sekitar perairan ataupun di atas
substrat. 7. Kondisi Lingkungan

Penggunaan energi oleh siput gongong untuk Hasil pengamatan kondisi lingkungan perairan
pertumbuhan cangkangnya akan terus berlangsung yang meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH dan
hingga mencapai ukuran dewasa. Saat memasuki kekeruhan di perairan P. Pari secara umum memenuhi
ukuran dewasa, pemakaian energi tidak lagi digunakan kriteria Baku Mutu Perairan Laut untuk kehidupan biota
untuk pertumbuhan cangkang dan pertumbuhan laut yang dikeluarkan oleh Kantor Menteri Negara
somatik lainnya, namun digunakan untuk keperluan Lingkungan Hidup (Anonim, 2004). Suhu air laut sekitar
perkembangan reproduksi. Siput gonggong mencapai 25,1-30,1o C, dan nilai salinitasnya 25-32 o/oo merupakan
ukuran dewasa, jika tepi cangkangnya telah tumbuh parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap
sempurna. Untuk membedakan antara cangkang kehidupan biota budidaya mulai dari telur sampai
siput gonggong dewasa dengan cangkang siput yang dewasa (Arshad et al., 2006). Kegagalan budidaya
masih muda, dapat diketahui dengan mengamati dapat disebabkan oleh tingginya suhu perairan yang
bagian tepi cangkang (outer lip) yang berhadapan mencapai 33oC dan salinitas 33 o/oo (Juwana, 2001).
dengan columella. Jika ketebalan tepi cangkangnya Perubahan suhu yang dapat ditolerir untuk kehidupan
masih tipis dengan bentuk yang tidak merata berarti biota laut adalah <2o C dan perubahan salinitasnya
siput tersebut tergolong siput muda dan pertumbuhan <5 o/oo dalam rata-rata musiman (Anonim, 2004).
cangkangnya masih terus berlangsung. Sebaliknya
jika tepi cangkangnya telah tumbuh sempurna dengan Konsentrasi oksigen terlarut sekitar 4,4-6,3 mg/l
ketebalan tertentu menunjukkan bahwa siput tersebut pada perairan laut, lebih rendah dari ketentuan Baku
telah mencapai ukuran dewasa. Mutu Lingkungan Laut untuk kehidupan biota laut
(Anonim, 2004). Konsentrasi oksigen terlarut di laut
6. Pertumbuhan Kerang Darah disebabkan oleh adanya pengaruh percampuran air
laut oleh gelombang. pH air laut adalah 7 dan sesuai
Demikian juga dengan Kerang darah yang dengan kriteria Baku Mutu Lingkungan Laut untuk
memiliki habitat bersubstrat lumpur berpasir dapat kehidupan biota laut dengan toleransi perubahannya
dipelihara di dalam keramba, ukuran panjang cangkang <0,2 (Anonim, 2004). Kekeruhan di perairan laut sekitar
awal saat penebaran berkisar antara 17,24 mm hingga 5-10 NTU. Tinggi rendahnya kekeruhan dipengaruhi
22,65 mm dengan ukuran rata-rata mencapai 20,92 oleh partikel yang terdapat pada perairan tersebut.
mm serta kisaran bobot antara 3,92 gram hingga 9,06 Makin tinggi partikel makin tinggi nilai kekeruhannya.
gram. Setelah masa pemeliharaan selama 1 bulan
panjang cangkang rata-rata mencapai 22,19 mm
atau terjadi pertambahan cangkang sebesar 1 mm.
Pertumbuhan cangkang anakan kerang darah terus

Gambar 6. Grafik Pertumbuhan Rata-rata Cangkang Siput Gonggong (Strombus turturella) masa
pemeliharaan selama 7 bulan.

72
Kualitas Air yang Mendukung Potensi Budidaya...Aspek Mikrobiologi (Sutiknowati, L.I.)

Gambar 7. Grafik Pertumbuhan Rata-rata Cangkang Kerang darah (Anadara granosa) masa pemeliharaan
selama 7 bulan.

Gambar 8. Siput Gonggong (Strombus turturella) Gambar 9. Kerang darah (Anadara granosa)

KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kondisi lingkungan perairan mendukung


upaya pembesaran kekerangan siput
Berdasar hasil pengamatan kualitas perairan gonggong dan kerang darah.
P. Pari dari segi mikrobiologi dan hasil pemeliharaan
kekerangan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Saran
1. Bakteri koliform dan E.coli yang ditemukan
di permukaan perairan menunjukkan bahwa Perairan Pulau Pari dapat dijadikan sebagai
perairan Pulau Pari tercemar. lokasi alternatif untuk tempat budidaya kekerangan
2. Siput gonggong (Strombus turturella) dan seperti siput gonggong dan kerang darah di luar habitat
kerang darah (Anadara granosa) yang aslinya, sesudah diperoleh hasil Penelitian bahwa
dipelihara di perairan P. Pari mampu tumbuh kualitas perairan P. Pari masih bagus dan kesuburan
dengan baik serta mampu melakukan perairan tinggi dan dapat dimanfaatkan oleh siput
rekruitmen (penambahan individu baru) gonggong dan kerang darah sebagai sumber nutrisinya.
walaupun dalam jumlah yang terbatas.
3. Kesuburan perairan P. Pari masih tinggi PERSANTUNAN
didukung oleh kepadatan bakteri heterotrofik
di perairan maupun sedimennya serta Disampaikan kepada para peneliti yang terlibat
kepadatan fitoplankton. dalam Penelitian ini yang dibiayai oleh Program Insentif
4. Terdapat bakteri patogen dengan beberapa Peneliti dan Perekayasa (PIPP) Ristek Tahun Anggaran
marga yang dianggap tidak berbahaya seperti 2010 dan hasil Penelitian sudah disampaikan pada
Aeromonas, Citrobacter, Pseudomonas, Seminar ISOI PIT VIII di Makassar, 25-27 September
Proteus, Yersinia dan Shigella. 2011.

73
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 65-75

DAFTAR PUSTAKA of potential human pathogens. Applied &


Environmental Microbiology. Vol. 47(5): 1054-
Anonim. (2004) Keputusan Menteri Negara Lingkungan 1061.
Hidup, No.51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu
Air Laut. Kumpulan Peraturan Pengendalian Girard, F., Batisson, I., Frankel, G., Harel, J. & Fairbrother.
Kerusakan Pesisir dan Laut, sub bab Baku Mutu J.M. (2005) Interaction of enteropathogenic and
Air Laut. Jakarta. Lampiran III. 2 : 20-26. Shiga-Toxin producing Escherichia coli with
porcine intestinal mucosa: Role of Intimin and Tir
Aksornkoae.(1993) Ecology and management of in adherence. Infection and Immunity 73: 6005-
mangrove. IUCN, Bangkok, Thailand, : 42 pp. 6016.

Bitton, G & Harvey, R.W. (1993) Transport of pathogens Hadioetomo, R.S., (1993) Mikrobiologi dasar dalam
through soils and aquifers. Environmental praktek. PT. Gramedia, Jakarta. pp: 74-76.
Microbiology in R. Mitchell / Ed. Willey-Liss Inc,
New York, USA: 103-124. Hutomo, M. (1985) Telaah ekologik komunitas ikan
pada padang lamun (seagrass, Anthophyta) di
Baqueiro, E., Murillo, D. & Medina, C.M. (2000) perairan teluk Banten. Disertasi, Fakultas Pasca
Biological aspects of the conch fishery resource Sarjana, IPB.
in the northern area of the state of Campeche,
Mexico. (In Spanish: Aspectos biológico Hobbie, J.E., Daley, R.J. & Jasper, S. (1977) Use
pesqueros del recurso caracol en la zona norte Nucleophore filters for counting bacteria by
del estado de Campeche, México). Proc. Gulf Fluorescense Microscopy. Applied & Environment
Carib. Fish. Inst. 51: 16-59. Microbiology, 33: 1225-1228.

Barrow, G.I. & Miller, D.C. (1976) Vibrio Jawetz, E., Melnick, J.L. & Adelberg, E.A. (1982)
parahaemolyticus and seafood. In: Microbiology Review of medical microbiology. Lange Medical
in agriculture, fisheries and food. Academic Press, Publications, Los Altos, California, U.S.A: 250 pp.
London: 365
Lay, B. (1994) Analisis Mikroba di Laboratorium. Raja
Darmayati, Y., (2010) Bioremediation of crude oil Grafindo Persada, Jakarta.
contaminated sediment using slow release
fertilizer: Hydrocarbonoclastic Bacteria Lignell, R., (1992) Factors Controlling Phyto- and
Population Dynamics. Ilmu Kelautan 200 Vol. I, Bacterioplankton in late Spring on a Salinity
Edisi Khusus. Gradient in the Northern Baltic. Marine Ecology
Progress Series vol. 84 : 121-131.
Dody, S. & Marasabessy, M.D. (2007a) Pengelolaan
sumberdaya siput gonggong (Strombus turturella) Mardesyawati, A & Timotius, S. (2010) Pembelajaran
di Teluk Klabat, Bangka Belitung. Makalah. pengelolaan terumbu karang Kepulauan Seribu
Dibawakan pada Seminar Kompetitif Kaltim 2002-2009: melalui pendekatan pengelolaan
Babel, Jakarta, 3-4 September 2007. perikanan ornmental, pendidikan & pelatihan,
dan ekowisata berbasis masyarakat. Yayasan
Dody. S. & Marasabessy, M.D. (2007b) Sebaran Terumbu Karang Indonesia, Jakarta: 10-68 hlm.
spasial siput gonggong (Strombus turturella) di
Teluk Klabat. Makalah dibawakan pada Seminar Mitra, B. K. & Takahata, Y. (2008) Field bioremediation
Nasional Moluska dalam Penelitian, Konservasi test for petroleum-contaminated marine beach
dan Ekonomi. Fakultas Perikanan dan Ilmu using slow release fertilizer in Indonesia. Report
Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang 17 In: www.google.com.
Juli 2007.
Praseno, D.P. & Sugestiningsih. (2000) Retaid Di
Erftemeijer, P.L.A. (1993) Differences in nutrient perairan Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian
concentration and resources between seagrass Oseanografi LIPI: 82 hal.
communities on carbonate and terigenous
sediments in South Sulawesi, Indonesia. Bull. Rheinheimer, G. (1980) Aquatic microbiology, 2nd. A
Mar. Sci., 54: 403-419. Willey Interscience Publication, Chichester: 225
pp.
Faghri, M.A, Pennington, C.L., Cronholm, L.S. & Atlas,
R. M. (1984) Bacteria associated with crabs from Rheinheimer, (1984) Interrelationship between bacteria
cold waters with emphasis on the occurrence and phytoplankton in a marine area. Ed du CNRS,

74
Kualitas Air yang Mendukung Potensi Budidaya...Aspek Mikrobiologi (Sutiknowati, L.I.)

Paris : 101-106.

Stern, P.A. & Wolff, M. (2006) Population dynamics


and fisheries potential of Anadara tuberculosa.
Rev. Biol. Trop. Vol. 54 (1): 87-99.

Suhendar, I.S. & Heru D.W. (2007) Kondisi Pencemaran


Lingkungan Perairan di Teluk Jakarta. Vol.3, No.1.

Suminto & Hirayama, K. (1993) Relation between


diatom growth and bacterial population in semi
mass culture tanks of diatom. Bull.fac.Fish.,
Nagasaki Universitas (74/75): 37-41.

Sutiknowati, L.I. & Ruyitno, N. (2008) Studi bakteriologis


dan peruntukkannya terhadap budidaya pada
perairan Teluk Klabat, Kepulauan Propinsi
Bangka Belitung. Oseanologi dan Limnologi di
Indonesia 34: 101-115.

WHO (World Health Organization), (1977) Guidelines


for Health Related Monitoring of Coastal Water
Quality. Copenhagen. pp: 165.

World Health Organization, (1982) Bacteriological


Examination. In: Examination of Water Pollution
Control (M.J. Suess, ed.), Vol.3:273-531.

Zimmerman, R. & Meyer-Reil, L.A. (1974) A new method


for Fluorecsence staining of bacterial populations
on membrane filter. Kieler Meeresforsch, 30: 24-
27.

75
Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Selat Makassar: Pendekatan Wavelet (Sukoraharjo, S.S.)

VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-A


DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR: PENDEKATAN WAVELET
Sri Suryo Sukoraharjo1)
1)
Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan, Balitbang Kelautan dan Perikanan -KKP

Diterima tanggal: 1 Desember 2011; Diterima setelah perbaikan: 13 Agustus 2012; Disetujui terbit tanggal 24 Oktober 2012

ABSTRAK

Perairan Indonesia tak dapat dipisahkan dari pengaruh dinamika regional di Samudera Pasifik dan
Samudera Hindia. Akibat dari pengaruh ini aliran Arus Lintas Indonesia (Arlindo) mengalami variabilitas
tinggi seperti variabilitas konsentrasi klorofil-a yang merupakan salah satu parameter dalam menentukan
produktivitas primer di laut. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a sangat terkait dengan kondisi
oseanografis suatu perairan. Tulisan ini membahas variabilitas konsentrasi klorofil-a di sumber awal Arlindo
dan hubungannya dengan kelimpahan konsentrasi klorofil-a di Perairan Selat Makassar. Massa air Arlindo
dengan kandungan konsentrasi klorofil-a rendah saat melalui Perairan Selat Makassar mengalami peningkatan
konsentrasi klorofil-a sehingga kesuburan perairan di sekitar Selat Makassar menjadi relatif lebih tinggi

Kata kunci: variabilitas klorofil-a, Arlindo, Selat Makassar

ABSTRACT

Indonesian waters could not be separated from the influence of regional dynamics in The Pacific Ocean
and Indian Ocean. As a result of these influences Indonesian Throughflow (ITF) experiences high variability such
as the variability of chlorophyll-a concentration, that is a parameter in determining the primary productivity in the
sea. Distribution of high and low concentrations of chlorophyll-a is strongly associated with an oceanographically
condition. This paper desribes the variability of chlorophyll-a concentration in the initial source of ITF and its
relationship with the abundance of chlorophyll-a concentrations in the waters of Makassar Strait. The ITF water
mass with low content of chlorophyll-a concentration as through the waters of Makassar Strait has increased the
concentration of chlorophyll-a so that the fertility waters around The Makassar Strait has become relatively higher.

Keywords: variability chlorophyll-a, Indonesian Throughflow, Makassar Strait

PENDAHULUAN klorofil-a selain intensitas cahaya dan kandungan zat


hara adalah suhu dan arus (Tomascik et al., 1997).
Perairan Indonesia tak dapat dipisahkan dari
pengaruh dinamika regional di Samudera Pasifik dan Akibat pengaruh gelombang dan gerakan massa
Samudera Hindia. Pengaruh dinamika regional ini air, konsentrasi klorofil terdistribusi baik secara vertikal
berakibat pada aliran Arus Lintas Indonesia (Arlindo) maupun horisontal. Distribusi secara horisontal lebih
mengalami variasi baik variasi periode musiman, banyak dipengaruhi oleh arus permukaan, yang
antar musiman sampai antar tahunan (Wajsowicz & merupakan gerakan massa air permukaan yang
Schneider 2001; Schott & McCreary 2001). Massa air ditimbulkan oleh kekuatan angin yang bertiup melintasi
Arlindo ini merupakan bagian integral dalam sirkulasi permukaan air. Di laut, air permukaan menjadi panas
termohalin global dan iklim global, serta menjadi saat siang hari dan menjadi dingin saat malam hari.
pusat keragaman biologi dan perikanan (Veron, 1995). Silih bergantinya pemanasan dan pendinginan ini akan
Produktivitas laut umumnya tinggi terjadi di daerah mengubah kerapatan air dan mengakibatkan adanya
tropis, yang merupakan zona 100N - 100S (Longhurst, sel-sel konveksi, yaitu massa air akan naik atau turun
1993), di mana Perairan Indonesia termasuk di dalam kolom air sesuai kerapatannya. Gerakan sel-
dalamnya. sel konveksi ini sangat lemah dan dapat mengangkut
organisme planktonik (Rohmimohtarto & Juwono,2003).
Produktifitas perairan tinggi diidentifikasikan
dengan tingginya konsentrasi klorofil-a di perairan Sebaran konsentrasi klorofil-a pada umumnya
tersebut. Konsentrasi klorofil-a merupakan salah satu tinggi di perairan pantai sebagai akibat dari suplai
parameter yang sangat menentukan produktivitas nutrien tinggi yang berasal dari daratan melalui
primer di laut. Sebaran dan tinggi rendahnya limpasan air sungai, dan rendah di perairan lepas
konsentrasi klorofil sangat terkait dengan kondisi pantai. Meskipun demikian konsentrasi klorofil-a
oseanografis perairan. Beberapa faktor oseanografi tinggi dapat ditemukan pula di perairan lepas pantai,
yang berpengaruh dalam distribusi konsentrasi disebabkan adanya proses sirkulasi massa air
Korespondensi Penulis:
Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430. Email: suryo_dkp@yahoo.com 77
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 77-87

mengangkut nutrien dengan konsentrasi tinggi dari Data klorofil-a yang digunakan adalah data citra
perairan dalam ke permukaan yang dikenal sebagai satelit penginderaan jauh MODIS level 3, yang
fenomena upwelling. merupakan data delapan harian, dengan spasial grid
data 0,050 bujur x 0,050 lintang, diunduh dengan format
Studi menggunakan data satelit warna NetCDF dari http://noaa.gov/PRODUCTS dari tahun
laut (ocean color) telah banyak dilakukan untuk 2003-2008. Pengelolaan data klorofil-a dilakukan
mengetahui sebaran global fitoplaknton (Yoder dengan menggunakan perangkat lunak ferret yang
& Kennelly, 2003), serta pola spasial fitoplankton berfungsi sebagai alat analisis untuk meng-gridding
(Holm - Hansen et al, 2004; Moore & Abbott, 2000), data dalam jumlah banyak dan komplek menjadi rata-
biomassa fitoplankton (Kinkade et al., 1997), kajian rata klimatologi yang mengacu pada data iklim dengan
konsentrasi klorofil-a (Zhang et al., 2006), serta interpretasi data yang banyak. Pada tulisan ini, data
variabilitasnya pada musim panas (Korb et al., 2004; delapan harian menjadi rata-rata klimatologi bulanan
Smith et al., 1998), produktivitas primer (Dierssen dan deret waktu dengan menggunakan perangkat
et al., 2000; Smith et al., 2001), dan banyak lainnya. lunak ferret.
Penelitian tentang massa air Arlindo melalui Perairan
Selat Makasar yang menyebabkan perairan tersebut Data klorofil-a dianalisis secara spasial dan
menjadi subur masih jarang dijumpai. Tulisan ini temporal untuk melihat pola sebarannya yang dapat
membahas variabilitas konsentrasi klorofil-a di lokasi menunjukkan fenomena laut seperti kenaikan massa
awal Arlindo dan hubungannya dengan kelimpahan air (Upwelling). Data klorofil-a untuk selanjutnya diolah
konsentrasi klorofil-a di Perairan Selat Makasar dengan menggunakan pendekatan wavelet transform
dengan menggunakan pendekatan wavelet. (Torrence, & Compo, 1998) berupa: 1). Continuous
wavelet transform untuk mendeteksi kemungkinan
METODE PENELITIAN adanya hubungan antara dua deret waktu secara
bersamaan dan proses sebab akibat di antara
Wilayah pengamatan dalam tulisan ini mencakup keduanya; 2). Cross wavelet transform yang akan
Laut Sulawesi, Selat Makassar dan perairan di selatan memunculkan fase power dan relatif dalam domain
Selat Makassar. Untuk memudahkan analisis, wilayah frekuensi-waktu; dan 3. Wavelet coherence, untuk
pengamatan dibagi menjadi 6 bagian yaitu Sul1, Sul2 mengetahui koherensi yang signifikan dari data yang
(Laut Sulawesi), MK1, MK2, MK3 (Selat Makassar) diolah. Pendekatan wavelet transform dilakukan untuk
dan MK4 (selatan Selat Makasar), seperti terlihat pada mengidentifikasikan daerah dalam ruang waktu
Gambar 1. frekuensi atau periode pada dua deret waktu berbeda

Gambar 1. Peta daerah pengamatan.

78
Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Selat Makassar: Pendekatan Wavelet (Sukoraharjo, S.S.)

(Torrence & Compo, 1998). Fase yang berkorelasi satu meningkat hingga April (0,5 - 0,8 mg m-3), terutama
dengan yang lainnya digambarkan dengan anak panah. pada sisi barat Perairan Selat Makasar dibandingkan
Hubungan in phase digambarkan dengan anak panah sisi timurnya. Relatif tingginya konsentrasi klorofil-a di
ke kanan dan hubungan anti phase dengan anak sisi barat perairan Selat Makasar diduga disebabkan
panah ke kiri (Grinsted et al., 2004). adanya beberapa sungai besar, seperti Sungai Berau
dan Makaham yang memasok nutrient tinggi, terutama
Wavelet transform merupakan fungsi matematik pada musim hujan (musim barat). Hal ini terlihat
yang membagi-bagi data menjadi beberapa komponen dari variablilitas konsentrasi klorofil-a pada Januari -
frekuensi yang berbeda-beda, kemudian dilakukan Febuari, dan berlanjut ke awal musim peralihan I Maret
analisis untuk masing-masing komponen menggunakan - April (Gambar 3). Pada Mei variabilitas yang tinggi di
resolusi yang sesuai dengan skalanya (Graps, 1995). sisi barat perairan sudah tidak terlihat dan diganti oleh
Metode wavelet transform ini dapat digunakan untuk konsentrasi klorofil-a yang lebih rendah (0.17 – 0.20
menapis data atau meningkatkan mutu kualitas data; mg m-3). Variabilitas konsentrasi klorofil-a rendah pada
dapat juga digunakan untuk mendeteksi fenomena Bulan Mei terlihat dari utara ke selatan sepanjang
varian waktu serta dapat digunakan untuk pemampatan garis MK1 - MK3. Pola yang serupa juga terlihat pada
data (Foster et al., 1994). Kepentingan penggunaan Oktober dan November.
wavelet transform ini berdasarkan pada fakta bahwa
dengan wavelet transform akan diperoleh resolusi Di Perairan Selat Makasar bagian selatan
waktu dan frekuensi yang jauh lebih baik daripada (MK4) tampak konsentrasi klorofil-a relatif lebih tinggi
metode-metode lainnya seperti Transformasi Fourier (0,30 - 0,35 mg m-3) pada Juni-Agustus (musim timur)
maupun Transformasi Fourier Waktu Pendek (Short dibandingkan bagian tengah (MK2, MK3) dan utara
Time Fourier Transform). Berdasarkan pada analisis ini (MK1) Perairan Selat Makasar, konsentrasi klorofil-a
diharapkan dapat diketahui adanya pengaruh musim terus meningkat sampai Agustus kemudian berangsur-
dengan menginterpretasi periodisitas data yang angsur menurun pada Oktober. Hal ini konsisten
dominan. dengan dugaan terjadinya kenaikan massa air
(upwelling) di perairan tersebut, yang dipengaruhi oleh
HASIL DAN PEMBAHASAN pergerakan angin saat musim timur yang bergerak
dari arah tenggara (Australia) menuju Asia melewati
Konsentrasi Klorofil-a Indonesia dibelokan ke arah utara ketika melewati
ekuator (Ilahude,1970).
Gambar 2 dan Gambar 3, masing-masing
memperlihatkan konsentrasi klorofil-a rata-rata Pada Gambar 4 diperlihatkan kekuatan spektrum
klimatologi bulanan pada periode Juni-Nopember dan wavelet dari konsentrasi klorofil-a. Konsentrasi
Desember-Mei 2002–2010. Variabilitas konsentrasi klorofil-a di setiap lokasi pengamatan (Sul1, Sul2, MK1,
klorofil-a sangat kecil dengan kisaran 0.05– 0.65 mg m-3 MK2 dan MK3, serta MK4). Konsentrasi klorofil-a untuk
dari bulan ke bulan. Di Perairan Sulawesi (Sul1 dan Sul2) perairan Sul1 terlihat memiliki periode musim yang
konsentrasi klorofil-a pada musim timur (Juni -Agustus) tidak terjadi sepanjang tahun pengamatan, hanya pada
dan musim peralihan II (September-Nopember) Tahun 2004 dan 2008 dengan kekuatan spektrum 0,8
relatif homogen dengan kisaran 0,05 - 0,10 mg m-3. – 1,6. Pada perairan Sul2, periode musim tidak terlihat
Konsentrasi klorofil-a pada musim barat (Desember jelas dengan kekuatan spektrum 0,8 - 1, periode musim
- Februari) terlihat relatif lebih tinggi dibandingkan yang terlihat pada 2004 dan 2008 dengan kekuatan
musim timur dan peralihan II, sedangkan konsentrasi spektrum 0,6 – 0,8. Pada perairan MK1, periode musim
klorofil-a pada musim peralihan I (Maret - Mei) juga tidak terlihat jelas, sedangkan periode musim
tampak relatif lebih rendah dibandingkan musim barat. pada 2003 dan 2006 dengan kekuatan spektrum 1,2 –
1,4. Pada perairan MK2 terlihat adanya periode musim
Di Perairan Selat Makasar (MK2 dan MK3) sepanjang tahun dengan kekuatan spektrum 0,6 – 1,2.
konsentrasi klorofil-a saat musim timur relatif lebih Periode musim dengan kekuatan spektrum 1,4 – 1,6
tinggi (0,2 - 0,35 mg m-3) dan cenderung meningkat terlihat pada 2005. Pada perairan MK3,. periode
terutama di bagian selatan perairan. Pada musim musim terlihat sepanjang tahun pengamatan dengan
peralihan II, konsentrasi klorofil-a tampak lebih rendah kekuatan spektrum 1,0 – 1,2. Periode musim Tahun
(0,1 - 0,3 mg m-3) dibandingkan saat musim timur. 2003 dan 2006 dengan kekuatan spektrum 1,2 – 1,4.
Pada musim barat dan musim peralihan I konsentrasi Untuk perairan MK4 terlihat periode musim dengan
klorofil-a tinggi (0,35 - 0,8 mg m-3) terlihat di sekitar kekuatan spektrum 1,2 – 1,4.
Kalimantan Timur dan tampak bergerak ke tenggara
Selat Makassar dan berangsur-angsur menghilang
pada Mei. Variabilitas bulanan konsentrasi klorofil-a
di Perairan Selat Makassar tampak terlihat relatif
lebih tinggi pada Januari dan cenderung semakin

79
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 77-87

Juni September

3
Mg/m

Juli Oktober

Agustus Nopember

Gambar 2. Konsentrasi klorofil-a rata-rata klimatologi bulanan Juni 2002 – Nopember 2010.

Konsentrasi Klorofil-a Saat Periode El Niño dan La yang relatif sama terjadi pula pada kejadian El Niño
Niña periode Mei 2006 – Januari 2007 dan El Niño periode
Bulan Oktober 2009 – Februari 2010 dengan kisaran
Gambar 5, memperlihatkan grafik deret waktu konsentrasi klorofil-a terendah terdapat di perairan
konsentrasi klorofil-a di perairan Sul1, Sul2, dan Sul1, yaitu antara 0,01 – 0,05 mg m-3 dan tertinggi
MK1. Konsentrasi klorofil-a selama fenomena El Niño dijumpai pada perairan MK1 0,04– 0,07 mg m-3.
periode Maret 2002 - Januari 2003, untuk perairan
Sul1 berkisar antara 0,01 – 0,05 mg m-3 relatif rendah Konsentrasi klorofil-a pada fenomena La Niña
dibandingkan perairan Sul1 dan MK1. Konsentrasi periode Juni 2007 – Februari 2008 di perairan Sul1
klorofil-a tertinggi terjadi di perairan MK1 dengan nilai memiliki kisaran yang rendah, yakni antara 0,01 –
konsentrasi berkisar antara 0,04 – 0,07 mg m-3. Pola 0,02 mg m-3. Konsentrasi klorofil-a tertinggi ditemukan

80
Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Selat Makassar: Pendekatan Wavelet (Sukoraharjo, S.S.)

pada perairan MK1 antara 0,06 – 0,08 mg m-3. Pola tahun pengamatan disebabkan perairan Sul1 dan
yang mirip dijumpai pula pada fenomena La Niña Sul2 masih dipengaruhi massa air Perairan Pasifik
periode Agustus 2008 – April 2009, di mana Utara yang memiliki konsentrasi klorofil-a yang juga
konsentrasi klorofil-a pada perairan Sul1 berkisar rendah dan hal ini berdampak lanjut pada massa air
antara 0,01 – 0,02 mg m-3 sedangkan tertinggi di permukaan di Laut Sulawesi.
perairan MK1, yaitu antara 0,06 – 0,08 mg m-3. Secara
umum kisaran konsentrasi klorofil-a pada periode La Kekuatan Spektrum Koherensi Konsentrasi
Niña lebih tinggi dibandingkan pada periode El Niño. Klorofil-a
Tingginya konsentrasi klorofil-a di perairan MK1 diduga
akibat pengaruh curah hujan yang membawa nutrient Analisis kekuatan spektrum koherensi konsentrasi
dari darat masuk ke laut. Di perairan Sul1 dan Sul2 klorofil-a dilakukan untuk mengetahui hubungan
terlihat konsentrasi klorofil-a relatif rendah sepanjang antar daerah pengamatan dengan menggunakan

Desember Maret

3
Mg/m

Januari April

Februari Mei

Gambar 3. Konsentrasi klorofil-a rata-rata klimatologi bulanan pada periode Desember 2002 – Mei 2010.

81
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 77-87

Gambar 4. Power spektrum Wavelet dari konsentrasi klorofil-a.

analisis Cross Wavelet Transform (XWT) dan Wavelet anti phase pada periode 48- 64 minggu. Gambar 6b
Coherence (WTC). Gambar 6, memperlihatkan XWT memperlihatkan XWT untuk perairan Sul2 dan MK1
di perairan Sul1, Sul2, MK1, MK3, dan MK4. Secara sekitar 2004-2010. XWT untuk daerah pengamatan
umum periode musim tampak pada setiap daerah ini memperlihatkan in phase di hampir semua bagian,
pengamatan. Pada Gambar 6a, periode spektrum yang mengindikasikan adanya hubungan konsentrasi
tampak pada minggu ke 16-24 atau periode musim klorofil-a antara perairan Sul2 dengan MK1. XWT yang
sekitar Tahun 2007 (250 minggu) dan Tahun 2009 (350 diperlihatkan pada Gambar 6c memiliki periode yang
minggu). Periode musim (48–64 minggu) terlihat sekitar mirip seperti perairan Sul1 dan MK1 sekitar periode
Tahun 2008 – 2010 (275–366 minggu). XWT untuk 2003-2010 dan periode musim (16-24 minggu) sekitar
daerah pengamatan Sul1 dan Sul2 menunjukkan in tahun 2008.
phase pada periode 16-24 minggu dan menunjukkan

82
Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Selat Makassar: Pendekatan Wavelet (Sukoraharjo, S.S.)

Gambar 5. Deret waktu konsentrasi klorofil-a di Sul1 (atas), Sul2 (tengah) dan MK1 (bawah).

Gambar 6d merupakan XWT daerah pengamatan untuk mendapatkan korelasi yang cukup signifikan
MK3 dan MK4 yang memperlihatkan anti phase dengan tingkat kepercayaan yang lebih baik.
dengan periode musim (48-60 minggu) pada 2002 -
2008, terlihat pula ada periode musim (20-28 minggu) Gambar 7. memperlihatkan WTC pada daerah
yang menunjukkan in phase pada 2003-2004 dan pengamatan Sul1, Sul2, MK1, MK3, dan MK4. Secara
2008. Informasi yang diperoleh dari XWT berupa ada umum periode musim tampak pada setiap daerah
dan tidaknya indikasi hubungan masih cukup rendah pengamatan. Periode ini menunjukkan kesamaan
dan cukup sulit untuk mengetahui apakah informasi dengan periode musim yang diperlihatkan XTC. Hal ini
yang diberikan itu hanyalah kebetulan atau memang mengindikasikan bahwa periode musim terjadi dengan
hal yang sebenarnya. Diperlukan pendekatan WTC konsisten di daerah pengamatan.

83
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 77-87

Gambar 6. Cross Wavelet Transform (XWT) konsentrasi klorofil-a daerah pengamatan Sul1, Sul2, MK1,
MK3 dan MK4.

Gambar 7a menunjukkan hubungan in phase pengamatan Sul1 dan Sul2. Gambar 7b memperlihatkan
di daerah yang signifikan untuk pengamatan Sul1 hubungan in phase untuk daerah pengamatan Sul2
dan Sul2 dengan periode musim (18–24 minggu) di dan MK1 dengan periode musim (4-16 minggu) sekitar
sekitar Tahun 2005 – 2010 dengan time lag (jeda Tahun 2008, periode musim (32–58 minggu) sekitar
waktu) 1,333 minggu dan periode 96 minggu sekitar Tahun 2004-2010. Gambaran ini memperlihatkan
Tahun 2008-2010 dengan jeda waktu 5,333 minggu. adanya hubungan konsentrasi klorofil-a di daerah
Hal ini menunjukkan adanya hubungan antar daerah pengamatan Sul2 dengan MK1. WTC pada Gambar

84
Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Selat Makassar: Pendekatan Wavelet (Sukoraharjo, S.S.)

7c memperlihatkan gambaran yang hampir mirip anti phase yang berada sekitar Tahun 2002-2004. Hal
Gambar 7b dengan periode musim sekitar 32–64 tersebut mengindikasikan bahwa konsentrasi klorofil-a
minggu di sepanjang tahun pengamatan. Gambar antara daerah pengamatan MK3 dan MK4 mempunyai
7d memperlihatkan in phase dengan periode musim keterkaitan yang cukup baik.
(16 - 24 minggu) untuk daerah pengamatan MK3 dan
MK4 yang terlihat sekitar Tahun 2003-2009. Periode Gambaran umum dari pendekatan WTC
musim (32-64 minggu) pada Gambar 6d menunjukkan memperlihatkan bahwa konsentrasi klorofil-a di perairan

Gambar 7. Wavelet Coherence (WTC) konsentrasi klorofil-a daerah pengamatan Sul1, Sul2, MK1, MK3 dan
MK4.

85
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 77-87

Sul1 dengan Sul2, Sul2 dengan MK1 dan MK1 dengan Applications. Di dalam: 64th Annual International
dengan MK3 memiliki keterkaitan yang cukup kuat, Meeting Soc Expl Geophys. page 1465 – 1468.
dengan konsentrasi klorofil-a yang rendah di daerah
Sul1. Pada saat berada di daerah MK3 konsentrasi Graps, A. (1995) An Introduction to Wavelets. IEEE
klorofil-a menjadi relatif tinggi sehingga patut diduga Computational Science and Engineering, vol.2,
adanya faktor pengayaan nurtient dari Perairan Delta num.2, IEEE Computer Society, Loas Alamitos –
Mahakam, sedangkan daerah MK3 dengan MK4 tidak CA, USA.
memiliki keterkaitan yang cukup baik. Hal ini diduga
konsentrasi klorofil-a di daerah MK4 dipengaruhi oleh Grinsted, A., Moore, J.C., & Jevrejeva, S. (2004).
kenaikan massa air dan pergerakan massa air Laut Apllication of the cross wavelet transform and
Flores. wavelet coherence to geophysical time series.
Nonlinear Proc. Geophys 11:561-566.
KESIMPULAN
Holm-Hansen, O., Kahru, M., Hewes, C.D., Kawaguchi,
Variabilitas konsentrasi klorofil-a di Perairan S., Kameda, T, & Sushin V.A. (2004) Temporal
Selat Makassar dan sekitarnya dipengaruhi musim. and spatial distribution of chlorophyll a in surface
Konsentrasi klorofil-a saat musim timur lebih tinggi waters of the Scotia Sea as determined by both
terutama di bagian Perairan Selat Makassar. Hal ini shipboard measurements and satellite data.
akibat dari kenaikan massa air (upwelling) di daerah Deep-Sea Research, 51, 1323−133
tersebut.
Ilahude, A. G. (1970) On the Occurance of Upwelling in
Variabilitas konsentrasi klorofil-a di Laut Sulawesi Southern Macassar Strait.
terlihat relatif rendah sepanjang tahun pengamatan
akibat pengaruh rendahnya konsentrasi klorofil-a Kinkade, C., Marra, J., Langdon, C., Knudson,C., &
massa air Perairan Pasifik Utara Ilahude, A.G. (1997) Monsoonal differences in
phytoplankton biomass and production in the
Konsentrasi klorofil-a saat periode El Niño dan La Indonesian Seas: Tracing vertical mixing using
Niña di Laut Sulawesi lebih rendah dibandingkan pada temperature, Deep Sea Res., Part I, 44, 581–592
Perairan Selat Makassar. Rendahnya konsentrasi
klorofil-a tersebut karena masih di bawah pengaruh Korb, R.E., Whitehouse, M.J., & Ward, P. (2004)
massa air perairan Pasifik Utara yang memiliki SeaWiFS in the Southern Ocean: Spatial and
konsentrasi klorofil-a yang juga rendah. Hal tersebut temporal variability in phytoplankton biomass
berdampak lanjut pada massa air permukaan di Laut around South Georgia. Deep-Sea Research, 51,
Sulawesi. 99−116.

Periode musim tampak terlihat dengan Longhurst, A. (1993) Seasonal cooling and blooming
menggunakan analisis kekuatan spektrum koherensi in tropical oceans, Deep Sea Res., Part I, 40,
konsentrasi klorofil-a pada setiap daerah pengamatan 2145–2165.
dan bahwa konsentrasi klorofil-a di Perairan Sulawesi
dan Perairan Selat Makassar memiliki keterkaitan Moore, J. K., & Abbott M.R. (2000) Phytoplankton
yang cukup kuat, dengan konsentrasi klorofil-a yang chlorophyll distributions and primary production
rendah di lokasi awal Arlindo . in the Southern Ocean. Journal of Geophysical
Research, 105, 28709−28722.
PERSANTUNAN
Romimohtarto, K. & Juwana, S. (2003) Biologi Laut,
Terimakasih kepada Dr. Agus Soleh Atmadipoera Ilmu Pengetahuan tentang Biota laut. Djambatan.
atas diskusi dan sarannya untuk penggunaan Jakarta
pendekatan wavelet dalam tulisan ini.
Smith, R. C., Baker, K. S., & Vernet, M. (1998) Seasonal
DAFTAR PUSTAKA and interannual variability of phytoplankton
biomass west of the Antarctic Peninsula. Journal
Dierssen, H. M., Vernet, M., & Smith, R.C. (2000) of Marine Systems, 17, 229−243.
Optimizing models for remotely estimating
primary production in Antarctic coastal waters. Smith, R.C., Baker, K.S., Dierssen, H. M., Stammerjohn,
Antarctic Science, 12, 20−32. S.E., & M. Vernet. (2001) Variability of primary
production in an Antarctic marine ecosystem as
Foster, D.J., Mosher, C.C., & Hassanzadeh. (1994) estimated using a multi-scale sampling strategy.
Wavelet Transform Methods for Geophysical American Zoologist, 41, 40−56.

86
Variabilitas Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Selat Makassar: Pendekatan Wavelet (Sukoraharjo, S.S.)

Schott, F. A. & McCreary, J. P. (2001) The monsoon


circulation of the Indian Ocean. Prog. Oceanogr.,
51, 1–123

Torrence, C., & Compo, G. P. (1998) A practical guide


to wavelet analysis, Bull. Am. Meteorol. Soc., 79,
61– 78

Tomascik, T., Mah, A. J., Nontji, A. & M.K. Moosa,


editors. (1997) The Ecology of the Indonesian
Seas, Part One and Two. Singapore: Periplus
Editions HK Ltd.

Veron, J. E. N. (1995) Corals in Space and Time:


Biography and Evolution of the Scleractinia, 321
pp., Cornell Univ. Press, Ithaca, N. Y.

Wajsowicz, R. C. & Schneider, E. K. (2001) The


Indonesian throughflow’s effect on global climate
determined from the COLA coupled climate
system. J. Climate, 14, 3029–3042.

Yoder, J.A. & Kennelly, M.A. (2003) Seasonal and


ENSO variability in global ocean phytoplankton
chlorophyll derived from 4 years of SeaWiFS
measurements, Global Biogeochem. Cycles,
17(4), 1112, doi:10.1029/2002GB001942.

Zhang, C., Hu, C., Shang, S., Müller-Karger, F. E., Li,


Y., & Dai, M. (2006) Bridging between SeaWiFS
and MODIS for continuity of chlorophyll a
concentration assessments off southeastern
China. Remote Sensing of Environment, 102,
250−263.

87
Analisis Morfostruktur Dan Tomografi...di Kawasan Perairan Halmahera (Triarso, E., et al.)

ANALISIS MORFOSTRUKTUR DAN TOMOGRAFI


UNTUK IDENTIFIKASI KETERDAPATAN AKTIVITAS HIDROTERMAL
BAWAH LAUT DI KAWASAN PERAIRAN HALMAHERA
Eko Triarso1), Haryadi Permana2), Rainer Arief Troa1) & Joko Prihantono1)
1)
Peneliti pada Pusat Penelitian Sumber Daya Laut dan Pesisir, Balitbang Kelautan dan Perikanan - KKP
2)
Peneliti pada Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Bandung
Diterima tanggal: 6 Februari 2012; Diterima setelah perbaikan: 9 Oktober 2012; Disetujui terbit tanggal 5 November 2012

ABSTRAK

Pulau Halmahera dikelilingi oleh laut dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter. Morfologi dasar laut
di sekitar Pulau Halmahera hampir berarah utara-selatan. Fisiografi ini terbentuk oleh penunjaman landai
ke timur dari Lempeng Laut Maluku yang membentuk Busur Gunungapi Halmahera yang aktif sejak 11 juta
tahun lalu. Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis morfostruktur dan tomografi untuk identifikasi
keterdapatan aktivitas hidrotermal bawah laut di kawasan Perairan Halmahera, sebelum dilakukan
pengambilan data melalui ekspedisi kelautan. Kombinasi antara analisis morfostruktur dan tomografi
tersebut dapat menggambarkan pola struktur geologi dan struktur bawah permukaan bumi yang diduga
mempengaruhi keterdapatan aktivitas hidrotermal bawah laut. Berdasarkan pada hasil analisis morfostruktur
dan tomografi, telah diidentifikasikan keterdapatan dua jalur aktivitas hidrotermal dan kegunungapian di
kawasan Perairan Halmahera dan pulau-pulau di sekitarnya yang dipengaruhi oleh sumber magma berbeda.

Kata kunci: morfostruktur, tomografi, aktivitas hidrotermal, Halmahera

ABSTRACT

Halmahera Island is surrounded by the sea to a depth of over 1,000 meters. Morphology of the seabed
around Halmahera Island is nearly north-south trending. Physiography is formed by the slighty angle of subduction
slope to the east of the Molucca Sea Plate forming the active Halmahera volcanic arc since 11 million years ago.
This research was done to analyse the morphostructure and tomography, to identify the submarine hydrothermal
activity in the Halmahera Waters, prior to data collection through marine expeditions. The combination of
morfostructure and tomography analysis can describe structural geology patterns, subsurface structures are
thought to affect the presence of submarine hydrothermal activity. Based on the analysis, it was identified the
presence of two pathways of hydrothermal activity and volcanism in Halmahera Waters, surrounding islands are
affected by different magma sources.

Keywords: morfostructure, tomography, hydrothermal activity, Halmahera

PENDAHULUAN juga membawa kendaraan selam mini tanpa awak


atau ROV (remotely operated vehicle) “Little Hercules”
Penelitian kelautan dengan berbagai aspek yang dilengkapi dengan kamera bawah laut yang
potensi sumber daya mencakup aspek geologi memberikan gambaran langsung adanya aktivitas
kelautan dan oseanografi telah berkembang pesat. hidrotermal berupa cerobong hidrotermal (chimney)
Studi yang dilakukan semakin fokus, umumnya di sekitar gunungapi bawah laut Kawio Barat (Triarso
menggunakan peralatan survey dengan teknologi et al., 2010). Penelitian pada 2011 ini dilakukan pada
yang semakin berkembang. Seperti dalam Ekspedisi wilayah sebelah timur dari area Ekspedisi Index-
Index-Satal 2010, telah dilakukan pemetaan dasar laut Satal Tahun 2010. Fokus lokasi di kawasan Perairan
menggunakan kapal Okeanos Explorer milik NOAA- Halmahera yang merupakan perairan laut dalam.
Amerika Serikat yang dilengkapi dengan peralatan Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk identifikasi
Multibeam Echosounder Kongsberg Simrad EM302. keterdapatan aktivitas hidrotermal bawah laut di
Peralatan ini dapat merekam data kedalaman laut kawasan Perairan Halmahera dengan cara melakukan
hingga mencapai 7.000 m, menampilkan fitur dasar analisis morfostruktur dan tomografi, sebelum
laut beresolusi tinggi (30 arcsecond), dan berhasil dilakukan pengambilan data melalui ekspedisi kelautan.
memetakan + 38.549 km2 perairan laut dalam di
sekitar kawasan Perairan Sangihe-Talaud, serta Pulau Halmahera secara tektonik terbentuk
berhasil mengenali gunungapi bawah laut Kawio oleh penunjaman landai ke timur dari Lempeng Laut
Barat (Triarso et al., 2010). Kapal Okeanos Explorer Maluku (Hamilton, 1979; McCaffrey, 1982; Hall, 2002)
Korespondensi Penulis:
Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430. Email: baong1@yahoo.com 89
J. Segara Vol. 8 No. 2 Agustus 2012: 89-96

yang merupakan lempeng dengan penunjaman ganda. morfologi atau bentang alam bawah permukaan laut
Penunjaman ke arah barat Lempeng Laut Maluku tersebut, analisis morfostruktur dilakukan. Kaidah
membentuk Busur Gunungapi Sangihe yang juga aktif, umum adalah secara geologi bentukan bentang
sedangkan penunjaman ke arah timur membentuk alam dapat terjadi karena adanya pengaruh struktur
Busur Gunungapi Halmahera. Busur Gunungapi geologi yang berkembang, selain pengaruh proses
Halmahera telah aktif sejak 11 juta tahun lalu (Hall eksogen. Jika diamati secara detil, morfologi
et al.,1995). Aktivitas kegunungapian menyebar dari tersebut akan memperlihatkan pola keteraturan,
selatan pulau hingga ke arah utara seperti yang dikenali seperti kelurusan lembah atau punggungan yang
saat ini. Beberapa diantaranya yang masih terus aktif akan mencerminkan bahwa bentang alam tersebut
adalah Gunungapi Tidore di Pulau Tidore, Gunungapi utamanya adalah terbentuk akibat pengaruh struktur
Maitara di Pulau Maitara, Gunungapi Gamalama di geologi yang berkembang dalam kawasan ini.
Pulau Ternate; Gunungapi Ibu, Gunungapi Dukono, dan Berdasarkan pada hasil analisis morfostruktur ini,
Gunungapi Gamkonora di Pulau Halmahera. Di sisi timur didapatkan interpretasi pola struktur yang kemudian
dari Pulau Halmahera terdapat Lempeng Pasifik yang dikaitkan dengan kondisi tektonik regional menurut
bergerak menunjam ke arah barat yang interaksinya literatur atau hasil penelitian yang ada sebelumnya.
membentuk patahan geser menganan Sula-Sorong.
Patahan ini menjadi batas untuk Lempeng Laut Untuk analisis tomografi, data utamanya berupa
Maluku di sisi selatan. Selain itu, aktivitas seismisitas perambatan gelombang seismik yang dipicu oleh
dengan sumber yang cukup dangkal juga menjadi aktivitas kegempaan yang intensif terjadi di daerah
petunjuk bahwa kondisi tektonik dalam kawasan ini penelitian (Gambar 2). Perambatan gelombang
masih terus aktif hingga sekarang. Tatanan tektonik seismik dari sumber gempa akan diterima oleh
aktif yang membentuk sebaran gunungapi di pulau- stasiun seismometer sehingga diketahui waktu
pulau sekitar dan daratan Halmahera tersebut diduga tiba dan waktu perambatan (travel time) di tiap-tiap
juga menerus pada permukaan dasar laut, sehingga stasiun. Dari travel time tersebut pada akhirnya akan
potensi untuk terbentuknya aktivitas hidrotermal dilakukan inversi untuk mengetahui nilai kecepatan
di bawah laut sangat besar kemungkinannya. rambat gelombang (velocity) di dalam medium atau
batuan bawah permukaan bumi. Data yang digunakan
METODE PENELITIAN dalam penelitian ini adalah data tomografi kecepatan
gelombang P (Vp) berdasarkan pada hasil penelitian
Metoda penelitian yang digunakan dalam dari Widiyantoro et al. (2003). Data kegempaan
penelitian ini adalah kombinasi antara analisis sebagai dasar inversi tomografi mengacu kepada
morfostruktur dan tomografi seismik dengan tujuan katalog gempa dari Engdahl et al. (1998). Dari
untuk mendapatkan pola struktur yang berkembang pengolahan data tersebut dihasilkan penampang
di kawasan penelitian di Perairan Halmahera (slab) bawah permukaan bumi (citra tomografi) yang
(Gambar 1) dan melakukan identifikasi keberadaan mencerminkan bentuk dan sifat medium yang dilalui
aktivitas hidrotermal bawah laut. Data utama yang gelombang (cair atau padat), dalam hal ini adalah
digunakan dalam analisis morfostruktur adalah data batuan bawah permukaan bumi. Langkah selanjutnya,
kedalaman laut atau batimetri dari GEBCO (2008). dilakukan interpretasi struktur bawah permukaan
Data ini diolah sedemikian rupa sehingga didapatkan bumi dengan pendekatan kaidah geologi struktur.
bentukan morfologi dasar permukaan laut. Dari bentuk Analisis tomografi pada dasarnya dilakukan dengan

Gambar 1. Lokasi kajian di kawasan Perairan Halmahera.

90
Analisis Morfostruktur Dan Tomografi...di Kawasan Perairan Halmahera (Triarso, E., et al.)

melihat sifat gelombang seismik yang merambat HASIL DAN PEMBAHASAN


dalam suatu medium (di bagian dalam bumi) sehingga
dapat dilihat anomali kecepatan gelombang seismik Analisis Morfostruktur
tersebut. Anomali inilah yang akan mencerminkan
keterdapatan sumber panas (magma) yang Pulau Halmahera yang menyerupai huruf K
mempengaruhi keterdapatan aktivitas hidrotermal dan seperti Pulau Sulawesi dikelilingi oleh laut dengan
kegunungapian. Untuk kebutuhan analisis tomografi kedalaman lebih dari 1.000 meter. Morfologi dasar
dalam penelitian ini, dibuat tiga lintasan penampang laut yang dihasilkan dari pengolahan data batimetri di
yang melintasi Busur Sangihe-Busur Halmahera dan sekitar Pulau Halmahera memperlihatkan pola hampir
Lempeng Pasifik. Secara berurutan lintasan tersebut berarah utara-selatan yang berbeda dari sisi barat ke
ditentukan sebagai lintasan citra tomografi penampang arah timur. Hasil analisis morfostruktur sebagai hasil
utara, penampang tengah, dan penampang selatan dari interpretasi penarikan kelurusan yang berupa
(Gambar 3). Hal ini dilakukan untuk melihat gambaran lembah atau punggungan serta interpretasi bentuk
bawah permukaan dari kawasan perairan Halmahera. morfologi dari kenampakan batimetri di sekitar Pulau
Halmahera dapat dilihat pada Gambar 4. Pada sisi
utara-barat dijumpai lembah sempit dengan kedalaman
lebih dari 3.000 m yang memiliki lebar sekitar 25 km,

Gambar 2. Rekaman berbagai gempa kuat dangkal dengan magnitudo 7 atau lebih sejak tahun 1900
(ditandai dengan diameter simbol lingkaran yang semakin besar pada gambar kiri); Seismisitas
yang terekam sepanjang tahun 2011 (hingga Juni 2011) seperti terlihat pada gambar kanan;
(sumber: NEIC-USGS, 2011).

Gambar 3. Tiga lintasan penampang yang dibuat untuk analisis tomografi, berturut-turut dari atas ke bawah:
lintasan citra tomografi penampang utara, penampang tengah, dan penampang selatan.

91
J. Segara Vol. 8 No. 2 Agustus 2012: 89-96

merupakan bagian dari Palung Sangihe Timur (PST) sumbu punggungan (seperti terlihat dalam Gambar 2).
tempat Lempeng Laut Maluku menunjam ke arah barat
di bawah busur aktif Gunungapi Sangihe. Sementara Dalam Gambar 4 ini, diperlihatkan bahwa
itu, arah akresi sedimen di dalam Palung Sangihe di sisi timur dataran Mayu-Tifore terdapat suatu
Timur bergerak ke arah timur. Lempeng Laut Maluku lembah memanjang berkelok hampir utara-selatan
membentuk double subduction atau penunjaman yang merupakan lembah sempit dengan lebar
ganda, yaitu ke arah barat Palung Sangihe Timur yang 10-30 kilometer pada kedalaman sampai dengan
membentuk Busur Aktif Sangihe dan ke arah timur 3.000 meter. Lembah sempit ini merupakan Palung
membentuk Busur Halmahera. Di bagian tengahnya, Halmahera yaitu bidang penunjaman ke timur dari
membentuk punggungan bawah laut yang memanjang Lempeng Laut Maluku dengan bidang akresi sedimen
baratdaya-utara-timurlaut dengan lebar lebih dari palung berarah ke barat. Pada ujung utara dan selatan
200 kilometer dengan permukaan relatif datar lembah sempit itu dijumpai lembah berbentuk persegi
pada kedalaman 1.500-2.000 meter. Pada sumbu dengan kedalaman mencapai lebih dari 4.000 meter
punggungan tersebut, beberapa daratan muncul ke (1º00’LS-127º00’BT) di bagian selatannya, sedangkan
permukaan menjadi pulau-pulau kecil seperti Pulau di sisi utara (3º00’LU-128º15’BT) kedalamannya
Mayu dan Tifore yang disusun oleh batuan bancuh mencapai lebih dari 3.000 meter. Lembah dalam
ofiolitik. Sumbu punggungan tersebut menerus ke utara tersebut kemungkinan terbentuk karena penurunan
ke arah Kepulauan Talaud. Diantara kemunculan dua setempat (subsidence) akibat pengangkatan daratan
pulau tersebut, punggungan Mayu-Tifore terpotong Halmahera ataupun dapat juga terbentuk akibat patahan
oleh patahan yang diinterpretasikan sebagai Patahan geser (pull-apart) seperti di sisi selatan Halmahera.
Geser Menganan Mayu-Tifore (PMT). Kompleksitas Palung Halmahera menerus ke arah utara hingga
struktur ini menyebabkan banyak terjadi gempa-gempa mencapai sekitar selatan Mindanau, Filipina. Beberapa
dangkal di kawasan ini, terutama terjadi di sepanjang patahan sekunder yang terbentuk terkait dengan

Gambar 4. Peta analisis morfostruktur yang menggambarkan hasil interpretasi pola struktur geologi yang
berkembang di kawasan Perairan Halmahera dan sekitarnya, Maluku Utara (sumber: modifikasi
dari GEBCO, 2008).

92
Analisis Morfostruktur Dan Tomografi...di Kawasan Perairan Halmahera (Triarso, E., et al.)

Palung Halmahera adalah Patahan Ternate (PT) lebar 100 kilometer. Perbukitan dengan kedalaman
seperti terlihat pada Gambar 4 (digambarkan sebagai 3.000 meter sampai kurang dari 2.000 meter diduga
garis merah polos). Patahan tersebut kemungkinan tersusun oleh batuan basalt samudera (BS). Palung
mengontrol kegiatan kegunungapian, panas bumi, Pasifik berbelok ke timur di sekitar 1º30’LU-129º10’BT
serta aktivitas hidrotermal di kawasan Ternate-Tidore- yang kemungkinan menyebabkan kegempaan di
Makian (Gambar 4, digambarkan sebagai garis biru kawasan ini. Di sisi barat Palung Pasifik dibatasi oleh
putus). Gunungapi Gamalama di Pulau Ternate yang suatu tinggian atau punggungan dengan kedalaman
pada Desember 2011 ini aktif, terletak pada kelurusan sekitar 2.000 meter, diduga sebagai punggungan busur
gunungapi tersebut. Sementara itu, kegiatan gunungapi yang menghubungkan Halmahera dengan
kegunungapian muda di daratan Halmahera (Gambar Mindanau di utaranya.
4, digambarkan sebagai garis hijau putus) terkait
langsung dengan penunjaman ke arah timur Lempeng Analisis Tomografi
Laut Maluku. Patahan lainnya yang terkait adalah
Patahan Kao (PKa) yang berarah baratlaut-tenggara Analisis tomografi dilakukan terhadap tiga
merupakan patahan geser menganan yang memotong lintasan yang dibuat melintasi Busur Sangihe-Busur
Patahan Halmahera (patahan anjak), sedangkan Halmahera dan Lempeng Pasifik (seperti terlihat dalam
Patahan Morotai (PMo) sejajar dengan Patahan Kao Gambar 3). Hasilnya berupa citra tomografi kecepatan
merupakan suatu kelurusan yang diduga sebagai gelombang P (Vp) yang dibagi menjadi tiga bagian,
patahan geser ataupun patahan normal. yaitu bagian utara (Gambar 5), tengah (Gambar 6) dan
selatan (Gambar 7) Halmahera.
Patahan utama di daratan Halmahera adalah
Patahan Halmahera yang diinterpretasikan sebagai Dari citra tomografi Vp untuk lintasan bagian
patahan anjak dengan kemiringan ke arah timur utara Busur Sangihe-Busur Halmahera dan Lempeng
(Sukarna et al., 2002; Hamilton, 1979; Hall et Pasifik (terlihat dalam Gambar 5), ditunjukkan
al., 1988). Patahan Halmahera menerus ke utara gambaran struktur selubung bumi di bawah Busur
sepanjang Teluk Kao dan terpotong Patahan Kao Sangihe dan Halmahera. Bentuk U terbalik atau
di sisi utara. Ke arah selatan, Patahan Halmahera penunjamam ganda (McCaffrey R., 1982; Hall, 2002)
sampai di sekitar Teluk Weda Laut Halmahera dan dari Lempeng Laut Maluku (LLM) digambarkan cukup
bertemu dengan sistim Patahan Sula-Sorong (PSS). jelas dengan nilai kecepatan gelombang P (Vp) yang
Pembentukan pegunungan lengan timur Halmahera tinggi (nilai positif), sama seperti halnya dengan
yang disusun oleh batuan dasar Halmahera (BdH) Lempeng Pasifik (LP) di sebelah kanan atas pada
berupa batuan ofiolit atau batuan bancuh diperkirakan Gambar 5 tersebut. Nilai negatif atau rendah dari Vp
terkait dengan Patahan Halmahera dan menjadi alas ditunjukkan berada di bagian bawah Busur Sangihe-
patahan anjak ini. Ke arah timur, pada kedalaman Halmahera yang mengindikasikan medium dengan
laut kurang dari 1.000 meter diduga merupakan hasil kandungan fluida, dalam hal ini adalah magma
pengangkatan batuan kerak samudera menyerupai (Widiyantoro, 2003). Busur gunungapi aktif seperti
batuan dasar ofiolitik seperti yang tersingkap di Pulau Sangihe dan Halmahera dicirikan oleh nilai Vp yang
Gebe (Sukamto, 2002; Hamilton, 1979) melalui suatu rendah (nilai negatif). Oleh karena itu, diperkirakan
patahan anjak yang masih terbenam di dasar laut, yaitu daerah tersebut dipengaruhi oleh sumber magma
Patahan Gebe. Ke arah utara, Patahan Gebe berhenti yang dangkal atau di kawasan tersebut dipengaruhi
pada patahan geser Kao, sedangkan ke selatan oleh fluida hidrotermal. Citra tomografi tersebut sangat
kemungkinan bergabung dengan sistem Patahan Sula- membantu dalam interpretasi konfigurasi morfostruktur
Sorong (PSS). Batuan dasar Halmahera sama dengan yang berkembang di kawasan Halmahera (Gambar
batuan dasar Pulau Obi (BdO), sedangkan Batuan 4). Di sisi timur dari Busur Halmahera teramati nilai
dasar Bacan (BdB) berbeda sumbernya yaitu batuan positif Vp yang diinterpretasikan sebagai batuan kerak
malihan yang berasosiasi dengan batuan kontinental samudera, disebut batuan dasar Halmahera-Gebe
(Sukamto, 2002; Hamilton, 1979). (BdHG) yang naik ke permukaan melalui patahan
anjak Halmahera dan Patahan Gebe. Sementara itu,
Di sisi utara-timur terdapat lembah dengan lebar Lempeng Pasifik (LP) menunjam ke arah barat di
sekitar 50 kilometer dengan kedalaman mencapai bawah batuan dasar tersebut.
lebih dari 5.000 meter yang memanjang berarah
baratlaut-tenggara. Lembah tersebut merupakan suatu Dari citra tomografi untuk lintasan bagian tengah
palung yaitu Palung Pasifik, tempat Lempeng Pasifik Busur Sangihe-Busur Halmahera dan Lempeng Pasifik
menunjam di bawah Busur Halmahera-Mindanau. (dalam Gambar 6), diperlihatkan gambaran struktur
Di ujung tenggara Palung Pasifik menyempit atau bawah permukaan yang sedikit berbeda. Perbedaan
terputus sekitar 2º15’LU-129º45’BT akibat dihimpit utamanya adalah pada sudut penunjaman dari
oleh perbukitan bawah laut yang memanjang utara- Lempeng Laut Maluku (LLM) yang lebih landai dan
selatan dengan panjang lebih dari 200 kilometer dan adanya slab yang berada di bawah Lempeng Laut

93
J. Segara Vol. 8 No. 2 Agustus 2012: 89-96

Gambar 5. Gambaran struktur selubung bumi bagian atas berdasarkan citra tomografi kecepatan gelombang
P (Vp) untuk lintasan bagian utara Busur Sangihe-Busur Halmahera. Kedua busur tersebut
sangat aktif, dicirikan oleh nilai rendah Vp (nilai negatif dengan warna merah).

Gambar 6. Gambaran struktur selubung bumi bagian atas untuk lintasan bagian tengah Busur Sangihe-
Busur Halmahera berdasarkan citra tomografi kecepatan gelombang P (Vp).

94
Analisis Morfostruktur Dan Tomografi...di Kawasan Perairan Halmahera (Triarso, E., et al.)

Gambar 7. Gambaran struktur selubung bumi bagian atas berdasarkan citra tomografi kecepatan gelombang
P (Vp) untuk lintasan bagian selatan Busur Sangihe-Busur Halmahera.

Maluku. Diduga memang benar terdapat slab di bawah yang berbeda. Jalur pertama terletak pada deretan
Lempeng Laut Maluku atau kemungkinan slab tersebut pulau-pulau gunungapi Ternate, Maitara, Tidore, Makian
adalah bagian dari Lempeng Laut Maluku yang sobek yang kemungkinan menerus di bawah perairannya
atau terpisah. Busur Sangihe dan Halmahera tetap berarah selatan-utara dan membelok ke arah barat
dicirikan oleh rendahnya nilai Vp, sedangkan Batuan laut pada ujung utaranya. Jalur ini diduga dipengaruhi
dasar Halmahera-Gebe (BdH-G) sangat jelas terlihat oleh sumber magma dangkal yang dikontrol oleh
karena memiliki nilai Vp yang lebih tinggi. kehadiran Patahan Ternate pada bagian baratnya.
Jalur kedua adalah deretan gunungapi pada daratan
Gambar citra tomografi untuk lintasan bagian Pulau Halmahera yang berarah baratdaya-timur laut
selatan Busur Sangihe-Busur Halmahera dan Lempeng (deretan Gunungapi Gamkonora, Ibu, Dukono) dengan
Pasifik (Gambar 7), menunjukkan bahwa ke arah kemungkinan juga menerus di bawah perairannya
selatan Busur Sangihe-Halmahera struktur selubung terutama di sekitar Perairan Halmahera Utara. Jalur
bumi bagian atas menjadi sangat berbeda. Lempeng tersebut merupakan hasil aktivitas hidrotermal dan
Laut Maluku (LLM) lebih melengkung, lebih dangkal, kegunungapian muda di daratan Halmahera yang
dan terdapat slab di bawah Lempeng Laut Maluku. sumber magmanya adalah terkait langsung dengan
Oleh karena itu, adanya slab di bawah Lempeng penunjaman ke arah timur dari Lempeng Laut Maluku.
Laut Maluku kemungkinan terbesarnya adalah bukan
merupakan sobekan dari Lempeng Laut Maluku. Pola strukur geologi yang berkembang dalam
Sementara itu, Vp di bawah busur gunungapi nilainya kawasan Perairan Halmahera ini merupakan hasil
lebih ke arah nilai positif. Artinya aktivitas hidrotermal interpretasi awal yang hanya didasarkan atas
dan vulkanisme di bagian selatan dari kawasan analisis morfostruktur dan tomografi. Penelitian ke
Perairan Halmahera ini kurang begitu aktif. Lempeng depan diupayakan akan lebih dilengkapi dengan
Pasifik (LP) masih bisa diamati dalam citra tomografi data geofisika lainnya seperti gravitasi, magnet, dan
ini (Gambar 7), tetapi Batuan dasar Halmahera-Gebe data geokimia batuan agar didapatkan pemahaman
(BdH-G) sudah tidak begitu jelas kehadirannya di lebih lanjut tentang keterkaitan antara pola struktur
selatan Halmahera. geologi dan sumber magma yang mengontrol aktivitas
hidrotermal dan kegunungapian dalam kawasan
KESIMPULAN Perairan Halmahera.

Terdapat dua jalur aktivitas hidrotermal dan


kegunungapian di kawasan Perairan Halmahera dan
pulau sekitarnya (pada Busur Halmahera bagian utara
dan tengah) yang dipengaruhi oleh sumber magma

95
J. Segara Vol. 8 No. 2 Agustus 2012: 89-96

PERSANTUNAN Sukamto, R., & Sukarna, ed. D. (2002) Peta Geologi


Regional. Atlas Geologi dan Potensi Sumberdaya
Penulisan ini sebagian besar datanya didapatkan Mineral & Energi, Kawasan Indonesia, skala 1:
dari hasil kegiatan Kajian Morfostruktur dan Aktivitas 10.000.000. P3G, Balitbang ESDM, DESDM, 4p.
Hidrotermal Bawah Laut Kawasan Perairan Halmahera
pada Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir Badan Sukarna, D. ed., Sukamto, R. & Pribadi, D. (2002) Peta
Litbang Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan Batuan Vulkanik Kenozoikum. Atlas Geologi dan
dan Perikananan dalam Tahun Anggaran 2011. Potensi Sumberdaya Mineral & Energi, Kawasan
Indonesia, skala 1: 10.000.000. P3G, Balitbang
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Lili ESDM, DESDM, 7p.
Sarmili, M.Sc dan Ir. C.W. Hersenanto dari Puslitbang
Geologi Kelautan Bandung dan Prof. Sri Widiyantoro, Triarso, E., Troa, R. A., & Prihantono, J., (2010)
Ph.D dari ITB atas masukan dan sarannya dalam Laporan Akhir Kajian Morfostruktur dan Aktivitas
diskusi dan konsultasi yang dilakukan pada Hidrotermal Bawah Laut Kawasan Perairan
pelaksanaan kegiatan ini. Juga disampaikan kepada Sangihe-Talaud, Sulawesi Utara. Puslitbang
Dr. Wahyu S. Hantoro selaku reviewer Jurnal Segara Sumberdaya Laut dan Pesisir - Badan Litbang KP,
yang telah meninjau kembali tulisan ini, sehingga Kementerian Kelautan dan Perikanan (unpublish).
dapat sesuai dengan kaidah karya tulis ilmiah.
Widiyantoro, S. (2003) Complex Morphology of
DAFTAR PUSTAKA Subducted Lithosphere in The Mantle Below The
Molucca Collission Zone from Non-linear Seismic
Engdahl, E. R., van der Hilst, R. D., & Buland, R. (1998) Tomography: Proc. ITB Eng.Science. Vol 35. No
Global Teleseismic Earthquake Relocation With 1, 1-10p.
Improved Travel Times and Procedures for Depth
Determination. Bull. Seism. Soc. Am. 88, 722-
743p.

Hall, R. (2002) Cenozoic Geological and Plate Tectonic


Evolution of SE Asia and The SW Pacific:
Computer-Based Reconstruction, Model and
Animations. Journal of Asian Earth Sciences 20,
Pergamon-Elsevier. 353–431p.

Hall, R., Ali, J.R., Anderson, C.D., & Baker, S.J. (1995)
Origin And Motion History of The Philippine Sea
Plate. Tectonophysics 251, 229–250p.

Hall, R., Audley-Charles, M.G., Banner, F.T., Hidayat,


S., & Tobing, S.L. (1988) Basement Rocks of
The Halmahera Region, Eastern Indonesia: a
Late Cretaceous-Early Tertiary arc and fore-arc.
Journal of the Geological Society of London 145,
65–84p.

Hamilton, W. B. (1979) Tectonic of Indonesian Region.


Denver, US. Govern. Printing office, 159-195p.

McCaffrey R. (1982) Lithospheric Deformation within


The Molluca Sea Arc-Arc Collision: Evidence from
Shallow and Intermediate Earthquake Activity.
Journal of Geophysical Research, vol.87, no.B5,
3663-3678p.

National Earthquake Information Center-NEIC. (2011)


United State Geological Survey (USGS). Tersedia
dalam < http://earthquake.usgs.gov/earthquakes/
map/>

96
Penilaian Kerentanan Pesisir Semarang...Menggunakan Indeks Kerentanan Komposit (Suhelmi, I.R.)

PENILAIAN KERENTANAN PESISIR SEMARANG


TERHADAP KENAIKAN MUKA AIR LAUT
DENGAN MENGGUNAKAN INDEKS KERENTANAN KOMPOSIT
Ifan Ridlo Suhelmi1)
1)
Peneliti pada Pusat Penelitian Sumber Daya Laut dan Pesisir, Balitbang Kelautan dan Perikanan - KKP

Diterima tanggal: 1 November 2011; Diterima setelah perbaikan: 6 November 2012; Disetujui terbit tanggal 13 November 2012

ABSTRAK

Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak fisik dan lingkungan yang beragam.
Tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap fenomena kenaikan muka air laut dapat diukur dengan menggunakan
metode penilai indeks kerentanan. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kerentanan wilayah pesisir
akibat adanya fenomena kenaikan muka air laut. Pemetaan tingkat kerentanan dilakukan dengan menggunakan
pendekatan komposit antara kerentanan fisik dan kerentanan sosial. Kerentanan fisik diukur dengan
memperhatikan faktor jangkauan pasang surut, jarak ke pantai, jenis akuifer, konduktivitas hidrolik, kedalaman
air tanah ke tingkat di atas permukaan laut, debit sungai, kedalaman air di hilir, tingkat kenaikan muka air laut,
geomorfologi, kemiringan lereng pesisir, tinggi gelombang dan tingkat sedimen. Sedangkan aspek kerentanan
sosial antara lain dilihat dari aspek usaha pengurangan pasokan sedimen, pengaturan aliran sungai, rekayasa
teknik wilayah pantai, konsumsi air tanah, pola penggunaan lahan dan perlindungan degradasi alam serta struktur
perlindungan pesisir. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan spasial dengan meggunakan alat Sistem
Informasi Geografis untuk pengolahan dan analisa data. Hasil kajian menunjukkan indeks komposit ini mampu
memberikan gambaran tingkat kerentanan wilayah pesisir terhadap kenaikan muka air laut. Hal ini ditunjukkan
dengan nilai indeks kerentanan Pantai Marina yang lebih rendah dibandingkan dengan Pelabuhan Tanjungemas.

Kata kunci: Indeks kerentanan komposit, kenaikan muka air laut, Sistem Informasi Geografi

ABSTRACT

General sea level rise will produce various physical and environmental impacts. Vulnerability level of an area
related to sea level rise can be estimated by using vulnerability index assessment method. The current research was
conducted to measure the vulnerability of coastal area due to sea level rise. Mapping of vulnerability level is done
through composite approach of physical and social vulnerabilities. Physical vulnerability is estimated by considering
various factors such as tidal range, proximity to coastline, type of aquifer, hydrolic conductivity,depth of ground
water from ground level, volume of river flow, depth of river at the rivermouth, rate of sea level rise, geomophology,
coastal slope, significant wave height and sedimentation rate. Social vulnerability, however, is evaluated among
others from the effort to reduce sediment supply, river flow management, technical engineering of coastal region,
groundwater consumption, landuse pattern and environmental protection and coastal protection structure. The
current approach uses spatial approach by means of Geographic Information System to process and analize data.
The result of this research showed that the composit index was able to determinate the vulnerability of the location.

Keywords: Composit vulnerability index, sea level rise, Geographic Information System

PENDAHULUAN bagi Pemerintah Kota dan kelompok masyarakat


yang terkena dampaknya secara langsung karena
Semarang merupakan salah satu kota pesisir. harus menanggung kerugian fisik bangunan rumah,
Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah ini terus mengalami kerugian sosial penduduk, serta biaya pembangunan
perkembangan dan telah tumbuh menjadi pusat dan pemeliharaan sarana dan prasarana.
kegiatan ekonomi utama dan kota industri di Jawa
Tengah. Arbriyakto & Kardyanto (2006) mengungkapkan Kondisi topografi pesisir Semarang, yang lebih
berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi dikenal dengan Semarang Bawah, memiliki ketinggian
Kota Semarang yang berkaitan dengan fenomena di bawah 2 meter dengan kemiringan yang sangat
kelautan dan dinamika lingkungan antara lain masalah landai antara 0–2%. Dengan besaran pasut yang
rob (limpasan air pasang laut), amblesan tanah antara mencapai 175 cm (Prihatno et al., 2009) menjadikan
15-25 cm per tahun dan banjir setiap musim hujan wilayah tersebut rentan terhadap penggenangan,
(ketika terjadi hujan deras 1 sampai dengan 3 jam). bahkan pada beberapa tempat memiliki ketinggian di
Fenomena alam tersebut membawa konsekuensi bawah permukaan air laut (Bappeda, 2002).

Korespondensi Penulis:
Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430. Email: ifan_ridlo@yahoo.com 97
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 97-106

Kenaikan muka laut disebabkan oleh pemanasan Penilaian kerentanan pesisir terhadap perubahan
global dan land subsidence (Nicholls & Klein,1999 iklim menjadi isu kunci di Eropa (Ramieri et al.
dalam Wibowo, 2006). Intergovernmental Panel on 2011). Berbagai model penilaian kerentanan telah
Climate Change (IPCC) memperkirakan kenaikan dikembangkan seperti yang dilakukan oleh Gornitz
muka air laut secara global dalam kurun waktu et al. (1991), dan semakin berkembang dengan
1990 sampai 2100 mencapai 23-96 cm. Apabila memperhatikan isu pemanasan global seperti yang
kenaikan suhu berlangsung dengan cepat dan terus- dikembangkan oleh Szlafsztein (2005), Ozyurt &
menerus maka akan semakin banyak gletser dan Ergin (2009) dan Gutierrez et al. (2009). Kenaikan
tudung es yang mencair/meleleh. Model kenaikan permukaan laut saat ini merupakan salah satu
muka laut Tahun 1990 sampai 2100 ditunjukan dampak pemanasan global yang paling penting.
pada Gambar 1 (UNEP-GRID Arendal, 2011).
Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka
Dampak kenaikan air laut antara lain adalah penilaian kerentanan suatu pesisir terhadap kenaikan
kejadian erosi, genangan di wilayah pesisir dan muka air laut menjadi penting untuk dilakukan. Pernilaian
hilangnya lahan basah (wetland) yang terakhir ini kaya kerentanan dapat dilakukan dengan menggunakan
akan keanekaragaman hayati (Olivo 1997; Saizar pendekatan scoring terhadap berbagai faktor yang
1997; Titus 1990). Dampak kenaikan permukaan menjadi penentu tingkat kerentanan. Pada penelitian ini
air laut mengancam keberadaan seluruh wilayah dilakukan penilaian menggunakan indeks kerentanan
pesisir Indonesia. Dalam hal ini akibat perubahan komposit yang mempertimbangkan faktor fisik dan
iklim maka terjadinya kenaikan muka air laut di pantai sosial yang dikemas dalam bentuk nilai indeks komposit.
utara Pulau Jawa antara 6-10 mm/tahun. Hal ini berarti
bahwa di pesisir Kota Semarang terdapat ancaman Kajian ini bertujuan untuk menerapkan suatu
bahaya kenaikan muka air laut antara 6-10 mm/tahun nilai indeks kerentanan pesisir terhadap kenaikan
pula. Prihatno et al. (2009) mengemukakan bahwa laju muka air laut. Indeks kerentanan ini merupakan
kenaikan muka air laut di pesisir Semarang 7,6 cm/ indeks komposit yang menggabungkan antara
tahun. Suhelmi et al. (2011) mengemukakan bahwa parameter fisik dan parameter pengaruh manusia.
laju daerah yang tergenang akan meningkat dari
3.697,1 ha dengan menggunakan asumsi kenaikan METODE PENELITIAN
muka air laut skenario optimis (18 cm) menjadi 5.084,2
ha pada skenario pesimis (kenaikan 58 cm) pada Lokasi penelitian berada di pesisir Kota
Tahun 2100. Sedangkan Diposaptono et al. (2009) Semarang sebagaimana terlihat pada Gambar 2.
memprediksikan kenaikan permukaan air laut akan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
merendam daratan seluas 3.462,7 ha pada 40 tahun data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait.
(kenaikan 36 cm) yang akan datang dan hingga 100 Data pasang surut diperoleh dari Kantor BMKG
tahun mendatang diketahui untuk kawasan yang Maritim Tanjungemas Semarang, Data fisik antara
tergenang seluas 5.423,1 ha dengan kenaikan muka lain geomorfologi, kemiringan lereng, penggunaan
air laut sebesar 80 cm. lahan diperoleh dari Bappeda Kota Semarang.

Gambar 1. Skenario perkiraan kenaikan muka laut dalam kurun waktu 110 tahun (sumber: UNEP-GRID
Arendal, 2011).

98
Penilaian Kerentanan Pesisir Semarang...Menggunakan Indeks Kerentanan Komposit (Suhelmi, I.R.)

Penentuan kerentanan pesisir dilakukan dengan parameter memberikan pengaruh yang sama besarnya
menggunakan metode yang dikembangkan oleh Ozyurt terhadap nilai kerentanan. Nilai indeks CVI dampak
(2007) dan Ozyurt et al. (2008). Indeks kerentanan berkisar antara 1 sampai 5 dapat dijadikan satu nilai
tersebut disusun khusus untuk menganalisis dampak indeks kerentanaan terhadap kenaikan muka air laut
yang ditimbulkan oleh kenaikan muka air laut. Indeks (CVI [kenaikan muka air laut]) dengan menggunakan
tersebut diperoleh melalui pendefinisian dan integrasi formula 2 (Ozyurt et al. 2008).
dari 5 sub-indeks, yang masing-masing terkait
dengan dampak akibat kenaikan muka air laut. Lima
hal yang dipertimbangkan antara lain: erosi pantai,
banjir, genangan permanen, intrusi air laut kepada …………………………..2)
air tanah dan intrusi air laut pada sungai/estuari.
Setiap sub-indeks ditentukan dengan menggunakan Rumus di atas mengintegrasikan lima sub-indeks.
analisis semi-kuantitatif yang terdiri dari dua kategori Namun indeks komposit dapat juga ditentukan dengan
parameter yaitu fisik dan pengaruh manusia (12 mengintegrasikan hanya sub-set dari lima dampak
parameter fisik dan 7 parameter pengaruh manusia). yang dipertimbangkan yaitu dampak terhadap erosi
pantai, banjir dan genangan permanen dan intrusi
Nilai indeks ditentukan antara 1 sampai 5 untuk laut terhadap air tanah dangkal dan sungai, namun
setiap parameter yang berhubungan dengan sumbangan Ozyurt (2007) lebih menekankan pentingnya dampak
masing-masing parameter terhadap tingkat kerentanan terhadap erosi pantai, banjir dan genangan permanen.
wilayah pesisir yang dijadikan obyek kajian. Tabel 1
dan Tabel 2 memperlihatkan kriteria yang digunakan HASIL DAN PEMBAHASAN
untuk menentukan tingkat kerentanan terhadap
kenaikan muka air laut. Setiap sub-indeks dihitung Kota Semarang mempunyai bentang alam yang
dengan menggunakan formula 1 (Ozyurt et al. 2008). lengkap karena memiliki tiga jenis bentang alam yaitu
pantai, dataran rendah dan perbukitan. Wilayah pantai
dan dataran rendah Kota Semarang berada pada
bagian utara dan lebih dikenal dengan sebutan “kota
bawah”, sedangkan wilayah perbukitan berada pada
…………………………..1) bagian selatan dan lebih dikenal dengan sebutan “kota
atas“ (Bappeda Semarang, 2002). Secara umum
di mana: PF = parameter fisik, PM = parameter “kota bawah“ memiliki tingkat kerentanan yang tinggi
pengaruh manusia, n dan m = jumlah parameter fisik karena memiliki bentuk topografi yang datar bahkan
dan pengaruh manusia. Pada penelitian ini tidak ada ada beberapa titik di sekitar Stasiun Tawang yang
pembobotan parameter, masing-masing berbobot memiliki ketinggian di bawah permukaan air laut.
1. Dengan demikian, diasumsikan masing-masing

Gambar 2. Lokasi penelitian.

99
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 97-106

Tabel 1. Parameter pengaruh manusia untuk penentuan kerentanan pesisir akibat kenaikan muka
air laut

Parameter Rentang
manusia Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat
rendah tinggi

Pengurangan supply sedimen >80% 60-80% 40-60% 20-40% <20%


Pengaturan aliran sungai Tidak - Agak - Sangat
terpengaruh terpengaruh terpengaruh
Rekayasa pesisir <5% 5-20% 20-30% 30-50% >50%
Konsumsi air bawah tanah >20% 20-30% 30-40% 40-40% >50%
Pola penggunaan lahan Daerah Terbuka Permukiman Industri Pertanian
lindung
Degradasi perlindungan alam >80% 60-80% 40-60% 20-40% <20%
Struktur perlindungan pantai >50% 30-50% 20-30% 5-20% <5%
Sumber: Özyurt & Ergin (2009) Ramieri et al. (2011) dengan modifikasi

Tabel 2. Parameter fisik untuk penentuan kerentanan pesisir akibat kenaikan muka air laut

Parameter fisik Rentang

Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi


rendah

Laju kenaikan <1 1-2 2-5 5-7 7-9 dan lebih


muka air laut
(mm/tahun)
Geomorfologi Rocky Medium Low cliffs, Cobble Barrier beach,
cliff cliffs, glacial drift, beaches, sand beach,
coasts, indented alluvial plains estuary, salt marsh,
fiords coasts lagoon mudflats,
deltas,
mangrove,
coral reefs
Kemiringan pesisir >1/10 1/10-1/20 1/20-1/30 1/30-1/50 1/50-1/100
Tinggi gelombang (m) <0,5 0,5-3,0 3,0-6,0 6,0-8,0 >8,0
Sediment budget Lebih Antara Kurang Antara Lebih
dari 10-30% dari 10-30% dari
50% pantai 10% pantai pantai 50%
pantai akresi erosi atau erosi pantai
akresi akresi erosi
Tunggang pasut (m) >6,0 4,0-6,0 2,0-4,0 0,5-2,0 <0,5
Jarak ke pantai (m) >1000 700-1000 400-700 100-400 <100
Tipe aquifer Leaky - Confined - Unconfined
Konduktivitas 0-12 12-28 28-41 41-81 >81
hydraulic (m/hari)
Kedalaman muka >2,00 1,25-2,00 0,75-1,25 0,00-0,75 <0,00
air tanah (m)
Debit sungai (m³/detik) >500 250-500 150-250 50-150 0-50
Kedalaman perairan ≤1 2 3 4-5 >5
di muara (m)
Sumber: Özyurt & Ergin (2009) Ramieri et al. (2011) dengan modifikasi

Pada kajian ini dilakukan penilaian kerentanan dan genangan yang diakibatkan oleh kenaikan muka
pesisir akibat kenaikan muka air laut dengan air laut. Tingkat kerentanan yang dimaksud dalam
melakukan penilaian terlebih dahulu kepada dampak penelitian ini merupakan nilai dampak total dari tiga
kenaikan muka air laut terhadap aspek erosi pantai, dampak yang diperhitungkan. Untuk menghitung
banjir dan genangan. Tingkat kerentanan diperoleh masing-masing dampak kenaikan muka air laut
dari perhitungan aspek dampak terhadap erosi, banjir menggunakan Formula 1 yang masing-masing dinilai

100
Penilaian Kerentanan Pesisir Semarang...Menggunakan Indeks Kerentanan Komposit (Suhelmi, I.R.)

pada dampak kenaikan muka air laut terhadap erosi dan Tabel 4. Nilai kerentanan tersebut berdasarkan
pantai, banjir dan genangan. Sedangkan perhitungan 3 (tiga) dampak kenaikan muka air laut yaitu erosi
kerentanan total yang merupakan penjumlahan dari pantai, banjir dan genangan permanen. Hasil dalam
skor dampak total menggunakan Formula 2. Tabel 3 untuk lokasi Pelabuhan Tanjungemas memiliki
kerentanan yang tinggi dari aspek geomorfologi dan
Pada kajian ini, diujicobakan penilaian kerentanan kemiringan lereng. Hal ini dikarenakan kemiringan
terhadap 2 (dua) titik yang mewakili kondisi lingkungan lokasi sangat datar. Sedangkan dari parameter
dan topografi yang berbeda. Titik sampel yang diambil pengaruh manusia memberikan nilai kerentanan yang
adalah Pelabuhan Tanjungemas dan Pantai Marina. tinggi, karena aspek perlindungan pantai, penggunaan
Pelabuhan Tanjungemas mewakili topografi datar yang air tanah yang berlebihan memberikan sumbangan
dalam keseharian seringkali terlanda banjir pasang terhadap tingkat kerentanan yang tinggi.
atau rob. Sedangkan Pantai Marina mewakili wilayah
yang memiliki topografi yang relaif tinggi karena lokasi Hasil kajian menggunakan metode indeks
ini merupakan pantai hasil reklamasi yang sampai saat kerentanan komposit pada 2 (dua) pantai
penelitian ini dilakukan masih terus berlangsung. menunjukkan hasil yang berbeda. Seperti terlihat
dalam Tabel 6, yang merupakan nilai gabungan dari
Hasil perhitungan dampak kenaikan muka air ketiga dampak kenaikan muka air laut, terlihat bahwa
laut pada Pelabuhan Tanjungemas dapat dilihat dalam pantai Marina memiliki nilai kerentanan yang rendah,
Tabel 3, sedangkan hasil penilaian kerentanan pesisir hal ini disebabkan terutama oleh faktor fisik pantai
akibat kenaikan muka air laut pada Pantai Marina dapat yang memiliki topografi yang lebih tinggi dari pantai
dilihat dalam Tabel 4. Penilaian dampak kenaikan di sekitarnya. Pantai Marina merupakan wilayah hasil
muka air laut dilakukan pada 3 (tiga) aspek yaitu reklamasi yang memiliki ketinggian yang relatif besar
erosi pantai, banjir dan genangan. Setiap parameter sehingga tidak mudah terkena dampak kenaikan muka
dilakukan penilaian dan dihitung dampak kenaikan air laut. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Suhelmi
muka air laut menggunakan Formula 1, sedangkan (2010) yang menggambarkan model genangan akibat
tingkat kerentanan total CVI akibat kenaikan muka air kenaikan muka air laut. Dalam model tersebut pada
laut merupakan rata-rata nilai dampak erosi pantai, kenaikan muka air laut 58 cm menunjukkan Pantai
banjir dan genangan yang dihitung menggunakan Marina tidak tergenang oleh kenaikan muka air laut,
Formula 2. meskipun wilayah yang berada di belakangnya akan
tergenang karena memiliki elevasi yang lebih rendah
Penentuan kelas kerentanan dilakukan dari Pantai Marina. Dengan menggunakan nilai indeks
berdasarkan nilai kerentanan tertinggi dan terendah komposit ini cukup memberikan gambaran tingkat
dibagi jumlah kelas kerentanan. Pada kajian ini kerentanan wilayah pesisir terhadap kenaikan muka
digunakan 3 (tiga) kelas kerentanan, yaitu rendah, air laut. Özyurt & Ergin (2009) Ramieri et al. (2011)
sedang dan tinggi. Kelas kerentanan rendah adalah mencoba membangun indeks kerentanan pesisir yang
apabila nilai CVI (kenaikan muka air laut) lebih dikhususkan untuk mengukur dampak kenaikan muka
rendah dari 2,33 seperti terlihat dalam Tabel 5. Kelas air laut pada wilayah pesisir.
kerentanan berada pada kategori sedang apabila
memiliki nilai antara 2,33 sampai dengan 3,66, bila Gambar 3 memberikan penjelasan mengenai
CVI (kenaikan muka air laut) berada di atas 3,6 maka kondisi fisik pesisir yang menjadi obyek kajian.
dikelaskan ke dalam kelas kerentanan tinggi seperti Gambar 3a menunjukkan kondisi Pantai Marina yang
terlihat dalam Tabel 5. merupakan pantai hasil reklamasi. Berdasarkan pada
perhitungan indeks kerentanan terhadap kenaikan
Nilai indeks yang digunakan untuk menilai muka air laut, lokasi ini memiliki nilai indeks komposit
tingkat kerentanan merupakan penggabungan antara sebesar 2,17 yang masuk pada kategori kerentanan
parameter fisik dan parameter pengaruh manusia, rendah. Gambar 3b merupakan gambaran kondisi
sehingga indeks ini dinamakan dengan indeks Pelabuhan Tanjungemas yang berdasarkan kajian
komposit. Pada nilai indeks ini masing-masing faktor indeks komposit memiliki nilai 4,30 termasuk dalam
diberi nilai antara 1 sampai 5, nilai 1 menunjukkan nilai kategori kerentanan tinggi. Kondisi pelabuhan sangat
kerentanan sangat rendah dan nilai 5 menunjukkan rentan terhadap genangan akibat pasang dan kenaikan
kerentanan sangat tinggi. Pada model yang dibangun muka air laut. Selain aspek topografi yang datar, hal ini
ini tidak ada pembobotan nilai parameter dan setiap diperparah dengan laju subsiden yang disebabkan oleh
parameter baik fisik maupun pengaruh manusia diberi pemanfaatan air tanah dalam yang berlebihan. Untuk
bobot nilai yang sama yaitu 1. mengurangi tingkat kerentanan dapat dilakukan upaya
mitigasi dan adaptasi terhadap fenomena kenaikan
Hasil penilaian kerentanan dengan mendasarkan muka air laut. Kawasan Pelabuhan Tanjungemas
pada dua kriteria yaitu kriteria fisik dan kriteria merupakan wilayah yang terbangun, berbagai
pengaruh manusia seperti ditunjukkan dalam Tabel 3 infrastruktur perhubungan dan industri terletak pada

101
Tabel 3. Matrik indeks kerentanan pesisir untuk kenaikan muka air laut Pelabuhan Tanjungemas Semarang (Diadopsi dari: Özyurt,

102
2007)

Dampak Parameter fisik Parameter pengaruh manusia Total Nilai Dampak


Parameter 1 2 3 4 5 Total Parameter 1 2 3 4 5 Total dampak paling
rentan
Erosi pantai F1.1 Laju kenaikan 1 4 H1.1 Pengurangan suplai 1 4
muka air laut sedimen
F1.2 Geomorfologi 1 5 H1.2 Pengaturan aliran sun- 1 5
gai
F1.3 Kemiringan pan- 1 5 H1.3 Rekayasa pesisir 1 5
tai
F1.4 Tinggi gelombang 1 2 H1.4 Degradasi perlindungan 1 5
alam
F1.5 Sedimen 1 2 H1.5 Struktur perlindungan 1 5
pantai
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 97-106

F1.6 Rentang 1 4
pasut
TOTAL 0 2 0 2 2 22 TOTAL 0 0 0 1 4 24 23 5,5 4,18
Banjir F2.1 Laju Sea Level 1 4 H2.1 Rekayasa pesisir 1 5
Rise
F2.2 Kemiringan pan- 1 5 H2.2 Degradasi perlindungan 1 5
tai alam
F2.3 Tinggi gelombang 1 2 H2.3 Struktur perlindungan 1 5
pantai
F2.4 Rentang pasut 1 4
TOTAL 0 1 0 2 1 15 TOTAL 0 0 0 0 3 15 15 3,5 4,29
Genangan F3.1 Laju kenaikan 1 4 H3.1 Degradasi perlindungan 1 5
muka air laut alam
F3.2 Kemiringan pan- 1 5 H3.2 Struktur perlindungan 1 5
tai pantai
F3.3 Rentang pasut 1 4
TOTAL 0 0 0 2 1 13 TOTAL 0 0 0 0 2 10 11,5 2,5 4,60
CVI (kenaikan muka air laut) 49,5 11,5 4,30




Tabel 4. Matrik indeks kerentanan pesisir untuk kenaikan muka air laut Pantai Marina Semarang (Diadopsi dari: Özyurt, 2007)

Dampak Parameter fisik Parameter pengaruh manusia Total Nilai Dampak


Parameter 1 2 3 4 5 Total Parameter 1 2 3 4 5 Total dampak paling
rentan
Erosi pantai F1.1 Laju kenaikan 1 4 H1.1 Pengurangan suplai 1 3
muka air laut sediment
F1.2 Geomorfologi 1 1 H1.2 Pengaturan aliran sun- 1 3
gai
F1.3 Kemiringan pan- 1 1 H1.3 Rekayasa pesisir 1 1
tai
F1.4 Tinggi gelombang 1 2 H1.4 Degradasi perlindungan 1 1
alam
F1.5 Sedimen 1 2 H1.5 Struktur perlindungan 1 2
pantai
F1.6 Rentang 1 4
pasut
TOTAL 2 2 0 2 0 14 TOTAL 2 1 2 0 0 10 12 5,5 2,18
Banjir F2.1 Laju Sea Level 1 4 H2.1 Rekayasa pesisir 1 1
Rise
F2.2 Kemiringan pan- 1 1 H2.2 Degradasi perlindungan 1 1
tai alam
F2.3 Tinggi gelombang 1 2 H2.3 Struktur perlindungan 1 2
pantai
F2.4 Rentang pasut 1 4
TOTAL 1 1 0 2 0 11 TOTAL 2 1 0 0 0 4 7,5 3,5 2,14
Genangan F3.1 Laju kenaikan 1 4 H3.1 Degradasi perlindungan 1 1
muka air laut alam
F3.2 Kemiringan pan- 1 1 H3.2 Struktur perlindungan 1 2
tai pantai
F3.3 Rentang pasut 1 4
TOTAL 1 0 0 2 0 9 TOTAL 1 1 0 0 0 3 3,5 2,5 2,20
CVI (kenaikan muka air laut) 25 11,5 2,17



Penilaian Kerentanan Pesisir Semarang...Menggunakan Indeks Kerentanan Komposit (Suhelmi, I.R.)

103
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 97-106

Tabel 5. Penentuan nilai kelas kerentanan

Skor Kelas Kerentanan

< 2,333 Kerentanan rendah


2,333 - 3,666 Kerentanan sedang
> 3,6 Kerentanan tinggi

Tabel 6. Nilai kerentanan pesisir pada Pelabuhan Tanjungemas dan Pantai Marina
Dampak Lokasi
Pantai Marina (Hasil reklamasi) Pelabuhan Tanjungemas

Erosi pantai 2,18 4,18


Banjir 2,14 4,29
Genangan 2,20 4,60

KERENTANAN 2,17 (Rendah) 4,30 (Tinggi)

a) b)
Gambar 3. a) Kondisi lapangan Pantai Marina dan b) Pelabuhan Tanjungemas

wilayah ini, maka upaya adaptasi yang dilakukan 2. Pantai Marina memiliki tingkat kerentanan
berupa pendekatan fisik. Salah satu adaptasi yang rendah dengan nilai indeks komposit sebesar
dilakukan dengan melakukan peninggian dermaga dan 2,17 sedangkan Pelabuhan Tanjungemas
pengurukan lokasi yang tergenang akibat kenaikan memiliki kerentanan tinggi terhadap kenaikan
muka air laut. Sedangkan untuk wilayah barat yang muka air laut dengan nilai indeks komposit
belum ada bangunan fisik dan infrastruktur kota sebesar 4,30.
lainnya, seperti di sebelah barat Pantai Marina, dapat
dilakukan pendekatan ekologis dalam upaya adaptasi Penelitian ini dapat dikembangkan lagi menjadi
dilakukan dengan penanaman bakau pada tambak penelitian yang menggunakan pendekatan spasial
yang telah rusak. dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi
Geografi. Pada kajian ini nilai indeks komposit
KESIMPULAN merupakan analisis yang bersifat kajian pada suatu
wilayah tertentu, dengan memanfaatkan analisis
Dari hasil kajian yang dilakukan dapat diambil spasial maka kondisi wilayah pesisir dapat dipetakan
kesimpulan sebagai berikut: secara menyeluruh.
1. Penggunaan indeks komposit yang
menggabungkan antara aspek fisik dan
pengaruh manusia mampu memberikan
gambaran tingkat kerentanan suatu wilayah
pesisir terhadap ancaman kenaikan muka air
laut.

104
Penilaian Kerentanan Pesisir Semarang...Menggunakan Indeks Kerentanan Komposit (Suhelmi, I.R.)

PERSANTUNAN Ozyurt G. (2007) Vulnerability of Coastal Areas to


Sea Level Rise: A Case of Study on Göksu
Terimakasih penulis ucapkan kepada Kepala Delta. Thesis submitted to The Graduate School
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut of Natural and Applied Sciences of Middle-East
dan Pesisir, Dr. Ahmad Fahrudin atas dukungannya Technical University. January 2007. http://etd.lib.
dalam kajian ini. Penulis juga memberikan apresiasi metu.edu.tr/upload/12608146/index.pdf
kepada Hari Prihatno, M.Sc atas dukunganya dalam
penelitian di lapangan. Ozyurt, G., Ergin ,A., & Esen M., (2008) Indicator
Based Coastal Vulnerability Assessment Model to
DAFTAR PUSTAKA Sea Level Rise. Paper presented at the Seventh
International Conference on Coastal and Port
Arbriyakto, D. & Kardyanto, D. (2006) Identifikasi Engineering in Developing Countries COPEDEC
Pengukuran Kerugian Fisik Bangunan Rumah VII “Best Practices in the Coastal Environment”,
dan Kerugian Sosial Penduduk Kawasan Pantai 24-28 February 2008, Dubai, UAE.
Kota Semarang. Proceeding Seminar Kerugian
pada Bangunan dan Kawasan Akibat Kenaikan Ozyurt, G. & Ergin, A. (2009) Aplication of Sea Level
Muka Air Laut pada Kota-Kota Pantai di Indonesia. Rise Vulnerability Assessment Model to Selected
Semarang: Universitas Diponegoro. Coastal area of Turkey. Journal of Coastal
Research. Special Issue 56. ISSN 0749-0208
[Bappeda Kota Semarang] Badan Perencanaan p248-251
Pembangunan Daerah Kota Semarang (2002)
Laporan Antara: Rencana Pengembangan Prihatno, H., Suhelmi, I.R., Eky & Triwibowo, H. (2009)
Potensi Kelautan Kota Semarang Tahun Kajian Kerentanan Pesisir Kota Semarang Akibat
Anggaran 2001/2002. Semarang : Bappeda Kota Kenaikan Muka Air Laut. Laporan Kegiatan
Semarang. Penelitian pada Pusat Riset Wilayah Laut dan
Sumberdaya Non Hayati, BRKP Kementerian
Diposaptono, S., Budiman & Agung, F. (2009) Kelautan dan Perikanan.
Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil. Bogor: Buku Ilmiah Ramieri Emiliano, Andrew Hartley, Andrea Barbanti,
Populer Filipe Duarte Santos, Pasi Laihonen, Natasha,
Marinova & Monia Santini. (2011) Methods for
Gornitz, V.M., White, T.W, & Cushman, R.M. (1991) assessing coastal vulnerability to climate change.
Vulnerability of the U.S. to future sea-level rise. In ETC CCA Background Paper. Copenhagen
Proceedings of Seventh Symposium on Coastal (DK) 8-9 June 2011. <http://www.eea.eionet.
and Ocean Management. Long Beach, CA (USA): europa.eu/Public_irc_eionet circle_airclimate_
1991, pp.2354-2368. library_l/public_ vulnerability_assessment_2011_
background_EN_1> [diakses 20 Agustus 2011].
Gutierrez, B.T., Williams, S.J. & Thieler, E.R. (2009)
Basic approach for shoreline change projections. Saizar, A. (1997) Assesment of Impact of a Potential
In Titus J.G. (coordinating lead author), Anderson Sea Level Rise on The Coast of Montevideo,
K.E., Cahoon D.R., Gesch D.B., Gill S.K., Uruguay. Climate Res. Vol. 9:73-79 <http://www.
Gutierrez B.T., Thieler E.R. and Williams S.J. int-res.com/articles/cr/9/c009p073.pdf> [diakses
(lead authors). Coastal Sensitivity to Sea-Level 1 September 2009].
Rise: A Focus on the Mid- Atlantic Region. A report
by The U.S. Climate Change Science Program Suhelmi, I.R, Fahrudin, A., Yulianda, F. & Nuitja,
and the Subcommittee on Global Change I.N.S, (2011) Pemodelan Kerentanan Pesisir
Research. U.S. Environmental Protection Agency, Kota Semarang Akibat Kenaikan Muka Air Laut.
Washington DC, pp. 239-242. <http://www.epa. Makalah Seminar Pascasarjana IPB. Bogor
gov/climatechange/effects/coastal/pdfs/SAP_41_
SynthesisandAssessment Product.pdf > [diakses Suhelmi, I.R. (2010) Pemanfaatan Multimedia
4 september 2010] dalam Visualisasi Model Rob Berbasis Sistem
Informasi Geografi di Semarng. Jurnal Segara
Olivo, maria de Lourdes. (1997) Assesment of The Vol. 3 No. 2 Agustus 2010. Pusat Penelitian dan
Vulnerability of Venezuella to Sea Level Rise. pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir,
Climate Research. Volume 9; pp 57-65 Published Balitbang KP. Jakarta
December 29 <http://www.int-res.com/articles/
cr/9/c009p057.pdf> [ diakses 30 Juli 2009]. Szlafsztein, & Claudio, F. (2005) Climate Change, sea-
level rise and Coastal Natural Hazards: A GIS-

105
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 97-106

Based Vulnerability Assessment, State of Pará,


Brazil. Human Security and Climate Change.
An International Workshop Holmen Fjord Hotel,
Asker, near Oslo, 21–23 June 2005. <www.gechs.
org/downloads/holmen/Szlafsztein.pdf> [diakses
10 Juni 2011].

Titus, J.G. (1990) Greenhouse Effect, Sea Level Rise,


and Land Use. Land Use Policy Journal, Vol
7:138-53. <http://www.epa.gov/climatechange
/effects/downloads/landuse.pdf> [diakses 2
Agustus 2009].

UNEP-GRID Arendal. (2011) Sea level rise due to


global warming. http://www.grida.no/publications/
vg/climate/page/3072.aspx [diakses 5 oktober
2011].

Wibowo, D. A. (2006) Analisis Spasial Daerah Rawan


Genangan Akibat Kenaikan Pasang Surut (Rob)
di Kota Semarang. [Skripsi Sarjana]. Jurusan
Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Universitas Diponegoro.

106
Pemetaan Indeks Kerentanan Pesisir....di Sumatera Barat dan sekitarnya (Ramdhan, M., et al.)

PEMETAAN INDEKS KERENTANAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN IKLIM


DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA

Muhammad Ramdhan1), Semeidi Husrin2), Nasir Sudirman2) & Try Altanto2)


1)
Peneliti pada Pusat Penelitian Sumber Daya Laut dan Pesisir, Balitbang Kelautan dan Perikanan - KKP
2)
Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir, Balitbang Kelautan dan Perikanan - KKP
Diterima tanggal: 9 Maret 2012; Diterima setelah perbaikan: 7 November 2012; Disetujui terbit tanggal 15 November 2012

ABSTRAK

Wilayah Pesisir Sumatera Barat secara geografis memiliki panjang garis pantai 2.159 km yang bersifat
strategis. Populasi penduduk di wilayah kabupaten/kota pesisir Sumatera Barat adalah 2.629.052 jiwa. Perubahan
iklim yang terjadi pada dekade terakhir menyebabkan kenaikan muka air laut. Hal ini menjadikan wilayah pesisir
sebagai wilayah yang rentan untuk tempat aktivitas pembangunan. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian untuk
menentukan tingkat kerentanan wilayah peisisir terhadap kenaikan muka air laut di Sumatera Barat. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menentukan suatu Indeks
Kerentanan Pesisir setelah melakukan modifikasi dari yang telah dilakukan oleh United States Geological Surveys.
Hasil dari 7 wilayah pesisir Sumatera Barat yang dikaji tingkat kerentanannya terhadap perubahan iklim, diperoleh
persentase tingkat kerentanan sebagai berikut: 23,82 % termasuk kedalam area dengan kategori sangat rendah,
68,59 % kategori rendah, 5,79 %, kategori menengah, 0,95% kategori tinggi dan 0,85% kategori sangat tinggi.

Kata kunci: kerentanan, pesisir, perubahan iklim, Sumatera Barat

ABSTRACT

Coastal areas are the strategic areas for West Sumatra, geographically West Sumatra has a
coastline lenght of 2,159 km. The number of people living in the district / city coastal of West Sumatra is
2,629,052. Climate change in recent decades led to rising sea levels. This makes the region vulnerable
coastal areas to be used as a development activity. Therefore we need a study to determine the level of
vulnerability of the coastal region to sea level rise. The method used in this study is by using Geographic
Information System (GIS) tools to determine a Coastal Vulnerability Index based on the modification of
which has been developed by the United States Geological Surveys. Result of seven coastal areas of
West Sumatera that are studied, the percentage of vulnerability index obtained as follows: 23.82% is very
low index, 68.59% is low index, 5.79% is medium index, 0.95% is high index and 0.85% is very high index.

Keywords: vulnerability, coastal, climate change, West Sumatra

PENDAHULUAN adalah suatu kondisi tertentu yang menunjukkan


atau menyebabkan ketidakmampuan seseorang atau
Provinsi Sumatera Barat berada di bagian barat komunitas masyarakat menghadapi ancaman bahaya
tengah Pulau Sumatera dengan luas 42.297 km². (Triutomo, 2006).
Provinsi ini memiliki dataran rendah di pantai barat,
serta dataran tinggi vulkanik yang dibentuk Bukit Perubahan iklim telah dirasakan nyata adanya
Barisan yang membentang dari barat laut ke tenggara. dalam beberapa dekade terakhir. Aktivitas manusia
Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudera Hindia menyebabkan efek rumah kaca. Hal tersebut telah
termasuk dalam provinsi ini (Sumbarprov.go.id). Pantai mengakibatkan meningkatnya temperatur rata-rata di
Sumatera Barat seluruhnya bersentuhan dengan atmosfer, laut dan daratan. Sinar matahari yang masuk
Samudera Hindia sepanjang 2.159 km (Tampubolon, et ke bumi tidak dapat dipantulkan secara sempurna
al., 2008). Menurut Peta Indeks Kerawanan Bencana di akibat aktivitas manusia dalam menghasilkan gas
Indonesia yang telah dikeluarkan oleh Badan Nasional rumah kaca. Aktivitas manusia yang dimaksud
Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Sumatera adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu
Barat termasuk ke dalam provinsi yang memiliki tingkat bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas
kerawanan yang tinggi (http://geospasial.bnpb.go.id). karbondioksida dan gas-gas lainnya ke atmosfer.
Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah
Penelitian ini akan mencoba mengkaji pengaruh kaca ini, gas tersebut akan menjadi insulator yang
perubahan iklim terhadap tingkat kerentanan wilayah menahan lebih banyak panas dari matahari yang
pesisir di Provinsi Sumatera Barat. Kerentanan dipancarkan ke bumi (http://www.menlh.go.id).
Korespondensi Penulis:
Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430. Email: m.ramdhan@kkp.go.id 107
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 107-115

Kahru (2011) menyatakan bahwa telah terjadi Data gelombang dan pasang surut perlu
kenaikan kandungan karbondioksida (CO2) yang ditambahkan sebagai indikator terjadinya kenaikan
signifikan dari data hasil pengukuran di Mauna muka air laut sebagai akibat dari perubahan iklim. Data
Loa, Hawaii selama 40 (empat puluh) tahun. gelombang yang digunakan adalah rekaman selama
Kenaikan CO2 menjadi pemicu terjadinya efek 10 tahun dari BMKG (Solihuddin, 2009), dengan
rumah kaca, yang pada akhirnya menyebabkan asumsi bahwa data tersebut telah cukup merekam
kenaikan suhu atmosfer. Kenaikan suhu atmosfer kejadian perubahan iklim di wilayah studi. Tutupan
akan menyebabkan kenaikan muka air laut. Dengan lahan, kemiringan, kepadatan penduduk dan geologi
naiknya muka air laut, banyak wilayah pesisir yang pantai digunakan sebagai indikator tingkat kerentanan
akan tenggelam dan berubah fungsi. Kenaikan wilayah pesisir terhadap bencana kenaikan muka air
muka air laut bisa mengancam kawasan pesisir. laut.

METODE PENELITIAN Data LANDSAT diklasifikasikan secara visual


untuk dapat membedakan tutupan lahan ke dalam 5
Metode yang digunakan pada penelitian ini kelas (pemukiman rapat, pemukiman, lahan kosong,
pada dasarnya adalah kuantitatif, di mana data vegetasi dan vegetasi rapat). Selanjutnya hasil klasifikasi
sekunder (Tabel 1) yang diperoleh kemudian diolah tersebut akan menjadi acuan bagi penentuan indeks
menjadi angka-angka yang menunjukkan tingkat tutupan lahan. Kemudian garis pantai ditarik dari data
kerentanan di daerah penelitian. Tingkat kerentanan citra LANDSAT. Penarikan wilayah sempadan pantai
itu dinamakan Indeks Kerentanan Pesisir (IKP). sepanjang pesisir Kota Padang dilakukan berdasarkan
pedoman umum Direktorat Jenderal Penataan Ruang
Wilayah studi penelitian ini adalah di Pesisir - PU mengenai pemanfatan tepi pantai perkotaan, di
Sumatera Barat, namun tidak semua Kabupaten mana di dalamnya disebutkan bahwa sempadan
Sumatera Barat memiliki pesisir (Gambar 1). Adapun terpanjang adalah 300 meter dari garis pantai (Anonim,
7 wilayah pesisir di Provinsi Sumatera Barat yang akan 1996). Proses berikutnya, dilakukan buffering dengan
dikaji, yaitu (Gambar 1): 1. Kabupaten Pasaman Barat. jarak 300 meter dari garis pantai.
2. Kabupaten Agam. 3. Kabupaten Padang Pariaman.
4. Kota Pariaman. 5. Kota Padang. 6. Kabupaten Selanjutnya data-data berupa spasial dan tekstual
Pesisir Selatan. 7. Pulau Sipora, Kabupaten Mentawai. digabungkan untuk menghitung besarnya Indeks
Kerentanan Pesisir. Parameter dan pembobotan nilai
Dalam rangka menghasilkan Indeks Kerentanan yang digunakan adalah seperti dalam Tabel 2.
Pesisir, penelitian ini menggunakan teknik analisa
spasial, dengan melakukan tumpang susun (overlay) Persamaan untuk menghitung Indeks Kerentanan
dari data geospasial yang diolah menjadi informasi Pesisir adalah sebagai berikut (Thieler & Hammar-
di wilayah kajian, yaitu 7 kawasan pesisir di Provinsi Klose, 2000). Metoda yang sama juga digunakan oleh
Sumatera Barat Barat (Kab. Pasaman Barat, Kota European Environment Agency untuk menghitung
Padang, Kab. Agam, Kab. Pesisir Selatan, Kab. kerentanan pesisir terhadap perubahan iklim (Ramieri
Padang Pariaman, Pulau Sipora - Kab. Mentawai, E. et al, 2011) :
Kota Pariaman). Diagram alir proses pembuatan peta
Indeks Kerentanan Pesisir dapat dilihat pada Gambar
2.

Tabel 1. Data geospasial yang digunakan

No Jenis data Skala/resolusi Tanggal Sumber Informasi yang


spasial pembuatan di ekstrak

1 Citra Landsat 30 meter Komposit http://glcf.umiacs.umd.edu/ Tutupan


Tahun 1999-2001 lahan,
garis pantai
2 Peta Rupa 1: 250.000 Tahun 1986- BAKOSURTANAL Batas
Bumi update 2004 administrasi
Indonesia (RBI)
3 Peta Geologi 1: 250.000 Tahun 1996 Kastowo, G.W (ESDM) Struktur geologi
4 ASTER -GDEM 30 meter Tahun 2008 http://asterweb. Kemiringan lahan
jpl .nasa.gov

108
Pemetaan Indeks Kerentanan Pesisir....di Sumatera Barat dan sekitarnya (Ramdhan, M., et al.)

Kelemahan dari penggunaan data Landsat ini adalah


......................... 1) tidak adanya citra terbaru dengan kualitas yang baik,
karena adanya kerusakan pada Scan Line Corrector
(SLC). Dengan pertimbangan kemudahan dalam
Dimana : proses interpretasi maka digunakan data archive Citra
IKP = Indeks Kerentanan Pesisir Landsat Tahun 1999-2001. Gambar 3 menunjukkan
a = indeks untuk tutupan wilayah pesisir data Citra, Geologi dan DEM yang digunakan dalam
b = indeks untuk jenis batuan pantai penelitian ini.
c = indeks untuk kemiringan pantai
d = indeks untuk kerapatan penduduk Struktur geologi Provinsi Sumatera Barat,
e = indeks untuk kisaran pasut seperti tertera pada Peta Geologi Lembar Padang,
f = indeks untuk tinggi gelombang signifikan Painan dan Lubuk Sikaping Sumatera (Kastowo et al.,
rata-rata 1996), formasi batuan yang menyusun daerah pesisir
Sumatera Barat dan sekitarnya adalah endapan
Nilai IKP maksimal dalam persamaan (1) adalah aluvium (Qal) yang terdiri dari lanau, pasir dan kerikil,
51,03. Selanjutnya IKP dibagi menjadi 5 (lima) kategori aliran yang tak teruraikan (Qtau) yang terdiri dari
berdasarkan nilai angka berikut : batuan lahar, fanglomerat dan endapan kolovium yang
a) 1 – 5 = Sangat rendah lain, serta TUF kristal yang mengeras (QTt). Dari arah
b) 5 – 10 = Rendah utara, endapan Qal tersebar di pesisir Kabupaten
c) 10 – 15 = Menengah Pasaman Barat hingga Pesisir Selatan, daerah dengan
d) 15 – 25 = Tinggi tipe seperti ini relatif lebih rawan terhadap bahaya erosi
e) > 25 = Sangat tinggi pengikisan air laut. Untuk daerah Selatan Kota Padang
dan beberapa wilayah di Pasaman Barat dan Pesisir
Selatan, terdapat sedikit formasi batuan Qtau, dan QTt
HASIL DAN PEMBAHASAN umumya mendominasi batuan di wilayah Kecamatan
Bungus Teluk Kabung hingga perbatasan dengan
Data Landsat dengan resolusi spasial 30 meter Kabupaten Pesisir Selatan.
digunakan untuk mengekstraksi tutupan lahan wilayah
pesisir di 7 wilayah kajian. Citra ini digunakan karena Dari data ASTER-GDEM, dapat dilihat bahwa
mudah untuk diinterpretasi, dan cakupan areanya kemiringan lereng rata-rata di Provinsi Sumatera Barat
memenuhi seluruh wilayah Propinsi Sumatera Barat.

Gambar 1. Peta lokasi kegiatan.

109
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 107-115

sebelah utara dan selatan relatif landai dengan besar 2.441.526 perempuan. Dari hasil SP2010 tersebut
kemiringan 0-3o. Kemiringan curam terdapat di daerah tampak bahwa sebaran penduduk Sumatera Barat
Kota Padang Selatan hingga kemiringan > 30o yaitu 73,10 persen berada di daerah Kabupaten dan 26,90
di areal perbukitan Kecamatan Bungus Teluk Kabung. persen berada di Kota. Data jumlah penduduk di
Sumatera Barat dapat dilihat pada Tabel 3.
Dari hasil pencacahan Sensus Penduduk yang
dilakukan oleh BPS Tahun 2010 (SP2010), jumlah Hasil prediksi pasang surut yang diolah
penduduk Provinsi Sumatera Barat adalah 4.845.998 menggunakan software tide model driver, diperoleh
orang, yang terdiri atas 2.404.472 laki-laki dan bilangan Formzhal 0,79. Hal ini mengindikasikan

Gambar 2. Diagram alir proses pembuatan Peta Indeks Kerentanan Pesisir.

Tabel 2. Parameter-parameter yang digunakan dalam proses penghitungan Indeks Kerentanan


Pesisir beserta ranking-nya

Parameter Ranking

Satuan Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat
rendah tinggi

a) Tutupan wilayah - Vegetasi Vegetasi Tanah Pemukiman Pemukiman
pesisir rapat kosong rapat
b) Jenis batuan pantai - Batuan Batuan Batuan Sedimen Sedimen
vulkanik vulkanik sedimen lepas lepas
c) Kemiringan pantai (o) >10 6-10 4-6 2-4 <2
d) Kerapatan Jiwa/km2 <1.000 1.000-3.000 3.000-5.000 5.000-10.000 >10.000
penduduk
e) Kisaran pasut m < 1,0 1,0 – 1,5 1,5 – 2,0 2,0 – 4,0 > 4,0
f) Tinggi gelombang m < 0,75 0,75 – 1,0 1,0 – 1,25 1,25 – 1,50 > 1,5
signifikan
rata- rata

110
Pemetaan Indeks Kerentanan Pesisir....di Sumatera Barat dan sekitarnya (Ramdhan, M., et al.)

a) b) c)

Gambar 3. a) Citra Landsat yang digunakan untuk mengekstraksi data tutupan lahan; b) Peta Geologi yang
digunakan untuk mengekstraksi data jenis batuan penyusun pantai; c) Data Aster-GDEM 30”
yang digunakan untuk mengekstraksi data kemiringan lahan.

Tabel 3. Jumlah penduduk di Sumatera Barat (BPS, 2010)

Nama Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk


Laki-Laki Wanita Total

Kepulauan Mentawai 39.629 36.792 76.421


Pesisir Selatan 212.640 217.059 429.699
Solok 172.004 176.987 348.991
Sijunjung 100.759 100.868 201.627
Tanah Datar 164.857 173.727 338.584
Padang Pariaman 191.496 198.708 390.204
Agam 223.544 231.940 455.484
Limapuluh Kota 172.507 175.742 348.249
Pasaman 125.289 127.692 252.981
Solok Selatan 72.614 71.622 144.236
Dharmasraya 98.871 92.406 191.277
Pasaman Barat 183.828 180.759 364.587
Padang 415.235 418.349 833.584
Solok 29.261 30.056 59.317
Sawahlunto 28.127 28.685 56.812
Padang Panjang 23.290 23.718 47.008
Bukittinggi 53.745 57.209 110.954
Payakumbuh 57.890 59.020 116.910
Pariaman 38.886 40.187 79.073

Total 2.404.472 2.441.526 4.845.998

bahwa tipe pasang surut daerah Provinsi Sumatera tersebut, tunggang pasut di perairan ini sebesar 91,38
Barat adalah campuran condong ke harian ganda cm ≈ 9,1 dm sampai 109,57 cm ≈ 10,9 dm.
(mixed, dominant semidiurnal type), artinya terjadi
2 kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari Data angin selama 10 Tahun (1995 – 2005),
(Gambar 4). Berdasarkan dari simulasi selama 15 hari diperoleh dari BMKG Stasiun Meteorologi Padang
dengan interval bacaan tiap 1 jam, grafik pasang surut Tabing. Walaupun kurang begitu mewakili karena
menunjukkan tinggi maksimum air saat pasang adalah jaraknya agak jauh dengan lokasi penelitian, tetapi
47,65 cm dan 64,62 cm terjadi pada saat pasang secara umum dapat memberikan gambaran dalam
purnama. Tinggi muka air minimum terjadi saat surut menentukan pola arah umum angin pembentuk
perbani adalah -43,73 cm dan -44,95 cm. Dari data gelombang. Menurut data angin BMKG Stasiun

111
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 107-115

Meteorologi Padang Tabing Tahun 1995 – 2005 Gelombang yang paling sering terjadi adalah gelombang
(Tabel 4), arah angin dominan berasal dari arah arah barat dengan jumlah persentase kejadian
barat dengan persentase kejadian angin sebanyak sebesar 8.49%. Persentase yang paling tinggi adalah
8,49%. Sementara persentase minimum dicapai oleh 8,47% dengan ketinggian antara 0,1-1 m. Persentase
angin dari arah selatan dengan persentase kejadian kejadian gelombang yang paling sedikit terjadi pada
sebanyak 0,04%. arah selatan dengan persentase 1,04% (Tabel 5).

Dengan menggunakan parameter angin selama Hasil pengolahan data berupa peta Indeks
sepuluh tahun (1995 – 2005) sebagai data input, Kerentanan Pesisir di 7 wilayah pesisir Sumatera Barat
diperoleh informasi kondisi gelombang di perairan ini adalah sebagai berikut: Gambar 5 memperlihatkan
relatif normal dengan ketinggian berkisar antara 0,1–1 m. hasil peta Indeks Kerentanan Pesisir untuk daerah

Gambar 4. Grafik pasang surut daerah Padang Pariaman yang mewakili seluruh Provinsi Sumatera Barat
untuk perhitungan Indeks Kerentanan Pesisir.

Tabel 4. Persentase kejadian perioda secara total Tahun 1995 – 2005 diolah dari data angin BMKG
Stasiun Meteorologi Padang Tabing

Arah Perioda (detik)


0,1-1,0 1,0-2,0 2,0-3,0 3,0-4,0 4,0-5,0 >5,0 Jumlah

Selatan 0,01 0,86 0,18 0,00 0,00 0,00 1,04


Barat daya 0,03 2,96 1,37 0,13 0,00 0,00 4,50
Barat 0,04 5,23 3,05 0,15 0,01 0,02 8,49
Barat laut 0,02 1,08 0,13 0,02 0,00 0,00 1,25
Jumlah 15,28
Persentase kejadian perioda akibat angin : 15,28
Persentase kejadian tidak ada perioda akibat angin : 84,72
Persentase kejadian tidak tercatat (data hilang) : 0,00
Persentase kejadian total : 100.0

Tabel 5. Persentase kejadian gelombang secara total 1995-2005 diolah dari data angin BMKG
Stasiun Meteorologi Padang Tabing

Arah Tinggi Gelombang (m)


0,1-1,0 1,0-2,0 2,0-3,0 3,0-4,0 4,0-5,0 >5,0 Jumlah

Selatan 1,04 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,04


Barat Daya 4,49 0,01 0,00 0,00 0,00 0,00 4,50
Barat 8,47 0,01 0,00 0,01 0,01 0,00 8,49
Barat Laut 1,25 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,25
Jumlah 15,28
Persentase kejadian ada gelombang akibat angin : 15,28
Persentase kejadian tidak ada gelombang akibat angin : 84,72
Persentase kejadian tidak tercatat (data hilang) : 0,00
Persentase kejadian total : 100,0

112
Pemetaan Indeks Kerentanan Pesisir....di Sumatera Barat dan sekitarnya (Ramdhan, M., et al.)

Pasaman Barat dan Kabupaten Agam. Di daerah yang rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh jumlah
Pasaman Barat terdapat kawasan dengan tingkat penduduk yang relatif sedikit di wilayah ini. Kota
kerentanan menengah yakni di Kecamatan Sei Pariaman didominasi oleh tingkat indeks kerentanan
Beremas. Kecamatan-kecamatan di Kabupaten dengan kisaran yang tinggi dan menengah. Sedangkan
Pasaman Barat pada umumnya memiliki wilayah Kecamatan Pariaman Tengah memiliki area Indeks
pesisir dengan tingkat kerentanan rendah. Untuk kerentanan yang terbesar.
kawasan pesisir Kabupaten Agam didominasi oleh
tingkat kerentanan yang rendah. Hal ini disebabkan Gambar 7 merupakan peta IKP untuk Kota
karena jumlah penduduk yang relatif sedikit di wilayah Padang, Kab. Pesisir Selatan dan Pulau Sipora. Untuk
ini. Kota Padang kawasan dengan tingkat kerentanan
sangat tinggi terdapat di Kecamatan Padang Utara
Hasil untuk Kabupaten Padang Pariaman dan dan Padang Barat. Sedangkan kawasan dengan
Kabupaten Padang Pariaman dapat dilihat pada tingkat indeks kerentanan tinggi tersebar di Kecamatan
Gambar 6. Kawasan pesisir Kabupaten Padang Padang Selatan dan Lubuk Begalung. Di Kawasan
Pariaman didominasi oleh tingkat kerentanan Pesisir Selatan, daerah dengan tingkat kerentanan

a) b)
Gambar 5. a) Peta Indeks Kerentanan Pesisir untuk Kab. Pasaman Barat, b) Peta Indeks Kerentanan
Pesisir untuk Kab. Agam.

Gambar 6. a) Peta Indeks Kerentanan Pesisir untuk Kab. Padang pariaman, b) Peta Indeks Kerentanan
Pesisir untuk Kota Pariaman.

113
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 107-115

menengah terdapat di Kecamatan Koto XI Tarusan, Secara keseluruhan, pesisir di Provinsi Sumatera
IV Jurai, Batang Kapas dan Lenggayang. Kecamatan Barat masih terkategorikan sebagai daerah dengan
- kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan umumnya IKP yang rendah (68,59 %). Namun hal ini bukan
memiliki wilayah pesisir dengan tingkat kerentanan berarti wilayah pesisir Sumatera Barat aman dari
rendah dan sangat rendah. Pulau Sipora secara umum bencana yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Laju
memiliki indeks kerentanan yang rendah. pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi yakni sebesar
1,34 % per tahun, dan alih fungsi lahan hutan menjadi
Kota Padang sebagai ibu kota provinsi adalah perkebunan kelapa sawit diduga dapat menyebabkan
satu-satunya wilayah yang memiliki area dengan peningkatan nilai IKP di masa yang akan datang.
IKP berkategori sangat tinggi, di mana sekitar 9,14%
berada di wilayah pesisir (Tabel 6). Hal ini diakibatkan
oleh adanya pemukiman padat di sepanjang pesisir
Kota Padang tersebut.

a) b) c)
Gambar 7. a) Peta Indeks Kerentanan Pesisir untuk Kota Padang, b) Peta Indeks Kerentanan Pesisir
untuk Kab. Pesisir Selatan, c) Peta Indeks Kerentanan Pesisir untuk P. Sipora Kab. Kepulauan
Mentawai.

Tabel 6. Persentase luasan Indeks Kerentanan Pesisir di 7 Wilayah Sumatera Barat


Persentase luasan (%)
Nama Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat Total
Kabupaten/Kota rendah tinggi (%)

Agam 7,07 84,47 8,47 0,00 0,00 100
Kota Padang 57,58 17,96 9,64 5,69 9,14 100
Kota Pariaman 0,00 25,20 57,05 17,74 0,00 100
Padang Pariaman 0,41 91,72 7,88 0,00 0,00 100
Pasaman Barat 36,06 57,43 6,50 0,00 0,00 100
Pesisir Selatan 30,89 66,88 2,23 0,00 0,00 100
P. Sipora 8,66 88,82 2,53 0,00 0,00 100

23,82 68,59 5,79 0,95 0,85 100

114
Pemetaan Indeks Kerentanan Pesisir....di Sumatera Barat dan sekitarnya (Ramdhan, M., et al.)

KESIMPULAN
Kahru, M. (2011) Introduction to ocean color radiometry,
Hasil dari 7 wilayah pesisir Sumatera Barat yang its practical applications and data, Scripps
dikaji kerentanannya terhadap perubahan iklim, 23,82 Institution of Oceanography, University of
% termasuk kedalam area dengan kategori sangat California San Diego La Jolla, California.
rendah, 68,59 % kategori rendah, 5,79 %, kategori
menengah, 0,95% kategori tinggi dan 0,85% kategori Kastowo, Leo, G.W., Gafoer, S. & Amin, T.C, (1996)
sangat tinggi. Wilayah kajian yang memiliki tingkat Peta Geologi Lembar Padang, Sumatera, Pusat
kerentanan tertinggi adalah Kota Padang di mana Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
9,14% dari wilayah pesisirnya memiliki nilai IKP sangat
tinggi. Ramieri E., Herrley A., & Barbanti A. (2011) Methods
for Assessing Coastal Vulnerability to Climate
Sebagai rekomendasi strategis diharapkan para Change, ETC/CCA Technical Paper I/2011,
pengambil kebijakan dapat menyesuaikan program European Environment Agency, Bologna-ITALY.
pengelolaan wilayah pesisir yang ada di Provinsi
Sumatera Barat dengan melihat indikator kerentanan Solihuddin, Tb., (2009) Karakteristik Pantai Dan Proses
pesisir yang telah dihitung. Hal ini mengingat peran Abrasi Di Pesisir Padang Pariaman, Sumatera
wilayah pesisir yang sangat penting bagi kehidupan Barat, Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir,
masyarakat di Sumatera Barat. Balitbang-KP, Jakarta.

PERSANTUNAN Tampubolon, W. & Ambar, F. (2008) Menghitung


Panjang Shoreline & Shared Boundary Secara
Terima kasih kepada Kepala Loka Penelitian Simultan dari Data Sseamless Administrasi
Sumberdaya dan Kerentanan Pesisir Ir. Gunardi Kabupaten, Jurnal Geomatika, Vol. 14 No.1, hal
Kusumah MT., yang telah memberikan dukungan 63:86.
dan dorongan penuh bagi kami dalam melaksanakan
penelitian kerentanan menggunakan dana DIPA APBN Thieler, E.R. & Hammar-Klose, E.S., (2000) National
Tahun 2011. Penyusun juga menghaturkan banyak Assessment of Coastal Vulnerability to Future
terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu Sea-Level Rise: Preliminary Result for the U.S.
proses administrasi di kantor dan juga pihak yang Pacific Coast, USGS, Open File Report 00-178,
membantu di lapangan. 1 sheet.

DAFTAR PUSTAKA Triutomo S., (2006) Pengertian Tentang Resiko dan


Risiko Bencana, Slide Presentasi , Badan
Anonim. (1996) Pedoman Pemanfaatan Ruang Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).,
Tepi Pantai di Kawasan Perkotaan, Direktorat Jakarta.
Jenderal Penataan Ruang,-PU, Jakarta.

Anonim. (2010) Hasil Sensus Tahun 2010 Provinsi


Sumatera Barat, Badan Pusat Statistik, Jakarta.

BAKOSURTANAL. (1986) Peta Rupabumi Indonesia


Skala 1:250.000, Lembar Prov. Sumatera Barat
(0715 ,0714, 0616, 0716, 0814), Cibinong-Bogor.

http://asterweb.jpl.nasa.gov diakses tanggal 01


Agustus 2011.

http://glcf.umiacs.umd.edu/ diakses tanggal 01 Juli


2011.

http://menlh.go.id diakses tanggal 11 Januari 2011.

http://www.geospasial.bnpb.go.id diakses tanggal 29


Juli 2011.

http://www.sumbarprov.go.id diakses tanggal 01 Juli


2011.

115
Morfologi Dasar Laut dan Ketebalan Sedimen Permukaan Perairan Kalimantan Selatan (Hasanudin, M.)

MORFOLOGI DASAR LAUT DAN KETEBALAN SEDIMEN PERMUKAAN


PERAIRAN KALIMANTAN SELATAN
M. Hasanudin1)
1)
Peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Diterima tanggal: 29 Maret 2011; Diterima setelah perbaikan: 26 November 2012; Disetujui terbit tanggal 30 November 2012

ABSTRAK

Pemetaan batimetri dan sub bottom profile dilakukan untuk mengetahui kondisi morfologi dasar laut,
ketebalan sedimen permukaan, dan membuktikan tentang keberadaan sungai purba di Perairan Kalimantan
Selatan. Survei dilakukan dengan menggunakan single beam echosounder dan Sub Bottom Profiler, yaitu dengan
cara mengirimkan gelombang suara ke dasar perairan yang kemudian menangkap gelombang pantul, baik yang
berasal dari permukaan dasar laut maupun yang berasal dari lapisan yang berada di bawahnya. Batimetri Perairan
Kalimantan Selatan relatif datar dengan kemiringan antar 1° hingga 3° dan menurun secara landai hingga Kepulauan
Matasiri, kemudian menurun dengan kemiringan yang lebih besar yaitu 3° hingga 5°. Kedalaman terbesar yang
diketahui adalah 70 m yang berada di barat daya Pulau Matasiri. Pada daerah yang dekat dengan Muara Sungai
Barito ditemukan adanya kanal yang diperkirakan adalah sungai purba. Ketebalan sedimen permukaan bervariasi
dari 0,5 m hingga 10 m. Daerah yang memiliki sedimen paling tebal berada di sebelah barat laut Kepulauan Matasiri.
Daerah dengan sedimentasi yang tebal juga ditemui di sebelah barat daya dan tenggara muara Sungai Barito.

Kata kunci: batimetri, Sub Bottom Profiler, ketebalan sedimen, Matasiri, Kalimantan Selatan

ABSTRACT

Bathymetric mapping and sub bottom profiling was conducted to determine the condition of the seabed
morphology, sediment thickness and to prove the existence of ancient rivers in South Kalimantan Waters. Survey
was conducted using a single beam echo sounder and Sub Bottom Profiler, by sending underwater acoustic waves
into the bottom of the sea which then record the time delay from the reflected waves, both derived from the sea floor as
well as those originating from the layer beneath it. The bathymetric of South Kalimantan waters is relatively flat (1°-
3°) and the slope is increased gradually to southern part of South Kalimantan waters (Matasiri Island), then increase
steeper (3°-5°) in southern Matasiri Island. The largest known depth is 70 m that located in south western of Matasiri
Island. a channel that is believed to ancient river found near the Barito River Estuary. Sub surface sediment thickness
that recorded varies from 0.5 m to 10 m. the thickest sediment was found in the northwest of Matasiri Islands. Areas
with large sedimentation are also found in the south western and south eastern of the mouth of the Barito River.

Keywords: bathymetry, Sub bottom Profiler, sediment thickness, Matasiri, South Kalimantan

PENDAHULUAN dikontrol oleh perubahan muka air laut. Setidaknya


telah terjadi lima kali glasiasi semenjak Pleistosen
Perubahan muka laut adalah faktor yang sangat Tengah. Proses ini sangat penting karena terjadi
berpengaruh pada proses dan hasil sedimentasi. penurunan muka air laut yang sangat ekstrim. Pada
Sedimentasi akan terjadi saat air laut naik sehingga 18.000 tahun yang lalu, permukaan air laut berada 120
menutupi lapisan di bawahnya. Pada keadaan m di bawah permukaan air laut sekarang dan muka air
sebaliknya ketika air laut surut, maka bagian dasar laut mulai naik menuju muka air laut yang sekarang.
laut yang tidak tergenang akan mengalami erosi. Pada 11.000 tahun yang lalu kenaikan muka air laut
Erosi-erosi yang terus menerus masa lalu inilah yang baru mencapai 50 m (Lambeck & Chappell, 2001).
membentuk kanal-kanal purba yang merupakan Rekonstruksi kanal purba pernah dilakukan menurut
sungai-sungai masa lalu yang kemudian terisi sedimen batimetri juga menunjukkan adanya pola sungai yang
akibat kenaikan muka air laut secara perlahan dan mengalir pada daerah yang sekarang disebut Paparan
tanpa diiringi oleh aktifitas tektonik yang ekstrim. Sunda (Kuenen. op.cit Emery et.al., 1972).

Secara geologi, daerah ini merupakan bagian Pulau Kalimantan merupakan salah satu pulau
dari Paparan Sunda (Sundaland) yang secara tektonik besar di Indonesia yang memiliki banyak sungai besar
relatif stabil (Tjia, 1993) dan diketahui stabil secara yang bermuara ke Laut Jawa, terutama Kalimantan
tektonik sejak Eosin akhir (Hall, 2002). Dengan bagian selatan. Salah satu sungai yang mengalir dan
demikian, proses sedimentasi di daerah ini hanya bermuara ke Laut Jawa adalah Sungai Barito. Sungai

Korespondensi Penulis:
Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430. Email: hasanudin76@yahoo.com 117
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 117-125

ini memasok aliran air tawar beserta muatannya yang Langkah pertama yang dilakukan sebelum
diperkirakan berton-ton jumlahnya ke laut, sehingga memulai pemetaan batimetri adalah pengambilan data
setidaknya akan mempengaruhi Perairan Kalimantan kecepatan suara dalam air daerah survei. Data
Selatan (Anonim, 2010). Selain pengaruh dari daratan kecepatan suara ini diperoleh dengan menggunakan
Kalimantan, kemungkinan besar juga perairan ini CTD (conductivity, temperature and density). Data
terpengaruh oleh Selat Makassar yang berada di kecepatan suara yang diperoleh kemudian dimasukkan
sebelah Timur, terutama pulau-pulau kecil yang pada sistem yang digunakan untuk akuisisi data.
berada di Perairan Kalimantan Selatan, yaitu Pulau
Marabatua dan Kepulauan Matasiri. Single beam echosounder SIMRAD EA-500
digunakan untuk akuisisi data batimetri. SIMRAD EA-
Penelitian ini bertujuan untuk melihat topografi 500 menggunakan frekuensi 12 kHz dengan jangkauan
(morfologi) dasar laut dan mengetahui ketebalan kedalaman dari 3 m hingga 11.000 m (Gambar 2). Data
sedimen permukaan serta mengetahui kemungkinan single beam echosouder direkam dengan
keberadaan sungai purba di Perairan Kalimantan menggunakan software Navipac dan diproses
Selatan dan sekitarnya. menggunakan software Microsoft excel. Selanjutnya
untuk memperoleh diagram morfologi dasar lautnya
METODE PENELITIAN digunakan software SURFER.

Ekspedisi Perairan Kalimantan Selatan Data seismik resolusi tinggi direkam dengan
merupakan hasil kerjasama antara Direktorat Jenderal menggunakan Sub Bottom Profiler (SBP) tipe
Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional Datasonics CHIRP II CAP 6600. Alat ini terpasang
dan Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu pada Kapal Riset Baruna Jaya VIII. Peralatan ini
Pengetahuan Indonesia (LIPI). Survei dilakukan dari bekerja pada frekuensi 2-7 kHz dengan menggunakan
21 Nopember hingga 29 Nopember 2010 di Perairan tranduser transmitternya adalah Datasonics AT-471
Kalimantan Selatan dan Pulau-pulau di sekitarnya, yang berjumlah 16 dan terpasang secara permanen di
seperti Kepulauan Matasiri dan Kepulauan Marabatuan bawah lunas kapal. Daya keluaran maksimum 14.4 kW.
(Gambar 1). Perekaman data batimetri dan sub bottom File-file data direkam adalah data terproses pada
profile dilakukan secara simultan dan dilakukan pada format SEG-Y, konfigurasi SBP diperlihatkan pada
lintasan yang sama. Gambar 3. Sub bottom profiler tipe ini dapat digunakan
hingga kedalaman 5.000 m dengan penetrasi ketebalan

Gambar 1. Lokasi penelitian.

118
Morfologi Dasar Laut dan Ketebalan Sedimen Permukaan Perairan Kalimantan Selatan (Hasanudin, M.)

hingga 75 m di bawah permukaan dasar laut . Selatan relatif datar dengan rata-rata kedalaman 30 m.
Gambar 5 memperlihatkan bahwa batimetri perairan
Tabel 1 merupakan klasifikasi kemiringan lereng dari daratan utama Kalimantan hingga ke Perairan
menurut Sitanala Arsyad (http://pinterdw.blogspot. Kepulauan Matasiri kedalamannya menurun secara
com/2012/03/klasifikasi-kemiringan-lereng.html) berangsur (kemiringan lereng kecil). Di bagian barat laut
hingga timur laut Pulau Matasiri, batimetrinya menurun
HASIL DAN PEMBAHASAN secara terjal dari kedalaman 30 m ke kedalaman 60 m
hingga 70 m. Kedalaman maksimum yang ditemukan
Lintasan data batimetri dan sub bottom profiler pada survei ini adalah 70 m yang berada di sebelah
yang diperoleh selama survei di Perairan Kalimantan barat daya Pulau Matasiri.
Selatan diperlihatkan pada Gambar 4. Data batimetri
direkam dari satu stasiun CTD ke stasun CTD yang Selain bentuk permukaan dasar laut relatif
lain. Pada Gambar 4, nomor stasiun CTD diperlhatkan datar, ditemukan pula bentuk permukaan dasar laut
oleh bulatan warna merah dengan label St.xx, sebagai yang menyerupai alur lembah dengan arah utara-
contoh St. 17 menunjukkan nomor stasiun CTD ke 17. selatan. Letak alur lembah ini di dekat muara Sungai
Barito sehingga diperkirakan alur lembah ini adalah
Dari pemetaan batimetri didapatkan bahwa terusan sungai Barito yang telah tergenang akibat
secara umum kondisi dasar laut Perairan Kalimantan naiknya permukaan air laut.

Gambar 2. Transducer singlebeam EA 500.

Gambar 3. Konfigurasi Sub Bottom Profiler di KR Baruna Jaya VIII (Hasanudin, 2009).

Tabel 1. Klasifikasi kemiringan lereng menurut Sitanala Arsyad (http://pinterdw.blogspot.com/2012/03/


klasifikasi-kemiringan-lereng.html)

Kemiringan (%) Klasifikasi Kelas

0 - 3 Datar A
3 - 8 Landai atau berombak B
8 - 15 Agak miring C
15 - 30 Miring D
30 - 45 Agak curam E
45 - 65 Curam F
>65 Sangat curam G

119
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 117-125

Penarikan horison seismik didasarkan pada hingga warna biru. Warna merah tua adalah daerah
kriteria yang diajukan oleh Ringgis et. al (1986). Asumsi dengan ketebalan yang kecil sedangkan warna biru
yang diajukan bahwa semua horison mempunyai adalah daerah dengan ketebalan yang paling besar.
kecepatan rambat gelombang seismik 1.500 m/s. Daerah yang memiliki ketebalan sedimen 0,5 m hingga
1,5 m berada pada daerah di sekitar Sta 16, Sta 17,
Dari data sub bottom profiler, Perairan Sta 25, Sta 26 dan sekitar Sta 27. selanjutnya daerah
Kalimantan Selatan diketahui memiliki ketebalan yang memiliki sedimen dengan ketebalan 1,5 m hingga
sedimen permukaan yang bervariasi yaitu dari 2,5 m berada hampir pada seluruh daerah penelitian
setengah meter hingga 10 m (Gambar 6). Perbedaan terutama bagian sebelah timur daerah penelitian.
ketebalan digambarkan oleh warna dari merah tua

Gambar 4. Lintasan data batimetri dan sub bottom profiler.

Gambar 5. Batimetri Perairan Kalimantan Selatan.

120
Morfologi Dasar Laut dan Ketebalan Sedimen Permukaan Perairan Kalimantan Selatan (Hasanudin, M.)

Gambar 6. Distribusi ketebalan sedimen.

Kemudian daerah yang memiliki sedimen satu sungai purba yang mengalir di Paparan Sunda
permukaan dengan ketebalan dari 2,5 m hingga 3,4 m (Gambar 9). Lembah memanjang yang masih dapat
juga tersebar hampir di seluruh area survei, terutama dikenali berdasar batimetrinya diduga tidak cukup
pada Sta 1 hingga Sta 16 juga disekitar sta 18, Sta 19 mengalami pengisian sedimen.
dan Sta 45. Daerah yang memiliki ketebalan lebih dari
3,4 m berada pada Sta 3, Sta 4, Sta 9, Sta 47, Sta 33, Gambar 10 menunjukkan rekonstruksi keadaan
Sta 35 dan Sta 43 dan Sta 44. Ketebalan paling besar daratan sunda pada sekitar 21.000 tahun yang lalu
yang terekam (10 m) ditemukan di daerah sebelah ketika permukaan air laut surut hingga 140 m dari
barat laut Kepulauan Matasiri yaitu sekitar Sta 35 permukaan laut sekarang. Dari gambar menunjukkan
(Gambar 7), diperkirakan bahwa daerah ini merupakan bahwa kondisi permukaan dataran tidaklah rata namun
salah satu tempat dengan laju pengendapan relatif bergelombang sehingga ada daerah-daerah berbukit
lebih besar. dan daerah-daerah berlembah. Keadaan daerah
seperti ini menyerupai intermontane basin seperti yang
Daerah yang memiliki lapisan sedimen tebal terlihat pada Gambar 11.
berhubungan dengan sungai-sungai purba seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 8. Seperti diketahui Pada daerah intermontane basin biasanya
bahwa pengendapan sedimen secara natural akan terdapat sungai-sungai yang mengalir pada lembah-
terjadi pada daerah-daerah lembah. lembah ini. Sungai-sungai ini menyuplai sedimen
sehingga dimungkinkan terjadinya sedimentasi di
Rekonstruksi kanal purba berdasarkan batimetri lembah-lembah ini. Selain suplai sedimen dari sungai-
menunjukkan adanya pola sungai-sungai yang sungai kala itu, sedimentasi juga terjadi ketika adanya
mengalir pada daerah yang sekarang disebut Paparan kenaikan muka air laut yang relatif cepat yaitu dalam
Sunda (Kuenen. op.cit Emery et.al., 1972). Terdapat waktu 18.000 tahun permukaan air laut naik setinggi
kesesuaian antara hasil rekonstruksi dengan hasil sekitar 140 meter maka lembah-lembah akan terlebih
pemetaan batimetri di sebelah selatan Muara Sungai dahulu tergenang dan juga mengalami sedimentasi.
Barito. Bentuk lembah yang memanjang dengan Hal ini dapat terlihat pada peta ketebalan sedimen
arah utara-selatan berada pada posisi yang hampir yaitu adanya daerah-daerah yang memiliki ketebalan
sama dengan rekonstruksi kanal purba. Sehingga sedimen yang besar.
dapat dikatakan bahwa batimetri yang berupa lembah
memanjang utara-selatan diperkirakan adalah salah Data ketebalan sedimen dan batimetri secara

121
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 117-125

Gambar 7. Data sub bottom profile sekitar Sta 35 : (A) raw data; (B) interpretasi data.

a) b)
Gambar 8. Hubungan ketebalan sedimen dan sungai purba (a) data sebelum interpretasi (b) data interpre-
tasi.

122
Morfologi Dasar Laut dan Ketebalan Sedimen Permukaan Perairan Kalimantan Selatan (Hasanudin, M.)

umum menunjukkan keterkaitan yang erat bahwa sekitar stasiun 8 ketebalan sedimennya tidak tebal
lokasi yang memiliki sedimen yang relatif tebal berada (1,5 m - 2,5 m) karena pada masa lalu berdasarkan
pada lokasi dengan bentuk morfologi lembah. Sebagai rekaman sub bottom profiler merupakan daerah
contoh adalah sedimen yang tebal berada di sebelah punggungan Gambar 13.
barat Perairan Matasiri (Gambar 12) sedangkan pada

Gambar 9. Perkiraan sungai purba.

Gambar 10. Dataran Sunda 21.000 tahun yang lalu (Sathiamurthy & Voris, 2006)

Gambar 11. Intermontane basin di Zagros barat daya Iran.


(http://www.asergeev.com/pictures/archives/compress/2010/843/11x.htm)

123
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 117-125

Gambar 12. Hubungan ketebalan sedimen terhadap batimetri.

Gambar 13. Daerah lapisan sedimen tipis yang berada di antara dua daerah dengan lapisan tebal.

124
Morfologi Dasar Laut dan Ketebalan Sedimen Permukaan Perairan Kalimantan Selatan (Hasanudin, M.)

KESIMPULAN Barat Kompleks Krakatau, Jurnal Segara 5 1:65-


75.
1. Batimetri Perairan Kalimantan Selatan relatif
datar dan menurun secara perlahan hingga http://pinterdw.blogspot.com/2012/03/klasifikasi-
Kepulauan Matasiri (1°-3°), kemudian kemiringan-lereng.html diakses: 10 Januari 2012
menurun dengan kemiringan yang lebih
besar setelahnya (3°-5°). Kedalaman h t t p : / / w w w. a s e r g e e v. c o m / p i c t u r e s / a r c h i v e s /
terbesar yang diketahui adalah 70 m yang compress/2010/843/11x.htm diakses: 10 Januari
berada di barat daya Pulau Matasiri. 2012
2. Keberadaan lembah memanjang utara-
selatan berdasarkan kedalamannya yang Lambeck, K & Chappell, J. (2001) Sea-level change
masih nampak menunjukkan bahwa yang trough the last glacial cycle, Science 292, 679-
diperkirakan sungai purba dengan lokasi 686.
berada di dekat Muara Sungai Barito.
3. Ketebalan sedimen permukaan bervariasi Ringis, J., (1986) Seismic Stratigraphy In Very High
dari 0,5 m hingga 10 m. Daerah yang memiliki Resolution Shallow Marine Seismic Data.
ketebalan sedimen yang tinggi berada di Proceedings of The Joint ASCOPE/CCOP
sebelah barat daya dan tenggara daerah Worshop I, 119 – 128.
penelitian karena menurut data seismik
daerah-daerah ini merupakan lembah- Sathiamurthy, Edlic & Harold K. Voris, 2006. Maps of
lembah. Holocene sea level transgression and submerged
4. Ketebalan sedimen dan batimetri secara lakes on the Sunda Shelf. The Natural History
umum menunjukkan keterkaitan yang erat Journal of Chulalongkorn University, Supplement
yaitu lokasi yang memiliki sedimen yang 2: 1-44
relatif tebal berada pada lokasi dengan
bentuk morfologi lembah kecuali pada Tjia, H.D, (1993) Holocene Sea-Level In The Malay-
beberapa tempat karena dari data seismik Thai Peninsula, A Tectonically Stable Environment.
daerah ini merupakan daerah punggungan Geological Society of Malaysia Bulletin.
di masa lalu.

PERSANTUNAN

Kami mengucapkan kepada Direktorat


Jenderal Pendidikan Tinggi, Kepala Pusat Penelitian
Oseanografi LIPI, Bapak Dirhamsyah, Pak Edi
Kusmanto, Pak Priyadi, Pak Muhadjirin, Kapten Daniel
KR Baruna Jaya VIII dan semua orang yang tidak bisa
disebutkan satu per satu.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2010) Laporan Ekspedisi Perairan Kalimantan


Selatan, Joint Riset P2O LIPI-Dirjen Dikti. (tidak
dipublikasi)

Emery, K.O., Uchupi, E., Sunderland, J., Uktolseja,


H.L.,& Young, E.M. (1972) Geological Structure
and Some Water Characteristics of The Java Sea
and Adjacent Continental Shelf. United Nations
ECAFE, CCOP Technical Bulletin, Vol.6.

Hall, Robert, (2002). Cenozoic geological and plate


tectonic evolution of SE Asia and the SW
Pacific: computer-based reconstruction, model
and animation, Journal of Asian Earth Sciences
20:353-431

Hasanudin, M., (2009) Morfologi Kasar Di Sebelah

125
Analisis Penentuan Zona Labuh Jangkar Untuk Taman Wisata...Sumatera Barat (Husrin, S.)

ANALISIS PENENTUAN ZONA LABUH JANGKAR


UNTUK TAMAN WISATA PERAIRAN PULAU PIEH, SUMATERA BARAT
Semeidi Husrin1)
1)
Peneliti pada Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir, Balitbang Kelautan dan Perikanan - KKP

Diterima tanggal: 17 Juli 2012; Diterima setelah perbaikan: 27 November 2012; Disetujui terbit tanggal 30 November 2012

ABSTRAK

Pulau Pieh merupakan bagian Taman Wisata Perairan (TWP) yang terletak di wilayah Kabupaten Padang
Pariaman, Provinsi Sumatera Barat merupakan kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati bawah
laut. Pulau yang memiliki keindahan pasir putih dan hamparan karang masih belum memiliki infrastruktur
yang memadai untuk menunjang pengelolaan kawasan ini sebagai TWP. Salah satu infrastruktur yang sangat
dibutuhkan oleh Pulau Pieh adalah lokasi labuh jangkar yang kedepannya bisa dimanfaatkan sebagai lokasi
pembangunan infrastruktur lain, seperti dermaga pendaratan kapal. Letak geografi Pulau Pieh yang berada di
tengah lautan luas dan dimensi pulau yang tergolong kecil menyulitkan penentuan lokasi labuh jangkar yang
aman bagi kapal-kapal yang berlabuh di Pulau ini. Oleh karena itu, studi mengenai karakteristik oseanografi
(pasang surut, gelombang, angin dan arus) di kawasan ini menjadi sangat penting untuk dapat menentukan
beberapa alternatif zona labuh jangkar. Berdasarkan analisis mendalam parameter-parameter oseanografi
fisik, zona labuh jangkar teraman berhasil ditentukan yang berlokasi di sebelah Timur Laut dari Pulau Pieh.

Kata kunci: pasang surut, gelombang, arus, zona labuh-jangkar, Pulau Pieh, Sumatera Barat

ABSTRACT

Pieh Island in West Sumatera Province of Indonesia is rich of underwater biodiversity. The island
is administratively declared as part of the Marine Tourism Park. However, with beautiful white sandy
beaches and wide spread of corals surrounding the island has not been supported by basic infrastructures,
such as safe anchorage areas which can be further developed as a jetty or a pier for any visiting boats or
ships. Geographically, the island is located in the middle of an open ocean and its small dimension makes
the determination of a safe anchorage area becoming far more difficult. Therefore, studies related to
physical oceanography, i.e. tides, waves, wind and currents around the island is very important to analyse
alternatives of safe anchorage areas. Based on comprehensive analysis of physical oceanography
parameters, the safest anchorage area in Pieh Island was suggested in the North East area of the island.

Keywords: tides, waves, current, anchorage area, Pieh Island, West Sumatera

PENDAHULUAN hingga lebih dari 50% sejak pertengahan tahun 90-an,


kecenderungan peningkatan kembali tutupan karang
Pulau Pieh terletak di Kabupaten Padang hidup mulai terlihat lagi pada dua tahun terkahir. Oleh
Pariaman yang merupakan bagian dari Taman karena itu, LKKPN Pekanbaru selaku pengelola
Wisata Perairan (TWP) Pulau Pieh dan Sekitarnya. dari TWP ini berencana menjadikan kawasan ini
Sejak dikeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan sebagai tujuan wisata terbatas (wisata ekologi dan
Perikanan No. 70 Tahun 2009 Tentang Kawasan edukasi) dengan Pulau Pieh sebagai titik pusat
Konservasi Perairan Nasional Pulau Pieh dan Laut pemantauan dan pengelolaan pulau-pulau lainnya.
di Sekitarnya di Provinsi Sumatera Barat, TWP yang
meliputi Pulau Pieh, Bando, Air, Toran dan Pandan Dengan semakin intensifnya frekuensi kunjungan
merupakan bagian wilayah kerja Loka Kawasan dalam rangka pengelolaan TWP Pulau Pieh ini,
Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru, pihak LKKPN mengalami kesulitan karena minimnya
Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kelima pulau infrastruktur yang ada. Salah satu infrastruktur
di kawasan TWP ini memiliki potensi ekosistem yang sangat vital di pulau-pulau ini (terutama Pulau
perairan melimpah dengan tutupan karang hidup Pieh yang berperan sebagai pusat pengelolaan
mencapai 43% (LKKPN, 2010). Lokasi pulau-pulau kawasan TWP) adalah tempat pendaratan kapal
yang relatif jauh dari daratan utama, Pulau Sumatera, yang aman dari gangguan gelombang kuat yang
menjadikan kawasan ini lebih asri dengan pasir- terjadi sepanjang tahun. Letak Pulau Pieh di lautan
pasir putih dan karang-karang yang kaya akan terbuka, ukurannya yang kecil dan permukaanya
kenekaragaman hayati. Walaupun tutupan karang yang rendah (morfologi dasar laut) menjadikan
hidup di Pulau Pieh sempat mengalami penurunan penentuan zona tambatan kapal menjadi cukup sulit.
Korespondensi Penulis:
Jl. Raya Padang-Painan, Km.16 Bungus, Padang-25245. Email: s.husrin@kkp.go.id 127
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 127-138

Beberapa studi dan metoda sudah banyak 2. Pengambilan data batimetri dan topografi
dilakukan untuk penentuan zona labuh jangkar atau
kolam pelabuhan yang optimal ((USACE, 1984), Peta batimetri dibutuhkan untuk mendapatkan
diperbaharui dengan (USACE, 2006)). Beberapa gambaran umum mengenai kondisi perairan di lokasi
parameter oseanografi yang menjadi faktor penentu studi dan sekitarnya. Peta ini dijadikan dasar untuk
pemilihan lokasi diantaranya pasang surut, batimetri, pemodelan transformasi gelombang laut dalam ke
gelombang, arus, dan angin. Kartikasari, (2008) lokasi di sekitar perairan Pulau Pieh. Peta batimetri
menerapkan metoda praktis dari (USACE, 1984) untuk kawasan besar yang dimiliki saat ini adalah dari
untuk menentukan rancangan dermaga di Pulau Peta Dishidros No. 165: Pariaman hingga Pulau
Kalukalukuang di Sulawesi Selatan berdasarkan Nyamuk (Gambar 2a) (Dishidros, 2011). Sementara itu,
pada parameter-parameter oseanografi tersebut. data batimetri di sekitar lokasi Pulau Pieh untuk
Sementara itu, Ekebom et al. (2003) memperkenalkan penentuan lokasi labuh jangkar diambil dari hasil
metoda praktis berdasarkan USACE (1984) untuk pengukuran yang dilakukan pada tanggal 2 - 3
penentuan daerah pembentukan gelombang (fetch) November 2011. Pengukuran batimetri untuk
dan eksposur gelombang untuk area kepulauan. Oleh kedalaman lebih dari 3 meter menggunakan
karena itu, berdasarkan pada metode dan studi yang echosounder yang terpasang pada kapal. Sementara
sudah baku (USACE, 1984), tulisan ini bertujuan untuk kedalaman di bawah 3 meter, pengukuran
untuk menentukan zona tambatan kapal atau daerah dilakukan secara manual menggunakan pile ukur
labuh jangkar yang optimal di Pulau Pieh dengan menyusuri pantai dengan bantuan handheld GPS
memperhitungkan parameter-parameter oseanografi untuk menentukan posisi. Data batimetri yang diambil
di TWP Pulau Pieh dan sekitarnya. merupakan data berupa potongan profil pantai tegak
lurus terhadap garis pantai pada lima lokasi tertentu
METODE PENELITIAN seperti terlihat pada Gambar 2b. Untuk topografi pantai,
kemiringan, lebar dan elevasi pantai diukur
1. Lokasi penelitian menggunakan pile ukur dan waterpass. Hasil
pengukuran batimetri/topografi pada lima lokasi
Secara geografi Pulau Pieh terletak pada pada tersebut selanjutnya dikoreksi terhadap kondisi pasang
100o6’01” BT – 00o52’27” LS dengan jarak (garis surut (MSL) (Gambar 2b).
lurus) dari Pulau Sumatera sekitar 26 km (Gambar 1).
Dengan luas sekitar 10,7 ha dan keliling 1.210 meter, 3. Data pasang surut
Pulau Pieh ditutupi oleh sekitar 9,0 ha vegetasi daratan
dan 1,7 ha hamparan pasir. Pulau Pieh dikelilingi oleh Data pasang surut sangat penting untuk
hamparan karang seluas 27 ha dengan jumlah spesies menentukan elevasi dan operasional kapal-kapal yang
sedikitnya 23 jenis yang didominasi oleh Seriatophora berkunjung ke Pulau Pieh. Data pasut yang
sp, Porites, Pocillophora dan Stylophora sp (Maulana, dikumpulkan berasal dari BMKG Pelabuhan Teluk
2010). Bayur (0° 59’ 55”LS dan 100° 22’ 27” BT) yang berjarak

Gambar 1. Lokasi Pulau Pieh pada kawasan TWP Pulau Pieh dan sekitarrnya (Sumber: citra satelit ALOS
AVNIR 2010).

128
Analisis Penentuan Zona Labuh Jangkar Untuk Taman Wisata...Sumatera Barat (Husrin, S.)

sekitar 30 km dari Pulau Pieh selama periode Juni ke dalam inkubator dengan suhu 35oC selama 24 jam.
2010. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan Dengan menggunakan jarum ose, kultur bakteri pada
metoda kuadrat terkecil (Least Square) untuk media selenit diinokulasikan ke media XLD agar,
menguraikan komponen-komponen pasang surut. kemudian sampel diinkubasikan ke dalam inkubator
selama 24 jam pada suhu 35oC. Bakteri yang tumbuh
Metode ini merupakan metode yang umum pada media XLD agar selanjutnya diuji pada media uji
digunakan dalam analisis data pasang surut dan sudah TSI, SIM, LDB, Sulfit, dan Urea untuk mendeterminasi
banyak diterapkan dalam berbagai aplikasi praktis jenis bakteri.
(Rufaida, 2008). Penguraian komponen-komponen
pasang surut menghasilkan besaran amplitudo dan 4. Data arus laut
fasa untuk setiap komponen. Metode ini menggunakan
prinsip bahwa kesalahan peramalan harus sekecil- Data arus yang diperoleh merupakan data
kecilnya, sehingga jumlah selisih kuadrat antara sekunder yang berasal dari data arus permukaan laut
peramalan dengan data pengamatan harus minimum. selama periode Juni 2010- Mei 2011 yang diterbitkan
Hasil peramalan dianalisis lebih lanjut untuk oleh kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
memperoleh beberapa elevasi penting dalam kurun Geofisika (BMKG, 2011). Data arus permukaan ini
waktu prediksi 20 tahun. merupakan hasil prediksi model windwaves-05 dengan
resolusi grid 0,5 derajat.
Isolasi bakteri patogen genus Salmonella
dilakukan dengan menuang sampel air sebanyak 1 ml 5. Data angin dan gelombang
atau menuang 1 gr sedimen atau serasah atau daging
biota ke dalam media enrichment, kemudian Data angin dengan interval 1 jam selama 10
diinkubasikan dalam inkubator selama 24 jam pada tahun (1995-2004) dikumpulkan dari Stasiun Tabing
suhu 35oC. Selanjutnya dari kultur media enrichment, (0°52′29.96″ LS, 100°21′6.77″ BT), Badan Meteorologi,
diambil sebanyak 1 ml sampel dan diinokulasikan ke Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kota Padang.
dalam media selenit, selanjutnya sampel diinkubasikan Data angin tersebut digunakan untuk peramalan

a) Batimetri kawasan sekitar Pulau Pieh dari Dishidros b) Lokasi pengukuran lapangan di
Pulau Pieh
Gambar 2. Batimetri kawasan besar sekitar Pulau Pieh yang diambil dari Peta Dishidros No. 165 dan lokasi
pengukuran langsung di lapangan.

129
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 127-138

gelombang dengan metoda yang telah dibakukan (Kirby & Dalrymple, 1986;1993). Metode ini telah
dalam “Shore Protection Manual” (USACE, 1984), di terbukti memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk
mana telah diperbarui dalam “Coastal Engineering memprediksi gelombang di perairan dangkal (Maa et
Manual” (USACE, 2006). Metoda ini merupakan acuan al., 2000). Input yang diperlukan untuk pemodelan ini
standar yang telah banyak digunakan untuk pekerjaan adalah batimetri, tinggi gelombang ekstrim, perioda
pengelolaan dan perlindungan pantai (Etemad-Shahidi gelombang ekstrim, dan arah datang gelombang.
et al., 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Selain data angin, metoda ini membutuhkan data
daerah pembentukan gelombang (fetch). Fetch adalah 1. Batimetri dan topografi
daerah pembentukan gelombang yang diasumsikan
memiliki kecepatan dan arah angin yang relatif konstan. Hasil pengukuran batimetri dapat dilihat pada
Panjang fetch ditentukan dari titik pengamatan hingga Gambar 3. Gambar 3 memperlihatkan bahwa titik P2
ditemui daratan dengan interval 5o (Tabel 1). merupakan titik yang memiliki jarak terpendek (58,8
Selanjutnya, proses peramalan gelombang dihitung m) diikuti oleh titik-titik P5, P3, P1 dan P4. Dilihat dari
berdasarkan formula-formula empiris yang diturunkan capaian kedalaman, titik P2 merupakan titik terdalam
dari model parametrik berdasarkan spektrum dengan 2,41 m diikuti oleh titik P1, P3, P4 dan P5.
gelombang JONSWAP yang berlaku baik untuk kondisi Perbedaan hasil pengukuran terjadi karena beberapa
fetch terbatas (fetch limited condition) maupun kondisi hal, diantaranya tingkat kesulitan saat pengukuran
durasi terbatas (duration limited condition). lapangan. Pada titik P1 dan P2 pengukuran batimetri
relatif mudah karena kondisi gelombang yang
Tinggi gelombang dan periodenya hasil relatif tenang sementara pada titik P3, P4 dan P5
hindcasting diolah kembali untuk mendapatkan tinggi pengukuran batimetri cukup sulit bahkan cenderung
gelombang di perairan dekat Pulau Pieh. Proses ini membahayakan karena tingginya gelombang. Oleh
disebut proses transformasi gelombang dari perairan karena itu, pengukuran pada titik P3, P4 dan P5 tidak
dalam ke perairan dangkal. Ada beberapa tipe dapat dilakukan hingga kedalaman 2 meter atau lebih
transformasi gelombang, diantaranya: pendangkalan karena memasuki daerah gelombang pecah.
(shoaling), pecah (breaking), refraksi (refraction), dan
difraksi (difraction) (Dean & Dalrymple, 1991). Untuk Kedalaman lebih dari 2 meter sangat diperlukan
keperluan perencanaan ini lebih ditekankan pada untuk dapat mengakomodasi kapal-kapal berukuran
analisa refraksi/difraksi saja di mana model numerik maksimum 20GT dengan draft sekitar 1 meter. Oleh
REF/DIF yang disusun oleh Center for Applied Coastal karena itu, titik P2 dan P1 bisa dijadikan alternatif
Research, University of Delaware, USA diterapkan sebagai lokasi daerah labuh jangkar. Titik-titik lainnya

Tabel 1. Daerah pembentukan gelombang (fetch) untuk perairan Pulau Pieh setiap 5o

130
Analisis Penentuan Zona Labuh Jangkar Untuk Taman Wisata...Sumatera Barat (Husrin, S.)

(P3, P4 dan P5) kurang cocok untuk dijadikan lokasi cenderung ganda (Mixed predominantly semi diurnal)
labuh jangkar, karena selain jarak yang tidak lebih dengan nilai Formzahl = 0,41. Dari data yang disajikan
dekat dari titik P1 dan P2 dan gelombang yang tinggi dalam Tabel 3, peramalan pasut selama 20 tahun ke
saat pengamatan, hasil pengamatan topografi juga depan dapat dilakukan. Hasil peramalan berkorelasi
kurang mendukung. Jejak erosi pantai terlihat jelas di dengan baik dengan data lapangan (RMSE = 0,0077
sepanjang titik P3, P4 dan P5 yang memperlihatkan m) seperti terlihat pada Gambar 5. Hasil peramalan
jejak hantaman gelombang di sisi Barat, Selatan, tersebut kemudian dianalisis lebih lanjut untuk
Tenggara, dan Utara. Hal ini, dapat dilihat dari memperoleh beberapa elevasi penting seperti terlihat
gerusan pantai pasir dengan tinggi gawir hingga 50 pada Tabel 4. Terlihat bahwa tunggang pasang di
cm di sepanjang pantai tersebut (Tabel 2 dan Gambar daerah ini bisa mencapai 1,3 m dengan surut terendah
4). Jejak erosi dan tinggi gawir ini memperlihatkan mencapai -56,41 m dan pasang tertinggi 74,64 m dari
tingginya intensitas hantaman gelombang di daerah- Mean Sea Level (MSL).
daerah ini, sehingga kurang cocok untuk dijadikan
daerah labuh jangkar. Sementara itu, pada sisi timur Dengan surut terendah mencapai -56,41 m, titik
dan timur laut (P1 dan P2), jejak erosi tidak nampak P2 dan P1 memiliki tingkat keamanan lebih tinggi
signifikan. Oleh karena itu, dari hasil pengukuran dibanding titik-titik lainnya (P3, P4 dan P5) karena
batimetri dan topografi, titik P1 dan P2 yang terletak kedalaman batimetri yang lebih dari 2 m. Pada
di timur laut memiliki keunggulan dibanding lokasi lainsaat surut terendah titik P2 dan P1 masih memiliki
untuk dijadikan lokasi labuh jangkar. kedalaman batimetri ~1,5 m sehingga masih dapat
dilalui oleh kapal-kapal dengan draft sekitar 1 m.
2. Pasang surut Sementara itu, pada surut terendah, titik-titik P3, P4
dan P5 tidak akan dapat dilalui oleh kapal dengan draft
Hasil analisis Least Square, konstituen pasut di ~1 m karena beresiko menyebabkan kapal kandas.
Pulau Pieh terlihat pada Tabel 1. Berdasarkan metoda
penentuan jenis pasut (Teknik Geodesi, 1989:1), tipe
pasang surut perairan Pulau Pieh dan sekitarnya
dapat dikategorikan sebagai pasang surut campuran

Gambar 3 Gambaran batimetri Pulau Pieh di titik-titik pengukuran.

131
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 137-147

Gambar 4. Kondisi pantai di sekeliling Pulau Pieh (Tabel 2).

Tabel 2. Pengukuran topografi pantai (lihat Gambar 4)

Titik Lebar (m) Kemiringan (°) Keterangan

P1 20 6,42 gelombang relatif tenang, tanda erosi minimum di pantai terlihat,


nelayan membuat tenda dan mendarat di sini
P2 10,8 8,59 gelombang lebih tenang dibanding P1, erosi minimal terlihat
P3 10 8,59 tanda-tanda erosi terlihat jelas di pasir yang tergerus gelombang
P4 12 8,59 pohon bertumbangan di daerah ini (kelapa), erosi parah terlihat jelas
P5 16 8,59 jejak erosi terlihat jelas dari gerusan pantai berpasir

Tabel 3. Konstituen pasang surut untuk perairan Pulau Pieh dan sekitarnya

Konstituen Amplitudo (cm) Beda Fasa (O)



M2 35,52 226,89
S2 14,8 27,97
N2 7,57 249,26
K2 4,73 27,36
K1 13,22 89,88
O1 7,37 149,6
P1 1,59 -2,81
M4 1,95 177,11
MS4 0,53 -19,8

SO 198,03

132
Analisis Penentuan Zona Labuh Jangkar Untuk Taman Wisata...Sumatera Barat (Husrin, S.)

3. Arus permukaan didominasi arus yang bergerak dari selatan ke utara.


Keadaan ini nampaknya berkaitan erat dengan iklim
Data arus permukaan yang diperoleh dari BMKG di wilayah ini yang dipengaruhi angin monsun barat
sejak Juni 2010 hingga Mei 2011 memperlihatkan (Oktober-April) dan timur (April-Oktober). Dengan
bahwa kecepatan arus laut di wilayah sekitar Pulau kondisi seperti ini, kekuatan arus permukaan tidak
Pieh pada umumnya relatif tenang dengan kecepatan akan terlalu berpengaruh terhadap operasional kapal-
maksimum mencapai 15 cm/s yang terjadi hanya kapal yang berlabuh. Oleh karena itu, kekuatan arus
pada Bulan Januari-Februari 2011 (Gambar 6). Selain permukaan di seluruh lokasi tidak berpengaruh
Bulan tersebut, kekuatan arus di wilayah ini kurang signifikan ke operasional kapal yang berkunjung ke
dari 5 cm/s. Pada Mei hingga September, arah arus Pulau Pieh.
didominasi arah yang bergerak dari Utara ke Selatan
sementara pada Oktober hingga April arah arus

Gambar 5. Hasil perbandingan antara data dan prediksi pasang surut.

Tabel 4. Elevasi penting perairan Pulau Pieh dan sekitarnya

Elevasi-elevasi Penting Nilai (cm) Kejadian

Highest Water Spring (HWS) 272,64 1


Mean High Water Spring (MHWS) 266,74 2
Mean High Water Level (MHWL) 234,40 59
Mean Sea Level (MSL) 198,00 744
Mean Low Water Level (MLWL) 161,14 60
Mean Low Water Spring (MLWS) 144,99 2
Lowest Water Spring (LWS) 141,59 1

Nilai Elevasi-elevasi Penting diikatkan pada MSL (cm) :

Elevasi-elevasi Penting Nilai (cm) Kejadian


Highest Water Spring (HWS) 74,64 1
Mean High Water Spring (MHWS) 68,74 2
Mean High Water Level (MHWL) 36,39 59
Mean Sea Level (MSL) 0,00 744
Mean Low Water Level (MLWL) -36,86 60
Mean Low Water Spring (MLWS) -53,01 2
Lowest Water Spring (LWS) -56,41 1

Tunggang pasang : 131,05 cm

133
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 127-138

Gambar 6. Dinamika arus permukaan di sekitar Pulau Pieh. Bulatan putih adalah lokasi Pulau Pieh.

Tabel 5. Persentase dan windrose kejadian angin Stasiun Tabing

134
Analisis Penentuan Zona Labuh Jangkar Untuk Taman Wisata...Sumatera Barat (Husrin, S.)

4. Angin dan gelombang Hasil simulasi refraksi-difraksi gelombang


disajikan dalam bentuk gambar pola distribusi tinggi
Mawar angin (waverose) Stasiun Tabing dapat gelombang dalam bentuk plot garis-garis kontur tinggi
dilihat dalam Tabel 5. Angin yang bertiup di daerah gelombang. Gambar 8a dan 8b memperlihatkan kontur
ini didominasi dari arah barat (8,5%). Hasil analisis tinggi gelombang setelah transformasi gelombang dari
angin dengan metoda hindcasting disajikan dalam arah barat dan barat daya (75% kejadian angin dan
Tabel 6. Dari Tabel 6 terlihat bahwa gelombang lebih gelombang). Dengan mempertimbangkan persentasi
dari 2 meter berpotensi berasal dari arah utara, barat kejadian angin dan gelombang, gelombang ekstrim
daya dan barat. Hasil analisis gelombang juga dapat dengan perioda ulang 50 tahun digunakan sebagai
digambarkan dalam bentuk waverose mengikuti masukan untuk transformasi gelombang dari arah barat
pola angin sebagai penggeraknya (Gambar 7b). dan barat daya. Terlihat bahwa tinggi gelombang di
Gelombang tampak didominasi dari arah barat dan sebelah timur dan timur laut dari Pulau Pieh berpotensi
barat laut yang mencapai 75% dari total kejadian memiliki tinggi gelombang sekitar 2 meter pada kondisi
berangin. Hasil ini sesuai dengan hasil pemodelan ekstrim.
gelombang yang dilakukan oleh BMKG selama Tahun
2010/2011 untuk perairan Samudera Hindia dengan Dari kajian transformasi gelombang, titik P1
model windwaves05 (BMKG, 2011). Selanjutnya, dan P2 merupakan daerah yang paling tenang dari
inventarisasi gelombang dilakukan untuk keperluan hantaman gelombang ekstrim (dari arah barat dan
analisis harga ekstrim menggunakan metoda Gumbel barat daya). Dari hasil simulasi gelombang (Gambar
(FT-1) yang menghasilkan harga ekstrim untuk tinggi 8) juga terlihat bahwa kawasan di sebelah timur laut
gelombang dan periodanya seperti terlihat pada dari Pulau Pieh memiliki kecenderungan lebih tenang.
Gambar 7a. Namun, beberapa kondisi juga perlu dicermati pada

Tabel 6. Gelombang maksimum untuk setiap arah selama 10 tahun (meter)


Tahun Rata-
Arah 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 rata Max
Utara 1,09 0,33 0,41 0,93 0,41 0,41 2,78 0,83 6,56 3,01 1,11 6,56
Timur Laut 0,65 0,29 0,25 0,25 0,25 1,06 0,23 0,74 0,29 0,85 0,49 1,06
Timur 0,37 0,19 0,56 0,33 0,14 0,14 0,19 0,56 0,25 0,81 0,35 0,81
Tenggara 0,25 0,17 0,14 0,23 0,14 0,14 0,17 0,25 1,66 0,23 0,34 1,66
Selatan 0,41 0,51 0,48 0,28 0,4 0,19 0,29 0,41 0,41 0,39 0,38 0,51
Barat Daya 1,06 0,39 0,51 0,44 0,41 0,48 3,09 0,56 0,65 1,59 0,92 3,09
Barat 0,88 0,65 0,56 0,56 0,51 0,51 4,59 3,28 0,66 1,99 1,42 4,59
Barat Laut 0,25 0,65 0,29 0,41 0,48 0,48 0,88 0,44 0,33 0,41 0,46 0,88
Rata-rata 0,62 0,40 0,4 0,43 0,34 0,43 1,53 0,88 0,64 1,16
Max 1,09 0,65 0,56 0,93 0,51 1,06 4,59 3,28 1,66 3,01

Gambar 7. Karakteristik gelombang di sekitar perairan Pulau Pieh.

135
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 127-138

Gambar 8. Transformasi gelombang di perairan Pulau Pieh dan sekitarnya hasil simulasi REF/DIF dengan
gelombang datang dari arah barat dan barat daya.

Gambar 9. Gelombang rata-rata dan maksimum berdasarkan data angin 1995-2004

waktu-waktu tertentu di mana gelombang tinggi dapat 5. Aspek pendukung lainnya


terjadi selain dari arah barat dan barat daya. Kejadian
gelombang dan angin ekstrim selain arah barat dan LKKPN (2010) menyebutkan bahwa daerah
barat daya dapat dipantau dan dijadikan pijakan dalam bagian Selatan memiliki tutupan karang paling tinggi
pengelolaan kawasan TWP Pulau Pieh berkaitan diikuti oleh daerah sebelah timur dan utara. Hal
dengan perioda kunjungan kapal wisata. Dari Tabel ini merupakan salah satu indikasi bahwa kawasan
6, keadaan gelombang ekstrim yang mungkin terjadi timur laut merupakan daerah yang berpotensi untuk
selain dari arah barat dan barat daya adalah sekitar dijadikan lokasi labuh jangkar karena tutupan karang
16 hari (4,5%). Penentuan gelombang ekstrim tidak di lokasi ini yang relatif tidak terlalu tinggi dibanding
dapat diprediksi kapan akan terjadinya, karena daerah tenggara atau selatan. Selain itu, informasi dari
bisa terjadi kapan saja (Gambar 9). Oleh karena itu, nelayan yang dijumpai saat pengambilan data juga
kerjasama dengan BMKG untuk memperkirakan menyarankan agar lokasi labuh jangkar (pembangunan
kejadian gelombang ekstrim pada bulan – bulan yang dermaga) di daerah antara titik P1 dan P2. Para nelayan
berpotensi seperti pada Gambar 9 mutlak diperlukan. beralasan karena mereka selalu berlabuh di daerah itu
(P1 dan P2) untuk berlindung dari badai. Oleh karena
itu, luas daerah untuk labuh jangkar berkisar 5000 m2
yang dibatasi oleh titi P1 (100°06’06.3” BT, 00°52’22.4”

136
Analisis Penentuan Zona Labuh Jangkar Untuk Taman Wisata...Sumatera Barat (Husrin, S.)

LS) dan P2 (100°06’06.4” BT, 00°52’24.8”LS). Namun, Dean, R.G., & Dalrymple, R.A. (1991) Water Wave
luasan ini dapat berkurang tergantung dari rencana Mechanics for Engineers and Scientists, N.J:
pembangunan infrastruktur, dimensi dan pergerakan World Scientific Publishing
kapal.
Dinas Hidro-oseanografi TNI AL (2011) Peta Pulau
KESIMPULAN DAN SARAN Nyamuk dan Sekitarnya, peta No. 165, Dinas
Hidrooseanografi TNI AL, Jakarta.
Dengan mempertimbangkan berbagai parameter
fisik oseanografi, zona labuh jangkar yang aman untuk Ekebom, J., Laihonen, P. & Suominen, T. (2003) A
Pulau Pieh telah berhasil ditentukan. Lokasi tersebut GIS-based step-wise procedure for assessing
berada pada sebelah timur laut dari Pulau Pieh, physical exposure in fragmented archipelagos.
tepatnya daerah yang dibatasi oleh 100°06’06.3” BT, Journal of Estuarine. Coastal and Shelf Science
00°52’22.4” LS dan 100°06’06.4” BT, 00°52’24.8”LS. 57: 887–898.
Informasi ini akan sangat bermanfaat tidak hanya bagi
LKKPN selaku pengelola TWP, melain juga bagi pihak Etemad-Shahidi, A., Kazeminezhad, M.H. & SJ.
– pihak lainnya yang berencana mengembangkan Musavi. (2009) On The Prediction of Wave
lebih jauh potensi dari Pulau Pieh ini, misalnya Parameters Using Simplified Method. Journal of
dengan membangun sebuah dermaga. Pembangunan Coastal Research. 56: 505-509
dermaga di lokasi ini akan sangat membantu
perekonomian masyarakat sekitar karena selain Jurusan teknik Geodesi ITB (1989) Pedoman
potensi wisata alamnya yang sangat menjanjikan, Pendidikan Survei Hidrografi, ITB-PERTAMINA,
sebuah dermaga di lokasi yang tepat akan lebih Bandung.
mempermudah proses loading dan unloading barang
(kelapa yang dipanen secara berkala) dan manusia Kartikasari, Y. (2008) Desain Dermaga General
dari dan ke Pulau Pieh. Oleh karena itu, untuk Cargo dan Trestle Tipe Deck on Pile di Pulau
kesempurnaan hasil yang didapat pada studi kali ini, Kalukalukuang Provinsi Sulawesi Selatan. Skripsi
pengambilan data batimetri yang lebih luas dan lebih S1. Jurusan Teknik Kelautan, ITB.
detail serta data hidrodinamika lainnya seperti arus
dan pasut di lokasi studi mutlak diperlukan. Selain Kirby, J.T. & Dalrimple, R.A, (1986) An approximate
itu, sebagai bagian dari pengelolaan kawasan pesisir model for nonlinear dispersion in monochromatic
yang berwawasan kebencanaan, kajian tentang wave propagation models. Journal of Coastal
rambatan tsunami juga diperlukan karena daerah Engineering. 9: 545–561
Sumatera Barat pada umumnya sangat rentan akan
kejadian gempa/tsunami yang berasal dari aktifitas Kirby, J.T. & Dalrimple, R.A. (1993) Refraction/Difraction
zona subduksi. Model Ref/DIF 1, version 2.4, documentation
and user manual, Centre for Applied Coastal
PERSANTUNAN Reserach, University of Delaware, USA.

Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar- LKKPN. (2010) Review Potensi Taman Wisata Perairan
besarnya kepada Loka Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya, Loka Kawasan
Nasional (LKKPN) Pekanbaru, Kementerian Kelautan Konservasi Perairan Nasional, Pekanbaru, Riau.
dan Perikanan yang telah mengikusertakan penulis
dalam rangkaian pengambilan data di TWP Pulau Pieh Maa, J.P.Y., Hsu, T.W., Tsa, C.H. & Juang, W.J. (2000)
dan Sekitarnya. Penulis juga mengucapkan terimakasih Comparison of wave refraction and diffraction
kepada Sdr. Ilham, Sdr. Ilham Adnan, A.Md dan Rizki models, Journal of Coastal Research, hal. 1073-
Anggoro Adi, ST yang telah berkontribusi dalam proses 1082
pengambilan dan analisis data. Ucapan terimakasih
juga terhatur pada Prof. Rochadi Abdulhadi yang telah Maulana, R.A. (2010) Kondisi dan komposisi karang
membimbing tatacara penulisan Karya Tulis Ilmiah di hidup di terumbu karang perairan Pulau Pieh
LIPI Cibinong. Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.
Skripsi S1, Jurusan Biologi, Universitas Andalas.
DAFTAR PUSTAKA
Rufaida, N.H. (2008) Perbandingan Metode Least
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Square (Program World Tides Dan Program Tifa)
(2011) Peta Arus Permukaan dan Gelombang Dengan Metode Admiralty Dalam Analisis Pasang
Perioda Juni 2010 – Mei 2011. BMKG Teluk Surut, Skripsi S1, Jurusan Oseanografi, ITB.
Bayur, Padang.
U.S.Army Corps of Engineers (USACE). (1984)

137
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 127-138

Shore Protection Manual, Coastal Engineering


Research Center, Vicksburg, Mississippi, US.

U.S.Army Corps of Engineers (USACE). (2006)


Shore Protection Manual, Coastal Engineering
Research Center, Vicksburg, Mississippi, US.

138
Variasi Diurnal Suhu Permukaan Laut...Samudera Hindia (Adi, T.R., et al.)

VARIASI DIURNAL SUHU PERMUKAAN LAUT (SPL)


MELALUI PENGAMATAN RAMA MOORING DI SAMUDERA HINDIA
Tukul Rameyo Adi1), Bangun Mulyo S2), Indroyono Soesilo3), Teguh Hariyanto2),
Sugiarta Wirasantosa1), Salvienty Makarim1) & Weidong Yu 4)
1)
Pusat Penelitian Sumber Daya Laut dan Pesisir, Balitbang Kelautan dan Perikanan - KKP
2)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
3)
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
4)
First Institute of Oceanograpy, State of Oceanic Administration, China
Diterima tanggal: 15 September 2012; Diterima setelah perbaikan: 29 November 2012; Disetujui terbit tanggal 30 November 2012

ABSTRAK

Variasi atau siklus harian Suhu Permukaan Laut (SPL) merupakan sebuah fenomena laut yang sangat
menarik untuk dipahami. Khususnya di perairan Samudera Hindia, fenomena ini berhubungan erat dengan
fenomena interaksi laut-atmosfer yang terkait dengan variabilitas iklim seperti fenomena Madden Julian Oscilation
dan pemanasan laut dalam skala luas. Studi ini berdasarkan pada sistem pemantauan laut-atmosfer terpadu
menggunakan mooring dan buoy di Samudera Hindia dalam program RAMA (Research Moored Array for African-
Asian-Australian Monsoon Analysis) yang menghasilkan data time series oseanografi fisis dan meteorologi.
Analisa variasi diurnal SPL dilakukan dengan menggunakan data per jam (hourly data) SPL pada kedalaman
1 meter dan 10 meter untuk perioda waktu Maret 2009 sampai dengan Februari 2010. Dari hasil studi, variasi
diurnal SPL di wilayah penelitian memiliki amplitudo yang cukup signifikan, antara 0,5 sampai dengan 2 derajat
celcius dalam perioda Maret 2009 sampai dengan Februari 2010. Nilai rerata bulanan variasi SPL berubah
mengikuti pola musim. Sedangkan nilai rerata musiman variasi SPL tertinggi tercatat pada periode Maret-April-
Mei 2009, dan nilai rerata musiman terendah tercatat pada periode September-November-Desember 2009.

Kata kunci: Suhu Permukaan Laut, Variasi Diurnal, RAMA Buoy, Samudera Hindia

ABSTRACT

Diurnal cycles or variation of sea surface temperature (SST) is an interesting phenomenon to be


investigated since it relates with sea-air interaction phenomena such as Madden Julian Oscilation (MJO) and
diurnal warming in large ocean. An integrated observation by using a subsurface mooring and atmospheric
buoy in Indian Ocean through RAMA (Research Moored Array for African-Asian-Australian Monsoon Analysis)
Buoy Project provided a time series physical oceanography and meteorological data.The diurnal cycles of SST
analysis use hourly SST data at depth of 1 meter and 10 meter for the period from March 2009 to February
2010.The diurnal variation of SST has significant amplitude, varies from 0.5 to 2 centigrade, for period March
2009 to February 2010. The seasonal montly mean diurnal cycle calculation for SST indicated the changes of
maximum values of SST due to season, while in March-April-May 2009 the SST reached mostly maximum
values compared to other seasons and the SST had lower values in September-November-December 2009.

Keywords: Sea Surface Temperature, Diurnal Variation, RAMA Buoy, Indian Ocean

PENDAHULUAN (Wells, 1997). Berlandaskan pada kenyataan tersebut,


sebuah program yang bernama Godae High Resolution
Suhu Permukaan Laut (SPL) didefinisikan SST Pilot Project (GHRSST-PP) menyusun kembali
sebagai suhu rata-rata pada lapisan permukaan yang definisi SPL yang disebut dengan SPL Generasi Baru
hangat dan homogen, antara 0 meter sampai dengan atau New Generation SST (NGSST) berdasarkan
sekitar 50 - 70 meter, dan dikenal sebagai lapisan pada struktur termal permukaan di laut. Pemahaman
percampuran atau (mixed-layer) (Nontji, 1993). Dalam tentang SPL baru ini diperlukan sebagai landasan
kenyataannya, suhu pada lapisan ini tidak sepenuhnya kerangka kerja teoritis untuk memahami kandungan
homogen, dan pada dasarnya dapat dibagi ke dalam data atau informasi serta hubungan antar pengukuran
dua bagian, yakni lapisan atas dengan kedalaman suhu permukaan laut yang dihasilkan dari instrumen
sekitar kurang dari 5 meter dan lapisan bawah dengan yang berbeda, baik melalui metoda penginderaan jauh
kedalaman sekitar dibawah 5 meter. Lapisan atas maupun pengukuran dengan instrumen langsung di
memiliki suhu yang dipengaruhi oleh pemanasan lapangan (in situ) (GHRSST-PP Report No 17, 2007).
harian, sedangkan lapisan bawah memiliki suhu lebih
stabil karena tidak terpengaruh oleh pemanasan harian Gambar 1 memperlihatkan secara skematik

Korespondensi Penulis:
Jl. Pasir Putih I Ancol Timur, Jakarta Utara 14430. Email: trameyo_adi@yahoo.com 139
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 139-150

diagram tentang definisi SPL sampai dengan mempengaruhi sistem iklim dalam jangka panjang
kedalaman 10 meter. Diagram tersebut menunjukkan melalui proses interaksi laut-atmosfer, terutama
suatu kerangka pemahaman terhadap beberapa rejim melalui proses-proses dinamika dan termodinamika
SPL akibat pengaruh dari proses-proses penjalaran (Schott et al., 2009). Wilayah perairan tropis di
panas (heat transport) serta variabilitas yang Samudera Hindia merupakan wilayah “kolam hangat”
berhubungan dengan kolom air laut permukaan (upper dalam interaksi laut-atmosfer yang berperan dalam
ocean water column). SPL antarmuka (SST interface - mengendalikan variabilitas iklim pada skala regional
SSTint) merupakan rejim SPL teoritis lapisan laut paling dan global. Variasi atau siklus harian Suhu Permukaan
atas sebagai percampuran antara molekul air dan Laut (SPL) di perairan Samudera Hindia merupakan
udara. Di bawah SPL antarmuka terdapat SPL Kulit sebuah fenomena laut yang menarik untuk dipahami,
(SST skin – SStskin) pada kedalaman 10-20 µm dan SPL karena selain terkait dengan pemanasan oleh radiasi
sub-kulit (SST subskin – SSTsubskin) pada kedalaman matahari terhadap permukaan laut, fenomena ini juga
sekitar 1 mm, yang memiliki variasi diurnal besar. sangat berkaitan dengan fenomena interaksi laut-
SPL Kedalaman (SST Depth – SSTdepth) mewakili SPL atmosfer sebagai pengendali variabilitas iklim.
yang diukur pada berbagai kedalaman, sedangkan
SPL dasar (SST foundation – SSTfnd) merupakan Wilayah Tropis Samudera Hindia Tenggara
suhu pada kolom air yang bebas dari variasi harian, (Southeastern Tropical Indian Ocean - STIO) dikenal
biasanya terdapat pada kedalaman 5 – 10 meter. sebagai area interaksi laut-atmosfer aktif yang
ditunjukkan dengan adanya Indian Ocean Dipole Mode
Variasi SPL dalam satu hari ditentukan oleh (IOD) (Webster et al. 1999 ; Saji et al. 1999). Menurut
intensitas penyinaran matahari dan besarnya Annamalai et al. (2003), Lapisan atas yang hangat
kecepatan angin permukaan. Dalam keadaan angin di STIO juga dipengaruhi oleh proses Indonesian
berkecepatan rendah (kalem), maka SPL ditentukan Throughflow (ITF), dimana menurunnya transportasi
oleh penyinaran matahari dan membentuk lapisan- ITF akan mempengaruhi SPL pada tahun-tahun
lapisan hangat yang stabil (Stramma et al., 1986; berikutnya.
Flament et al.,1994; Weller & Anderson,1996; Soloviev
& Lukas ,1997; Ward, 2006). Lapisan hangat ini terbentuk Menurut Woolnough et al. (2007), fenomena
pada siang hari dan menjadi dingin pada malam hari. MJO juga dipengaruhi oleh lapisan hangat pada skala
Adanya lapisan hangat ini selain akan meningkatkan musiman (intraseasonal). Sedangkan amplitudo variasi
SPL rata-rata dalam satu hari, juga berpengaruh harian SPL (Diurnal SST Amplitude – DSA) beserta
terhadap evolusi SPL dari hari ke hari (Shinoda & variabilitasnya pada skala musiman dan tahunan
Hendon,1998; Shinoda, 2005; Bernie et al., 2005). mempengaruhi pemanasan laut harian dalam skala luas
(Stuart-Menteth et al., 2003). Dari pola rerata bulanan
Dinamika atau perubahan Suhu Permukaan DSA dapat diketahui tentang besarnya variabilitas
Laut (SPL) merupakan parameter laut yang dapat musim terkait dengan variasi angin dan penyinaran

Gambar 1. Diagram Suhu Permukaan Laut yang menunjukkan (a) Deviasi suhu vertikal ideal pada malam
hari, (b) Deviasi suhu vertikal ideal pada siang hari (sumber : GHRSST-PP Report No 17, 2005).

140
Variasi Diurnal Suhu Permukaan Laut...Samudera Hindia (Adi, T.R., et al.)

matahari. Sebaliknya, data klimatologi harian dapat pula Analisa Variasi Harian dan Siklus Diurnal SPL
digunakan untuk mempelajari variabilitas DSA pada
skala musiman dan tahunan (Bellenger & Duvel, 2009) Analisa Variasi Harian dilakukan dengan
menggunakan data per jam (hourly data) SPL
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kedalaman 1 meter dan SPL 10 meter untuk perioda
dan memahami pola variasi diurnal SPL beserta Maret 2009 sampai dengan Februari 2010. Amplitudo
variabilitasnya dalam bulan dan musim yang berbeda variasi harian SPL dihitung berdasarkan perbedaan
berdasarkan data pengamatan RAMA di wilayah STIO. SPL maksimum dan SPL minimum dalam sehari.

METODE PENELITIAN Pola siklus diurnal SPL dihasilkan dari data setiap
jam SPL kedalaman 1 meter dalam sehari (jam 00 –
Lokasi penelitian jam 23 WIB) yang memiliki satu nilai SPL maksimum
dan satu nilai SPL minimum. Berdasarkan nilai SPL
Penelitian ini merupakan bagian dari program siklus diurnal tersebut kemudian dianalisa pola rerata
kerjasama penelitian regional jangka panjang dengan siklus diurnal untuk bulanan dan musiman yang diwakili
nama Research moored Array for African-Asian- oleh rerata tiga bulanan (Maret-April-Mei (Musim
Australian Monsoon Analysis and prediction (RAMA) di Transisi I), Juni-Juli-Agustus (Musim Kering),
kawasan Samudera Hindia yang memiliki komponen September-Oktober-November (Musim Transisi II),
observasi utama berupa mooring untuk permukaan dan Desember-Januari-Februari (Musim Hujan)).
dan bawah permukaan, dan bertujuan untuk
mempelajari interaksi laut-udara, khususnya terkait HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan fenomena monsun di perairan Samudera
Hindia. Lokasi sistem mooring yang digunakan dalam Profil Suhu Laut
penelitian ini pada koordinat 50LS dan 950BT. Program
ini serupa dengan program TAO/TRITON di Samudera Gambar 2.a menunjukkan struktur profil suhu
Pasifik dan PIRATA di Samudera Atlantika (McPhaden laut di lokasi penelitian yang secara umum terbagi ke
et al., 2009). dalam 3 lapisan. Pertama, lapisan suhu permukaan
(mixed layer) dengan suhu yang relatif ditunjukkan
Data Rama Buoy oleh grafik suhu pada kedalaman 1 meter (T01), 10
meter (T02) dan 20 meter (T03), serta kedalaman
RAMA mooring memiliki tipe mooring permukaan 40 meter (T04) yang memiliki ciri peralihan. Lapisan
ATLAS/TRITON yang memiliki kemampuan untuk suhu permukaan relatif stabil, kecuali suhu pada
mengukur profil suhu dan salinitas laut mulai dari kedalaman 1 meter. Kedua, lapisan termoklin yang
permukaan sampai dengan kedalaman 500 meter. memiliki variabilitas tinggi, ditunjukkan oleh grafik suhu
Selain itu sistem ini juga mampu mengukur variabel- pada kedalaman 60 meter (T05) sampai dengan 140
variabel meteorologi. meter (T09). Ketiga, lapisan dalam dengan suhu relatif
rendah dan stabil, ditunjukkan oleh grafik suhu pada
Data yang dikumpulkan dalam sistem mooring kedalaman 200 meter (T10).
RAMA terdiri dari dua bagian, data meteorologi
permukaan dan data oseanografi. Data meteorologi Gambar 2.b menunjukkan pola SPL April 2009
permukaan yang diukur meliputi data arah dan pada lokasi penelitian untuk kedalaman 1 meter
kecepatan angin, tekanan permukaan laut, temperatur (T01), 10 meter (T02), 20 meter (T03), dan 40 meter
udara, kelembaban relatif, curah hujan, serta radiasi (T04). Secara grafis ditunjukkan bahwa SPL pada
matahari gelombang pendek dan gelombang panjang. kedalaman 1 meter sangat dipengaruhi oleh variasi
Data oseanografi yang diukur meliputi suhu, salinitas, harian, sedangkan SPL pada kedalaman 10 meter
dan arus dari berbagai kedalaman, dimulai dari dan 20 meter memiliki kondisi yang stabil dan tidak
permukaan laut sampai dengan kedalaman 700 meter. terpengaruh adanya variasi harian. Sementara itu
Pengukuran untuk seluruh parameter dilakukan setiap SPL pada kedalaman 40 meter pada lokasi penelitian
interval 1 jam, dan ditransmit secara real-time melalui memiliki ciri variabilitas lapisan termoklin.
satelit iridium setiap 3 jam sekali.
Gambar 2.c menunjukkan profil SPL sampai
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan kedalaman 20 meter. Dari gambar
data SPL pada periode Maret 2009 sampai dengan tersebut dapat ditentukan bahwa besar amplitudo
Februari 2010 yaitu pada kedalaman 1 dan 10 meter. variasi harian SPL kedalaman 1 meter adalah
sekitar 1,5 0C, sedangkan SPL dasar/foundation
dimulai pada kedalaman 10 meter (T02).

141
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 139-150

Gambar 2a. Profil suhu Laut pada April 2009 Lokasi 50LS-950BT, dengan T01-T10 menunjukkan suhu pada
interval kedalaman dari rangkaian mooring mulai dari permukaan (1 meter) hingga terbawah
(200 meter).

Gambar 2b. Profil suhu pada April 2009 di lokasi 50LS-950BT kedalaman 1-40 m.

Gambar 2c. Profil suhu pada April 2009 di lokasi 50LS-950BT kedalaman 1-20 m.

142
Variasi Diurnal Suhu Permukaan Laut...Samudera Hindia (Adi, T.R., et al.)

Variasi Harian SPL namun pada September sampai dengan November 2009
nilai SPL cenderung dalam kisaran nilai rerata yaitu 28,4
Siklus harian, bulanan dan musiman dari SPL – 29,5 derajat Celcius, Gambar 3.g – 3.i. Sedangkan di
memperlihatkan adanya perbedaan waktu pada saat musim penghujan yaitu pada pada Desember-Januari-
SPL mencapai nilai maksimum dan minimum dari hari Februari 2010, nilai SPL meningkat, Gambar 3.j – 3.l.
ke hari (Gambar 3.a – 3.l), bulan ke bulan berikutnya
(Gambar 4), dan juga perbedaan waktu pencapaian Rerata Bulanan dan Musiman terhadap Siklus Diurnal
SPL maksimum ini pada musim ke musim lainnya SPL
(Gambar 5).
Pola bulanan siklus diurnal menggambarkan SPL
Dalam setiap bulannya pola SPL harian siklus diurnal yang berubah dari bulan ke bulan dalam nilai-
menunjukkan adanya pola 2-mingguan SPL yang nilai amplitudo dan mempunyai niai-nilai SPL maksimum.
cenderung naik dan selanjutnya diikuti oleh pola Nilai-nilai tertinggi SPL terjadi pada Februari 2010 dan
SPL kecenderungan turun, lihat Gambar 3.a – 3.d. nilai terendah pada September 2009 (Gambar 2).
Sedangkan di musim panas bumi belahan utara
(boreal summer), terutama pada Juli dan Agustus 2009, Perhitungan nilai rata-rata SPL sikus diurnal
SPL mengalami penurunan drastis (Gambar 3.e-3.f), menunjukkan adanya perubahan maksimum nilai-nilai

Gambar 3a. SPL harian pada Maret 2009.

Gambar 3b. SPL harian pada April 2009.

143
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 139-150

Gambar 3c. SPL harian pada Mei 2009.

Gambar 3d. SPL harian pada Juni 2009.

Gambar 3e. SPL harian pada Juli 2009

144
Variasi Diurnal Suhu Permukaan Laut...Samudera Hindia (Adi, T.R., et al.)

Gambar 3f. SPL harian pada Agustus 2009.

Gambar 3g. SPL harian pada September 2009.

Gambar 3h. SPL harian pada Oktober 2009.

145
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 139-150

Gambar 3i. SPL harian pada November 2009.

Gambar 3j. SPL harian pada Desember 2009.

Gambar 3k. SPL harian pada Januari 2010.

146
Variasi Diurnal Suhu Permukaan Laut...Samudera Hindia (Adi, T.R., et al.)

Gambar 3l. SPL harian pada Februari 2010.

SPL dikarenakan perbedaan musim. Pada musim SPL dalam kondisi upwelling.
peralihan monsun yatu pada Maret-April-Mei 2009,
nilaiSPL mencapai nilai tertinggi dibandingkan pada Pola siklus diurnal dalam setiap bulanan hampir
musim lainnya, sedangkan nilai SPL terendah terjadi sering menunjukkan kecenderungan naik dan turun
pada September-Oktober-November 2009 (Gambar dalam kisaran waktu 10-14 hari. Suatu pola perubahan
3). amplitudo siklus diurnal dari ke hari dikarenakan kondisi
atmosferik (Wade et al. 2010). Untuk mengetahui
Perubahan Amplitudo dan perbedaan waktu perubahan amplitudo siklus diurnal bisa dihitung dari
SPL dalam mencapai nilai maksimum adalah hal yang perbedaan nilai amplitudo maksimum dan minimum.
penting untuk dikaji lebih lanjut karena berhubungan (Karl et al.,1993; Hansen et al., 1995 ; Stenchikov &
dengan perubahan faktor-faktor dinamika laut dan Robock,1995; Easterling et al., 1997; Dai et al.,1999).
termodinamika dalam interaksi laut-atmosfer.
Perubahan nilai amplitudo siklus diurnal ini
Siklus diurnal dipengaruhi oleh radiasi matahari berubah juga dari bulan ke bulan dan musim ke
dan pergerakan perputaran bumi pada porosnya musim. Nilai-nilai siklus diurnal SPL dalam kisaran
dalam waktu 24 jam, yang menghasilkan nilai SPL yang berbeda dalam setiap bulannya, yaitu nilai
maksimum dan minimum. minimum terjadi pada September 2009 sebesar
28,45 0C, sedangkan nilai maksimum diperlihatkan
RAMA buoy yang terletak di Samudera Hindia pada Februari 2010 sebesar 30,2 0C, Gambar 4.
dalam daerah regional dekat Sumatra, merupakan
daerah laut tropis dari Samudera Hindia, maka sangat Pada periode Maret-April-Mai 2009, siklus diurnal
diduga radiasi matahari, net heat flux akan menjadi mencapai nilai rata-rata tertinggi dan pada periode
faktor penting untuk dihitung karena pengaruh September-Oktober-November 2009 siklus diurnal
intensitas matahari yang diperoleh sepanjang tahun. mencapai nilai minimum (Gambar 5).
Selain itu pengaruh dinamika laut dan atmosfer
sangat mempengaruhi pola siklus diurnal bulanan dan Dari hasil-hasil tersebut, suatu metode lanjutan
musiman. interaksi laut-atmosfer yang komprehensif perlu
dilakukan untuk menganalisa faktor-faktor yang
Lokasi RAMA buoy 50LS dan 950BT adalah di dominan mempengaruhi perubahan siklus diurnal SPL
daerah Samudera Hindia yang dipengaruhi oleh Arus yang merupakan salah satu faktor kecenderungan
Lintas Indonesia (Arlindo). Variasi dalam transport klimatik (Vinnikov et al., 2002; Wade et al., 2010).
Arlindo ini mempengaruhi perubahan mixed layer dan
lapisan termoklin, sehingga mempengaruhi nilai SPL.
Keberadaan barrier layer yaitu suatu lapisan kolom
air yang berada diantara bagian bawah mixed layer
dan dibagian atas lapisan termoklin di daerah ini telah
dikonfirmasikan oleh Yan Du et al. (2005), bahwa
lapisan tersebut menahan perubahan besar terhadap

147
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 139-150

Gambar 4. Rerata Bulanan terhadap nilai Siklus Diurnal SPL dari Maret 2009 hingga Februari 2010.

Gambar 5. Rerata Musiman terhadap nilai Siklus Diurnal SPL dari Maret 2009 hingga Februari 2010.

KESIMPULAN bulannya, studi ini memperlihatkan nilai minimum


terjadi pada September 2009 yaitu sebesar 28,45 0C
Dari lokasi pengamatan RAMA Buoy 50LS dan dan nilai maksimum terjadi pada Februari 2010 dalam
95 BT, teranalisis pola SPL siklus diurnal sangat
0
kisaran nilai 30,2 0C.
variatif dalam hari kehari, bulan kebulan, dan musim
ke musim. Letak regional lokasi RAMA ini diduga Perbedaan besar amplitudo maksimum dan
sangat dipengaruhi oleh intensitas matahari sepanjang minimum dan perbedaan waktu pencapaian maksimum
tahun sehingga merupakan faktor penting untuk nilai pola siklus diurnal ini sangat variatif dari bulan ke
penghitungan net heat fluks. Beberapa faktor penting bulan dan musim ke musim. Hal yang menarik dari
dalam interaksi laut atmosfer harus diperhitungkan perhitungan rata-rata siklus diurnal SPL terhadap
dalam analisis SPL siklus diurnal secara terpadu. musim-musim yang berbeda menunjukkan kondisi laut
dan atmosfer yang berbeda pada musim yang berbeda.
Siklus diurnal SPL bervariasi dalam dalam setiap Pada saat musim transisi monsun yaitu periode Maret-

148
Variasi Diurnal Suhu Permukaan Laut...Samudera Hindia (Adi, T.R., et al.)

April-Mei memperlihatkan nilai SPL yang sangat 345-347.


tinggi pada 2009, sedangkan nilai SPL siklus diurnal
pada periode Desember 2009-Januari-Februari 2010 Flament, P., Firing, J., Sawyer, M. & Trefois, C. (1994),
mengalami nilai SPL minimum. Amplitude and horizotal structure of a large diurnal
sea surface warming event during the coastal
Saran ocean dynamics experiment, J. Phys Oceanogr.,
24, 124 – 139.
Dinamika laut dan atmosfer dalam musim yang
berbeda sangat mempengaruhi pola SPL siklus diurnal. GHRSST-PP (The Global Ocean Data Assimilation
Beberapa kajian mengenai diagnosa faktor-faktor yang Experiment High Resolution Sea Surface
dominan dalam perubahan nilai dan pola SPL pada Temperature Pilot Project) Data Processing
musim yang berbeda, seperti kajian Mixed Layer Heat Specification version 1.7 (GDSv1.7), available
Budget, perlu dilakukan dalam kajian berikutnya untuk from the GODAE project Office, Met Office,
studi analisis SPL siklus diurnal ini. Fitzroy Road, Exeter, United Kingdom, http://www.
ghrsst-pp.org, 2007.
PERSANTUNAN
Hansen, J., Sato, M., Ruedy, R. (1995), Log-term
Penulis mengucapkan terimakasih kepada: changes of the diurnal temperature cycle:
1. Program RAMA yang telah memberikan implications about mechanisms of global climate
akses untuk menggunakan data mooring change, Atmospheric Research, 37, 175 – 209.
oseanografi dan meteorologi untuk penelitian
ini Karl, T. R., Jones., P.D., Knight, R.W., Kukla, G.,
2. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Plummer, N., Razuvayev, V., Gallo, K. P.,
Sumberdaya Laut dan Pesisir yang telah Lindseay, J., Carlson.,R. J. & Peterson, T.C.
memberikan dukungan dan fasilitas untuk (1993) Asymmetric trends of daily maximum and
penelitian ini. minimum temperature, Bull. Am. Meteorol. Soc.,
74, 1007 – 1023.
DAFTAR PUSTAKA
McPhaden, M.J.,Meyers, G., Ando, K., Masumoto,Y.,
Annamalai, H, Murtugudde, R., Potemra, J., Xie, S. P., Murty, V.S.N., Ravichandran, M., Syamsudin,
Liu, P., & Wang, B. (2003) Coupled dynamics F., Vialard, J., Yu, L. & Yu, W. (2009) RAMA:
over the Indian Ocean: Spring initiation of the The Research Moored Array for African-Asian-
Zonal Mode, Deep Sea Res., Part II, 50, 2305 – Australian Monsoon Analysis and Prediction. Bull.
2330. Am. Meteorol. Soc., 90, 459-480.

Bellenger, H., & Duvel, J.P. (2009), An Analysis of Nontji, A., Laut Nusantara, pp.55-56, Penerbit
Tropical Ocean Diurnal Warm Layers, J. Climate, Djambatan, 1993.
22, 3629-3645.
Saji, N.H., Goswami, B.N., Vinayachandran, P.N. &
Bernie, D.J., Woolnough, S.J., Slingo, J. M. & Guilyardi, Yamagata, T. (1999) A dipole mode in the tropical
E. (2005) Modelling diurnal and intraseasonal Indian Ocean, Nature, 401, 360-363.
variability of the ocean mixed layer. J. Climate,
18, 1190 – 1202. Schott, F.A., Xie, S.-P. & McCreary, J.P (2009) Indian
Ocean circulation and climate variability. Rev.
Dai, A.,Trenberth, K.E, & Karl, T.R. (1999), Effects Geophys, 47, Issue 1, doi: 10.1029/2007RG000245
of clouds, soil moisture, precipitation and water
vapor on diurnal temperature range, J. Clim., 12, Shinoda, T. (2005) Impact o the diurnal cycle o solar
2451-2473. radiation on intraseasonal SST variability in the
western equatorial Pacific.J. Climate, 18, 2628-
Du, Yan, Qu, T., Meyers, G., Masumoto, Y. & Sasaki, 2636.
H. (2005), Seasonal heat budget in the mixed
layer of the southeastern tropical Indian Ocean Shinoda, T., & Hendon, H. H. (1998) Mixed layer
in a high-resolution ocean general circulation modeling of intraseasonal variability in the
model, J. Geophys. Res., 110, C04012, doi: tropical western Pacific and Indian Oceans. J.
10.1029/2004JC002845, 2005 Climate, 11, 2668 – 2685.

Easterling, D. R., et al. (1997), Maximum and minimum Soloviev, A. & Lukas, R. (1997) Observation of large
temperature trends for the globe, Science,277, diurnal warming events in the near-surface layer

149
J. Segara Vol. 8 No. 2 Desember 2012: 139-150

o the western equatorial Pacific warm pool. Deep-


Sea Res.I, 44, 1055-1076.

Stenchikov, G. L., & Robock, A. (1995) Diurnal


asymmetry of climatic response to increased
CO2 and aerosols: Forcing and feedbacks., J.
Geophys. Res., 100, 26211 – 26277.

Stramma, L., Cornilton,P., Weller,R.A., Price,J.F. &


Briscoe, M.G. (1986) Large diurnal sea surface
temperture variability: Satellite and in situ
measurements. J. Phys. Oceanogr., 16, 827 –
837.

Stuart-Meneth, A.C, Robinson, I.S. & Challenor,


P.G. (2003) A global study of diurnal
warming using satellite-derived sea surface
temperature. J. Gephys. Res 108, 3155, doi:
10.1029/2002JC001534.

Vinnikov, K.Y., Robock, A., & Basist, A. (2002) Diurnal


and seasonal cycles of trends of surface air
temperature, J. Geophys. Res., 107, D22, 4641,
doi: 10.1029/2001JD002007.

Wade, M.,Caniaux., G., duPenhoat, Y., Dengler,


M., Giordani, H. & Hummels, R. (2010) A one-
dimensional modelling study of the diurnal cycle
in the equatorial Atlantic at the PIRATA buoys
during the EGEE-3 campaign, Ocean Dynamics.,
61, 1, 1-20, doi: 10.1007/s10236-010-0337-8.

Ward, B. (2006) Near-surface ocean temperature.


J. Geophys. Res., 111, C02004, doi:
10.1029/2004JC002689.

Webster, P.J., Moore, A.M., Loschnigg,J.P. & Leben,


R.R (1999) Coupled ocean atmosphere dynamics
in the Indian Ocean during 1997-98, Nature, 401,
356-360.

Weller, R. & Anderson, S. (1996) Surface meteorology


and air sea fluxes in the western equatorial Pacific
warm pool during the TOGA coupled ocean –
atmosphere response experiment. J.Climate, 9,
1959 – 1991.

Wells, Neils (1997), The Athmosphere and the Ocean:


a Physical Introduction, pp. 88-91. John Wiley &
Son, New York USA

Woolnough, S. J., Vitart, F. & Balmaseda, M.A. (2007)


The role of the ocean in the Madden Jullian
Oscillation: Implications for MJO prediction. Quart.
J. Roy. Meteor. Soc., 133, 117-128.

150
KETENTUAN CARA PENGIRIMAN NASKAH UNTUK JURNAL SEGARA

Jenis Naskah
Jenis Naskah yang dapat dimuat di Jurnal Segara adalah :

• Naskah hasil penelitian maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan Kelautan Indonesia yang dilakukan
oleh para peneliti, akademisi, mahasiswa, maupun pemerhati permasalahan kelautan baik dari dalam dan
luar negeri.
• Naskah yang berisikan hasil-hasil penelitian di bidang pengembangan ilmu oseanografi, akustik dan
instrumentasi kelautan, inderaja, kewilayahan, sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan
lingkungan.

Bentuk Naskah
Naskah tulisan dapat dikirim dalam bentuk :

• Naskah tercetak di atas kertas A4, dengan jumlah halaman 10 – 15 halaman. Ditulis dengan menggunakan
aplikasi MS.Word dengan spasi ganda, jenis font Arial, ukuran huruf 10.
• Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, dengan ketentuan, bila naskah ditulis
dalam bahasa Indonesia, maka abstrak harus ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Bila
naskah ditulis dalam bahasa Inggris, abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
• Abstrak merupakan ringkasan penelitian dan tidak lebih dari 250 kata. Kata kunci (3-5 kata) harus ada dan
mengacu pada Agrovoca.
• Materi naskah disusun mengikuti kaidah umum dan tidak mengikat, namun harus berisikan latar belakang
masalah yang membahas hasil penelitian terdahulu, teori singkat yang mendukung, metode yang digunakan,
analisis, dan kesimpulan.
• Apabila terdapat istilah asing maka istilah tersebut perlu ditulis dengan abjad miring (Italic). Gambar (foto
ilustrasi, grafik, statistik) dan tabel.
• Judul tabel ditulis di atas tabel.
• Apabila terdapat gambar berupa grafik, statistik, peta atau foto, maka judul dari gambar tersebut harus
ditulis dibawah.
• Kesimpulan disajikan secara singkat dengan mempertimbangkan judul naskah, maksud dan tujuan, serta
hasil penelitian.
Referensi
• Referensi dari Jurnal lain ditulis seperti :
Nama, Tahun, “judul Makalah”, Nama jurnal, Volume, Nomor, halaman.
• Referensi dari buku ditulis seperti: Nama, Tahun, “Judul Buku”, Penerbit.
• Gelar dari nama penulis tidak perlu dicantumkan.
• Pengutipan sumber tertulis tercetak mengikuti sistem Harvard, yaitu menuliskannya di antara tanda kurung
nama (belakang) penulisan yang diacu, titik dua, & halaman acuan yang dikutip, setelah akhir kalimat
kutipan pada batang tubuh karangan, contoh seperti di bawah ini :
.......(Gordon,et al.2003:12)
.......(Holt, 1967 : 11)

Metode Penilaian dan Pengiriman Naskah


• Redaksi tidak membatasi waktu pengiriman makalah, semua makalah akan dinilai oleh editor/penyunting
ahli dengan format penilaian yang telah ditetapkan oleh dewan editor. Hasil penilaian dari editor/penyunting
ahli akan diolah oleh dewan editor dan dikembalikan ke penulis untuk diperbaiki kembali.
• Agar makalah dapat dimuat, penulis diharapkan dapat menyerahkan makalah yang telah direvisi sebelum
tanggal yang ditentukan.
• Makalah di atas dapat langsung dikirim dalam bentuk file dan print out ke Redaksi Jurnal Segara yang
bertempat di kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir, Badan Penelitian
dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan alamat : Jalan
Pasir Putih 1 Ancol Timur Jakarta utara 14430 atau kirim ke alamat e-mail : jurnal.segara@gmail.com.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir
Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan