Anda di halaman 1dari 82

DICETAK OLEH:

DNA PRINT & FOTOCOPY


JL. TRIMAS NO. 29 / 17 TEMBILAHAN
HP/WA: 085265510813/082169697727
(ISI DILUAR TANGGUNG JAWAB PERCETAKAN)
Terima Kasih
Segala puji bagi Tuhan semesta alam. Terima kasih
serta rasa syukur yang teramat untukmu telah memberikan
rahmat dan karunia sehingga kami bisa menyelasaikan antologi
cerpen yang kami beri judul SATU MASA.
Tidak lupa pula kepada guru pembimbing kami yaitu
Ibu Erita Rismawati, S.Pd selaku guru Bahasa Indonesia yang
telah membimbing, kami mengucapkan banyak terima kasih
kepada nya, semoga Ibu selalu diberikan kesehatan oleh
Tuhan.
Kepada orang yang terlibat dalam pembuatan buku
serta tokoh-tokoh yang melengkapi cerita ini. Terima kasih,
telah menjadi bagian dari kisah kami. Dimanapun kamu berada,
semoga kamu baik-baik saja.
Terima kasih juga terlontarkan untukmu yang telah
senantiasa meluangkan waktu dan pemikirannya untuk
membaca antologi cerpen kami. Kami menyadari untuk
membuat sebuah antologi cerpen ini masih jauh dari
sempurna. Karena, yang sempurna itu hanya milik-Nya. Jadi,
untukmu kiritik serta saran terbuka lebar untuk
menyempurnakan tulisan-tulisan ini. Salam, satu masa.

Tembilahan, 26 November 2018

Penulis

[1]
Daftar Isi
Terima Kasih 1

Daftar Isi 2

Bingung 4

Arti Tulus 11

Pulang Ke Tanah Kelahiran 18

Seperti Semula 23

Anyaman Benang 29

Waktu Berharga 34

Gelang Penyatu 40

Keluarga Yang Sempurna 47

Karyln And Kathreen 54

Si Tuan Pemberi Nama 59

Kontributor 80

[2]
Setiap waktu mengukir kisah. Duka,
lara, senang, bahagia, tertera disana.
Aliran waktu mengolahnya menjadi
sebuah kenangan. Terima atau tidak itu
realita. Catatlah kisahmu, hanya kamu
yang dapat menciptakan satuan waktu
menuju kenanganmu sendiri. Dan itu, ku
sebut SATU MASA.

[3]
Biodata Penulis

”Belajarlah dari pengalaman, dan jangan sampai jatuh


kedalam lubang yang sama.”
Namaku Amalia Kusumaningrum, bisa dipanggil Ame,
Amel, lia, dedek lia, tapi panggil saja aku yang lebih tepatnya
yaitu Ame. Aku lahir di Tembilahan, tepatnya dirumah bersalin
Lestari, pada tanggal 28 juni 2002. Sekarang aku berumur 16
tahun. Hobiku yaitu mendengarkan musik, memasak kue yang
kusukai, jalan-jalan, menonton film dan drama korea. Aku
merupakan gadis yang menyukai hujan dan senja. Karena apa?
Aku menyukai hujan karena namaku yaitu Ame dalam bahasa
jepang yang berarti hujan, itulah sebabnya aku menyukai
hujan. Mungkin cukup sampai disini biografi tentangku, Terima
kasih.

[4]
Bingung
Aku merupakan pelajar disalah satu sekolah yang ada
dikota Tembilahan, tepatnya Tembilahan Hulu. Aku sekolah di
SMA Negeri 1 Tembilahan Hulu dan sekarang sedang duduk
dibangku kelas 11,yaitu 11 mipa 5. Pada semester 1 ini kami
sedang mempelajari materi yang berjudul cerpen. Dan kami
diberi tugas untuk membuat cerpen oleh guru yang mengajar
pelajaran Bahasa Indonesia yang mengajar kami dikelas. Dan
dikumpul pada bulan Desember, tepatnya pada tanggal 4.
Aku bingung aku harus membuat apa. Dibanding
disuruh membuat cerpen aku lebih memilih untuk membuat
puisi, karena apa? Karena aku sudah mempunyai puisi hasil
karyaku sendiri,jadi aku tidak usah bersusah payah lagi untuk
membuatnya, karena aku sudah membuatnya, hehe gapapa
lah kan. Kembali pada realitaku yang disuruh untuk membuat
cerpen, bukan puisi. Semakin ku pikirkan aku ingin membuat
apa, semakin bingung jadinya aku ingin membuat apa. Maaf
kata-kataku berbelit-belit,hehe.
Aku sempat terlintas ingin membuat cerpen tentang
senang dan sedihku saat memelihara kucingku yang bernama
nina, dia sempat membuatku kerepotan karena hari pertama
aku membawanya kerumah ia malah membuat masalah, yaitu
iya malah pup disofa dan aku harus membersihkannya pada
malam hari itu juga,untung saja pupnya tidak encer, hehe. Dan
besoknya aku malah disuruh kembaliin nina sikucingku itu
kerumah abangku yang tinggal dijalan tanjung harapan.
Tunggu, kok aku malah jadi ceritain nina ya. Dan aku juga
kemarin sempat ingin membuat cerpen tentang ayahku, tetapi
aku memutuskan untuk tidak membuatnya,karena apa?
Karena ya gitu, terlalu sedih untuk ku diceritakan.

[5]
Sebentar lagi bakal ujian, dan aku harus menyelesaikan
tugas-tugasku yang belum siap, seperti hasil kerajinan pada
mata pelajaran prakarya yang belum aku dan teman-temanku
siapkan, harus latihan nari lagi, harus membuat video
praktikum fisika tetapi alhamdulilah videonya sudah kami
siapkan, dan juga termasuklah tugas untuk membuat cerpen
ini. Aku harus menyiapkannya secepatnya,karena apa? Karena
kami disarankan untuk membuat buku perkelompok
dikarenakan waktunya lama untuk membuat bukunya,kami
disuruh cepat untuk menyelesaikannya, dan... kelompok ku
awalnya memberikan deadline pada tanggal 20 November ini,
“Ahh masih lama,nanti saja buatnya...” ucapku. Akan tetapi,
semakin dekat waktunya untuk mengantar tugas cerpen ini,
semakin dimajukan pula deadline tanggal mengantarkan tugas
cerpenku ini kepada temanku. Aku semakin bingung dibuatnya.
Terkadang disaat latihan nari dan kegiatanku lainnya, tugas
cerpen ini selalu melayang dipikiranku, ya aku tipe orang yang
terlalu memikirkan banyak hal,maka dari itulah tugas cerpen ini
selalu terbayang dan terlintas dalam pikiranku dan benakku
seperti aku yang selalu memikirkan kamu, hehe bercanda.
Pada pekan pertama dibulan November, aku sempat
bertanya kepada temanku, “kamu nanti ingin membuat cerpen
apa?” ucapku. Lalu ia menjawab, “kalau aku buat cerita tentang
ayahku, nanti ceritanya terlalu sedih pula. Kalau mau buat
tentang aku lagi sakit, tak enak pula.” Ucapnya. Mendengar itu,
aku malah ditambah pusing dicampur bingung ingin membuat
cerpen bertema serta berjudul apa.
Pada pekan kedua dibulan November, tepatnya pada
malam selasa, selepas latihan nari, temanku yang berinisial
ayan, tiba-tiba dia bilang denganku, “tugas apa yang belum siap
lagi ya..ooh iya cerpen belum siap..” ucapnya. Dan aku hanya
bisa senyum dan terdiam, sungguh menyedihkan karena disini
aku hanya kebingungan harus membuat apa hmm.. dan tepat

[6]
besok harinya, salah satu teman diantara kelompok kami
menyuruh kami untuk berkumpul untuk ditanyai apa tema dan
judul cerpen yang ingin kami buat. Rata-rata temanku
menjawab “belum tau nah…” hanya kata-kata itu yang
terdengar ditelingaku, kecuali 1 orang temanku yang berinisial
isyah, judul cerpen nya yaitu “berkunjung kerumah nenek.”
Dan diujung kalimatnya, iya menambahi empat kata yaitu, “aku
belum pasti yaa..” dan disaat giliranku ditanya, “me,apa
judulnya?”, “bingung.”ucapku. salah satu temanku bilang,
“bingung tu judul ame, atau ame sedang bingung sekarang.”
Sambil tertawa ucapnya. “Dua-duanya.” , Ucapku sambil
menahan tawa.
Hari-hari makin haripun berlalu, dan semakin cepat
pula menuju hari dimana waktunya deadline untuk mengantar
tugas membuat cerpen ini. Ditambah lagi, ulangan-ulangan
yang belum terlaksanakan, seperti ulangan Bmr pada hari rabu,
serta ulangan Kimia pada hari kamis, dan kami harus
mengantar cerpen ini pada hari kamis, yang tepatnya pula kami
harus mengantar cerpen tersebut pada hari itu juga yang
sekaligus ada ulangan Kimia. Hatiku bimbang disertai dilema
ingin membuat cerpen bertema dan berjudul apa, serta apa
yang harus ku utamakan untuk membuat cerpen ini atau
belajar untuk ulangan, dan akhinya aku memutuskan untuk
membagi-bagi waktuku dengan sebisa mungkin, agar tugas
serta ulangan ku agar bisa sama-sama siap. Kembali pada
situasiku yang sedang bingung. Mungkin juga ada baiknya aku
membuat cerpen berjudul bingung, ya bingung, bingung,
bingung. Bingung karena apa? ya karena tugas untuk membuat
cerpen ini, yang selalu terbayang dalam pikiranku.
Pada hari rabu, hari dimana yang menjadi hari terakhir
dalam pekan kedua dibulan november, aku bingung ingin
melakukan apa terlebih dahulu. Harus belajar dulukah, untuk
ulangan Bmr nanti? Atau harus kerjain pr dulukah? Atau aku

[7]
harus membuat cerpen karena besok cerpen tersebut harus
diantar. “Aaaaaahhhh…”, sambilku menghela nafas, karena
bingung dan stres memikirkan hal ini, hal itu,terserahlah intinya
aku bingung ditambah lagi ya besok, besok hari kamis, dimana
aku harus mengantar cerpen ini.
Akhirnya, masalahku terselesaikan satu, yaitu ulangan
Bmr sudah selesai, baru saja. Setelah aku mengantarkan kertas
ulanganku kedepan meja guru, aku langsung kembali ketempat
dudukku. Tapi ngomong-ngomong, ternyata aku masih ada
belum menyelesaikan tugas matetematikaku, Astaghfirullah,
kuharap cepatlah tugas-tugas serta ulangan-ulangan yang ada
ini selesai.
Malam pun tiba, awalnya aku mau mengerjakan kisi-
kisi Kimia karena besoknya kan bakal ulangan hmm. Tapi
karena mata ku agak ngantuk jadi aku memutuskan untuk tidur
dulu, lalu aku bangun karena bunyi alarm, setelah itu aku lanjut
bobok lagi deh, hehe jadi apa ya guna alarm jika nantinya tidur
lagi hehe, pasti banyakkan yang kayak begituan wkwk. Dan aku
terbangun lagi pukul 22.11 WIB, lalu aku masih berbaring
diranjang, karena apa? karena aku sedang mengumpulkan
nyawaku terlebih dulu untuk bangkit dan mengerjakan tugas-
tugas yang belum siap. Tapi sebelum itu aku harus
melaksanakan ibadah sholat isya terlebih dahulu, karena aku
kan tadinya sedang bobok hehe. Tapiii….. bagaimana dengan
tugas cerpenku.. omg, oh iya sebelum malam tiba tepatnya
pada sore hari, tepatnya pukul 17.55 WIB aku sempat bertanya
kegrup apakah memang besok diantar tugasnya?? Dan apakah
jawabannya?? Tik tik tik... ternyata paling lambat yaitu pada
malam jum’at, alhamdulillah aku sangat bersyukur. Tapi, pada
malam kamis aku tidak ada mengerjakan cerpenku sama sekali,
hiks hiks (sedih ceritanya) karena ya gitu hehe. Dan tepatnya
besok pada hari kamis, kami dipulangkan cepat karena guru
sekolah kami ada pesta pernikahan. Alhamdulillah, setidaknya

[8]
ada waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yaitu
seperti mengerjakan tugas cerpenku ini. Akan tetapi, itu
hanyalah sebuah anganku yang tak tercapai, karena aku harus
kerja kelompok prakarya terlebih dahulu, perkiraanku paling
hanya sampai sekitaran habis ashar aja, tapi ternyata tuhan
berkehendak lain, ternyata selesainya hampir jam 17.00 WIB,
hmm untung saja aku nebeng dengan temanku dan kami tidak
langsung pulang karena harus menjemput adiknya terlebih
dahulu, dan kami tarik tiga dalam satu motor, aku duduk
hampir, hampiiirrr paliiiiiingggg ujung, atau dapat dikatakan
dekat hampir besi-besinya itu, memang ya, sungguh sungguh
sangat menyedihkan. Setelah sampai dirumah, aku terpikir...
cerpenku?? Omg, malam ini harus diantar lagi. Selepas sholat
maghrib, aku langsung bergegas untuk ingin membuat cerpen.
Karena apah? Karena malam ini bakal harus diantar, hmm tapi
ibuku langsung menghadangku, menghadang untuk
menyuruhku makan terlebih dahulu, akan tetapi aku
menolaknya, karena tugas cerpenku ini belum siap, tapi
akhirnya aku menerimanya saja (btw kata-katanya kayak lagi
adegan drama-drama gitu ya wkwk). Setelah itu, aku membuka
nasinya tetapi ku biarkan saja, dan aku mulai membuka
laptopku perlahan. Dan bergegas ingin membuat cerpen.
Setelah kupikir-pikir, ternyata aku yang salah. karena
Aku mengerjakan tugasnya didetik-detik hari saat mau diantar.
Jadi aku mengerjakannya terpepet dan ternyata juga ada tugas
atau kegiatan lain juga yang menantiku dihari yang sama. Dari
sinilah aku dapat belajar, ternyata aku harus dapat mengatur
serta membagi waktuku dengan tepat, agar apa? agar aku tidak
terbengkalai lagi jika ada tugas yang menantiku. Dan ternyata
ini salahku,huhuu maafkan aku wahai diriku (ceritanya lagi
bicara dengan diri sendiri, hehe tapi bukan jones yah wkwk).
Tetapi ngomong-ngomong ya, aku bingung. Karena apa yah
judulnya yang bagus untuk cerpenku ini. Setelah kupikir lebih

[9]
dalam seperti dalamnya rasa cintaku padamu, bukan kamu,
ataupun kamu, tapi dia wkwk, sepertinya aku akan
memberikan judul apa yahh... pasti kepo kan? jeng jeng jeng
jenggg... kayaknya sih judulnya lebih cocok bingung, karena
apa? Karena tugas cerpenku ini. Aku bingung, aku harus
membuat apa, makanya lah aku memutuskan untuk membuat
cerpen tentang aku yang sedang kebingungan dan tersedak eh
terdesak saat membuat tugas cerpenku ini.
Tetapi, aku masih bingung nih gimana buat bigrafinya
ataupun covernya. Ternyata, jawabannya dapat ku temukan
diroom chat grup obrolan ku dengan kawanku. Tapi dah
pahamlah dikit-dikit hehe. ngomong-ngomong, bosan gak ya
jika orang membaca cerpenku ini hmm maafkan kisah
keseharianku ini yang terlalu membosankan, tapi alhamdulillah
aku selalu mensyukurinya, dan aku merasa bahagia, semoga
kalian juga merasa bahagia, seperti ketika kalian melihat
doi/orang yang kalian sukai, dan kamulah yang menjadi alasan
dibalik senyumnya itu.
Terimakasih tugas cerpenku, karenamu aku dapat
lebih berusaha agar aku bisa lebih untuk menghargai waktu-
waktuku dan aku juga dapat belajar, jika aku harus dapat
mengatur waktu-waktuku dengan tepat, agar dapat menjadi
orang yang lebih bertanggung jawab dan lebih disiplin
dikemudian harinya. Terima kasih sekali lagi.

[10]
Biodata Penulis

“Ketulusan seseorang tidak dapat dibayar dengan apapun,


karena ketulusan berbuah dari seorang yang berhati ikhlas
dalam menerima segala keadaan.”
Nama aku Aprilia Suci Cahyani. Panggil aja aku April.
Aku kelas 11 IPA 5 dan aku berusia 16 tahun. Aku lahir tanggal
5 April 2002. Dikelas aku dikenal akan "Suka nagih uang kas?"
karena itu memang tugasku. Dan kalau aku nagih uang kas, itu
harus di pagi hari atau sebelum jam istirahat karena, jika tidak
"Tak ada duit nah, Pril" kata mereka. Padahal tadi, beli makanan
di kantin, beli pake apa tuh kalo ga pake DUIT. Dasar temanku
ini hhehe. Sepertinya, sampai sini dulu. Aku ucapkan terima
kasih yang telah baca cerpen aku. Eitsssssss..... .jangan lupa
follow instagram aku yaaa... @apriliaasc

[11]
Arti Tulus
Berakhir sakit dan berdarah. Itu dia, yang sedang
mengalami musibah yang luar biasa. Ia bernama Santi. Ia
bersekolah di salah satu SMP yang ada di kota Solo. Siang itu
membuatnya tak berdaya dan menangis histeris. Saat itu ia
ingin bertemu sahabatnya untuk mengambil buku yang ia
perlukan saat itu.
"Ibu, aku mau kerumah teman dulu." Tanya Santi.
"Iya, mau ibu antar?" Tanya ibu kembali.
“Tidak usah, Bu. Aku bisa pergi sendiri.” Jawab Santi
dan langsung melaju kerumah sahabatnya.
Tak lama kemudian kabar kurang mengenakkan terdengar oleh
ibu dan ayahnya.
"Pak, anak bapak jatuh. Dia kecelakaan!" Ujar si
pedagang ayam itu
Langsunglah ayahnya tancap gas untuk menjemput
Santi. Santi telah berlumuran darah dan menangis kesakitan.
Darimana darah itu datang? Mengapa Santi menangis? Ya,
Santi mengalami kecelakaan dan ia mengalami luka yang
sangat sakit terlihat dari wajahnya yang begitu lemah tak
berdaya. Ayahnya langsung membawanya kerumah untuk
menjemput ibu Santi yang menunggu cemas dirumah.
Sesampainya dirumah, Santi melewati sebuah kaca yang
bergantung di pojok dinding dekat tangga rumahnya. Ia melihat
wajahnya yang penuh luka sambil menangis dan berkata,
"Bibirku, bibirku, bu" ujarnya sambil menangis histeris.
Ya, ia menangis karena bibirnya bengkak dan
mengeluarkan darah karena benturan aspal jalan. Luka itu tidak
hanya menempel pada bibirnya, malah hampir ke seluruh
tubuhnya baik itu di siku, dahi, hingga lututlah yang paling
parah sampai ia tidak dapat menekuk sedikitpun kakinya untuk

[12]
duduk. Tibanya mereka di tukang yang suka menyuntik orang
itu, luka Santi langsung dibersihkan dan itu membuat Santi
tambah histeris. Karena, luka itu dibersihkan dengan cairan
yang jika tersentuh oleh luka ia akan bereaksi seperti menusuk-
nusuk luka itu dengan jarum yang sangat tajam.
"Ibuuuuu, sakit" Ucapnya dengan teriakan dan
tangisan yang kuat.
Tidak lama disana dan telah diberi obat oleh sang
dokter, dokter menyuruhnya pulang untuk istirahat.
Sehari setelah kejadian, ibu Santi langsung
menanyakan padanya bahwa apa sebab ia mengalami
kecelakaan. Santi pun menjawab kalau waktu itu ada seorang
anak kecil yang mau menyebrang jalan. Dari kejauhan Santi
telah membunyikan klasonnya untuk pertanda kalau anak itu
tidak boleh menyebrang. Tapi sayang seribu sayang anak itu
malah menyebrang dan Santi pun terjatuh dari motornya
dengan keadaan motor yang sudah hancur dan badannya yang
sudah dilumuri darah.
Ibunya sangat sedih mengapa hal itu dapat terjadi.
Ibunya merasa bersalah karena tidak menemani Santi pada
saat ia ingin pergi. Tetapi Santi tetap bersabar kalau semua
kejadian itu telah Allah swt. tetapkan untuknya.
Kecelakaan tersebut membuat Santi tidak dapat masuk
sekolah selama seminggu. Nah, setelah seminggu itu ia tidak
sekolah, ia langsung menghadapi ujian dan untungnya kartu
ujiannya sudah ia ambil waktu terakhir ia sekolah. Sebenarnya
ia belum sepenuhnya sembuh pada waktu itu. Tapi apa boleh
buat, ujian itu yang menentukan apakah ia akan naik kelas atau
tidak. Hari pertama masuk sekolah, Santi menangis kepada
ibunya. Karena untuk mandi, pakai baju, jilbab, itu sangat sulit
untuknya. Padahal itu kegiatan yang selalu ia lakukan tiap pagi.
Dan ibunya lah yang selalu membantunya untuk mandi,
memakai baju, jilbab, dan sebagainya.

[13]
Pertama masuk sekolah Santi masih menggunakan
sendal karena kakinya ada luka yang belum kering dan ia juga
masih menggunakan perban untuk menutupi lukanya. Karena
orangtua Santi sangat sibuk dan mereka juga harus pergi ke
kantor pagi-pagi, jadi Santi pergi ke sekolah bersama
sahabatnya yang bernama Bella. Bella selalu menjemput Santi
yang masih belum bisa membawa kendaraan sendiri. Bahkan
Santi selalu diantar sampai ke kelas karena Santi berjalan masih
agak pincang. Tidak hanya itu, Bella juga selalu menjemput
Santi ke kelasnya pada saat jam pulang. Bella sangat tulus
dengan Santi. Ia merasa sahabatnya itu sangat butuh
pertolongannya dan ia sebagai teman harus selalu
bersamanya. Santi sangat berterima kasih kepada sahabatnya
tersebut karena selalu ada untuknya dan sangat tulus untuk
menolongnya.
“Terima kasih ya, Bel. Kamu selalu ada untukku. Aku yakin kamu
adalah sahabat yang sangat tulus dan baik untukku” Ucap Santi
sambil menahan air matanya agar tidak keluar.
“Sama-sama, Santi. Aku melakukan ini karena aku prihatin dan
empati sama kamu. Aku berharap kejadian ini tidak terjadi
sama kamu maupun aku” Jawab Bella.
Santi sangat bahagia dan beruntung memiliki sahabat sebaik
dan setulus Bella. Ia merasa banyak sekali berutang budi
dengan Bella. Bella memang tidak pernah meminta sedikit pun
imbalan, karena tugas sahabat yang baik itu, ya seperti Bella.
Selama ujian, luka Santi berangsur-angsur sembuh dan
kering. Hari terakhir ujian, Santi sudah bisa menggunakan
sepatu untuk pergi ke sekolah dan jalannya pun juga sudah
seperti biasa. Tapi, perasaan berutang budi itu masih selalu
melekat pada pikiran Santi. Seakan-akan ia ingin memberikan
hadiah untuk Bella sebagai tanda terima kasihnya. Ia
menunggu saat yang tepat untuk membelikan hadiah itu
karena keadaannya belum sembuh total.

[14]
Seminggu setelah ujian dan mereka sudah pada libur
sekolah, Santi pergi ke toko yang menjual jilbab dan ia akhirnya
membelikan sebuah jilbab dengan motif bunga yang sungguh
indah jika digunakan oleh wanita yang berhati baik dan tulus
seperti sahabatnya.
“Wah, cantik sekali jilbab ini. Motif dan warnanya sepertinya
cocok untuk Bella. Semoga dia suka dengan jilbab ini”. Hati
Santi berkata.
Santi pun segera pulang untuk memberikan jilbab itu
kepada Bella. Sesampainya dirumah, Santi langsung
menghubungi Bella kalau ia ingin bertemu dengannya dan
menyuruh Bella untuk ke taman dekat rumah Santi.
“Bel, kamu bisa ga sekarang pergi ke taman dekat rumahku.
Ada yang mau aku omomgin nih”. Tanya Santi lewat
smartphone-nya.
“Iya San, bisa kok. Aku langsung kesana ya?”. Jawab Bella.
Setelah percakapan singkat tersebut, bertemulah
mereka berdua. Mereka pun duduk di salah satu bangku yang
ada di taman itu dan Santi langsung memberikan hadiah itu
kepada Bella yang baru saja ia beli tadi. Bella sangat heran
mengapa sahabatnya itu memberikan hadiah. Padahal ia tidak
berulang tahun pada hari itu.
“Ini apa Santi? Aku kan ga ulang tahun. Kenapa kamu kasih aku
hadiah?”. Tanya Bella.
“Itu untuk kamu, buka aja dulu. Kasih hadiah kan ga perlu harus
tunggu ulang tahun dulu kan? Ayo buka!”. Perintah Santi.
Bella pun membuka hadiah itu dan membuka secara
perlahan. Setelah terlihat apa yang diberi oleh sahabatnya itu,
Bella pun langsung memeluk Santi dan berterima kasih karena
telah memberinya hadiah. Tetapi ia masih heran, mengapa
Santi memberikannya hadiah.
“San, aku masih bingung nih kenapa kamu kasih ini ke aku.”
Tanya Bella lagi.

[15]
“Itu sebagai tanda terima kasih aku sama kamu, karena kamu
selalu ada untuk aku. Soalnya aku bingung gimana caranya
untuk berterima kasih sama kamu. Jadi aku belikan kamu ini
deh”. Jawab Santi sambil tersenyum.
“Aku kan sahabat kamu, jadi aku akan selalu ada untuk kamu.
Jadi ga perlu segan-segan minta pertolongan aku. Sekali lagi
terima kasih ya, San”. Ujar Bella.
Dari percakapan panjang tersebut, mereka pun pulang
karena hari telah sore dan matahari pun akan
menyembunyikan cahayanya. Pikiran Santi pun telah tenang
karena ia telah memberikan tanda terima kasih dengan
sahabatnya. Ia juga semakin senang karena ternyata
sahabatnya sangat suka dengan jilbab itu.
Setelah 2 minggu libur sekolah, waktu untuk
bersekolah pun tiba. Santi sudah dapat mandi, pakai jilbab, dan
pakai sepatu sendiri dan sudah tidak ada lagi bercak darah di
tubuhnya. Tetapi pada hari pertama sekolah, Santi berangkat
sendiri karena sahabatnya tidak bisa dihubungi untuk
berangkat sekolah bersama. Setelah sampai disekolah, Santi
tidak bertemu dengan sahabatnya itu dan ia merasa aneh
mengapa tidak ada tanda-tanda keberadaan Bella. Biasanya
walaupun mereka beda kelas, tetapi pada saat jam istirahat
pasti mereka berdua bertemu di kantin dan makan bareng di
kantin. Dan Santi pun bertanya kepada salah satu teman kelas
Bella.
“Dara, Bella sekolah ga? Kok ga ada liat ya”. Tanya Santi.
“Oh, Bella. Bella ga sekolah. Kata wali kelas kami, ibunya sakit
dan dia harus temenin ibunya karena ayahnya lagi di luar kota
dan katanya minggu depan baru pulang”. Jawab Dara sambil
minum jus alpukat kesukaannya.
Sepulang sekolah Santi bergegas langsung ke rumah
sakit, dan mencoba kembali menghubungi Bella untuk
mendapat nomor kamar ibunya dirawat. Santi pun

[16]
memperolehh nomor kamar ibu Bella dari setelah chattingan
singkatnya dengan Bella. Sesampainya di rumah sakit, Santi
langsung menuju kamar rawat ibu Bella.
“Assalmu’alaikum”. Salam Santi sambil mengetuk pintu.
“Wa’alaikumsalam, eh Santi. Masuk San. Kok ga ganti baju dulu
sih kalo mau kesini. Nanti dicariin mama kamu lagi”.
“Gapapa kok. Aku juga sudah nelpon mama aku kok, kalo aku
mau kerumah sakit nengokin ibu kamu. Lagian mama aku juga
titip salam sama ibumu biar cepet sembuh”.
Selama di rumah sakit, Santi membantu Bella untuk
merawat ibunya dari kasih makan, minum obat, dan lain
sebagainya.
Malam hari telah tiba, Santi pamit kepada Bella dan
ibunya untuk pulang. Bella juga tidak lupa mengucapkan terima
kasih kepada Santi karena telah membantunya untuk merawat
ibunya. Bella juga berkata untuk Santi berhati-hati saat
berkendara. Kedua sahabat itu sangat tulus dalam membantu
sesama. Mereka tidak perlu imbalan dalam membantu dan
mereka benar-benar tulus dan empati terhadap apa yang telah
terjadi dengan sahabatnya.

[17]
Biodata Penulis

“Akhirnya aku kembali ketanah kelahiran yang aku cinta.”

Hai teman teman, perkenalkan nama aku Ardhi Wahyudi


teman teman bisa memanggil ku Ardhi atau Adi.Aku lahir pada
tanggal 23 Februari 2002 di Bukittinggi. Aku anak ke 2 dari 4
bersaudara dan saudara kembarku telah dulu meninggalkan ku
yang saat itu masih berusia 2 tahun.Aku bersekolah di SMA
NEGERI 1 TEMBILAHAN HULU.Hobi ku bermain badminton dan
bermain futsal.

[18]
Pulang Ke Tanah Kelahiran
Ceritaku bermula ketika setelah terima lapor semester genap
kelas 10 pada saat itu bertepatan dengan bulan ramadhan yang
dimana Aku ingin merayakan hari hari raya Idul Fitri di Tanah
Kelahiranku. 3 hari setelah penerimaan lapor aku dan
keluargaku berangkat dengan menggunakan Travel. kami
berangkat pukul 15.00 WIB di mana kami berangkat dengan
cepat karena agar cepat sampai ke rumah makan untuk
berbuka puasa pada pukul 18.00 WIB Kami sampai di suatu
rumah makan di sana Kami berbuka puasa.
Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan di perjalanan
terlihat suasana malam yang sunyi kiri kanan dipenuhi oleh
pohon-pohon dan karena sudah malam kami beristirahat
sambil menunggu tempat berhenti selanjutnya. ketika pukul
23.00 WIB kami berhenti untuk makan malam nanti situ kami
makan malam di suatu rumah makan. setelah makan malam
kami melanjutkan perjalanan yang masih jauh agar sampai
kampung halamanku.
Setelah pukul 03.30 Wib aku akan sampai di kampung
halaman ku dimana ketika subuh suasana pegunungan yang
cukup dingin.dan ketika sampai Kami bertemu dengan keluarga
besar yang ada disana kami sahur bersama sahur untuk
menjalankan kewajiban puasa esok hari. Setelah selesai sahurr
kami sholat subuh dan kami beristirahat sejenak setelah
menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Tiga hari kemudian, takbir berkumandang disekitar tanda hari
kemenangan sudah tiba atau hari raya Idul Fitri. Aku dan
keluarga pergi untuk sholat idul fitri. Setelah pulang dari sholat
idul fitri seperti biasa aku dan keluarga pergi kerumah saudara
saudara yang ada disana untuk bersilaturahmi dan bermaaf
maafan jika ada salah.

[19]
Seminggu kemudian saya dan keluarga pergi melihat pawai
yang diadakan pada suatu sekolah agama dan kebetulan disana
ada adik saudara ku yang ikut dalam acara tersebut.Pada jam 9
pagi acara pawai pun dimulai dengan banyak peserta khatam
al quran yang ikut membuat barisan tersebut sangat panjang
dan didaerah tersebut terjadi kemacetan.pawai tersebut
diawali dengan mobil patroli polisi yang kemudian disusul oleh
drum band yang keren dari anak anak kecil yang mungkin saja
masih kelas 1 atau 2 SD.yang kemudian dilanjutkan oleh
pembawa bendera merah putih dan bendera sekolah tersebut
yang sangat panjang. Dan yang kemudian disusul oleh barisan
inti yaitu barisan khatam al quran yang mungkin 120 orang
lebih yang dimana menggunakan pakaian putih putih dan
menggunakan payung.Setelah pawai tersebut akhirnya barisan
tersebut datang menuju masjid untuk makan bersama dan
waktu telah menunjukkan waktu dimana sholat zuhur dan para
peserta melakukan sholat berjamaah.Setelah selesai sholat
peserta yang khatam al quran di istirahatkan dan kemudian
disuruh datang kemasjid kembali jam 2 untuk mengaji dan
disana diberi juara dan diberi hadiah.
Setelah 2 hari acara mengaji tibalah pada saat pengumuman
yang dimana dilaksanakan setelah sholat isya dan sekitar jam
setengah 9.Disana terdapat berbagai hadiah yaitu seperti tas,
buku, karpet kecil, mukena, al quran dan emas sebagai hadiah
untuk 10 besar. Dan sekitar jam 11 malam acara akhirnya
selesai saya dan keluarga pulang kerumah dan adik saudara
saya mendapatkan hadiah yaitu karpet, tas dan buku.
Ke esokkan harinya, aku dan keluarga pergi ke suatu tempat
yang mungkin udah dikenal banyak orang yaitu jam gadang.Yaa
jam yang mirip dengan jam yang ada di London, Inggris. Disana
saya menikmati makanan yang dijual disekitaran jam gadang.
Setelah ke jam gadang kami pergi ke kebun binatang yang tak

[20]
jauh dari jam gadang. Disana kami melihat banyak sekali hewan
hewan yang lucu maupun yang buas. Disana terdapat seperti
singa, harimau, buaya, dan masih banyak lagi. Tapi yang
membuat aku terkejut yaitu ternyata didalam kebun binatang
tersebut terdapat se ekor orang utan yang sangat besar dan
sudah sangat tua tapi orang utan tersebut masih lincah
memanjat dan terlihat sangat sehat.
Setelah selesai pergi ke kebun binatang akhirnya aku
dan kelurga pulang kerumah.Dan keesokkan harinya aku dan
keluarga pergi jalan jalan dan ingin pergi ke kota Padang untuk
menikmati liburan sebelum kembali ke Tembilahan. Pada jam
9 akhirnya kami pergi, diperjalanan saya melihat pemandangan
yang sangat indah kiri dan kanan.Sekitar jam 11 kami sampai di
danau Singkarak.Disana airnya jernih dan dari atas terlihat ikan
ikan yang ada disana.Kami beristirahat sejenak, setelah itu kami
melanjutkan perjalanan dan pada pukul 12 kami sampai di
Solok. Solok merupakan menghasil padi atau beras yang sangat
bagus kualitasnya. Disana kami beristirahat sambil memakan
bekal yang sudah kami bawa dari rumah. Disana terlihat patung
ayam jantan yang letaknya tidak jauh dari tempat kami
berhenti.
Setelah kami selesai makan dan beristirahat di Solok kami
melanjutkan perjalanan dan ketika sedang diperjalanan kami
melihat ada kebun teh disana yang cukup luas yang dimana
kami singgah kesana untuk berfoto foto. Setelah selesai pada
pukul 2 aku dan keluarga memutuskan tidak jadi ke Padang
karena waktu yang tidak cukup. Aku kecewa pada saat itu dan
kami akhirnya pergi ke pemandian air panas yang tidak jauh
dari kebun teh tersebut. Disaat udah sampai disana kami
merasakan air yang hangat disana yang membuat aku semakin
merasa nyaman dan setelah selesai mandi kami melanjutkan
perjalanan untuk kembali kerumah lagi.

[21]
Kami sampai dirumah sekitar pukul 7 malam.Pada hari itu aku
merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu libur ku di
tanah kelahiran ku. Dan pengalaman tersebut merupakan
pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi ku. Aku berharap
semoga aku bisa kembali lagi untuk liburan disana. Dan sekian
dari kisah ku tentang aku saat kembali ke tanah kelahiranku.

[22]
Biodata Penulis

“Sahabat itu ada ketika dimana kau berada dalam situasi suka
maupun duka.”

Hallo, namaku Fadwa Hakim aku berumur 16 tahun,


aku lahir di Perbaungan 23 April 2018. Saat ini aku sedang
bersekolah di SMA negeri 1 Tembilahan hulu, aku duduk di
kelas xI IPA 5. Cerpen yang aku buat terinspirasi dari sedikit
pengalaman hidupku ketika aku harus membantu sahabatku
yang sedang mengalami kesulitan dalam hidupnya.

[23]
Seperti Semula
Kriiing....kriiing.....kriing.......
"Waduh udah jam segini bisa terlambat lagi nih aku, ini lagi
alaram kok lama kali sih banguninnya hari ini kan jam pertama
ada pak Hendra bisa bisa di hukum aku."
Aku langsung bergegas bangun dari kasur dan bersiap siap
untuk berangkat ke sekolah. Hari ini cuaca bagus sekali tidak
panas juga tidak mendung awan saling berkumpulan saling
memenuhi langit biru. Namaku Fadwa Hakim aku duduk di
kelas 2 sekolah menengah atas, aku bersekolah di SMA Negeri
01 Cianjur, aku hanya siswa biasa tapi aku bisa dibilang cukup
baik dalam pelajaran."Tidak sarapan dulu Kim?,"tanya bunda
ketika melihatku yang sedang Memakai sepatu." Tidak sempat
bun sudah ditunggu faris,"jawabku sambil memakai sepatu."
Yasudah, kalau begitu sarapan disekolah ya,ni uang jajan,"ucap
ibu." Terima kasih bun,"ujarku sambil menyalaminya dan
segera pergi sekolah. Seperti biasa sahabatku faris sudah
menungguku di depan rumah, walaupun beda sekolah tetapi
kami berangkat sekolah bersama karena rumah kami
bersebelahan, kami berangkat ke sekolah menggunakan
sepeda, tak terasa kami sudah sampai di persimpangan yang
memisahkan kami." Oke bro nanti kita main ya sepulang
sekolah," ucap Faris." Siap bro,nanti kita main PS
dirumahku,"ujarku.
Sesampainya disekolah aku beruntung bang Minggus
satpam sekolahku masih mau membukakan pagar untukku
karena aku belum terlalu telat. Aku berlari menuju kelas dan
aku lihat ternyata pak Hendra belum masuk kelas."
Huh..untung saja pak Hendra belum masuk,"gumamku sambil
mengelus dada." Woi bro! ngapain didepan pintu,masuk
oi,"teriak salah satu teman sekelasku." Yo broo..,"ujar ku sambil

[24]
memasuki kelas. "huh..,"(menghela nafas)." Kenapa Kim kok
kayak capek banget,"tanya doni teman sebangku ku." Iya nih
don aku capek kali,kan aku lari lari tadi karena takut
terlambat,"Ucapku sambil duduk dikursiku." Tunggu ya,nih
minum aja,"ucapnya sambil memberikan sebotol air yang
diambilnya dari tasnya." Wah pas banget, terimakasih
ya,"ucapku. Teng...tong...teng....tong, terdengar bunyi bel yang
menandakan bel masuk dan pelajaran pun dimulai.
Kriiing....kriiing...
Bunyi bel pada jam 15:30 yang menandakan waktu pulang
dan anak anak berlarian keluar kelas pulang kerumahnya
masing masing,begitu juga denganku." Woi don yuk
kerumahku kita main PS,ada Faris juga,"ujarku."oke manteb
tuh kebetulan kan kita besok tak ada pr jadi kita bisa main
sampai malam." Hahah oke oke."ucapku." Eh tak jadi deng aku
baru ingat kalau hari ini aku mau bantu ibu beberes rumah,kan
kami mau pindah rumah lusa,"potong Doni." Oh okelah,kalau
gitu aku luan ya,semoga lancar pindahannya,"balasku sambil
menepuk punggungnya." Oke Kim makasih doanya,"jawabnya.
Sesampainya dirumah aku langsung ganti baju dan
mengambil sepiring nasi serta sepotong ayam yang telah
disediakan ibuku." Hakim... aku udah di depan ni,"teriak Faris
." Nah udah datang aja tuh anak,"gumam ku." Oi Ris masuk aja
aku lagi makan nih"teriak ku. Setelah selesai makan kami pun
main PS di kamarku,aku dibelikan PS oleh ibuku karena aku
mudah jatuh sakit kalau main di luar rumah terlalu lama apalagi
kalau cuaca sedang panas terik." Enak nya main apa nih kita
ris,"tanya ku." Kita main mortal kombat aja, udah lama nih gak
main itu game"jawabnya. Kami pun larut dalam suasana
gembira saat bermain bersama hingga waktu telah
menunjukkan jam setengah enam sore yang menandakan
waktu untuk Faris pulang kerumahnya."Ris Candra kemana ya
kok hari ini gk kelihatan,"ucapku saat mengantarnya keluar

[25]
rumah." Ah paling main sama teman temannya yang
baru,"jawabnya dengan nada acuh." Aku kasihan sama itu anak
semenjak kedua orangtuanya berpisah dia jadi berandalan dan
ikut geng geng-an gitu," Ah gak usah dipikirin lah,"ujarnya.
Candra merupakan sahabatku dan juga sahabat Faris.
Aku,Faris,dan Candra sudah bersahabat sejak kecil lebih
tepatnya saat kami masih duduk di kelas 1 sekolah menengah
pertama pada saat itu dia merupakan anak yang ceria dan aktif
tetapi dia berubah menjadi pemurung dan terjerumus kedalam
pergaulan bebas saat kedua orangtuanya berpisah sewaktu dia
duduk di kelas 1 Sekolah menengah atas dia pun sekarang
tinggal dengan ayahnya.
Keesokan harinya aku bertemu dengan Candra sewaktu
diperjalanan pulang dari sekolah aku melihatnya ngumpul
dengan teman teman gengnya di sebuah pos ronda yang sudah
tidak terpakai lagi, aku melihatnya sedang memegang selinting
rokok,aku juga melihat teman temannya menutup hidung dan
mulutnya di dalam kaos mereka, sehingga hanya kelihatan
mata mereka yang sayu dan berwarna merah." Ah mereka pasti
sedang ngelem,"pikirku. Saat itu aku ingin sekali mendatangi
Candra dan membawanya pulang tetapi saat Candra melihat ke
arahku dan dia langsung memalingkan wajahnya dan entah
mengapa saat itu aku merasa kesal dengan sikap Candra
kepadaku dan aku pun sontak melanjutkan perjalananku
menuju rumah. Saat diperjalanan aku berjumpa dengan Faris."
Oi ris mau kemana,"sahut ku." Oh ini aku mau ke warung ada
yang mau kubeli,"jawabnya." Oh iya ris aku tadi ketemu Candra
di pos dekat sana,"ujarku." Aku sebenarnya kasihan dengannya
tapi kalau ingat sikapnya ke kita sekarang aku jadi lumayan
kesal,"ucapnya." Aku juga merasa gitu sih ris tapi kan
bagaimanapun juga dia tetap sahabat kita,jadi kita harus
membantunya melewati masa terpuruknya dan
mendampinginya agar kembali seperti semula dan mau main

[26]
lagi sama kita,"tegasku dengan nada rendah." Iya kita harus
menolongnya, eh aku ke warung dulu ya"ujarnya." Oh baiklah
sampai jumpa lagi,"jawabku. Walaupun Candra berubah tetap
sahabat tidak akan bisa berhenti sehingga saat itu kami
memutuskan untuk menolong Candra agar bisa kembali ceria
dan meninggalkan pergaulan tidak sehatnya bagaimanapun
caranya.
Pada hari Minggu kami berdua memutuskan untuk mencari
Candra agar bisa memberikannya arahan agar dia bisa berfikir
jernih dan mau keluar dari pergaulan bebasnya serta agar dia
kembali ceria dan mau berteman dengan kami lagi seperti
semula.” Baiklah Faris hari ini kita akan menemui
Candra,”tegasku.” Ayo Kim, kita cari kemana ya?,”ujarnya.”Aku
tau dimana tempat biasa dia berkumpul,”jawabku. Kami
berdua mencari Candra di tempat biasa dia berkumpul dengan
gengnya yaitu di pos ronda dan benar ternyata mereka
memang berada di sana sedang merokok.” Hei Candra ayo ikut
kami,kamu tidak seharusnya berada di sini,”ujarku dengan
nada tegas.” Iyaa Candra ini semua salah,kamu bukan seperti
orang yang kami kenal,”sambut Faris.”Hah aku tak mau,
memangnya tau apa kalian tentang ku,”teriaknya dengan nada
sedikit keras.” Ayolah Candra,”tegasku.”Kalau aku bilang tidak
ya tidak,”bentaknya.”Tapi can..,”potong faris.”Eh kalian tidak
bisa dengar, pergi sana dia tidak mau ikut kalian,”sambut anak
yang berada di sebelah Candra.”Jangan ikut campur, ayo,” ucap
faris sambil menarik tangannya.”Hah kurang ajar,”ucap anak
yang ada di sebelah Candra sambil memukul perut Faris. Disitu
aku terkejut dan sontak menendang anak itu tanpa menyadari
kalau kami hanya berdua dan mereka sekitar 7 orang termasuk
Candra, disitu kami dikeroyok walaupun sempat melawan
tetapi tetap kami kalah jumlah.”Woi berhenti,” teriak Candra
sambil menengahi kami.”Cepat kalian pergi sebelum aku
panggil orang-orang,”ucapnya.”Hah awas aja kamu

[27]
Candra,”sambut anak anak itu lalu pergi meninggalkan
kami.”Kalian kenapa sih sampai sejauh ini Cuma gara gara
aku,”ucapnya.”Ya karena kamu sahabat kami emang kenapa
lagi?,”ujar Faris dengan sedikit tawa.”Iya Candra kamu harus
bisa bersikap tegar jangan biarkan masalah keluarga
membuatmu menjadi berandalan,”sambutku.”Baiklah makasih
kalian masih mau berteman denganku walaupun sikapku dingin
dengan kalian dan terima kasih juga kalian mau membantuku
untuk kembali menjadi diriku yang dulu.”ucapnya dengan
tulus. Setelah kejadian itu Candra kembali menjadi anak yang
ceria dan kami pun bisa berkumpul serta bermain bersama lagi
seperti dulu, dia tidak lagi berkumpul dengan gengnya.

[28]
Biodata Penulis

“Selalu menjadi penyabung antara hubunganya dengan dia.


Dan bodohnya lagi aku bisa mempertahankan pertemanan
seperti ayaman benang ini. Selalu menjadi perantara diantar
ia dan dia.”

Namaku Nando. Lengkapnya Fernnando Setiawan.


Saya memiliki hobi yang unik dan tentunya banyak orang yang
menyukai hobiku ini yakni membantu teman seperjuangan
ataupun kakak kelas atau adik kelas saya. Menurut saya
menolong sesama manusia itu sangat menyenangkan. Dan
sekarang aku menjalani salah satu kegiatan organisasi
barongsa yang berlokasi di vihara Budhi Bhakti, Tembilahan.

[29]
Anyaman Benang
Pada saat saya pertama kali masuk sekolah Di SMA 2
TANJUNG merasakan hal yang buruk di dalam pikiran saya
seperti takut tidak mendapatkan teman,di musuhi banyak
orang dan lain-lain setelah guru SMA 2 TANJUNG memanggil
nama saya, untuk masuk kedalam lokal yang sudah di tentukan
yaitu kelas:XIPS2 dan saya pun terkejut kok saya bisa masuk ke
lokal IPS y. Setelah saya masuk ke lokal XIPS 2 dan firasat saya
pun menburuk saat saya masuk saya pun mencari tempat
duduk saya pun duduk di bagian depan saat itu saya melihat di
sebelah saya ada orang dan tak laam kemudian ada guru yang
masuk yang bernama BU LISA guru tersebut mengajarkan
pelajaran ekonomi setelah guru tersebut masuk BU LISA pun
menyuruh kami untuk menuliskan nama,kelas,tempat tangggal
lahir,cita-cita,hobbi.
Setelah beberapa menit kemudian saya pun
mengantarnya kepada BU LISA setelah kami mengantar nya BU
LISA menyuruh kami untuk menperkenal kan diri beberapa
orang pun berlalu setelah itu saya pun maju ke depan tanpa
gugup nya saya pun memperkenalkan nama saya setelah saya
selesai saya menperkenalkan nama saya saya pun duduk
kembali dan saya pun menggas untuk berkenalan dengan
kawan sebangku saya setelah itu saya pun tau nama teman
sebangku saya yang bernama fredinata disana lah saya
mendapatkan teman pertama saya disekolah SMA 2 TANJUNG
tak lama kemudian saya pun mengajak nya makan bersama di
kantin yang bernama Kantin bunda disana saya pun makan
bersama teman baru saya. Soalnya saya tidak memiliki teman
selain dia,kami pun selesai makan langgusng ke kelas kami yaitu
XIPS 2 setelah kami masuk kami pun mencari teman baru di
kelas kami setealah itu kami pun mendapatkan teman yang

[30]
bernama aldi,opal,dan ijan setelah kami berkenalan guru pun
masuk ke lokal kami setelah itu kami pun disuruh memain kan
game TEBAK JADI NAMA ORANG BARU gamenya setelah game
itu selesai saya pun tau nama teman saya yang baru disana saya
merasa bahagia mendapatkan teman baru.
Setelah beberapa menit kemudian wali kelas kami pun
masuk kembali untuk mengatur duduk kami yang baru setelah
itu bel pun bunyi kami pun pulang kerumah kami masing-
maisng.
Setelah esokan harinya kami pun masuk ke kelas kami kembali
kami di suruh untuk gotong royong kami pun membersihkan
kelas kami setelah tidak lama ke mudian ada guru yang bilang
ke pada kami siapa aja yang salah jurusan kami punbing setelah
tak lama kemudian ada yang angkat tangan dan mengatakan
saya salah juruhsan setelah itu saya pun angkat tangan saya
biang ke pada guru tersebut saya juga salah jurusan dan
fredinata pun bilang seperti itu.
Setelah itu bel pun bunyi waktunya untuk istrirahat
setelah itu kami pun mencari makan setelah beberapa menit
kemudian guru yang tadi pun masuk ke kelas kami dan
menyuruh kami untuk ke lapang depat untuk membagi
kelasdan kami pun menuju ke lapang depan setelah semuanya
sudah di bagi kelasnya.
Saya pikir orang yang salah jurusan itu cuman dikit
rupanya ada 20 lebih orang yang salah jurusan setelah itu saya
pun mencari lokal saya yaitu KELAXMIPA 2 dan disana lah saya
menemukan kelas saya yang baru.
Setelah saya masuk saya pun disuruh gurunya untuk duduk di
kursi yang kosong yaitu di bagain belakang setelah tak lama
kemudian wali kelas MIPA 2 pun masuk saat itu saya sanggat
binggu apakah itu wali kelas saya di kelas MIPA2 ini saya pun
menyanykan kepada teman di depan saya setelah saya Tanya
kata kawan saya itu adalah wali kelas kita.

[31]
Setelah taklama kemudian saya pun di panggil oleh
wali kelas saya yang baru untuk memperkenalkan nama
saya.saya pun selesai untuk perkenalkan diri di sana saya pu n
ingin mencari teman baru saya setelah itu saya pun
mendapatkan teman baru saya yang bernama
aldi,yunsri,lisma,gesti,nina,ijal,muliadi saat saya selesai
meperkenalkan nama saya bel pun bunyi .
Setelah esokan harinya kami pun masuk ke dalam kelas kami
kemudian wali kelas kami pun masuk untuk mebagikan tempat
duduk dan saya pun duduk bersama teman saya yang bernama
aldi,nugi,yunsri,lisma,gesti dan kami pun memulaikan
pelajaran kami.
Setelah saya pun melihat kiri dan kanan apa kah ada
yang beragama Buddha setelah itu saya pun melihat rupanya
ada juga yang beragama buddhayang bernama febiyola setelah
saya ingin-ingin abang saya pernah bilang kalo di SMA 2
TANJUNG juga ada orang beragama yang sama seperti saya
yang bernama SKY INDRAJAYA dia itu anak pundahan dari
kuala enok setelah beberapa menit kemudian bel istrirahat pun
bunyi saya pun ragu yang mana orang yang abang saya bilang
itu y.
Saya pun mencari di deretan abang kelas dan disana lah saya
bertanya kepada kakak kelas yang berada di kelasXIIPS2 setelah
itu kakak kelas pun memanggil kawan abang saya setlah itu di
pun keluar dan saya pun bertanya kepada dia apa kah kamu
kenal dengan abang saya yang bernama RICARDO SETIAWAN
dia mengtakan y di sana lah kami pun berteman.
Esokan harinya di sekolah kami pun mengadakan acara setelah
itu saya pun mengajak abang kelas tersebut untuk makan di
kantin setelah kami selesai makan di kantin saya pun di ajak ke
kelas kawan abang saya setelah sampai saya di kenalkan sama
teman dia yang bernama Reza, Aulia, dan Tobi.

[32]
Setelah kami berkenalan saya pun mendapatkan
teman abang kelas disana lah saya di ajak bercanda,bergurau
,bermain dll setelah itu acara yang dui adakan disekolah pun
selesai dan kami pun pulang setelah itu ban motor saya pun
bocor dan mereka lah yang membantu saya untuk kebenkel
terdekat di JL TANJUNG HARAPAN setelah itu kami pun pulang
rumah masing-masing.

[33]
Biodata Penulis

“Bisa membuat keluarga bahagia adalah salah satu momen


paling membahagiakan dalam hidup ini.”

Namaku adalah Muhammad Fadil Syahputra, biasa


dipanggil Fadil. Aku mempunyai banyak hobi yaitu di bidang
seni dan olahraga. Cita-cita ku adalah menjadi seorang akuntan
perpajakan, karena pekerjaan ini dapat menghasilkan gaji yang
besar dan kita bisa bekerja di perusaan asing lhoo, dan orang
tua saya juga menyetujui apa yang aku cita-citakan.
Aku berharap, aku bisa menjadi pribadi yang
berprestasi dan lulus dengan nilai yang memuaskan agar dapat
mengejar apa yang aku cita-citakan dan tentunya hal itu harus
dicapai dengan terus berdoa dan berusaha.
@fadilsyahputra07

[34]
Waktu Berharga
Saya senang sekali karena semester ini nilai rapot saya
bagus-bagus dan semester depan saya sudah naik kelas XI SMA.
Kesenangan saya bertambah karena selama seminggu ke
depan saya dan keluarga akan berlibur ke rumah nenek di
Pasaman, rumah nenek saya ini terletak di atas puncak, jadi di
daerah sana udara sekitar terasa sangat dingin dan segar.
Saya tiba di rumah nenek hari Selasa malam sekitar
pukul 22.00. Perjalanan dari rumah saya di Tembilahan ke
rumah nenek membutuhkan waktu 16 jam perjalanan
menggunakan mobil. Sesampainya disana tubuh saya terasa
sangat lelah karena terlalu lama duduk di dalam mobil sehingga
membuat kami semua tertidur lelap, kecuali kakek saya karena
dia sudah terbiasa tidur larut malam.
Esok paginya, saya dan abang saya bergegas mandi di
dekat sungai di belakang rumah Nenek saya. Mandi di sungai
memang yang terbaik, air yang mengalir terasa sangat dingin
dan membuat saya merasa segar di pagi hari serta
pemandangan di sekitar pun tidak kalah menarik untuk
mencuci mata dengan gaya khas Tradisional yang sangat saya
sukai, menghirup udara disini memang sangat menyegarkan.
Nenek saya memang paling baik, beliau sudah selesai
menyiapkan rendang daging dan telur dadar ketika saya baru
selesai mandi. Melihat rendang daging yang merupakan
masakan pamungkas dari nenek, tentu saya langsung
kegirangan.
Ya, biasanya nenek hanya memasak rendang daging
saat ada reuni keluarga besar dan momen lebaran. Mungkin
nenek memasak rendang daging karena senang dengan
rencana kami menghabiskan libur disini, mengingat kami
memang sudah tidak bertemu hampir 1 tahun lamanya.

[35]
Saya mencium tangan nenek dan menanyakan
kabarnya. Alhamdulillah ia beserta keluarga di pasaman semua
sehat. Kami pun makan bersama di lantai, karena memang
kami tak biasa makan di meja makan. Oh ya, Kakek saya dari
keluarga ibu telah lama meninggal bahkan jauh sebelum saya
lahir, jadi saya tidak pernah melihat rupa kakek.
Sambil makan saya bercerita pengalaman saya di
sekolah. Mereka turut senang ketika tahu nilai rapot saya
bagus. Tak terasa piring saya sudah bersih, saya pun tak ragu
untuk tambah. Memang ketika makan rendang daging buatan
nenek tak akan cukup jika hanya makan satu porsi.
Setelah menambah dua kali lagi akhirnya saya
kekenyangan. Nenek pun hanya tertawa melihat saya yang sulit
untuk berdiri dan bergerak. Saya memutuskan untuk bergerak
menuju tempat favorit saya di rumah nenek, yaitu bale yang
ada di teras rumah.
Sejak dulu, tak banyak perubahan di desa tempat
Nenek saya tinggal ini. Di depan rumah nenek masih terdapat
lapangan bola dan pohon beringin besar. Di sekelilingnya masih
banyak sawah dan hutan, tak tergerus jaman. Berbeda dengan
wilayah di tempat saya tinggal yang sawahnya semakin habis
untuk dibangung perumahan.
Pemandangan yang asri ditambah angin sepoi-sepoi
yang berhembus menyebabkan saya mengantuk, saya pun
langsung masuk ke dalam rumah dan tertidur.
Bertepatan dengan adzan Dhuhur saya dibangunkan oleh
kakek. Beliau mengajak saya untuk sholat berjamaah di
mushola dekat rumah. Sepulang dari mushola, kakek
membelikan saya es degan. Rasanya begitu segar. Siang
harinya saya hanya menonton televisi karena kakek dan nenek
sedang tidur siang.
Selepas Ashar saya menuju sawah milik keluarga
bersama kakek dan nenek yang letaknya tidak jauh dari rumah.

[36]
Saya begitu takjub melihat petak sawah kami yang sudah
kuning, indah sekali. Kakek bilang, kemungkinan lusa sawah
kami sudah bisa dipanen.
Beliau berjanji akan mengajak saya melihat
pemanenan padi di sawah. Tentu saja saya menyetujui ajakan
kakek, rasanya jadi tidak sabar menunggu besok lusa. Sudah
terbayang bagaimana asyiknya kegiatan ini. Bahkan saya sudah
mengira-ngira berapa karung padi yang akan kami dapatkan
setelah panen. Setelah itu, saya dan keluarga saya pergi ziarah
ke makam kakek dari keluarga ibu untuk mengenang kembali
dan mendoakan beliau. Perjalanan ke sana memang tidak
mudah, apalagi untuk nenek saya yang sudah tidak kuat untuk
berjalan ditambah lagi tubuhnya yang gemuk.
Di dalam perjalanan, kami melewati hutan dan banyak
semak-semak, untunglah kami telah mempersiapkan alat
untuk menebas semak dan kami telah menggunakan losion anti
nyamuk karena di sana sangat banyak nyamuk nyamuk kecil
yang gatalnya sangat menusuk. Sesampainya di sana, kami
semua membersihkan makam kakek yang di kelilingi rumput,
lalu kami menaburi bunga di atas makamnya dan lekas
mendoakan beliau agar selalu tenang di alam sana.
Waktu liburan memang terasa sangat cepat, tak terasa
hari sudah malam. Kami berdiam di rumah karena di luar hujan
deras. Suasana jadi hangat ketika nenek menyiapkan STMJ
yang merupakan minuman favorit saya dan keluarga. Sambil
minum STMJ, nenek mulai membuka album foto yang
tersimpan rapi di lemari. Terlihat foto-foto saya bersama
nenek. Saya tersenyum sendiri melihat diri saya di masa kecil,
masih polos dan lucu. Nenek dan keluarga di sana bergantian
menceritakan kisah yang ada di foto, mereka terlihat begitu
bersemangat. Tak jarang mereka tertawa ketika bercerita
tentang tingkah laku saya di masa kecil. Senang rasanya melihat
mereka begitu bergembira saat bercerita. Namun ada rasa

[37]
sedih juga karena sekarang kami jarang bertemu, mengingat
rumah kami yang berbeda daerah.
Saat hujan reda, saya dan kakek saya pergi membeli
sate padang karena dingin-dingin seperti ini memang paling
enak untuk mengkomsumsi sate. Saya memesan sate jumbo
dengan sedikit ketupat karena saya kurang suka ketupat yang
terlalu banyak dan lebih suka lauk yang berlebih.
Setibanya di rumah, kami semua langsung memakan
sate dengan lahap, tiba-tiba oom saya datang dengan
membawa durian, karena tak tertahankan dengan aroma
durian yang menggungah selera, kami pun memakan durian itu
dengan lahap sebagai makanan penutup untuk malam ini.
Tiga jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul
23.00, nenek menghentikan ceritanya dan menyuruh saya
tidur. Liburan hari pertama sudah selesai, masih ada enam hari
lagi saya berada disini. Semoga liburan saya semakin
menyenangkan tiap harinya. Saya juga berharap seminggu ini
bisa lebih dekat dengan kakek dan nenek lagi agar mereka juga
merasakan kesenangan yang sama dengan saya. Saya akhirnya
tertidur di kasur yang terletak di depan televisi.
Esok harinya adalah hari yang ditunggu tunggu, karena
kami memang biasa untuk jalan jalan pada hari kedua liburan.
Saya dan keluarga pergi jalan jalan ke banyak tempat, seperti
Ngarai Sianok, di sana banyak sekali monyet yang berkeliaran,
kami biasa menyebutnya “Baruak” dan kami memberi mereka
makanan yaitu kacang dan buah-buahan yang telah kami beli
sebelumnya, lalu kami mengitari Ngarai Sianok dan
menemukan spot foto yang indah disana. Saya dan keluarga
pun mengambil beberapa gambar di sana, lalu kami pergi ke
Lubang Jepang. Lubang Jepang adalah salah satu objek wisata
sejarah yang ada di Kota Bukittinggi. Lubang Jepang dibangun
oleh tentara jepang pada tahun 1942 untuk pertahanan. Di
sinilah banyak rakyat indonesia yang dikurung, disiksa, dan

[38]
banyak wanita yang dijadikan pelampiasan seksual oleh para
tentara jepang. Jika ada yang mati, mayat mereka dibuang di
sebuah lubang kecil di dekat dapur Lubang Jepang tersebut.
Pemandu kami menceritakan banyak hal tentang Lubang
jepang ini dan akhirnya kami pun sampai di pintu keluar.
Setelah itu, kami pun bergegas pergi ke “Puncak
Lawang”, pemandangan di sana sungguh indah dan banyak
dijadikan spot untuk berfoto bersama keluarga, di sana juga
ada beberapa permainan yang bisa dimainkan untuk anak kecil
maupun orang dewasa. Saat hari mendung, daerah Puncak
Lawang ditutupi dengan awan abu-abu, sehingga terlihat
seperti di daerah yang berkabut.
Lalu, kami semua singgah di salah satu Rumah Makan
Padang, awalnya saya tidak nafsu makan karena tidak tahan
dengan aroma mobil yang membuat kepala saya pusing,
namun aroma masakan padang mampu membuat nafsu makan
saya meningkat kembali dan saya pun makan dengan lahap.
Tak terasa, hari telah menunjukkan pukul 4 sore, waktu
berjalan begitu cepat seiring dengan berakhirnya liburan saya
di sana, saya sangat bahagia bisa berjumpa nenek dan jalan-
jalan ke Bukittinggi, sungguh waktu yang menyenangkan.

[39]
Biodata Penulis

“Dia selalu menatapku tanpa sebab yang jelas sehingga aku


selalu risih padanya. Aku tidak tau tatapan itu apa
maksudnya. Namun ternyata, hal itu yang membuat ia
menemukan jawaban yang ia cari.”

Namaku adalah Ayu. Lengkapnya Mareta Puri Nur Ayu


Ningsih. Aku memiliki banyak hal yang kusukai. Diantaranya,
seni beladiri. Dan sekarang aku tengah menekuni Karate dan
tentunya sudah memegang sabuk hitam dong.. aku sudah
berlatih karate sejak kelas 3 Sekolah Dasar.
Selain seni beladiri, aku juga suka olahraga lainnya
seperti renang, bulutangkis dan basket. Aku juga menyukai
beberapa bidang seni, seperti melukis, menyanyi, menari, dan
manganyam. Dan aku sangat berharap, aku dapat menjadi
orang yang berprestasi dan proffesional. @ayuumareta

[40]
Gelang Penyatu
Bermula suatu pagi, aku sangat senang karena hari itu
aku akan memulai kehidupan sekolahku yang baru. Ya!! Aku
akan memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi yaitu Sekolah
Menengah Atas. Aku diterima di SMA Purna Bangsa yang
merupakan salah satu sekolah favorit di kota tempat aku
tinggal. Itu artinya, tentu aku harus lebih giat belajar dong,
karena persaingan akan menjadi lebih ketat.
Namun, ketika aku melangkahkan kaki menuju kelasku,
niatku yang tadinya harus belajar dengan fokus, menjadi goyah
karena melihat ada seorang remaja laki-laki dengan perawakan
gagah, tinggi, putih dan bisa dibilang tampan telah duduk di
samping bangku milikku. Dia memang tampan, tapi aku tidak
mengenalnya. Prinspiku adalah aku tidak akan peduli padanya
jika dia bukan siapa-siapa bagiku. Tanpa menyapanya, aku
langsung duduk di tempatku. Aku harus berusaha untuk tetap
fokus pada pelajaranku.
Teng...teng..teng... Bel tanda masuk pun berbunyi, itu
artinya jam pelajaran akan dimulai sebentar lagi. Aku duduk
tenang sambil membaca buku sembari menunggu guru datang.
Namun ada suatu hal yang mengangguku. Dia terus melirik
kearahku. Aku menjadi kesal karena hal ini. Namun, karena ini
adalah hari pertamaku di sekolah, aku membiarkannya saja
karena tidak ingin mencari masalah. Tapi, ketika pelajaran
pertama kami dimulai, aku tambah risih karena dia terus
menatapku. Ntah itu tatapan kagum ataupun ejekan, tapi aku
tidak menyukainya.
Ketika jam istirahat, aku pergi ke kantin untuk pertama
kalinya. Saat itu, aku masih belum mengenal siapapun di
sekolahku. Jadi aku menikmati waktu-waktuku sendiri. Aku
memang susah untuk menyapa orang lain terlebih dahulu,

[41]
karena alasan tersebut banyak orang-orang yang
menganggapku sombong, cuek, dan tidak peduli pada orang
lain. Jujur hal tersebut tidak sepenuhnya benar, namun aku
tidak terlalu memikirkan omongan mereka karena aku hanya
perlu mencari teman yang betul-betul mau berteman
denganku.
Akan tetapi, aku kembali risih!! Ternyata cowok
tampan tadi mengikutiku seperti stalker. Dia membeli snack
yang sama sepertiku dan dia meniru cara makanku. Dia terus-
terusan menatapku. Dia seperti penguntit dan tentunya
merusak hari pertama sekolahku.
Aku kesal setengah mati padanya. Tapi ini adalah hari
pertamaku dan tentunya masalah sekecil apapun harus
kuhindari. Aku memimpikan kehidupan sekolah yang biasa saja,
diimbangi dengan prestasi dan melewati masa-masa sekolah
yang damai. Namun, bagaimana hal itu bisa terwujud jika dia
terus-terusan membuatku kesal?
Sampai beberapa hari kemudian, tanpa menyapaku dia
terus-terusan memandang ke arahku. Aku tidak berani melihat
balik matanya. Dan aku juga tidak berniat untuk menyapanya
lebih dulu. Mungkin karena dia adalah anak laki-laki? Di
samping itu, meja kami selalu dikelilingi anak perempuan
ataupun anak laki-laki lainnya karena dirinya. Sepertinya
banyak yang ingin dekat dengannya, ntah karena dia kaya,
pintar, ataupun tampan? Aku tidak peduli. Dan itu artinya dia
cukup populer di kalangan cewe ataupun cowo bukan? Apalagi
cewe-cewe akan membully seseorang yang tidak mereka sukai.
Jika aku dekat dengannya, itu akan menimbulkan masalah dan
aku harus menghindarinya. Tuhan, aku memimpikan
kehidupan yang damai!!
Tiba hari dimana dia menyapaku. Hari itu dia terus-
terusan menyebut namaku. Kembali terulang, aku menjadi
kesal setengah mati padanya.

[42]
“hey, maaf. Kamu ada pulpen lebih gak?” tanyanya.
“Oh, ambil aja kalau perlu” jawabku.
“makasih ya, oh ya kamu ada buku antalogi ini? Kalau
ga ada kamu bisa pinjam ke aku kok, aku punya dua ni.” Kata
anak laki-laki itu.
“Oh, terima kasih. Tapi aku sudah memilikinya” ujarku.
Ya, obrolan kami hanya sampai disitu. Tentu saja saat
kami berbicara dia terus-terusan melirikku. Ntah apa yang
salah padaku. Tetapi, tatapan anak cewe di kelas sepertinya
berbeda saat aku mulai bicara pada anak lalaki itu. Mereka
menatapku sinis. Tuhan, aku ingin sekolah demgan tenang!
Anak lelaki itu terus-terusan berbicara padaku, ketika
aku mulai menanggapi, tatapan sinis selalu tertuju padaku. Jika
aku terus-terusan menghindarinya, maka aku tetlihat sebagai
seorang pecundang! Walaupun aku menghindari masalah, aku
tidak bisa diintimidasi seperti ini. Namun, tetap saja, ketika dia
berbicara padaku, jawaban dariku hanya sekedar saja. Tapi
tampaknya dia tipe orang yang tidak mudah penyerah. Dia
terus-terusan mencari topik pembicaraan denganku.
“Hey, kita belum kenalan loh. Udah hampir dua minggu
kita jadi teman satu bangku, tapi aku belum tau namamu”
katanya
“benar juga. Namaku cukup pasaran, kau bisa
memanggilku Caca.” Jawabku.
“Eh,!!...(sontak dia langsung terdiam)”
“Ada apa? Sudah kubilang namaku pasaran kan?
Jangan sok terkejut seperti itu?” ketusku.
“Hoh maaf, aku langsung teringat sesuatu tadi. Oh ya
kau belum tau namaku kan? Aku Fitra. Aku berharap setelah ini
kita menjadi lebih dekat yaa.” Pintanya.
“Haha, baiklah” kataku spontan.
Tatapan sinis akhir-akhir ini tentu sangat sering
kudapatkan, walaupun aku hanya berbicara seperlunya pada

[43]
Fitra. Padahal kami sudah berkenalan namun dia masih tetap
saja terus-terusan melirikku. Tentu alu masih merasa gelisah
dengan hal tersebut.
“Fit, sebentar aku mau ngomong.” Pintaku
“Ada apaan ni Ca, ini pertama kalinya kamu ngajak aku
ngomong lohh..”ejeknya
“Apaan si, gini Fit, kamu kenapa sih buat aku selalu risih
ha?” tegasku.
“Lah kenapa Ca, aku buat kamu ga nyaman
ya?”tanyanya.
“iya, bahkan bisa dibilang kamu tu udah ngancurin
masa sekolah yang aku impiin tau gak?! Kamu tu dari awal
masuk sekolah selalu ngelirik aku. Aku risih tau gak. Emang
apaan sih yang kamu lihat? Jangan-jangan ada pikiran aneh-
aneh ya? Ha?!” kataku.
“eh, maaf Ca, aku gatau kalau kamu kesinggung, aku
cuma penasaran sama kamu”
“Penasaran? Tapi kamu kan udah kenal sama aku!
Kenapa kamu tetap ngelirik aku?, Tau gak, kamu tu populer,
apalagi dikalangan cewe. Mereka marah kalau kamu dekat
sama cewe lain. Begitu egoisnya kan mereka?! Dan kamu
malah sering ngelirik aku. Aku bakalan kena bully sama cewek-
cewe itu. Kamu gatau kan masalah diantara cewe? Aku tuh ga
peduli sama kamu? Tapi ini benar-benar buat aku risih tau
gak?” Kataku sambil pergi meninggalkan Fitra.
Fitra tampak kebingungan dengan sikapku. Ia terdiam.
Sampai beberapa hari berikutnya, Fitra tampak segan untuk
menyapaku. Kami pun tidak bicara satu sama lain. Begitu ada
jarak yang timbul diantara kami. Bagaikan tembok cina yang
besar, panjang, dan tinggi sekali.
Semakin lama, dia semakin menjauh. Aku pun merasa
tidak enak karena sudah bersikap kasar padanya. Tapi dia juga

[44]
tidak meminta maaf padaku. Hufft, aku tidak tau harus
bagaimana.
Akhirnya ku beranikan diri tuk meminta maaf padanya.
“Fit, maaf. Aku kemaren kasar sama kamu” kataku
“Eh Caca, aku juga minta maaf. Aku ga tau kalau kamu
bakalan merasa terganggu dengan tatapanku. Aku memang
terus memperhatikanmu sejak hari pertama sekolah. Dan
untungnya aku dapat tempat duduk yang bersebelahan
denganmu. Tentu ini kesempatanku untuk mencari jawaban
dari pertanyaanku” Jelasnya.
“Ha? Jawaban? Kau penasaran denganku kan? Kita
sudah berkenalan? Lalu?” tanyaku dengan penasaran.
“aku penasaran padamu. Dan yang jelas aku selalu
menatapmu bukan karena hal yang aneh-aneh ya!” katanya
“Hey! Ternyata kamu selalu bisa bikin aku kesal ya!”
ketusku.
“eh, bukannya dari dulu aku menang selalu bikin kamu
kesal ya?” tanyanya.
“haah? Dari dulu. Kita aja beru kenal Fit!”jawabku
“Ternyata kamu lupaa..” keluhnya
“apaan Fit? Tolong langsung to the point dong!!”
jawabku ketus.
“Ca, aku memperhatikanmu karena kamu cantik”
jawabnya.
“Makasih.” Jawabku cuek
“ga mau bilang aku ganteng?” ucapnya
“Gara-gara kamu ganteng dan aku disinisin sama cewe
yang lain karena bicara sama kamu gitu?” aku semakin
bertambah kesal.
“Oke Ca, gini. Aku sering melirikmu karena kamu
sangat mirip dengan seseorang. Dan aku juga memperhatikan
benda itu?” katanya sambil menunjuk tanganku.

[45]
Akupun termenung dan terdiam memikirkan
jawabannya. Aku mengingat-ingat apa yang kulupakan. Aku
bingung, dan akhirnya Fitra pun menjelaskan segalanya
padaku. Penjelasan yang begitu panjang keluar dari mulutnya.
“kamu emang ga berubah ya, Ca. Saking cueknya ga
ingat lagi sama aku. Aku tuh Udah lama kenal sama kamu.
Emang sih, kita ga lama kali temenan. Karena waktu itu aku
pindah dan kita lost contact. Aku tuh perhatiin kamu biar
mastiin kamu beneran Caca yang aku kenal atau ga. Aku ga
sepenuhnya yakin karena kamu udah beda banget, dulu kan
kamu tomboy dan sekarang udah berubah jadi cewe cantik gini.
Tapi aku tentu udah dapatin jawaban yang aku pengen loh.
Yaitu gelang kamu. Gelang yang selalu kamu pakai, bahkan
sampai sekarang. Aku yakin, gelang itu yang buat aku yakin
banget kamu itu teman aku dulu. Kamu pasti masih ingat geng
kita waktu masih bocah kamu doang yang cewe. Otomatis
kamu teman pertama aku yang cewe. Kalau kamu kan bukan
aku teman cowo pertama kamu. Makanya aku masih ingat
kamu. Tapi kayaknya kamu ga ingat aku lagi, jadi ya aku diam
aja, dan untunglah ada gelang itu yang menyatukan
persahabatan kita lagi. Atau mungkin, bakal jadi kisah
percintaan”
“oh jadi kamu Fitra yang dulu lebih pendek dari aku
kan? Aku seriusan ga ingat loh kalau kamu ga jelasin ini. Aku ga
ada betul-betul memperhatikan kamu. Ternyata Fitra yang
pendek dariku dulu sekarang jadi tinggi banget. Hm,.. ” ejekku.
“Dasar kamu Ca,.. haha!!!!” dia tertawa.

[46]
Biodata Penulis

“Keluarga memang tak sempurna, tapi mereka selalu ada.”

Namaku Novanda Indah Pratiwi, biasa dipanggil Nova.


Aku lahir pada bulan November, tepatnya pada tanggal 8
November 2001 di Pekanbaru. Aku merupakan anak kedua dari
tiga bersaudara. Aku punya banyak hobi, seperti menonton
film, membaca novel dan tidur. Hehheh. Makanan kesukaanku
mie dan minuman favoritku adalah teh tarik. Cita-citaku ialah
editor buku, karena aku suka baca buku yang berjenis fiksi, jadi
aku ingin bisa ikut serta dalam hobiku ini. Kedepannya aku
berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, walau
banyak hal buruk yang menimpaku aku harus tetap sabar agar
bisa jadi orang yang lebih baik.

[47]
Keluarga Yang Sempurna
Hai perkenalkan namaku Ayi Nursilva, aku anak kedua
dari tiga bersaudara, tidak pintar-pintar amat dan juga tidak
bodoh-bodoh amat, menurutku aku cukup baik menjadi teman
yang baik, aku paling senang jika bisa kumpul bersama teman-
temanku, karena dengan berkumpul bersama teman bisa
membuatku lupa akan hal buruk yang menimpaku, aku juga
bisa melupakan beban dalam hidupku walau hanya sebentar
saja, ngomong-ngomong aku cuma anak SMA biasa yang selalu
jadi bahan suruhan orang tuaku sendiri.
Seperti sekarang ini, aku benar-benar muak
dengannya, bisanya Cuma marah-marah setiap hari salah
sedikit langsung marah-marah tanpa mau mendengarkanku
sekalipun. “Huff..aku capek tau..akukan baru pulang sekolah
bukan habis liburan,masa gak boleh istirahat sebentar,harus
langsung nyapulah,mandilah, inilah, itulah!” gerutuku dalam
hati. Mana mungkin aku berani mengeluarkan segala unek-
unekku dan melawan mamaku sendiri, mendengar suaranya
naik satu oktaf saja membuatku merinding.
Hal yang bikin aku semakin kesal adalah saat melihat
abang dan adikku sedang santai didepan tv, sedangkan aku
yang baru ganti seragam sekolah harus langsung
membersihkan rumah. “kenapa harus pilih kasih sih..” gerutuku
lagi. Dengan malas aku menyapu rumah ini, setelah selesai
menyapu aku langsung pergi mandi.
Selesai sholat Maghrib aku langsung membuka
Chatting yang ada dihpku, aku langsung membaca chat salah
satu sahabatku yang bernama Karina, ah, dia sedang banyak
masalah, lalu akupun dengan senang hati mendengarkan isi
hatinya tentang kesusahannya itu, aku juga berusaha memberi
saran yang baik agar dia tetap bahagia seperti biasa.

[48]
Aku sangat berusaha untuk selalu ada saat dia sedang
susah seperti ini, karna terkadang saat aku susah dia juga ada
untukku. Betapa beruntungnya aku bisa memiliki sahabat
seperti dia, kalau saja aku tak memiliki sahabat, entah
bagaimana aku bisa menjalani hidup ini, bahkan aku selalu
lebih memprioritaskannya daripada keluargaku sendiri. Karena
keluargaku jarang perduli kepadaku sehingga kalau aku sedang
susah maka aku lebih sering meminta bantuan Karina.
Walaupun kami hanya chattingan tapi aku sangat
senang karena kami tetap bisa berkomunikasi. Aku sangat
sayang padanya, dimataku dia sangat penting, lebih penting
daripada apapun di dunia ini, Karina memang memiliki peranan
penting dalam hidupku sehingga aku lebih suka mengandalkan
dia daripada keluargaku sendiri.
Ngomong-ngomong tentang Karina, kami sudah kenal
cukup lama, mungkin sudah 3 tahun kami lewati bersama,
banyak masalah dan kebahagiaan yang sudah kami rasa
bersama, walaupun begitu, terkadang saat dia sedang susah
aku tidak bisa membantunya, begitu pula sebaliknya, tapi aku
memakluminya karena aku tau bahwa tidak ada persahabatan
yang sempurna di dunia ini, dia juga memaklumiku saat aku
tidak bisa berbuat banyak untuknya dan aku sangat senang
akan hal itu sehingga kami terlihat seperti sepasang sahabat
yang bisa saling melengkapi
Esoknya, saat aku sedang berada dikelas salah satu
teman satu kelompokku memberitahuku bahwa kami akan
kerja kelompok nanti sore dan aku harus datang karena
kehadiran setiap anggota sangat diharapkan, aku sudah tau
bahwa orang tuaku tak akan mau mengantarku kesana jadi aku
minta tolong pada Karina untuk membantuku.
“Karina, mau gak bantu aku, please yaa?” tanyaku,
“Minta tolong apa yi? Aku usahain deh” jawab Karina

[49]
“Gini nanti sore aku harus kerja kelompok dirumah teman,
kamukan punya Honda tolong anterin aku dong,mau gak?”
tanyaku pada Karina
“oo, kalau cuman itu sih enak kok, tenang aja” jawab Karina.
“Yeeeayyy Karina baik dehh, makasi yaa”kataku
“Jelas dong, Karina gitu..hehe” ucap Karina
Setelah itu kami hanya mengobrol santai sambil
bercanda walaupun garing dan tidak begitu lucu tapi rasanya
tetap membuatku bahagia karena bisa berbagi tawa
dengannya, aku juga sangat senang karena dia mau
membantuku karena jika dia tidak mau aku pasti akan Bingung
mau minta tolong sama siapa, keluargaku mana bisa
diharapkan, ah sudahlah jangan dibahas bikin capek saja.
Pada sore harinya,
“Duuh.. Karina mana ya, katanya mau nganterin tapi kok lama
yaa mana temen-temen udah pada ngumpul lagi”ucapku
dalam hati.
Tiba-tiba Karina menelponku, langsung saja aku angkat.
“Karinaa, kamu dimana sih, ini udah jam berapa? akukan jadi
telat”ucapku dengan kesal.
“Haduh, maaf ya yi, aku lupa bilang sama kamu, kalau aku juga
harus kerja kelompok, arah rumahnya beda dan jaraknya jauh
banget,jadi aku gak bisa nganterin kamu,sorry yaa”ujar karina
“Apaa? Kamu bercanda yaa, kamukan lagi pakai Honda bukan
jalan, jadi bisa aja dong kamu jemput aku, kamu gimana sih”
“Maaf yi..”
“sekarang kamu masih bisakan jemput aku?”
“maaf lagi ya yi.. aku udah janji boncengan sama Arin, sorry
banget”
“Apaa? Kamu ini serius gak sih mau bantu aku, terus aku
gimana sekarang?kamu sempat-sempatnya mikirin orang lain
ketimbang sahabatmu sendiri”

[50]
“Ah kamu ini kenapa lebay sih, aku sama Arin kan satu
kelompok, jadi wajar kalau kami perginya sama-sama, udahlah,
nanti malam aku janji bakal ngantar-jemput kamu buat tugas
pribadi kamu itu, sekalian bayar janji aku yang sekarang, jadi
jangan marah lagi ya yi?” ujar Karina
“Ah,ya udah deh, aku tunggu ya malam ini, awas gak
datang”kataku aku pada akhirnya.
Sambungan telepon pun mati, aku sebenarnya merasa
cukup kecewa, tapi dia juga udah janji bakal membantuku
malam ini untuk mengerjakan tugas pribadiku, akupun
langsung bilang kepada kelompokku bahwa aku tak bisa
datang.
Dan malam hari pun datang, tepat jarum jam
menunjukkan pukul 19.00 wib tetapi tak kunjung kulihat Karina
datang menjemput, aku bukannya tidak tahu bahwa dia tak
bisa membantuku 'lagi' ,karena sejak tadi notifikasi hpku terus
berbunyi tanda ada pesan dan telepon masuk dari seseorang
yang aku tebak pasti Karina
Lagi-lagi dia berbohong, lagi-lagi dia mengecewakanku,
mendengar alasannya hanya akan membuatku menangis, dari
detik itu aku benar-benar merasa kecewa.
Tapi aku gak mau menangis,.ada hal yang harus aku lakukan,
aku harus minta bantu pada yang lain, aku bisa kena hukum
guru lagi kalau tidak mengerjakan tugas ini, dan satu-satunya
harapanku adalah keluargaku.Segera saja aku hampiri ayahku
yang sedang duduk diluar,
“Ayah, mau tidak mengantarku kewarnet, ada yang ingin aku
cari disana, buat tugas sekolah?” ucapku pelan karena aku tau
betapa mustahilnya hal ini.
Aku benar-benar tak mau mendengar tolakan apapun, aku juga
tidak ingin menatap wajah ayahku, yang aku lakukan hanya
mematung dan menatapi lantai sambil menunggu jawaban

[51]
yang aku harap dapat menimbulkan secercah harapan, walau
sedikit saja.kumohon.
Dan harapan itu benar-benar datang,
“oke, langsung ya nak? Lebih cepat lebih bagus”
“apa? beneran pa ? Yeeayy makasi pa” ucapku bersemangat.
Mungkin untuk kalian hal ini gak ada istimewanya sama
sekali, tapi untukku yang baru saja dikecewakan oleh orang
yang selama ini selalu kubanggakan dan tiba-tiba ditolong oleh
orang yang selama ini selalu aku pandang buruk merupakan hal
yang teramat manis. Setelah aku dijatuhkan sedalam dalamnya
sekarang aku malah merasa ada tangan besar yang
membantuku untuk berdiri tegap. Hatiku benar-benar merasa
hangat, kasih sayang seorang ayah memang benar-benar
menenangkanku.
Tugas pun dapat kukumpulkan dan mendapat nilai
yang bagus, sampai sekarang aku belum bisa memaafkan
sahabatku itu tapi kelihatannya ia tidak membutuhkan maafku,
sekarang dia malah menempel pada orang lain, yang tentu saja
tidak akan membuatku terkejut, aku sudah tahu itu, dia itu
tidak sebaik yang kuharap.
Setelah kuperhatikan, ternyata ibuku sama sekali tidak
pernah pilih kasih, justru akulah yang terlalu buta untuk perduli
kepadanya, dia sering membelikanku pakaian yang bagus, hal
itu baru aku ketahui dari adikku, ia malah terang-terangan
bilang bahwa ia sangat iri denganku, aku hanya bisa tertawa
mendengarnya dan juga setelah kulihat abangku juga selalu
pulang dalam keadaan lelah karena habis pulang kerja seharian
jadi wajar saja jika dia sering istirahat dirumah.
Satu satunya hal yang ingin kulakukan sekarang adalah
membahagiakan keluarga kecil ini,sejak kejadian itu aku selalu
membersihkan rumah tanpa disuruh ibuku, aku juga jadi sering
ngobrol dengan abang dan adikku, setiap selesai sholat pun aku
selalu mendoakan mereka.

[52]
Aku berdoa bahwa aku tak pernah meminta menjadi anak yang
kaya atau populer, aku hanya meminta satu hal, agar Allah
SWT selalu melindungi keluarga kecilku ini dan agar keluarga ini
selalu menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah
yang jauh dari banyak masalah dan selalu harmonis.
Aku tak menginginkan sahabat lagi seperti dulu, karena
sekarang aku tahu bahwa tidak semua orang bisa beruntung
memiliki sahabat, mungkin Allah SWT belum mengirimkanku
sahabat yang baik, tetapi Allah SWT sudah terlebih dahulu
mengirim dua malaikat tanpa sayap dan saudara-saudara yang
baik untuk menjadi keluarga kecilku dan aku akan berusaha
untuk menjaga semua titipan itu dengan baik.

[53]
Biodata Penulis

Sehancur-hancurnya ragumu ia takkan pernah


meninggalkanmu pergi. Sekalipun ia pergi, percayalah, ia
pasti akan kembali.

Nama saya Putri Regina, biasa dipangil Gina, Nana,


atau Gigin. Saya adalah anak ke 2 dari 3 bersaudari yang lahir
pada tanggal 13 Juni 2002. Sekarang saya menginjak umur 16
tahun. Hobi saya sama seperti yang tertera di dalam naskah
cerpen, yaitu bermain game, menulis sastra, dan menciptakan
puisi.

[54]
Karyln And Kathreen
Kelopak dari matanya yang bernuansa coklat lembut itu
terlihat sayup sendu. Ia tak henti bercerita tentang masa-masa
suramnya ketika di sekolah SMP. Betapa ia ingin aku
mengetahui apa yang saat itu sedang berkecamuk di dalam
dadanya. Meski hanya sebuah kenangan, tapi yang telah terjadi
akan tetap tersimpan di memori sampai kapanpun itu.
Gadis yang biasa kupanggil Risma itu meraih tas ku yang
tergantung di dinding kamar dan membukanya. Tangannya
mencari-cari dan akhirnya mengambil secarik kertas dan
sebatang pena. Perlahan-lahan jarinya mengayunkan pena di
atas kertas itu dan menulis “No Life”. Ia mengangkat wajahnya
dan menyelipkan rambutnya yang panjang tergerai di
telinganya, “tau definisi tentang no life?”. “Suatu keadaan
dimana dirimu adalah seseorang yang tidak mengerti
mengenai arti sosialisasi, memilih hidup tanpa teman, atau
yang lainnya”. Ia hanya terdiam dengen ekspresi yang
menggambarkan bahwa itulah yang ia alami ketika duduk di
bangku Sekolah Menengah Pertama.
Aku dan Risma adalah sepupu sebelah ayah. Kami hidup
dan tumbuh bersama dari kecil. Hubungan antara kami
sangatlah dekat. Ia adalah orang yang paling terpercaya untuk
soal menyimpan rahasia serta pendengar yang sangat baik.
Kami sangat menyenangi game. Sewaktu kecil, ia
memperkenalkanku pada suatu tempat dimana disana isinya
penuh dengan komputer, yang biasa disebut dengan warnet.
Mulai dari game komputer, playstation, hingga battle royal
serta moba merupakan kegemaran kami. Aku mengenalinya
sebagai “Karyln”. Meski tidak ada hubungannya sama sekali
dengan nama aslinya, tapi nama itulah yang ia gunakan di

[55]
dalam setiap username gamenya. Dan ia mengenalku sebagai
“Kathreen”, nama yang kugunakan untuk username gameku.
Saat ini, ia duduk di bangku jurusan Administrasi
Perkantoran, Sekolah Menengah Kejurusan. Hidupnya kini
diselimuti kehangatan, teman-temannya benar-benar
menyenangkan. Bahkan ia mendadak menjadi siswa
berprestasi yang disenangi guru-guru di kelasnya. Mungkin
karena sewaktu masih SMP dia adalah anak yang pintar, hanya
saja malas merenggut segalanya.
“Ya gimanalah, coba kau pikir. Teman-temanku waktu di
SMP kayak tak nganggap aku ada, aku ada pencapaian sedikit
aja tak pernah dihargai, makanya aku milih menjadi orang
malas aja sekalian.” Cetusnya dengan mata sekali-sekali
menatap kepadaku, sambil berusaha untuk tetap fokus pada
game yang sedang ia mainkan di tangannya. Aku hanya
mencoba mencerna makna dari perkataannya tersebut.
Pagi-pagi sekali di akhir pekan aku mengirimkan pesan
singkat untuknya, rencananya aku ingin mengajaknya bermain
game bersama. Namun tak seperti biasanya, ia menolak
ajakanku dengan alasan ia akan pergi jogging bersama teman-
temannya di kelas.
“Ya sudahlah, kalo gitu sore aja. Nanti aku yang datang
kerumahmu”.
“Oke”
Sore itu aku datang kerumahnya dengan mengendarai
motor bermerk Beat warna merah diselingi putih serambi
membawa niat akan memperkenalkan pencapaian terbaruku
di game.
“Risma belum pulang. Katanya main basket sama teman-
temannya” teriak ibunya yang sedang memasak di dapur,
karena mengetahui aku ada di luar tepatnya di pintu.
“Oh iyalah cik, aku pulang dulu lain waktu aja kalo ada
Risma baru aku kesini lagi” seruku

[56]
“Iyaiya” ibunya mengiyakan.
Hingga pada malam tiba, aku mengiriminya pesan singkat.
Memberi tahu padanya tentang peringkat baruku di game.
Anehnya ia hanya sekedar mengiyakan perkataanku. Padahal
biasanya jika ia tahu bahwa aku menaiki peringkat baru ia
langsung tergesa-gesa dan mencoba untuk menandingi
peringkatku. Entah karena kesibukannya yang kini semakin
padat ia jadi mulai-mulai jarang untuk bermain game
bersamaku lagi.
“Oh iya, tentang rencana mabar besok, kayaknya aku tak
bisa soalnya teman-temanku ngajak ngumpul”
“Ngumpul ngapain?”
“Ya mau having fun aja”
“Oh iyalah terserah”.
Entah mengapa belakangan ini Risma jadi jarang
meluangkan waktu untukku. Setiap aku ingin mengajakmua
jalan-jalan, ada saja alasan. Dan alasan itu selalu berkaitan
dengan teman-temannya. Setiap aku ingin mengajaknya
bermain game selalu saja terhambat karena ia sedang bersama
teman-temannya.
Malam sehabis sholat Isya, aku mencoba meneleponnya
untuk menyelesaikan pertanyaan yang sudah lama terpendam.
“Kok sekaramg beda ya? Dulu kita sering sama-sama main
gam, Jalan-jalan tidur bareng tapi sekarang kayaknya kau udah
berubah sejak dapat teman baru di SMK”
“Bukan gitu, aku tu punya kesibukan tolonglah ngerti
dikit”
“Kesibukan kok tiap hari? Masa cuma sekedar ngumpul
aja pake setiap hari ? luangkan waktu dikit kek, waktu SMP kau
tak pernah begini setahuku”. Perdebatan terus berlanjut
hingga pada akhirnya tak satupun yang mau mengalah.
Hari demi hari berlalu, aku menghabiskan waktu di setiap
akhir pekan dengan bermain game tanpa Risma. Rasanya

[57]
sangat membosankan. Aku merasa ia meninggalkanku karena
teman barunya lebih menyenangkan dibandingkan aku. Yang
terus menghantui otakku hanyalah kalimat “Risma egois”.
Matahari mulai menampakkan wajahnya, silaunya
menyusuri setiap sela-sela jendela, aku terbangun karena
dering ponselku dan mulai membaca pesan yang tertera
disana.
“Nana aku minta maaf ya. Aku tau aku salah aku egois. Aku
terlalu sibuk dengan teman-teman baruku sampai aku lupa kau
juga butuh waktu waktu untuk bersama-sama denganku. Aku
yang salah. Maaf ya”
“Ya sudah, yang berlalu biarkan aja. Yang penting
sekarang kau sudah kembali menjadi ‘Karyln’ yang aku kenal”.
“Yeee, inilah dia. Kathreen yang selamanya tak akan
berubah”.

[58]
Biografi Penulis

“ Rindu yang tidak terukur akan dirimu akan terus berlanjut.


Apalagi jika tiba-tiba saja keberangkatanmu dipercepat.
Namun, kepulanganu diperlambat. Tidak mengenakan.”

Hei. Panggil saja Riska. Lengkapnya Riska Widasanti.


Kelahiranku bertepatan dengan Hari Pahlawan tahun 2001.
Menurutku, coffee adalah teman nongki terbaik, ditambah
dengan buah karya dari Fiersa Besari, Boy Candra, ataupun Dee
dengan iringan musik Jazz atau Indie sebagai pelengkapnya itu
perpadanan yang pas sekali. Untukmu, salam kenal dariku. Jika
rindu, cari saja aku di pencarian media sosialmu.

@rskawidsnt @riskawidasanti r.wds

[59]
Tidak mengerti
karena
apa. Yang ku tau,
dia lah si tuan itu.
Dari nona untuk tuan

[60]
Si Tuan Pemberi Nama
Hei, namaku Rikka Anastasya. Kamu pasti sudah tau
kalau aku adalah perempuan. Tanah kelahiranku di Bandung,
10 November 1995. Bertepatan dengan hari Pahlawan, bukan
? Tentu saja iya. Semoga saja setiap hari Pahlawan kamu
mengingatku, meski aku bukan siapa-siapa buatmu. Aku tinggal
di Jl. Dago atau nama lain dari Jl. Ir. H. Djuanda Blok A. Rumah
yang berwarna abu putih dengan hawa sejuk kota Bandung
menjadi tempat yang tenang dan nyaman tanpa riuh suasana
perkotaan. Hampir lupa, panggil saja aku Rikka, Ikka ataupun
Aya.
Aya adalah nama panggilan favoritku yang diberikan
oleh seseorang disaat matahari terbenam dengan cahaya
jingganya yang sangat indah di dekat pantai. Dengan alasan
kalau Aya itu diambil dari nama belakangku Anast[a]s[ya]. Tapi,
aku masih tidak yakin alasannya seperti itu. Hanya dia yang tau
mengapa dia beri nama aku Aya. Malam yang beradu padan
dengan rintikan hujan membuat suhu sejuk kota Bandung
semakin sejuk dari hari biasanya dengan rindu yang tidak
terukur akan dirinya. Rindu itu memicu diriku untuk bercerita
sedikit tentang nya. Beberapa momen aku dan dia akan ku
tuliskan disini, ini cuma caraku untuk sekedar mengingat
kembali tanpa mempersoalkannya nanti. Karena kamu tau
sendiri, tidak mudah untuk mengingat kembali momentum
dimana kita diperjuangkan atau malah hanya memperjuangkan
sesuatu sendirian. Awalnya mudah untuk mengulas kembali,
mulai dari hal yang paling membahagiakan lalu sampai
dipertengahan yang tidak mengenakan untuk di lihat kembali.
Ah sial, sepertinya komplikasi rasa akan terjadi saat
aku menceritakannya. Hujan sangat cerdik untuk mengutak-
ngatik perasaan seseorang. Semoga saja tidak terlalu

[61]
berdampak buruk dengan mood aku yang sekarang. Soalnya
aku ini bisa dibilang moodyan. Harap maklum, jika kamu
perempuan pasti bakal mengerti.
Dengan secangkir hot coffee latte dan lagu Indie dari
Fiersa Besari yang merupakan musisi dan penulis yang ku
gemari, di suatu tempat favorit di rumah ini beserta foto
polaroid aku dan dirinya yang terpajang di atas meja kerjaku,
membuatku semakin ingin mempercepat waktu dan menarik
jarak yang jauh itu. Ya sudahlah, aku akan mulai bercerita
untukmu tentang si tuan itu.

W
Komunitas Otaku Bandung adalah salah satu
komunitas yang ku ikuti beberapa minggu belakangan ini. Aku
mengenal dan bisa bergabung dengan komunitas ini dari kakak
tingkatku, namanya Arya Seijuro atau Kak Sei. Komunitas ini
selalu mempunyai jadwal rutin atau gath untuk berbagi cerita
tentang anim apa saja yang baru update. Sekilas saja, anim itu
adalah singkatan dari anime yaitu animasi yang memiliki ciri
khas tersendiri, mau itu tokoh, penggambaran fisiknya, dan
sebagainya yang berasal dari negeri Sakura. Dan, hari ini adalah
hari pertama aku gath bersama mereka yang beberapa orang
belum ku kenal sebelumnya. Gath pertama ku itu, hanya ku
sibukkan dengan menatap laptop sembari membuka website
tentang anim Jepang terbaru. Dan, seketika fokus ku terpecah
oleh seseorang yang memanggilku.

[62]
“ Hei Ka, sibuk mulu, gimana ikut tahun baru bareng
kami, ngga ? “
“ Oiya, sorry sorry. Boleh tu dimana acaranya ? “
jawabku dengan sedikit canggung karena beberapa dari
mereka memperhatikanku.
“ Dirumah Ouma, gimana ? Lumayan biar jadi akrab.
Persiapannya jangan dipikirin, kamu tinggal datang dan
meramaikan, asik kan ? “
“ Hhaaha okedeh kabar kabari saja “ jawabku.

Sudah tidak terasa, tahun pun berganti bersamaan


dengan hati yang tetap belum terisi. Seperti harapan orang-
orang pada umumnya, semoga tahun ini menjadi lebih baik lagi
daripada tahun yang lalu. Pencapaian yang belum tercapai,
harapan yang mungkin hanya harapan, serta rasa yang belum
tertata rapi karena kisah sebelumnya yang tak sesuai dengan
hati. Semoga saja hati ini menemukan tuannya segera.
Akhirnya, aku menerima tawaran dari Kak Sei. Tahun
baru kali ini bersama orang yang baru saja ku kenal, namun
tidak masalah untuk ku. Setidaknya, tahun baru ini lebih ramai
dan mengasyikkan dari pada sebelumnya. Dimana, aku yang
hanya duduk diam dan melihat rangkaian kembang api menari
di atas langit dengan badan tergoyang karena ayunan yang
posisinya berada dibelakang rumah, bagiku itu cukup. Namun,
berbeda untuk malam ini, kami berkumpul dirumah Kak Ouma
atau Ouma Putra, menonton bersama, membakar ayam,
memainkan kembang api dengan canda tawa lepas yang terukir
di bibir. Tanpa sengaja saat tertawa, mataku menangkap
seseorang dari komunitas ini yang memandangiku juga. Entah
siapa namanya, namun tidak tau mengapa aku dan dia sama-

[63]
sama membuang muka secara bersamaan, seolah tersipu malu
namun kenyataannya mungkin tidak begitu. Tetap saja, mata
dan cara dia tertawa tidak dapat pergi dari pikiranku. Enyahlah,
kata ku dengan sedikit bergumam.
Jam sudah menunjukkan pukul 01:00. Aku harus
segera pamit untuk pulang kerumah. Dengan nada bicara yang
kelihatannya seperti ragu untuk meminta izin, akhirnya aku
memberanikan diri.
“ Emm, Kak Sei, Kak Ouma dan lainnya, Rikka pulang
duluan ya. Soalnya sudah mulai larut “ tuturku.
“ Oiya Kaa, duluan aja ngga papa, lagian kamu juga
cewe. Mau dianterin pulang, ngga ? Biar aman, dijalan mungkin
hampir sepi, kamu ditemani sama Yuuta saja, ya “ jawab Ka Sei
“ Oeyy Yuuta, anterin si Rikka balik gih, lu tadi bilang
mau balik juga, kan ? teriak Kak Ouma memanggil seseorang.
“ Oke deh, sebentar gue siap-siap ” kata lelaki itu.
Lalu, dari balik pintu terdengar jejak kaki berjalan ke
halaman dengan tubuh yang tinggi, memakai baju lengan
panjang berwarna biru dan memakai kacamata dengan
menyandang tas miliknya. Seketika, aku tertegun, ternyata dia
orang yang memandangiku tadi dan namanya adalah Yuuta.

“ Udah siap ? Yuk balik.“ kata awal percakapannya


dengan ku.
“ Emm, sudah.“ jawabku terbata-bata.
“ Santai aja Kaa, namanya Yuuta Prajuna, panggil saja
dia Yuuta. Kalau dia macem-macem langsung hubungi gue ya.“
ujar Kak Sei.
“ Hahha iya Kak iya.“

[64]
Diperjalanan tidak banyak kata terucap. Mungkin,
karena peristiwa tadi, jadi sama-sama enggan untuk membuka
percakapan. Tibanya sampai dirumahku.

“ Emm, Kak terima kasih ya.“ ucapku padanya.


“ Iya sama-sama. Nama kamu Rikka, ya ? “
“ Iya, Kak. Rikka Anastasya.“
“ Nama yang manis. Yaudah, aku pulang dulu yaa “ kata
Kak Yuuta sembari memutar sepeda motornya. Dan aku, hanya
mengangguk mengiyakan.
“ Ngga mau bilang hati-hati ? “ tanya Kak Yuuta
“ Hhhehe iya iya, hati-hati ya Kak “ dengan sedikit
tertawa dan menyengir padanya
“ Hhaha, kamu lucu. Bisa diabetes aku nya. Aku duluan
ya, byee “
“ Byee, Kak.“
Senyuman manis milik Kak Yuuta mengakhiri tahun
baru kali ini, yang mulanya hanya keheningan berubah menjadi
situasi keakraban. Ternyata Kak Yuuta orang yang asik juga.
Ditambah lagi senyum nya yang bagus itu, kataku dalam hati.
Ah, kenapa jadi mikirin Kak Yuuta, karena sudah larut malam
dan udara bertambah dingin, pikiranku sudah kemana-mana.
Aku lalu masuk kerumah, dan bersiap untuk tidur.
Hari-hariku berikutnya, hanya diisi dengan menonton,
bermain, membalas chat-an grup komunitas Otaku, membalas
komentar status BBM teman-temanku, dan tidur tentunya.
Dulu, BBM lah yang dipakai sebagai alat komunikasi, sebelum
banyaknya media sosial lain yang bermunculan. Selama hari itu
pula, ingatan akan the best new year tidak kunjung lepas.
Apalagi, senyumnya Kak Yuuta itu. Dasar, aku hanya mengawur
saja.

[65]
Jadwalku hari ini hanya bermain game dikamar
seharian. Membosankan, bukan ? Yaa, begitulah. Tidak tau
mau berbuat apa lagi. Ku ambil handphone yang letaknya tidak
jauh dari posisiku, lalu aku membuat status di BBM tentang
game yang ku mainkan tadi.

Rikka Anastasya

Belum sempat satu menit, ada seseorang yang


mengomentarinya. Dan kamu tau dia siapa ? Yaa, dia adalah
Kak Yuuta.

“ Wahh keren, suka ngegame juga ternyata”


komentarnya
“ Iya Kak, Kak Yuuta juga ? “ Balasku
“ Tentuu saja. Panggil saja aku Jun, ga usah pake Kak.
Terlalu formal. “
“ Emmm.. oke deh Kak. Ehh.. maksudku.. “
“ Tuh kan pake Kak hhahaha. Aku suka di panggil Jun,
apalagi sama kamu “
“ Hehhehe. Kok kepengen dipanggil Jun , sih ? “
“ Kamu tau ngga hari ini tanggal berapa ? “
“ Tau kok, tanggal 19 Januari, kan ? Apa hubungannya
?“
“ Iya, Jun itu sebuah permintaan. Kalau kamu mau tau,
kamu harus ikuti permintaannya. Mau, ngga ? “

[66]
“ Ih, apa sih, bikin penasaran aja. Yaudah dehh, apa
emangnya ? “
“ Panggilan Jun itu maksudnya Junuari lusa kamu mau
pergi bareng aku, ngga ? “
“ Emm.. apa sih ngga nyambung bangett -_- “
“ Aku serius tauu, kan kamu tadi setuju mengikuti
permintaannya. Tepati dong. Hhehe.“
“ Yahh, aku dijebak. Iya deh, ini karena permintaan
yaa.. bukan yang lain “
“ Hhehee oke deh, lusa aku jemput kamu ya.“
“ Iyaa iya.“
“ Jaga dirimu ya, jangan lupa makan.“
“ Ih apasih, hhaha.“
“ Hehehhe.“

Aku hampir tidak menyangka, kalau lusa aku akan pergi


bareng Kak Yuuta. Eh, maksudku Jun. Hehhehe. Aku langsung
menghempaskan badanku ke kasur, lalu mengambil boneka
dan tersenyum sendiri. Entah apa yang kusenyumi, seketika
aku terdiam lalu tersenyum kembali. Apakah ini yang biasa
orang-orang bilang ? Apa aku mulai jatuh hati sama Jun ?
Jikalau benar, apa Jun juga merasakan hal yang sama ? Apa aku
akan percaya padanya, setelah lelaki yang dulu pernah
menempatkan dirinya dihatiku lalu, merusaknya. Apakah akan
semudah itu ? Pikiranku terus berpacu bersamaan dengan hati
yang sekarang sedang tidak menentu. Namun, lekat pekat akan
Jun, tetap bersemayan dipikiranku. Aku jadi tidak sabar
menunggu hari itu tiba.

W
[67]
Akhirnya hari ini tiba, 2 hari itu terasa lama bagiku, dan
hari ini dia akan menjemputku. Entah akan dibawa kemana
nantinya. Aku bingung ingin mengenakan pakaian apa. Dengan
segala kebingunganku, Jun belum mengabariku sejak hari ia
memintaku untuk pergi bersamanya. Ah, tidak masalah,
mungkin sedang sibuk, gumamku. Aku harus segera bersiap-
siap. Jadi, saat dia datang, aku dan dia langsung pergi bersama.
1 jam, 2 jam, 3 jam, hingga berjam-jam dia tak kunjung
datang. Dari tadi aku sudah menunggu di ruang tamu, berjaga-
jaga akan kedatangannya utnuk menjemputku. Aku sudah chat
dia, dan bertanya dia dimana, namun sampai sekarang tak
kunjung dibalas. Sejak tadi, aku selalu mengamati lini masa
media sosialku, mencari tau dimana keberadaanya, meski hati
kini sudah rancu, apakah ia hanya singgah kepadaku ? Seperti
lelaki pada umumnya, yang hanya diawal membuat kata manis
namun akhirnya, menepis rasa yang kini kian terkikis. Aku mulai
menyerah, dan salah beranggapan kalau dia memang berbeda
dengan lelaki pada umumnya. Memang benar, kita tidak boleh
terlalu banyak berharap. Dengan muka kesal, aku pergi menuju
kamarku,menguncinya, lalu duduk dibelakang pintu.
Pertanyaan mulai merasuki kepalaku, kini aku di permainkan
lagi. Sudah cukup untukku, hati ini bukan untuk di obrak-abrik
seenak kepala jidat mu saja. Aku berusaha menghapus semua
kisah sebentar ini sesegera mungkin, sebelum aku jatuh lebih
dalam lagi akan dirinya.
Karena, lelah fisik dan juga pikiran, tanpa tersadar aku
tertidur di balik pintu malam tadi. Saat aku terbangun, dengan
spontan tanganku meraih ponsel hanya untuk melihat, apakah
dia sudah membaca pesanku atau belum. Dan ternyata,
sebanyak 20 pesan dan 10 panggilan tak terjawab darinya
muncul di layar notifikasi. Ah, aku sudah tak peduli. Kubiarkan
saja notifikasi tersebut. Namun, beberapa menit kemudian,

[68]
rasa penasaran akan isi pesan darinya, membuat niat awalku
goyah.
Setelah ku baca, ternyata ia meminta maaf dengan
alasan, ada hal yang harus diselesaikan. Apaan coba, dasar
cowo banyak alasan. Pesan darinya hanya ku baca saja. Namun
sial, ternyata dia menyadari kalau aku sudah membaca
pesannya. Pesan darinya pun masuk. “ Kamu marah ? “ tanya
nya. Lagi, lagi pesannya hanya kubaca. Hhahaha, biarkan
sajalah, biar dia tau bagaimana rasa kesalku menunggunya
semalam, kata ku dalam hati. “ Kamu tidak mau memaafkanku
? Oke kalau gitu, aku akan kerumah mu besok. Tunggu saja “.
Ih apaan si, pake ancaman segala, ngga takut, datang aja kalau
berani, gumamku.
Hari menunjukkan pukul 23.30 dan mataku masih
enggan untuk beristirahat. Aku menjadi kepikiran dengan apa
yang Jun bilang. Apakah dia benar-benar akan datang ?
Sepertinya dia akan memberikan alasan lagi. Kalau benar,
bagaimana reaksiku ? Ah, kacau kacau kacau. Liat sajalah
besok, gumamku sembari menutup seluruh tubuh dengan
selimut dan tidur.

Pagi ini, di rumah ku entah kenapa berisik sekali,


tidurku jadi terganggu karena itu. Saat aku melihat jam, baru
jam 09.00 kok, biasanya tidak berisik seperti ini. Karena
penasaran akhirnya aku turun kebawah dan melihat apa yang
terjadi.

“ Apa sih ini,berisik sekali. Kan aku masih tidur. “ kataku


“ Eh, sudah bangun. Sini-sini temanmu dari tadi
nungguin. Karena kamu masih tidur dan kata nak Jun jangan

[69]
dibangunkan kamunya, jadi tidak mama bangunkan deh. Iya
kan, nak Jun ? “
“ Iya, bu. Ngga enak mau banguninnya. Nanti tidurnya
kurang, jadi kelelahan. Nanti aku nya yang khawatir bu.
Hehhehe. “
“ Ah bisa saja nak Jun ini. Yaudah, kamu mandi dulu.
Temenin Jun bicara. Dari tadi mama terus. Ayo mandi cepat.”

Kamu tahu ? Aku hanya diam membeku kayak patung


di tangga karena melihat Jun benar-benar datang. Dan
parahnya, aku belum mandi. Bagaimana wajahku saat dia
melihatku. Dengan cepat, aku buru-buru ke kamar mandi.
Setelah mandi, dan sebelum turun kebawah, aku
berpikir kenapa dia senekat ini ? Apa yang harus ku bicarakan
dengannya ? Aku kebingungan sendiri. Yaudah si, dari pada dia
lama-lama disini, lebih baik aku turun dan menyuruhnya
pulang.

“ Hei. Sudah mandi ? Mau berangkat sekarang ? “


Tanya Jun
“ Haa ? “
“ Aku udah minta izin sama Ibu kamu untuk ajak kamu
jalan-jalan hari ini. “
“ Aku males keluar. Aku ga mau. Lebih baik kamu
pulang. Dah dulu, bye “ dengan berjalan meninggalkan ruang
tamu yang bagiku itu sesak sekali. Bisa-bisanya setelah hilang
tanpa kabar, dengan enaknya dia mengajakku pergi lagi. Apa
dia tidak mengerti perasaanku ? Maaf, tidak semudah itu
ferguso. Eh, Jun. Ah, bodo lah.
“ Ehh, mau kemana ? Dari tadi nak Jun nungguin kamu,
ngga boleh gitu. Mama izinkan asal jangan pulang terlalu larut
malam, ya nak Jun ? “ cegat mama sebelum aku pergi.

[70]
“ Siap 45, hhehe. Yuk, pergi.” kata Jun dengan
memasang senyum andalannya itu.
“ Ih, yaudah. Ini karena mama bukan karena yang lain.“
“ Hati-hati dijalan. Jagain anak Ibu ya, Jun “
“ Iya, bu. Di jagain tentunya. Do’a kan lancar dan
diterima ya bu.“
“ Hahha iya-iya.“
“ Ih apasih.“ kataku dengan nada kesal. Cepat sekali
dia akrab dengan Ibu. Heran.

Jujur aku masih kesal denganya. Tapi, aku ingin melihat


dan berbicara denganya. Ya mau gimana lagi, kalau kamu
diposisiku mungkin juga akan begitu. Perempuan mana sih
yang mau diberi harapan palsu. Harapan yang hanya diberi
untuk menenangkan, membujuk, merayu yang diberikan oleh
laki-laki yang tidak mengerti kalau perempuan tidak semudah
itu untuk menerima dan mengiyakannya. Bawa saja harapan
palsu itu untuk yang lain. Aku ga butuh kataku dalam hati.

“ Kamu masih marah ? “ dia membuka percakapan


yang canggung ini.
“ Iya, kenapa ? “
“ Aku minta maaf.“
“ Ah, basi.“
“ Jangan cemberut, nanti aku sedih.“
“ Sedih aja sana.“
“ Jangan gitu. Aku mau bawa kamu ke tempat yang aku
suka. Kamu juga nanti bakal suka, apalagi sama aku perginya.
Maafin aku ya ? “
“ Terserah kamu.“
“ Yess, aku dimaafin. Kamu senyum dulu.“
“ Hmmmm “ senyum terpaksa
“ Ih, yang bener dong senyumnya.“

[71]
“ Hmm 😊 Udah kan, Jun ? “
“ Hehhehe, udah udah tambah manis “
“ Dasar “

Sudah hampir 3 jam diperjalanan, entah kemana dia


akan membawaku. Dan akhirnya kami tiba di salah satu pantai.
Setelah sampai, ia membawaku ketempat yang ternyata sudah
dia siapkan. Sedikit terkejut dan heran. Apa dia benar menyukai
ku ? Gugup dalam hati tak bisa dipungkiri. Namun, aku tetap
ingat, jangan terlalu berharap seperti dulu.

“ Ini apa, Jun ? “


“ Kamu duduk dulu, ya“
“ Oh ok-oke.“
“ Jadi, ini kejutan untuk mu. Dan juga permintaan
maafku karena tidak bisa menjemputmu kemarin. Aku benar-
benar minta maaf sama kamu.“
“ Aku kesal sama kamu, aku sudah nungguin kamu,
sudah siap dan semangat untuk pergi dengan mu, tapi kamu
hilang tanpa kabar entah kemana. Setidaknya, kamu kabari
aku. Aku juga khawatir. Aku takut, kalau aku dipermainkan lagi
sama seperti orang yang menghancurkan hatiku dulu. Hati ini
tidak terbuat dari baja Jun. Hati itu rapuh, hanya orang tertentu
yang dapat menjaganya agar tetap utuh. Meski kita baru kenal
awal bulan lalu, aku juga punya perasaan, Jun.“ Tanpa sadar,
gerimis air mata membasahi pipiku. Ah sial, aku terlalu
terbawa suasana. Tapi, tidak mengapa, setidaknya aku sudah
lega, dan tidak kepikiran lagi.
“ Aku minta maaf, sungguh. Aku tidak ingin lihat kamu
menangis. Kamu jangan nangis ya. Kamu harus tau, kalau
semalam aku tidak datang karena mengurus ini semua. Aku kira
bakal sempat menjemputmu. Dan semalam, tidak ada jaringan
disini, jadi aku tidak bisa menghubungimu. Ditambah lagi,

[72]
macet yang panjang saat aku pulang. Aku mengerti
perasaanmu, tapi aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku
sayang kamu, aku jatuh hati terlebih dulu saat pertama kali
melihatmu . Aku selalu memperhatikanmu. Dan tanpa diduga,
mata kita saling pandang kala itu, dan aku malu. Aku minta
maaf sama kamu, kamu jangan nangis lagi.“ jawabnya dengan
panjang lebar. Aku senang mendengarnya, ternyata tidak
hanya aku yang merasakannya, tetapi dia juga. Setidaknya rasa
ini berbalas. Akhirnya aku mengerti, aku terlalu cepat
mengambil kesimpulan tentang dirinya.
“ Iya iya, aku juga minta maaf sudah berpikir buruk
tentangmu. Aku hanya takut, apa rasa ini memang sama
dengan yang kamu rasakan. Aku tidak karuan, aku terbayang
dan bertanya. Apa kamu merasakan hal yang sama. Dan
ternyata, rasa ini berbalas. Terima kasih ya, Jun.“
“ Aku yang berterima kasih, telah dipertemukan
denganmu. Aku percaya, bahwa Tuhan mempertemukan kita
berdua pasti ada maksud dan tujuan yang bahkan kita sendiri
tidak mengetahuinya. Aku mau serius denganmu. Izinkan aku
menjaga kamu, hati, dan juga perasaanmu. Tidak perlu
menamai hubungan ini. Cukup aku dan kamu saja yang
mengerti. Bagaimana ? Aku tidak akan memaksa mu.“
“ Berjanjilah untuk selalu menjaganya. Karena, jika
kamu sekali saja sudah merusaknya. Aku tidak akan
mempercayaimu lagi.“
“ Iya, hanya untukmu.“
“ Terima kasih untuk kejutan hari ini. “
“ Iya, terima kasih kembali. Tapi, aku boleh memanggil
mu Aya ? “
“ Aya ? “
“ Iya Aya, kepanjangannya itu akhirnya aku dan kamu
bersama. Hehhe.“
“ Ihh, ga nyambungg.“

[73]
“ Hhhhaha, tak apa-apa, tidak nyambung juga. Yang
penting, yang memanggilmu Aya hanya satu. Dan kamu, tau
siapa itu ”
“ Iya aku tau. Hanya satu yaitu kamu. Kamu yang
berhasil menyakinkanku. Hhehehe. Tapi, Aya itu inspirasi dari
mana sih ? Jadi penasaran “
“ Hehhehe. Nama belakangmu. Anat[a]s[ya]. Aku
hanya mau, hanya aku yang memanggilmu seperti itu. “
“ Oo gitu, iya iya only you “
“ Yaa, just me and you. Thanks Aya “
“ Iya 😊 “

Aku senang sekali hari ini. Senang sekali. Hati yang


rapuh itu kini sudah memiliki tuan yang akan menjaganya.
Matahari yang kian tenggelam memancarkan jingga
kebanggaannya di langit, seolah menyapa kami berdua dan
mengucapkan selamat dengan diiringi irama deru ombak
pantai senja ini.
22 Januari 2016. Permulaan cerita aku dan Jun dimulai
serta belajar untuk sama-sama saling menjaga dan percaya.
Saling harap akan selalu bersama. Meski semuanya tidak akan
berjalan mulus tapi semoga saja aku dan dia dapat
melewatinya. Tanpa ragu dan tanpa curiga. Aku
menyayanginya dan dia juga.

W
Hari itu masih melekat di pikiran dan hatiku. Senang
sekali mengingatnya. Sudah berapa kali ya aku bilang senang
melulu. Tapi, itulah nyatanya. Hari demi hari berlalu, kami
sudah cukup jauh untuk mengenal satu sama lain. Dia berhasil
membuatku tersenyum tiap harinya. Dan dia, benar-benar
menjaga agar mood ku tidak turun dan selalu ceria. Jika ada

[74]
waktu luang, kami berusaha agar bisa bersama atau hanya
sekedar makan saja.
Selalu bertemu dan berbagi cerita dengannya.
Menghargai waktu dan memaksimalkannya untuk mengukir
kisah kami berdua. Hingga suatu ketika dia memberitahukanku
sesuatu, bahwa ia mendapatkan beasiswa di Universitas IT
terbaik di Lombok. Kamu tau, Lombok itu jauh, dan dia juga
mendapatkan beasiswa, jika nilainya jelek, beasiswa Jun akan
dicabut. Dan aku tidak mau itu terjadi. Hanya ucapat selamat
dan semangat serta pengertian yang bisa ku berikan.
Tiga hari lagi dia akan berangkat ke Lombok. Ah, tentu
aku akan merindukan Jun nanti. Hanya sebuah penantian yang
rela menunggu kapan ia pulang.
Handphone ku berdering, dan itu dari Jun.
“ Hei Ay, maaf. Ternyata hari ini aku berangkat ke
Lombok. Aku baru saja mendapat info dari sana bahwa ada
yang harus diurus segera. Dan, aku sudah membeli tiket. Aku
akan berangkat siang ini juga.”
“ Kamu beneran ? Kenapa dipercepat si. Yaudah aku
akan mengantarmu ke bandara ya, tunggu ”
“ Iyaa, hati-hati, Ay “

Kencang gas mobil yang kubawa, dengan memikirkan


bagaimana kedepannya. Kenapa harus secepat ini. Apa aku
sudah siap ditinggal Jun ? Menjalani hubungan jarak jauh, yang
kata orang itu sangat tidak mengenakan ? Setidaknya aku
melihat Jun sebelum keberangkatannya.

“ Akhirnya sampai, sebelum kamu berangkat “


“ Minum dulu, tenangkan dirimu “
“ Iya iya “

[75]
Baru saja duduk sebentar, panggilan keberangkatanya
sudah terdengar. Cepat sekali keluhku.

“ Aku pergi dulu ya, Ay. Kamu jaga diri, jaga


kesehatanmu. Jika ada sesuatu segera hubungi aku ya “
“ Yah, cepet amat. Kapan kamu pulang ? “
“ Belum juga pergi, Ay. Nanti akan aku kabari kamu.
Aku pergi dulu. Hati-hati dijalam saat pulang. Aku sayang kamu
Ay.“
“ Hmm.. iya. Aku juga. Kabari aku yaa.”
“ Iya, Aya. Jaga dirimu.”

Baru saja beberapa menit, aku sudah merindukannya.


Bagaimana jika sudah lama nanti ? Aku tidak boleh mengeluh,
sehari saja bisa, kenapa dua hari ngga, dua hari aja bisa kenapa
empat hari ngga dan seterusnya. Ya begitulah caraku agar aku
tidak terlalu memikirkan rindu ini.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun
terlewati. Aku dan dia sama-sama menjaga komunikasi.
Bercerita dikala senggang atau hanya sekedar menanyakan
kabar. Seperti janjinya dulu, menjaga.

W
Sudah jam 01.00, hujan malam ini pun sudah
berhenti. Secangkir coffee late ku juga sudah mulai habis.
Sampai sini saja ya ceritanya, itu baru bagian pertemuanku
dengannya. Masih banyak kisah tentangku denganya. Masalah-
maslaah yang kecil hingga besar saat menjalani hubungan jarak
jauh ini yang sempat membuat aku dan dia goyah seketika. Aku
dan dia sudah 3 tahun menjalani hubungan ini. Ditambah
hubungan jarak jauh yang masih ditempuh hingga sekarang.
Tiap hari aku menabung, menabung rindu yang tidak berbatas.

[76]
Kadang aku kesal dengan jarak dan waktu, yang tak pernah
berhenti mendorongku untuk terus merindu. Ingin aku berdiri
disebelahnya disaat senang ataupun sedih. Ya mau bagaimana
lagi. Dia sedang apa ya sekarang ? Terakhir kali, dia
mengabariku kalau sedang mengurus acara di fakultasnya.
Sebelum tidur aku mau memberinya pesan terlebih dahulu.

. Itulah singkat cerita tentang si tuan pemberi nama,


tuan yang kini menduduki posisi di hati. Nona yang beruntung
akan ini, selalu menunggu kepulangannya. Ya tentu, namanya
Jun, lengkapnya Yuuta Prajuna. Do’akan saja aku dan dia di

[77]
sela-sela do’amu. Meski aku tidak mengenalmu, aku berterima
kasih karena sudah mendengarkan ceritaku. Jika ada waktu
lagi, aku akan melanjutkannya. Bukan hanya dari diriku,
mungkin juga Jun akan bercerita denganmu dari sudut
pandangnya. Dengan judul kecil “ Dari Tuan Untuk Nona “
Semoga saja ya. Itu dulu dariku. Jaga dirimu.

[78]
wahai jarak, kurindu akan waktu
yang akan mempertemukanku
dengannya.
Seperti matahari terbenam tanpa kerlip jingga kebanggaannya.
langit yang kosong tanpa gunungan awannya. Sama halnya
dengan aku yang terus merindukannya.

“Aya“ dari tuan “Jun”

[79]
Kontributor

Amalia Kusumaningrum
Instagram : @amliaakn

Aprilia Suci Cahyani


Instagram : @apriliaasc

Ardhi Wahyudi
Instagram: @ardiwahyu_232

Fadwa Hakim
Instagram : @fadwakim_

Fernando Setiawan
Instagram : @fernando.s.s

M. Fadil Syahputra
Instagram : @fadilsyahputra07

Mareta Puri Nur Ayu Ningsih


Instagram : @ayuumareta

Novanda Indah Pratiwi


Instagram : @kuronacha

Putri Regina
Instagram : @_putrireginaa_

Riska Widasanti
Instagram : @rskawidsnt

[80]