Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum warohmatullahiwabarokatuh

Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan semesta alam dzat yang menciptakan langit dan
bumi beserta isinya tiada tuhan selain Dia. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada
Nabi Muhammad saw, para sahabat dan seluruh keluarganya.
Penulis dapat menyelesaikan tulisan sederhana ini karena berkat bimbingan dan pengarahan
guru – guru penulis serta semangat dari teman sekelas penulis, oleh karena itu penulis mengucapkan
banyak – banyak terima kasih kepada Ibu Hafsah wati selaku pembimbing dan guru sejarah
kebudayaan islam Madrasah Aliyah Miftahul Ulum Sumberwringin yang telah memberikan
pengarahan penulis dalam pembuatan tulisan ini. Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih
kepada teman kelas dua belas yang telah men-support penulis. Secara khusus penulis juga berterima
kasih kepada kedua orang tua serta pihak pihak yang selalu mendoakan dan memberikan restunya
kepada penulis.
Tulisan ini merupakan pokok pemikian penulis, tentunya tulisan ini masih banyak terdapat
kekurangan, penulis telah berusaha sebisa mungkin untuk menyajikan tulisan ini dengan segenap
pemikiran terbaiknya. Untuk itu, penulis berharap para pembaca dapat memberikan masukan, baik
langsung maupun tidak langsung untuk menyempurnakan tulisan ini, semoga tulisan ini dapat
bermanfaat bagi masyarakat luas, Amin Yarrobbal Alamin.

Wassalamu’alaikum warohmatullahiwabarokatuh

Lumajang, 13 November 2018

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang ...................................................................................... 1
I.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 1
I.3 Tujuan Penulis ..................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Wali Sanga ............................................................................. 2
2.2 Nama – Nama Wali Sanga .................................................................. 2
2.3 Peran Wali Sanga Terhadap Perkembangan Islam di Indonesia ......... 9
2.4 Meneladani Strategi Dakwah Yang di Lakukan oleh Wali sanga ....... 10
2.5 Ulama Penyebar Islam Pasca Wali Sanga ........................................... 10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................... 14
3.2 Kritik dan Saran ................................................................................. 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Wali sanga adalah intelektual yang menjadi pembaru masyarakat pada masanya
pengaruh mereka terasa beragam untuk men’infistasi peradaban baru masyarakat jawa.
Mulai dari kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan
hingga kepemerintahan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun Rumusan Masalah antara lain :
1. Apa sejarah wali sanga ..... ?
2. Apa saja nama – nama wali sanga ..... ?
3. Apa saja peran wali sanga terhadap perkembangan islam di Indonesia ..... ?
4. Bagaimana cara meneladani strategi dakwah yang di lakukan oleh wali sanga .... ?
5. Siapa saja ulama penyebar islam pasca wali sanga ..... ?

1.3 TUJUAN PENULIS


1. Memahami sejarah wali sanga
2. Memahami dan mengenal nama – nama wali sanga
3. Memahami peran wali sanga terhadap perkembangan islam di Indonesia
4. Memahami dan mengerti cara meneladani strategi dakwah yang di lakukan oleh wali
sanga
5. Memahami dan mengenal ulama penyebar islam pasca wali sanga

ii
BAB II
PEMBAHASAN

A. SEJARAH WALI SANGA


Islam dapat berkembang pesat di jawa atas dakwah pengaruh dari wali sanga. Proses
penyebaran agama islam di pulau jawa memiliki ciri khas. Wali sanga terdiri atas dua kata,
wali dan sanga, menunjukkan jumlah sembilan sehingga wali sanga diartikan sembilan
orang wali. Ada juga yang mengartikan sanga itu bukan angka sembilan dalam pengertian
jumlah, tetapi menunjukkan bahwa sanga adalah yang sakral atau suci.
Wali sanga merupakan ulama masa lalu yang sangat di hormati serta di muliakan
oleh masyarakat jawa. Bahkan wali sanga diberi gelar sunan atau susuhunan artinya yang di
junjung tinggi atau gelar yang tinggi dan mulia.
Ada beberapa pendapat mengenai arti wali sanga. Pertama wali yang sembilan, yang
menandakan jumlah wali yang ada sembilan atau sanga dalam bahasa jawa. Kedua, kata
songo / sanga berasal dari kata sana yang dalam bahasa arab berarti mulia. Ketiga kata sana
berasal dari bahasa jawa yang berarti tempat.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa wali sanga adalah sebuah majelis dakwah
yang pertama kali didirikan oleh sunan gresik ( Maulana Malik Ibrahim ) pada tahun 1404
masehi ( 808 hijriah ). Saat itu majelis dakwah wali sanga beranggotakan Maulana Malik
Ibrahim, Maulana Ishaq ( sunan wali lanang ), Maulana Ahmad Jumadil Kubro ( sunan
kubrawi ), Maulana Muhammad Al – Maqrabhi ( sunan magribhi ), Maulana Malik Israil (
dari campai ) Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Nasaruddin, Maulana Aliyuddi dan
syekh subakir.
Wali sanga adalah intelektual yang menjadi pembaru masyarakat pada masanya.
Pengaruh mereka terasa dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat
jawa. Mulai dari kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenia,
kemasyarakatan hingga pemerintahan.

B. NAMA – NAMA WALI SANGA


Berikut nama – nama wali sanga beserta lokasi tempat berdakwahnya.
1. Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim )
Maulana malik ibrahim merupakan keturunan ke – 22 dari nabi Muhammad saw.
Beliau adalah orang pertama yang menyebarkan agama islam di jawa. Beliau memiliki
saudara yang bernama Maulana Ishak. Ulama terkenal di samudra paasai, sekaligus ayah
dari sunan giri ( raden paku ). Sunan Gresik berasal dari persia, namun ada juga yang
mengatakan beliau berasal dari turki, arab dan Gujarat, tetapi pendapat yang lebih kuat
mengatakan beliau berasal dari maroko. Pada tahun 1329 M. Sunan Gresik berhijrah
kepulau jawa untuk melanjutkan memperluas dakwah islam. Daerah pertama yang di
singgahi adalah desa Sembalo ( sekarang di kenal dengan desa leran., kecamatan manyar, 9
ii
kilometer dari ucara kota Gresik ) daerah tersebut masih dalam kekuasaan kerajaan
majapahit.
Dalam proses dakwahnya kepada masyarakat beliau melakukannya dengan penuh
kehati – hatian,bijaksana, lemah lembut, tanpa memaksakan kehendak dan mengadakan
pendekatan personal pada masyarakat jawa. Beliau tidak menentang bahkan tidak melarang
kepercayaan atau tradisi tersebut agar sesuai dan tidak melenceng dari ajaran agama islam,
sehingga banyak dari penduduk jawa tertarik dengan dakwah beliau dan memeluk agama
islam.
Sunan Gresik wafat pada tanggal 12 Rabil awal 822 H atau 9 april 1419 dan di
makamkan di desa Gapura wetan, Gresik, Jawa Timur
2. Sunan Ampel ( Raden Rahmat )
Sunan Ampel merupakan putra dari syekh Zainuddin Al – Akbar dari ibu Dewi
Candrawulan. Menurut babad tanah jawi dan sinsilah sunan kudus, di masa kewaliaannya
beliau di kenal dengan raden rahmat. Beliau lahir di Nampa 1401 masehi. Nama Ampel
sendiri diidentikkan dengan nama tempat di mana beliau lama bermukim, di daerah Ampel
atau Ampel Denca. Wilayah yang kini menjadi bagian dari surabaya ( kota Wonokromo)
sekarang
Sebagai pendiri pesantren kenamaan beliau juga memiliki beberapa murid yang sudah
terkenal dalam islam jawa seperti Raden Paku ( Sunan Giri ) Raden Patah ( sunan demak
pertama ) Raden Makdum ( Sunan Bonang ) syarifuddin ( Sunan Drajat ) dab Maulana Ishak
yang pernah di utus untuk menyiarkan islam ke daerah Blambangan
Beberapa versi menyatakan bahwa sunan ampel masuk ke jawa pada tahun 1443 M
bersama sayyid ali di Murtadho sang adik tahun 1440 sebelum ke jawa mereka singgah dulu
di palembang. Setelah tiga tahun di palembang kemudian beliau melabuh kedaerah Gresik.
Dilanjutkan pergi ke Maja Pahit menemui bibinya, seorang putri dati Nampa bernama Awali
yang persunting salah seorang raja majapahit beragama hindu bergelar prabu sri kertawijaya.
Pada tahun 1450 Raden menikah dengan Nyi Ageng Manila. Putri tuban yang sudah
memeluk agama islam. Dari perkawinannya ini beliau dikaruniai beberapa putra dan putri
diantaranya menjadi penerusnya Sunan Bonang dan Sunan Drajat selanjutnya raden rahmat
menetap di daerah Ampel Denta pemberian dari Raja. Disana Raden Rahmat mendirikan
Masjid dan membuka pesantren. Sehingga ia dikenal dengan Sunan Ampel sesuai tugasnya
beliau adalah guru yang mengajarkan budi pekerti kepada para adipati pembesar keraton dan
masyarakat yang ingin belajar tentang keislaman. Pada pertengahan abad ke – 15. Pesantren
tersebut menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara.
Hasil didikan beliau yang terkenal adalah falsafah Moh Limo atau tidak mau
melakukan lima hal tercela ini :

a. Moh Mai atau tidak mau berjudi


b. Moh Ngombe atau tidak mau minum arah atau bermabuk – mabukan

ii
c. Moh Maling atau tidak mau mencuri
d. Moh Madai atau tidak mau menghisap candu, ganja dan lain – lan
e. Moh Madon atau tidak mau berzina dengan perempuan yang bukan istrinya
Keberhasilan Sunan Ampel yang lain ialah melahirkan tokoh lainnya seperti Sunan
Giri, Sunan Kalijaga, putranya sendiri yang bernama Sunan Drajat dan Sunan Bonang.
Keberhasilan yang lain Sunan Ampel menyadari perencana Kerajaan Demak. Dialah yang
melantik Raden Patah sebagai Sultan Demak yang pertama. Sunan Ampel wafat
diperkirakan wafat pada tahun 1478 M di Deman dimakamkan disebelah barat Masjid
Ampel Surabaya.

3. Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)


Dari berbagai sumber bahwa sunan bonang bernama asli syekh maulana makdum
ibrahim. Beliau lahir pada tahun 1450 M. Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel
devi nyi ageng manila atau dari candrawati.
Sunan bonang belajar agama dari pesantren ayahnya diampa denta. Setelah cukuo
dewasa ia berkelana kemudian menetap di bonang (sebuah desa cukup kecil di lasem, jawa
timur) di situlah sunan bonang mempunyai tempat kegiatan dakway yaitu didaerah bonang
dekat tuban. Disana ia mendirikan pesantren yang sekarang dikenal dengan sebutan walu
layat dari pondok pesantren ini ia mengajar dan mengembangkan agama islam. Dari
pesantrennya di bonang (Tuban) Agama Islam disebarkan ke daerah pesisir pantai mulai
rembang sampai Surabaya.
Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim berusaha memudahkan ajaran arlusunnah
tasawuf dan garis salat dan ia menguasai ilmu fikih. Usuluddin tasawuf seni, sastra dan
arsitektur ajarannya berujukan pada filsafat (Syg. ZZainie) menurut bonang untuk sama
dengan ajaran tersebut disampaik secara populer melalui media kesenian. Beliau sering
mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati masyarakat berupa seperangkat
gamelan yang disebut bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian
tengahnya. Bila benjolan ini dipukul dengan kayu lunak timbul suara yang merdu di telinga
penduduk setempat.
Lebih – lebih bila raden Makaum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik ini.
Beliau adalah seorang wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggih. Sehingga apabila
beliau menyembunyikannya pengaruhnya sangat hebat bagi pendengarnya.
Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan bonang pasti banyak penduduk yang
datang ingin mendengarnya. Tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan
bonang sekaligus melagukan tembang ciptaan Raden Madum Ibrahim. Demikian siasat
Raden Madum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran setelah berhasil menarik sipati
masyarakat selanjutnya diselipkan dakwa ajaran islam.

ii
Tembang – tembang yang diajarkan Raden Madum Ibrahim tembang yang berisikan
ajaran agama islam. Sehingga tanpa disadari penduduk sudah mempelajari agama islam
dengan senang hati, bukan dengan paksaan.
Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut soluk. Hingga sekarang karya
sastra sunan bonang ini dianggap sebagai karya sastra yang sangat hebat. Penuh keindahan
dan makna kehidupan beragama. Suluk Bonang bonang disimpan rapi di perpustakaan
Universitas Leiden, Belanda.
Sunan Bonang sering berdakwah keliling daerah hingga Usia lanjut. Beliau meninggal
dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M.
Makam yang dianggap asli ada di kota Tuban sehingga sampai sekarang makam ini sering
diziarahi orang dari segala penjuru tanah air.

4. Sunan Drajat (Raden Qosim)


Nama asli sunan drajat adalah Raden Wasim. Beliau putra sunan Ampel dengan
putri Candrawati dan merupakan adik dari Raden Makam Ibrahim atau Sunan Bonang,
Diperkirakan sunan drajat yang digelari Raden Syarifudin ini lahir pada tahun 1470 M.
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir gresik
Banjarwaru atau Lamongan sekarang.
Namun setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan
mendirikan padepokan sendiri dalam Suwur. Yang kini bernama drajat paciran, lamongan
Dalam pengajaran tauhid dan akidah sunan drajat mengambil cara ayahnya yaitu
langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian cara
penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan sunan bonang. Terutama
seni suluk. Maka ia mengubah sejumlah suluk diantaranya suluk petuah.
a. Menehono laken marang wong tuo (berilah tongkat kepada orang tua)
b. Menehono mangan marang wong kan luwe (Berilah makan kepada orang yang
kelaparan)
c. Menehono busono marang wong kang mudo (Berilah pakaian kepada orang yang
telanjang)
d. Menehono ngiyup marang wong kang kudanan (Berilah tempat berteduh kepada
orang yang kehujanan)

Adapun maksudnya sebagai berikut : Berilah petunjuk kepada orang bodoh (buta),
sejahterakanlah kehidupan rakyat yang miskin (kerang makan) ajarkanlah budi pekerti
(etika) kepada yang tidak tahu malu atau belum punya adab tinggi. Berilah perlindungan
kepada orang yang menderita atau menimpa bencana. Ajaran ini sangat simple siapapun
dapat mengemalkannya sesuai dengan tingkat dan kemampuan masing – masing. Bahkan
pemeluk agama lain pun tidak keberatan untuk mengamalkan.

ii
Sunan Drajat dikenal dengan kegiatan sosialnya. Beliau dikenal sebagai seorang
bersahaja yang suka menolong sesama. Beliaulah wali yang menelopori penyantunan anak
yatim. Fakir miskin dan orang sakit. Sunan Drajat wafat pada pertengahan abad ke -15
sekitar tahun 1522 M dan dimakamkan di Sedayu Gresik (Jawa Timur)

5. Sunan Kudus (Ja’fat Sadiq)


Sunan Kudus atau Sayyid Ja’far Sadiq merupakan putra dari Sunan Ngudung atau
Raden Usman Haji dari Jipang Panolan. Didalam Babad tanah jawi. Disebutkan bahwa
Sunan Ngedung pernah memimpin pasukan Demak Bintoro yang berperang melawan
pasukan majapahit. Sunan Ngudung selaku Senopati Demak berhadapan dengan Raden
Husain atau Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran yang sengit dan saling
mengeluarkan aji kesaktian itu. Sunan Ngedung gagal sebagai pahlawan syahid.
Kedudukannya sebagai senopati demak kemudian digantikan oleh Sunan Kudus putranya
Sendiri.
Sunan Kudus bnyak berguru kepada Sunan Kalijaga kemudian beliau berkerana ke
berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo, Hingga gunung kidul. Cara
berdakwah pun meniru pembekalan Sunan Kalijaga. Yakni sangat toleran pada budaya
setempat. Cara penyampaiannya bahwa lebih halus. Ini sebabnya para wali kesulitan
mencari pendakwah ke kudus yang mayoritas Masyarakatnya pemeluk teguh agama hindu,
budha menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati amsyarakat kudus adalah dengan memanfaatkan
simbol – simbol hindu dan budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid kades. Bentuk
menara gerbang dan panauran / pedesaan wudu’ yang melambangkan delapan jalan budha.
Sebuah wujud kompromi yang dilakukan sunan kudus.
Suatu hari beliau memancing masyarakat untuk pergi ke Masjid mendengarkan
tablignya. Untuk itu beliau sengaja mendapatkan sapinya yang diberi nama kebo gumarang
di halaman majid. Orang – orang hindu yang mengagungkan sapi menjadi simpati. Apalagi
setelah mereka mendengarkan penjelasan sunan kudus tentang surat al-baqarah yang berarti
“sapi betina” sampai sekarang sebagai masyarakat kudus masih menolak untuk
menyembelih sapi.
Sunan Kudus termasuk gagasan pendukung Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang
yang menerapkan stratefi dakwah kepada masyarakat sebagai berikut :
a. Membiarkan adat istiadat dan kebiasaan lama yang sukar diubah, mereka sepakat untuk
tidak menggunakan jalan kekerasan atau radikal menghadapi masyarakat demikian.
b. Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran islam tetapi mudah diubah segera
dihilangkan
c. Tut Wuri Handayani artinya mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat istiadat
rakyat tetap diusahakan unik dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit dan menerapkan

ii
prinsip Tut Wuri artinya mengikutid dari belakang sambil mengisinya dengan ajaran
agama islam
d. Menghindarkan konfrontasi secara langsung atau secara keras didalam cara menyiarkan
agama islam. Dengan prinsip mengambil ikan tetapi tidak mengeruhkan airnya.
e. Pada akhirnya boleh saja mengubah adat dan kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai
dengan ajaran agama islam. Tetapi dengan prinsip tidak menghalau masyarakat dari
umat islam. Kalangan umat islam yang sudah tebal imannya berusaha untuk menarik
simpai masyarakat non muslim agar mau mendekat dan tertarik dengan konsekuen
tingkah laku dan gerak gerik mereka lakukan kecuali dengan konsekuen sebab dengan
melaksanakan ajaran agama islam secara lengkap. Tingkah laku dan gerak gerik mereka
sudah merupakan dakwah nyata yang dapat menukar masyarakat non muslim
Sunan Kudus adalah seorang yang ahli dalam bidang tauhid, hadist, fikih dan
lainnya. Ia juga dikenal sebagai pujangga yang mengarang cerita pendek berfalsafaj dan
bernapaskan keahamaan. Semasa hidupnya ia mengajarkan islam disekitar pesisir daerah
jawa tengah tepatnya di daerah jawa tengah tepatnya di daerah kudus. Selain sebagai
seorang wali Sunan Kudus menjabat sebagai senopati demak peninggalan yang lismasyhur
adalah Masjid Kudus dengan menaranya berbentuk Candi dan sering disebut Masjid
Menara Kudus. Pada Mihrab Masjid ini tercantum Masjid peresmian yakni 956 Hijriyah
(1549 M) Dalam bidang Kesenian ia dikenal sebagai pemimpin Bendung Asmarandana
pada tahun 1550. Sunan Kudus wafat dan dimakamkan di daerah Kudus Jawa Tengah.

6. Sunan Giri (Raden Paku / Ainul Yaqin)


Sunan Giri atau Raden Paku adalah putra dari Maulana Ishak dari Blambangan
yang juga sahabat Sunan Ampel. Raden Paku bersahabat dengan Makdum Ibrahim dan
keduanya oleh Sunan Ampel disuruh pergi haji kemekah sambil menuntut ilmu keduanya
juga pernah menimba ilmu di pasai (Aceh). Dengan bantuan masyarakat Gresik. Sunan Giri
mendirikan pesantren di daerah giri. Atas ketekunan dan kesungguhannya pesantran ini
bukan hanya sebagai tempat pendidikan dalam artian sempit tetapi juga sebagai pusat
pengembangan masyarakat. Dalam waktu tiga tahun, pesantren giri sudah terkenal
keseluruh nusantara sehingga banyak muridnya datang dari Madura, Kalimantan, Makassar,
Lombok dan seluruh Jawa.
Raja Majapagit sendiri memberi kekuasaan kepadanya untuk mengatur
pemerintahan karena khawatir ia melakukan pemberontakan kemudian pesantren itu
berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan majapahit. Sunan Giri diangkat menjadi
penasihat dan panglima Militer Kesultanan Demak. Banyak mubalig dari pesantren Giri
yang dikirim ke Nusa Tenggara. Sulawesi dan Maluku. Sunan Giri dikenal karena fakih. Ia
juga pencipta karya seni yang luar biasa. Gending pucung yang bernuansa jawa namun
dengan syarat makna islami.

ii
7. Sunan Kalijaga (Raden Said / Raden Syahid)
Sunan Kalijaga mempunyai nama asli Raden Said atau Raden Syahid. Putra dari
Adipati Tuban, Tumanggung Wilakila, Tumenggung Wilakila seringkali disebut raden
sahur. Meskipun dia termasuk keturunan Ranggawale yang beragama hindu. Tetapi raden
Sahur beragama islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. Beliau juga berguru kepada
Sunan Bonang.

Dalam berdakwah beliau mempunyai pola yang sama dengan gurunya Sunan
Bonang, paham keagamaannya cendering subili berbaris solat bukan susif penistusl
(perayaan semain). Beliau juga memilih kesenian pada budaya lokal. Beliau berpendapat
bahwa masyarakat menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara
bertahap. Mengikuti sambil mempengaruhi sunan kalijaga berkeyakinan jika islam sudah
dipahami dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran sunan kalijaga terkesan sintrelis dalam mengenalkan islam. Beliau
menggunakan seninukir, wayang, gamelan serta seni selara suluk sebagai sarana dakwah.
Beliaulah pencipta baju taqwa perayaan sekatenan, grebeg maulud, wayang kalimasada dan
lakon wayang petalik jadi raja. Landscape pusat kota berupa kraton. Alun – alun dengan
dua beringin, serta masjid sebagai karya sunan kalijaga
Metode dakwah tersebut sangat efektif sebagai besar adipati di jawa memeluk islam
melalui sunan kalijaga. Diantaranya ada adipati padanaran, kartasura, kebumen, banyumas.
Serta pajang (sekarang kotagee) yokya (yogyakarta) pada pertengahan abad ke 15 sunan
kali jaga wafat di makamkan di kadilangu selaian demak.

8. Raden Muria (Raden Umar Said)


Salah seorang wali sanga yang benyak berjasa dalam menyiarkan agama islam di
pulau jawa selanjutnya adalah Sunan Muria. Beliau lebih terkenal dengan Muria karena
pusat kegiatan dakwah dan makamnya terletak di Gunung Muria (± 18 km disebelah kota
kudus sekarang)
Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden
Umar Said. Dalam berdakwah beliau seperti ayahnya menggunakan cara halus, ibarat
mengambil ikan tidak keruh airnya. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih
suka tinggal di daerah yang terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama
islam serta bergaul dengan rakyat jelata. Sambil mengajarkan ketrampilan – ketrampilan
bercocok tanam, berdagang dan melalui..
Sunan Muria seringkali dijadikan sebagai penengah dalam konflik internal di
kesultanan demak (1518 - 1530) ia dikenal sebagai pribadi ini. Solusi pemecahannya pun
selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berselera. Sunan Muria berdakwah dari Jepara,
Layu, Juwana, hingga sekitar kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah

ii
lagu sinom dan kinanti. Beliau wafat pada tahun 1560 M dan dimakamkan diatas gunung
Muria (Desa Colo, Dawe Kudus)

9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah / Fatahillah)


Satu – satunya wali sanga yang berjasa menyebarkan agama islam di jawa barat
adalah sunan gunung jati. Nama aslinya adalah syarif Hidayatullah. Beliau pendiri di nasti
raja – raja cirebon juga pendiri kesultanan cirebon dan banten. Sunan gunung jati adalah
raja pejajaran, dari sang ibu yang bernama syarifah muda’in atau nyai Rara Sancag
merupakan putri dari prabu siliwangi
Dalam usia masih muda syarif hidayatullah ditinggal oleh ayahnya. Ia ditunjuk
untuk menggantikan kedudukannya sebagai raja mesir. Namun pemudah yang masih
berusia dua puluh tahun ini tidak mau. Dia dan ibunya bermaksud pulang ke tanah jawa
berdakwah di jawa barat. Kedudukan ayahnya kini kemudian diberikan kepada adiknya
yaitu Syarif Nuruuah
Semakin berada di negeri mesir Syarif Hidayatullah berguru kepada beberapa
ulama besar di daratan timur tengah. Dalam usia muda itu umumnya sudah sangat banyak.
Ketika pulang ke tanah leluhurnya di jawa. Dia tidak merasa kesulitan melakukan dakwah.
Setelah selesai menuntut ilmu pada tahun 1470 di berangkat ke tanah jawa
mengamalkan ilmunya. Disana syarifah Muda’in mina agar diizinkan tinggal di pasumbang
gunung jati dan di sana mereka membangun pesantren untuk meneruskan usaha Syekh
Datuk Laif guru pangeran cakrabun oleh karena itu syarif hidayatullah dipanggil sunan
gung jadi. Lalu dia dinikahkan dengan putri cakrabuana Nyi Pakungkemudian diangkat
menjadi pangeran Cakrabuana pada tahun 1479.dengan diangkatnya sebagai pangeran
dakwah islam dilakukannya melalui diplomasi dengan kerajaan lain.
Keberadaan syarif hidayatullah berikut kesultanananya membukakan ada tiha
kekuasaan islam yang hidup bersamaan kala ini. Demak, giri, islam sekaligus kontrol
politik para wali.
C. Peran Wali Sanga terhadap perkembangan islam di Indonesia
Peran walisanga terhadap perkembangan islam di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Mencetak para dai dan ulama’ yang berkualitas. Merekalah yang membawa dan
menyebar luaskan agama islam di daerah masing – masing setelah pulang dari
pesantrennya
2. Mengupas makna dan semangat jihad bangsa Indonesia yang terpuruk karena penjajahan
dari negara lain
3. Membangun pondasi yang kuat bagi terbentuknya kerajaan – kerajaan islam di indonesia
4. Agen perubahan dari zaman kegelapan yang penuh dengan kesyirikan menuju cahaya
dengan ajaran tauhid

ii
D. Meneladani Strategi Dakwah yang dilakukan oleh Wali Sanga
Strategi dakwah yang dilakukan oleh wali sanga sebagai berikut :
1. Berdakwah dengan ikhlas semata mencari ridha Allah
2. Menimba ilmu agama dan menyampaikannya walau hanya satu ayat
3. Tidak kenal putus asa dalam mengajak kebaikan
4. Menyampaikan kebenaran dengan semangat yang tinggi
5. Berani berkorban jiwa raga untuk menyampaikan kebenaran
6. Mengembalikan segala persoalan kepada Al – Qur’an dan sunnah
7. Mencegah kemungkaran
8. Berlomba – lomba dalam kebaikan
9. Membelanjakan harta demi kejayaan islam
10. Meneruskan dakwah ulama Nusantara
E. ULAMA PENYEBAR ISLAM PASCA WALI SANGA
1. Syekh Hamzah Fansyuri
Syekh Hamzah Fansyuri adalah salah satu ulama yang hidup pada
pemerintahan Sultan Iskandar Muda yaitu sekitar tahun 1590 M. Dalam
pendidikannya, beliau tidak hanya belajar di daerah asalnya saja. Fansyur – Aceh
namun beliau juga belajar di India, Pesia, Mekah dan Madinah. Dalam
pengembaraannya beliau sempat mempelajari ilmu fikih, tauhid, tasawuf dan sastra
arab
Pengaruh Syekh Hamzah Fansyuri cepat menyebar ke seluruh nusantara
melalui pengajaran – pengajarannya yang beliau berikan selama di perantauan ke
berbagai tempat dan melalui karya – karyanya yang tersebar diseluruh asia-tenggara.
Ia merupakan penulis kitab keilmuan yang kaya bahasa melayu. Ia telah berhasil
mengangkat bahasa melayu mejadi bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang
hebat. Oleh karena itu, pada abad ke 17 bahasa melayu menjadi bahasa pengantar
pada berbagai lembaga pendidikan islam

2. Syekh Muhammad Arsyad Al – Banjari


Syekh Muhammad Arsyad Al – Banjari merupakan ulama’ yang lahir di
lok Gabang pada tanggal 17 maret 1710 m. Dan usia 102 tahun beliau adalah ulama
fikih madzhab syafi’i yang berasal dari kota Martapura di tanah Banjar. (Kesultanan
Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau merupakan pengarang kitab SABILAL
MUHTADIN yang banyak menjadi rujukan bagi pemeluk agama islam di asia
tenggara. Karena keluasan ilmu yang dimiliknya, terutama ilmu qiraat beliau
terkenal di mekah, uniknya setiap juz kita tersebut dilengkapi dengan kaligrafi khas
Banjar.

ii
3. Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al – Banjari
Syekh Muhammad Nawawil lahir di Kampung Tanata Kecamatan
Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 H atau 1813 M. Nama
lengkapnya adalah Syekh Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabiy. Ayahnta
bernama KH.UMAR bin Arabiy merupakan seorang ulama dan penghulu di Tanara,
sedangkan ibunya Nyai ZUBAIDAH adalah penduduk asli Tanara
Beliau merupakan pengaruh sangat besar di pusat studi keislaman yang
saat itu berada di Mekah. Sebagai guru besar dalam berbagai ilmu cabang ilmu
pengetahuan islam seperti tafsir, fikih, tauhid, lugah (bahasa) maupun adab Syekh
Muhammad Nawawi memiliki kapasitas keilmuan yang tidak bisa dipandang remeh
oleh ulama pada masanya di seluruh dunia.. paling tidak melalui santri – santrinya
kitab yang pernah beliau tulis sebagai berikut :

1) Tanqibul Gaul (Syarh Kitab Lubalabul hadis karya imam Jalaluddin as-
suyuthi)
2) Nur Ad-dzalam (syarh mandzumah aqidatul awam
3) Nikahayat az-zain (syarh qurrat al’ain bi muhimmat ad-din karya
Syekh Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari

Syekh Nawawi Al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun pada tanggal 25


syawal 1314 H (1897 M) di kediamannya di syi’ib Ali, mekah, jenazah beliau
dikebumikan di Pemakaman Mala Mekah.

4. Syekh Kholil (Bangkalan)


Syekh Holil (dikenal dengan mbah kholil) lahir pada hari Selasa, tanggal
11 jumadil akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M. Beliau berasal dari keluarga ulama.
Ayahnya KH . ABDUL LATIF mempunyai pertalian darah dengan Sunan Guunung
Jati.
Mbah Kholil dikenal sebagai Ulama fikih dan tarekat. Beliau mendirikan
pesantren di daerah kademangan, sekitar 200 meter sebelah barat alun – alun
kabupaten Bangkalan dan sekitar 1 km dari kampung kelahirannya. Bukan saja dari
daerah sekitar. Tetapi juga dari tanah seberang pulau jawa. Santri pertamanya yang
datang dari jawa tercatat bernama hasyim asy’ari dari jombang. Mbah kholil wafat
pada tanggal 29 ramadhan 1343 H atau 1925 M.

5. KH. Sholeh Drajat


Muhammad Shalih bin Umar yang juga dikenal dengan sebutan KH.
Sholeh Drajat baru laku pada tanhun 1820 M. Meruapakan seorag ulama besar pada
zamannya. Kyai sholeh Drajat lahir di Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong,

ii
Jepara Jawa Tengah sekitar tahun 1820 M lahir di Bangsri Jepara. Beliau wafat di
Semarang pada 28 Ramadhan 1324 H / 18 Desember 193 M. Dalam usia 83 tahun
dan dikebumikan di pemakaman umum bergota
Adapun karya – karya kyai Sholeh Drajat yang sebagian merupakan
terjemahan sebagai berikut :
a) Majmu’at Syari’at al-kafiyat lil awam. Kitab ini khusus membahas tentang
persoalan fikih yang ditulis dengan bahasa jawa dengan menggunakan huruf
arab pegon
b) Munjiyat Metik sangking Ihya’ Ulumuddin Al – Ghazali sebuah kitab yang
merupakan terjemahan dari kitab ihya’ ulumuddin juz 3 dan 4
c) Al hikam karya Ahmad bin Athoillah merupakan kitab dengan terjemahan
bahasa jawa

6. KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdatul Ulama / NU)


KH. Hasyim Asy’ari lahir pada Selasa Kliwon, 14 Februari 1871 M / 24
Dzulko’dah 1287 H di Gedang. Sebuah dusun kecil yang terletak disebelah utara di
Kota Jombang, Jawa Timur.
Usaha yang dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk penyebaran agama
islam di jawa adalah sebagai berikut :
a) Membangun pondok pesantren tebuireng. Yang masih sampai saat ini
diminati oleh banyak santri, baik dari dalam negeri maupun luar negeri
b) Membentuk suatu organisasi keagamaan yang sangat berpengaruh dalam
perkembangan agama islam di Indonesia. Yaitu Nahdatul Ulama (NU) yang
dibentuk pada tahun 1926 M bersama ulama lainnya dan diresmi didirikan
pada tanggal 16 rajab 1344 H / 31 Januari 1926 M.
c) Menulis kitab – kitab yang mengajarkan tentang berbgai ilmu pengetahuan
islam salah satunya ialah kita adab Al ‘alim wa al-muta’allim (kitab tentang
etika yang harus dimiliki seorang guru dan murid)
KH. Hasyim Asy’ari meninggal pada pukul 0.03 dini hari selama hidup
beliau dipanggil santri – santrinya dengan sebutan Hadratus Syekh (Tuan
Guru Besar)

7. KH. AHMAD DAHLAN (Pendiri Muhammadiyah)


KH. AHMAD AHLAN lahir di Yogyakarta tanggal 1 agustus 1868 nama
kecil beliau adalah Muhammad Darwis. Pada usia 15 tahun beliau pergi haji dan
tinggal di mekkah selama 5 tahun disana beliau berinteraksi dengan para pembaru
islam seperti Muhammad Abduh Al – Afhgani, Rasyid Rida dan Ibnu Taimiyah
selain itu KH. AHMAD DAHLAN pernah bergur kepada Kyai Shaleh Darat, Satu
guru dengan KH. Hasyim Asy’ari

ii
Pada tahun 1909 KH. Ahmad Dahlan masuk organisasi Boedi Utomo
disana beliau memberikan pelajaran – pelajaran agama untuk memenuhi keperluan
anggota. Pelajaran yang diberikannya sangat berguna bagi anggota Boedi Utomo
sehingga mereka menyarankan beliau untuk mendirikan sekolah sendiri
Saran tersebut kemudian ditindaklanjuti kyai dahlan dengan mendirikan
organisasi muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 M atau tanggal 8
Dzulhijjah 1330 H. Organisasi ini bergerak di bidang kemasyarakatan dan
pendidikan. Pada usia 66 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923 M. KH.
Ahmad Dahlan wafat di pada tanggal 23 Februari 1923 M. KH. Ahmad Dahlan
wafat di Yogyakarta, beliau dimakamkan dikarang kunce, Yogyakarta

ii
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sejarah kebudayaan islam merupakan suatu sejarah perjuangan ulama – ulama
besar terdahulu yang menyebarluaskan agama islam seperti wali sanga dan ulama’ lainnya.
Oleh karena itu kita seharusnya perjuangannya dan menjalankan perintahnya karena tanpa
islam agaa kita tidak sempurna

3.2 Kritik dan Saran


Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun dan
memotivasi penulis dari para pembaca untuk kesempurnaan makalah sederhana ini, karena
penulis menyadari sebagai siswa tentunya makalah ini dari kesempurnaan.

ii