Anda di halaman 1dari 11

Makalah

Manusia dan Kearifan Lokal Suku Baduy

Kelompok 7 :

Anggita aprilia

Muhammad yusuf

Tasya febriani

Randy rusnandi

Mutiara Ratna lestari

Sahari isdianto

Widahri apandi

Ira diana

Baduy, adalah nama dari sebuah suku yang berada di provinsi banten, baduy adalah salah satu suku yang
masih menjaga erat nilai dan norma serta tradisi atau adat istiadat masyarakatnya. Suku baduy termasuk
salah satu suku yang terisolir yang ada di Indonesia, masyarakat baduy sengaja mengasingkan diri,
mereka hidup mandiri dengan tidak mengharapkan bantuan dari orang luar, mereka mengasingkan diri
dan menutup diri dengan tujuan menghindar dari pengaruh budaya luar yang akan masuk.

Suku baduy sangat menjaga kelestarian alam yang mereka huni, mereka selalu menjaga dan merawat
alam supaya dapat terus dikelola dengan baik, sehingga dapat memberikan hasil panen yang cukup dan
melimpah untuk menghidupi kebutuhan hidup mereka, mereka tidak ingin merusak kelestarian alam
yang ada.
Ditengah-tengah gempuran modernitas dan globalisasi saat ini, suku baduy berusaha untuk menjaga
nilai-nilai budaya dasar yang dimiliki dan diyakininya. Kearifan lokal yang diterapkan dimasyarakat baduy
memberikan banyak pelajaran berharga untuk masyarakat kita yang sudah banyak sekali termakan oleh
modernitas, oleh karena itu banyak sekali baik individu atau kelompok yang datang dan berkunjung ke
suku baduy baik untuk melihat keindahan alam, maupun belajar akan nilai-nilai kearifan lokal yang ada
dimasyarakat suku baduy. Hebatnya lagi adalah kemampuan suku baduy untuk bisa mempertahankan
kebudayaanya dari kebudayaan-kebudayaan luar yang masuk melalui para pengunjung yang datang.

Kata kunci: Suku Baduy, Kearifan Lokal, Modernitas.

1. Latar Belakang

Suku baduy, terletak di desa Kanekes terletak di gunung Kendeng yang sebagian wilayahnya adalah
hutan. Wilayah ini termasuk kedalam Propinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Lebak Kecamatan
Leuidamar. Kelompok masyarakat Adat Sunda tersebut terdiri dari Suku Baduy Luar dan Suku Baduy
Dalam, keduanya sama-sama tinggal di desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Provinsi Banten. Suku
Baduy sudah sekian lama mendiami desa tersebut.

Sebutan kata Baduy untuk masyarakat desa Kanekes sebenarnya bukan dari mereka sendiri tetapi
masyarakat luar yang menyebutnya sehingga lama kelamaan menjadi sebutan bagi mereka, orang
Belanda menyebut mereka dengan sebutan Badoe’i, Badoej, Badoewi, Urang Kanekes, dan
Rawayan, (Garna 1992; 2)

Kondisi alam suku baduy terdiri dari bukit-bukit yang tersusun berjajar, sehingga untuk berjalan dari satu
desa ke desa lainya membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak, apalagi jarakantara desa satu
dan desa yang lain jaraknya cukup jauh. Masyarakat suku Baduy sangat mematuhi aturan adat mereka,
mereka dilarang menggunakan kendaraan dan menggunakan listrik, serta berbagai aturan-aturan adat
lainya, oleh karena itu, masyarakat baduy sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal
masyarakatnya.
Kearifan lokal masyarakat baduy menjadi sangat menarik untuk dibahas mengingat masih adanya
eksistensi sebuah suku pedalaman di tengah gempuran arus modernisasi dan globalisasi, bagaimana
upaya yang mereka lakukan untuk menjaga agar nilai-nilai kearifan lokal tersebut dapat dipertahankan
dan terus dilestarikan, Tentunya akan ada banyak hambatan dalam melaksanakan nilai-nilai kearifan lokal
tersebut, kearifan lokal masyarakat Baduy menjadi sebuah kajian yang akan kami bahas lebih jauh,
mengingat pentingnya menerapkan nilai-nilai kearifan lokal yang saat ini sudah banyak dilupakan oleh
banyak orang. Melalui suku Baduy ini diharapkan kita dapat mengetahui nilai-nilai kearifan lokal
masyarakatnya yang nantinya dapat kita jadikan contoh yang baik untuk keberlangsungan hidup
bermasyarakat.

2. Analisis

a. Kearifan Lokal Suku Baduy Dalam

Sistem perekonomian Baduy lebih mengutamakan sistem tertutup, artinya aktivitas ekonomi dilakukan
hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan diproduksi serta dikonsumsi dilingkungan Baduy
sendiri. Mata pencaharian mereka pada umumnya adalah bertani atau bercocok tanam.Seluruh
masyarakat di Baduy belajar untuk bekerja di pertanian sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Di
Baduy terdapat aturan dalam pertanian yang diikuti oleh masyarakatnya. Ada waktu dimana mereka
harus mengolah tanah, menanam, maupun memanen hasil pertaniannya. Sistem pertanian disana
adalah dengan sistem berladang dan berkebun. Pada masa dimana mereka tidak sedang bekerja di
ladang, Baduy laki-laki bekerja di hutan untuk berburu dan memanen madu, sementara Baduy wanita
bekerja menenun dirumah untuk membuat baju, selendang, sarung, serta kerajinan tangan seperti tas.

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat
Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari
menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji,
serta madu hutan. Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan
merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia
luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah
kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada
penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten(Garna, 1993).
Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil
bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat),
melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan
masyarakat luar, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Nilai-nilai kearifan masyarakat baduy yang sederhana dengan tidak mementingkan materi dalam
kehidupannya menjadi sebuah contoh dimana mereka hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan
primernya, bahkan dalam bertani mereka mengikuti aturan-aturan yang ada dimasyarakat, diantaranya
tidak menggunakan pupuk kimia, masyarakat baduy memupuk tanamanya dengan pupuk buatan mereka
sendiri dari bahan-bahan organik, sebuah nilai kearifan lokal masyarakat baduy yang tidak mau merusak
alam dengan menggunakan bahan kimia, berbeda dengan kebanyakan masyarakat lain yang
menggunakan pupuk kimia dengan tujuan hasil panen yang melimpah dan cepat, tetapi tidak
memperdulikan lingkungan alam yang akan rusak karena bahan kimia dalam pupuk yang digunakan.
Selain itu Penanggulangan hama padi pada masyarakat Baduy bersifat mengusir daripada membunuh.
Dalam bertani, mereka selalu menjaga keselarasan dengan alam, bukannya melawan alam. Maka dari
itu, dalam penanggulangan hama padi huma, masyarakat Baduy lebih memilih racikan biopestisida dan
rawun pare daripada pestisida pabrikan yang dianggap dapat meracuni dan merusak lingkungan. Upaya
mengusir hama padi huma tersebut tampaknya cukup berhasil. Buktinya, kejadian puso panen padi
huma akibat gangguan hama sangat jarang terjadi di Baduy. Mengapa demikian? Pasalnya, berbagai
tumbuhan untuk biopestisida atau rawun pare orang Baduy dikenal secara ilmiah (etik) termasuk
kategori tumbuhan pengusir hama (repellent).

Hasil panenan suku baduy yang berupa padi pun tidak boleh dijual, padi hanya untuk kebutuhan mereka
saja, tidak diperjual belikan, mereka hanya menjual hasil panenan lainnya seperti pisang, durian, dll,
aturan ini juga dilaksanakan oleh semua masyarakat baduy. Untuk memenuhi kebutuhan tambahan
mereka seperti biaya untuk upacara-upacara adat mereka menjual madu, kain songket, kerajinan-
kerajinan tangan, tas, dll, uang yang didapatkan dari hasil itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hidup mereka, kebutuhan yang tidak mereka hasilkan seperti garam, minyak, serta bumbu-bumbu. Madu
Baduy sangat terkenal di daerah Banten karena tidak dicampur dengan bahan lainnya, sehingga sering
disebut madu asli. Mereka menjual madu dan hasil kerajinan lainnya sampai ke kota.

. Kehidupan mereka yang sederhana membuat mereka tidak terlalu mementingkan harta, yang penting
uang yang mereka miliki cukup untuk makan dan kebutuhuan penting lainya. Sebuah nilai kearifan lokal
yang sekarang ini jarang bisa ditemui lagi mengingat sekarang ini banyak masyarakat yang menganggap
bahwa uang adalah segalanya dan uang adalah raja yang harus mereka cari dan kumpulkan sebanyak-
banyaknya untuk keberlangsungan hidup mereka.
Ada dua sistem pemerintahan yang digunakan oleh masyarakat Baduy, yaitu struktur pemerintahan
nasional yang mengikuti aturan negara Indonesia dan struktur pemerintahan adat yang mengikuti adat
istiadat yang dipercayai oleh masyarakat. Kedua sistem pemerintahan tersebut digabungkan dan dibagi
perannya sedemikian rupa sehingga tidak ada benturan dalam menjalankan tugasnya. Seluruh
masyarakat Baduy paham dan saling menghargai terhadap kedua sistem tersebut, sehingga mereka tahu
harus kemana jika ada urusan atau permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga kampung tangtu.
Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan
dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada
kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapu'unan (kepu'unan) dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi ke
dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu
bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan
lainnya. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di
dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro
tangtu disebut sebagai jaro duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan.
Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes
dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau
tetua kampung.

Kemampuan masyarakat baduy yang bisa menjalankan dua sistem pemerintah baik itu sistem adat dan
sistem pemerintahan nasional, merupakan bukti kemampuan hebat yang didasari oleh nilai-nilai kearifan
lokal masyarakat untuk tetap melestarikan adat istiadat tetapi juga tetap menggunakan sistem
pemerintahan nasional sebagai rasa nasionalisme warga masyarakat baduy. Menggunakan dua sistem
kepemerintahan sekaligus tentunya jelas akan banyak hambatan yang ada dalam pelaksanaanya karena
bisa saja aturan yang ada saling tumpang tindih atau bahkan berbenturan, tetapi kemampuan
masyarakat Baduy untuk memposisikan dirinya menjadi salah satu kunci keberhasilan dua sistem ini
digunakan secara bersamaan.

Suku Baduy sangat memegang teguhpikukuh karuhun, yakni suatu doktrin yang mewajibkan mereka
melakukan berbagai hal sebagai amanat leluhurnya (Kurnia, 2010: 28) Pikukuh karuhun tersebut antara
lain mewajibkan mereka untuk:
1. Bertapa Bagi Kesejahtraan dan Keselamatan Pusat Dunia dan Alam Semesta.

2. Memelihara Sasaka Pusaka Buana.

3. Mengasuh Ratu Memelihara Menak.

4. Menghormati Guriang dan Melaksanakan Muja.

5. Mempertahankan dan Menjaga Adat Bulan Kawalu

6. Menyelenggarakan dan Menghormati Upacara Adat Ngalaksa

7. Melakukan Upacara Seba Setahun sekali.

Upacara Seba sudah menjadi tradisi yang sifatnya wajib dilaksanakan setahun sekali pada bulan Safar
awal tahun baru sesuai dengan penanggalan adat Baduy (berkisar bulan April-Mei pada tahun Masehi).
Tujuan dari kegiatan ini adalah ekspresi rasa syukur dan penghormatan Suku Baduy kepada Pemerintah.
Bentuk rasa syukur dan penghormatan ini dengan mempersembahkan sesuatu yang dianggap berharga
(sesaji, dalam konteks ini adalah hasil panen) bagi Suku Baduy untuk diberikan kepada Pemerintah
(dalam hal ini Bupati Kabupaten Lebak).

Adapun mitos dibalik Upacara Seba yaitu Bhatara Tunggal dipercaya oleh Suku Baduy sebagai pemegang
kekuasaan tertinggi. Tempat kediamannya terletak di hulu sungai Ciujung dan Cisimeut. Tempat keramat
tersebut oleh Suku Baduy dinamakan Arca Domas, yang tertutup bagi siapapun kecuali pemimpin Suku
Baduy atau Puun (Rafiudin, 1995: 21).

Sungguh sebuah nilai kearifan lokal dimana tujuan upacara seba adalah sebagai rasa ucap syukur kepada
pemerintah, masyarakat baduy memberikan hasil panenanya kepada pemerintah dengan tulus dan
tanpa mengharapkan imbalan tertentu. Begitu arif masyarakat Baduy, padahal masyarakat baduy sendiri
hampir dipastikan jarang mendapat perhatian dari pemerintah, karena memang masyarakat baduy
menutup diri dari lingkungan luar, tetapi mereka tetap mengadakan upacara sebagai bentuk rasa syukur
mereka kepada pemerintah, bayangkan pada kebanyakan masayarakat indonesia saat ini, mereka
mendapat perhatian yang banyak dari pemerintah, mereka banyak menikmati fasilitas publik, rumah
sakit, sekolah, jalan raya, dll tetapi apa mereka pernah mengadakan sebuah acara sebagai rasa syukur
mereka kepada pemerintah? Jarang, bahkan sulit ditemukan, mereka banyak yang hanya mengkritik
pemerintah, tetapi suku Baduy, yang jarang diperhatikan, tidak banyak memanfaatkan dan menerima
fasilitas publik, mereka tetap bersyukur, begitu jelas terlihat bagaimana nilai-nilai kearifan lokal yang
mereka junjung.
b. Kearifan Lokal Suku Baduy Luar

Masyarakat Baduy Luar merupakan masyarakat yang telah diasingkan dari Baduy Dalam. Ada beberapa
alasan mengapa mereka diasingkan antara lain adalah hal tersebut merupakan keinginan mereka sendiri
untuk meninggalkan wilayah Baduy Dalam, mereka telah melanggar adat istiadat yang berlaku di
masyarakat Baduy Dalam, ataupun kerena mereka menikah dengan orang Baduy Luar. Ciri-ciri khas
masyarakat:

· Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik, meskipun penggunaannya tetap
merupakan larangan untuk setiap warga Baduy, termasuk warga Baduy Luar.

· Proses Pembangunan Rumah penduduk Baduy Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti
gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Baduy Dalam. (BL)

· Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan
bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
(BL)

· Kelompok masyarakat panamping (Baduy Luar), tinggal di berbagai kampung yang tersebar
mengelilingi (di luar) wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan
lain sebagainya. (BL)

Kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat Baduy Luar pada dasarnya masih memiliki
kesamaan dengan kebiasaan dan adat istiadat masyarakat Badut Dalam akan tetapi masyarakat Baduy
Luar telah mengenal dan menggunakan teknologi, dapat menggunakan kendaraan sebagai alat
transportasi, diperbolehkan menggunakan alas kaki, alat untuk membuat rumah pun sudah
menggunakan gergaji, paku, palu dan lain sebagainya yang dalam masyarakat Baduy Dalam itu tidak
diperbolehkan. Untuk membedakan masyarakat suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar itu dapat dilihat
dari pakaian mereka, jika masyarakat suku Baduy Dalam menggunakan pakain sampai ikat kepala
berwarna putih, suku Baduy Luar menggunakan pakaian serba hitam hal itu karena mereka dianggap
sudah tidak suci lagi bahkan masyarakay suku Baduy Luar sebagian besar telah menggunakan pakaian
modern. Mata pencaharian mereka adalah bertani, menenun, membuat pakaian ciri khas suku Baduy
Luar, ataupun membuat pernak-pernik ciri khas suku Baduy.

Baduy Panamping ( Baduy Luar ), Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak. Mereka
memiliki ciri sebagai berikut: berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian dengan
naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani, mudah diajak berbicara tapi masih
tetap terpengaruh adanya hukum adat karena mereka masih harus patuh dan taat terhadap Hukum
adat. Jenis kendaraan apapun harus ditinggalkan Desa Cibolegar dan mulailah Anda menjelajahi alam
Baduy dengan berjalan kaki. Suasana di kawasan Baduy sangat sejuk dan alami, tidak ada polusi udara
dan pencemaran lingkungan. Perjalanan dari kampung ke kampung lainnya dilalui lewat jalan setapak
yang kadang-kadang melintasi sungai dan bukit-bukit atau melewati jembatan bambu berkonstruksi
alami tanpa menggunakan paku.

Berada di perkampungan Baduy terasa seperti kita berada dalam suasana zaman dahulu. Masyarakatnya
masih hidup dalam nilai-nilai tradisional yang kental, tidak ada sentuhan teknologi modern sama sekali.
Jika malam tiba suasana hening, tenang dan gelap datang menyergap. Tidak ada gemerlapan cahaya
lampu listrik, yang ada hanya kedipan sinar yang berasal dari lampu teplok yang diisi dengan minyak
kelapa atau minyak jarak dengan sumbu sabut kelapa. Di perkampungan ini yang terdengar hanyalah
suara alam dengan gemericik air dari sungai yang berbatuan, suara kicau burung dan desau angin
menerpa dedaunan.

Menurut wawancara yang kami lakukan dengan Pak Agus, tour guide Baduy, ada beberapa hal yang
menarik tentang masyarakat Suku Baduy adalah cara hidup mereka yang benar-benar menjaga
kelestarian alam. Adapun prinsip hidup masyarakat Baduy yang selaras dengan alam adalah petatah-
petitih masyarakat ada Baduy yaitu:

Gunung tak diperkenankan dilebur

Lembah tak diperkenankan dirusak

Larangan tak boleh di rubah

Panjang tak boleh dipotong

Pendek tak boleh disambung

Yang bukan harus ditolak

Yang jangan harus dilarang


Yang benar haruslah dibenarkan

artinya:

gunung tak boleh dihancurkan

lembah tak boleh dirusak

larangan tak boleh dilanggar

buyut tak boleh diubah

panjang tak boleh dipotong

pendek tak boleh disambung

yang bukan harus ditiadakan

yang jangan harus dinafikan

yang benar harus dibenarkan

Bukti bahwa masyarakat Baduy luar juga hidup berdampingan dengan alam secara harmonis yaitu
masyarakat Baduy sangat menjaga air agar selalu jernih dan bersih sehingga bisa dipakai untuk
kehidupan sehari-hari. Masyarakat Baduyluar yang sebagian sudah memiliki kamar mandi maupun WC
dirumah panggungnya, memiliki aturan untuk tidak membuang sampah, menggunakan sabun, deterjen
dan bahan-bahan kimia lain yang dapat mengotori sungai. Selain itu, pembagian area-area dalam
pemanfaatan sungai juga merupakan sebuah konsep dalam memperhatikan daya pulih air. Setiap
kampung telah memiliki area-area khusus dalam pemanfaatan sungai. Area sungai untuk mandi,
mencuci, buang air dan konsumsi memiliki areanya masing-masing sehingga masyarakat memperoleh air
yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan.

Masyarakat Baduy luar maupun dalammenyimpan hasil panen padi huma di sebuah leuit, lumbung padi.
Leuit dibangun di pinggiran tiap kampung. Setiap keluarga memiliki leuit. Leuit adalah wujud
pemahaman masyarakat Baduy tentang ketahanan pangan. Kondisi adanya leuit membuat masyarakat
Baduy tidak kekurangan bahan pangan. Selain itu, apabila masyarakat Baduy akan menggunakan kayu
maka kayu yang akan dipakai adalah kayu kayu yang telah kering dan tua. kayu bakar tersebut diperoleh
dari pohon yang sudah dimakan rayap atau batang pohon dan ranting yang jatuh terserak. Masyarakat
Baduy tidak menebang pohon untuk kayu bakar. Kearifan lokal ini menjadikan Baduy dan hutan di
sekitarnya hidup harmonis selama ratusan tahun.

Untuk menjaga kemurnian adat dari pencemaran budaya luar yang dibawa para wisatawan dalam
mengunjungi kawasan pemukiman kaum Baduy, sesekali jaro (kepala desa) Baduy Dalam melakukan
sidak ke desa Baduy Luar. Itu untuk meneliti apakah ada benda-benda yang bisa melunturkan
kepercayaan mereka. Mereka kadang menyita radio yang dianggap melunturkan kepercayaan adat
mereka. Selama ini, tanpa bunyi sepeda motor, radio, televisi dan mesin apa saja apa saja yang
menimbulkan asap dan bunyi-bunyian, maka desa-desa Baduy adalah titik tenang. Bunyi gemeletak alat
penenun menjadi irama lembut yang menemani keheningan alam di sana.

Akan tetapi, amatlah sukar menjaga keheningan tetap bertahan dalam dunia modern yang serba hiruk
pikuk ini. Misalnya kini, mulai tampak anak-anak Baduy yang “meninggalkan” pakaian tradisional
mereka, berupa kain tenunan tangan dengan warna hitam dan putih, dengan memakai kaos ala seragam
kesebelasan sepakbola Italia yang “berteriak” dengan warna-warni meriah. Mereka yang selama ini
menabukan jual beli dan penggunaan uang, dengan menetapkan pola barter, akhirnya mulai terlibat
proses dagang. Kaum Baduy Luar misalnya, telah lama menjual kain sarung yang mereka tenun, selain
juga menjual madu dan gula kelapa pada orang-orang luar yang berada di sekitar kawasan tempat tinggal
mereka. Ini terjadi karena mereka butuh uang kontan untuk membeli ikan asin, garam, dan berbagai
kebutuhan yang tak bisa mereka hasilkan sendiri.

3. Simpulan

Kearifan lokal merupakan pengetahuan masyarakat berdasarkan pengalaman yang menjadikan


kebiasaan serta mewujudkan menjadi kebudayaan dan diwariskan secara turun-temurun dari nenek
moyangnya (Baramuli et al. 1996 : 38). Secara sederhana dapat diartikan sebagai kebijakan setempat
atau cara berfikir masyarakat berdasarkan pengetahuannya

Nilai-nilai kearifan masyarakat baduy yang sederhana dengan tidak mementingkan materi dalam
kehidupannya menjadi sebuah contoh dimana mereka hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan
primernya, bahkan dalam bertani mereka mengikuti aturan-aturan yang ada dimasyarakat, diantaranya
tidak menggunakan pupuk kimia, masyarakat baduy memupuk tanamanya dengan pupuk buatan mereka
sendiri dari bahan-bahan organik, sebuah nilai kearifan lokal masyarakat baduy yang tidak mau merusak
alam dengan menggunakan bahan kimia, berbeda dengan kebanyakan masyarakat lain yang
menggunakan pupuk kimia dengan tujuan hasil panen yang melimpah dan cepat, tetapi tidak
memperdulikan lingkungan alam yang akan rusak karena bahan kimia dalam pupuk yang digunakan.

Kehidupan mereka yang sederhana membuat mereka tidak terlalu mementingkan harta, yang penting
uang yang mereka miliki cukup untuk makan dan kebutuhuan penting lainya. Sebuah nilai kearifan lokal
yang sekarang ini jarang bisa ditemui lagi mengingat sekarang ini banyak masyarakat yang menganggap
bahwa uang adalah segalanya dan uang adalah raja yang harus mereka cari dan kumpulkan sebanyak-
banyaknya untuk keberlangsungan hidup mereka.

Prinsip kearifan yang dipatuhi secara turun temurun oleh masyarakat Baduy ini membuat mereka tampil
sebagai sebuah masyarakat yang mandiri, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Karena itu, ketika
badai krisis keuangan global melanda dunia, dan merontokkan pertahanan ekonomi kita di awal tahun
milennium ini, suku Baduy terbebas dari kesulitan itu. Hal itu berkat kemandirian mereka yang
diterapkan dalam prinsip hidup sehari-hari.

Masyarakat Baduy sangat percaya bahwa segala sesuatu di alam ini telah diciptakan oleh Sang Maha
Pencipta. Oleh karenanya, sebagai manusia yang juga diciptakan, manusia tidak memiliki kepatutan
untuk merusak seperti memotong atau menyambung. Konsep hidup yang diserahkan pada gagasan
natural ini jelas memperkuat masyarakat Baduy secara umum bahwa mereka dilahirkan untuk menjaga
stabilitas alam agar tetap seimbang. Kesederhanaan hidup ini adalah cara mereka untuk “bersatu”
dengan alam. Pikukuh yang menjadi pegangan hidup mereka dianggap sebagai harga mati dan tak boleh
diubah.

4. Referensi

Garna, Judistira K. 1992. Orang Baduy Dari Kanekes: Ketegaran Dalam Menghadapi Tantangan
Zaman (Makalah Seminar Sehari Dengan Orang Baduy). Bandung: Museum Negeri Jawa Barat.

Kurnia, Asep dan Ahmad Sihabudin. 2010.Saatnya Baduy Bicara. Jakarta: Bumi Aksara