Anda di halaman 1dari 5

3.

3 Tujuan Keuangan
Pendapatan dan keuntungan meningkat sebanding dengan peningkatan penjualannper
uint Indomie
3.4 pasar sasaran (target)
Target pasarnya dalah semua umur kecuali balita
3.5 positioning
1. Menanamkan di benak konsumen bahwa indomie adalah mie-nya orang Indonesia, dengan
cita rasa Nusantara dari berbagai daerah, sehingga sesuai dengan taglinenya “Indomie
Seleraku”.
2. Mie instant yang praktis dan nikmat untuk dikonsumsi, dapat dihidangkan dengan lauk
pauk lainnya.
3.6 strategi
Tentang strategi menghadapi persaingan, Indofood akan menerapkan strategi Mastering The
Present, Pre-empting the Future. Strategi ini antara lain fokus kepada organic growth,
memanfaatkan competitive advantage melalui scale, scope, span, dan speed. Selain itu akan
menjalankan program cost efficiency and cost cutting. Di samping itu tetap melanjutkan
segmentasi para konsumennya dengan memperkenalkan produk-produk dengan higher price
and higher margin. Juga menjalin kerjasama dengan pemasok bahan baku untuk meningkatkan
kualitas produk, dan meningkatkan distribusi produk-produk.

3.7 Bauran pemasaran


Product
Satu Bungkus Indomie standard memiliki massa 85 gram, dan terdapat 2 sachet berisi 5 bumbu-
bumbu yang disertakan, yakni: kecap manis, saus sambal, minyak palm, bubuk perasa dan
bawang goreng, selain itu juga tersedia dalam versi jumbo dengan massa 120 gram. Produk
yang diproduksi oleh Indomie adalah mie berkualitas tinggi dengan berbagai macam varians.
Ada Indomie goreng, Indomie rasa soto, Indomie Kari Ayam, dan bahkan ada Indomie citarasa
tradisional seperti rasa Cakalang, soto Betawi dan soto Madura, selain itu juga ada Indomie
duo dan Indomie goreng Premium. Hal tersebut menunjukan bahwa Indomie ingin terus
memberikan mie yang berkualitas kepada konsumennya, dengan juga terus melakukan inovasi
untuk menghasilkan cita rasa mie yang sesuai dengan selera konsumen.

Price
Indomie selain dapat dibeli perbungkus, dapat juga dibeli dengan paket 5 bungkus atau paket
1 kardus berisi 30 atau 40 indomie. Harga Indomie juga sangat murah dan terjangkau bagi
semua kalangan masyarakat, di Indonesia, perbungkus indomie dihargai hanya sekitar Rp.
2400,- .
Distribution
indofood memiliki satu grup tersendiri yang menangani pendistribusian produk-produknya
yaitu Grup Distribusi Indofood. Grup distribusi Indofood sangat berperan dalam meningkatkan
penjualan produknya.Peningkatan penjualan pada tahun 2007 misalnya, merupakan satu hasil
kerja keras dari Grup distribusi Indofood, dan tentu saja hasil dari output bagian-bagian lain
pula. Indofood dalam pendistribusiannya concern sekali dengan stock point yang ada di
kawasan-kawasan startegis, yang dapat menjamin kelancaran distribusi produk ke ritel-ritel.
Penetrasi yang dalam juga telah dilakukan oleh grup ini dengan menambah stock point,
sehingga dapat meningkatkan jumlah ritel yang dilayani dan dapat menjangkau kawasan-
kawasan pedesaan. Dalam konteks produk Indofood adalah mi instant, pendistribusiannya
dapat dikatakan sudah cukup dalam,paling tidak menurut pendapat penulis. Hal tersebut
terindikasi dari tersebarnya warung-warung yang khusus menjual indomie yang siap makan.
Selain itu, indikasi lain adalah keberadaan indomie di warung-warung kecil selain tentu saja
keberadaannya di setiap supermarket di pelosok Indonesia.Dan berdasarkan survey yang
dilakukan oleh Qasa Consulting, kekuatan distribusi Indomie terbukti, dalamThe Most
Powerfull Distribution Performance tahun 2007, yang mencapai 95%, sedangkan Mi Sedaap
yang merupaklan pesaingnya mempunyai kekuatan distribusi sebesar 73%.
Place
Group Distribusi Indofood memiliki jaringan distribusi terluas di Indonesia, menembus sampai
hampir ke setiap sudut kepualuan. Jumlah titik stok (gudang) semakin diperbanyak secara
agresif sejak tahun 2005, sehingga mampu menyediakan penetrasi yang lebih luas melalui
rantai suplai dan penghantaran. Gudang stok ditempatkan pada area-area yang memiliki outlet
retail yang banyak, termasuk pasar tradisional, sehingga setiap gudang dapat melayani masing-
masing area geografis dalam waktu yang sesingkat mungkin (www.indofood.com ). Di
Yogyakarta agen-agen Indofood juga bekerjasama dalam menyediakan Indomie dengan
warung-warung seperti Burjo (warung yang menyediakan bubur kacang hijau dan mie
instan/mie goreng sebagai menu utama).

Iklan dan promosi


. Tagline: Indomie Seleraku
2. Iklan : billboard, iklan TV, sponsor acara
3. Event : Indomie menggelar ajang membuat lagu ”jingle” untuk pelajar SMA, acara
tersebut berjudul Jingle Dare, yang berlangsung pada 24 April 2008.
4. Pembuatan Shop Sign (Spanduk Nama Burjo dengan tema Indomie untuk setiap Burjo di
Yogyakarta).
3.8 riset pemasaran
Hampir selama 4 dekade Indomie menjadi penguasa mutlak pasar mie instant Indonesia.
Pada tahun 2002 Indomie menguasai 90% pangsa pasar sebagai dominantmarket leader,
Indofood sempat terlena me-maintain pasarnya sehingga kesempatan ini dimanfaatkan oleh
pendatang baru Mie Sedaap dari WingsFood dan Mie Kare dari Orang Tua Group.
Persaingan cepat ini mengakibatkan Indomie kehilangan sebagian pangsa pasarnya.
Market share yang mencapai 90% menjadi 70%.. Penjualan Indofood tetap naik, namun ada
sebagian pasar – bisa jadi konsumen baru – yang direbut oleh merek baru. Sehingga di
pasar yang sebenarnya tumbuh, pertumbuhan pasar Indofood – karena besarnya – tidak
mampu mengimbangi pertumbuhan pasar secara total. Menyadari hal ini, Indofood
”bangkit” dari tidurnya. Raksasa mie instant ini mengerahkan seluruh brand-nya untuk
bertahan dan mengembalikan market shareyang direbut kompetitor.
Indofood sebetulnya pernah bereaksi atas serangan Mie Sedaap dengan meluncurkan
Indomie Kriuk, varian baru Supermi Sedaaap, dan gimmick ”Beli 5 Gratis 1” dalam rentang
waktu yang cukup panjang. Reaksi Indofood yang cenderung impulsif ini dinilai para
pengamat kurang strategis, terlalu pragmatis, ”terjebak permainan challenger”–kesalahan
yang sering dilakukan oleh big brands. Tidak mau tersandung di batu yang sama untuk
kedua kalinya, tahun ini Indofood meluncurkan strategi marketing yang lebih komprehensif
yang lebih menunjukkan jati diri Indofood sebagaimarket leader. Hampir semua brand
dalam portfolio-nya disegarkan kembali dengan kampanye baru maupun peluncuran produk
baru. Indomie disegarkan dengan kampanye ”Selera Nusantara” yang lebih modern. Sarimi
lebih difokuskan untuk membendung produk unggulan Mie Sedaap Soto Ayam—dengan
meluncurkan produk Sarimi Soto Koya yang di-endorse oleh Luna Maya.
Sementara Supermi disegarkan dengan meluncurkan produk baru: mie goreng rasa
soto (GoSo), rasa bawang (GoBang), dan rasa kari (GoKar). Indofood juga menggunakan
Slank untuk meng-endorse Supermi—Supermi tampaknya akan dijadikan brand unggulan
kedua Indofood setelah Indomie yang menyumbang hampir separuh omset divisi noodle
Indofood. Akan halnya Pop Mie, meskipun saat ini bisa dibilang melenggang sendiri tanpa
head on competitor, Indofood sudah mengantisipasinya dengan upaya building brand
melalui kampanye dan promosi di kalangan remaja.
Indomie juga turut mengusung tema “bergizi” seperti halnya yang dilakukan oleh
competitor utamanya yaitu mie sedaap. Kelemahannya adalah kurangnya maintain dalam
program tersebut. Kemiripan target market produk Indofood group yakni Supermi, Pop
Mie menyebabkan terjadinya kanibalisme atau ”perang saudara” antara sesama brand
Indofood.
Pada tahun 2002 Indofood masih menguasai pasar mie sebesar 90%. Begitu Mie
Sedap masuk pada Mei 2003, dengan rasa baru, harga kompetitif, dan promo yang gebyar,
pangsa pasar Indofood mulai goyah. Pada 2006 pangsa pasar Indofood turun, diperkirakan
menjadi sekitar 75%–25% sisanya diperebutkan oleh pesaingnya. Namun dengan strategi
yang tepat per data tahun 2012 Indomie kembali menguat dengan posisi market share 77,9
%. Mie Sedaap terus gencar melakukan promosi yang tidak hanya di above the line tetapi
juga intense dalam tataran trade marketing. Strategi Mie Sedaap antara lain dengan
mengakuisisi warung-warung/ retailer Indomie.
4.0 keuangan
4.1 analisis BEP
4.2 peramalan penjualan
4.3 peramalan beban
5.0 kendali
kegiatan pemasaran memegang peranan sangat penting dalam menjual produknya kepada
masyarakat dengan cara :

(1) penjualan langsung, yaitu dilakukan dengan menggunakan armada penjualan sendiri
yang beroprsi di DKI Jakarta, Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi,

(2) penjualan tidak langsung, meliputi wilayah pemasaran di seluruh Indonesia. Dilakukan
lewat distributor lalu pengecer dan grosir baru ke konsumen akhir, dan

(3) lewat promosi, melalui media cetak maupun elektronik.

5.1 implementasi
Ini adalah hasil kerja akumulasi secara konsisten sejak Indomie pertama kali diekspor pada
1992. Awalnya, Indofood membentuk Direktorat Ekspor dengan tugas fokus mengembangkan
ekspor Indomie ke berbagai negara. Tim ini aktif mempelajari semua izin impor di setiap
negara. Lantas, menetapkan target negara. Saat itu, sasaran utamanya, negara dengan jumlah
tenaga kerja Indonesia paling banyak sehingga Indomie populer di Hong Kong, Taiwan, Arab
Saudi dan lainnya. Bahkan, di Arab Saudi konsumen Indomie sudah masuk generasi kedua.
Saat pertama kali Indomie masuk pada 1990-an, mereka masih anak-anak, sekarang mereka
sudah dewasa dan berkeluarga. Selain TKI, Indomie juga dibawa oleh para pelajar-pelajar
Indonesia di luar negeri, sehingga Indomie juga populer di negara-negara seperti Amerika
Serikat dan Australia, negara yang menjadi tujuan pelajar Indonesia melanjutkan
pendidikannya.
Setelah menetapkan negara tujuan ekspor, Indofood membentuk regional office di masing-
masing negara. Bahkan, kami melangkah lebih jauh dengan membangun pabrik di beberapa
negara lain yang menjadi target pasar utama Indomie, seperti Nigeria. Dengan pabrik di negara-
negara tersebut, Indofood tetap bisa mengekspor produk lainnya, seperti bumbu, saos atau
kecapnya. Sebab, bumbu-bumbu itu hanya bisa dibuat di Indonesia. Perkembangan di pasar
ekspor tersebut juga didukung oleh keberadaan toko-toko Indonesia di beberapa negara, seperti
di Thailand, Hong Kong, Taiwan hingga Arab Saudi. Bahkan, di Arab Saudi ada 1200 toko
yang khusus menjual makanan Indonesia.
5.2 organisasi

Manajer Pemasaran (Areaa Sales and Promotion Manager)


Manajer pemasaran memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengkoordinir distribusi
produk ke daerah pemasaran, melakukan tugas penjualan dan permintaan produk, menyiapkan
rencana penjualan dan permintaan produk, merencanakan dan membuat rancangan promosi,
serta membuat rencana penjualan dan permintaan produk.

5.3 perencanaan darurat


Kesulitan dan resiko

Sebagai produsen makanan olahan dalam kemasan dan memiliki konsumen dari segala
usia, Indofood menghadapi risiko yang berhubungan dengan keamanan produk barang jadi
yang dipasarkan. Walaupun Indofood telah memperhatikan faktor higienis makanan dan
memastikan bahwa bahan baku yang dipergunakan telah sesuai dengan yang ditetapkan oleh
instansi yang berwenang dan memenuhi persyaratan untuk memperoleh sertifikat halal, namun
tidak tertutup kemungkinan bahwa produk makanan tersebut dapat tercemar ataupun terkena
isu negatif lainnya. Apabila terjadi, hal tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap
kegiatan usaha dan operasional Indofood.
Harga dan biaya produksi Indofood dipengaruhi oleh harga bahan baku di pasar internasional,
terutama gandum yang digunakan untuk memproduksi tepung terigu Grup Bogasari, dan bahan
baku lainnya yang diimpor seperti SMP dan resin (bahan baku untuk pembuatan kemasan).
Sebagian besar produk Indofood menghadapi kompetisi baik dari indofood lokal maupun
internasional. Tidak dapat dipastikan bahwa kompetitor tidak akan mengoptimalkan upayanya
dalam berkompetisi untuk meningkatkan pangsa pasarnya dan/atau tidak akan ada tambahan
pesaing domestik maupun asing yang memasuki pasar dimana Indofood beroperasi.
Peningkatan kompetisi tersebut dapat mempengaruhi kemampuan Indofood untuk
mempertahankan atau menaikkan pendapatannya.
Resiko terburuk

Secara geografis, fasilitas Indofood berupa kantor, pabrik, perkebunan dan gudang
distribusi, hampir seluruhnya berlokasi di Indonesia yang berlokasi di pulau Jawa, Sumatra,
Kalimantan dan Sulawesi.
Letak Indonesia berada di zona pertemuan dari tiga lempengan bumi utama yang
berpotensi mengalami gempa bumi, tsunami, gelombang laut dan letusan gunung berapi. Hal
ini dapat terjadi di luar kendali Indofood, dan dapat membahayakan keselamatan karyawan,
merusak fasilitas, dan mengganggu jalur distribusi. Walaupun risiko ini tidak berdampak
negatif secara langsung terhadap kegiatan usaha Indofood di masa lampau, tetapi bencana
tersebut dapat berdampak negatif terhadap keadaan ekonomi Indonesia pada umumnya yang
secara tidak langsung akan berdampak juga terhadap Indofood. Selain itu, beberapa kegiatan
usaha dan hasil operasional Indofood juga tergantung pada iklim dan kondisi cuaca.
Risiko yang berhubungan dengan hal tersebut akhir-akhir ini meningkat dengan adanya
efek rumah kaca di atmosfer yang berdampak buruk terhadap suhu global dan perubahan suhu
secara ekstrim. Kondisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap produktivitas, kinerja dan
prospek usaha Indofood.