Anda di halaman 1dari 117
LAPORAN AKHIR KAJIAN EVALUASI MANFAAT PUSAT LOGISTIK BERIKAT DALAM MENDUKUNG DAYA SAING INDUSTRI NASIONAL PUSAT PENGKAJIAN

LAPORAN AKHIR

KAJIAN EVALUASI MANFAAT PUSAT LOGISTIK BERIKAT DALAM MENDUKUNG DAYA SAING INDUSTRI NASIONAL

LAPORAN AKHIR KAJIAN EVALUASI MANFAAT PUSAT LOGISTIK BERIKAT DALAM MENDUKUNG DAYA SAING INDUSTRI NASIONAL PUSAT PENGKAJIAN

PUSAT PENGKAJIAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PERDAGANGAN KEMENTERIAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA

2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan berkat, kasih dan rahmat-Nya sehingga Tim Peneliti Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri dapat menyelesaikan Laporan “Kajian Evaluasi Manfaat Pusat Logistik Berikat Dalam Mendukung Daya Saing Industri Nasional dengan baik. Kajian ini dilakukan untuk menganalisis manfaat PLB terhadap efisiensi biaya dan waktu pasokan bahan baku untuk kebutuhan industri nasional serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadikan PLB lebih bermanfaat bagi industri nasional dalam mendukung peningkatan daya saing.

Disadari bahwa laporan ini masih belum sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan analisis berikutnya. Dalam kesempatan ini tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan ini. Sebagai penutup, semoga hasil kajian ini dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan pimpinan serta bahan masukan untuk perumusan kebijakan logistik nasional.

ABSTRAK

Pemerintah Indonesia pada Bulan Maret 2016 telah meresmikan beroperasinya Pusat Logistik Berikat (PLB) yang merupakan bagian dari Paket Kebijakan Ekonomi Tahap II September 2015. Insentif PLB diharapkan akan mampu mengurangi biaya logistik nasional dengan menurunkan dwelling time di pelabuhan dan mendekatkan gudang bahan baku ke Industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana manfaat yang diperoleh oleh pengguna jasa PLB dari sisi efisiensi waktu dan biaya logistik. Perbandingan waktu dan biaya ditinjau dari aspek transportasi, persediaan dan administrasi yang diperoleh dari survei dan wawancara dengan perusahaan yang sudah memanfaatkan fasilitas PLB. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum kebijakan PLB memberikan perbaikan biaya dan waktu logistik sebesar 32 persen yaitu dalam hal: pengiriman barang ke gudang penyimpanan, pengiriman barang dari gudang penyimpanan ke industri pengguna, dan proses pemeriksaan barang oleh pihak yang berwenang. Berdasarkan wawancara terhadap pengguna PLB, masih terdapat hambatan dalam implementasi pemanfaatan PLB terutama dari sisi administrasi atau pengurusan dokumen perizinan terkait aturan pembatasan. Hasil analisis menunjukkan bahwa PLB potensial untuk meningkatkan kinerja logistik di masa yang akan datang.

ABSTRACT

The Government of Indonesia has inaugurated the operation of the Bonded Logistics Center (PLB) in March 2016 as part of the Economic Policy Package of Phase II in September 2015. The PLB incentives are expected to reduce the national logistics costs by decreasing the seaport dwelling time and creating closer promixity between raw material warehouse and the industry. This study aims to analyze the extent of benefits obtained by PLB users in terms of time efficiency and logistics costs. The comparison of cost and time is viewed from transportation, inventory and administration aspects obtained from surveys and interviews with companies already utilizing PLB facilities. The result of analysis shows that in general PLB gives 32% improvement in logistics cost and time in terms of: delivery of goods to warehouse, delivery of goods from warehouse to industry, and inspection process of goods by authorized party. Based on the interviews with the PLB users, there are still obstacles in the implementation of the utilization of PLB, especially from the administration or the handling of licensing documents related to the restriction rules. The analysis shows that PLB is potential to improve the future of logistics performance.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ABSTRAK .................................................................................................................

..................................................................................................

i

ii

ABSTRACT

..............................................................................................................

ii

DAFTAR

ISI

............................................................................................................. DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR

......................................................................................................

.................................................................................................

iii

vi

vii

DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN

............................................................................

viii

BAB I PENDAHULUAN

..........................................................................................

10

Latar belakang

  • 1.1. ............................................................................................

10

  • 1.2. Rumusan masalah

......................................................................................

13

Tujuan

  • 1.3. .........................................................................................................

14

  • 1.4. Keluaran ......................................................................................................

14

Manfaat

  • 1.5. .......................................................................................................

14

Ruang lingkup

  • 1.6. .............................................................................................

15

  • 1.7. Sistematika laporan

.....................................................................................

15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

.........................................

17

  • 2.1. Konsep Pusat Logistik Berikat (PLB)

...........................................................

17

  • 2.2. Kebijakan PLB dan KITE

.............................................................................

20

  • 2.2.1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 85 Tahun 2015 tentang Tempat Penimbunan

Berikat....................................................

20

  • 2.2.2. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 272/PMK.4/2015 tentang Pusat Logistik Berikat

..............................................................

21

  • 2.2.3. Peraturan Menteri Perdagangan No. 64/M-DAG/PER/9/2016 Tentang Ketentuan Pemasukan dan Pengeluaran Barang Asal Luar Daerah Pabean ke dan dari Pusat Logistik Berikat

...........................................

24

  • 2.2.4. Peraturan Menteri Keuangan No. 177/PMK.04/2016 Tentang Pembebasan Bea Masuk dan Tidak Dipungut Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Impor Barang dan/atau Bahan, dan/atau Mesin Yang Dilakukan Oleh Industri Kecil dan Menengah dengan Tujuan Ekspor

........................................................

24

2.2.5.

Perdirjen Bea Cukai No.1 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pusat

 

Logistik Berikat

 

26

2.2.6.

Perdirjen Bea Cukai No.2 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean untuk Ditimbun di

 

Pusat Logistik Berikat

 

28

2.2.7.

Perdirjen Bea Cukai No.3 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pengeluaran Barang Impor dari Pusat Logistik Berikat untuk Diimpor

 

untuk Dipakai

 

30

2.2.8.

Peraturan Direktorat Jenderal Bea Dan Cukai Nomor PER-10/BC/2017

 

Tentang Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan

 

Dari PLB Dalam Rangka Ekspor atau

31

2.3.

Tinjauan

Konseptual

32

2.3.1.

Gudang Berikat (Bonded Warehouses)

32

2.3.2.

Biaya

Logistik

36

2.4.

Penelitian

Terdahulu

38

BAB III METODE

PENGKAJIAN

40

3.1.

Metode analisis dan data

.............................................................................

40

3.1.1.

Perhitungan biaya dan waktu logistik

41

3.1.2.

Statistika Deskriptif

 

44

3.1.3.

Analisis Gap

45

3.2.

Desain Sampling

46

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

48

4.1.

Lokasi Survey dan Responden

48

4.1.1.

Bekasi dan Cikarang

............................................................................

48

4.1.2.

Bandung dan Karawang

53

4.1.3.

Banten

 

57

4.1.4.

Bali

61

4.1.5.

Kalimantan Timur

 

67

4.1.6.

DKI

 

71

4.2.

Hasil Survei Deskriptif

 

78

4.3.

Analisis Perkembangan Pemanfaatan PLB

84

4.4.

Hambatan Pelaksanaan PLB

......................................................................

89

4.4.1.

Belum ada peraturan terkait ekspor barang dari PLB

89

 

4.4.2.

Infrastruktur di sekitar pelabuhan dan PLB belum optimal

90

4.4.3.

Izin atau rekomendasi dari instansi terkait yang dibutuhkan terkait impor

barang membutuhkan

waktu yang cukup lama

90

4.4.4.

Biaya survey yang tetap tinggi

90

4.4.5.

Keberadaan Pusat Logistik Berikat belum merata di seluruh wilayah indonesia

..............................................................................................

91

4.4.6.

Hambatan persyaratan administrasi

91

4.4.7.

Untuk memasukkan klien ke surat keputusan perusahaan PLB

membutuhkan waktu yang lama

92

4.5.

Studi Kasus PLB

92

4.5.1.

Industri yang telah mendapatkan fasilitas jalur hijau dan menerapkan

metode Just In Time

93

4.5.2.

Penyelenggara PLB yang menggunakan gudang pengguna

PLB

93

4.5.3.

Importasi Bahan Baku setengah jadi yang dapat merugikan industri

dalam negeri

.........................................................................................

94

4.5.4.

Hambatan bagi IKM dalam memanfaatkan fasilitas PLB

94

4.5.5.

Biaya Surveyor

Tidak Berkurang

95

4.6.

Analisis Efisiensi Biaya dan Waktu Logistik

96

4.6.1.

Efisiensi

Waktu Logsitik

99

4.6.2.

Efisiensi

Biaya Logistik

100

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

102

5.1.

KESIMPULAN

102

5.2.

REKOMENDASI

Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA

106

LAMPIRAN

108

Lampiran 1. Kuesioner Survei

109

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Perbedaan Gudang Berikat dengan PLB ...............................................17 Tabel 2.2. Beberapa Dokumen Pemberitahuan Pabean Terkait PLB ......................19 Tabel 2.3. Perbandingan penyelenggaraan PLB dengan Gudang Berikat di beberapa negara ...................................................................................33 Tabel 2.4. Model biaya logistik di beberapa negara ................................................36 Tabel 3.1. Kerangka Kajian Evaluasi Manfaat PLB .................................................41 Tabel 3.2. Perhitungan Biaya Logistik Nasional Dengan Model

World Bank (2013) .................................................................................41 Tabel 3.3. Perhitungan Biaya Logistik Untuk Industri Nasional ...............................42 Tabel 3.4. Perhitungan Waktu Logistik Untuk Industri Nasional ..............................43 Tabel 4.1 PLB/PDPLB di Wilayah Bekasi dan Cikarang .........................................51 Tabel 4.2 Responden yang ditemui di Wilayah Bekasi dan Cikarang ......................51 Tabel 4.3 PLB/PDPLB di Wilayah Bandung dan Karawang ....................................54 Tabel 4.4 Responden Yang di Temui Di Wilayah Bandung dan Karawang .............55 Tabel 4.5 Responden Yang di Temui Di Wilayah Banten ........................................59 Tabel 4.6 Responden yang ditemui di Banten.........................................................61 Tabel 4.7 Responden Yang Ditemui di Provinsi Bali ...............................................63 Tabel 4.8 Responden yang ditemui di Balikpapan ..................................................69 Tabel 4.9 PLB/PDPLB di Wilayah DKI Jakarta ........................................................73

Tabel

4.10 Responden yang ditemui di Wilayah DKI Jakarta ..................................74

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Skema Pemasukan dan Pengeluaran Barang di PLB ........................19 Gambar 3.1. Kerangka Kajian Evauasi Manfaat PLB ..............................................40 Gambar 3.2 Contoh Statistika Deskriptif .................................................................44 Gambar 3.3 Model Analisis Kesenjangan ...............................................................45 Gambar 4.1 Peta Sebaran Lokasi PLB/PDPLB .......................................................48 Gambar 4.2 Kontribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha ................................................................................49 Gambar 4.3 Kontribusi Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015 dalam Persen ..................................................................50 Gambar 4.4 Pertumbuhan Produksi IKM Bali dan Nasional Q IV 2016 dan Q1-2017 secara periode Q-to-Q (%) ...................................................62 Gambar 4.5 Gambar 4.1b. Pertumbuhan Produksi IKM Bali dan Nasional Q I 2016 dan Q I-2017 secara periode Y-to-Y (%) ............................62 Gambar 4.6 Kontribusi PDRB Menurut Lapangan Usaha di Provinsi DKI Jakarta ...72 Gambar 4.7 Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja 10 Besar Industri di DKI Jakarta Tahun 2014 ............................................................................72

DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN

Singkatan

Nama

Pemakaian Pertama Kali Pada Halaman

PLB

Pusat Logistik Berikat

ii

BLC

Bonded Logistic Center

ii

BPS

Badan Pusat Statistik

9

L/C

Letter of Credit

9

ASEAN

Association of Southeast Asian Nations

9

IKM

Industri Kecil dan Menengah

10

PDB

Pendapatan Domestik Bruto

10

PDSI

Pusat Data dan Sistem Informasi

10

SCM

Supply Chain Management

11

LDP

Luar Daerah Pabean

11

TPB

Tempat Penimbunan Berikat

11

KEK

Kawasan Ekonomi Khusus

11

TLDDP

Tempat Lain Dalam Daerah Pabean

11

PDPLB

 

11

KITE

Pengusaha di Dalam Pusat Logistik Berikat Kemudahan Impor Tujuan Ekspor

12

SKA

 

17

PPN

Surat Keterangan Asal Pajak Pertambahan Nilai

17

DJBC

Direktorat Jendral Bea dan Cukai

20

PDRI

Pajak Dalam Rangka Impor

21

PPnBM

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah

23

LS

Laporan Surveyor

23

SPPB

 

28

SP4

Surat Persetujuan Pengeluaran Barang Surat Pemberitahuan Pengawasan

28

SKP

Pembongkaran dan Penimbunan Sistem Komputer Pelayanan Pabean

28

HS

Harmonized System

29

CIF

Cost Insurance Freight

29

NDPBM

Nilai Dasar Pengenaan Bea Masuk

29

INSW

Indonesia National Single Window

30

GB

 

31

SPPBET

Gudang Berikat Surat Persetujuan Pengeluaran Barang Ekspor dan/ atau Transhipment

31

VAT

Value Added Tax

34

KOTI

Korea Transport Institute

35

CSIR

Council for Scientific and Industrial Research

35

KPPBC

Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai

46

PPLBI

Perkumpulan Pusat Logistik Berikat Indonesia

46

PDRB

 

48

TPT

Produk Domestik Regional Bruto Industri tekstil dan produk tekstil

51

e-DO

electronic Delivery Order

51

JIT

Just In Time

54

SOP

Standar Operasional Prosedur

54

TPS

Tempat Penimbunan Sementara

55

SKEP

Salinan Keputusan

72

WMS

Warehouse Management System

74

ALI

Asosiasi Logistik Indonesia

77

  • 1.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN

Tingkat ketergantungan industri nasional terhadap impor bahan baku dan penolong yang masih tinggi membuat industri nasional rentan dengan gejolak ekonomi global. Secara umum berdasarkan data BPS tahun 2014, tingkat impor bahan baku dan bahan penolong mencapai 76,8 persen. Jika diperinci lebih lanjut untuk bahan baku industri makanan-minuman, impor gula mentah dan terigu mencapai 100 persen, sedangkan impor kedelai, susu, dan basis sayur/buah sekitar 70 persen, bahkan bahan kemasan plastik dan kaleng lebih dari 50 persen mengandalkan impor. Selain itu kesulitan impor juga dialami industri nasional karena harus transaksi dengan pemasok di pasar global, di mana pemesanan/kontrak barang, pengiriman, proses perdagangan, bea cukai, dan lain-lain membutuhkan waktu minimal 3-4 bulan sampai barang tiba di Indonesia. Hal Ini berakibat biaya tinggi, termasuk bunga pinjaman bank yang dihitung sejak L/C dibuka atau bahkan sebagian harus membayar di muka. Apalagi bunga bank di Indonesia nomor dua tertinggi di ASEAN setelah Myanmar. Rata-rata bunga bank di ASEAN adalah 4-8 persen, sedangkan bunga bank di Indonesia mencapai 13 persen. Alur distribusi barang impor yang menuju ke Indonesia dan negara- negara kawasan Asia Tenggara lainnya akan melewati Singapura atau Malaysia. Untuk memenuhi permintaan barang di kawasan Asia Tenggara, para trader biasa menyimpan atau menimbun barang di gudang penimbunan yang berlokasi Malaysia atau SIngapura dimana terdapat ketentuan bahwa trader boleh memasukan barang bebas bea masuk bukan untuk keperluan impor namun hanya sebagai gudang internasional 1 .Selanjutnya pelaku industri atau importir di Indonesia akan mengambil barang tersebut sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam proses produksi atau didistribusikan di dalam negeri setelah dikenakan bea masuk dan pajak impor. Proses tersebut sudah berlangsung lama dan sekilas tidak menjadi masalah, namun jika dicermati lebih lanjut, sebenarnya Indonesia bisa mendapatkan efisiensi logistik yang lebih besar jika gudang penimbunan tersebut bisa ditarik ke wilayah Indonesia yang dekat dengan industri pengguna. Dengan gudang bahan baku yang dekat, pelaku industri tidak perlu menyimpan

  • 1 http://finance.detik.com/industri/3032953/gudang-kapas-di-malaysia-akan-dipindah-ke-ri-pengusaha-

senang

bahan baku dalam jumlah yang relatif besar dan waktu yang relatif lama karena sudah tersedia di gudang trader yang berstatus gudang internasional seperti di Malaysia atau singapura. Di sisi lain Indonesia mempunyai sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang cukup berkontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja dengan kinerja ekspor yang masih rendah. Data dari Kemenperin dan BPS menunjukkan bahwa selama tahun 2015 IKM memberikan kontribusi kepada PDB sekitar 34,82 persen (setara Rp 232 triliun), dengan total lapangan kerja sekitar 97,16 persen (setara 107.657.509 orang). Namun demikian berdasarkan data Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) Kementerian Perdagangan, nilai ekspor tanah air tahun 2016 mencapai USD 13,8 miliar, sedangkan yang berasal dari sektor non-migas sebesar USD 12,5 miliar. Sementara itu, pelaku IKM hanya berkontribusi sekitar

  • 16 persen dari nilai ekspor non-migas, atau sekitar USD 2 miliar. Ekspor

yang dilakukan IKM selama ini dirasa belum optimal karena IKM menghadapi kendala baik internal maupun eksternal. Kendala eksternal yang dihadapinya antara lain adalah ketidakstabilan suplai dan harga bahan baku. IKM masih sulit untuk mendapatkan bahan baku yang dibutuhkan terutama yang belum tersedia di dalam negeri, serta

keterbatasan akses pasar terutama ekspor. Untuk mengatasi permasalahan di atas pemerintah menerbitkan kebijakan tentang insentif dalam pengembangan kawasan Pusat Logistik Berikat (PLB) pada akhir September 2015. Kebijakan ini merupakan

bagian dari paket kebijakan ekonomi tahap ke-2 atau yang dikenal dengan Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi jilid 2 yang diluncurkan tanggal

  • 29 September 2015. Esensi dari kebijakan ini yaitu menciptakan gudang

penimbunan di dalam negeri untuk barang impor terutama bahan baku dan bahan penolong yang berlokasi di kawasan dekat dengan industri dengan insentif penundaan bea masuk dan pajak sampai dengan 3 tahun serta belum diberlakukan ketentuan pembatasan saat pemasukan barang. Dengan demikian bahan baku dan barang penolong yang ditimbun di PLB mempunyai keistimewaan dimana secara de facto barang tersebut sudah berada di dalam negeri dan dekat dengan industri pengguna, namun secara de jure barang tersebut masih berstatus barang negara asal yang belum dikenai kewajiban bea masuk, cukai dan pajak serta belum dikenai ketentuan pembatasan di bidang impor. Dengan pusat logistik berikat pemerintah berharap dapat mengefisienkan sektor logistik dan dapat mengambil peran sebagai hub- logistik untuk kawasan Asia Tenggara. Dalam konsep supply chain management (SCM), strategi

penundaan (postponement strategy) merupakan salah satu strategi yang

memberikan dampak yang nyata terhadap terhadap keunggulan kompetitif perusahaan dan performa organisasi (Cheng, Li, Wan, & Wang, 2010). Dengan fasilitas penundaan pengenaan bea masuk, cukai dan/atau pajak, pengusaha PLB bisa menyimpan bahan baku atau barang penolong secara lebih dekat dengan industri pengguna di dalam negeri dan lebih murah karena bea masuk, cukai dan/atau pajak belum dipungut. Dari sisi industri pengguna, lokasi pasokan bahan baku yang lebih dekat ke sisi hilir akan menyederhanakan perencanaan produksi, memperkecil lead time pemesanan dan pada akhirnya akan mengurangi biaya simpan (holding cost) karena stok bahan baku bisa diturunkan jumlahnya. Selain fasilitas penundaan bea masuk dan pajak, PLB juga diberikan fleksibilitas dalam hal pemasukan dan pengeluaran barang. Barang yang akan ditimbun di PLB bukan hanya bisa berasal dari impor (luar daerah pabean /LDP) saja, namun bisa juga berasal dari Tempat Penimbunan Berikat (TPB) lain, PLB di lokasi lain (satu izin), kawasan bebas, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan dari dalam negeri (tempat lain dalam daerah pabean/TLDDP). Demikian pula barang yang dikeluarkan dari PLB bukan hanya bisa dikeluarkan untuk diimpor untuk dipakai di dalam negeri (TLDDP) tapi bisa diteruskan ke TPB lain, PLB di lokasi lain (satu izin), kawasan bebas, kawasan ekonomi khusus (KEK) dan di ekspor ke negara lain (LDP). Kebijakan insentif PLB sejak pertama kali diluncurkan segera ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan menerbitkan berbagai peraturan turunannya. Pada bulan November 2015 pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 85 Tahun 2015 tentang Tempat Penimbunan Berikat. Untuk mengatur secara lebih rinci pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 272/PMK.4/2015 tentang Pusat Logistik Berikat pada akhir bulan Desember 2015. Selanjutnya untuk mengatur tata laksana dan petunjuk teknis PLB, pemerintah mengeluarkan peraturan tatalaksana PLB yaitu Perdirjen Bea Cukai No.1 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pusat Logistik Berikat, Perdirjen Bea Cukai No.2 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean untuk Ditimbun di Pusat Logistik Berikat dan Perdirjen Bea Cukai No.3 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pengeluaran Barang Impor dari Pusat Logistik Berikat untuk Diimpor untuk Dipakai. Kemudian regulasi tersebut dilengkapi dengan dikeluarkannya Perdirjen Bea dan Cukai No. 10 Tahun 2017 Tentang Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan Dari Pusat Logistik Berikat Dalam Rangka Ekspor dan/atau Transhipment.

Selanjutnya pada bulan September 2016 Kementerian Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 64/M- DAG/PER/9/2016 Tentang Ketentuan Pemasukan dan Pengeluaran Barang Asal Luar Daerah Pabean ke dan dari Pusat Logistik Berikat. Permendag ini menegaskan bahwa semua jenis barang asal luar daerah dapat dimasukkan ke PLB dan barang tersebut diperlakukan sebagai barang yang belum dikenakan bea masuk dan pajak. Selain itu, dalam Permendag tersebut diatur bahwa barang asal luar negeri yang akan dimasukkan ke PLB dan akan diimpor untuk dipakai di dalam negeri wajib dilakukan verifikasi/ penelusuran teknis yang bisa dilakukan di PLB. Penerapan kebijakan PLB sudah dimulai sejak diresmikannya 11 perusahaan penyelenggara PLB pada tanggal 10 Maret 2016. Sampai dengan laporan ini ditulis sudah terdapat 34 pengusaha PLB dan PDPLB yang secara resmi telah beroperasi dengan fokus barang timbunan yang beragam, diantaranya barang pendukung industri migas dan pertambangan (rig, alat-alat berat, bahan peledak), bahan baku industri petrokimia (minyak dan bahan kimia), bahan baku industri tekstil (kapas), pendukung industri otomotif (sparepart), pendukung industri penerbangan (sparepart pesawat), pendukung industri consumer goods dan pendukung industri kecil menengah (IKM). Khusus untuk PLB pendukung IKM, pelaksanaannya akan didukung dengan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) IKM yang berupa insentif fiskal dan operasional terutama berupa pembebasan bea masuk untuk IKM yang produknya diekspor. Ketentuan mengenai fasilitas KITE IKM diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 177/PMK.04/2016 tertanggal 21 November 2016 Tentang Pembebasan Bea Masuk dan Tidak Dipungut Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Impor Barang dan/atau Bahan, dan/atau Mesin Yang Dilakukan Oleh Industri Kecil dan Menengah dengan Tujuan Ekspor.

  • 1.2. Rumusan masalah Pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan tentang pengembangan Pusat Logistik Berikat (PLB) yang mengatur secara detail mulai dari tataran konsep hingga petunjuk teknis pelaksanaan penimbunan barang di PLB berserta insentif fiskal maupun operasionalnya. Selain itu untuk menarik minat IKM memanfaatkan PLB dan mendorong ekspor IKM, pada bulan November 2016 pemerintah mengeluarkan fasilitas KITE IKM. Penerapan dari kebijakan-kebijakan tersebut perlu dievaluasi dan dimonitor agar sesuai dengan tujuan awalnya terutama yang berkaitan dengan efisiensi biaya logistik dan

peningkatan daya saing industri nasional dan ekspor. Berdasarkan hal ini, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • a. Bagaimana dampak PLB terhadap biaya logistik industri nasional?

  • b. Bagaimana dampak PLB terhadap waktu pasokan bahan baku bagi industri nasional?

  • 1.3. Tujuan Adapun tujuan dari kajian ini adalah :

    • a. Mengetahui sejauh mana manfaat PLB terhadap efisiensi biaya logistik industri nasional.

    • b. Mengetahui sejauh mana manfaat PLB terhadap efisiensi waktu pasokan bahan baku untuk kebutuhan industri nasional.

    • c. Merumuskan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadikan PLB lebih bermanfaat bagi industri nasional dalam mendukung peningkatan daya saing.

  • 1.4. Keluaran Adapun keluaran dari kajian ini adalah :

    • a. Hasil evaluasi manfaat PLB terhadap : Efisiensi biaya logistik industri nasional, khususnya penghematan biaya timbun. Efesiensi waktu pemenuhan pasokan bahan baku untuk kebutuhan industri nasional.

    • b. Rekomendasi kebijakan untuk PLB agar lebih bermanfaat bagi industri nasional dalam mendukung peningkatan daya saing.

  • 1.5. Manfaat Melalui pelaksanaan kajian ini diharapkan akan diperoleh keluaran kajian yang memberikan masukan positif bagi pengembangan kebijakan Pusat Logistik Berikat terutama pengaruhnya terhadap efisiensi biaya logistik dan daya saing industri nasional, khususnya:

    • a. Sebagai bahan referensi untuk menilai kinerja PLB yang ada saat ini

    • b. Sebagai bahan referensi untuk melakukan peningkatan kualitas PLB yang ada

    • c. Sebagai bahan referensi untuk menentukan barang yang perlu disediakan oleh PLB untuk kelancaran pasokan barang yang dibutuhan oleh industri nasional agar tercipta logistik yang efisien

  • 1.6.

    Ruang lingkup

    Kajian ini akan dibatasi pada aspek sebagai berikut:

    • a. Objek kajian adalah perusahaan:

      • - Perusahaan pengguna PLB

      • - Pengusaha PLB

      • - Pengusaha di Dalam Pusat Logistik Berikat (PDPLB)

  • b. Produk yang dikaji adalah produk yang ditimbun di PLB.

  • c. Aspek daya saing yang dikaji adalah biaya dan waktu sebelum dan sesudah menggunakan PLB.

    • 1.7. Sistematika laporan

    Laporan kajian rencananya akan disusun dalam 5 (lima) Bab, yaitu:

    Bab I. Pendahuluan

    Pada bab ini dibahas mengenai Latar Belakang yang menjelaskan permasalahan dan alasan pelaksanaan kajian, Tujuan, Keluaran, Manfaat, dan Ruang Lingkup kajian.

    Bab II. Tinjauan Pustaka

    Pada bab ini dibahas tinjauan literatur mengenai perkembangan kebijakan yang terkait dengan PLB serta potensi implikasinya terhadap industri nasional. Pada bagian ini juga akan ditelaah hasil penelitian terdahulu mengenai metodologi yang terkait dengan kajian yang dilanjutkan dengan penyusunan kerangka berpikir yang berisi uraian sistematis tentang teori dan hasil pengkajian yang relevan.

    Bab III. Metode Pengkajian

    Metode pengkajian menjelaskan metode analisis yang digunakan,

    sumber data dan teknik pengumpulan data yang digunakan, dan sampel pada daerah penelitian. Metode yang digunakan adalah metode simulasi dan proyeksi yang akan membandingkan daya saing dan kinerja perusahaan sebelum dan sesudah penerapan PLB

    Bab IV. Analisis dan Pembahasan.

    Dalam bab ini diberikan analisis terhadap data dan hasil dari pengolahan data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Analisis ini dilakukan untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya.

    Bab V. Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

    Pada bab ini dituliskan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data

    dan analisis yang telah dilakukan sebelumnya disertai dengan rekomendasi yang diharapkan akan berguna bagi perbaikan

    implementasi

    kebijakan

    PLB

    serta

    saran-saran

    untuk

    penelitian

    selanjutnya.

    • 2. BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

    • 2.1. Konsep Pusat Logistik Berikat (PLB) PLB merupakan salah satu bentuk Tempat Penimbunan Berikat (TPB) yang dikembangkan dan diperluas fungsinya. Dalam PP No. 85 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas PP No. 32 Tahun 2009 Tentang Tempat Penimbunan Berikat, TPB didefinisikan sebagai bangunan tempat atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang digunakan untuk menimbun barang dengan tujuan tertentu dengan mendapatkan penangguhan bea masuk. Menurut Supomo (2016) Definisi PLB adalah Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang asal luar daerah pabean dan/atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean, dapat disertai 1 (satu) atau lebih kegiatan sederhana dalam jangka waktu tertentu untuk dikeluarkan kembali. Sebelum kebijakan insentif PLB diluncurkan, sudah ada jenis TPB lainnya yang juga mendapat fasilitas penundaan bea masuk dan pajak sebagaimana diatur dalam PP No.85 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas PP No. 32 Tahun 2009 Tentang Tempat Penimbunan Berikat yaitu: Gudang Berikat, Kawasan Berikat, Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat, Toko Bebas Bea, Tempat Lelang Berikat, dan Kawasan Daur Ulang Berikat. Pusat Logistik Berikat merupakan perluasan fungsi dari Gudang Berikat. Pada Tabel 2.1. ditunjukkan beberapa perbedaan antara Gudang Berikat dengan Pusat Logistik Berikat.

    Tabel 2.1. Perbedaan Gudang Berikat dengan PLB

    No.

    Konsep

    Gudang Berikat

    Pusat Logistik Berikat

     
    • 1. Definisi

    Tempat Penimbunan Berikat (TPB) untuk menimbun barang impor, dapat disertai 1 (satu) atau lebih kegiatan sederhana dalam jangka waktu tertentu untuk dikeluarkan keembali

    TPB untuk menimbun barang asal luar daerah pabean dan/atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean, dapat disertai 1 (satu) atau lebih kegiatan sederhana dalam jangka waktu tertentu untuk dikeluarkan kembali.

     
    • 2. Kepemilikan

    Kepemilikan sendiri

    Kepemilikan sendiri,

    barang

    konsinyasi, atau titipan.

     
    • 3. Masa timbun

    1 tahun

    3 tahun

     
    • 4. Nilai pabean

    Untuk menghitung bea masuk, digunakan nilai pabean saat pemasukan

    Untuk menghitung bea masuk, digunakan nilai pabean saat pengeluaran

     
    • 5. Surat

    Diterima dan satu kali

    Diterima dan bisa

    Keterangan

    pengeluaran

    pengeluaran parsial

    Asal (SKA)

     
    • 6. Pengenaan

    Bea masuk, pajak impor

    Bea masuk dan pajak

    fiskal saat

    dan PPN penyerahan lokal

    impor

    pengeluaran

     
    • 7. Jangka waktu

    Penyelenggara s.d 5

    Seumur hidup, sampai

    izin

    tahun; pengusaha s.d 3 tahun

    dicabut

    Sumber: Supomo (2016)

    Selain fasilitas penundaan bea masuk dan pajak, PLB juga diberikan fleksibilitas dalam hal pemasukan dan pengeluaran barang (one to many, many to one, many to many) sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2.1. Barang yang akan ditimbun di PLB bukan hanya bisa berasal dari impor (luar daerah pabean /LDP), namun bisa juga berasal dari TPB lain, PLB di lokasi lain (satu izin), kawasan bebas, kawasan ekonomi khusus (KEK) dan dari dalam negeri (tempat lain dalam daerah pabean/TLDDP). Demikian pula barang yang dikeluarkan dari PLB bukan hanya bisa dikeluarkan untuk diimpor untuk di pakai di dalam negeri (TLDDP) tapi bisa diteruskan ke TPB lain, PLB di lokasi lain (satu izin), kawasan bebas, kawasan ekonomi khusus (KEK) dan di ekspor ke negara lain (LDP). Adapun keterangan mengenai dokumen pemberitahuan pabean dari setiap pemindahan barang pada Gambar 2.1 bisa dilihat pada Tabel 2.2.

    Sumber: DJBC, 2017 Gambar 2.1. Skema Pemasukan dan Pengeluaran Barang di PLB Tabel2.2. Beberapa Dokumen Pemberitahuan

    Sumber: DJBC, 2017

    Gambar 2.1. Skema Pemasukan dan Pengeluaran Barang di PLB

    Tabel2.2. Beberapa Dokumen Pemberitahuan Pabean Terkait PLB

    Kode

    Keterangan

    Formulir

    BC 1.1

    Inward manifest/ manifes yang memuat daftar muatan barang niaga

    BC 1.6

    yang diangkut oleh sarana pengangkut saat memasuki kawasan pabean. Pemberitahuan pabean pemasukan barang impor untuk ditimbun di

    BC 2.0

    PLB PIB (Pemberitahuan Impor Barang)/ Pemberitahuan pabean untuk

    BC 2.7

    pengeluaran barang yang diimpor untuk dipakai Pemberitahuan Pengeluaran Barang untuk Diangkut dari TPB ke TPB

    BC 2.8

    lainnya PIB PLB/ Pemberitahuan pabean untuk pengeluaran barang dari PLB

    BC 3.0

    untuk diimpor untuk dipakai/ diimpor sementara PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang)

    BC 3.3

    Pemberitahuan Ekspor Barang atau Transhipment Melalui atau Dari

    BC 4.0

    PLB Pemberitahuan pemasukan barang asal tempat lain dalam daerah

    BC 4.1

    pabean ketempat penimbunan berikat. Pemberitahuan Pengeluaran Kembali Barang Asal Tempat Lain

    Dalam Daerah Pabean dari Tempat Penimbunan Berikat PPB PLB Pemberitahuan Pabean pengeluaran barang dari PLB di satu lokasi ke PLB di lokasi lain yang masih satu izin pengusahaan.

    PP-FTZ

    Pemberitahuan Pabean untuk pemasukan dan pengeluaran barang ke

    • 02 dan dari Kawasan Bebas dari dan ke Tempat Penimbunan Berikat, Kawasan Bebas lainnya, dan Kawasan Ekonomi Khusus

    (Harahap, 2010, dengan perubahan)

    Dari sisi pelaksana PLB, pelaku usaha PLB berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi Penyelenggara PLB, Pengusaha PLB dan Pengusaha di Dalam PLB (PDPLB). Penyelenggara PLB adalah badan hukum yang melakukan kegiatan menyediakan dan mengelola kawasan untuk kegiatan pengusahaan PLB. Jika kegiatan pengusahaan PLB tersebut dilakukan oleh entitas yang sama dengan penyelenggara PLB maka entitas tersebut disebut Pengusaha PLB. Jika kegiatan pengusahaan PLB tersebut dilakukan oleh entitas yang berbeda dengan penyelenggara PLB, maka entitas tersebut disebut PDPLB. Pengusaha PLB dan PDPLB sama-sama merupakan pengusaha penimbunan berikat, namun bedanya PDPLB melakukan kegiatan pengusahaan penimbunan berikat di dalam PLB perusahaan lainnya. Kebijakan insentif PLB direspon dengan antusias oleh para stakeholder baik oleh kementerian dan lembaga selaku pembuat regulasi pendukung maupun oleh pelaku usaha selaku penerima manfaat kebijakan ini. Sampai dengan laporan ini ditulis, telah terdapat 34 PLB dan PDPLB yang sudah diresmikan dan diprediksi akan terus bertambah mengingat besarnya animo pelaku usaha terhadap kebijakan ini.

    • 2.2. Kebijakan PLB dan KITE Pada akhir bulan September 2015, pemerintah melakukan terobosan baru di bidang logistik yaitu dengan memberikan insentif dalam pengembangan kawasan PLB. Kebijakan ini merupakan bagian dari paket kebijakan ekonomi tahap ke-2 atau yang dikenal dengan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 2 yang diluncurkan tanggal 29 September 2015. Dengan meluncurkan kebijakan ini, pemerintah berharap dapat mengefisienkan sektor logistik dan dapat mengambil peran sebagai hub- logistik untuk kawasan Asia Tenggara. Kebijakan ini cukup cepat ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan mengeluarkan beberapa peraturan yang akan dijelaskan berikut ini.

      • 2.2.1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 85 Tahun 2015 tentang Tempat Penimbunan Berikat Seiring dengan berkembangnya praktik-praktik perdagangan internasional, Indonesia perlu lebih mengembangkan Tempat Penimbunan Berikat. Hal ini bertujuan untuk mendukung distribusi logistik yang murah dan efisien, serta mendukung pertumbuhan industri dalam negeri sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai

    pusat distribusi logistik nasional dan/atau internasional. Tempat Penimbunan Berikat adalah kawasan pabean berupa bangunan, tempat, atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang digunakan untuk menimbun barang dengan tujuan tertentu dengan mendapatkan penangguhan bea masuk dan sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menurut PP No. 85 Tahun 2015, tempat penimbunan berikat dapat berbentuk Gudang Berikat, Kawasan Berikat, Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat, Toko Bebas Bea, Tempat Lelang Berikat, Kawasan Daur Ulang Berikat, Pusat Logistik Berikat (PLB). Barang yang dapat dimasukan dalam tempat penimbunan berikat adalah barang yang berasal dari luar daerah pabean (diberikan penangguhan bea masuk dan pembebasan cukai serta pajak dalam rangka impor), Tempat Penimbunan Berikat lainnya, tempat lain dalam daerah pabean (dalam negeri), Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Bebas, Kawasan Ekonomi lainnya yang ditetapkan pemerintah sesuai ketentuan perundang-undangan. Sedangkan untuk barang yang berasal dari tempat penimbunan berikat dapat dikeluarkan ke luar daerah pabean (berlaku ketentuan ekspor), tempat penimbunan berikat lainnya, tempat lain dalam daerah pabean (berlaku ketentuan impor) dengan menggunakan pemberitahuan pabean impor dan faktur pajak, Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Bebas, dan Kawasan Ekonomi lainnya yang ditetapkan pemerintah sesuai ketentuan perundang-undangan. Salah satu tempat penimbunan berikat yang dibahas di PP No. 85 Tahun 2015 adalah Pusat Logistik Berikat (PLB) melakukan kegiatan menyediakan dan mengelola kawasan untuk kegiatan pengusahaan Pusat Logistik Berikat. Pengusaha PLB dan Pengusaha di PLB melakukan kegiatan menimbun barang impor dan/atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean dalam jangka waktu tertentu. Pemberian izin Penyelenggara Pusat Logistik Berikat (PLB), Pengusaha PLB dan Pengusaha di dalam PLB (PDPLB) untuk jangka waktu tertentu di tetapkan dengan Keputusan Menteri.

    2.2.2.

    Peraturan

    Menteri

    Keuangan

    Republik

    Indonesia No.

    272/PMK.4/2015 tentang Pusat Logistik Berikat

    Tahun 2015, pemerintah mulai mengembangkan Pusat Logistik Berikat (PLB) sebagai tempat penimbunan produk atau barang industri dan perdagangan di Indonesia, sehingga mampu menurunkan biaya logistik. Selama ini, lokasi penimbunan barang industri dan

    perdagangan berada di luar negeri 2 . Pusat Logistik Berikat (PLB) adalah tempat penimbunan berikat untuk menimbun barang asal luar daerah pabean dan/atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean, dapat disertai 1 (satu) atau lebih kegiatan sederhana dalam jangka waktu tertentu untuk dikeluarkan kembali. Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani, pemerintah mendorong pertumbuhan jumlah Pusat Logistik Berikat, peningkatan volume barang yang ditimbun di Pusat Logistik Berikat, pertumbuhan pemasok luar negeri yang menyimpan barang di Pusat Logistik Berikat, dan optimalisasi pencapaian tujuan Pusat Logistik Berikat sebagai hub logistik di Asia Pasifik. Pada Maret 2016, DJBC Kemenkeu telah meluncurkan fasilitas Pusat Logistik Berikat yang termasuk salah satu poin di paket kebijakan ekonomi jilid II. Fasilitas yang dinilai positif oleh Bank Dunia bertujuan mendukung distribusi logistik yang murah dan efisien, serta mendukung pertumbuhan industri dalam negeri, serta menjadikan Indonesia sebagai hub logistik Asia Pasifik 3 . Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, melakukan pengawasan terhadap PLB dengan cara pemeriksaan pabean dengan tetap menjamin kelancaran arus barang. Penyelenggara PLB, Pengusaha PLB dan/atau PD PLB dapat diberikan kemudahan pelayanan kepabeanan dan cukai berupa kemudahan pelayanan perizinan, kemudahan pelayanan kegiatan operasional, dan kemudahan kepabeanan dan cukai lainnya. Penyelenggara PLB yang berbadan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia dapat melakukan penyelenggaraan dan pengusahaan PLB. Penyelenggara PLB melakukan kegiatan menyediakan dan mengelola kawasan untuk kegiatan pengusahaan PLB. Dalam 1 (satu) penyelenggaraan PLB dapat dilakukan 1 (satu) atau lebih pengusahaan PLB. Pengusahaan PLB dilakukan oleh Pengusaha PLB dan/atau PDPLB. Penyelenggara PLB dan/atau Pengusaha PLB dapat memiliki lebih dari 1 (satu) lokasi penyelenggaraan dan/atau pengusahaan PLB dalam 1 (satu) izin penyelenggaraan dan/atau pengusahaan PLB. Dalam satu pengusahaan PLB yang diusahakan oleh pengusaha PLB atau PDPLB harus memiliki tujuan distribusi lebih dari 1 (satu) perusahaan, pemasok lebih dari 1 (satu) di luar daerah pabean, dan/atau tujuan distribusi barang ke luar daerah pabean.

    • 2 http://bisnis.liputan6.com/read/2321035/ri-impor-kapas-dari-rusia-dan-as-ditimbun-di-malaysia

    • 3 http://bisnis.liputan6.com/read/2629926/kenalkan-pusat-logistik-berikat-bea-cukai-gelar-jilse-2016

    Barang yang ditimbun dalam PLB diberikan waktu paling lama 3 (tiga) tahun, terhitung sejak tanggal pemasukan ke PLB dan dapat diperpanjang 3 (tiga) tahun apabila barang tersebut adalah untuk keperluan operasional minyak dan gas bumi, pertambangan, industri tertentu dan industri lainnya dengan izin kepala kantor pabean. Kegiatan penimbunan dalam PLB dapat disertai dengan 1 (satu) atau lebih kegiatan sederhana, seperti pengemasan, penyortiran, pelabelan, pemasangan, pemeriksaan, perawatan, lelang barang modal asal luar daerah perbatasan dan kegiatan sederhana lainnya yang dapat ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Apabila dalam kegiatan sederhana menghasilkan barang sisa (waste/scrap),

    barang sisa tersebut bisa dikeluarkan ke tempat lain dalam daerah pabean dengan dikenakan PDRI (berdasarkan harga jual) serta bea masuk sebesar 5 persen atau sesuai tarif yang berlaku apabila tarif bea masuk umum lebih rendah dari 5 persen. Pemasukan barang dari tempat lain dalam daerah pabean (dalam negeri) hanya dapat dilakukan terhadap barang untuk mendukung barang asal luar daerah pabean yang ditimbun di PLB, barang yang dibutuhkan dalam kegiatan sederhana dalam PLB, barang yang berasal dari perusahaan IKM, barang untuk tujuan ekspor dalam rangka konsolidasi ekspor atau penyediaan barang ekspor, barang untuk tujuan khusus di tempat lain dalam daerah pabean. Terhadap barang yang dimasukan ke dalam PLB wajib dilakukan pembongkaran dari peti kemas kecuali untuk barang cair, gas atau barang lain berdasarkan persetujuan kepala kantor pabean dengan mempertimbangkan profil resiko perusahaan. Barang asal luar daerah pabean (luar negeri) yang ditimbun di PLB dapat dikeluarkan untuk:

    • 1. Mendukung kegiatan industri di Kawasan Berikat, KEK, Kawasan Bebas, atau kawasan ekonomi lainnya yang ditetapkan pemerintah.

    • 2. Mendukung kegiatan industri di tempat lain dalam daerah pabean.

    • 3. Dimasukan ke TPB lainnya.

    • 4. Diekspor

    • 5. Mendukung kegiatan industri yang mendapat fasilitas pembebasan, keringanan dan/atau pengembalian bea masuk serta fasilitas bea masuk ditanggung pemerintah.

    • 6. Mendukung kegiatan distribusi dan ketersediaan barang- barang tertentu di dalam negeri.

    • 7. Mendukung kegiatan IKM di tempat lain dalam daerah Pabean.

    Barang asal tempat lain dalam daerah pabean dapat dikeluarkan untuk tujuan diekspor dan/atau tujuan khusus di tempat lain dalam daerah pabean. Pengeluaran barang dari PLB ke tempat lain dalam daerah pabean dikenakan bea masuk, cukai dan PDRI dengan ketentuan:

    • 1. Bea masuk berdasarkan nilai pabean, klasifikasi dan pembebanan yang berlaku pada saat barang impor dikeluarkan dari PLB;

    • 2. Cukai berdasarkan ketentuan cukai yang berlaku; dan/atau

    • 3. PDRI, berdasarkan :

      • a. Tarif pada saat Pemberitahuan Pabean Impor didaftarkan

      • b. Nilai impor yang berlaku pada saat barang impor dikeluarkan dari PLB, penjumlahan nilai pabean pada saat dikeluarkan dari dalam PLB ditambah bea masuk dan/atau cukai.

    Barang yang dimasukan ke dalam PLB diberikan fasilitas penangguhan bea masuk, pembebasan cukai serta tidak dipungut Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), PPN, dan PPnBM. Barang asal luar daerah pabean yang dikeluarkan dari PLB ke tempat lain dalam daerah pabean dengan tujuan diimpor untuk dipakai, harus dilunasi bea masuk, PDRI dan cukainya untuk barang yang kena cukai.

    • 2.2.3. Peraturan Menteri Perdagangan No. 64/M-DAG/PER/9/2016 Tentang Ketentuan Pemasukan dan Pengeluaran Barang Asal Luar Daerah Pabean ke dan dari Pusat Logistik Berikat Menurut Peraturan Menteri ini, semua jenis barang asal luar daerah dapat dimasukan ke dalam PLB oleh penyelenggara PLB, Pengusaha PLB, Pengusaha di PLB, Pemasok di luar daerah pabean, atau orang atau badan lain selain yang telah disebutkan. Terhadap barang asal luar daerah pabean yang masuk ke PLB diperlakukan sebagai barang yang masih berada di negara asal (belum dikenakan bea masuk dan pajak). Apabila barang asal daerah di luar pabean yang masuk ke PLB akan dikeluarkan dari PLB ke tempat lain di dalam pabean, wajib dilakukan verifikasi atau penelusuran teknis yang dapat dilakukan di PLB. Verifikasi atau penelusuran teknis tersebut dilakukan oleh surveyor yang telah ditetapkan oleh Menteri. Surveyor menerbitkan Laporan Surveyor (LS) sebagai hasil verifikasi atau penelusuran teknis yang dilakukan di PLB untuk digunakan sebagai dokumen pelengkap pabean.

    • 2.2.4. Peraturan Menteri Keuangan No. 177/PMK.04/2016 Tentang Pembebasan Bea Masuk dan Tidak Dipungut Pajak Pertambahan

    Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Impor Barang dan/atau Bahan, dan/atau Mesin Yang Dilakukan Oleh Industri Kecil dan Menengah dengan Tujuan Ekspor

    Pada Paket Kebijakan Ekonomi Tahun 2015 telah diamanatkan perubahan PMK No. 176/PMK.04/2013 yang mengatur tentang Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) untuk memberikan fasilitas

    fiskal dan prosedural bagi usaha kecil dan menengah. Selain itu adanya target melipat-tigakan ekspor pada tahun 2019 sehingga perlu ada peningkatan dan perluasan pasar ekspor, salah satunya dari sektor usaha kecil dan menengah karena kontribusi IKM terhadap perekonomian nasional mendominasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu 56,5 persen dari PDB, menyerap tenaga kerja 97,2 persen, dan berkontribusi sebanyak 16 persen dari ekspor nasional (Prawita, 2016). Oleh karena itu pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan No. 177/PMK.04/2016 yang intinya membahas mengenai KITE IKM. Peraturan ini menjabarkan mengenai impor dan/atau pemasukan yang dilakukan oleh IKM atau konsorsium KITE dapat diberikan fasilitas KITE IKM serta fasilitas pembebasan mesin. Fasilitas KITE IKM adalah berupa pembebasan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk barang dan/atau bahan untuk diolah, dirakit atau dipasang pada barang lain dengan tujuan ekspor dan/atau penyerahan produk IKM. Fasilitas pembebasan mesin adalah berupa pembebasan bea masuk, PPN dan PPnBM atas impor mesin yang ditujukan untuk pengembangan industri dan digunakan minimal 2 tahun untuk proses produksi. Konsorsium KITE dapat merupakan:

    • 1. Badan usaha yang dibentuk oleh gabungan IKM

    • 2. IKM yang ditunjuk oleh beberapa IKM dalam 1 (satu) sentra, atau

    • 3. Koperasi

    Barang dan/atau bahan, barang contoh dan/atau mesin untuk IKM dapat diimpor dan atau dimasukan dari luar daerah pabean, PLB, Gudang Berikat, Kawasan Berikat, Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat, Kawasan Bebas, KEK dan/atau Kawasan Ekonomi lainnya yang ditetapkan pemerintah. Berdasarkan persetujuan kepala kantor pabean, barang barang tersebut dapat diimpor langsung oleh IKM atau diimpor oleh Konsorsium KITE untuk didistribusikan kepada IKM. Atas pemasukan barang-barang di atas, diberikan fasilitas pembebasan bea masuk serta PPN dan PPnBM dalam rangka impor. Khusus untuk pemasukan barang impor dari PLB lain diberikan

    fasilitas tambahan berupa pembebasan PPN dan PPnBM atas penyerahan dalam negeri. Pendistribusian barang dan/atau bahan, barang contoh dan/atau mesin dari konsorsium KITE kepada IKM anggota konsorsium KITE tidak dikenakan PPN dan PPnBM dalam rangka impor serta PPN dan PPnBM atas penyerahan dalam negeri. Periode KITE IKM adalah paling lama 12 bulan kecuali apabila IKM memiliki masa produksi lebih dari 12 bulan serta dapat diperpanjang paling lama 3 bulan apabila terdapat penundaan atau pembatalan ekspor/penyerahan produksi IKM dari pembeli. IKM dan konsorsium KITE harus menyerahkan jaminan kepada Dirjen Bea dan Cukai atas pemasukan barang dengan fasilitas KITE IKM paling sedikit sebesar bea masuk serta PPN dan PPnBM kecuali nilainya masih dibawah Rp. 350 Juta (industri kecil) atau Rp. 1 miliar (industri menengah). IKM dan konsorsium KITE wajib mengekspor dan/atau melakukan penyerahan seluruh hasil produksi IKM, jika tidak maka IKM dan konsorsium KITE wajib melunasi bea masuk, sanksi PPN dan PPnBM serta sanksi administrasi berupa denda. IKM dan Konsorsium KITE wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban dan/ atau bahan yang dikenakan fasilitas KITE IKM. Kepala Kantor Pabean atau Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk melakukan monitoring dan evaluasi secara periodik dan sewaktu-waktu berdasarkan manajemen resiko.

    2.2.5.

    Perdirjen Bea Cukai No.1 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pusat Logistik Berikat

    Menurut R. Budi Setiawan Senior Consultant of Supply Chain Indonesia, pusat logistik berikat merupakan paket kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk mendukung industri agar lebih efisien dan menurunkan biaya logistik karena berkaitan dengan kegiatan ekonomi/industri. Dengan adanya pusat logistik berikat, maka perusahaan manufaktur tidak perlu impor dan tidak perlu mengambil barang dari luar negeri karena cukup mengambil dari PLB (Setiawan & Sangian, 2016). Perdirjen Bea Cukai No.1 Tahun 2016 menjelaskan lebih detail mengenai PLB. PLB merupakan Kawasan Pabean dan sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Penyelenggara PLB, pengusaha PLB dan PDPLB dapat diberikan kemudahan pelayanan kepabeanan dan cukai berupa kemudahan pelayanan perizinan, kegiatan operasional serta kepabeanan dan cukai.

    Untuk mendapatkan penetapan tempat sebagai PLB, izin Penyelenggara PLB, izin Pengusaha PLB dan izin PDPLB, pihak pemohon harus mengajukan permohonan kepada Direktur Fasilitas Kepabeanan melalui Kepala Kantor Pabean yang mengawasi dengan melengkapi dan memenuhi dokumen serta persyaratan yang ditentukan. Kepala Kantor Pabean wajib mengirimkan berkas permohonan yang telah lengkap kepada Direktur Fasilitas Kepabeanan dalam jangka waktu paling lama 15 (lima belas) hari sejak permohonan diterima. Direktur Fasilitas Kepabeanan atas nama Menteri memberikan persetujuan atau penolakan atas permohonan dalam jangka waktu 10 hari kerja sejak softcopy berkas permohonan

    diterima dari Kepala Kantor Pabean. Perpindahan barang ke PLB harus disertai dengan pemasangan tanda pengaman elektronik, kecuali apabila pemasangan tanda tidak dapat dilakukan. Pemasukan barang asal luar daerah pabean ke PLB dilakukan dengan menggunakan dokumen Pemberitahuan Pabean Pengeluaran Barang Dari Kawasan Pabean Untuk Ditimbun di PLB oleh penyelenggara PLB (khusus untuk keperluan pengusahaan PLB), Pengusaha PLB, PDPLB, atau Penyelenggara Pos. Pemasukan barang dari PLB lain atau dari TPB lain ke PLB dilakukan dengan menggunakan dokumen pemberitahuan pengeluaran barang untuk diangkut dari Tempat Penimbunan Berikat ke Tempat Penimbunan Berikat lainnya. Apabila barang dipindahkan ke PLB yang masih dalam 1 (satu) izin PLB maka dokumen yang digunakan adalah dokumen pemberitahuan perpindahan barang antar tempat penimbunan dalam satu PLB. Pemasukan barang dari tempat lain dalam daerah pabean ke PLB hanya dapat dilakukan terhadap:

    • 1. Barang untuk mendukung barang asal luar daerah pabean yang ditimbun di PLB.

    • 2. Barang yang dibutuhkan untuk kegiatan sederhana dalam PLB.

    • 3. Barang untuk tujuan ekspor dalam rangka konsolidasi ekspor atau penyediaan barang ekspor.

    • 4. Barang untuk tujuan khusus di tempat lain dalam daerah pabean.

    Pemasukan barang dari tempat lain dalam daerah pabean ke PLB dilakukan dengan dokumen pemberitahuan pemasukan barang asal tempat lain dalam daerah pabean ke TPB. Untuk Pemasukan barang dari tempat lain dalam daerah pabean ke PLB dengan tujuan ekspor, pemenuhan ketentuan ekspor dapat diselesaikan pada saat pemasukan barang ke PLB dan dengan menggunakan dokumen pemberitahuan pabean pemasukan barang asal tempat lain dalam daerah pabean ke PLB dengan tujuan ekspor. Pemasukan barang dari Kawasan Bebas ke PLB dilakukan dengan menggunakan dokumen

    pemberitahuan pabean pengeluaran barang dari kawasan bebas ke TPB. Barang tersebut harus sampai ke PLB dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak barang dikeluarkan dari kawasan bebas. Sedangkan pengeluaran barang asal luar daerah pabean dari PLB untuk mendukung industri di kawasan bebas hanya dapat ditujukan kepada pengusaha yang telah mendapat izin usaha industri atau sejenisnya dari Badan Pengusahaan Kawasan Bebas dan diberitahukan dengan dokumen pemberitahuan impor barang dari PLB. Barang tersebut harus sampai ke Kawasan Bebas dalam jangka waktu 30 hari sejak barang dikeluarkan dari PLB. Pengeluaran barang asal luar daerah pabean dari PLB ke tempat lain dalam daerah pabean dilakukan dengan menggunakan dokumen pemberitahuan impor barang dari PLB. Atas pengeluaran barang tersebut dilakukan pemeriksaan pabean dan berlaku ketentuan kepabeanan di bidang impor. Pengeluaran barang dari PLB ke luar daerah pabean dilakukan dengan menggunakan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang yang diajukan oleh Penyelenggara PLB, Pengusaha PLB dan PDPLB. Atas pengeluaran barang tersebut berlaku ketentuan kepabeanan di bidang ekspor. Pengeluaran barang asal tempat lain dalam daerah pabean dari PLB ke tempat lain dalam daerah pabean dilakukan menggunakan dokumen pemberitahuan pengeluaran kembali barang asal tempat lain dalam daerah pabean dari TPB. Barang yang dimasukan dari tempat lain dalam daerah pabean ke PLB yang ditujukan untuk ekspor, tujuan khusus dan mendukung kegiatan sederhana tidak dipungut PPN dan PPnBM. Untuk barang yang dimasukan ke dalam PLB diberikan fasilitas penangguhan bea masuk, pembebasan cukai serta tidak dipungut Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), PPN, dan PPnBM, kecuali untuk barang modal konstruksi PLB/ perluasan PLB, peralatan kantor dan barang untuk dikonsumsi di PLB. Sedangkan untuk barang asal luar daerah pabean yang dikeluarkan dari PLB ke tempat lain dalam daerah pabean dengan tujuan diimpor untuk dipakai, harus dilunasi bea masuk, PDRI dan cukainya untuk barang yang kena cukai.

    2.2.6. Perdirjen Bea Cukai No.2 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean untuk Ditimbun di Pusat Logistik Berikat

    Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 45 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 272/PMK.04/2015 tentang Pusat Logistik Berikat,

    perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang Tata Laksana Pemasukan Barang Impor untuk Ditimbun di Pusat Logistik Berikat. Oleh karena itu, Direktur Jendral Bea dan Cukai mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Tentang Tata Laksana Pengeluaran Barang Impor Dari Kawasan Pabean Untuk Ditimbun Di Pusat Logistik Berikat. Dalam persyaratan penimbunan barang, barang impor dapat dikeluarkan dari kawasan pabean atau tempat lain yang diperlakukan sama dengan tempat penimbunan sementara untuk ditimbun di PLB apabila penyelenggara PLB atau pengusaha PLB atau PDPLB bertindak sebagai pembeli atau pihak pembeli mempunyai kontrak penimbunan barang dengan penyelenggara PLB/pengusaha PLB/PDPLB. Untuk pengeluaran barang impor dari kawasan pabean atau tempat lain yang diperlakukan sama dengan tempat penimbunan sementara untuk ditimbun di PLB diberitahukan dengan menggunakan Pemberitahuan Pabean Pemasukan Barang Impor Untuk Ditimbun di Pusat Logistik Berikat (BC 1.6) yang dibuat oleh penyelenggara PLB, pengusaha PLB, PDPLB atau penyelenggara pos berdasarkan Dokumen Pelengkap Pabean untuk disampaikan ke kantor pengawas dengan menggunakan sistem PDE/MPDE. Barang yang ditimbun di PLB dengan pemberitahuan BC 1.6 mendapatkan fasilitas penangguhan bea masuk, pembebasan cukai, dan/atau tidak dipungut PDRI. Dokumen Pelengkap Pabean disampaikan kepada pejabat yang menangani pemeriksaan dokumen dalam hal barang impor akan menggunakan tarif preferensi pada saat dikeluarkan dari PLB untuk diimpor untuk dipakai. Terhadap BC 1.6 yang telah disampaikan, diterbitkan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) PLB dan Surat Pemberitahuan Pengawasan Pembongkaran dan Penimbunan (SP4) PLB melalui Sistem Komputer Pelayanan Pabean (SKP) saat melakukan pengawasan pemasukan barang ke PLB. Pengeluaran barang impor dilakukan setelah diterbitkan SPPB PLB. Apabila terdapat kekurangan jumlah barang yang diimpor dari BC 1.6, harus dilakukan pengeluaran atas barang yang kurang dengan menggunakan BC 1.6 semula dalam jangka waktu paling lama 60 hari sejak tanggal SPPB PLB. Pemasukan barang impor ke PLB dari kawasan pabean atau tempat lain yang diperlakukan sama dengan tempat penimbunan sementara dilakukan dengan menggunakan SPPB PLB dan dengan dilakukan pengawasan pemasukan, pelepasan tanda pengaman, dan pengawasan pembongkaran dan penimbunan barang.

    Apabila hasil pengawasan menunjukan ada ketidaksamaan jumlah atau jenis kemasan, SKP meneruskan BC 1.6 kepada unit pengawasan, apabila hasil penelitian lebih lanjut menunjukan ketidaksesuaian terjadi bukan di luar kemampuannya, terhadap kekurangan atau kelebihan barang dipungut bea masuk, cukai, PDRI serta sanksi administrasi berupa denda. Setelah pungutan tersebut dilunasi, pejabat menerbitkan Surat Tagihan di Bidang Cukai (STCK- 1). Penyelenggara PLB, pengusaha PLB, PDPLB harus melaporkan kegiatan pengawasan pemasukan, pelepasan tanda pengaman, pengawasan pembongkaran dan penimbunan dengan sistem otomasi.

    2.2.7.

    Perdirjen Bea Cukai No.3 Tahun 2016 Tentang Tata Laksana Pengeluaran Barang Impor dari Pusat Logistik Berikat untuk Diimpor untuk Dipakai

    Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 45 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 272/PMK.04/2015 tentang Pusat Logistik Berikat, maka diterbitkan Perdirjen Bea Cukai No.3 Tahun 2016 yang mengatur tentang pelaksanaan pengeluaran barang yang berasal dari PLB untuk diimpor untuk dipakai. Untuk mengeluarkan barang impor dari PLB untuk dipakai, importir harus menyampaikan pemberitahuan pabean berupa BC 2.8 atau Dokumen Pelengkap Pabean (apabila dibutuhkan pergerakan barang secara cepat dan singkat, BC 2.8 dapat disampaikan setelah pengeluaran barang impor paling lama 2 hari kerja). BC 2.8 disampaikan ke kantor pengawas setiap kali pengeluaran barang dari PLB untuk diimpor untuk dipakai. Pengeluaran barang dari PLB untuk diimpor untuk dipakai dimana harus dilakukan pemeriksaan fisik, dokumen pelengkap pabean harus disampaikan paling lama 3 hari sejak Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Fisik. Untuk dapat mengeluarkan barang menggunakan dokumen pelengkap pabean, importir mengajukan permohonan kepada kepala kantor pengawas dengan melampirkan daftar jenis barang, nomor HS, perkiraan jumlah dan jenis barang serta contoh bentuk dokumen pelengkap pabean. Persetujuan penggunaan dokumen pelengkap pabean diberikan oleh kepala kantor pengawas dan berlaku sampai dengan dilakukan pencabutan oleh kepala kantor pengawas. Importir wajib menyerahkan jaminan sebesar bea masuk, cukai, dan/atau pajak dalam rangka impor sebelum melakukan pengeluaran barang impor. Importir melakukan pembayaran bea masuk, cukai dan

    PDRI berdasarkan BC 2.8 yang dibuat oleh importir dan telah diajukan ke kantor pengawas. Pembayaran bea masuk dan PDRI dilakukan secara tunai atau berkala. Berdasarkan BC 2.8 pejabat Bea dan Cukai/SKP menerbitkan kode billing untuk pembayaran. Pembayaran harus dilunasi paling lambat akhir bulan setelah bulan pendaftaran BC 2.8. kewajiban pembayaran tersebut dikecualikan untuk barang impor yang mendapatkan fasilitas pembebasan bea masuk, PDRI dan cukai. Nilai pabean adalah nilai transaksi dari barang yang bersangkutan pada saat diimpor untuk dipakai dan dihitung berdasarkan Cost Insurance Freight (CIF). Penghitungan bea masuk, cukai dan PDRI dipergunakan NDPBM yang berlaku saat BC 2.8 atau dokumen pelengkap pabean disampaikan ke kantor pengawas. Barang impor yang dilarang atau dibatasi hanya dapat dikeluarkan dari PLB untuk diimpor untuk dipakai setelah persyaratan yang diwajibkan terpenuhi, hal tersebut harus dicantumkan dalam BC 2.8. Penelitian ketentuan pembatasan dan jumlah barang dilakukan oleh SKP atau pejabat Bea dan Cukai. Hasil penelitian tersebut disampaikan ke portal INSW. Apabila BC 2.8 telah melakukan pembayaran bea masuk, cukai, PDRI atau jaminan serta telah memenuhi persyaratan ketentuan pembatasan maka dapat diberikan nomor pendaftaran. Setelah mendapatkan nomor dan tanggal pendaftaran, SKP atau pejabat Bea dan Cukai melakukan pemeriksaan pabean secara selektif melalui penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang. Pemeriksaan fisik dilakukan berdasarkan metode acak atau informasi intelijen. Pengeluaran barang dari PLB untuk diimpor untuk dipakai dilakukan setelah mendapat persetujuan berupa SPPB PLB dari SKP atau pejabat Bea dan Cukai. Pelaksanaan pengeluaran barang dilakukan oleh pejabat yang mengawasi pengeluaran barang, penyelenggara PLB, Pengusaha PLB, atau PDPLB. Perubahan dan pembatalan BC 2.8 dapat dilakukan dengan persetujuan Kepala Kantor Pengawas.

    2.2.8. Peraturan Direktorat Jenderal Bea Dan Cukai Nomor PER- 10/BC/2017 Tentang Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan Dari PLB Dalam Rangka Ekspor atau Transhipment.

    Pada peraturan ini disampaikan pelaksanaan yang berhubungan dengan tata cara pemasukan barang ke PLB dan pengeluaran barang dari PLB dalam rangka ekspor atau transhipment dengan mengunakan dokumen pemberitahuan pabean BC 3.3. Barang yang memenuhi persayaratan selanjutnya akan memperoleh Surat

    Persetujuan Pengeluaran Barang Ekspor dan/ atau Transhipment

    (SPPBET)

    Peraturan

    ini

    juga

    mengatur

    tentang

    tata

    cara

    penggabungan atau pemecahan barang ekspor dan/atau transhipment.

    • 2.3. Tinjauan Konseptual

    2.3.1. Gudang Berikat (Bonded Warehouses)

    Tempat Penimbunan Berikat (TPB) di Indonesia awalnya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1996 tentang Tempat Penimbunan Berikat yang kemudian direvisi dengan terbitnya PP Nomor 43 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1996 tentang Tempat Penimbunan Berikat. Peraturan tersebut

    kemudian dicabut dengan terbitnya PP Nomor 32 tahun 2009 yang kemudian direvisi dengan terbitnya PP Nomor 85 Tahun 2015. Pencabutan PP Nomor 33 Tahun 1996 dilakukan karena Undang- Undang (UU) Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan yang menjadi dasar PP tersebut diganti dengan UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2015, TPB adalah bangunan, tempat, atau kawasan yang memenuhi persyaratan tertentu yang digunakan untuk menimbun barang dengan tujuan tertentu dengan mendapatkan penangguhan Bea Masuk. TPB dapat berbentuk Gudang Berikat, Kawasan Berikat, Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat, Toko Bebas Bea, Tempat Lelang Berikat, Kawasan Daur Ulang Berikat, atau Pusat Logistik Berikat. Banyak negara yang sudah menerapkan PLB/ Gudang Berikat

    sebagai salah satu “rezim” kepabeannannya. Tujuan utama

    penyelenggaraan PLB/ Gudang Berikatadalah untuk mendorong ekspor dan meningkatkan efisiensi logistik. Beberapa negara diantaranya adalah Amerika Serikat, Inggris, Singapura, dan RRT. Pengaturan dalam operasi PLB/Gudang Berikat secara umum memiliki kesamaan antar negara, dengan beberapa penyesuaian. Pada Tabel 2.3. diperlihatkan perbandingan pelaksanaan PLB/Gudang Berikat di Indonesia dengan beberapa negara.

    Tabel 2.3. Perbandingan penyelenggaraan PLB dengan Gudang Berikat di beberapa negara

    PLB/GB

    Indonesia

    Amerika Serikat

    Inggris

    Singapura

    RRT

    Wilayah Pabean

    PLBberada di dalam wilayah pabean. Aturan kepabeanan harus dipenuhi untuk masuk ke PLB.

    GB berada di dalam wilayah pabean. Aturan kepabeanan harus dipenuhi untuk masuk ke GB.

    GB berada di dalam wilayah pabean. Aturan kepabeanaan harus dipenuhi untuk masuk ke GB.

    GB berada di dalam wilayah pabean. Aturan kepabeanaan harus dipenuhi untuk masuk ke GB.

    GB berada di dalam wilayah pabean. Aturan kepabeanan harus dipenuhi untuk masuk ke GB.

    Aturan

    Aturan kepabeanan

    Aturan kepabeanan

    Aturan kepabeanan

    Aturan kepabeanan

    Aturan kepabeanan

    Kepabeanan

    dikenakan kepada semua barang yang masuk ke PLB.

    dikenakan kepada semua barang yang masuk ke GB.

    dikenakan kepada semua barang yang masuk ke GB.

    dikenakan kepada semua barang yang masuk ke GB.

    dikenakan kepada semua barang yang masuk ke GB.

    Barang yang

    Barang dari luar Daerah

    Hanya barang impor

     

    Hanya barang impor

    Hanya barang impor

    Diijinkan

    Pabean (impor), dari TPB lainnya, dari tempat lain dalam daerah pabean, dari KEK, kawasan bebas, kawasan ekonomi lainnya yang ditetapkan pemerintah.

    yang dapat masuk ke GB.

    dengan bea masuk yang dapat masuk ke GB.

    dengan bea masuk yang dapat masuk ke GB.

    Operator

    Operator wajib melakukan pencatatan atas pemasukan dan pengeluaran Barang.

     

    Operator bertanggung jawab atas keamanan, akuntabilitas (besaran stok), pelaksanaan GB sesuai aturan.

    Pemilik barang atau penyedia jasa operator yang bertanggung jawab akan keamanan, akuntabilitas, kontrol GB sesuai aturan.

     

    PLB/GB

    Indonesia

    Amerika Serikat

    Inggris

    Singapura

    RRT

    Pembayaran Bea

    Bea masuk impor

    Bea masuk impor

    Bea masuk impor

    Bea masuk impor

    Bea masuk impor

    Masuk

    dibayarkan saat barang keluar dari PLB untuk dikonsumsi.

    dibayarkan saat barang keluar dari GBuntuk dikonsumsi.

    dibayarkan saat barang keluar dari GB untuk dikonsumsi.

    dibayarkan (dalam 7 hari kerja) saat barang keluar dari GB untuk dikonsumsi.

    dibayarkan saat barang keluar dari GB untuk dikonsumsi.

    Pajak Pemerintah Pusat dan Pemda

    PPN, PPnBM, dan PPH jika barang keluar dari TPB untuk dikonsumsi.

    Semua barang dikenakan pajak sesuai aturan yang berlaku.

    PPN dan PPnBM jika barang keluar dari GB untuk dikonsumsi.

    Pajak barang dan jasa dibayarkan (dalam 7 hari kerja) jika keluar dari GB untuk dikonsumsi.

    PPN dan PPnBM jika barang keluar dari GB untuk dikonsumsi.

    Pengolahan

    Pengolahan barang di

    Pengolahan barang di

    Diperbolehkan untuk

    Pengolahan barang di

    Pengolahan barang di

    (Manufacture)

    dalam PLBtidak diperbolehkan.

    dalam GB tidak diperbolehkan.

    alasan tertentu dengan ijin dari bea cukai.

    dalam GB tidak diperbolehkan.

    dalam GB tidak diperbolehkan.

    Penghitungan dan

    Besaran bea masuk dan

    Besaran bea masuk dan

         

    Klasifikasi Bea

    nilai barang ditentukan

    nilai barang ditentukan

    Masuk

    pada saat barang dikeluarkan dari PLB

    pada saat barang masuk ke GB

    Periode

    Sampai dengan 3

    Tidak lebih dari 5 (lima)

    Tidak terbatas.

    Tidak terbatas.

    Tidak terbatas.

    Penyimpanan

    Tahun, bisa diperpanjang untuk industri tertentu.

    tahun.

    PLB/GB

    Indonesia

    Amerika Serikat

    Inggris

    Singapura

    RRT

    Aktivitas yang

    Pengemasan,

    Pengemasan ulang, dan

     

    Pengemasan ulang atau

     

    Diijinkan

    pengemasan kembali, penyortiran, penggabungan (kitting), pengepakan, penyetelan, dan/atau pemotongan, atas barang-barang tertentu dalam jangka waktu tertentuuntuk dikeluarkan kembali.

    penyortiran dibawah pengawasan bea cukai. Pemilik bertangung jawab pada seluruh barang sejak masuk TPB termasuk limbah dan barang yang rusak.

    penyiapan untuk pengiriman diperbolehkan dengan ijin bea cukai selama tidak merubah karakteristik asal barang.

    Barang Asal

    Diperbolehkan masuk

    Tidak diperbolehkan

    Tidak diperbolehkan

    Tidak diperbolehkan

    Diperbolehkan di GB

    Domestik

    PLB

    masuk GB.

    masuk GB.

    masuk GB.

    khusus VAT (value added tax)

    Pengaturan/

    Semua pergerakan

    Bea cukai mempunyai

    Untuk jenis barang

    Operator membayar

     

    Kontrol Barang

    barang di PLB dikontrol dan dimonitor oleh Bea Cukai

    kontrol penuh pada barang. Barang hanya dapat dipindahkan di TPB dalam jam kerja.

    tertentu, operator harus memberikan garansi kepada bea cukai.

    lisensi dan melaporkan perpindahan barang, stok dan inventori kepada bea cukai.

    Perpindahan

    Dapat dipindahkan ke

    Perpindahan barang

    Perpindahan barang

    Perpindahan barang

    Perpindahan barang

    Barang

    luar Daerah Pabean (ekspor), ke TPB lainnya, ke tempat lain dalam daerah pabean, ke KEK, kawasan bebas, kawasan ekonomi lainnya yang ditetapkan pemerintah.

    terbatas dalam GB. Persetujuan Bea cukai diperlukan untuk setiap pemindahan barang.

    dalam TPB atau antar TPB dilaporkan pada bea cukai.

    terbatas dalam TPB atau antar TPB.

    terbatas dalam TPB atau antar TPB.

    2.3.2. Biaya Logistik

    Biaya logistik merupakan bagian penting dalam mengukur kinerja logistik nasional. Komponen Biaya logistik itu sendiri terdiri dari biaya angkutan (transportasi), biaya persediaan dan biaya administrasi. Menurut Rushton, Croucher & Baker (2006) dan Pishvaee, Basiri, & Sajadieh (2009) menyebutkan bahwa biaya logistik terdiri dari biaya penyimpanan (carrying/holding costs), biaya penimbunan, biaya pengepakan, biaya konsolidasi, biaya transportasi, biaya persediaan, biaya informasi dan biaya pengawasan. Pendapat lain mengatakan bahwa biaya logistik meliputi biaya transportasi, biaya penyimpanan, biaya administrasi, biaya pajak, resiko dan kerusakan, biaya penanganan (handling cost) dan biaya pengepakan Zeng & Rosetti (2003). Dalam implementasinya, komponen biaya logistik di setiap negara berbeda-beda tergantung pada ketersediaan data sehingga akan menghasilkan model dan metode yang berbeda dalam menghitung biaya logistik. Perhitungan biaya logistik di Amerika terdiri dari biaya angkutan, biaya persediaan dan biaya administrasi sebagai komponen utama. Sementara itu, perhitungan biaya logistik di Korea Selatan menggunakan komponen biaya angkutan, biaya persediaan, biaya pengepakan, biaya penanganan dan bongkar-muat, biaya informasi dan biaya administrasi. Biaya logistik di Afrika selatan meliputi biaya angkutan, biaya persediaan serta biaya manajemen dan administrasi. Model biaya logistik di beberapa negara dapat dilihat pada Tabel 2.4.

    Tabel 2.4. Model biaya logistik di beberapa negara

    Negara

    Amerika Serikat

    Korea Selatan

    Afrika Selatan

    Lembaga

    CASS

    KOTI (Korea

    CSIR (Council for

    Information

    Transport Institute)

    Scientific and

    System, Inc

    Industrial Research)

    Komponen

    Biaya angkutan,

    Biaya angkutan,

    Biaya angkutan,

    Biaya

    biaya

    biaya persediaan,

    biaya

    persediaan,

    biaya pengepakan,

    penimbunan,

    biaya

    biaya penanganan

    biaya persediaan

    administrasi

    dan bongkar muat, biaya informasi dan biaya administrasi

    dan biaya manajemen dan administrasi

    Sumber: (World Bank, 2013)

    Di Indonesia, komponen biaya logistik terdiri dari biaya angkutan, biaya administrasi dan biaya persediaan (World Bank, 2013). Selama tahun 2004-2011, biaya logistik Indonesia menurun sebesar 2,97 persen. Tahun 2004, biaya logistik mencapai 27,61 persen dari PDB dan tahun 2011 turun menjadi 24,64 persen dari PDB. Komponen biaya logistik terbesar terdapat pada biaya angkutan yang memberikan kontribusi sebesar 12,04 persen dari PDB, disusul oleh biaya persediaan (9,47 persen dari PDB) dan biaya administrasi (4,52 persen dari PDB). Komponen terbesar dalam biaya angkutan didominasi oleh angkutan darat, yaitu sebesar 72,21 persen dan angkutan kereta api memberikan kontribusi terendah yaitu hanya 0,51 persen. Dalam laporan yang sama menunjukka bahwa komponen terbesar dalam biaya administrasi yaitu biaya penyimpanan/holding cost yaitu 49,37 persen (World Bank, 2013). Meskipun kinerja biaya logistik nasional selama periode 2004- 2011 menurun, namun biaya logistik di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan beberapa negara lainnya, terutama di tingkat ASEAN, seperti Singapura (8 persen dari PDB), Malaysia (13 persen), Thailand (20 persen) dan Vietnam (25 persen). Biaya logistik dalam struktrur perekonomian Indonesia masih cukup tinggi sehingga identifikasi komponen biaya logistik penting untuk mempermudah proses terciptanya kinerja logistik yang efisien. Ditingkat operasional, indikator biaya logistik dapat digunakan untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan pelayanan logistik yang kemudian dapat meningkatkan arus barang menjadi lebih cepat, lebih andal, lebih murah sehingga dapat meningkatkan daya saing usaha. Untuk mendukung terciptanya biaya logistik yang efisien, salah satunya melalui PLB. PLB mempunyai fungsi, yaitu untuk menyiapkan inventory bagi industri yg membutuhkan bahan baku dan bahan penolong agar bisa menstabilkan harga, menjamin pasokan dan mempercepat pasokan ke industri sehingga perencanaan produksi dan pemenuha order konsumen bisa lebih tepat waktu. Pada akhirnya penyediaan barang-barang dan bahan baku industri melalui pusat logistik berikat menjadi lebih efisien dan dapat menurunkan biaya logistik. Pusat logistik berikat/kawasan berikat merupakan wujud nyata bea cukai dalam mempercepat penyediaan barang-barang. Namun, kecepatan penyediaanbarang-barang tersebut tergantung pada: 1) Coordination plan dan 2) Kinerja operasional pelabuhan (Setiawan & Sangian, 2016)

    2.4.

    Penelitian Terdahulu

    Pusat Logistik Berikat (PLB) dibangun dengan tujuan agar dapat mengatasi permasalahan industri yang kesulitan memperoleh bahan baku dan bahan penolong serta dapat meningkatkan daya saing industri dengan menekan biaya logistik. PLB merupakan salah satu bentuk model logistics hub yang dikembangkan untuk meningkatkan daya saing industri domestik. Model ini sudah digunakan di beberapa negara maju seperti Singapura dan RRT, serta negara berkembang seperti Nepal. Studi yang dilakukan oleh Ockowski & Kishor(2003)menganalisis faktor-faktor yang menentukan efisiensi industri manufaktur di Nepal. Reformasi yang dilakukan Nepal sejak pertengahan 1980-an dianggap merubah struktur industri manufaktur di negara tersebut. Reformasi yang dilakukan antara lain penyederhanaan prosedur ekspor, penurunan tarif, transparansi mekanisme impor, serta fasilitasi ekspor. Fasilitasi ekspor dilakukan dengan membangun skema Gudang Berikat untuk perusahaan yang mengekspor lebih dari 90persenhasil produksinya. Gudang Berikat tersebut bertujuan untuk mengurangi biaya dan beban administrasi. Hasilnya, industri di Nepal menjadi lebih berorientasi pada ekspor dan terjadi perbaikan pada utilisasi kapasitas pabrik karena akses terhadap bahan baku impor meningkat. Walaupun secara statistik, perusahaan yang berorientasi ekspor tidak secara signifikan berarti lebih efisien, namun akses yang lebih mudah terhadap perdagangan internasional memberikan kesempatan bagi industri lokal untuk menerima perubahan teknologi dan praktek manajemen yang lebih baik. Lebih lanjut, hasil studi yang dilakukan oleh Haider (2007) membahas strategi yang dibutuhkan industri garmen di Bangladesh untuk meningkatkan daya saingnya. Seperti halnya dengan Indonesia, industri tekstil dan garment di Bangladesh telah berkontribusi besar pada pendapatan ekspor, lapangan kerja, dan pemberdayaan perempuan. Pasar utama garment Bangladesh adalah Amerika Serikat dan Uni Eropa yang didukung oleh sistem kuota ekspor sejak akhir 1970-an. Namun sejak 2004 sistem kuota tersebut berakhir sehingga industri garment Bangladesh perlu meningkatkan daya saingnya untuk dapat bertahan. Dalam studi tersebut dijelaskan dua dimensi dalam daya saing industri, yaitu daya saing pada level permukaan dan level mendalam. Daya saing pada level permukaan dapat dilihat dari harga dan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh produk setelah pesanan ekspor telah diterima atau disebut juga dengan lead time. Pada periode 1980-an, lead time rata-rata pada industri garment dunia berkisar antara 120-150 hari, dan berkurang menjadi 30-40 hari pada dekade 2000-an. Memperpendek lead time untuk industri garment Bangladesh sangat

    krusial untuk meningkatkan daya saingnya dibanding India dan RRT. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam memproduksi dan mendistribusikan produk. Strateginya adalah dengan membangun pusat Gudang Berikat yang dikelola swasta untuk menyimpan bahan baku yang siap pakai, dengan insentif seperti bebas bea masuk imporImplementasi pusat Gudang Berikat akan mengurangi lead time sampai dengan setengahnya karena stok tekstil sebagai bahan baku industri garmensudah tersedia di dalam negeri. Namun demikian, waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi dan mendistribusikan garment tidak berkurang secara signifikan karena proses untuk menyimpan bahan baku di Gudang Berikat memerlukan waktu tertentu. Dengan demikian, diperlukan strategi tambahan dalam jangka panjang yaitu mendorong tumbuhnya industri tekstil dalam negeri sebagai penyuplai industri garment. Selain itu, perlu perbaikan juga dalam hal infrastruktur, lingkungan kerja dan pemenuhan standard mutu barang.

    • 3. BAB III

    METODE PENGKAJIAN

    Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai metode analisis dan data yang digunakan dalam kajian. Berdasarkan tujuan kajian yang telah dikemukakan pada Bab I, terdapat dua sasaran utama yaitu pertama, analisis manfaat PLB terhadap efisiensi biaya dan kedua, analisis manfaat PLB terhadap efisiensi waktu logistik.

    • 3.1. Metode analisis dan data Pendekatan yang dipakai dalam kajian ini adalah membandingkan beberapa komponen biaya dan waktu dalam pengadaan bahan baku sebelum dan sesudah pemanfaatan PLB pada tingkat perusahaan pengguna jasa PLB (user). Kerangka Kajian Evaluasi Manfaat PLB ditunjukkan pada Gambar 3.1. dan Tabel 3.1.

    3. BAB III METODE PENGKAJIAN Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai metode analisis dan data yang

    Gambar 3.1. Kerangka Kajian Evauasi Manfaat PLB

    Model yang digunakan mengacu pada penelitian World Bank (2013) dimana model-model pengukuran biaya logistik dari beberapa negara telah dipaparkan, diantaranya dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Afrika Selatan. Meskipun dalam kajian ini pengukuran biaya logistik tidak dilakukan untuk level negara, model World Bank (2013) tetap bisa dipakai karena komponen perhitungan biaya logistik pada dasarnya tidaklah berbeda, yaitu biaya transportasi, biaya persediaan dan biaya administrasi.

    Tabel 3.1. Kerangka Kajian Evaluasi Manfaat PLB

     

    Sebelum

    Sesudah

    Satuan

    PLB

    PLB

    INDUSTRI YANG MENGGUNAKAN PLB

     

    Biaya logistik industri nasional

         

    Biaya transportasi

    ……….

    ……….

    Rupiah/produk

    Biaya persediaan

    ……….

    ……….

    Rupiah/produk

    Biaya administrasi

    ……….

    ……….

    Rupiah/produk

    Waktu logistik

         

    Pemasok Gudang Pengguna

    ……….

    ……….

    Hari

    Dalam

    kajian ini analisis dan pengolahan data dilakukan dengan

    menggunakan perangkat lunak Ms Excel.

    3.1.1. Perhitungan biaya dan waktu logistik

    Perhitungan biaya logistik untuk industri menggunakan model acuan dari World Bank (2013) yang merupakan penyarian dari model pengukuran biaya logistik untuk tiga negara yaitu Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Afrika Selatan. Mengingat unit kajian dari penelitian World Bank (2013) ada di level negara, yang mana melakukan survey secara nasional sangatlah sulit, perhitungan ongkos logistik didekati dengan berbagai perwakilan (proxy) data sekunder. Bahkan data yang sifatnya sektoral digunakan manakala data sekunder tidak didapatkan. Untuk memberikan gambaran awal, perhitungan biaya logistik dengan model World Bank (2013) disajikan pada Tabel 3.2.

    Tabel 3.2. Perhitungan Biaya Logistik Nasional Dengan Model World Bank (2013)

    Biaya

    Sub-kriteria

    Sumber data

    logistik

    Biaya

    Biaya

    Survei dan basis data transportasi truk

    transportasi

    transportasi

    dari pabrik ke gudang

    primer

     

    Biaya

    Survei dan basis data transportasi truk

    transportasi

    dari gudang distributor ke konsumen

    sekunder

     

    Biaya transportasi darat

    Pendapatan dari perusahaan- perusahaan yang bergerak di sektor transportasi darat

    Biaya

    Sub-kriteria

    Sumber data

    logistik

     

    Biaya

    Pendapatan dari perusahaan-

    transportasi laut

    perusahaan yang bergerak di sektor transportasi laut

     

    Biaya

    Pendapatan dari perusahaan-

    transportasi

    perusahaan yang bergerak di sektor

    udara

    transportasi udara

    Biaya

    Biaya simpan

    Estimasi bunga bank yang didapat dari

    persediaan

    total aset persediaan

     

    Biaya pajak

    Biaya pajak terhadap nilai aset

    persediaan

    persediaan

     

    Biaya asuransi

    Biaya asuransi terhadap aset

    persediaan

    persediaan

     

    Biaya kerusakan persediaan

    Proporasi aset persediaan yang cacat

     

    Biaya

    Biaya yang dikeluarkan untuk

    pergudangan

    menyimpan barang di gudang milik pihak ketiga

    Biaya

    Biaya

    Proporsi terhadap biaya transportasi

    administrasi

    administrasi

    dan

    Meskipun tidak sama persis, model perhitungan dari World Bank (2013) dapat dijadikan rujukan untuk menentukan formula perhitungan biaya logistik industri nasional setelah diberlakukannya PLB. Intisari dari perhitungan disajikan pada Tabel 3.3.

    Tabel 3.3. Perhitungan Biaya Logistik Untuk Industri Nasional

    Biaya logistik

    Sub-kriteria

    Sumber data

    Biaya

    Biaya transportasi

    Survei biaya pengiriman barang

    transportasi

    primer

    dari pemasok ke gudang

     

    Biaya transportasi sekunder

    penyimpanan Survei biaya pengiriman barang dari gudang penyimpanan ke lokasi industri

    Biaya

    Biaya simpan

    Estimasi bunga bank dari total

    persediaan

     

    Biaya kerusakan

    aset persediaan Estimasi jumlah kerusakan barang

     

    Biaya pergudangan

    terhadap total aset persediaan Survei biaya sewa gudang

    Biaya

    Biaya pengurusan

    penyimpanan Survei biaya yang timbul untuk

    administrasi

    pemesanan barang

    memesan barang yang dilakukan oleh pihak ketiga

    Biaya logistik

    Sub-kriteria

    Sumber data

     

    Biaya pengurusan dokumen, komunikasi, dan lain-lain

    Survei biaya yang timbul untuk mengurus dokumen, komunikasi, dan lain-lain

    Dalam logistik disamping biaya terdapat juga waktu logistik yang harus dipertimbangkan untuk mengetahui seberapa efisiennya pelaksanaan logistik tersebut. Sebagai dasar untuk mengetahui waktu logistik maka diperlukan kriteria yang perlu diukur untuk mengetahui waktu logistik tersebut. Kriteria yang diukur dalam kajian ini yang berhubungan dengan waktu logistik dapat dilihat dalam Tabel 3.4 dibawah ini.

    Tabel 3.4. Perhitungan Waktu Logistik Untuk Industri Nasional

    Waktu logistik

    Sub-kriteria

    Sumber data

    Waktu

    Waktu pengiriman dari

    Survei terhadap waktu pengiriman

    pengiriman

    pemasok ke pelabuhan tujuan

    barang yang dibutuhkan dari pemasok sampai ke pelabuhan

     

    Waktu pengiriman dari pelabuhan ke tempat penyimpanan

    tujuan Survei terhadap waktu pengiriman barang dari pelabuhan bongkar sampai ke tempat penyimpanan sementara atau PLB

       

    Survei terhadap waktu pengiriman barang dari pelabuhan bongkar sampai ke gudang penyimpanan pemesan/industri

     

    Waktu pengiriman dari tempat penyimpanan sementara ke

    Survei terhadap waktu pengiriman barang dari empat penyimpanan sementara atau PLB ke

    Waktu

    industri/pemesan Waktu simpan

    pemesan/industri Survei terhadap lama waktu

    penyimpanan

    simpan barang di tempat penyimpanan sementara ke

       

    pemesan/industri Survei terhadap lama waktu simpan barang di PLB ke pemesan/industri

       

    Survei terhadap lama waktu simpan barang di gudang industri sebelum dipergunakan

    Berdasarkan atas data yang terkumpul dari hasil penyebaran kuesioner, dilakukan analisis data untuk menginterpretasikan hasil dan menjawab tujuan penelitian sesuai dengan metodologi yang telah

    ditetapkan. Terdapat dua jenis proses analisis yang digunakan yaitu statistika deskriptif dan analisis gap.

    3.1.2. Statistika Deskriptif

    Statistika deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi eksisting penyelenggaraan PLB. Meskipun tidak dapat digunakan untuk menarik kesimpulan (inferensi), namun statistika deskriptif berguna dalam memberikan pemahaman awal mengenai kondisi yang terjadi pada PLB. Contoh statistika deskriptif disajikan pada Gambar 3.1.

    Perbandingan kondisi sebelum dan sesudah PLB

    Indikator E Indikator D Indikator C Indikator B Indikator A 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
    Indikator E
    Indikator D
    Indikator C
    Indikator B
    Indikator A
    0
    0.2
    0.4
    0.6
    0.8
    1
    1.2
    Sesudah PLB
    Sebelum PLB

    Gambar 3.2 Contoh Statistika Deskriptif

    Dari contoh pada Gambar 3.2, dapat ditarik kesimpulan awal sebagai berikut. Dengan membuat kondisi sebelum ada PLB sebagai referensi pada nilai 1 (100%), maka dapat dibandingkan kondisi setelah PLB diterapkan. Jika kelima indikator tersebut diukur dengan kriteria minimasi, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah PLB telah bermanfaat pada Indikator B, C, D, E, karena dengan adanya PLB, telah menurutkan keempat indikator tersebut. Sedangkan pada indikator A, malah terjadi kondisi yang kontraproduktif. Statistika deskriptif ini disajikan untuk semua variabel pengukuran yang ada dalam kuesioner.

    3.1.3. Analisis Gap

    Analisis kesenjangan pada prinsipnya menggunakan filosofi dari metode ServQual seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.3.

    3.1.3. Analisis Gap Analisis kesenjangan pada prinsipnya menggunakan filosofi dari metode ServQual seperti yang ditunjukkan pada

    Gambar 3.3 Model Analisis Kesenjangan

    Analisis ini mengukur kesenjangan yang terjadi antara kondisi sebelum dan sesudah ada PLB di setiap variabel pengukuran yang terdapat di kuesioner. Pengukuran kesenjangan menggunakan metode statistika uji beda-t berpasangan. Perbandingan antara nilai kedua rataan (sebelum dan sesudah ada PLB), membuat kandidat jenis pengujian hipotesis yang dapat digunakan adalah uji rataan z atau uji rataan t. Karena simpangan baku dari populasi tidak diketahui, digunakan pengujian hipotesis t dengan tingkat signifikansi (α) sebesar 0.05. Karena jumlah sampel untuk masing-masing analisis verifikasi adalah sama, maka deklarasi variabel-variabel umum hipotesis juga sama. Berikut deklarasi variabel- variabel umum pengujian hipotesis beda rataan antara data sebelum dan sesudah ada PLB.

    i

    j

    = indeks sampel

    (3-1)

    = indeks data baris ke-j untuk masing-masing sampel data = data sampel

    (3-2)

    H0

    H1

    = hipotesis nol/ awal

    (3-2)

    = hipotesis tandingan

    (3-3)

    α

    = tingkat signifikansi

    n

    = jumlah sampel

    DF

    = degree of freedom, derajat kebebasan

    tkritis = nilai statistik t dimana H0 akan ditolak

    thitung = nilai statistik t hasil perhitungan uji hipotesis

    • d = selisih data antara dua sampel = data1j data2j = selisih antara rataan sampel satu dengan rataan sampel dua yang dipakai pada hipotesis awal

    dij

    d0

    • d = rataan selisih data dalam satu sampel = simpangan selisih data dalam satu sampel

    sd

    d

    =

    n

    j 1

    d

    ij

    n

    P-value= peluang terjadinya kondisi sesuai dengan keadaan sampel

    thitung =

    d  d 0 s n d
    d  d
    0
    s
    n
    d

    H0

    : µRel = µFor

    H1

    : µRel ≠ µFor

    α

    : 0,05

    n

    : 12

    DF

    : 11

    tkritis : thitung > 2,593 atau thitung < 2,593

    • 3.2. Desain Sampling

    (3-4)

    (3-5)

    (3-6)

    (3-7)

    (3-8)

    (3-9)

    (3-10)

    (3-11)

    (3-12)

    (3-13)

    (3-14)

    (3-15)

    (3-16)

    (3-17)

    (3-18)

    (3-19)

    (3-20)

    (3-21)

    (3-22)

    Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel dari populasi dengan dibatasi kriteria tertentu yang bisa menyediakan informasi yang diharapkan (Sekaran, 2003). Target responden pada penelitian ini adalah penerima manfaat dari kebijakan insentif PLB, yaitu perusahaan yang mengambil bahan baku dan bahan penolong dari PLB dan/atau perusahaan yang menimbun bahan baku/bahan penolong/ barang jadi di dalam PLB yang selanjutnya akan diekspor. Sebelumnya perlu diketahui bahwa pelaku usaha PLB berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 272 Tahun 2016 bisa dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:

    • 1. Penyelenggara PLB, adalah badan hukum yang melakukan kegiatan menyediakan dan mengelola kawasan untuk kegiatan pengusahaan PLB

    • 2. Pengusaha PLB, adalah badan hukum yang melakukan kegiatan pengusahaan PLB dimana statusnya adalah badan usaha yang sama.

    • 3. Pengusaha di dalam PLB yang merangkap penyelenggara di dalam PLB, yang disebut dengan PDPLB, adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengusahaan PLB yang berada di dalam PLB milik penyelenggara PLB yang statusnya sebagai badan usaha yang berbeda Responden dalam penelitian ini adalah yang memanfaatkan

    ketiga jenis PLB di atas. Dengan demikian target utama responden dalam penelitian ini adalah:

    • 1. Perusahaan yang memanfaatkan fasilitas PLB yang dikelola oleh penyelenggara PLB, pengusaha PLB, atau PDPLB dimana perusahaan tersebut bukan pengusaha PLB atau PDPLB

    • 2. Pengusaha PLB atau dengan kata lain adalah pengusaha yang memanfaatkan fasilitas PLB nya sendiri.

    • 3. PDPLB atau dengan kata lain Pengusaha yang memanfaatkan

    fasilitas PLB-nya sendiri, namun PLB tersebut berada di dalam PLB perusahaan lain yang beda izin. Pada saat survei, selain wawancara dan diskusi dengan ketiga kelompok responden di atas, juga dilakukan wawancara dan diskusi kepada regulator/pengawas PLB yang dalam hal ini adalah Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) setempat dan asosiasi pengusaha PLB yang dalam hal ini adalah Perkumpulan Pusat Logistik Berikat Indonesia (PPLBI).

    • 4. BAB IV

    ANALISIS DAN PEMBAHASAN

    • 4.1. Lokasi Survey dan Responden

    Pemilihan wilayah survei dalam kajian ini didasarkan pada jumlah PLB yang sudah beroperasi di wilayah yang bersangkutan. Sejak peresmian PLB pertama kali pada bulan maret 2016 sebanyak 11 PLB di 13 lokasi, jumlah penyelenggara dan lokasi gudang PLB semakin bertambah dari waktu ke waktu. Sampai dengan laporan ini ditulis, jumlah penyelenggara dan lokasi gudang PLB sudah berkembang menjadi 34 PLB di 42 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dengan berbagai fokus industri yang didukung sebagai mana ditunjukkan pada Gambar 4.1.

    4. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Lokasi Survey dan Responden Pemilihan wilayah survei dalam kajian

    Gambar 4.1 Peta Sebaran Lokasi PLB/PDPLB

    Survei dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan dimulai pada akhir bulan Februari sampai dengan pertengahan bulan April 2017 di enam wilayah survei. Berdasarkan sebaran jumlah PLB yang ada pada waktu survei dilaksanakan, wilayah survei yang dipilih adalah: 1) Bekasi dan Cikarang, 2) Karawang dan Bandung, 3) Provinsi Banten, 4) Provinsi Bali, 5) Provinsi Kalimantan Timur dan 6) Provinsi DKI Jakarta.

    4.1.1. Bekasi dan Cikarang a. Profil Wilayah Survei

    Perekonomian

    Kabupaten

    Bekasi

    ditopang

    oleh

    sektor

    pertanian, perdagangan dan perindustrian. Cukup banyak industri

    manufaktur yang berlokasi di Bekasi, dimana terdapat 7 Kawasan Industri dengan luas areal 7.432 hektar atau 56% dari total luas kawasan industri yang ada di Jawa Barat. Rata-rata pertumbuhan ekonomi per tahun Kabupaten Bekasi selama periode 2011 2015 sebesar 5.89 persen.

    8%

    • Industri Pengolahan

    • Konstruksi

    • Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

    • Pengadaan Listrik dan Gas

    • Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

    • Transportasi dan Pergudangan

    • Jasa Keuangan dan Asuransi

    2015 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku tahun 1%
    2015
    Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku tahun
    1%
    1% 2% 1% 1% 1% 1% 1% 1% 5% 78%
    1% 2%
    1%
    1%
    1%
    1%
    1%
    1%
    5%
    78%

    Sumber: BPS, 2016 (diolah)

    Gambar 4.2 Kontribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha

    Produk Domestik regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bekasi atas dasar harga berlaku pada tahun 2015 mencapai Rp 246,05 trilyun. Sektor industri pengolahan merupakan sektor penyumbang PDRB terbesar Kabupaten Bekasi yang mencapai 78,36 persen dari total PDRB menurut lapangan usaha. Sektor konstruksi menyumbang 6,5 persen dari PDRB, sedangkan sektor perdagangan besar dan eceran menyumbang 5,41 persen dari PDRB. Sektor lain sumbangan nya relatif kecil di bawah 2 persen.

    4% 39% 25% 17% 15% Persentase Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015 Pertanian Industri Pengolahan
    4% 39% 25% 17% 15% Persentase Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015 Pertanian Industri Pengolahan
    4% 39% 25% 17% 15% Persentase Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015 Pertanian Industri Pengolahan
    4% 39% 25% 17% 15% Persentase Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015 Pertanian Industri Pengolahan
    4% 39% 25% 17% 15% Persentase Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015 Pertanian Industri Pengolahan
    4% 39% 25% 17% 15%
    4%
    39%
    25%
    17%
    15%

    Persentase Angkatan Kerja Menurut

    Lapangan Usaha Tahun 2015

    Pertanian

    Industri Pengolahan

    Perdagangan, Hotel dan Restoran

    Jasa-jasa

    Lainnya

    Sumber: BPS, 2016 (diolah)

    Gambar 4.3 Kontribusi Angkatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015 dalam Persen

    Sejalan dengan besarnya sumbangan sektor industri pengolahan terhadap PDRB Kabupaten Bekasi, angkatan kerja juga didominasi oleh angkatan kerja dari sektor industri pengolahan yang mencapai 39, 93 persen dari total angkatan kerja di tahun 2015. Angkatan kerja terbanyak kedua adalah berada di sektor perdagangan, hotel dan restoran dimana mencapai 25,85 persen dari total angkatan kerja Kabupaten Bekasi selanjutnya adalah sektor jasa-jasa dengan pangsa 17,55 persen. Survei di wilayah Bekasi dan Cikarang merupakan periode survei urutan pertama dibandingkan dengan survei di wilayah lainnya dalam Kajian Evaluasi Manfaat PLB. Selain berdiskusi dalam rangka mengisi kuesioner survei bersama Penyelenggara PLB/PDLB dan Industri pengguna PLB, survei ini juga ditujukan untuk memetakan responden terutama di wilayah Bekasi dan Cikarang serta di wilayah tujuan survei lain pada umumnya, dengan berkoordinasi dengan Kantor Bea Cukai setempat baik dengan tatap muka langsung maupun melalui media komunikasi elektronik. Berdasarkan informasi yang diperolah dari kantor bea cukai Bekasi dan Cikarang PLB/PDPLB yang berlokasi di Bekasi dan Cikarang ditunjukkan pada Tabel 4.1.

    Tabel 4.1 PLB/PDPLB di Wilayah Bekasi dan Cikarang

         

    Gudang

    PLB

    di

    No.

    PLB/PDPLB

    Status

    Wilayah

    lain

    (jika

    operasional*

    ada)

     

    PT Gerbang Teknologi Cikarang

    • 1. beroperasi

     

    -

         

    Bandung,

    DKI

    • 2. beroperasi

    PT Agility Internasional

    Jakarta

     
    • 3. beroperasi

    PT Lautan Luas Tbk

     

    DKI Jakarta

     
     
    • 4. belum

    PT Kamadjaja Logistics

     

    Surabaya

    *) = status pada saat survei dilaksanakan

    b. Profil Responden

    Berdasarkan jenisnya, target responden di wilayah Bekasi dan Cikarang yang sudah diwawancara dan diminta informasinya berdasarkan kuesioner survei disajikan pada Tabel 4.2 berikut ini.

    Tabel 4.2 Responden yang ditemui di Wilayah Bekasi dan Cikarang

    Jenis Responden

    Institusi

    Penyelenggara PLB/PDPLB

    • 1. Gerbang Teknologi Cikarang (GTC)

    • 2. Agility Internasional Pondok Ungu

    Pengusaha PLB/PDPLB

    • 1. Dowell Anadrill Schlumberger

    Industri Pengguna

    • 1. PT M-I Production Chemicals Indonesia

    • 2. PT M-I Indonesia

    • 3. PT Schlumberger Geophysics Nusantara

    Pengawas PLB

    • 1. KPPBC TMP Cikarang

    Pusat Logistik Berikat (PLB) di wilayah Kabupaten Bekasi yang menjadi responden untuk Penyelenggara PLB/PDPLB adalah Gerbang Teknologi Cikarang (GTC) dan Agility Internasional, sedangkan pengusaha PLB/PDPLB adalah Dowell Anadrill Schlumberger yang

    berlokasi di GTC. PLB yang dikelola GTC melayani produk kapas dan alat berat. Industri pengguna PLB GTC ternyata tidak ada yang berlokasi di wilayah Bekasi atau Cikarang, kesemuanya berada di propinsi yang berbeda seperti Jawa Tengah untuk pengguna kapas. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang mengambil kapas dari PLB cukup banyak yang berada di wilayah Jawa Tengah dimana pengiriman barang dapat disediakan oleh GTC atau diambil sendiri oleh industri tersebut. Berbeda dengan GTC, PLB Agility menangani produk bahan baku kimia baik dalam bentuk padat atau cair. Pada awalnya, sebelum menjadi PLB, pengelolaan gudang dalam bentuk Gudang Berikat namun belum termanfaatkan dengan baik. Pengguna utama PLB Agility adalah Unilever dimana pemasukan dan pengeluaran barang biasanya didasarkan kepada siklus produksi pengguna. Transportasi barang dari pelabuhan sampai ke PLB menggunakan truk Agility yang dilengkapi dengan segel dan GPS yang dapat terlacak. Barang disimpan di gudang tertutup dalam bentuk tumpukan, sedangkan produk cair juga disimpan di dalam gudang namun dengan wadah khusus. PDPLB Schlumberger berada di dalam GTC yang dimanfaatkan untuk kelancaran usaha Schlumberger sendiri. Schlumberger adalah perusahaan jasa pertambangan yaitu perusahaan yang menyediakan baik peralatan, teknologi, maupun sumber daya manusia untuk memperlancar proses pertambangan. Sebelum memiliki PLB peralatan pertambangan milik perusahaan ditempatkan di Singapura atau Malaysia serta di area free zone di Batam. Saat ini peralatan tersebut sudah dapat dipindahkan ke Indonesia sehingga bisa memotong biaya antara 10 sampai dengan 20 persen. PDPLB sendiri digunakan untuk barang-barang master list yang mendapat pembebasan pajak impor namun setelah digunakan harus di re-ekspor kembali. Sarana PLB yang disediakan umumnya dalam bentuk lahan terbuka untuk penumpukkan peralatan. Secara umum terjadi pengurangan biaya dengan menggunakan PLB namun masih ada biaya yang dirasa masih bisa dikurangi. Diantaranya biaya verifikasi teknis setelah adanya PLB dimana proses verifikasi teknis bisa dilakukan di dalam PLB pada implementasinya sama saja dan tidak menjadi lebih murah. Pelaksanaan proses verifikasi teknis di PLB memerlukan sebuah petunjuk teknis atau petunjuk pelaksanaan sebagai turunan dari Permendag No. 64/M-DAG/PER/9/2016 Tentang Ketentuan Pemasukan dan Pengeluaran Barang Asal Luar Daerah Pabean Ke dan Dari PLB. Selain itu, banyak keluhan dari lamanya pengurusan karena terhambat oleh lambatnya surat delivery order dari pelayaran.

    Untuk mempercepat proses pemasukan barang ke pelabuhan perlu digunakan sistem delivery order elektronik (e-DO) dan sistem pembayaran elektronik di pelabuhan, namun baru beberapa shipping line yang menggunakannya.

    4.1.2. Bandung dan Karawang

    a. Profil Wilayah Survei Kota Bandung

    Merupakan kota metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Barat, sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara Jakarta, dan merupakan kota terbesar di wilayah Pulau Jawa bagian selatan. Sedangkan wilayah Bandung Raya (Wilayah Metropolitan Bandung) merupakan metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jabodetabek. Kota Bandung terdiri atas 30 kecamatan, Rukun Tetangga (RT) sebanyak 9.733 dan Rukun Warga (RW) sebanyak 1.567 dengan Jumlah penduduk kota bandung berjumlah 2.481.469 jiwa (2015). Dari 17 lapangan usaha yang ada di kota Bandung Sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar 8% memberikan sumbangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sedangkan sektor Perdagangan besar dan eceran; Reparasi mobil dan Sepeda Motor merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB sebesar 29% di ikuti dengan Industri Pengolahan sebesar 21% dan di ikuti oleh 14 sektor lainnya. Pada awalnya kota Bandung sekitarnya secara tradisional merupakan kawasan pertanian, namun seiring dengan laju urbanisasi menjadikan lahan pertanian menjadi kawasan perumahan serta kemudian berkembang menjadi kawasan industri dan bisnis, sesuai dengan transformasi ekonomi kota pada umumnya dan karena adanya kebutuhan masyarakat yang terus meningkat dari waktu ke waktu maka

    ada beberapa industri manufaktur yang terus melakukan impor bahan baku guna memenuhi kebutuhan dari masyarakat namun dengan biaya yang tidak terlalu mahal dan waktu yang tidak terlalu lama maka industri-industri ini menggunakan Pusat Logistik Berikat (PLB) yang berada di kota Bandung.

    Kabupaten Karawang

    Kabupaten Karawang berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor di barat, Laut Jawa di utara, Kabupaten Subang

    di timur, Kabupaten Purwakarta di tenggara, serta Kabupaten Cianjur di selatan. Dimana Kabupaten Karawang terdiri dari 30 Kecamatan, 298 Desa dan 11 Kelurahan dengan jumlah penduduk sebesar

    2.273.579 jiwa, dengan luas wilayah sebesar 1.737,53 km2. Penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan lapangan usaha adalah Industri Pengolahan sebesar 71% hal ini di karenakan kabupaten Karawang adalah daerah Industri yang berikutnya adalah Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 10% sedangkan Transporasi dan Pergudangan sebesar 2%. Kabupaten Karawang merupakan lokasi dari beberapa kawasan industri, antara lain Karawang International Industri City KIIC, Kawasan Surya Cipta, Kawasan Bukit Indah City atau BIC di jalur Cikampek (Karawang). Salah satu industri strategis milik negara juga memiliki fasilitasnya di deretan kawasan industri tersebut, yaitu Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia yang mencetak uang kertas, uang logam, maupun dokumen-dokumen berharga seperti paspor, pita cukai, meterai dan lain sebagainya. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Bandung dan Karawang PLB/PDPLB yang berlokasi di Bandung dan Karawang ditunjukkan pada Tabel 4.3.

    Tabel 4.3 PLB/PDPLB di Wilayah Bandung dan Karawang

         

    Gudang

    PLB

    di

    No.

    PLB/PDPLB

    Status

    Wilayah

    lain

    (jika

    operasional*

    ada)

     
    • 1. beroperasi

    PT Agility Internasional

     

    Bekasi, DKI Jakarta

     

    PT Dunia Express Trasindo

    • 2. beroperasi

     

    DKI Jakarta

     
     

    PT Toyota Motor Manufacturing Indonesi

    • 3. belum normal

     

    -

     

    PT Indo Cafco

    • 4. beroperasi

     

    -

     
    • 5. belum

    PT Pindad

     

    -

    *) = status pada saat survei dilaksanakan

    b. Profil Responden

    Perusahaan yang memanfaatkan PLB di kota Bandung antara lain PT Insani Jaya Mandiri yang merupakan klien atau pengguna dari PT Agility selaku PLB, dimana PT Insani Jaya Mandiri memanfaatkan PLB untuk mengimport bahan baku berupa kain jadi yang akan di gunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi seprei dan pakaian.

    PT Ciptagria Mutiara Busana juga merupakan klien atau pengguna PLB dari PT Agility mereka juga mengimpor bahan baku berupa kain jadi yang akan di gunakan untuk memproduksi pakaian dan seprei juga dimana biaya pengiriman dari TPS ke industri sebesar Rp. 3.500.000,- bila di bandingkan sebelum menggunakan PLB sebesar Rp.4.350.000,- waktu pengiriman juga menurun dari 3-7 hari menjadi 2-5 hari. Salah satu industri yang berada di kabupaten Karawang yang menggunakan PLB dikarenakan mengalami kendala perubahan peraturan sehingga perusahaan yaitu PT Toyota Tsusho Metals Indonesia adalah produsen sparepart mobil Toyota perusahaan ini terpaksa menggunakan PLB untuk penundaan impor bahan baku yang telah di jadwalkan, perusahaan ini menggunakan system Just In Time (JIT) sehingga bahan baku yang di simpan tidak dalam jumlah besar, hanya untuk kebutuhan produksi selama 2 minggu. Responden yang ditemui dan diwawancarai untuk wilayah Bandung dan Karawang ditunjukkan pada Tabel 4.4

    Tabel 4.4 Responden Yang di Temui Di Wilayah Bandung dan Karawang

    Jenis Responden

    Institusi

    Penyelenggara PLB/PDPLB

    • 1. PT Agility Internasional Batu Jajar Bandung

    Industri Pengguna

    • 1. PT Grand Textile

    • 2. CV Insani Jaya Mandiri

    • 3. PT Ciptagria Mutiara Busana

    • 4. PT Toyota Tsusho Metals Indonesia

    Pengawas PLB

    • 1. KPPBC TMP Bandung

    Profil mengenai para penyelenggara dan pengguna PLB di Bandung dan Karawang yang menjadi responden dalam kajian ini selengkapnya adalah sebagai berikut.

    • 1. PT. Agility International PT Agility International merupakan salah satu penyelenggara Pusat Logistik Berikat (PLB) yang berada di kota Bandung. Perusahaan ini menyediakan sistem informasi dan manajemen bagi para pengguna atau klien dari PLB ini. Luas gudang yang digunakan adalah 1.000 m 2 dan memiliki peralatan pendukung 2 unit forklift Toyota, 3 unit Hand Pallet, 4 meja Pallet, dan tenaga kerja yang di miliki sebanyak 20 orang, sedangkan fasilitas lainnya adalah Agility Tracking, PLB Portal, WMS. Dalam melakukan proses bisnisnya PT Agility International sudah memiliki Standar Operasional

    Prosedurnya (SOP). Waktu yang di butuhkan untuk proses penerimaan barang adalah selama 180 Menit/Container, dan untuk pengeluaran barang selama 60 Menit/Truck.

    • 2. PT Grand Textile PT Grand Textile Industri merupakan Industri tekstil yang belum menggunakan Pusat Logistik Berikat (PLB). Dalam memenuhi kebutuhan bahan bakunya, PT Grand Textile Industri masih memanfaatkan Kawasan Berikat. Perusahaan tersebut belum bersedia menggunakan fasilitas PLB karena sistem manajemen sudah terintetgrasi dengan kawasan berikat, sehingga untuk memulai penggunaan fasilitas PLB membutuhkan biaya dan waktu untuk penyesuaian manajemen dan infrastruktur.

    • 3. CV Insani Jaya Mandiri CV Insani Jaya Mandiri merupakan klien atau pengguna dari fasilitas PLB yang disediakan oleh PT. Agility International. CV Insani Jaya Mandiri memanfaatkan PLB untuk mengimpor bahan baku berupa kain jadi yang akan digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi seprei dan pakaian. Sebelum menggunakan PLB, tempat penimbunan yang digunakan oleh perusahaan tersebut adalah tempat penimbunan sementara (TPS) yang terdapat di kawasan pabean (pelabuhan). Sebelum menggunakan PLB, status kepemilikan barang di TPS adalah milik sendiri dan setelah menggunakan PLB status kepemilikan barang adalah sebagaian milik sendiri dan untuk barang yang masih tersimpan di PLB adalah barang titipan (konsinyasi).

    • 4. PT Ciptagria Mutiara Busana PT Ciptagria Mutiara Busana merupakan klien atau pengguna dari fasilitas PLB yang disediakan oleh PT. Agility International. PT Ciptagria Mutiara Busana memanfaatkan PLB untuk mengimpor bahan baku berupa kain jadi yang akan digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi seprei dan pakaian. Sebelum menggunakan PLB, tempat penimbunan yang digunakan oleh perusahaan tersebut adalah tempat penimbunan sementara (TPS) yang terdapat di kawasan pabean (pelabuhan).

    • 5. PT Toyota Tsusho Metals Indonesia PT Toyota Tshusho Metals Indonesia adalah produsen sparepart mobil Toyota. Perusahaan tersebut menggunakan sistem JIT (just in time) sehingga bahan baku yang disimpan tidak dalam jumlah

    besar, akan tetapi hanya untuk kebutuhan produksi selama 2 minggu. PT Toyota Tsusho Metals Indonesia mendapat fasilitas jalur hijau dari Ditjen Bea dan Cukai sehingga pengadaan bahan baku untuk pelaku usaha tersebut sangat efisien meskipun tanpa menggunakan PLB. Karena pada suatu waktu tertentu perusahaan tersebut mengalami kendala karena perubahan peraturan, maka PT Toyota Tshusho Metals Indonesia terpaksa menggunakan fasilitas PLB untuk penundaan impor bahan baku yang telah dijadwalkan. Saat itu PT Toyota Tshusho Metals Indonesia menggunakan fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB) dari PT Cipta Krida Bahari. Bahan baku yang di impor adalah Steel Sheet in Coil yang berasal dari Toyota Tsuhsho Corporation di Jepang sebagai bahan baku besi baja dalam industri otomotif. Tempat penyimpanan sebelum ada PLB adalah di Tempat Penimbunan Sementara (TPS), produk yang di impor dan masih tersimpan di tempat penyimpanan adalah milik sendiri.

    4.1.3. Banten

    a. Profil Wilayah Survei

    Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai total barang dan jasa yang dihasilkan seluruh unit ekonomi pada suatu daerah. PDRB dapat digunakan sebagai indicator pertumbuhan ekonomi daerah. Selain itu, kita juga dapat mengetahui struktur ekonomi suatu daerah. Pada tahun 2015, 5 (lima) sector utama yang

    berkontribusi terbesar terhadap PDRB provinsi Banten adalah industri pengolahan sebesar 37%, kemudian disusul oleh perdagangan besar dan eceran sebesar 13%, sector konstruksi 9%, property 8%, serta transportasi dan pergudangan 6% (Gambar 1).

    1.

    2.

    Gambar 1. Kontribusi PDRB Banten Atas Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015 (%)

    3.

    4.

    5.

    PDRB Banten Atas Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha, 2015

    37% 13% 9% 3% 2% 2% 6% 3% 5% 6% 6% 8%
    37%
    13%
    9%
    3%
    2% 2% 6%
    3%
    5%
    6%
    6%
    8%
    • Industri Pengolahan

    • Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

    • Konstruksi

    • Real Estate

    • Transportasi dan Pergudangan

    • Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

    • Informasi dan Komunikasi

    Sumber: BPS Banten, 2016 (diolah)

    Sementara itu, jika dilihat dari jumlah perusahaan/industri, pada tahun 2015 provinsi Banten memiliki industri besar dan sedang sebanyak 1.720 perusahaan (tidak termasuk pertambangan, energi dan konstruksi). Sejumlah perusahaan tersebut mempekerjakan 505.017 orang tenaga kerja. Industri karet dan plastik memiliki perusahaan besar dan sedang paling banyak yaitu 235 perusahaan, sementara industri makanan minuman dan bahan kimia masing-masing berjumlah 200 dan 174. Industri barang dari logam dan tekstil terdiri dari 156 dan 125 perusahaan. Industri lainnya masing-masing terdiri dari kurang dari 100 perusahaan. Namun jika dilihat dari jumlah tenaga kerja, industri kulit dan alas kaki merupakan yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu 115.700 orang atau 22,9% dari keseluruhan tenaga kerja industri (Gambar 2).

    6.

    7.

    • 8. Gambar 2. Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja 10 Besar Industri di Banten Tahun 2015

    Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja 10 Besar Industri di Banten, 2015 250 140000 120000 200 100000
    Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja 10 Besar Industri di
    Banten, 2015
    250
    140000
    120000
    200
    100000
    150
    80000
    100
    60000
    40000
    50
    20000
    0
    0
    Industri
    Makanan
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Karet dan
    dan
    Bahan
    Barang
    Tekstil
    Pakaian
    Kulit dan
    Furnitur
    Barang
    Kertas
    Plastik
    Minuman
    Kimia
    dari
    Jadi
    Alas Kaki
    Galian
    Logam
    Bukan
    (kecuali
    Logam
    mesin)
    Jumlah Perusahaan
    Tenaga Kerja
    9.
    10.
    Sumber: BPS Banten, 2016 (diolah)
    11.

    Dengan demikian, dari data kontribusi perekonomian di atas, dapat dikatakan bahwa provinsi ini didukung oleh industri pengolahan atau manufaktur, termasuk pengolahan plastic, makanan minuman, bahan kimia, logam, alas kaki serta tekstil dan lain-lainnya. Dalam kaitannya dengan Pusat Logistik Berikat (PLB) yang bertujuan antara lain untuk mendekatkan bahan baku dengan industri dan efisiensi biaya logistic, maka keberadaan PLB sebaiknya dapat mendukung kelompok industri sekitarnya. PLB yang terdapat di provinsi Banten merupakan fasilitas logistic khusus untuk bahan bakar minyak dan bahan kimia cair. Selain dimanfaatkan oleh industri di Banten, PLB ini juga memiliki pengguna (klien) yang berlokasi di provinsi lain seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan lainnya. Berdasarkan informasi yang diperolah dari Kantor Pelayanan Bea Cukai Merak PLB/PDPLB yang berlokasi di Banten ditunjukkan pada Tabel 4.5.

    Tabel 4.5 Responden Yang di Temui Di Wilayah Banten

         

    Gudang

    PLB

    di

    No.

    PLB/PDPLB

    Status

    Wilayah

    lain

    (jika

    operasional*

    ada)

    1.

    PT Vopak Terminal Merak

    beroperasi

    -

         

    Gudang

    PLB

    di

    No.

    PLB/PDPLB

    Status

    Wilayah

    lain

    (jika

    operasional*

    ada)

     

    PT Linc Terminal Merak (Taruna Bina Sarana)

    • 2. beroperasi

     

    -

     

    PT Bumimerak

     

    -

    • 3. beroperasi

    Terminalindo

     

    PT Seamless Pipe Indonesia Jaya

    • 4. belum

     

    -

    *) = status pada saat survei dilaksanakan

    Pada saat dilaksanakan survei kajian, di Banten terdapat 3 PLB yang sudah beroperasi, yaitu Bumi Merak Terminalindo, PT Taruna Bina Sarana, dan PT Vopak. Kegiatan pengawasan PLB yang dilakukan oleh Bea Cukai meliputi 3 hal yaitu pengawasan saat awal pendirian PLB, pengawasan barang keluar masuk melalui CCTV secara online, dan pengawasan sistem persediaan secara berkala. Jenis kegiatan badan usaha penyelenggara PLB antara lain jasa logistik dan sistem rantai pasok, penyimpanan dan pergudangan, serta jasa penyewaan tanki bahan kimia cair.

    b. Profil Responden

    Para penyelenggara dan pengguna

    PLB

    di

    Banten

    yang

    menjadi responden dalam kajian ini ada 3 (Tabel 4.5) yaitu :

    • 1. Bumi Merak Terminalindo Perusahaan yang berlokasi di Ciwandan, Banten ini merupakan penyelenggara PLB dan menyediakan jasa penyewaan tangki penyimpanan bahan kimia cair dan jasa logistik.

    • 2. PT Taruna Bina Sarana (LINC Terminal) Penyelenggara PLB ini berlokasi di Cilegon, Banten. Jenis kegiatan usaha meliputi penyediaan jasa penyewaan tangki bahan petrokimia dan jasa logistik lainnya

    • 3. PT Lucky Print Abadi Merupakan pengguna PLB yang berlokasi di Banten dengan ativitas meliputi berbagai proses produksi tekstil seperti spinning, weaving, dyeing, finishing, dan lainnya yang membutuhkan bahan baku kapas. Perusahaan ini tidak memanfaatkan PLB yang berlokasi di Banten karena PLB yang berada di Banten tidak menyediakan bahan baku kapas. Perusahaan ini merupakan klien

    dari PT Indo Cafco sebagai PDPLB dari PLB PT Dunia Ekspress Trasindo (Dunex) yang berlokasi di Karawang.

    Tabel 4.6 Responden yang ditemui di Banten

    Jenis Responden

    Perusahaan

    Penyelenggara

    Bumi Merak Terminalindo

    PLB/PDPLB

    PT Taruna Bina Sarana (LINC Terminal Merak)

    Industri Pengguna

    PT Lucky Print Abadi

    Pengawas

    PLB

    Kantor Bea Cukai Merak

    (Pemerintah)

    Diskusi lebih lanjut dengan pengguna PLB menunjukkan bahwa PLB dapat menghemat waktu pemesanan kapas dari negara- negara eksportir sampai dengan 3,5 bulan daripada tidak menggunakan PLB (impor langsung). Hal tersebut juga mempengaruhi jumlah stok yang harus dimiliki oleh perusahaan serta working capital- nya. Namun demikian, bahan baku kapas yang tersedia di PLB di Cikarang belum banyak variasi dalam hal kualitas dan jenisnya sehingga perusahaan masih harus mengimpor sebagian bahan bakunya secara langsung. Sementara itu dari wawancara dan diskusi dengan penyelenggara PLB diperoleh informasi terkait fasilitas yang dimiliki, manfaat serta hambatan dalam implementasi PLB. Fasilitas yang dimiliki PLB untuk bahan kimia cair antara lain tangki penyimpanan dalam beberapa ukuran dan kapasitas, pipa dan jetty, truk dan mobil angkutan bahan kimia cair, serta real-time stock management system. Manfaat keberadaan PLB antara lain adalah membantu cash flow klien, memperluas pasar bagi PLB serta penundaan pajak. Sementara hambatannya status jetty yang digunakan perusahaan yang merupakan milik pribadi atau private. Dengan status tersebut, perusahaan hanya diperbolehkan oleh Kementerian Perhubungan menggunakan jetty untuk pengiriman barang dari perusahaan dalam 1 grup. Diharapkan jetty tersebut akan dapat digunakan untuk klien yang lebih luas di luar grup perusahaan termasuk klien dari luar negeri.

    4.1.4. Bali

    a. Profil Wilayah Survei

    Bali merupakan wilayah yang memiliki perkembangan industri IKM cukup pesat. Data BPS provinsi Bali (2017) menunjukkan pada kwartal I 2017 industri IKM tumbuh sebesar 5,6% lebih tinggi dari pertumbuhan pada kwartal IV-2016 yaitu sebesar 3,6%. Demikian halnya jika dilihat secara Tahunan terlihat ada peningkatan yang semakin membaik (Gambar 4.4 dan Gambar 4.5)

    Bali merupakan wilayah yang memiliki perkembangan industri IKM cukup pesat. Data BPS provinsi Bali (2017) menunjukkan

    Sumber: BPS Provinsi Bali

    Bali merupakan wilayah yang memiliki perkembangan industri IKM cukup pesat. Data BPS provinsi Bali (2017) menunjukkan

    Gambar 4.4 Pertumbuhan Produksi IKM

    Bali dan Nasional Q IV 2016 dan Q1-2017

    secara periode Q-to-Q (%)

    Gambar 4.5 Gambar 4.1b. Pertumbuhan

    Produksi IKM Bali dan Nasional Q I 2016

    dan Q I-2017 secara periode Y-to-Y (%)

    Produk yang diproduksi oleh pengusaha IKM Bali sangat diminati oleh konsumen domestik maupun mancanegara pada saat mereka berkunjung ke Bali. Dengan demikian, dengan sendirinya pasar produk IKM tercipta dan hal ini merupakan peluang yang cukup baik dan memiliki prospek potensi pasar yang bagus baik baik di dalam maupun luar negeri. Seringkali konsumen luar negeri setelah mengenal produk hasil industri IKM di Bali langsung melakukan pemesanan (secara order) dalam jumlah yang cukup besar untuk dipasarkan di luar negeri. Hal ini cukup membawa pengaruh terhadap produksi yang dihasilkan. Pada triwulan (Q) I-2017, pendorong utama yang menyumbang pertumbuhan positif yaitu industri pakaian jadi, industri kertas dan barang jadi dari kerta dan industri pengolahan lainnya. Namun demikian, untuk memenuhi kebutuhan produksi sering kali pengusaha IKM masih memiliki kendala dalam hal penyediaan bahan baku. Sejalan dengan tumbuhnya industri UKM/IKM di Bali, Data Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Bali (2016) mencatat banyaknya usaha kecil menengah yang telah memberikan kontribusi terhadap perekonomian provinsi Bali. Tahun 2016, tercatat sebanyak 265.558 UKM/IKM formal dan informal, terdiri dari UKM/IKM

    formal sebanyak 61.648 dan UKM/IKM informal sebanyak 203.910. yang tersebar diseluruh wilayah di Bali. Berdasarkan sebaran wilayahnya, Kabupaten Gianyar merupakan wilayah yang memiliki cukup banyak UKM/IKM yaitu 91.511 dan yang paling sedikit ada di Kabupaten Klungkung yaitu 9.712 UKM. Sementara untuk UKM/IKM formal lebih banyak terdapat di Kabupaten Badung yaitu 12.629 UKM dan UKM informal lebih banyak terdapat di Kabupaten Gianyar yaitu 84.677 UKM/IKM. Berdasarkan data yang tercatat oleh PLB di Bali, sebanyak 6 IKM telah terdaftar sebagai pengguna PLB dan 1 IKM yang belum memiliki fasilitas KITE. IKM-IKM tersebut sebelumnya telah melakukan pemasan produk ke luar negeri. Adapun manfaat PLB bagi UKM, khususnya yang berorientasi ekspor yaitu kemudahan dalam penyediaan pasokan (efisiensi waktu) serta adanya kemudahan bebas pembayaran pajak impor dan bea masuk (efisinesi biaya). Saat pelaksaan survey, jumlah IKM yang telah mendapatkan fasilitas KITE ada 6 IKM, yaitu (i) inducomp dewata, (ii) PT Esprite Nomade, (iii) PT Bali Tangi, (iv) PT. Spa Factory, (v) PT. Bayan Internasional dan (vi) PT. Sari Rambut. Namun demikian, masih ada IKM yang potensial tetapi belum mendapat fasilitas PLB yaitu PT. Songket Putri Mas (PLB PT. Khrisna Cargo Internasional, 2017)

    b. Profil Responden Secara umum, gambaran kondisi responden dapat dijelaskan sesuai jumlah responden yang dilaksanakan pada saat survey berlangsung. Responden yang menjadi target melakukan survey di Bali yaitu penyelenggara PLB, pengusaha PLB, dan pengguna PLB. PT. Khrisna Cargo Internasional merupakan penyelenggara PLB dan sekaligus sebagai pengusaha PLB. Selain itu tim survei juga berkoordinasi dengan Kantor Bea Cukai untuk Wlayah Bali. Responden yang di temui pada survei di wilayah Bali ditunjukan pada Tabel 4.7.

    Tabel 4.7 Responden Yang Ditemui di Provinsi Bali

    Jenis Responden

    Institusi

    Penyelenggara PLB/PDPLB

    • 1. PT Khrisna Logistics

    Industri Pengguna

    • 1. PT Sari Rambut

    • 2. PT Inducomp Dewata

    • 3. CV Banyan Internasional

    • 4. PT Spa Factory Bali

    • 5. PT Esprite Nomade

    Pengawas PLB

    1.

    Kanwil DJBC Bali, NTB, NTT

    Responden sebagai pengguna PLB yang ada di Bali berbeda dengan pengguna PLB di beberapa wilayah lainnya yang mana pengguna PLB di Bali, umumnya adalah industri kecil menengah (IKM). Pada saat melakukan survey, jumlah pengguna IKM yang telah memanfaatkan fasilitas PLB sebanyak 6 IKM, yaitu (i) inducomp dewata, (ii) PT Esprite Nomade, (iii) PT Bali Tangi, (iv) PT. Spa Factory, (v) PT. Sari Rambut dan (vi) PT. Bayan Internasional. Namun demikian, masih ada IKM yang potensial tetapi belum mendapat fasilitas PLB yaitu PT. Songket Putri Mas. Pada bagian ini akan di ulasan singkat mengenai masing-masing-masing IKM dan PLB yang menjadi tujuan responen dalam pengumpulan data kajian. Selain PLB, beberapa responden IKM yang menjadi pengguna PLB akan dijelaskan mengenai karakteristinya. Pada umumnya IKM- IKM yang menjadi responden adalah IKM yang sudah terdaftar sebagai pengguna PLB. Namun, dalam pelaksanaannya IKM tersebut belum menggunakan PLB untuk menyimpan bahan baku dari impornya. Alasan yang diberikan oleh responden kenapa belum menggunakan fasilitas gudang PLB yang telah disediakan oleh PT.Khrisna adalah (i) stok bahan baku impor yang mereka miliki masih ada dan mereka membeli bahan baku dari importira dan (ii) IKM yang sudah mendapat fasilitas KITE masih terkendala adanya Lartas serta (iii) pasar yang masih terbatas. Namun, IKM tersebut pada saat survey sedang dalam proses pengurusan untuk menjadi pengguna PLB. Berdasarkan karakteristiknya, selanjutnya akan diulas mengenai masing-maisng IKM dan jenis industri dan produk yang dihasilkan.

    • 1. PT. Khrisna Cargo Internasional

    PT. Khrisna Cargo Internasional merupakan penyelenggara dan pengusaha pusat logistik berikat (PLB) yang ada di Bali. PLB ini mulai beroperasi sejak Maret 2017 dan berada di kawasan Ngurahrai dan Benoa. PLB ini mempunyai peran menampung barang untuk mendukung industri kecil menengah (IKM). Manfaat PLB di Bali sangat sesuai bagi IKM terutama dalam kaitan cash flow yang pada umumnya sering menjadi masalah. Namun dengan PLB, Semua bahan baku sektor IKM bisa disimpan di gudang PLB selama tiga tahun tanpa harus membayar bea masuk dan pajak impor sehingga lebih efisien karena hanya dikenai biaya penyimpanan. Menurut laporan DJBC wilayah Bali, BTB dan NTT (2017) menyatakan bahwa dengan adanya PLB, maka pelaku IKM di Bali,

    tak perlu mengeluarkan semua impornya dalam satu periode. “PLB

    menjadi gudang logistik multi fungsi untuk menimbun barang impor atau lokal. Pelaku usaha akan mendapat kemudahan fasilitas perpajakan berupa penundaan pembayaran bea masuk dan tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan/atau Pajak Penjualan

    atas Barang Mewah (PPnBM), serta fleksibilitas operasional lainnya. Dengan konsep tersebut, pengguna IKM diharuskan memiliki fasilitas KITE. Adapun skem KITE mempunyai konsep yaitu produk yang dihasilkan oleh IKM harus di ekspor dan tidak dijual di dalam negeri. Skema ini berlaku pada tahun ke-2, pada tahun 1 setelah mendapat fasilitas KITE produk yang dihasilkan masih diperbolehkan untuk pasar dalam negeri dengan proporsi 20% dan 80% untuk pasar tujuan ekspor.

    • 2. PT. Inducomp Dewata

    PT. Inducomp Dewata merupakan industri IKM yang bergerak dibidang komponen perlengkapan elektronik. Saat ini, IKM telah mendapat fasilitas KITE sebagai syarat untuk dapat melakukan ekspor. Pada saat survey dilaksanakan, status IKM masih dalam proses pengurusan untuk menjadi pengguna PLB. Kebutuhan bahan baku dalam proses produksi berasal dari impor yaitu Hongaria, selanjutnya produk yang dihasilkan berupa komponen perlengkapan elektronik langsung di ekspor. Selama ini, bahan baku yang ada disimpan di gudang milik perusahaan karena jumlah bahan baku yang ada masih relatif kecil dengan jumlah sesuai dengan produk yang dipesan oleh negara buyer. Kedepan dengan adanya gudang PLB, akan bermanfaat seiring dengan upaya peningkatan produksi dan membutuhkan bahab baku yang lebih besar.

    • 3. PT.Esprite Nomade

    PT.Esprite Nomade merupakan industri IKM yang bergerak dibidang jasa tetapi juga memproduksi produk berupa tenda yang terbuat dari bahan baku kain. Industri ini memproduksi barang yang sangat spesifik sehingga diperlukan bahan baku kain untuk menghasilkan tenda sesuai dengan permintaan buyer.

    • 4. PT Bali Tangi

    PT Bali Tangi merupakan IKM yang memproduksi bahan- bahan kebutuhan spa (sabun, scrab, lulur, shampo) dan aroma terapi

    dengan bahan baku alamiah dari rempah-rempah dan buah-buahan yang ada di Indonesia. Berapa bahan baku impor untuk aroma dan minyak essensial tetapi dalam jumlah yang relatif kecil.

    • 5. PT. Spa Factory

    PT. Spa Factory merupakan IKM yang bergerak dibidang jasa dan menghasilkan produk berupa minyak wangi, lilin, sabun, lulur, minyak essensial, perlengkapan hotel seperti sabun, shampo, conditioner. Bahan baku hampir semua berasal dari impor terutama essensial oil dan bahan kimia kosmetik. Produk yang dihasilkan oleh PT. Spa Factory untuk tujuan ekspor dan sebagian untuk pemesanan hotel di dalam negeri.

    • 6. PT. Banyan Internasional

    PT. Banyan Internasional merupakan industri IKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan. Produk yang dihasilkan adalah jewerly dengan bahan baku kulit jenis sweat serta suede. Bahan baku yang digunakan untuk membuat jewerly berasal dari Impor karena di Indonesia tidak tersedia. Jenis bahan baku yang digunakan berdasarkan permintaan buyer sehingga semua produk jewely yang dihasilkan di pasarkan untuk tujuan ekspor.

    • 7. PT. Sari Rambut

    PT. Sari Rambut merupakan industri IKM dengan produk yang dihasilkan berupa rambut wig, tas make up dan special effect. Bahan baku rambut wig adalah rambut yang diimpor dari India, Eropa, Rusia dan Vietnam. Sedangkan rambut sintetis impor dari Korea dan Jepang. Produk yang dihasilkan memiliki desain sesuai dengan permintaan buyer (customs).

    • 8. PT. Songket Putri Mas

    PT. Songket Putri Mas merupakan jenis industri IKM textil/tenun yang menghasilkan produk kain batik, kain songket. IKM textil ini belum memiliki KITE namun produknya sudah masuk di pasar Malaysia melalui pemesanan langsung. Industri ini menggunakan bahan baku benang yang diperoleh dari lokal dan pedagang importir yang dikirim dari India dan China sehingga harga lebih mahal. Kebutuhan bahan baku dalam satu bulan sebanyak 5-

    10 pacs (1 pacs berisi 170 buah). Peran PLB bagi IKM untuk mendekatkan bahan baku dan dapat diambil secara berkala serta kepastian ketersediaan bahan baku. Selama ini, kebutuhan bahan baku benang belum banyak. Jenis benang yang diperlukan untuk bahan baku kain songket memiliki kriteria tertentu yaitu memiliki ukuran 64/2 dan 80/2.

    4.1.5. Kalimantan Timur

    a. Profil Wilayah Survei

    Berikut adalah PDRB Kota Balikpapan tahun 2014 berdasarkan harga konstan menurut lapangan usaha. Seperti halnya dengan provinsi Banten, kontribusi PDRB Kota Balikpapan paling besar juga berasal dari Industri Pengolahan sebesar 57,23%, disusul dengan Konstruksi sebesar 12,66% dan Perdagangan Besar dan Eceran yaitu sebesar 8,06%. Kontributor terbesar selanjutnya adalah sector Transportasi dan Pergudangan sebesar 7,39%. Sementara, Pertambangan dan Penggalian hanya sebesar 0,05%. Dengan demikian, perekonomian kota ini secara dominan didukung oleh industri pengolahan, khususnya industri batubara dan pengilangan minyak bumi dan gas, serta industri pengolahan lainnya selain migas dan batubara.

    Gambar 1. Kontribusi PDRB Kota Balikpapan Atas Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2014 (%)

    PDRB Balikpapan Atas Harga Konstan Menurut Lapangan

    1.66 Pengadaan Listrik dan Gas Industri Pengolahan 0.06 0.07 12.66 8.06 7.39 3.26 3.39 1.40 0.59
    1.66
    Pengadaan Listrik dan Gas
    Industri Pengolahan
    0.06
    0.07
    12.66
    8.06
    7.39
    3.26
    3.39
    1.40
    0.59
    Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah
    dan Limbah
    0.97 0.05
    Usaha, 2014
    1.16 0.44
    Pertambangan dan Penggalian
    Konstruksi
    Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
    57.23
    1.31
    0.29

    Sumber : BPS Kota Balikpapan, 2015 (diolah)

    Jika dilihat dari penyerapan tenaga kerja berdasarkan jenis lapangan usaha, maka sector jasa menyerap paling banyak tenaga kerja hingga mencapai 74% di Kota Balikpapan atau sekitar 196.727 orang dari 265.848 orang angkatan kerja . Lebih lanjut, sector manufaktur mempekerjakan 23% atau sekitar 61.145 orang dan sector utama lainnya yaitu sector pertanian mempekerjakan 3% tenaga kerja.

    Tenaga Kerja Berdasarkan Lapangan Usaha, 2015

    23% 3% 74% Sektor pertanian Sektor manufaktur Sektor jasa
    23%
    3%
    74%
    Sektor pertanian
    Sektor manufaktur
    Sektor jasa

    Sumber : BPS Kota Balikpapan, 2016 (diolah)

    Sektor manufaktur atau industri pengolahan mendominasi perekonomian Kota Balikpapan. Sector ini termasuk pengolahan hasil tambang minyak dan gas yang ada di provinsi Kalimantan Timur. Oleh karena itu, PLB yang beroperasi di Balikpapan merupakan pendukung terkait, seperti gudang penyimpanan dan penyewaan alat-alat berat, peralatan pertambangan dan pengeboran lepas pantai, perdagangan alat-alat berat, dan sebagainya. Industri pengguna PLB tidak selalu satu wilayah dengan PLB setempat. Seperti di Balikpapan, industri pengguna PLB hampir semua berkantor pusat di DKI Jakarta sementara di Balikpapan merupakan lokasi operasional. Jenis kegiatan badan usaha penyelenggara PLB antara lain jasa logistic, transportasi dan freight, serta warehouse management. Sementara kegiatan badan usaha dari pengguna adalah perusahaan pertambangan minyak dan gas serta industri pendukung seperti perdagangan dan persewaan alat- alat berat serta perusahaan industri kertas dan produk kayu.

    b. Profil Responden

    Informasi dari Kantor Bea Cukai Balikpapan menunjukkan bahwa saat ini di Balikpapan ada 3 PLB yang sudah beroperasi, yaitu

    PT Cipta Krida Bahari, Petrosea Offshore Supply Base, dan PT East Kal. Kegiatan pengawasan PLB yang dilakukan oleh Bea Cukai meliputi 3 hal yaitu pengawasan saat awal pendirian PLB, pengawasan barang keluar masuk melalui CCTV secara online, dan pengawasan inventory system. Sumber informasi yang sama menyebutkan bahwa barang-barang yang diimpor untuk disimpan di PLB wilayah Balikpapan dan sekitarnya realtif tidak variatif, menyesuaikan dengan sector industri yang dominan. Sementara, ada usulan dari beberapa pelaku usaha di bidang tekstil agar membuka fasilitas PLB untuk bahan baku tekstil seperti kapas dan benang. Namun karena kebutuhan daerah setempat belum signifikan, usulan tersebut masih belum dapat ditindaklanjuti.

    Tabel 4.8 Responden yang ditemui di Balikpapan

    Jenis Responden

    Perusahaan

    Penyelenggara PLB/PDPLB

    • 1. PT Cipta Krida Bahari

    • 2. Petrosea Offshore Supply Base

    Industri Pengguna

    • 1. PT Agra Bareksa Indonesia

    Pengawas PLB (Pemerintah)

    • 1. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Balikpapan

    Penyelenggara dan pengguna PLB di Balikpapan yang menjadi responden seperti yang tercantum pada Table 2 yaitu :

    • 1. PT Cipta Krida Bahari Perusahaan ini merupakan salah satu penyelenggara PLB yang berlokasi di Manggar dengan jenis kegiatan usaha antara lain logistic service, freight transport, shore base management, warehouse management, project logistic, dan custom clearance. Jumlah klien atau pengguna mereka ada 3 perusahaan yaitu PT Trakindo Utama yang bergerak di alat-alat berat, Agra Bareksa dengan jenis produk pulp and paper, dan PT Schlumberger yang bergerak di bidang oil and gas services. Fasilitas yang dimiliki sebagai penyelenggara PLB terdiri dari :

      • - Gudang tipe open yard seluas 6.000 m 2

      • - Alat transportasi berupa forklift kapasitas 3 ton, truck Fuso, Trailer serta LCT

      • - Peralatan pendukung seperti CCTV, e-seal, dan GPS tracker

      • - Tenaga kerja terdiri dari 5 orang

    - System manajemen stok/inventory menggunakan Scm Profit, GPS Tracking System dan e-Seal Tracking Terkait dengan proses bisnis dan durasinya tercantum dalam tabel berikut :

    Proses

    Waktu/Durasi

    Penerimaan barang

    • 2 hari (formulir Bea Cukai BC 1.6)

    Penyimpanan barang

    Tergantung permintaan klien/customer

    Pengeluaran barang

    • 1 hari (formulir Bea Cukai BC 2.8)

    Administrasi

    Pada hari yang sama

    • 2. PT Petrosea Offshore Supply Base Perusahaan yang berlokasi di Tanjung Batu Balikpapan ini mengkhususkan jenis kegiatan usahanya pada jasa logistic untuk pertambangan minyak dan gas. Pengguna dari Petrosea terdiri dari 7 perusahaan yang bergerak di pertambangan minyak dan gas serta pendukungnya seperti penyewaan rig dan alat berat lainnya. Fasilitas yang dimiliki terkait penyelenggaraan PLB sebagai berikut :

      • - Gudang tertutup seluas 1.500 m 2 , open yard dengan luas total 50.000 m 2 , tempat penyimpanan off-shore, dan tubular maintenance shelter seluas 1.000 m 2

      • - Peralatan pendukung terdiri dari 10 unit crane dan forklift

    • - Tenaga kerja sebanyak 4 orang terdiri dari tenaga administrasi, inventory, operasional serta public relation dan pengurusan dokumen. Selain itu, karena Petrosea menggunakan jasa dari PT DHL untuk inventory dan warehouse management, maka ditugaskan 2 orang tambahan untuk menangani hal tersebut. Sementara itu, proses bisnis dan durasinya tercantum dalam tabel berikut :

    Proses

    Waktu/Durasi

    Penerimaan barang

    1 hari (formulir Bea Cukai BC 1.6)

    Penyimpanan barang

    Paling cepat 2 minggu, paling lama 1 tahun tergantung kebutuhan klien

    Pengeluaran barang

    Proses handling kurang dari 1 hari

    Proses lainnya

    Maintenance tambahan oleh klien sendiri

    • 3. PT Agra Bareksa Utama Perusahaan ini memproduksi mesin produksi wood chip atau kayu serpih dan merupakan klien atau pengguna dari PLB PT Cipta Krida Bahari. Barang-barang yang diimpor sebagian langsung disimpan di PLB dan sebagian lagi dirakit terlebih dahulu sebelum disimpan. Luas area yang dibutuhkan sementara ini sebesar 2.000 m2. Diskusi lebih lanjut menunjukkan bahwa perusahaan tersebut

    merupakan perusahaan baru dan langsung menggunakan PLB, sehingga tidak dapat membandingkan manfaat sebelum dan sesudah menggunakan PLB. Namun demikian, perusahaan tersebut menyatakan dengan menggunakan PLB tidak ada demurrage charge” di pelabuhan serta waktu penanganan barang lebih cepat. Sementara itu, menurut salah satu PLB, kliennya menyatakan bahwa dengan menggunakan PLB, klien tersebut yang merupakan industri minyak dan gas dapat menghemat biaya logistic sampai dengan 30%.

    4.1.6. DKI Jakarta

    a. Profil Wilayah Survei

    Struktur perekonomian DKI Jakarta dapat dilihat distribusi persentase PDRB berdasarkan lapangan usaha. Jika ditinjau menurut kontribusi setiap lapangan usaha terhadap PDRB DKI Jakarta, tiga lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB DKI Jakarta adalah lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan kendaraan bermotor, lapangan usaha industri pengolahan, dan lapangan usaha konstruksi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4.1. Ketiga lapangan usaha terbesar tersebut memberi kontribusi sekitar 44 persen terhadap total PDRB di Jakarta.

    merupakan perusahaan baru dan langsung menggunakan PLB, sehingga tidak dapat membandingkan manfaat sebelum dan sesudah menggunakan

    Sumber : BPS DKI Jakarta, 2016 (diolah)

    Gambar 4.6 Kontribusi PDRB Menurut Lapangan Usaha di Provinsi DKI Jakarta

    Sementara itu, jika dilihat dari jumlah perusahaan/industri, Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4.2, pada tahun 2014 provinsi DKI Jakarta memiliki industri manufaktur besar dan sedang sebanyak 1.240 perusahaan (tidak termasuk pertambangan, energi dan konstruksi). Dari sektor tersebut tersebut, tenaga kerja yang diserap mencapai 277.292 orang. Dari sejumlah industri tersebut industri pakaian jadi adalah industri yang terbanyak dimana jumlahnya mencapai 264 perusahaan atau sebesar 21,29 persen dari seluruh jumlah perusahaan industri besar sedang. Berdasarkan jumlah tenaga kerja, industri pakaian jadi juga merupakan industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 65.667 orang. Dalam kelompok industri makanan dan minuman terdapat 182 perusahaan sedangkan kelompok industri karet dan plastik terdapat 135 perusahan dengan penyerapan tenaga kerja pada kedua industri tersebut berturut-turut sebesar 24.952 orang dan 19.289 orang. Selanjutnya untuk kelompok industri lainnya berjumlah kurang dari 100 perusahaan dengan tenaga kerja kurang dari 15.000 orang kecuali untuk industri bahan kimia, industri kendaraan bermotor dan industri alat angkutan menyerap tenaga kerja berturut turut sebanyak 17.272 orang, 35.057 orang dan 19.497 orang.

    dan Pakaian Jadi Makanan Karet dan Pencetakan Barang bahan kimia Tekstil Kulit dan Peralatan Kertas dan
    dan
    Pakaian Jadi
    Makanan
    Karet dan
    Pencetakan
    Barang
    bahan kimia
    Tekstil
    Kulit dan
    Peralatan
    Kertas
    dan
    Plastik
    Industri
    Logam
    Alas Kaki
    Plastik
    Minuman
    Reproduksi
    Bukan,
    Media
    Mesin dan
    Rekaman
    Peralatan
    Jumlah Perusahaan
    Tenaga Kerja
    150
    70000
    60000
    50000
    40000
    30000
    20000
    10000
    0
    50
    300
    250
    200
    0
    100
    Perusahaan
    Orang
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri
    Industri

    Gambar 4.7 Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja 10 Besar Industri di DKI Jakarta Tahun 2014

    Berdasarkan informasi dari Ditjen Bea dan Cukai, di wilayah DKI Jakarta terdapat 12 Pelaku Usaha PLB/PDPLB. Pada saat survei dilaksanakan beberapa PLB/PDPLB masih belum beroperasi walaupun sudah diresmikan. Beberapa pelaku usaha PLB/PDPLB yang berlokasi di DKI Jakarta juga mempunyai gudang PLB di wilayah lain. Informasi tentang PLB/PDLB yang berlokasi di wilayah DKI Jakarta ditunjukkan pada Tabel 4.x. Adapun untuk klien atau perusahaan yang menjadi tujuan pengeluaran PLB, berdasarkan data yang terdapat di SKEP dari Kementerian Keuangan jumlahnya cukup banyak, namun tidak semuanya sudah beroperasi dalam pengertian menerima/mengambil barang dari PLB.

    Tabel 4.9 PLB/PDPLB di Wilayah DKI Jakarta

         

    Gudang

    PLB

    di

    No.

    PLB/PDPLB

    Status

    Wilayah

    lain

    (jika

    operasional*

    ada)

     

    PT Cipta Krida Bahari (CKB)

    • 1. beroperasi

     

    Balikpapan

     
     

    PT Pelabuhan Panajam Banua Taka

    • 2. beroperasi

     

    Balikpapan

     
     
    • 3. beroperasi

    PT Agility Internasional

     

    Bekasi, Bandung

     
     
    • 4. beroperasi

    PT Petrosea

     

    Balikpapan

     
     
    • 5. beroperasi

    PT Dunia Express

     

    Karawang

     
     
    • 6. beroperasi

    PT Lautan Luas

     

    Bekasi

     
    • 7. beroperasi

    PT United Tractors

     

    Balikpapan

     
     

    PT DA Schlumberger

    • 8. beroperasi

     

    -

    9.

    PT. Garuda Maintenace Facility

    beroperasi

    -

     

    PT Bina Sinar Amity

    • 10. belum

     

    -

     
    • 11. beroperasi

    PT Pertamina Drilling

     

    -

     
    • 12. belum

    PT Transcon

     

    -

     
    • 13. belum

    PT KBN

     

    -

     

    PT ICDX Logistik Berikat

    • 14. belum

     

    -

    *) = status pada saat survei dilaksanakan

    b. Profil Responden Responden utama dalam survei ini adalah industri pengguna PLB dan Pelaku usaha PLB/PDPLB. Namun demikian dalam pelaksanaan survei juga dilakukan pencarian informasi dan koordinasi dengan institusi lain yaitu pemerintah yang dalam hal ini adalah Ditjen Bea Cukai dan Asosiasi Perkumpulan Pusat Logistik Berikat Indonesia (PPLBI). Informasi mengenai responden survei di Wilayah DKI Jakarta ditunjukkan pada Tabel 4.x.

    Tabel 4.10 Responden yang ditemui di Wilayah DKI Jakarta

    Jenis Responden

    Institusi

    Penyelenggara PLB/PDPLB

    • 1. PT Dunia Express Trasindo

    • 2. PT Lautan Luas

    • 3. PT Petrosea

    • 4. PT Cipta Krida Bahari

    Industri Pengguna

    • 1. PT Dunia Kimia Jaya

    • 2. Colorobbia Indonesia

    • 3. Sunrise Resource

    Pengawas PLB

    • 1. KPPBC TMP A Marunda

    Asosiasi

    • 1. Perkumpulan Pengusaha Pusat Logistik Berikat Indonesia (PPLBI)

    Berikut ini adalah profil dari responden yang ditemui di wilayah DKI Jakarta. Adapun profil PT CKB dan Petrosea sudah diuraikan di Subbab survei Wilayah Balikpapan.

    • 1. PT Dunia Express Trasindo PT Dunia Ekspress Trasindo (Dunex) merupakan perusahaan penyedia jasa logistik yang berdiri pada tahun 1990 berlokasi di Sunter Jakarta Utara. PT Dunex berpengalaman dalam memberikan pelayanan terkait dengan beberapa tipe kargo khususnya minyak dan gas, otomotif, consumer goods, elektronik, tekstil, mesin dan memberikan pelayanan untuk proyek yang membutuhkan hadling tertentu. PT Dunex termasuk salah satu dari penyelenggara 11 PLB yang diresmikan pertama kali pada tanggal 10 Maret 2016. Jenis kegiatan usaha PT Dunex antara lain warehouse, trucking, container depo, project setting, carrosserie dan logistics service. Jumlah klien atau pengguna PLB Dunex ada 4 perusahaan yaitu PT Indocafco (PDPLB komoditi kapas), PT Nikawa Textile

    Indonesia, PT Insan Asri Semesta dan PT Tunas Multi Pratama Fasilitas yang dimiliki sebagai penyelenggara PLB terdiri dari :

    • -