Anda di halaman 1dari 1

Tidak ada gunanya kamu mencintai seseorang jika kamu tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan

perasaan tersebut. Cinta tidak dapat menunggu. Jika kamu terlambat, maka kamu akan kehilangan
kesempatan untuk cinta itu. Yang tersisa hanya lah penyesalan. Dan ini adalah sebuah cerita tentang cinta
yang terlambat untuk diungkapkan. Segitiga antara cinta, penyesalan, dan persahabatan.

*******

“Kenta-kun!!!!” teriak Akane dari kejauhan. Mengundang banyak tatapan dari orang-orang yang berjalan
melewatinya. Akane tidak mempedulikannya. Bahkan kini dia semakin bersemangat untuk memanggil
Kenta seraya melambai-lambaikan tangannya.

“Dasar kau ini bikin aku malu saja!” tegur Kenta seraya memukul pelan kepala Akane ketika mereka sudah
saling mendekat. Akane hanya tertawa kecil mendengar gerutuan sahabatnya tersebut.

“Daripada ngomel, yuk pergi sekarang! Nanti keburu abis goodies-nya. Kau tahu kan kalau aku udah
nungguin lama banget untuk dapetin goodies EXO kali ini” seru Akane sambil menarik tangan Kenta untuk
segera bergegas menuju sebuah tempat. Kenta pun menurut.

Setelah berjam-jam mereka berada di tempat penjualan goodies salah satu Boy Band terkenal dari negeri
ginseng tersebut, akhirnya Kenta bisa bernafas lega di sebuah sudut kafe yang berada di kawasan
Omotesandou. Di depannya saat ini Akane yang sedang merasa puas dengan hasil jarahannya tadi. Kenta
menatap wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak jaman SMA itu. Kenta pun tertawa kecil.

“Ayo kenapa kau ketawa? Ada yang aneh dengan mukaku ya” rajuk Akane. Kenta pun menggeleng.

“Terus kenapa? Atau bajuku hari ini norak? Kenta-kun ada apa sih?” kejar Akane.

“Ga ada yang aneh, Akane-chan. Kau lucu” Kenta menjawil gemas pipi Akane. Hal tersebut malah
membuat Akane semakin merajuk dan Kenta hanya tertawa menanggapinya.

“Hoi Kenta-kun!” sebuah suara memecah interaksi antara Kenta dan Akane. Mereka berdua langsung
menoleh ke arah suara tersebut.

“Yo Kento-kun! Lagi apa disini?” balas Kenta setelah mengetahui siapa yang memanggilnya. Kento.
Sahabatnya. Kenta pun menggeser kursi di sebelahnya, mempersilakan Kento untuk duduk.

“Haha iya nih, bosan kalau di kamar terus” jawab Kento, lalu menganggukkan kepalanya ke arah Akane,
dan Akane pun membalasnya.

“Udah kenal kan dengan Akane? Bukannya kalian satu klub?” tanya Kenta heran melihat kecanggungan
antara Kento dan Akane.