Anda di halaman 1dari 13

Status Ujian September, 2018

TINEA CRURIS

Disusun Oleh:

Diki Pranatal R.S


N 111 17 006

Penguji Klinik :
dr. DIANY NURDIN, Sp.KK, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA PALU
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018

1
STATUS PASIEN

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

RSUD UNDATA PALU

I. IDENTITAS PASIEN
1) Nama Pasien : Tn. M
2) Umur : 71 tahun
3) Jenis Kelamin : Laki-laki
4) Alamat : Ds Sinai
5) Agama : Islam
6) Pekerjaan : Wiraswasta
7) Tanggal Pemeriksaan : 8 September 2018

II. ANAMNESIS
1) Keluhan utama : Rasa gatal pada bagian selangkangan
2) Riwayat penyakit sekarang :
Seorang pasien laki-laki berumur 71 tahun dikonsul ke bagian
kulit dan kelamin RSUD Undata dengan keluhan rasa gatal pada
bagian selangkangannya yang sudah dirasakan sejak 7 hari
sebelum masuk Rumah Sakit. Rasa gatal yang dirasakan terjadi
secara terus-menerus dan memberat 2 hari terakhir. Rasa nyeri
tidak ada. Pasien mengaku merasa sangat gatal saat berkeringat.
Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami hal ini, dan terjadi saat
pasien berada di rumah sakit. Pasien belum mengkonsumsi obat
sebelumnya untuk mengurangi rasa gatalnya.
3) Riwayat penyakit dahulu:
Pasien belum pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.
Riwayat alergi makanan (-), riwayat penyait gula darah (-), riwayat
hipertensi (-)

2
4) Riwayat penyakit keluarga:
Pasien menyangkal di keluarga ada yang menderita
penyakit yang sama.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
1) Keadaan umum : Sakit Sedang
2) Status Gizi : Baik
3) Kesadaran : Kompos mentis

Tanda-tanda Vital
TD : 140/80 mmHg
Nadi :88 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,50 C

Status Dermatologis/Venereologis
Ujud Kelainan Kulit :
Kepala : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Wajah : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Leher : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Ketiak : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Dada : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Punggung : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Perut : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Bokong : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit

3
Inguinal : Pada regio inguinal dextra tampak makula
eritem berukuran plakat dengan tepi aktif yang
sirkumskripta berbentuk irreguler disertai papul
dipinggiran tersusun secara poliskilik terdapat area
central healing.
Genitalia : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Ekstremitas atas : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit
Ekstremitas bawah : Tidak terdapat Ujud Kelainan Kulit

IV. GAMBAR

Gambar 1. Pada regio inguinal dextra tampak makula eritem berukuran plakat
dengan tepi aktif yang sirkumskripta berbentuk irreguler disertai papul dipinggiran
tersusun secara poliskilik terdapat area central healing.

4
Gambar 2. Pada regio inguinal dextra tampak makula eritem berukuran plakat
dengan tepi aktif yang sirkumskripta berbentuk irreguler disertai papul dipinggiran
tersusun secara poliskilik terdapat area central healing.

V. RESUME

Seorang pasien laki-laki berumur 71 tahun dikonsul ke bagian


kulit dan kelamin RSUD Undata dengan keluhan pruritus pada region
inguinal dextra sejak 7 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Pruritus terus
menerus dan memberat 2 hari terakhir. Nyeri (-), Pruritus timbul saat
berkeringat. Pasien belum mengkonsumsi obat sebelumnya untuk
mengurangi rasa gatalnya.

5
Pasien datang dengan keadaan umum sakit sedang, status gizi baik,
kesadaran komposmentis. Tanda-tanda vital, tekanan darah 140/80 mmHg,
nadi 88x/menit, respirasi 20 x/menit, suhu 36,5oC. Hasil pemeriksaan
dermatologis di dapatkan pada regio inguinal dextra tampak makula eritem
berukuran plakat dengan tepi aktif yang sirkumskripta berbentuk irreguler
disertai papul dipinggiran tersusun secara poliskilik terdapat skuama halus
dan area central healing.

VI. DIAGNOSIS KERJA


Tinea Cruris

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Kandidosis/kandidiasis kutis
2. Eritrasma
3. Psoriasis inversa

VIII. ANJURAN PEMERIKSAAN


1. Pemeriksaan KOH 20%
2. Kultur Jamur

IX. PENATALAKSANAAN
Non-medikamentosa
1. Kebersihan diri
2. Menggunakan pakaian yang tidak ketat dan menyerap keringat.
3. Pastikan kulit dalam keadaan kering sebelum menutup area yang
rentan terinfeksi jamur.
4. Gunakan sandal atau sepatu yang lebar dan keringkan jari kaki setelah
mandi.
5. Hindari penggunaan handuk atau pakaian bergantian dengan orang
lain. Cuci handuk yang kemungkinan terkontaminasi.
6. Skrining keluarga

6
7. Tatalaksana linen infeksius: pakaian, sprei, handuk dan linen lainnya
direndam dengan sodium hipoklorit 2% untuk membunuh jamur atau
menggunakan disinfektan lain.
8. Memakai sabun yang tidak mengandung anti septik atau sabun bayi
Medikamentosa

a. Topikal :
Antimikotik topikal golongan azol:
Ketokonazol cr 2% 2x1 (setelah mandi pagi dan sebelum tidur
malam)
b. Sistemik :
Antimikotik golongan azol : Ketokonzol tab. 200 mg (1x1) PO
Antihistamin generasi pertama : Cetirizine tab 10 mg (1x1) PO
X. PROGNOSIS

Quo ad vitam : ad bonam


Quo ad fungtionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam
Quo ad comesticam : ad bonam

7
PEMBAHASAN
Seorang pasien laki-laki berumur 71 tahun dikonsul ke bagian
kulit dan kelamin RSUD Undata dengan keluhan pruritus pada region
inguinal dextra sejak 7 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Pruritus terus
menerus dan memberat 2 hari terakhir. Nyeri (-), Pruritus timbul saat
berkeringat. Pasien belum mengkonsumsi obat sebelumnya untuk
mengurangi rasa gatalnya.

Pasien datang dengan keadaan umum sakit sedang,


status gizi baik, kesadaran komposmentis. Tanda-tanda vital, tekanan
darah 140/80 mmHg, nadi 88x/menit, respirasi 20 x/menit, suhu 36,5oC.
Hasil pemeriksaan dermatologis di dapatkan pada regio inguinal dextra
tampak makula eritem berukuran plakat dengan tepi aktif yang
sirkumskripta berbentuk irreguler disertai papul dipinggiran tersusun
secara poliskilik terdapat skuama halus dan area central healing. Dari hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik maka pasien dapat didiagnosis dengan
Tinea cruris. Tinea cruris merupakan penyakit infeksi jamur superfisial
yang disebabkan oleh jamur kelompok dermatofita (Trichophyton sp.,
Epidermophyton sp. dan Microsporum sp). Terminologi “tinea” atau
ringworm secara tepat menggambarkan dermatomikosis, dan dibedakan
berdasarkan lokasi anatomi infeksi. 6
Klasifikasi menurut lokasi: 6
1. Tinea kapitis
2. Tinea korporis
3. Tinea kruris
4. Tinea pedis
5. Tinea manum
6. Tinea unguium

8
7. Tinea imbrikata

Tinea cruris adalah dermatofitosis pada lipatan paha, daerah


perineum, dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun,
bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup,
sedangkan tinea korporis merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh yang
tidak berambut (glabrous skin)1
Penyebabnya biasanya adalah E.floccosum,kadang-kadang dapat
disebabkan oleh T.rubrum. Gambaran klinik biasanya adalah lesi simetris
di lipat paha kanan dan kiri.Mula-mula lesi ini berupa bercak eritematous
dan gatal. Tepi lesi aktif, polisiklis, ditutupi skuama,dan kadang-kadang
disertai dengan banyak vesikel kecil-kecil.2
Dermatofita dengan kerja enzim (protease keratinolitik, lipase, dll.)
yang berfungsi sebagai faktor virulensi untuk memungkinkan invasi jamur
ke kulit, rambut, dan kuku, dan juga untuk memanfaatkan keratin sebagai
sumber nutrisi untuk bertahan hidup. Langkah awal dalam infeksi
dermatofita adalah kerja terhadap keratin yang diikuti oleh invasi dan
pertumbuhan unsur-unsur miselium. Sebagai konsekuensi degradasi
keratin dan selanjutnya pelepasan mediator proinflamasi, sel host
mengembangkan respons inflamasi dengan berbagai tingkatan. Pola
"ringworm," klasik atau morfologi annular dari hasil tinea corporis dari
host inflamasi respon terhadap dermatofit yang menyebar diikuti oleh
pengurangan atau pembersihan elemen jamur dari dalam plak, dan dalam
banyak kasus dengan spontan resolusi infeksi. Dermatofit mengatasi
beberapa garis pertahanan host sebelum hifa mulai berkembang jaringan
keratin. Langkah pertama adalah adherence yang berhasil dari
arthroconidia, spora aseksual yang dibentuk oleh fragmentasi hifa, ke
permukaan keratin jaringan. Garis nonspesifik pertahanan host termasuk
asam lemak fungistatik dalam sebum juga bersaing kolonisasi bakteri.
Dermatofita bertemu berbagai respon host dari beberapa baris mekanisme
nonspesifik termasuk asam lemak fungistatik, peningkatan proliferasi

9
epidermal, dan sekresi mediator inflamasi ke mediasi-imunitas sel. Dalam
garis mekanisme pertahanan, keratinosit mewakili batas pertama sel-sel
hidup untuk menghadapi invasi elemen jamur. Posisi kunci keratinosit
tercermin dari respons kompleks mereka terhadap invasi termasuk
proliferasi untuk meningkatkan shedding juga sekresi peptida antimikroba
termasuk manusia β defensin-221 serta sitokin proinflamasi (IFN-α,
TNFα, IL-1β, 8, 16, dan 17) yang selanjutnya diaktifkan sistem kekebalan
tubuh.7

Tingkat pertahanan berikutnya adalah imunitas yang dimediasi sel


menghasilkan hipersensitivitas tipe lambat terhadap serangan jamur.
Respon peradangan yang terkait dengan hipersensitivitas ini terkait dengan
resolusi klinis, sementara selektif rusak kekebalan dapat mengakibatkan
kronis atau berulang dermatofitosis. Respons Th2 tidak muncul menjadi
pelindung, karena pasien dengan jamur titer tinggi antibodi antigen
diamati telah menyebar luas pada infeksi dermatofit. Peran yang mungkin
untuk respon Th17 terhadap infeksi dermatofita disarankan oleh penemuan
pengikatan hifa baru-baru ini elemen untuk Dectin-2, pengenalan pola
lektin tipe-C reseptor pada sel dendritik, penting untuk merangsang Th17 7

Pada Tinea Kruris perjalanan penyakit termasuk keluhan rasa gatal


hebat pada daerah kruris (lipat paha), lipat perineum, bokong, dan dapat ke
genitalia. Ruam kulit berbatas tegas, eritematosa, dan bersisik, semakin
hebat jika banyak berkeringat. Sedangkan pada tinea korporis didapatkan
lesi bulat atau lonjong, berbatas tegas terdiri dari eritema, skuama kadang-
kadang dengan vesikel dan papul ditepinya. Daerah tengahnya biasanya
lebih tenang.
Diagnosis tinea kruris dapat dilakukan dengan pemeriksaan kerokan
kulit daerah lesi dengan KOH 20% yaitu tampak elemen jamur seperti
hifa, spora dan miselium.3

10
Pada pemeriksaan dengan KOH 10-20% ,tampak dermatofit yang
memiliki septa dan percabangan hifa. Pemeriksaan kultur dilakukan untuk
menentukan spesies jamur penyebab dermatofitosis 4
Pemeriksaan kerokan lesi kulit dengan KOH 10% adalah salah satu
jenis pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnosis penyakit akibat
jamur dengan cara mengerok pada bagian lesi. Kerokan dilakukan secara
satu arah dan umumnya dipilih lesi bagian tepi. Hifa adalah filamen atau
benang yang membentuk miselium fungi. Hifa terlihat pada pemeriksaan
langsung penyakit jamur yang disebabkan oleh jenis kapang (seperti:
tinea), sedangkan pada jenis khamir (seperti: Candida albicans) akan
terlihat pseudohifa. Spora adalah unsur reproduktif yang dapat berisifat
seksual atau aseksual dari organisme tingkat rendah. Pemeriksaan
penunjang menggunakan sediaan dari bahan kerokan (kulit, rambut dan
kuku) dengan larutan KOH 10-20%. Dengan pemeriksaan mikroskopis
akan terlihat elemen jamur dalam bentuk hifa panjang, spora dan artospora
(spora berderet). Dengan pembiakan, bertujuan untuk mengetahui spesies
jamur penyebab; bahan sediaan kerokan ditanam dalam agar Sabouroud
Dekstrose, untuk mencegah pertumbuhan bakteri dapat ditambahkan
antibiotika (contoh; khloramfenicol) ke dalam media tersebut. Perbenihan
pada suhu 24-30°C. Pembacaan diakukan dalam waktu 1-3 minggu.
Koloni yang tumbuh diperhatikan mengenai warna, bentuk, permukaan
dan ada atau tidaknya hifa. Pada pasien dengan lesi dermatofitosis yang
luas, perlu dipikirkan kemungkinan infeksi HIV, riwayat atopik, serta
pengobatan jangka panjang dengan steroid.4

Tinea korporis dan kruris: 6


1. Topikal:
 Obat pilihan: golongan alilamin (krim terbinafin, butenafin) sekali
seharim selama 1-2 minggu.
Alternatif

11
 Golongan azol: misalnya, krim mikonazol, ketokonazol,
klotrimazol 2 kali sehari selama 4-6 minggu.
1. Sistemik: Diberikan bila lesi kronik, luas, atau sesuai indikasi
 Obat pilihan: terbinafin oral 1x250 mg/hari (hingga klinis membaik
dan hasil pemeriksaan laboratorium negatif) selama 2 minggu

Alternatif:
 Itrakonazol 2x100 mg/hari selama 2 minggu
 Griseofulvin oral 500 mg/hari atau 10-25 mg/kgBB/hari selama 2-4
minggu
 Ketokonazol 200 mg/hari
Catatan:
 Lama pemberian disesuaikan dengan diagnosis
 Hati-hati efek samping obat sistemik, khususnya ketokonazol
 Griseofulvin dan terbinafin hanya untuk anak usia di atas 4 tahun
Pada tinea cruris bila diobati dengan benar, penyakit akan sembuh dan
tidak kambuh, kecuali bila terpajan ulang dengan jamur penyebab. Untuk tinea
pedis menjadi kronik dan rekuren bila sumber penularan terus menerus ada.6

12
DAFTAR PUSTAKA
1. Menaldi, SLSW, Bramono, K, Indriatmi, W (Ed). Ilmu penyakit kulit dan
kelamin. 7th ed rev. Jakarta: FKUI. 2015. 111-113p.
2. Harahap,M. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : FKUI. 2000.78p.
3. Siregar,R.S. Saripati Penyakit Kulited 3. Jakarta : EGC. 2013. 29-31p
4. Rosita,K. Etiopatogenesis Dermatofitosis. Jurnal SMF Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin FK UNAIR. 2008. 244p
5. Yossela,T. Diagnosis and Treatment of Tinea Cruris. .Jurnal FK
Universitas Lampung. 2015. 126p
6. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Panduan Praktik Klinis:
Bagi Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin Di Indonesia. PERDOSKI;
Jakarta; 2017.
7. Schieke SM, Garg A. Fungal disease: superficial fungal infection. In:
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolf K, eds.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 8th Ed: Volume 2. New
York: McGraw-Hill; 2012.

13