Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Sampah diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu
proses yang cenderung merusak lingkungan di sekitarnya. Dalam proses alam, sebenarnya
tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama
proses alam itu berlangsung. Sampah yang menumpuk di lingkungan sekitar dapat
mengundang berbagai macam penyakit, seperti diare, tifus, dan penyakit lain yang lebih parah.

Wilayah Kelurahan Gebang Putih memiliki masalah sampah yang sudah diketahui oleh
banyak orang, terutama mahasiswa yang kos dan tinggal di wilayah tersebut. Kondisi sampah
yang memenuhi jalan, sungai, dan selokan di Kelurahan Gebang Putih membuat kami
terdorong untuk mencari tahu tentang permasalahan sampah di wilayah tersebut. Banyaknya
pedagang kaki lima yang berada di sepanjang jalan Gebang Lor, serta banyaknya rumah yang
menjadi tempat kos mahasiswa menjadi indikator banyaknya tingkat konsumtif yang akan
menghasilkan sampah. Sampah yang dihasilkan juga masih banyak yang berbahan plastik.

1. 2 Rumusan Masalah
1. Dari mana saja sampah yang terdapat di Kelurahan Gebang Putih?
2. Bagaimana pengelolaan sampah di Kelurahan Gebang Putih?
3. Apakah di Kelurahan Gebang Putih sering terjadi banjir?
4. Apakah sampah yang ada di sungai dan selokan menjadi penyebab banjir?
5. Bagaimana cara mengatasi masalah sampah yang ada di Kelurahan Gebang Putih?
6. Bagaimana pengetahuan warga tentang bank sampah?
7. Apakah warga Kelurahan Gebang Putih menginginkan bank sampah?
1. 3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui sumber dari sampah yang ada di Kelurahan Gebang Putih
2. Mengetahui cara pengelolaan sampah di Kelurahan Gebang Putih
3. Mengetahui intensitas seringnya banjir yang ada di Kelurahan Gebang Putih
4. Mengetahui pengaruh sampah yang ada di sungai dan selokan di Kelurahan Gebang Putih
5. Mendapatkan cara mengatasi masalah sampah di Kelurahan Gebang Putih
6. Mengetahui seputar pengetahuan warga di Kelurahan Gebang Putih tentang bank sampah
7. Mengetahui keinginan warga jika di berlakukan bank sampah di Kelurahan Gebang Putih
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sampah


Secara terbatas yang dimaksud dengan sampah adalah tumpukan bahan bekas dan sisa
tanaman (daun, sisa sayuran, sisa buangan lain), atau sisa kotoran hewan atau benda-benda
lain yang dibuang. Dalam pengertian yang luas, sampah diartikan sebagai benda yang dibuang,
baik yang berasal dari alam ataupun dari hasil proses teknologi (Reksosoebroto, 1990).
Menurut Wasito (1970) sampah ialah segala zat padat atau semi padat yang terbuang
atau yang sudah tidak berguna, baik yang dapat membusuk atau yang tidak dapat membusuk
kecuali zat-zat buangan atau kotoran yang keluar dari tubuh manusia (kotoran atau najis
manusia).
Menurut Reksosoebroto (1990), bahwa penanganan sampah yang baik akan
memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Manfaat lain
penanganan sampah yang baik adalah menurunkan 90% angka kehidupan lalat, menurunkan
90% angka kehidupan tikus, menurunkan 30% angka kehidupan nyamuk, menurunkan 70%
angka kerusakan jembatan, dan menurunkan 90% angka kerusakan pipa bangunan.
Keuntungan pembuangan sampah yang dapat diperoleh dari pengelolaan sampah yang baik
dapat dilihat dari beberapa segi yaitu: (1) Dari segi sanitasi, menjamin tempat kerja yang
bersih, mencegah tempat berkembang biaknya vektor hama penyakit dan mencegah
pencemaran lingkungan termasuk timbulnya pengotoran sumber air; (2) Dari segi ekonomi
mengurangi biaya perawatan dan pengobatan sebagai akibat yang ditimbulkan sampah.
Tempat kerja yang bersih akan meningkatkan gairah kerja dan akan menambah produktivitas
serta efisiensi pekerja, menarik banyak tamu atau pengunjung, mengurangi kerusakan
sehingga mengurangi biaya perbaikan (3) Dari segi estetika, menghilangkan pemandangan
tidak sedap dipandang mata menghilangkan timbulnya bau–bauan yang tidak enak, mencegah
keadaan lingkungan yang kotor dan tercemar. Penanganan sampah yang baik akan
memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia dan lingkungan.

2. 2 Penggolongan Sampah
2. 2.1. Penggolongan Sampah Berdasarkan Sumber, Komposisi dan Bentuknya
Sumber sampah adalah asal timbulan sampah. Penghasil sampah adalah setiap
orang dan/atau akibat proses alam yang menghasilkan timbulan sampah (Undang-undang
Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2008 Tentang Pengolahan Sampah pasal 1).
Menurut Hadiwiyoto (1983) sumber sampah adalah: (1) Rumah tangga termasuk
asrama,rumah sakit, hotel dan kantor; (2) Pertanian meliputi perkebunan
perikanan,peternakan, yang sering juga disebut limbah hasil pertanian; (3) Hasil kegiatan
perdagangan,seperti pasar dan pertokoan; (4) Hasil kegiatan industry dan pabrik; (5) Hasil
kegiatan pembangunan; dan (6) Sampah jalan raya.

2. 3 Pengaruh Sampah Terhadap Kesehatan


Soemirat (2000) mengemukakan, bahwa pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat
dikelompokan menjadi efek yang langsung dan efek tidak langsung. Yang dimaksud efek
langsung adalah efek yang disebabkan karena kontak langsung dengan sampah tersebut.
Misalnya sampah yang korosif terhadap tubuh yang karsiogenik dan lainnya. Sampah rumah
tangga yang cepat membusuk dapat mengandung kuman patogen yang dapat menimbulkan
penyakit. Sedangkan efek yang tidak langsung adalah pengaruh tidak langsung dirasakan
masyarakat akibat proses pembusukan pembakaran, dan pembuangan sampah. Efek tidak
langsung lainnya dapat berupa penyakit bawaan vektor yang berkembang biak di dalam
sampah.

2. 4 Pengelolaan Sampah
Teknik pembuangan sampah dapat dilihat dari sumber sampah hingga ke TPA. Usaha
utama adalah mengurangi sumber sampah dari segi kuantitas dan kualitas dengan: (1)
Meningkatkan pemeliharan dan kualitas barang sehingga tidak cepat menjadi sampah; (2)
Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku (3) Meningkatkan penggunaan bahan yang
dapat terurai secara alamiah, misalnya penggunaan pembungkus plastik diganti dengan kertas
atau daun, untuk itu diperlukan partisipasi dan kesadaran masyarakat (Soemirat, 2000).
Iriani (1984) menyatakan, bahwa sampah dan pengelolaannya merupakan masalah
yang mendesak di kota - kota di Indonesia. Proses urbanisasi yang terus berlangsung dan
masyarakat yang semakin konsumtif, menambah produksi dan kompleksnya komposisi
sampah kota. Meningkatnya biaya transportasi, peralatan dan administrasi serta semakin
sulitnya memperoleh ruang yang pantas untuk pembuangan sampah, sehingga semakin jauh
jaraknya dari kota dan menimbulkan biaya pengelolaan semakin tinggi.
2. 5 Kebijakan Pengelolaan Sampah
Menurut Widyatmoko (2002), bahwa kebijakan pengelolaan sampah meliputi: (1)
Penetapan instrumen kebijakan: (a)Instrumen regulasi, penetapan aturan kebijakan
(beleidregels) untuk melaksanakan kebijakan pengelolaan sampah; (b) Instrumen ekonomik,
penetapan instrumen ekonomi untuk mengurangi beban penanganan akhir sampah (sistem
insentif dan disinsentif). (1) Mendorong pengembangan konsep 4R, yaitu: upaya mengurangi
(Reduce) memakai kembali (Re-use), (2) mendaur-ulang (Recycling) sampah, dan mengganti
(Replace); (3) Pengembangan produk dan kemasan ramah lingkungan, (4)
Pengembangan teknologi, standart dan prosedur penanganan sampah:
(a) Penetapan kriteria dan standart minimal penentuan lokasi penanganan akhir sampah,
(b) Penetapan lokasi pengolahan akhir sampah,
(c) Luas minimal lahan untuk lokasi pengolahan akhir sampah,
(d) Penetapan lahan penyangga (buffer zone),
(e) Penetapan kriteria dan standar prasarana penanganan sementara sampah bagi pengembang
kawasan pemukiman;
(f) Pengembangan program pengelolaan sampah yang meliputi, antara lain: (1)Waste to energy,
yaitu pemanfaatan sampah organik sebagai sumber energi (biogas), (2)Pengembangan
produk dan kemasan ramah lingkungan, (3) Pengembangan teknik dan metoda penanganan
sampah yang ramah lingkungan (teknologi tepat guna).

2. 6 Pelaksanaan Pengelolaan Sampah


Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 18 Tahun 2008 Tentang
Pengolahan Sampah, BAB III, bagian ke empat, pasal 9: Pelaksanaan pengelolaan sampah
di daerah adalah wewenang Pemerintah Kabupaten/ Kota yang meliputi: (1) Penetapan lokasi
tempat penanganan akhir sampah dengan mengacu kriteria dan standart minimal lokasi
penanganan akhir sampah. (2) Rencana lokasi tempat pengolahan akhir sampah harus
dicantumkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/ kota. (3) Penetapan
lokasi tempat penanganan akhir sampah dalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang
Daerah. (4) Menetapkan tarif retribusi sampah.
BAB 3
METODE DAN ANALISIS DATA
3. 1 Tempat Pengambilan Data
Kami memilih kelurahan Gebang Putih karena di wilayah tersebut memiliki
permasalahan sampah yang menumpuk di sungai dan selokan. Selain itu, di wilayah ini juga
memiliki TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang berada di tengah permukiman warga
sehingga menyebabkan bau yang menyengat serta merusak pemandangan.

3. 2 Waktu Pengambilan Data


Kami memilih waktu pengambilan data pada tanggal 08 November 2016 pada pukul
07.30 – 11.00 karena waktu tersebut adalah waktu yang telah ditentukan untuk mengambil data
yang diperlukan.
3. 3 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada saat survey ini dilaksanakan adalah
sebagai berikut:
1. Kertas kuesioner
2. Kamera
3. Recorder
4. Alat tulis

3. 4 Metode Pengambilan Data


Untuk mendapatkan informasi historis daerah tersebut dari penduduk yang sudah
berdomisili lama di Kelurahan Gebang Putih. Kami memilih untuk mewawancarai responden
yang kami temui untuk mengisi kuisioner yang telah dibuat agar saat pengambilan data,
jawaban dari responden dapat di arahkan ke indikator yang telah ditentukan.

3. 5 Metode Pengambilan Sampel


Kami menggunakan metode random sampling, yaitu suatu sample yang terdiri atas
sejumlah elemen yang dipilih secara acak. Kami memilih penduduk yang berada di wilayah
Kelurahan Gebang Putih secara acak sebagai responden. Dengan metode ini, kami mendapat
jawaban yang berbeda, tetapi saling melengkapi dari setiap responden.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4. 1 Hasil
Sosiali
Pengelolaa
sasi
Pengelolaa n sampah Intensitas Dampak
Sampah Pengangkutan bank
n tps rumah pengangkutan sampah
sampa
tangga
Nama h
No
responden R W
Tr
m a Li Sdh Blm Gero
B Cu uk Lai
h r mp Kur dipis dipis bak Lgs 2 Ban Sd Bl
ai ku sa 1 hr 3 hr n-
ta u aha ang ahka ahka samp g hr jir h m
k p mp lain
ng n n n n ah
ah
ga g
1 Ragiman       
2 Ismail       
3 Siti Arofah       
4 Siti
      
Hanimah
5 Bagong       
6 Nurul       
7 Salbiyah        
8 Sofia       
9 Marina       
10 Ahmad       
11 Saipul       
12 Rondi        
13 Siti Jumroh       
14 Aziz       
15 Anisa        
16 Mukaromah        

4. 2 Pembahasan

Dari hasil survey yang telah dilakukan, didapatkan pengamatan tentang masalah
sampah yang terjadi di Kelurahan Gebang Putih, Kecamatan Sukolilo. Sampah yang terdapat
pada Kelurahan Gebang Putih sebagian berasal dari sampah rumah tangga dan sampah warung.
Sampah yang menumpuk di sungai merupakan sampah limpahan dari perumahan yang berada
di sebelah desa. Sehingga menyebabkan sampah tersebut menggangu, karena menimbulkan
bau yang tidak sedap dan tidak enak dipandang dan juga menyebabkan warna air sungai
mengeruh.
Pengelolaan sampah di TPS Kelurahan Gebang Putih pun sudah cukup baik. Namun
demikian, sampah yang sudah menumpuk di TPS seharusnya tidak dibiarkan dan diambil ke
TPA karena sampah yang terlalu menumpuk menimbukan bau yang mengganggu. Aktivitas
pengelolaan sampah di TPS mengganggu aktivitas warga sekitar, karena menghasilkan bau
yang tidak sedap. Sampah menumpuk hingga berhari-hari. Dan bagi mayoritas keluarga,
sampah rumah tangga di Kelurahan Gebang Putih tidak dipisahkan sesuai dengan jenisnya.
Namun ada beberapa rumah yang sudah memisahkan sampah sesuai jenisnya untuk dijual lagi
ke rongsokan. Pengangkutan sampah dilakukan oleh truk sampah dan petugas sampah dengan
gerobak. Intensitas pengangkutan sampah adalah satu sampah tiga hari sekali. Di RT 03,
pengangkutan sampah dikelola oleh RT setempat dengan membayar iuran sebesar Rp. 10.000.
Di RT 03 sampah diangkut sehari sekali. Namun, di RT lain pengangkutan sampah dilakukan
sebanyak 2-3 hari sekali.
Adapun penyebab banjir di Kelurahan Gebang Putih adalah sampah yang menyumbat
di selokan dan sungai. Sampah tersebut menyumbat laju aliran air yang meluap ketika hujan
deras. Sehingga banjir mengganggu aktifitas karena menggenangi jalanan dan membuat
jalanan terendam serta macet akibat kendaraan yang terhambat melaju di sepanjang jalan.
Namun,banjir sekarang ini sudah tidak terjadi lagi, karena sudah ada perbaikan jalan dan
selokan yang dapat mengalirkan air hujan sehingga tidak ada genangan di jalanan.
Selain itu, juga sudah ada upaya dari pemerintah setempat untuk mengadakan
pengarukan sampah di kali saat musim hujan guna antisipasi banjir. Bank sampah pernah ada
di Kelurahan Gebang Putih, namun karena kurang sosialisasi ke warga, bank sampah tidak
beroperasi dengan maksimal dan akhinrya bank sampah ditutup. Sehingga pengangkutan
sampah dikelola dengan baik dengan sistem pembayaran retribusi/iuran untuk membayar
petugas pengangkut sampah yakni Rp. 10.000 tiap rumah.
Upaya yang sudah dilakukan untuk merapikan/menata sistem pembuangan sampah
sudah ada, yakni dengan memberikan tong sampah yang berwarna kuning di pinggir jalan
dengan jarak antar tong smpah sekitar 5 m. Antusiasme masyarakat terhadap dibentuknya bank
sampah di Kelurahan Gebang Putih masih kurang. Karena masyarakat masih kurang sosialisasi
tentang teknis penyelenggaraan dan sistem kerja. Masyarakat masih lebih menyukai sistem
rongsokan (rombengan).
BAB 5
PENUTUP
5. 1 Kesimpulan

Permasalahan Sampah di kelurahan Gebang Putih disebabkan oleh banyak faktor,


untuk permasalahan sampah di aliran sungai disebabkan oleh sampah kiriman dari daerah yang
lebih tinggi hal ini disebabkan karena ketinggian daerah kelurahan Gebang Putih rata-rata
hanya 2-3 meter diatas permukaan laut. Mayoritas sampah di wilayah tersebut adalah sampah
rumah tangga yang disumbang oleh kos ataupun rumah warga lainnya. Upaya yang sudah
dilakukan untuk merapikan/menata sistem pembuangan sampah sudah ada, yakni dengan
memberikan tong sampah yang berwarna kuning di pinggir jalan dengan jarak antar tong smpah
sekitar 5 m. Adapun upaya lainnya yaitu dengan perbaikan jalan dan selokan yang dapat
mengalirkan air hujan sehingga tidak ada genangan di jalanan.

5. 2 Saran
 Meminimalkan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat. Hal ini dilakukan dengan
memanfaatkan barang-barang yang masih bisa digunakan dan tidak langsung dibuang atau
dijadikan sampah.
 Sampah yang dibuang harus dipilah. Sampah diplah berdasarkan jenisnya, misalnya saja
dibagi dua yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
 Melakukan pembersihan sampah secara swadaya dari masyarakat melalui kegiatan gotong
royong dengan rutin.
 Masyarakat lebih berperan aktif dalam menjaga kebersihan di lingkungan sekitar, dengan
tidak turut serta membuang sampah ke aliran sungai ataupun melakukan inisiatif
membuang sampahnya sendiri langsung ke TPS jika tidak ada pengangkutan sampah dari
pihak dinas kebersihan.
DAFTAR PUSTAKA
Mohamad, Fatmawati. 2012. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah di
Dukuh Mrican Sleman Yogyakarta. Yogyakarta
Pitoyo, Cahyadi. 2003. Jurnal Studi Komposisi Sampah Perkotaan Pada Tingkat Rumah
Tangga di kota Depok. Jakarta : Skripsi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
LAMPIRAN