Anda di halaman 1dari 2

Dari Yang Tidak Diperhitungkan Menjadi Juara Pertama Indonesia

Shallom…
Perkenalkan nama saya Gregory Hope Soegiantoro. Saya adalah pelayan musik pujian Kids
Impact Jogja. Saya bersekolah di SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta kelas 6. Pada akhir tahun 2014,
saya mengikuti seleksi OSN (Olimpiade Sains Nasional) IPA tanpa persiapan dan meraih peringkat
keempat. Meskipun ada di urutan keempat, atas perkenanan Tuhan saya diberi kesempatan masuk
pembinaan dari Dinas Pendidikan Kota dan Provinsi masing-masing selama 5 hari 4 malam. Dalam ujian
yang pertama, saya meraih juara pertama. Tetapi saya tidak memaksimalkan potensi saya sehingga saat
ujian kedua saya tidak lolos seleksi dengan selisih 0,6 poin saja.
Pada tahun 2015 sebagai tahun global blessing, saya punya visi meraih juara 1 nasional dan aku
minta itu pada Bapa. Sejak bulan Mei, setiap bulan aku mulai mengerjakan Kuis Kihajar (Kita Harus
Belajar) online yang diadakan oleh Pustekkom Kemdikbud (Pusat Teknologi, Komunikasi Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta). Kemudian pada bulan September 2015 kemarin diadakan seleksi
20 besar provinsi untuk dipilih seorang yang terbaik yang akan dikirim dalam lomba nasional di Jakarta.
Tetapi saat seleksi itu aku tidak lolos karena hanya ada di peringkat 6. Aku berpikir sudah hilang
kesempatanku untuk mewujudkan visi juara 1 nasional.
Tiba-tiba pada hari Jumat (30 Oktober 2015) sore ada telepon di HP berasal dari area Jakarta
(kode area 021) tetapi tidak kami angkat karena kami kira menawarkan produk perbankan. Minggu
malamnya ayahku penasaran dan mencoba menelepon balik, ternyata ada rekaman dari Pustekkom
Kemdikbud Jakarta. Senin pagi mama berusaha telepon Pustekkom Kemdikbud berulang-ulang tetapi
tidak bisa dan baru tersambung pada siang harinya. Ternyata telepon yang tidak kami angkat itu mau
memberi tahu bahwa aku diberikan kesempatan untuk mengikuti kompetisi nasional meskipun tidak
lolos seleksi provinsi. Sebenarnya itu merupakan hal yang tidak mungkin terjadi, tetapi Bapa berikan
perkenanan-Nya atas keinginanku sehingga apa yang tidak mungkin menjadi sebuah kenyataan.
Pengalaman kegagalanku di OSN membuat aku harus mempersiapkan diri dengan yang terbaik
sebelum berangkat ke Jakarta. Setiap hari aku berlatih soal dan presentasi dengan bangun lebih pagi lagi.
Sampai tiba waktunya aku berangkat pada tanggal 23 November 2015. Di Hotel Santika TMII Jakarta
aku bertemu dengan 42 peserta lain dari 33 provinsi di Indonesia yang akan bertanding. Ternyata aku
baru tahu kalau akulah satu-satunya peserta SD yang tidak didampingi orang tua maupun guru. Itu karena
permintaanku sendiri, karena saat papaku menawarkan diri untuk menemani, aku bilang aku kalau bisa
sendiri karena ada Bapa yang pasti menemaniku.
Kami harus menghadapi 3 ujian dalam lomba itu, yaitu Tes Akademik (online), My Idea
(presentasi story telling), dan Funtastic Me (Outbond). Aku takut saat menghadapi tes akademik dengan
bobot terbesar, karena kecepatan koneksi serta kelancaran server soal sangat menentukan apalagi diakses
serentak oleh 42 peserta. Oleh sebab itu sebelum kami sekeluarga minta supaya Tuhan yang menolong
sehingga semua laptop, jaringan, koneksi, dan server soal yang dipakai dikuduskan dan Tuhan yang buat
aku bisa mengerjakan tanpa hambatan. Kuasa doa itu terbukti benar karena hanya peserta SD saja yang
lancar dalam tes akademik, sedangkan setelah itu (SMP dan SMA) banyak kendala dan macet saat soal
dibuka. Saat mau mengerjakan soal, aku berdoa, “Bapa, tolong aku. Berilah aku hasil yang terbaik. Aku
hanya berserah kepada-Mu.”
Saat pengumuman di hari Kamis malam (26 November 2015), aku deg-degan dan hanya minta
yang terbaik dari Bapa. Saat itu MC membacakan, “Berdasarkan hasil penilaian, Juara Pertama diraih
oleh Gregory Hope Soegiantoro dari Provinsi DIY”. Saat itu aku sangat senang dan aku pun naik
panggung serta menerima trofi langsung dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Bapak Anies
Baswedan. Medali emas tingkat SD ini adalah untuk yang pertama kalinya diperoleh provinsi DIY.
Visiku sebagai Juara Pertama se-Indonesia diberikan Bapa sebagai hadiah natal di akhir tahun
2015. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, bahkan saat provinsi tidak memperhitungkanku. Dari
kesaksian ini, saya mengajak seluruh jemaat Gereja Keluarga Allah untuk memiliki visi yang besar,
kemudian perjuangkan visi tersebut dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Maka percayalah Bapa
akan wujudkan visi itu, sebab tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Gregory Hope Soegiantoro – pelayan musik (Keyboardist) Kids Impact Jogja