Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH FARMAKOLOGI

“OBAT”

Kelompok 1 :
1. Agung Triatmadja (17410171002)
2. Kiki Octavianda P (17410171008)
3. Rika Auwliya A (17410173028)
4. Lulus Ardiana (17410173046)

Kelas : 2B – DIII PMIK

PRODI D-III PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN


JURUSAN KESEHATAN TERAPAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah farmakologi tentang Obat

Makalah farmakologi ini telah kami susun dengan maksimal dan


mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.

Malang, 20 November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
2.1 Pengertian Obat ........................................................................................ 3
2.2 Fungsi Obat .............................................................................................. 4
2.3 Penggolongan Obat dan Contohnya ......................................................... 4
2.4 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Obat ............................................... 13
2.5 Dosis Obat .............................................................................................. 14
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 16
3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 16
3.2 Saran ....................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Farmakologi (pharmacology) berasal dari bahasa Yunani, yaitu pharmacon


(obat) dan logos (ilmu). Farmakologi dapat didefinisikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari interaksi obat dengan tubuh untuk menghasilkan
efek terapi (therapeutic). Obat adalah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi
proses hidup pada tingkat molekuler. Pada masa lalu, farmakologi mencakup
semua ilmu pengetahuan tentang sejarah, sumber, sifat-sifat fisik dan kimia,
komposisi, efek-efek biokimia dan fisiologi, mekanisme kerja, absorpsi,
biotransformasi, eksresi, penggunaan terapi, dan penggunaan lainnya dari obat.
Namunn, berkembangnya ilmu pengetahuan, beberapa bagian dari farmakologi ini
telah berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri dalam ruang lingkup yang lebih
sempit, tetapi terlepas sama sekali dari farmakologi.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, obat merupakan salah satu
penunjang sarana kesehatan. Segala macam penyakit tidak dapat lepas dari
keberadaan obat. Dalam penggunaan obat kita harus mengikuti aturan-aturan
tertentu, karena obat dalam penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan efek
toksin (meracuni tubuh), sedangkan penggunaan racun dalam jumlah sedikit justru
obat menjadi obat bagi tubuh kita.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan obat?


2. Apakah fungsi obat?
3. Apa saja penggolongan obat dan contohnya?
4. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi obat?
5. Apa saja dosis pada obat?

1
1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu definisi atau pengertian obat


2. Untuk mengetahui manfaat atau fungsi dari obat
3. Untuk mengetahui apa saja penggolongan dari obat beserta contohnya
4. Untuk mengetahui factor factor apa saja yan dapat mempengaruhi obat
5. Untuk mengetahui dosis obat.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Obat

Menurut Kep. MenKes RI No. 193/Kab/B.VII/71, obat adalah suatu bahan


atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan
diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit
atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau
hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian badan
manusia.
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan
atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki
secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau
bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa,
mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala
penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan,
untuk memperelok badan atau bagian badan manusia.
Obat-obatan, dalam bentuk tumbuhan, hewan dan mineral, telah ada jauh
lebih lama dari manusia. Penyakit pada manusia dan nalurinya untuk
mempertahankan hidup setelah bertahun-tahun membawa kepada penemuan-
penemuan. Penggunaan obat-obatan, walaupun dalam bentuk yang sederhana
tidak diragukan lagi , sudah berlangsung sejak jauh sebelum adanya sejarah yang
ditulis, karena naluri orang-orang primitif untuk menghilangkan rasa sakit pada
luka dengan merendamnya dalam air dingin atau menempelkan daun segar pada
luka tersebut atau menutupinya dengan lumpur, hanya berdasarkan pada
kepercayaan. Orang-orang primitif belajar dari pengalaman dan mendapatkan cara
pengobatan yang satu lebih efektif dari yang lain, dari dasar permulaan ini
pekerjaan terapi dengan obat dimulai.

3
Pengertian Obat Secara Khusus:
1. Obat jadi, adalah obat dalam keadaa murni atau campuran dalam bentuk
serbuk, cairan, salep, tablet, pil, suppositoria atau bentuk lain yang
mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang
ditetapkan oleh pemerintah.
2. Obat Patent, adalah obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si
pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang
memproduksinya.
3. Obat Asli, adalah obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah
Indonesia, terolah scara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan
dalam pengobatan tradisional.
4. Obat Esensial, adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan
masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang
ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
5. Obat Generik, adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam
Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.

2.2 Fungsi Obat

1. Penetapan diagnosa
2. Untuk pencegahan penyakit
3. Menyembuhkan penyakit
4. Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
5. Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
6. Penigkatan kesehatan
7. Mengurangi rasa sakit
8. Kontrasepsi

2.3 Penggolongan Obat dan Contohnya


Berikut ini merupakan penggolongan obat:

1. Penggolongan obat berdasarkan jenisnya

4
Penggolongan obat menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
917/Menkes/Per/X /1993 yang kini telah diperbaiki dengan Permenkes RI
Nomor 949/Menkes/Per/ VI/2000 penggolongan obat dimaksudkan untuk
peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan
distribusi. Penggolongan obat ini terdiri dari : obat bebas, obat bebas
terbatas, obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika.
 OBAT BEBAS
Peratuan daerah Tingkat II tangerang yakni Perda Nomor 12
Tahun1994 tentang izin Pedagang Eceran Obat memuat pengertian
obat bebas adalah obat yang dapat dijual bebas kepada umum tanpa
resep dokter, tidak termasuk dalam daftar narkotika, psikotropika,
obat keras, obat bebas terbatas dan sudah terdaftar di Depkes RI.
Contoh : Minyak Kayu Putih, Tablet Parasetamol, tablet Vitamin C, B
Compleks, E dan Obat batuk hitam. Penandaan obat bebas diatur
berdasarkan SK Menkes RI Nomor 2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda
khusus untuk untuk obat bebas dan untuk obat bebas terbatas. Tanda
khusus untuk obat bebas yaitu bulatan berwarna hijau dengan garis
tepi warna hitam, seperti terlihat pada gambar berikut :

 OBAT BEBAS TERBATAS


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan
obat-obatan kedalam daftar obat W (Waarschuwing) memberikan
pengertian obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat
diserahkan kepada pemakainya tanpa resep dokter, bila
penyerahannya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
 Obat tersebut hanya boleh dijual dalam bungkusan asli dari
pabriknya atau pembuatnya

5
 Pada penyerahannya oleh pembuat atau penjual harus
mencantumkan tanda peringatan. Tanda peringatan tersebut
berwarna hitam,berukuran panjang 5 cm,lebar 2 cm dan memuat
pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut:

Penandaannya diatur berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan


RI No.2380/A/SK/VI/83 tanda khusus untuk obat bebas terbatas
berupa lingkaran berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam,
seperti terlihat pada gambar berikut:

 OBAT KERAS
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang
menetapkan/memasukkan obat-obatan kedalam daftar obat keras,
memberikan pengertian obat keras adalah obat-obat yang ditetapkan
sebagai berikut :
a. Semua obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembuat
disebutkan bahwa obat itu hanya boleh diserahkan denagn resep
dokter.

6
b. Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata
untuk dipergunakan secara parenteral.
c. Semua obat baru, terkecuali apabila oleh Departemen Kesehatan
telah dinyatakan secara tertulis bahwa obat baru itu tidak
membahayakan kesehatan manusia. Contoh :
 Andrenalinum
 Antibiotika
 Antihistaminika, dan lain-lain

Adapun penandaannya diatur berdasarkan keputusan Menteri


Kesehatan RI No. 02396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus Obat
Keras daftar G adalah Lingkaran bulat berwarna merah dengan garis
tepi berwarna hitam dengan hurup K yang menyentuh garis tepi,
seperti yang terlihat pada gambar berikut:

 OBAT PSIKOTROPIKA
Pengertian psikotropika menurut Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1997 tentang psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah
maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika dibagi menjadi :
 Golongan I, sampai sekarang kegunaannya hanya
ditujukan untuk ilmu pengetahuan, dilarang diproduksi,
dan digunakan untuk pengobatan. Contohnya : Metilen
Dioksi Metamfetamin, Lisergid Acid Diathylamine
(LSD), dan Metamfetamin.

7
 Golongan II, III, dan IV dapat digunakan untuk
pengobatan asalkan sudah didaftarkan. Namun,
kenyataannya saat ini hanya sebagian dari golongan IV
saja yang terdaftar dan digunakan, seperti Diazepam,
Fenobarbital, Lorasepam.
Untuk Psikotropika penandaan yang dipergunakan sama dengan
penandaan untuk obat keras, hal ini karena sebelum diundangkannya
UU RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, maka obat-obat
psikotropika termasuk obat keras, hanya saja karena efeknya dapat
mengakibatkan sidroma ketergantungan sehingga dulu disebut Obat
Keras Tertentu. Sehingga untuk Psikotropika penandaannya :
lingkaran bulat berwarna merah, dengan huruf K berwarna hitam yang
menyentuh garis tepi yang berwarna hitam.
 OBAT GOLONGAN NARKOTIKA
Pengertian narkotika menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1997 tentang narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa
nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan
kedalam golongan I, II dan III.
Narkotika merupakan kelompok obat yang paling berbahaya
karena dapat menimbulkan addiksi (ketergantungan) dan toleransi.
Obat ini hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Karena
berbahaya, dalam peredaran, produksi, dan pemakaiannya narkotika
diawasi secara ketat. Kemasan obat golongan ini ditandai dengan
lingkaran yang di dalamnya terdapat palang (+) berwarna merah.
Contoh dari obat narkotika antara lain: Opium, coca,
ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang
kedokteran, obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi /
obat bius dan analgetika / obat penghilang rasa sakit.

8
 OBAT WAJIB APOTEK
Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh
apoteker di apotek tanpa resep dokter. Menurut keputusan mentri
kesehatan RI Nomor 347/Menkes/SK/VIII/1990 yang telah
diperbaharui Mentri Kesehatan Nomor 924/Menkes/Per/X/1993
dikeluarkan dengan pertimbangan sebagai berikut :
a. Pertimbangan utama untuk obat wajib apotek ini sama dengan
pertimbangan obat yang diserahkan tanpa resep dokter, yaitu
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya
sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dengan meningkatkan
pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional.
b. Pertimbangan yang kedua untuk meningkatkatkan peran apoteker
di apotek dalam pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi
serta pelayanan obat kepada masyarakat
c. Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan obat yang
dibutuhkan untuk pengobatan sendiri. Obat yang termasuk
kedalam obat wajib apotek misalnya : obat saluran cerna
(antasida), ranitidine, clindamicin cream dan lain-lain.

2. Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat


Dibagi menjadi 5 jenis penggolongan antara lain :
 obat yang bekerja pada penyebab penyakit, misalnya penyakit akibat
bakteri atau mikroba, contoh antibiotic.
 obat yang bekerja untuk mencegah kondisi patologis dari penyakit
contoh vaksin, dan serum.
 obat yang menghilangkan simtomatik/gejala, meredakan nyeri contoh
analgesic

9
 obat yang bekerja menambah atau mengganti fungsi fungsi zat yang
kurang, contoh vitamin dan hormon.
 pemberian placebo adalah pemberian obat yang tidak mengandung zat
aktif, khususnya pada pasien normal yang menganggap dirinya dalam
keadaan sakit. contoh aqua pro injeksi dan tablet placebo. Selain itu
dapat dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, seperti obat
antihipertensi, kardiak, diuretik, hipnotik, sedatif, dan lain

3. Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian


Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian dibagi
menjadi 2 golongan :
a. obat dalam yaitu obat obatan yang dikonsumsi peroral, contoh tablet
antibiotik, parasetamol tablet
b. obat luar yaitu obat obatan yang dipakai secara topikal/tubuh bagian
luar, contoh salep, dll

4. Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian


Dibagi menjadi beberapa bagian, seperti :
 oral : obat yang dikonsumsi melalui mulut kedalam saluran cerna,
contoh tablet, kapsul, serbuk, dll
 perektal : obat yang dipakai melalui rektum, biasanya digunakan pada
pasien yang tidak bisa menelan, pingsan, atau menghendaki efek cepat
dan terhindar dari pengaruh pH lambung, FFE di hati, maupun enzim-
enzim di dalam tubuh
 Sublingual : pemakaian obat dengan meletakkannya dibawah lidah.,
masuk ke pembuluh darah, efeknya lebih cepat, contoh obat hipertensi
: tablet hisap, hormon-hormon
 Parenteral : obat yang disuntikkan melalui kulit ke aliran darah. baik
secara intravena, subkutan, intramuskular, intrakardial. Intrakardial,
langsung ke organ

10
 Intra peritonial: pemberian obat pada rongga peritoneal, di sekitar
daerah abdomen/perut

5. Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan


Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan dibagi menjadi 2 :
a. sistemik : obat/zat aktif yang masuk kedalam peredaran darah.
b. lokal : obat/zat aktif yang hanya berefek/menyebar/mempengaruhi
bagian tertentu tempat obat tersebut berada, seperti pada hidung, mata,
kulit, dll

6. Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi


Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi dibagi menjadi 2
golongan
a. farmakodinamik : obat obat yang bekerja mempengaruhi fisilogis
tubuh, contoh hormon dan vitamin
b. kemoterapi : obat obatan yang bekerja secara kimia untuk membasmi
parasit/bibit penyakit, mempunyai daya kerja kombinasi.

7. Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya


Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya dibagi
menjadi 2 :
a. Alamiah : obat obat yang berasal dari alam (tumbuhan, hewan dan
mineral)
Tumbuhan :jamur (antibiotik), kina (kinin), digitalis (glikosida
jantung) dll hewan : plasenta,otak menghasilkan serum rabies,
kolagen. Mineral : vaselin, parafin, talkum/silikat, dll
b. Sintetik : merupakan cara pembuatan obat dengan melakukan reaksi-
reaksi kimia, contohnya minyak gandapura dihasilkan dengan
mereaksikan metanol dan asam salisilat

8. Penggolongan Obat Berdasarkan Keamanan Jika Diberikan Selama


Kehamilan

11
Penggolongan Obat Berdasarkan Keamanan Jika Diberikan Selama
Kehamilan dibagi menjadi 5 :
1) Obat Kategori A : Obat-obat yang telah banyak digunakan oleh wanita
hamil tanpa disertai kenaikan frekuensi malformasi janin atau
pengaruh buruk lainnya. Misalnya Parasetamol, Penisilin, Eritromisin,
Digoksin, Isoniazid, dan Asam Folat.
2) Obat Kategori B : Obat-obat yang pengalaman pemakaiannya pada
wanita hamil masih terbatas, tetapi meningkatkan frekuensi
malformasi atau pengaruh buruk lainnya pada janin. Kategori B
dibagi lagi berdasarkan temuan-temuan pada studi toksikologi pada
hewan, yaitu:
 B1: Dari penelitian pada hewan tidak terbukti meningkatnya
kejadian kerusakan janin. Contoh damol, dan spektinomisin.
 B2: Data dari penelitian pada hewan belum memadai, tetapi ada
petunjuk tidak meningkatnya kejadian kerusakan janin. Contoh
tikarsilin, amfoterisin, dopamin, asetilkistein, dan alkaloid
belladonna.
 B3: Penelitian pada hewan menunjukkan peningkatan kejadian
kerusakan janin, tetapi belum tentu bermakna pada manusia.
Misalnya karbamazepin, pirimetamin, griseofulvin, trimetoprim,
dan mebendazol
3) Obat Kategori C : Obat-obat yang dapat memberi pengaruh buruk
pada janin tanpa disertai malformasi anatomic semata-mata karena
efek farmakologiknya. Efeknya bersifat reversibel. Contoh narkotik,
fenotiazin, rifampisin, aspirin, AINS, dan diuretika.
4) Obat Kategori D : Obat-obat yang terbukti menyebabkan
meningkatnya kejadian malformasi janin pada manusia atau
menyebabkan kerusakan janin yang bersifat ireversibel. Obat-obat
dalam kategori ini juga mempunyai efek farmakologik yang
merugikan terhadap janin. Misalnya: androgen, fenitoin, pirimidon,
fenobarbiton, kinin, klonazepam, asam valproat, dan steroid anabolik.

12
5) Obat Kategori X : Obat-obat yang telah terbukti mempunyai resiko
tinggi terjadinya pegaruh buruk yang menetap (irreversibel) pada janin
jika diminum pada masa kehamilan. Obat dalam kategori ini
merupakan kontraindikasi mutlak selama kehamilan. Misalnya
isotretionin dan dietilstilbestrol, talidomid.

2.4 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Obat


Akibat perbedaan cara dan tipe kerja obat , respons terhadap obat sangat
bervariasi. Faktor selain karakteristik obat juga memengaruhi kerja obat.
Klien mungkin tidak memberi respons yang sama terhadap setiap dosis obat
yang diberikan. Begitu juga obat yang sama dapat menimbulkan respons yang
berbeda pada klien yang berbeda.Faktor yang memengaruhi kerja obat yaitu :

1. Perbedaan Genetik
Susunan genetik memengaruhi biotransformasi obat. Pola metobolik
dalam keluarga seringkali sama. Faktor genetik menentukan apakah enzim
yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat.
Akibatnya anggota keluarga sensitif terhadap suatu obat.
2. Variabel Fisiologis
Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme
obat tertentu. Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi
karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolik yang sama.
Variasi diurnal dalam sekresi estrogen bertanggung jawab untuk fluktuasi
siklik reaksi obat yang dialami wanita.
3. Kondisi lingkungan
Stres fisik dan emosi yang berat akan memicu respons hormonal
yang akhirnya mengganggu metabolisme obat pada klien. Radiasi ion
menghasilkan efek yang sama dengan mengubah kecepatan aktivitas
enzim. Pajanan pada panas dan dingin dapat memengaruhi respons
terhadap obat. Klien Hipertensi diberi vasodilator untuk mengontrol
tekanan darahnya. Pada cuaca panas dosis vasodilator perlu dikurangi
karena suhu yang tinggi meningkatkan efek obat. Cuaca dingin cenderung
meningkatkan vasokontriksi, sehingga dosis vasodilator perlu ditambah.

13
4. Faktor Psikologis
Sikap seseorang terhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya
atau pengaruh keluarga. Melihat orang tua sering menggunakan obat
obatan dapat membuat anak menerima obat sebagai bagian dari kehidupan
normalnya. Makna obat atau signifikansi mengonsumsi obat memengaruhi
respons klien terhadap terapi. Sebuah obat dapat digunakan sebagai cara
untuk mengatasi rasa tidak aman. Pada situasi ini klien bergantung pada
obat sebagai media koping dalam kehidupan.
5. Diet
Interaksi obat dan nutrien dapat mengubah kerja obat atau efek
nutrien. Contoh : vitamin K terkandung dalam sayuran hijau berdaun
merupakan nutrien yang melawan efek warfarin natrium (coumadin)
mengurangi efeknya pada mekanisme pembekuan darah. Minyak mineral
menurunkan absorpsi vitamin larut lemak. Klien membutuhkan nutrisi
tambahan ketika mengonsumsi obat yang menurunkan efek nutrisi.
Menahan konsumsi nutrien tertentu dapat menjamin efek terapeutik obat

2.5 Dosis Obat


a. Macam Macam Dosis
Dosis obat adalah banyaknya obat yang boleh diberikan/
dipergunakan kepada pasien untuk 1x pakai dan untuk sehari.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan dosis obat antara lain:
1. Faktor obat
 Sifat fisika obat: daya larut obat dalam air/ lemak, kristal/
amorf.
 Sifat kimiawi: asam, basa, garam, ester, pH, pKa.
2. Faktor penderita
 Umur (dewasa, anak atau bayi)
 Berat badan
 Jenis kelamin
 Sifat penyakit/ patofisiologi

14
 Kondisi pasien (hamil, menyusui)
 Jenis obatnya
 Adiksi dan sensitifitas.
Macam-macam dosis obat antara lain:
1. Dosis lazim/ dosis minimum, jumlah yang biasa diberikan kepada
pasien/ jumlah terkecil yang sudah dapat memberikan efek terapi.
Contoh: Paracetamol 500 mg untuk dewasa, CTM 4 mg, Codein 10
mg-20 mg.
2. Dosis maksimum, jumlah terbanyak obat yang boleh diberikan
kepada pasien dewasa, untuk dipergunakan sebagai obat dalam atau
obat luar.
3. Dosis terapi, ukuran/ takaran yang sesuai dengan tujuan
pengobatan/ memberikan efek pengobatan/ terapi.
4. Dosis toksik, dosis obat yang diberikan melebihi sosis terapeutik,
sehingga dapat menyebabkan terjadinya keracunan obat.
5. Dosis lethal, dosis yang menyebabkan kematian yang besarnya
melebihi dosis toksik.
b. Bentuk Sediaan
Beberapa bentuk sedian obat yaitu:
1. Padat: serbuk, pil, tablet, suppositoria, kapsul dan ovula.
2. Cair: sirup, larutan, suspensi, linimen, lotion dan infus.
3. Semi padat: salep, krim, gel dan pasta.
4. Gas: aerosol, oksigen dan inhaler.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Obat adalah suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan
untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan,
menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau
kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk
memperelok atau memperindah badan atau bagian badan manusia.
Obat dapat digolongkan berdasarkan jenisnya, mekanisme kerja, tempat
atau lokasi pemakaian, cara pemakaian, efek yang ditimbulkan, daya kerja
atau terapi, asal obat dan cara pembuatannya, dan keamanan jika diberikan
selama kehamilan.
Akibat perbedaan cara dan tipe kerja obat , respons terhadap obat sangat
bervariasi. Faktor selain karakteristik obat juga memengaruhi kerja obat.
Klien mungkin tidak memberi respons yang sama terhadap setiap dosis obat
yang diberikan. Begitu juga obat yang sama dapat menimbulkan respons yang
berbeda pada klien yang berbeda.

3.2 Saran
Sebaiknya obat harus dilakukan uji toksikologi terlebih dahulu sebelum
diberikan dan jelaskan tentang efek samping obat tersebut.

16
DAFTAR PUSTAKA

Arum, Angesti L (2011), Pengertian dan Penggolongan Obat (http://angestiarum-


ff14.web.unair.ac.id/artikel_detail-144281-Artikel-
Pengertian%20dan%20Penggolongan%20Obat.html), diakses pada 20
November 2018
Dictio.id (2017), Apa yang dimaksud dengan Obat?( https://www.dictio.id/t/apa-
yang-dimaksud-dengan-obat/14744), diakses pada 20 November 2018
Dosisobatt.blogspot.com (2015), Dosis Obat: Faktor yang Mempengaruhi
Penentuan Dosis Obat (https://dosisobatt.blogspot.com/2015/06/dosis-obat-
faktor-yang-mempengaruhi.html), diakses pada 23 November 2018.

17