Anda di halaman 1dari 13

Infeksi Saluran Kemih Bawah pada Wanita

James Winston
102016245
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat – Indonesia
james.2016fk245@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak
Infeksi saluran kemih adalah infeksi dari bakteri yang menyerang saluran kemih pada
manusia. Infeksi saluran kemih bisa dibagi menjadi 2, yaitu; infeksi saluran kemih atas dan
bawah. Perempuan lebih sering mengalami ISK dibandingkan laki-laki. Gejalanya bisa demam
dan nyeri saat berkemih.
Kata kunci: infeksi saluran kemih
Abstract
Urinary tract infections are infections of bacteria that attack the urinary tract in
humans. Urinary tract infections can be divided into 2, namely; upper and lower urinary tract
infections. Women experience UTI more often than men. Symptoms can be fever and pain when
urinating.
Keywords: Urinary tract infections

Pendahuluan
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih. Urin
terdiri dari berbagai cairan, tetapi biasanya urin tidak mengandung bakteri. Jika bakteri menuju
kandung kemih atau ginjal dan berkembang biak dalam urin, terjadilah ISK. Jenis ISK yang
paling umum adalah infeksi kandung kemih.
Gejalanya yaitu rasa sakit saat berkemih (disuria). ISK dapat disebabkan oleh kebiasaan
yang tidak baik (kurang minum, menahan kemih), penggunaan kateter, dan penyakit serta
kelainan lain. ISK dapat mengenai semua usia dan jenis kelamin.

1
Anamnesis
Anamnesis adalah suatu komunikasi dua arah antara dokter dan pasien atau keluarga
dekat pasien sehari-hari. Tujuan anamnesis ini adalah untuk mengetahui keluhan utama, keluhan
penyerta, riwayat penyakit pasien dan keluarganya.1
Pada kasus skenario 3 didapat hasil anamnesis sebagai berikut:
 Perempuan berusia 25 tahun
 Nyeri saat berkemih
 Tidak ada mual muntah
 Tidak ada nyeri pinggang
 Tidak ada secret vagina
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang didapat pada skenario 3 yaitu:
 Tekanan darah: 110/70
 Nadi: 90x/menit
 Napas: 18x/menit
 Suhu: 36,70C
 Nyeri tekan suprapubik +
 Nyeri ketok CVA -
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang didapat pada skenario 3 yaitu:
Urinalisis: Darah:
 Kuning keruh  Hb: 13g/dl
 pH 6  Ht: 39%
 Leukosit 40/LPB  Leukosit: 14000
 Eritrosit 1/LPB  Trombosit: 290000
 Kristal –  Segmen: 84
 Epitel 2  Limfosit: 13
 Silinder, protein, glukosa –  Basofil, eosinofil: 0
 Leukosit esterase +  Monosit: 3
 Nitrit +
Pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lain yang bisa dilakukan yaitu:2
1. Bakteriologis
 Mikroskopis

2
Dapat digunakan urin segar tanpa disentrifuser atau tanpa pewarnaan gram.
Dinyatakan positif bila dijumpai 1 bakteri /lapangan pandang minyak emersi.
 Biakan bakteri
Dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam
jumlah bermakna sesuai dengan criteria Cattell :
 Wanita, simtomatik
>102 organisme coliform/ml urin plus piuria, atau
> 105 organisme pathogen apapun/ml urin, atau
Adanya pertumbuhan organisme patogen apapun pada urin yang diambil
dengan cara aspirasi suprapubik
 Laki-laki, simtomatik
>103 organisme patogen/ml urin
 Pasien asimtomatik
> 105 organisme patogen/ml urin pada 2 contoh urin berurutan.
2. Tes kimiawi
Yang paling sering dipakai ialah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah
sebagian besar mikroba kecuali enterococcus, mereduksi nitrat bila dijumpai lebih dari
100.000-1.000.000 bakteri. Konversi ini dapat dijumpai dengan perubahan warna pada uji
tarik. Sensitivitas 90,7% dan spesifisitas 99,1% untuk mendeteksi Gram-negatif. Hasil
palsu terjadi bila pasien sebelumnya diet rendah nitrat, diuresis banyak, infeksi oleh
enterococcus dan acinetobacter.
3. Tes Plat-Celup (Dip-Slide)
Lempeng plastik bertangkai dimana kedua sisi permukaannya dilapisi perbenihan
padat khusus dicelupkan ke dalam urin pasien atau dengan digenangi urin. Setelah itu
lempeng dimasukkan kembali ke dalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu
dilakukan pengeraman semalaman pada suhu 37° C. Penentuan jumlah kuman/ml
dilakukan dengan membandingkan pola pertumbuhan pada lempeng perbenihan dengan
serangkaian gambar yang memperlihatkan keadaan kepadatan koloni yang sesuai dengan
jumlah kuman antara 1000 dan 10.000.000 dalam tiap ml urin yang diperiksa. Cara ini
mudah dilakukan, murah dan cukup akurat. Tetapi jenis kuman dan kepekaannya tidak
dapat diketahui.
4. Pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan lainnya

3
Pemeriksaan radiologis dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan
anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK. Dapat berupa pielografi intravena
(IVP), ultrasonografi dan CT-scanning.

Working Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, perempuan
tersebut didiagnosis mengalami infeksi saluran kemih. ISK adalah istilah umum yang
menunjukkan keberadaan mikroorganisme dalam urin. Diagnosa ISK ditegakkan dengan
menemukan bakteriuria. Bakteriuria bermakna menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme
murni >105 colony forming units (CFU/ml) pada biakan urin. ISK secara umum diklasifikasikan
sebagai infeksi yang melibatkan saluran kemih bagian atas (pielonefritis, nefritis interstisial dan
abses renal) atau bawah (sistitis, prostatitis dan uretritis).3,4
ISK atas:5
 Pielonefritis akut (PNA) adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan oleh
infeksi bakteri.
 Pielonefritis kronis (PNK) mungkin akibat lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau
infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan refluks vesikoureter dengan atau tanpa
bakteriuria kronik sering diikuti pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal. Bakteriuria
asimtomatik kronik pada orang dewasa tanpa faktor predisposisi tidak menyebabkan
pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal.
ISK bawah:5
 Sistitis. Inflamasi pada membran mukosa pada vesika urinaria, disebabkan oleh bakteri yang
masuk melalui uretra. Seringkali memberi gambaran klinis disuria, polakisuria, urgensi, dan
nyeri suprapubik.
 Uretritis. Inflamasi pada uretra akibat virus atau bakteri yang sama yang menyebabkan
sistitis. Bakteri yang menyebabkan sexually transmitted disease dapat juga menyebabkan
uretritis. Memberi gejala klinis yang kurang lebih sama dengan ISK lainnya.

Differential Diagnosis
-Nefrolithiasis6
Merupakan suatu penyakit yang salah satu gejalanya adalah pembentukan batu di dalam
ginjal. Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urin,
gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain yang masih
4
belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologik terdapat beberapa faktor yang mempermudah
terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor tersebut adalah faktor intrinsik
yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang
berasal dari lingkungan di sekitarnya.
Faktor resiko:
 Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.
 Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
 Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien
perempuan
 Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang
lebih tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stonebelt.
 Iklim dan temperature
 Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang
dikonsumsi.
 Diet : Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu
 Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktifitas atau sedentary life.
Gejala dan tanda yang dapat ditemukan pada penderita batu ginjal antara lain:
 Tidak ada gejala atau tanda
 Nyeri pinggang, sisi, atau sudut kostovertebral
 Hematuria makroskopik atau mikroskopik
 Pielonefritis dan/atau sistitis
 Pernah mengeluarkan batu kecil ketika kencing
 Nyeri ketok kostovertebral
 Batu tampak pada pemeriksaan pencitraan
 Gangguan faal ginjal
-Pyelonefritis7
Pielonefritis akut adalah reaksi inflamasi akibat infeksi yang terjadi pada pielum dan
parenkim ginjal. Pada umumnya kuman yang menyebabkan infeksi ini berasal dari saluran
kemih bagian bawah yang naik ke ginjal melalui ureter. Kuman-kuman itu adalah E.coli, Proteus,

5
Klebsiella, dan kokus gram positif: Streptococcus faecalis dan enterokokus. Kuman Stafilokokus
aureus dapat menyebabkan pielonefritis melalui penularan secara hematogen, meskipun sekarang
jarang dijumpai.
Gambaran klasik dari pielonefritis akut adalah demam tinggi disertai menggigil, nyeri
daerah perut dan pinggang, disertai mual dan muntah. Kadang-kadang terdapat gejala yaitu
berupa dysuria, frekuensi, atau urgensi. Pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri pada pinggang dan
perut, suara usus melemah seperti ileus paralitik. Pada pemeriksaan darah menunjukkan adanya
leukositosis disertai peningkatan laju endap darah, urinalisis terdapat piuria, bakteriuria, dan
hematuria. Pada pielonefritis akut yang mengenai kedua sisi ginjal terjadi penururan faal ginjal
dan pada kultur urine terdapat bakteriuria. Pemeriksaan foto polos perut menunjukkan adanya
kekaburan dari bayangan otot psoas dan mungkin terdapat bayangan radio-opak dari batu saluran
kemih. Pada PIV terdapat bayangan ginjal membesar dan terdapat keterlambatan pada fase
nefrogram.

-Uretritis8
Urethritis adalah iritasi yang terjadi pada urethra, saluran yang yang berfungsi untuk
mengeluarkan urin. Baik laki-laki maupun wanita dapat terjangkit urethritis. Urethritis adalah
sutau infeksi yang menyebar naik yang digolongkan menjadi Gonorrhoeae atau Non-
gonorrhoeae. Urethritis gonoreal disebabkan Niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui
hubungan seksual. Urethritis non gonorhoeae biasanya disebabkan yang tidak berhubungan
dengan Niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh Chlamydia trachomatis atau
ureaplasma urealytikum, Trichomonas vaginalis dan HSV.
Manifestasi pada uretritis adalah:
a. Dysuria
b. Rasa gatal pada uretra
c. Asimtomatik
d. Urgensi berkemih, hematuri
Gejala pada pria17
Laki-laki dengan uretritis mungkin mengalami satu atau lebih gejala berikut:
 Sensasi terbakar saat buang air kecil.
 Gatal atau terbakar di dekat pembukaan penis.

6
 Darah di air mani atau urine.
Gejala pada wanita17
Beberapa gejala uretritis pada wanita meliputi:
 Lebih sering ingin buang air kecil.
 Ketidaknyamanan saat buang air kecil.
 Terbakar atau iritasi pada pembukaan uretra.
 Keluarnya cairan dari vagina juga bisa hadir bersama dengan gejala kencing.

Etiologi
Infeksi saluran kemih paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri Escherichia coli (E.
coli). Bakteri ini sebenarnya hidup di saluran pencernaan, namun bisa menginfeksi dan
berkembang biak di saluran kemih. Infeksi terjadi ketika bakteri memasuki saluran kemih
melalui lubang kencing. Pada wanita, umumnya kondisi tersebut terjadi karena cara yang kurang
tepat dalam membersihkan daerah dubur setelah buang air besar. Tangan atau tisu toilet yang
digunakan untuk membersihkan anus, bisa secara tidak sengaja menyentuh lubang kencing,
sehingga membuat bakteri masuk ke saluran kemih. Bakteri yang sudah berada di saluran kemih,
dapat menimbulkan infeksi uretra (uretritis), infeksi kandung kemih (sistitis), hingga infeksi
ureter (ureteritis) dan infeksi ginjal (pielonefritis).9

Epidemiologi
ISK menjadi masalah kesehatan besar di Amerika Serikat, dan dapat mengenai seluruh
usia dan jenis kelamin. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa penderita ISK tiap tahun lebih dari
7 juta, termasuk 2 juta diantaranya mengalami cystitis. lebih kurang seperlimanya mendatangi
instalasi gawat darurat dan satu dari lima wanita pernah mengalami ISK selama hidupnya.
Prevalensi ISK pada wanita berbanding 30:1 dengan pria dan sekitar 50 % dari mereka akan
berkembang menjadi ISK berulang.10

Patofisiologi
Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus
urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : endogen yaitu kontak langsung dari tempat
infeksi terdekat (ascending), hematogen, limfogen, dan eksogen ( akibat pemakaian kateter). Ada
dua jalur utama terjadinya ISK yaitu asending dan hematogen.

7
-Secara asending yaitu:
a. Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain: faktor anatomi dimana pada
wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK
lebih tinggi, faktor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam
traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.
b. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal.
-Secara hematogen yaitu:
Sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran
infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal
sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang
mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-
lain.
Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya:
 Sisa urin dalam kandung kemih
 Mobilitas menurun
 Nutrisi yang sering kurang baik
 Sistem imunitas yang menurun
 Adanya hambatan pada saluran urin
 Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.
Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi yang
berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi
terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya
akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen
menyebar ke seluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK,
antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan
bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefrosis. Penyebab umum
obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering
ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.11,12,13

Manifestasi Klinis3
Keluhan klasik dari infeksi saluran kemih bagian bawah (sistitis akut) seperti :
8
 Polakosuria, nokturia, disuria, dan urgensi yang biasanya terjadi bersamaan
 Beberapa pasien hematuria
 Demam
 Nyeri suprapubik dan daerah pelvis
Keluhan dari infeksi saluran kemih bagian atas (pielonefritis akut) seperti:
 Panas tinggi (39,5-40,5oC) disertai menggigil
 Sakit pinggang
 Sakit lokal dari infeksi saluran kemih bagian bawah maupun infeksi saluran kemih bagian
atas terutama di daerah ginjal
 Sakit yang menetap pada daerah satu atau kedua ginjal disebabkan ragangan dari kapsul
ginjal
 Sakit ini dapat menyebabkan ke daerah perut bagian bawah menyerupai appendiksitis

Komplikasi14
Komplikasi dari suatu infeksi saluran kencing ini mungkin termasuk:
 Infeksi berulang, terutama pada wanita yang mengalami dua atau lebih ISK dalam
periode enam bulan atau empat atau lebih dalam setahun
 Kerusakan ginjal permanen akibat infeksi ginjal akut atau kronis (pielonefritis)
karena ISK yang tidak diobati
 Peningkatan risiko pada wanita hamil melahirkan bayi berat lahir rendah atau bayi
prematur
 Penyempitan uretra (striktur) pada pria dari uretritis berulang, sebelumnya terlihat
dengan uretritis gonococcal
 Sepsis, komplikasi infeksi yang berpotensi mengancam nyawa, terutama jika infeksi
bekerja pada saluran urine Anda ke ginjal.

Penatalaksanaan15
Sulfonamide:
Sulfonamide dapat menghambat baik bakteri gram positif dan gram negatif. Secara
struktur analog dengan asam p-amino benzoat (PABA). Biasanya diberikan per oral, dapat
dikombinasi dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di ekskresi di ginjal.
Sulfonamide digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih dan bisa terjadi resisten karena
hasil mutasi yang menyebabkan produksi PABA berlebihan. Efek samping yang ditimbulkan
hipersensitivitas (demam, rash, fotosensitivitas), gangguan pencernaan (nausea, vomiting, diare),
9
Hematotoxicity (granulositopenia, (thrombositopenia, aplastik anemia) dan lain-lain. Mempunyai
3 jenis berdasarkan waktu paruhnya :
- Short acting
- Intermediate acting
- Long acting

Trimethoprim
Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat enzim
dihydrofolate reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif dari folic
acid. Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus dan ekskresi dalam
urine, aktif melawan bakteri gram negatif kecuali Pseudomonas spp. Biasanya untuk pengobatan
utama infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan tunggal (100 mg setiap 12 jam) pada
infeksi saluran kemih akut.
Efek samping : megaloblastik anemia, leukopenia, granulocytopenia.
Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX):
Jika kedua obat ini dikombinasikan, maka akan menghambat sintesis folat, mencegah
resistensi, dan bekerja secara sinergis. Sangat bagus untuk mengobati infeksi pada saluran kemih,
pernafasan, telinga dan infeksi sinus yang disebabkan oleh Haemophilus influenza dan
Moraxella catarrhalis. Karena Trimethoprim lebih bersifat larut dalam lipid daripada
Sulfamethoxazole, maka Trimethoprim memiliki volume distribusi yang lebih besar
dibandingkan dengan Sulfamethoxazole. Dua tablet ukuran biasa (Trimethoprim 80 mg +
Sulfamethoxazole 400 mg) yang diberikan setiap 12 jam dapat efektif pada infeksi berulang pada
saluran kemih bagian atas atau bawah. Dua tablet per hari mungkin cukup untuk menekan dalam
waktu lama infeksi saluran kemih yang kronik, dan separuh tablet biasa diberikan 3 kali
seminggu untuk berbulan-bulan sebagai pencegahan infeksi saluran kemih yang berulang-ulang
pada beberapa wanita. Efek samping : pada pasien AIDS yang diberi TMP-SMX dapat
menyebabkan demam, kemerahan, leukopenia dan diare.
Fluoroquinolon
Mekanisme kerjanya adalah memblok sintesis DNA bakteri dengan menghambat
topoisomerase II (DNA gyrase) topoisomerase IV. Penghambatan DNA gyrase mencegah
relaksasi supercoiled DNA yang diperlukan dalam transkripsi dan replikasi normal.
Fluoroquinolon menghambat bakteri batang gram negatif termasuk enterobacteriaceae,
Pseudomonas, Neisseria. Setelah pemberian per oral, Fluoroquinolon diabsorpsi dengan baik dan
didistribusikan secara luas dalam cairan tubuh dan jaringan, walaupun dalam kadar yang
berbeda-beda. Fluoroquinolon terutama diekskresikan di ginjal dengan sekresi tubulus dan
10
dengan filtrasi glomerulus. Pada insufisiensi ginjal, dapat terjadi akumulasi obat. Efek samping
yang paling menonjol adalah mual, muntah dan diare. Fluoroquinolon dapat merusak kartilago
yang sedang tumbuh dan sebaiknya tidak diberikan pada pasien di bawah umur 18 tahun.
- Norfloxacin :
Merupakan generasi pertama dari fluoroquinolones dari nalidixic acid, sangat baik untuk infeksi
saluran kemih.
- Ciprofloxacin :
Merupakan generasi kedua dari fluoroquinolones, mempunyai efek yang bagus dalam melawan
bakteri gram negatif dan juga melawan gonococcus, mykobacteria, termasuk Mycoplasma
pneumonia.
- Levofloxacin
Merupakan generasi ketiga dari fluoroquinolones. Hampir sama baiknya dengan generasi kedua
tetapi lebih baik untuk bakteri gram positif.
Nitrofurantoin
Bersifat bakteriostatik dan bakterisid untuk banyak bakteri gram positif dan gram negatif.
Nitrofurantoin diabsorpsi dengan baik setelah ditelan tetapi dengan cepat di metabolisasi dan
diekskresikan dengan cepat sehingga tidak memungkinkan kerja antibakteri sistemik. Obat ini
diekskresikan di dalam ginjal. Dosis harian rata-rata untuk infeksi saluran kemih pada orang
dewasa adalah 50 sampai 100 mg, 4 kali sehari dalam 7 hari setelah makan. Efek samping :
anoreksia, mual, muntah merupakan efek samping utama. Neuropati dan anemia hemolitik
terjadi pada individu dengan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase.

Pencegahan
Pencegahan ISK:14
 tidak menahan kencing.
 Membersihkan area kemaluan dari depan ke belakang setelah kencing.
 Minum banyak air.
 Jauhi semprotan wangi-wangian ke area kemaluan.
 Membersihkan area genital sebelum melakukan hubungan seks.
 Buang air kecil setelah berhubungan seks untuk menyingkirkan bakteri yang mungkin
telah memasuki uretra.
 Sering ganti celana dalam
 Jangan menggunakan celana dalam yang ketat

11
Prognosis
Infeksi saluran kemih bawah jarang menyebabkan komplikasi dan pemulihan secara
menyeluruh bisa dicapai dengan pemberian antibiotic jangka pendek. Pasien dengan ISK bawah
inkomplikata tidak beresiko menyebabkan gagal ginjal kedepannya. ISK atas perlu pemberian
antibiotic intravena di rumah sakit diikuti pemberian antibiotic secara oral dirumah setelah dari
rumah sakit. Pemulihan bisa dicapai tetapi disertai sedikit penurunan dari fungsi ginjal.16

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas perempuan tersebut didiagnosa mengalami ISK bawah
yang ditandai dysuria dan nyeri pada regio suprapubik. Perlu penanganan yang tepat agar
penyebaran infeksinya tidak menyebabkan komplikasi yang lebih berat.

Daftar Pustaka
1. Sibuea W.H, Frenkel M. Pedoman dasar anamnesis dan pemeriksaan jasmani. Jakarta:
CV. Sagung Seto; 2007.h. 7-15
2. Sukandar E. Nefrologi klinik. Edisi ke-3. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah (PII) Bagian
ilmu penyakit dalam FK UNPAD; 2006. h.26-93.
3. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-6. Jilid 2.
Jakarta: Interna Publishing; 2015.h.2131-8.
4. Sumolang SAC, Porotu’o J, Soeliongan S. Pola bakteri pada penderita infeksi saluran
kemih di BLU RSUP Prof dr RD Kandou Manado. Jurnal eMB. 1 Maret 2013; 1(1):598.
5. Sudoyo AW, Setiyohadi B, dkk. Ilmu penyakit dalam. Edisi ke-5. Jilid 2. Jakarta: Interna
Publishing; 2009.h.1009-15.
6. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005. h. 919-21.
7. Purnomo BB. Dasar-dasar urologi. Edisi 2. Jakarta : Sagung Seto ; 2007. h.35-49, 62-6.
8. Berger RE. Sexually transmitted disease The classic disease. In: walsh PC. Urology. Ed 8.
Vol 1. Europe: WB saunders company; 2001.h. 671-82.
9. Willy T. Penyebab infeksi saluran kemih. https://www.alodokter.com/infeksi-saluran-
kemih/penyebab. Diakses tanggal 30 Oktober 2018
10. Syukri M. Penanganan infeksi saluran kemih. https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiCueLYz
63eAhXJQY8KHbCCD0YQFjAAegQIBxAC&url=http%3A%2F
%2Fwww.jurnal.unsyiah.ac.id%2FJKS%2Farticle%2Fdownload

12
%2F9430%2F7415&usg=AOvVaw3YOdQuzyPyMVVTf26wK6gl. Diakses tanggal 30
Oktober 2018.
11. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit volume 2.
Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2006. h.918-24.
12. Cotran, Rennke H, Kumar V. Buku ajar patologi. Edisi ke-7. Jakarta: EGC; 2007. h.591-
3.
13. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.
h.718.
14. Infeksi saluran kemih – penyebab, gejala, pengobatan, dan pencegahan.
https://doktersehat.com/infeksi-saluran-kemih/. Diakses tanggal 30 Oktober 2018.
15. Kee JL. Farmakologi. Jakarta: EGC; 2003: 268-73.
16. Urinary tract infection. https://www.myvmc.com/diseases/urinary-tract-infection-
uti/#Prognosis. Diakses tanggal 30 Oktober 2018.
17. Uretritis – Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan.
https://doktersehat.com/uretritis/. Diakses tanggal 30 Oktober 2018.

13