Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN HASIL DISKUSI KELOMPOK KECIL

Blok 9 Modul 2

Penyakit Infeksi: Kelainan kelenjar saliva

Disusun oleh : kelompok 1

Jihan Fadhilah Nim. 1710025001

Irvan Zulfikar Octavianto Nim. 1710025005

Dea Pratiwi Sadaningsih Nim. 1710025009

Vitta Anzelia Triyana Nim. 1710025013

M. Fikri Fadhillah Pasya Nim. 1710025017

Icha Try Putri Nim. 1710025021

Aanisah Nida Aliyah Nim. 1710025025

Nanda Pratiwi Nim. 1710025029

Ananda Putri Apriliyana Nim. 1710025033

Fausia Rahmah Nim. 1710025037

Tutor : drg. Cicih Bhakti Purnamasari, M . Med. Ed

Fakultas kedokteran

Universitas mulawarman
Samarinda

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena terselesaikannya laporan
DKK (Diskusi Kelompok Kecil). Laporan ini dibuat sesuai dengan gambaran jalannya proses DKK
kami, lengkap dengan pertanyaan pertanyaan dan jawaban yang disepakati oleh kelompok kami.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam proses
pembuatan laporan DKK ini. Pertama, kami berterima kasih kepada drg. Cicih Bhakti Purnamasari,
M.Med.Ed selaku tutor kami yang telah dengan sabar menuntun kami selama proses DKK.Terima
kasih pula kami ucapkan atas kerja sama rekan sekelompok di Kelompok 1. Tidak lupa juga kami
berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam mencari informasi maupun
membuat laporan DKK.

Akhir kata, kami sadar bahwa kesempuranaan tidak ada pada manusia oleh sebab itu, kami
mohon kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan di kemudian hari. Semoga laporan ini bermanfaat
bagi pembaca, baik sebagai referensi atau perkembangan pengetahuan.

Hormat kami,

Kelompok 1
ABSTRACT

The health of layer of oral mucosa and pharynx with mastication and respiration function in
the lower phase depend on the adequate flow of saliva. However, the obstruction of salivary
gland can cause pain and inconvenience to the patient.

Human salivary glands consisted of major and minor salivary glands which produce
saliva. Salivary gland secretion is a process that involves cell synthesis and active transport.
Salivary gland diseases are also associated with secretion process. There are some
abnormalities in the salivary glands, among others; mucocele, ranula, sialadenitis,
sialolithiasis, and sialadenosis

ABSTRAK

Kesehatan lapisan mukosa mulut dan faring, serta fungsi pengunyahan dan pernapasan
dalam fungsi yang lebih rendah tergantung pada cukupnya aliran saliva. Namun dengan
adanya penyumbatan pada kelenjar saliva tersebut, dapat menyebabkan ketidaknyamanan
serta rasa nyeri pada penderita.
Kelenjar saliva manusia terdiri dari kelenjar saliva mayor dan minor yang berperan
untuk memroduksi saliva. Sekresi kelenjar saliva merupakan suatu proses yang melibatkan
sintesis sel dan transpor aktif. Penyakit kelenjar saliva juga berhubungan dengan proses
sekresi. Terdapat beberapa kelainan pada kelenjar saliva antara lain; mucocele, ranula,
sialadenitis, sialolithiasis, dan sialadenosis.
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia memiliki kelenjar saliva yang terbagi menjadi kelenjar saliva mayor dan
minor. Kelenjar saliva mayor terdiri dari sepasang kelenjar parotis, submandibula dan
sublingual. Kelenjar saliva minor jumlahnya ratusan dan terletak di rongga mulut. Kelenjar
saliva mayor berkembang pada minggu ke-6 sampai ke-8 kehidupan embrio dan berasal
dari jaringan ektoderm. Kelenjar saliva minor berasal dari jaringan ektoderm oral serta
endoderm nasofaring dan membentuk sistem tubuloasiner sederhana.
Kelenjar saliva berfungsi memproduksi saliva yang bermanfaat untuk membantu
pencernaan, mencegah mukosa dari kekeringan, memberikan perlindungan pada gigi
terhadap karies serta mempertahankan homeostasis. Kelenjar ini juga tidak terlepas dari
penyakit. Penyakit yang mengenai kelenjar saliva kadang sulit dideteksi karena
strukturnya yang kecil. Saat ini teknologi semakin maju, dan alat untuk mendiagnosis
penyakit ini pun semakin berkembang.

B. Tujuan
1. Mampu menjelaskan macam-macam gangguan pada kelenjar saliva
2. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan sialolithiasis
3. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan sialodenitis
4. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan sialodenosis
5. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan mucocele
6. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan ranula
7. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang dari kelainan kelenjar saliva

C. Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui macam-macam kelainan pada kelenjar saliva,
serta mampu menjelaskan gelaja, etiologi dan faktor predisposisi dari masing masing
gangguan kelenjar saliva serta pemeriksaan penunjang yang digunakan.
BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

Skenario

Bengkak di wajah

Saat bangun tidur, Annie merasa ada yang lain dengan wajahnya. Dan benar, di cermin,
wajahnya nampak bengkak tidak wajar, bagian sinistra nampak lebih sembap. Beberapa hari
yang lalu, wajahnya juga terasa bengkak, namun merata serta sudah membaik. Ternyata ini
muncul lagi. Bengkaknya lebih nampak saat makan, bahkan disertai rasa sakit fasial, oral
terutama leher. Sakit juga terasa saat menelan makanan dan membuka mulut, padahal tidak ada
febris. Annie memeriksakan ke poli gigi, setelah dipalpasi ternyata dokter memberi rujukan
untuk pemeriksaan penunjang terlebih dahulu, walaupun prosedur pemeriksaan klinis sudah
lengkap dilakukan di poli. Dokter gigi mencurigai ada obstruksi pada saluran kelenjar
submandibula, namun diagnosis baru bisa dipastikan setelah ada hasil penunjang. Annie
penasaran, apa sih penyebabnya, bagaimana bisa sampai bengkak ke seluruh wajah. Kunjungan
dokter gigi berikutnya, dia akan bertanya lebih, termasuk penatalaksanaan dan pilihan
terapinya.

2.1 Identifikasi Istilah

1. Bengkak : ciri dari inflamasi, respon tubuh terinfeksi patogen


2. Febris : demam / peningkatan suhu tubuh diatas normal 37,5 derajat celcius
3. Sembab : penimbunan cairan berlebih di dalam jaringan
4. Obstrubsi : penyumbatan , akibat terdapat benda asing
5. Palpasi : metode pemeriksaan dimana pemeriksa memegang secara langsung untuk
mengetahui struktur
6. Pemeriksaan penunjang : untuk menegakkan diagnosa dilakukan atas indikasi tertentu
7. Pemeriksaan klinis : pemeriksaan fisik oleh tenaga medis
2.2 Identifikasi Masalah

1. Apa saja macam macam kelainan pada kelenjar saliva?


2. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada kasus di skenario?
3. Bagaimana bisa terjadi obstruksi?
4. Apa penyemban pembengkakan pada wajah?
5. Mengapa pada saat makan wajag terlihat bengkak?

2.3 Analisa Masalah

1. Sialorhea : hipersalivasi
Etiologi : pada bayi yang mengalami erupsi gigi, obat-obatan
Gejala : gangguan oada saraf

Asialorhea : hiposalivasi , dapat menyebabkam xerostomia


Etiologi : menopause, dan lanjut usia
Penatalaksanaan : mengurangi dosis obat, dan lebih banyak mengkonsumsi air putih

Sialodenitis : kelenjar parotis (lebih banyak) dan kelenjar submandibula


Gejala : terdapat obstruksi, umur 50-60 tahun, terjadi rasa sakit jika dipegang

Sialodenosis : kelenjar parotis, pembengkakan dari sialodenitis

Sialolithiasis : obstruksi banyak di submandibula, banyak mengandung kalsium fosfat,


mengendap pada submandibula, dapat terkena pada semua usis
Penatalaksanaan : pada fase akut di pijat pada duktus, jika sudah mereda bisa di bedah atau
disialoendoskopi

Mucocele : lesi pada mukosa karna gigitan dan obat obatan, kelenjar saliva terjadi kebocoran
pada labial dan jarang pada lidah
Penatalaksanaan : dilakukan biopsi

Ranula : pembengkakan karena kista

2. MRI , sialoendoskopi, pemeriksaan darah lengkap, ct scan, tergantung kodisi pasien


3. Sudah terjawab pada no.1
4. Bisa karena sialodenitis atau sialolithiasis
5. Karena ada penumpukan cairan saliva
2.4 Strukturisasi Konsep

2.5 Learning Objective

Mahasiswa mampu memahami:

1. Mampu menjelaskan macam-macam gangguan pada kelenjar saliva

2. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan sialolithiasis

3. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan sialodenitis

4. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan sialodenosis

5. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan mucocele

6. Mampu menjelaskan etiologi, gejala, dan penatalaksanaan ranula

7. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang dari kelainan kelenjar saliva

2.6 Belajar Mandiri


Masing-masing anggota kelompok belajar mandiri mengenai learning objective yang
sudah didapatkan
LO 1

GANGGUAN FUNGSI KELENJAR SALIVA

Gangguan fungsi kelenjar saliva ada 2 yaitu Sialorhea dan Asialorhea. Sialorhea merupakan gangguan
fungsi kelenjar saliva dimana sekresi kelenjar ludah berlebihan sehingga menyebabkan hipersalivasi.
Asialorhea merupakan gangguan fungsi kelenjar ludah dimana sekresi kelenjar saliva yang berkurang
sehingga menyebabkan Xerostomia.

1. Sialorhea
Sialorhea bukan suatu penyakit tetapi merupakan suatu simtom. Sialorhea menyebabkan
hipersalivasi. Air ludah yang berlebihan dapat menyebabkan angular cheilosis, nausea,
muntah.

 Faktor- faktor penyebab :


a. Fisiologis
- Erupsi gigi pada bayi

- Melihat/mencium bau makanan

- Insersi protesa/alat ortodonsi

- Lapar

b. Bentuk akut stomatitis


- Herpetik gingivostomatitis akut

- ANUG

- Metalik stomatitis

- Pemfigus

c. Penderita epilepsi dan mental defisiensi


d. Obat-obatan
- Pilocarpine

- Iodida

- thiouracil

2. Asialorhea
Asialorhea bukan suatu penyakit tetapi merupakan simtom. Asialorhea menyebabkan
xerostomia.

 Faktor- faktor penyebab :


a. Obat-obatan :
- Atropin
- Anti Histamin

- Belladona

b. Penyakit sistemik :
- Tifus

- DM tidak terkontrol

- Hipertiroid

c. Fisiologis :
- Menopause

- Lanjut usia

d. Pemakai gigi palsu


e. Psikis:
- Ketakutan

- Gelisah

- Gembira

f. Kerusakan kelenjar ludah :


- Gangguan congenital
- Radiasi kepala dan leher.

 Gejala :
- Mukosa mulut kering

- Mudah terkena iritasi sehingga bisa menyebabkan luka

- Fisur sakit / pecah-pecah, mudah berdarah bila terjadi trauma

- Sukar mengunyah dan menelan makanan kering

- Akibat radiasi mulut kering

LO 2

Sialolitiasis

Salah satu penyakit pada kelenjar saliva adalah terdapatnya batu pada kelenjar saliva. Angka
kejadian terdapatnya batu pada kelenjar submandibula lebih besar dibandingkan dengan kelenjar
saliva lainnya, yaitu sekitar 80%. Juga 20% terjadi pada kelenjar parotis, dan 1% terjadi pada kelenjar
sublingualis. Salah satu penyakit sistemik yang bisa menyebabkan terbentuknya batu adalah
penyakit gout, dengan batu yang terbentuk mengandung asam urat. Kebanyakan, batu pada kelenjar
saliva mengandung kalsium fosfat, sedikit mengandung magnesium,amonium dan karbonat. Batu
kelenjar saliva juga dapat berupa matriks organik, yang mengandung campuran antara karbohidrat
dan asam amino.

Duktus pada kelenjar submandibula lebih mudah mengalami pembentukan batu karena saliva yang
terbentuk lebih bersifat alkali, memiliki konsentrasi kalsium dan fosfat yang tinggi, serta kandungan
sekret yang mukoid. Disamping itu, duktus kelenjar submandibula ukurannya lebih panjang, dan
aliran sekretnya tidak tergantung gravitasi. Batu pada kelenjar submandiula biasanya terjadi di
dalam duktus, sedangkan batu pada kelenjar parotis lebih sering terbentuk di hilum atau di dalam
parenkim. Gejala yang dirasakan pasien adalah terdapat bengkak yang hilang timbul disertai dengan
rasa nyeri. Dapat teraba batu pada kelenjar yang terlibat.

Gejala sialolithiasis termasuk:

 Benjolan yang terasa sakit di bawah lidah


 Rasa sakit yang berlebihan saat mengunyah dan menelan

Jenis lain dari sialolithiasis, yaitu sialadenitis, dapat menyebabkan:

 Benjolan di pipi atau di bawah dagu


 Keluar nanah di dalam mulut, yang berbau tajam
 Demam

Diagnosis sialolithiasis

Diagnosis sialolithiasis diawali dengan pemeriksaan fisik dasar berdasarkan riwayat


kesehatan Anda dan gejala yang timbul. Biposi jaringan dapat dilakukan jika dokter
mencurigai anda memiliki penyakit autoimun yang memengaruhi fungsi kelenjar liur.

Namun begitu, beberapa kasus penyebabnya sudah jelas dan tidak memerlukan tes
diagnostik.

Dokter dapat melakukan rontgen gigi (bisa juga dengan CT scan atau MRI) untuk
menemukan batu yang memblokir kelenjar liur. Dokter bedah kemudian dapat melakukan
bedah mikro untuk mengangkat batu tersebut.

Beberapa pilihan pengobatan saat ini adalah:

Non-invasif:

Untuk batu kecil, hidrasi, terapi panas lembab, NSAID (obat anti-inflamasi nonsteroid) kadang-
kadang, dan pasien mengambil makanan atau minuman yang pahit dan / atau asam. Mengisap buah
jeruk, seperti lemon atau jeruk, dapat meningkatkan air liur dan mendorong pengusiran batu secara
spontan. (Contoh ukuran: 2–10 mm) [6]

Beberapa batu mungkin dipijat oleh seorang spesialis.

Terapi gelombang kejut (Extracorporeal shock wave lithotripsy). [7]


Minimal invasif:

Sialendoskopi

Bedah:

Seorang dokter bedah THT atau lisan / maksilofasial dapat menyuntikkan saluran untuk
mengeluarkan batu (sialectomy).

Seorang ahli bedah dapat membuat sayatan kecil di dekat batu untuk mengangkatnya.

Dalam beberapa kasus ketika batu terus berulang saluran saliva yang mengganggu dihapus.

Pengobatan pendukung:

Untuk mencegah infeksi saat batu bersarang di saluran, antibiotik kadang-kadang digunakan.

LO 3

2.1 Definisi Sialadenitis


Sialadenitis adalah infeksi berulang-ulang di glandula submandibularis yang dapat diserati
adanya batu (sialolith) atau penyumbatan. Biasanya sistem duktus menderita kerusakan, jadi
serangan tunggal sialadentis submandibularis jarang terjadi. Kelenjar ini terasa panas,
membengkak, nyeri tekan dan merupakan tempat serangan nyeri hebat sewaktu makan.
Pembentukan abses dapat terjadi didalam kelenjar maupun duktus. Sering terdapat batu
tunggal atau multiple (Gordon, 1996).
Sialadenitis merupakan keadaan klinis yang lebih sering daripada pembengkakan parotid
rekuren dan berhubungan erat dengan penyumbatan batu duktus submandibularis.
Penyumbatan tersebut biasanya hanya sebagian dan oleh karena itu gejala yang timbul
berupa rasa sakit postpradial dan pembengkakan. Kadang-kadang infeksi sekunder
menimbulkan sialadenitis kronis pada kelenjar yang tersumbat tersebut, tetapi keadaan ini
jarang terjadi. Kadang-kadang pembengkakan rekuren disebabkan oleh neoplasma yang
terletak dalam kelenjar sehingga penyumbatan duktus (Gordon,1996).
2.2 Etiologi Sialadenitis
Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi tetapi dapat berkembang tanpa penyebab yang
jelas. Peradangan kronis dapat terjadi pada parenkim kelenjar atau duktus seperti batu
(sialolithiasis) yang disebabkan karena infeksi (sialodochitis) dari Staphylococcus aureus,
Streptococcus viridians atau pneumococcus. Selain itu terdapat komponen obstruksi skunder
dari kalkulus air liur dan trauma pada kelenjar. Faktor risiko yang dapat mengakibatkan
sialadenitis antara lain dehidrasi, terapi radiasi, stress, malnutrisi dan hiegine oral yang tidak
tepat misalnya pada orang tua, orang sakit, dan operasi (Gordon, 1996).
2.3 Klasifikasi Sialadenitis
a. Sialadenitis akut
Sialadenitis akut akan terlihat secara klinik sebagai pembengkakan atau pembesaran
glandula dan salurannya dengan disertai nyeri tekan dan rasa tidak nyaman serta sering juga
diikuti dengan demam dan lesu. Diagnosis dari keadaan sumbatan biasanya lebih mudah
ditentukan dengan berdasar pada keluhan subjektif dan gambaran klinis. Penderita yang
terkena sialadenitis akut seringkali dalam kondisi menderita dengan pembengkakan yang
besar dari glandula yang terkena. Regio yang terkena sangat nyeri bila dipalpasi dan sedikit
terasa lebih hangat dibandingkan daerah dekatnya yang tidak terkena. Pemeriksaan muara
duktus akan menunjukkan adanya peradangan, dan jika terliaht ada aliran saliva, biasanya
keruh dan purulen.
Pasien biasanya demam dan hitung darah lengkap menunjukkan leukositosis yang
merupakan tanda proses infeksi akut. Pemijatan glandula atau duktus (untuk mengeluarkan
secret) tidak dibenarkan dan tidak akan bisa ditolerir oleh pasien. Probing (pelebaran duktus)
juga merupakan kotraindikasi karena kemungkinan terjadinya inokulasi yang lebih dalam atau
masuknya organism lain, yang merupakan tindakan yang harus dihindarkan. Sialografi yaitu
pemeriksan glandula secara radiografis mensuplai medium kontras yang mengandung iodine,
juga sebaiknya ditunda. Bila terdapat bahan purulen, dilakukan kultur aerob dan abaerob
(Gordon, 1996).
b. Sialadenitis kronis
Infeksi atau sumbatan kronis membutuhkan pemeriksaan yang lebih menyeluruh, yang
meliputi probing, pemijatan glandula dan pemeriksaan radiografi. Palpasi pada glandula saliva
mayor yang mengalami keradangan kronis dan tidak nyeri merupakan indikasi dan seringkali
menunjukkan adanya perubahan atrofik dan kadang-kadang fibrosis noduler. Sialadenitis
kronis seringkali timbul apabila infeksi akut telah menyebabkan kerusakan atau
pembentukan jaringan parut atau pembentukan jaringan parut atau perubahan fibrotic pada
glandula.
Tampaknya glandula yang terkena tersebut rentan atau peka terhadap proses infeksi lanjutan.
Seperti pada sialadenotis akut, perawatan yang dipilih adalah kultur saliva dari glandula yang
terlibat dan pemberian antibiotic yang sesuai. Probing atau pelebaran duktus akan sangat
membantu jika sialolit ini menyebabkan penyempitan duktus sehingga menghalangi aliran
bebas dari saliva. Bila kasus infeksi kronis ini berulang-ulang terjadi, maka diperlukan
sialografi dan pemerasan untuk mengevaluasi fungsi glandula. Jika terlihat adanya kerusakan
glandula yang cukup besar, perlu dilakukan ekstirpasi glandula. Pengambilan
submandibularis tidak membawa tingkat kesulitan bedah dan kemungkinan timbulnya rasa
sakit sebagaimana pengambilan glandula parotidea. Karena kedekatannya dengan n. facialis
dan kemungkinan cedera selama pembedahan, maka glandula parotidea yang mengalami
gangguan biasanya dipertahankan lebih lama daripaa jika kerusakan mengenai glandula
submandibula (Gordon, 1996).
c. Sialadenetis supuratif
Sialadenitis supuratif akut lebih jarang terjadi pada glandula submandibularis, dan jika ada,
seringkali disebabkan oleh sumbatan duktus dari batu saliva atau oleh benturan langsung
pada duktus. Dilakukan pemeriksaan kultur dari sekresi purulen dan terapi antibiotic. Jika batu
terletak pada bagian distal duktus (intraoral), batu harus dikeluarkan. Jika sialolit terletak pada
duktus proksimal. Kadang-kadang glandula harus dipotong untuk mengontrol infeksi akut
(Gordon, 1996).
2.4 Manifestasi Klinis Sialadenitis
Gejala yang timbul biasanya unilateral dan terdiri dari pembengkakan dan rasa sakit, serta
trismus ringan. Pada tahap ini belum dapat dilakukan penentuan diagnosa yang dapat
ditentukan bila telah terjadi serangan berulang kali. Pembengkakan terjadi selama 2-10 hari
dan serangan terulang kembalisetelah beberapa minggu atau bulan. Pembengkakan yang
rekurens dan nyeri didaerah kelenjar submandibula (Haskel, 1990).
Demam terjadi jika timbul infeksi, menggigil, dan nyeri unilateral dan pembengkakan
berkembang. Kelenjar ini tegas dan lembut difus, dengan eritema dan edema pada kulit di
atasnya. Nanah sering dapat dinyatakan dari saluran dengan menekan kelenjar yang terkena
dampak dan harus berbudaya. Focal pembesaran mungkin menunjukkan abses. Sekresi air
liur yang sangat kental dapat dikeluarkan dari duktus dengan melakukan penekanan pada
kelenjar. Kelenjar ini dapat terasa panas dan membengkak (Haskel, 1990).

2.5 Patofisiologi Sialadenitis

Terjadi penurunan fungsi duktus oleh karena infeksi, penyumbatan atau trauma menyebabkan
aliran saliva akan berkurang atau bahkan terhenti. Batu ludah paling sering didapatkan di
kelenjar submandibula. Pada glandula utama, gangguan sekresi akan menyebabkan stasis
(penghentian atau penurunan aliran) dengan inspissations(pengentalan atau penumpukan)
yang seringkali menimbulkan infeksi atau peradangan. Glandula saliva utama yang
mengalami gengguan aliran saliva akan mudah mengalami serangan organism melalui duktus
atau pengumpulan organism yang terbawa aliran darah (Gordon, 1996).
2.6 Penatalaksanaan Sialadenitis
Pada semua keadaan, lubang masuk duktus harus diperlebar dengan beberapa probe
lakrimal. Batu pada duktus dapat dikeluarkan dengan membuat insisi ke duktus dari mukosa
mulut. Batu yang terletak lebih di dalam, memerlukan insisi linear eksternal.
Bila faktor penyebab tidak dapat dihilangkan, sebaiknya usahakan untuk
memperbesar aliran dengan cara mengunyah permen karet. Periode akut dapat dikontrol
dengan kombinasi antibiotic dan massage kelenjar. Pada keadaan yang lebih parah, gejala
yang ada dapat dikontrol dengan pengikatan duktus atau parotidektomi permukaan.
Pengikatan duktus hanya dilakukan bila ada hiposekresi yang hebat, mialnya bila
sindrom sicca atau kerusakan kelenjar telah sangat besar. Bila kecepatan sekresi tinggi,
parotidektomi merupakan indikasi.
Kadang-kadang terjadi infeksi akut pada kelenjar yang tersumbat, dan perawatan
dengan antibiotic (terutama penisilin) diperlukan sebelum perawatan yang lebih menyeluruh
dilakukan.
Langkah pertama adalah untuk memastikan Anda memiliki cukup cairan dalam tubuh Anda.
Anda mungkin harus menerima cairan intravena (melalui pembuluh darah). Berikutnya, Anda
akan diberikan antibiotik untuk menghancurkan bakteri. Setelah saldo cairan telah dipulihkan,
dokter gigi Anda dapat merekomendasikan permen asam tanpa gula atau permen. Mereka
dapat merangsang tubuh memproduksi air liur lebih banyak. Jika infeksi tidak membaik, Anda
mungkin memerlukan pembedahan untuk membuka dan tiriskan kelenjar. Jika sialadenitis
disebabkan oleh batu di saluran, batu itu mungkin perlu dihilangkan dengan operasi (Haskel,
1990).
2.7 Pemeriksaan Penunjang Sialadenitis
Hasil pemeriksaan menunjukkan pembengkakan elastic yang nyeri serta pre-aurikular,
dengan kulit di atasnya normal. Lubang masuk duktus meradang dan jumlah sekresi ludah
berkurang, sedang massage kelenjar dapat menghasilkan kotorsn flokulen kental disertai
aliran ludah yang deras.
Radiograf pada bidang postero-anterior bagian depan duktus, dengan film yang diletakkan
pada pipi dapat menunjukkan batu, bila batu tersebut memang ada.
Sialograf harus dilakukan pad setiap keadaan diantara serangan akut yang satu ke serangan
berikut, dan dapat menunjukkan pembesaran duktus utama, penyempitan, cacat radiolusen
(baturadiolusen), sialektasis (sindrom sicca), atau pada keadan yang sangat parah, ketidak
teraturan yang menyeluruh. Keadaan abnormal terbatas pada cabang duktus dan daerah-
daerah yang berhubungan dengannya.
Pemeriksaan jumlah ludah yang berkurang memang dianjurkan, untuk membandingkan aliran
dari kelenjar ini dengan kelenjar lain, tetapi cara pemeriksaan ini masih dalam penelitian.
Kanula Lashley dipasang pada tiap duktus atau ludah ditampung setelah paien mengunyah
permen karet atau setelah dilakukan penyuntikan pilokarpin secara intravena. Kecepatan
aliran ludah yang normal 1 ml per menit dan pada sebagian bear keadaan tersebut biasanya
bersifat bilateral.
Bila terdapat sindrom sicca, dapat terjadi penurunan sekresi yang simetris. Prognosa keadaan
ini berhubungan dengan kecepatan sekresi, prognosa lebih baik bila volume sekresi normal
atau sedikit berkurang.
Pembengkakan rekuren (submandibula) disebabkan oleh neoplasma yang terletak dalam
kelenjar yang menimbulkan penyumbatan duktus. Hasil pemeriksaan menunjukkan kelenjar
submandibula yang membesar, keras, dan pembengkakan dapat dilihat dengan meminta
pasien mengingat makanan yang disenanginya atau mengiap jeruk. Hasil pemeriksaan juga
menunjukkan berkurangnya aliran ludah dari duktus yang terserang.
Hasil pemeriksaan radiograf yang oblique dan oklusal dari dasar mulut menunjukkan adanya
batu. Perawatan dari keadaan ini meliputi pengeluaran batu bila batu terletak di atas otot
milohoid atau memotong kelenjar bila batu terletak di bawah daerah yang masih dapat dicapai
secara intra-oral. Pemotongan kelenjar juga perlu dilakukan bila gejala yang hebat timbul
berulang kali. Keadaan ini, seperti terlihat pada hasil sialograf, berhubungna dengan
kerusakan kelenjar yang sangat luas dan sialektasis yang mungkin berasal dari infeksi atau
penyempitan duktus (Gordon, 1996).

LO 4

Sialadenosis
Kelainan ini merupakan istilah nonspesifik untuk mendeskripsikan suatu pembesaran kelenjar saliva
yang bukan merupakan reaksi inflamasi maupun neoplasma. Patofisiologi penyakit ini masih belum
jelas. Pembesaran kelenjar saliva biasanya terjadi asimtomatik. Pada penderita obesitas dapat terjadi
pembengkakan kelenjar parotis bilateral karena hipertrofi lemak. Namun perlu dilakukan pemeriksaan
endokrin dan metabolik yang lengkap sebelum menegakkan diagnosis tersebut karena obesitas dapat
berkaitan dengan berbagai macam penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, hiperlipidemia dan
menopause. Sialodenosis biasanya terjadi pada usia antara 30-70 tahun dan biasanya berhubungan
dengan penyakit yang mendasari seperti diabetes melitus, kekurangan gizi, penyakit neurologis atau
alkohol- penyakit liver.

LO 5

MUCOCELE
Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan
oleh pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di
sekitarnya. Mucocele bukan kista, karena tidak dibatasi oleh sel epitel. Mucocele
dapat terjadi pada bagian mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut. Mucocele
terjadi karena pada saat air liur kita dialirkan dari kelenjar air liur ke dalam mulut
melalui suatu saluran kecil yang disebut duktus. Terkadang bisa terjadi ujung duktus
tersumbat atau karena trauma misalnya bibir sering tergigit secara tidak sengaja,
sehingga air liur menjadi tertahan tidak dapat mengalir keluar dan menyebabkan
pembengkakan (mucocele). Mucocele juga dapat terjadi jika kelenjar ludah terluka.
Manusia memiliki banyak kelenjar ludah dalam mulut yang menghasilkan ludah.
Ludah tesebut mengandung air, 3iopsy, dan enzim. Ludah dikeluarkan dari kelenjar
ludah melalui saluran kecil yang disebut duct (pembuluh).

Terkadang salah satu saluran ini terpotong. Ludah kemudian mengumpul


pada titik yang terpotong itu dan menyebabkan pembengkakan, atau mucocele. Pada
umumnya mucocele didapati di bagian dalam bibir bawah. Namun dapat juga
ditemukan di bagian lain dalam mulut, termasuk langit-langit dan dasar mulut. Akan
tetapi jarang didapati di atas lidah. Pembengkakan dapat juga terjadi jika saluran
ludah (duct) tersumbat dan ludah mengumpul di dalam saluran.

ETIOLOGI

Umumnya disebabkan oleh trauma 4iops, misalnya bibir yang sering tergigit
pada saat sedang makan, atau pukulan di wajah. Dapat juga disebabkan karena
adanya penyumbatan pada duktus (saluran) kelenjar liur minor. Mucocele Juga dapat
disebabkan oleh obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan ludah.

GAMBARAN KLINIS

 Batas tegas
 Konsistensi lunak
 Warna transluscent
 Ukuran biasanya kecil
 Tidak ada keluhan sakit
 Kadang-kadang pecah, hilang tapi tidak lama kemudian akan timbul lagi
DIAGNOSIS

Diagnosis mukokel bisa secara langsung dari riwayat penyakit, keadaan klinis
dan palpasi.

Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah :

 Melakukan anamnesa lengkap dan cermat secara visual


 Bimanual palpasi intra & extraoral
 Aspirasi
 Melakukan pemeriksaan laboratories
 Pemeriksaan radiologis dengan kontras media
 Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan biopsy/PA

PENATALAKSANAAN

Mucocele adalah lesi yang tidak berumur panjang, bervariasi dari


beberapa hari hingga beberapa minggu, dan dapat hilang dengan sendirinya.
Namun banyak juga lesi yang sifatnya kronik dan membutuhkan pembedahan
eksisi. Pada saat di eksisi, dokter gigi sebaiknya mengangkat semua kelenjar
liur minor yang berdekatan, dan dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk
menegaskan Biopsy dan menentukan apakah ada kemungkinan tumor kelenjar
liur. Selain dengan pembedahan, mucocele juga dapat diangkat dengan laser.
Beberapa dokter saat ini ada juga yang menggunakan menggunakan injeksi
Kortikosteroid sebelum melakukan pembedahan, ini terkadang dapat
mengempiskan pembengkakan. Jika berhasil, maka tidak perlu dilakukan
pembedahan. Penatalaksanaan mukokel biasanya dilakukan dengan
eksisimukokel dengan modifikasi teknik elips. yaitu setelah pemberian
anesthesi lokal dibuat dua insisi elips yang hanya menembus mukosa,
kemudian lesi dipotong dengan teknik gunting lalu dilakukan penjahitan.

LO 6
RANULA

ETIOLOGI

Etiologinya ranula belum diketahui secara pasti namun diduga ranula terjadi akibat trauma,
obstruksi kelenjar saliva, dan aneurisma duktus glandula saliva. Ranula juga dikatakan berkaitan
dengan penyakit kelenjar saliva dan anomali kongenital duktus saliva yang tidak terbuka.Banyak
teori yang diajukan untuk mengetahui asalnya. Hippocrates dan Celcius mengatakan bahwa kista
berasal dari proses inflamasi yang sederhana. Pare mensugestikan berasal dari glandula pituitary
yang menurun dari otak ke lidah. Ada juga yang mensugestikan bahwa kista tersebut berasal dari
degenerasi myxomatous glandula saliva. Teori yang terakhir mengatakan bahwa kista terjadi karena
Obstruksi ductus saliva dengan pembentukan kista atau ekstravasasi (kebocoran) saliva pada
jaringan yang disebabkan karena trauma. Obstruksi ductus tersebut dapat disebabkan karena
calculus atau infeksi.

Pada tahun 1973 Roediger dan rekannya dapat membuktikan bahwa terjadinya ranula oleh adanya
penyumbatan ductus glandula saliva sehingga terjadi penekanan sepanjang dinding saluran. Bila ada
daerah yang lemah akan pecah dan terjadi lagunar, yang merupakan retensi saliva yang lambat laun
menjadi kista ekstravasasi pada ductus glandula sublingualis atau submandibularis, yang kadang-
kadang dapat ramifikasi secara difus ke leher. Menurut Robert P. Langlais & Craig S. Miller, ranula
terbentuk sebagai akibat terhalangnya ductus saliva yang normal melalui ductus ekskretorius mayor
yang membesar atau terputus dari glandula sublingualis (ductus Bartholin) atau glandula
submandibularis(ductus Wharton), sehingga melalui rupture ini saliva keluar menempati jarigan
disekitar ductus tersebut.

Sebuah penelitian di Zimbabwe nenunjukkan prevalensi ranula yang tinggi juga ditemukan pada
penderita HIV. Sebanyak 83 kasus ranula yang diteliti ditemukan pada penderita HIV. Sehingga
disimpulkan bahwa risiko ranula pada penderita HIV sangat tinggi dan dapat menjadi faktor etiologi.

GEJALA

Ranula tidak diikuti rasa sakit. Keluhan yang paling sering diungkapkan pasien adalah mulutnya
terasa penuh dan lidah terangkat ke atas. Apabila tidak segera diatasi akan terus mengganggu fungsi
bicara, mengunyah, menelan, dan bernafas. Ranula yang berukuran besar akan menekan duktus
glandula saliva dan menyebabkan aliran saliva menjadi terganggu. Akibatnya muncul gejala obstruksi
glandula saliva seperti sakit saat makan atau sakit pada saat glandula saliva terangsang untuk
mengeluarkan saliva dan akhirnya kelenjar saliva membengkak.

PENATALAKSANAAN

Perawatan pada kasus ranula sublingualis (gambar 12A) adalah eksisi dan marsupialisasi dimana
dilakukan insisi sepanjang 2 cm di atas massa yang berbatas langsung dengan kapsul massa untuk
mengeluarkan cairan kista pada bagian sublingual. Sebelum pembedahan, beberapa tahapan
dilakukan sebelum pelaksanaan operasi yaitu pasien dirawat dengan pemasangan IV FD RL dengan
20 tetes/menit, profilaksis dan ceftriakson 1 g/jam, dan pasien diinstruksikan untuk berpuasa
sebelum pelaksanaan operasi.

Prosedur operasi
Sebelum dilakukan operasi keluarga pasien menandatangani informed consent, disinfeksi daerah
operasi, dan injeksi vasokonstriktor. Selanjutnya dilakukan insisi sepanjang 2 cm di atas permukaan
massa hanya pada mukosa yang berbatas langsung dengan kapsul massa (gambar 12b), kontrol
perdarahan dan penjahitan mukosa dengan dinding massa/kapsul di sekitar 8 titik (gambar 12c).
Seluruh cairan massa dikeluarkan sampai dilakukan pengisian kasa yang mengandung ikomisetin
sebagai antibiotik (gambar 12d), lalu daerah operasi dijahit, dan bekas operasi dibersihkan.

Gambar 12A Tampakan klinis ranula sublingualis, B insisi ranula, C penjahitan ranula, dan D
pengeluaran

Perawatan pasca operasi

Pasca operasi, pasien diinstruksikan untuk menjalani diet lunak, pemberian ceftriakson 1 g/12 jam,
pemberikan obat Novalgin ampul/8 jam, penggantian kasa setiap jam hingga perdarahan berhenti,
pemberian obat oral Cefat 500 mg/12 jam, Metronidazole 500 mg/12 jam, Nonflamin caps 50 mg/8
jam, dan Sanmol tab 500 mg/8 jam. Selain itu kepada pasien diinstruksikan untuk melakukan kontrol
di klinik setiap 3 bulan.
LO 7

Pemeriksaan Penunjang

Untuk lesi-lesi jaringan lunak mulut, pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain
pemeriksaan radiologi, biopsi (eksisi dan insisi: scalpel, punch, needle, brush, aspirasi), pemeriksaan
sitologi, pemeriksaan mikrobiologi dan pemeriksaan darah (Birnbaum dan Dunne, 2000).

1. Pemeriksaan Radiologi
Ada beberapa teknik radiologi yang dapat dilakukan untuk melihat gambaran rongga
mulut, tergantung pada jenis lesi yang ditemukan. Contohnya adalah antero-posterior view,
cephalometri, panoramic, x-ray periapikal, occlusal foto. Untuk lesi jaringan lunak mulut, jenis
pemeriksaan radiologi yang sering diperlukan adalah occlusal foto. Teknik ini dapat digunakan
untuk mengetahui letak dari batu kelenjar liur yang biasanya ditemukan pada saluran kelenjar
liur submandibula. Untuk melihat gambaran regio ini, maka teknik yang paling tepat adalah
occlusal foto. Dengan cara ini letak batu dapat diketahui ada di mana, jauh atau dekat dengan
muara duktus kelenjar liur. Letak batu berpengaruh pada jenis perawatan yang akan
dilakukan. Bila dekat dengan permukaan dapat dilakukan massage untuk mengeluarkan batu.
Jika batu terletak di dalam kelenjar atau jauh dari permukaan tentunya perlu dilakukan
tindakan operasi untuk mengeluarkan batu tersebut.
Gb 1. Benjolan di dasar mulut yang merupakan batu

kelenjar liur (Cawson dan Odell, 2008).

Gb 2. Dengan occlusal foto letak batu kelenjar liur dapat

diketahui lokasinya (Neville dkk, 1999).

2. Pemeriksaan biopsi
a) Biopsi eksisi
Biopsi eksisi adalah pengambilan jaringan yang dilakukan untuk pemeriksaan
histopatologi lebih lanjut. Biopsi dilakukan bila ditemukan lesi yang mencurigakan atau
bila diagnosis tetap belum dapat ditentukan. Biasanya tindakan ini dilakukan pada lesi
yang berdiri sendiri, dan spesimen harus cukup besar (lebih dari 1 x 0,5 cm) untuk
keperluan pemeriksaan histopatologi. Cara ini dilakukan bila operator yakin bahwa lesi
tersebut jinak. Ada risiko terlepasnya sel ganas bila diagnosis kerja berupa lesi jinak
ternyata salah. Meskipun demikian, nilai klinis suatu biopsi jauh lebih besar dibandingkan
risiko tersebut. Biopsi eksisi dapat membantu menentukan perawatan yang tepat bila
diagnosis lesi jinak ternyata benar. Untuk spesimen tersebut, perlu diperhatikan supaya
terhindar dari tekanan, robekan ataupun terbakar (Birnbaum dan Dunee, 2000).

b) Biopsi insisi
Biopsi insisi dilakukan untuk lesi yang besar atau bila diduga ada keganasan. Cara ini
memiliki risiko berupa terlepasnya sel ganas. Biopsi insisi tidak dilakukan pada lesi
pigmentasi ataupun vaskular, karena melanoma sangat metastatik dan lesi vaskular akan
menimbulkan perdarahan berlebihan. Di dalam status pasien sebaiknya dicatat letak lesi,
ukurannya dan bentuknya.

Pada biopsi insisi ini hanya sebagian kecil dari lesi yang diambil beserta jaringan sehat
di dekatnya. Pengambilan lesi dapat dilakukan dengan menggunakan scalpel,
menggunakan alat punch (punch biopsy), menggunakan jarum suntik (needle biopsy), dan
biopsi aspirasi.

Gb 3. Biopsi insisi dilakukan pada lesi yang diduga

karsinoma. Insisi meliputi tepi ulkus dan

dasarnya tanpa melibatkan jaringan

normal (Marx dan Stern, 2003).

c) Punch biopsy
Pada punch biopsy ini instrumen operasi digunakan untuk mendorong keluar sebagian
jaringan yang dapat mewakili lesi. Oleh karena spesimen yang dihasilkan seringkali rusak
akibat prosedur ini, maka biopsi yang menggunakan scalpel lebih disukai.

Gb 4. Brush diletakkan dan diputar untuk men-

dapatkan sel-sel epitel (Marx dan Stern, 2003).


Gb 5. Brush yang kaku dapat masuk ke sel yang

lebih dalam hingga membran basalis

(Marx dan Stern, 2003).

d) Needle biopsy
Teknik ini telah digunakan untuk biopsi pada lesi fibro-osseous yang letaknya dalam.
Spesimen yang dihasilkan kecil, sehingga tidak dapat mewakili lesi yang terlibat dan dapat
rusak akibat prosedur yang digunakan, karena itu tidak banyak digunakan.

e) Biopsi aspirasi
Biopsi aspirasi digunakan untuk lesi berupa kista dan mengandung cairan. Cara ini
lebih disukai dibandingkan biopsi insisi pada lesi vaskular karena adanya risiko terjadi
perdarahan berlebihan. Aspirasi udara yang terjadi di daerah molar rahang atas
menunjukkan bahwa jarum berada di dalam sinus maksilaris. Aspirasi darah menunjukkan
adanya suatu hematoma, hemangioma ataupun pembuluh darah. Aspirasi pus
menunjukkan adanya suatu abses atau kista yang terinfeksi (Birnbaum dan Dunne, 2000).

Gb 6. Biopsi aspirasi untuk pus (Lamey

dan Lewis, 1991).

f) Media transport
Spesimen yang diambil saat dilakukan biopsi diletakkan di dalam botol tertutup berisi
cairan formalin (formol saline) 10% untuk fiksasi. Volume cairan fiksasi yang digunakan
adalah sepuluh kali lebih banyak dibandingkan volume spesimen.

3. Pemeriksaan sitologi (oral cytological smear)


Pemeriksaan sitologi adalah suatu pemeriksaan mikroskopik pada sel-sel yang dilepaskan
atau dikerok di permukaan lesi. Cara ini merupakan pemeriksaan tambahan untuk biopsi,
bukan pengganti biopsi. Pemeriksaan ini dilakukan bila biopsi tidak dapat dilaksanakan, pasien
menolak biopsi, ada lesi multipel yang harus diperiksa. Permukaan lesi tidak perlu dikeringkan,
kecuali untuk melepaskan jaringan nekrotik. Permukaan lesi dibiarkan agar tetap basah, lalu
dikerok dengan tepi plastic instrument yang steril atau spatel lidah yang basah. Kerokan
dilakukan beberapa kali dalam arah yang sama. Slide spesimen yang sudah diberi label
disiapkan, hasil kerokan diletakkan di atas slide, kemudian disebarkan ke samping
menggunakan slide lain. Spesimen difiksasi dengan formalin (formol saline) 10% dalam botol
tertutup (Birnbaum dan Dunne, 2000).

4. Pemeriksaan Mikrobiologi
Dua jenis pemeriksan mikrobiologi yang sering dilakukan untuk lesi jaringan lunak mulut
adalah: oral mycological smear dan oral bacteriological smear.

a. Oral Mycological Smear


Oral mycological smear dilakukan untuk membuktikan adanya infeksi jamur pada lesi
yang ditemukan. Pemeriksaan ini diawali dengan melakukan swab pada mukosa mulut
yang dicurigai, dengan menggunakan cotton swab. Kemudian dengan cotton swab dan
spesimen yang didapat, dilakukan streaking pada permukaan media Sabouraud Dextrose
Agar (SDA) dalam cawan petri. Setelah itu cawan petri tersebut dimasukkan ke dalam
inkubator selama 24 – 48 jam untuk membiakkan jamurnya. Seseudah 48 jam akan
tumbuh koloni jamur berwarna putih- kekuningan.
Gb 7. Inkubator yang digunakan untuk membiakkan

Candida albicans (Rasyad, 1995).

Gb 8. Koloni Candida yang tumbuh setelah diinkubasi

selama 48 jam (Rasyad, 1995).

Langkah selanjutnya adalah melakukan streaking lagi pada petri lain untuk
mengekstraksi Candida albicans. Setelah tumbuh koloni, lakukan streaking lagi pada
agar yang miskin nutrisi. Dalam agar ini Candida albicans akan membentuk
klamidospora. Hasil akhirnya adalah Candida albicans murni.
Gb 9. Klamidospora terbentuk bila Candida albicans

dibiakkan dalam agar corn-meal (Rasyad, 1995).

Gb 10. Gambaran klinis intra oral infeksi Candida

albicans (Lamey dan Lewis, 1991).

Ada beberapa spesies Candida yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu
Candida albicans, Candida stellatoidea, Candida tropicalis, Candida pseudotropicalis,
Candida krusei, Candida parapsilosis, Candida guilliermondii.

b. Oral Bacteriological Smear


Bahan yang akan diperiksa diambil dari permukaan gigi, kemudian dioleskan di atas
slide spesimen. Kemudian difiksasi di atas nyala api spiritus. Berikutnya dituangi dengan
pewarna carbol fuchsin, dibiarkan 10 menit. Lalu dituangi dengan pewarna methylene
blue, biarkan 10 menit.
Gb 11. Gingivitis marginalis ulseromembranosa

pada penderita ANUG (Laskaris, 2000).

Gb 12. Kerusakan jaringan periodontal tahap

lanjut pada penderita ANUG (Laskaris, 2000).

Setelah kering, dilihat di bawah mikroskop cahaya untuk mengetahui adanya bakteri: Contoh
Borrelia vincentii dan Bacillus fusiformis.

Gb 13. Bakteri fusospirochaet yang menyebabkan

ANUG (Cawson dan Odell, 2008).

Bila hasilnya positif, maka benar lesi yang dihadapi adalah acute necrotizing ulcerative
gingivostomatitis.

5. Pemeriksaan Darah
Venepuncture dilakukan untuk melakukan pemeriksaan sel darah merah, sel darah putih
dan trombosit. Biasanya darah dikumpulkan ke dalam tabung EDTA. Untuk pemeriksaan ESR
dan prothrombin time, biasanya darah dikumpulkan ke dalam tabung sitrasi. Darah diambil
dari lengan bagian dalam.
Gb 14. Tourniquet diletakkan di lengan atas dan

daerah venepuncture diolesi alcohol (Lamey dan

Lewis, 1991).

Gb 15. Jarum dimasukkan ke dalam vena

(Lamey dan Lewis, 1991).

Gb 16. Sebelum jarum dicabut, tourniquet

segera dilepaskan (Lamey dan Lewis, 1991).

Untuk pemeriksaan darah lengkap, yang diperiksa adalah: red cell count, hemoglobim,
hematokrit, mean cell volume, mean cell hemoglobin, mean cell hemoglobin concentration,
white cell count dan platelet count (Birnbaum dan Dunne, 2000).
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kelenjar saliva manusia terdiri dari kelenjar saliva mayor dan minor yang berperan
untuk memroduksi saliva. Sekresi kelenjar saliva merupakan suatu proses yang melibatkan
sintesis sel dan transpor aktif. Penyakit kelenjar saliva juga berhubungan dengan proses
sekresi. Terdapat beberapa kelainan pada kelenjar saliva antara lain; mucocele, ranula,
sialadenitis, sialolithiasis, dan sialadenosis. Kelainan tersebut memiliki gelaja, etiologi, dan
penatalaksanaannya masing-masing.

3.2 Saran

Mengingat masih banyaknya kekurangan dari kelompok kami, baik dari segi diskusi
kelompok, penulisan tugas tertulis dan sebagainya, untuk itu kami menerima kritik dan
saran dari dosen-dosen yang mengajar, baik yang sebagai tutor ataupun dosen yang
memberi materi kuliah, dan dari rekan-rekan semua dan dari berbagai pihak demi
kesempurnaan laporan ini.
Reference :

1. Nakayama E, Yuasa K, Beppu M, Kawazu T, Okamura K, Kanda S. Interventional


sialoendoscopy: a new procedure for noninvasive insertion and a minimally invasive
sialolithectomy. J Oral Maxillofac Surg 2003;
2. Oral surgery: Self-milking the sialolith (UK)

Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC
http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35601-Kep%20Pencernaan-
Askep%20Sialadenitis.html#popup