Anda di halaman 1dari 15

Proses Adaptasi Mata dari Ruangan Terang ke Ruangan Gelap

Cindy Hartono

102015192

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Email: cndyhartono@gmail.com

Abstract
Eye is a very useful sense of sight is set up to receive a light beam or light stimulus on
the retina via the optic nerve and then forwarded to the visual center in the brain. This is why
we can look at an object. Eyes can be impaired as decreased visual acuity caused due to
various factors. There are caused because of external factors and some are caused by
internal factors of the eye itself. As a disorder that occurs when a person's eyes occupy a
bright room and moved to a dark room, or otherwise the eye will adapt the incoming light .
This happens because every human senses will adapt to its environment.
Keywords: Eye structure, mechanism of vision, visual pathway.

Abstrak
Mata merupakan indra penglihatan yang dibentuk untuk menerima suatu rangsangan
berkas cahaya atau sinar pada retina kemudian melalui saraf optik diteruskan ke pusat
penglihatan yang berada di otak. Hal inilah yang menyebabkan kita dapat melihat suatu
benda. Mata dapat mengalami gangguan seperti menurunnya ketajaman penglihatan yang
disebabkan karena berbagai faktor. Ada yang di sebabkan karena faktor-faktor eksternal dan
ada pula yang disebabkan karena faktor internal dari mata itu sendiri. Seperti gangguan yang
terjadi saat mata seseorang menempati ruangan terang dan berpindah ke ruangan gelap, atau
sebaliknya maka mata akan melakukan adaptasi cahaya yang masuk. Hal ini terjadi karena
setiap indra manusia yang akan melakukan adaptasi terhadap lingkungannya.
Kata kunci: Struktur mata, mekanisme penglihatan, jaras visual.

1
Pendahuluan
Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, secara sadar atau tidak kita menggunakan
kelima panca indera kita yang sangat spesial. Terutama indera penglihatan yaitu mata yang
berfungsi sebagai melihat apa saja yang disekitar kita. Mata adalah sistem optik yang
memfokuskanberkas cahaya pada fotoreseptor, yang mengubah energi cahaya menjadi impuls
saraf. Mata juga merupakan alat indra yang terdapat pada manusia. Secara konstan mata
menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan
jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke otak

Struktur Mata
Mata atau Bulbus Oculi adalah sistem optic yang memfokuskan berkas cahaya pada
fotoreseptor, yang mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf.1 70% reseptor sensorik
berada di mata, sedangkan 40% dari cortex cerebri terlihat dalam pemrosesan informasi visual.
Struktur dan fungsi mata sangat rumit dan mengagumkan. Secara konstan mata menyesuaikan
jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan jauh serta
menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera dihantarkan ke otak.2

Gambar 1. Struktur Anatomi Mata

2
a. Makroskopis
Secara makro, bola mata berdiameter ±2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam
dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian anterior.
Bagian anterior mata yang terlihat yaitu sclera (bagian putih mata), kornea, iris, dan
pupil. Selain itu terdapat pula struktur tambahan mata, diantaranya adalah alis, kelopak
mata (palpebra) yang dipisahkan oleh fissure palpebra, conjunctiva (membrane mukosa
transparan), dan apparatus lacrimalis (menjaga permukaan bola mata tetap lembab).
Selain itu terdapat berbagai macam otot untuk menggerakkan mata, yaitu
sebagai berikut:
1. Rektus medialis membalik mata ke arah dalam
2. Rektus lateralis membalik mata ke arah luar
3. Rektus superior memutar mata keatas dan kedalam
4. Rektus inferior memutar mata kebawah dan kedalam
5. Oblikus superior memutar mata kebawah dan keluar
6. Oblikus inferior memutar mata keatas dan keluar. Otot ini adalah satu-
satunya otot yang muncul dari depan orbita.

Sebagian besar otot-otot mata dipersarafi oleh saraf cranial ketiga (okulomotor). Rektus
lateral dipersarafi oleh saraf cranial keenam dan oblikus superior oleh cranial keempat.3
Tulang orbita yang melindungi mata juga mengandung berbagai saraf lainnya:
a. Saraf optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina
ke otak.
b. Saraf lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata.
c. Saraf lainnya menghantarkan sensasi ke bagian mata yang lain dan
merangsang otot pada tulang orbita.
Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata kanan,
sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis. Pembuluh
darah ini masuk dan keluar melalui mata bagian belakang.4

3
Bulbus okuli ini dibagi menjadi tiga lapisan dari luar ke dalam yaitu:
1. Tunika fibrosa
Tunika fibrosa merupakan lapisan mata yang paling luar dan keras. Bagian
posterior tunika fibrosa adalah sclera opaque yang berisi jaringan ikat fibrosa putih,
sclera merupakan bagian putih bola mata.1 Sclera memberi bentuk pada bola mata
(5/6 bagian belakang) dan memberikan tempat perlekatan untuk otot ekstrinsik.
Bagian lainnya dari tunika ini adalah kornea. Kornea merupakan perpanjangan
anterior yang transparan pada sclera di bagian depan mata (1/6 bagian depan).
Bagian ini mentransmisi cahaya dan memfokuskan berkas cahaya. 5 Untuk
melindungi kornea ini, maka disekresikan air mata sehingga keadaannya selalu
basah dan dapat membersihkan dari debu. Pada batas cornea dan sclera terdapat
canalis schlemm yaitu suatu sinus venosus yang menyerap kembali cairan aquaus
humor bola mata.

2. Tunika vaskulosa
Tunika vaskulosa merupakan lapisan tengah dari bola mata. Lapisan ini
terdiri dari lapisan koroid, badan siliaris, iris dan pupil. Lapisan koroid adalah
bagian yang sangat terpigmentasi untuk mencegah refleksi internal berkas cahaya.
Bagian ini juga sangat tervaskularisasi untuk memberikan nutrisi pada mata, dan
elastic sehingga dapat menarik ligament suspensori. Badan siliaris merupakan suatu
penebalan di bagian anterior lapisan koroid, mengandung pembuluh darah dan otot
siliaris.1 Otot ini penting dalam akomodasi penglihatan. Iris merupakan
perpanjangan sisi anterior koroid, iris adalah bagian mata yang berwarna bening.
Lapisan iris memiliki pigmen warna, bagian inilah yang memberikan warna mata.
Sedangkan pupil adalah ruang terbuka bulat pada iris tempat masuknya cahaya
untuk sampai ke inferior mata. Diameter pupil dikendalikan oleh otot radialis dan
sirkularis. Pada bagian depan dan belakang lensa ini terdapat rongga yang berisi
caira bening yang masing-masing disebut Aqueous Humor dan Vitreous Humor.
Adanya cairan ini dapat memperkokoh kedudukan bola mata

3. Tunika nervosa
Tunika nervosa atau retina merupakan lapisan terdalam dari bola mata.
Lapisan ini lunak, namun tipis, hampir menyerupai lapisan pada kulit bawang.
Retina tersusun dari sekitar 103 juta sel-sel yang berfungsi untuk menerima cahaya.

4
Di antara sel-sel tersebut sekitar 100 juta sel merupakan sel-sel batang yang
berbentuk seperti tongkat pendek dan 3 juta lainnya adalah sel konus (kerucut). Sel-
sel ini berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih, dan sangat peka pada sedikit
cahaya.
Sel Kerucut atau cone cell mengandung jenis pigmen yang berbeda, yaitu
iodopsin yang terdiri dari retinen. Sel kerucut bertanggung jawab untuk penglihatan
di siang hari. Subgrup dari sel kerucut responsif terhadap panjang gelombang
pendek, menengah, dan panjang (biru, hijau, merah). Sel-sel ini terkonsentrasi di
fovea yang bertanggung jawab untuk penglihatan detil seperti membaca huruf kecil.
Sel batang berfungsi untuk penglihatan malam. Sel-sel ini sensitif terhadap
cahaya dan tidak memberikan sinyal informasi panjang gelombang (warna). Sel
batang menyusun sebagian besar fotoreseptor di retina bagian lainnya.6 Sel batang
ini mengandung suatu pigmen yang fotosensitif disebut rhodopsin. Cahaya lemah
seperti cahaya bulan pun dapat mengenai rhodopsin. Sehingga sel batang ini
diperlukan untuk penglihatan pada cahaya remang-remang.

b. Fungsi
Bagian-bagian dari mata pun memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
- Sklera : Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat
melekatnya bola mata
- Kornea : memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya
- Corpus Siliaris : Menyokong lensa dan mengandung otot untuk beroakomodasi,
mengsekreskan aqueus humor
- Iris : Mengendalikan cahaya yang masuk ke mata, mengandung pigmen.
- Lensa : Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa
- Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola
mata; berfungsi mengirimkan pesan visual melalui saraf optikus ke otak.
- Bintik kuning (Fovea) : Bagian retina yang mengandung sel kerucut
- Bintik buta : Daerah syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata
- Vitreous humor : Menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
- Aquous humor : Menjaga bentuk kantong bulbus oculi, member nutrisi kepada
kornea, lensa dan sebagian retina.

5
c. Alat-alat tambahan mata7
Selain struktur maksroskopis seperti di atas, mata juga memiliki alat-alat tambahan yang
terdiri dari:
- Alis : terdiri dari rambut kasar yang terletak melintang di atas mata, fungsinya
untuk melindungi mata dari cahaya dan keringat juga untuk kecantikan.
- Kelopak mata : ada dua, yaitu atas dan bawah. Kelopak mata atas lebih banyak
bergerak dari kelopak yang bawah dan mengandung musculus levator pepebrae
untuk menarik kelopak mata ke atas (membuka mata). Untuk menutup mata
dilakukan oleh otot otot yang lain yang melingkari kelopak mata atas dan bawah
yaitu musculus orbicularis oculi. Ruang antara ke-2 kelopak disebut celah mata
(fissura pelpebrae), celah ini menentukan “melotot” atau “sipit” nya seseorang.
Pada sudut dalam mata terdapat tonjolan disebut caruncula lakrimalis yang
mengandung kelenjar sebacea (minyak) dan sudorifera (keringat).
- Bulu mata : ialah barisan bulu-bulu terletak di sebelah anterior dari kelenjar
Meibow. Kelenjar sroacea yang terletak pada akar bulu-bulu mata disebut
kelenjar Zeis. Infeksi kelenjar ini disebut Lordholum (bintit).
-
Apparatus lacrimalis : terdiri dari kelenjar lacrimal, ductus lacrimalis, canalis
lacrimalis, dan ductus nassolacrimalis.

d. Mikroskopis8
1. Tunika Fibrosa:
Kornea
 Epitel kornea : epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
 Membrana bowmanI: membrana basalis yang menebal.
 Stroma / substansia propia: lapisan paling tebal, tidak ada pembuluh darah,
serat kolagen tersusun rapi, ada sel sel fibroblas
 membrana descemeti terdiri dari serat kolagen yang tersusun seperti jala
 endotel kornea: epitel selapis gepeng
 Tampak jernih sebab: sedikit air, mengandung zat antar sel
 Non vaskular / avaskular
 Saraf sensoris banyak

6
Gambar 2. Kornea
b. Sklera
Terdiri dari jaringan ikat padat kolagen, serat – seratnya berjalan ke segala
arah, substansia dasar cukup banyak sedikit fibroblas dan serat elastin .Sebagian
besar non vaskular. Antara sklera dan koroid terdapat suatu lapisan tipis yang
disebut area kribosa. Bagian posterior dari sklera yang berlubang ditembus oleh
nerve optikus.

2. Tunika Vaskulosa8
a. Iris
 Endotel: epitel selapis gepeng
 Lapisan jaringan ikat jarang,fibroblas +sel pigmen
 Lapisan jaringan ikat jarang + pembuluh darah
 Pars iridika retina: 2 lap sel kubis berpigmen.

7
\

Gambar 3. iris

b. Korpus siliaris
 Musculus siliaris: pars meridionalis, pars radiate, pars sirkularis
 Jaringan ikat vaskular
 Pars siliaris retina: 2 lap.sel kubis
 Epitel siliar membentuk humor akuos

Gambar 4. Korpus siliaris

8
c. Koroidea
 Lapisan suprakorioidea/fuska sklera terdiri dari serat kolagen dan elastin
 Lapisan vaskulosa: pembuluh darah menuju korpus siliaris
 Lapisan koriokapilaris: tempat berakhirnya cabang koroidea. Diantara
kapilar ada jala–jala serat kolagen dan serat elastin yang halus, sedikit
fibroblas dan melanosit.
 Lapisan elastika Bruch

Gambar 5. Koroid

3. Tunika Nervosa8
Pars Optika Retina
 Membran limitans dalam: membran basal sel Muller
 Lapisan serat saraf nerve optikus: akson berasal dari sel –sel ganglion
 Lapisan sel – sel ganglioner: mengandung sel ganglion ,neuron ketiga dan
neuroglia .
 Lapisan plexiform dalam: merupakan tempat hubungan neuron kedua dan
ketiga. Sinaps antara sel bipolar, sel amakrin dan sel ganglion
 Lapisan granular / inti dalam: inti – inti dan badan sel dari sel bipolar dan sel
horizontal dan sel amakrin
 Lapisan plexiform luar: akson sel batang dan kerucut bersama dendrit , sel
bipolar dan sel horizontal.disini hubungan antara neuron pertama dan kedua
 Lapisan granular / inti luar: Inti - inti sel batang dan kerucut
 Lapisan limitans luar

9
 Lapisan batang kerucut: suatu organ akhir saraf yang terletak paling luar
dekat epitel pigmen,disini terdapat sel muller berfungsi sebagai penyokong
Lapisan epitel pigmen: sel - sel berpigmen , melekat pada koroid,menyerap
cahaya,mencegah pemantulan

Gambar 6. retina

Mekanisme penglihatan
Mekanisme penglihatan secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut, yaitu cahaya
masuk ke mata melalui kornea lewat pupil yang lebar-sempitnya dapat diatur oleh iris. Setelah
itu cahaya akan dibiaskan oleh lensa dan kemudian bayangan jatuh di retina yang bersifat nyata,
terbalik dan diperkecil. Sel-sel batang dan kerucut kemudian meneruskan sinyal cahaya melalui
saraf optik. Kemudian bayangan diteruskan ke otak, yang kemudian di otak bayangan akan
terlihat tidak terbalik seperti aslinya. Namun selain penjelasan secara singkat tersebut, akan
dibahas pula dua hal yang berkaitan erat dengan mekanisme penglihatan, yaitu akomodasi dan
refraksi. Dimana kemampuan lensa mata untuk memfokuskan objek disebut daya akomodasi.
Selama mata melihat jauh, tidak terjadi akomodasi, makin dekat benda yang dilihat semakin
kuat mata/lensa berakomodasi. Daya akomodasi ini tergantung kepada umur. Usia semakin tua,
daya akomodasi semaking turun. Pembelokkan berkas-berkas cahaya divergen yang mencapai
mata ke arah dalam untuk difokuskan kembali ke sebuah titik peka-cahaya di retina agar
dihasilkan suatu bayangan yang akurat mengenai sumber cahaya disebut sebagai refraksi.6

10
Jaras Saraf Penglihatan
 Nervus Opticus (II)9
N. opticus, atau saraf penglihatan, panjangnya lebih kurang 1, 6 inci (4 cm).
Saraf ini meninggalkan rongga orbita dengan berjalan melalui canalis opticus bersama
dengan a. Opthalmica dan masuk ke dalam rongga otak. Di dalam orbita, saraf ini
dibungkus oleh ketiga lapisan meningen: duramater, arachnoideamater, dan piamater,
yang mengikutinya sampai ke spatium subarachnoideum. Kedua saraf dari kedua sisi
kemudian bergabung membentuk chiasma opticum. Di sini, serabut saraf yang berasal
dari belahan medial (nasal) retina menyilang garis tengah dan masuk ke tractus opticus
sisi kontralateral; sedangkan serabut saraf dari belahan lateral (temporal) retina
berjalan ke posterior di dalam tractus opticus sisi yang sama.

Tractus opticus keluar dari sudut posteolateral chiasma opticus dan berjalan ke
belakang di sekitar sisi lateral mesencephalon untuk menuju corpus geniculum
laterale, tetapi pergi langsung ke nucleus pretectalis dan colliculus posterior. Dari
corpus geniculatum laterale, radiatio optica melengkung ke belakang menuju cortex
visual hemispherium cerebri.

Gambar 7. Letak Nervus Optikus pada Cerebrum

 Nervus Oculomotorius (III)9


N. oculomotorius adalah saraf motoris dan mempersarafi otot-otot ekstrinsik
bola mata berikut ini yang terdapat di dalam orbita: m. levator palpebrae superior, m.
rectus superioris, m. rectus superior, m. rectus medius, m. rectus inferior, dan m.
11
obliquus inferior. Saraf ini juga mempersarafi m. sphihcnter pupillae dan m. ciliaris
bersama dengan serabut parashimpatis. N. Oculomotorius keluar dari aspek anterior
mesencephalon, medial terhadap pedunculus cerebri. Saraf ini berjalan dekat dan di
antara a. Cerebri posterior dan a. Cerebelli superior. Kemudian berjalan ke depan di
dalam dinding lateral sinus cavernosus dan bercabang dua menjadi ramus superior dan
ramus inferior, yang akan menuju orbita melalui fissura orbitalis superior.

 Nervus Trochlearis (IV)9


N. trochlearis adalah saraf motoris dan merupakan saraf otak yang paling
halus. Sarafini mengurus m. obliquus superior di dalam orbita. Saraf ini muncul dari
permukaan posterior mesencephalon, tepat di bawah colliculus inferior. Kemudian
membelok ke depan di sekeliling sisi lateral pedunculus cerebri. Saraf ini berjalan ke
depan di dalam dinding lateral sinus cavernosus, terletak sedikit di bawah n.
Oculomotorius. N. Trochlearis masuk ke orbita melalui fissura orbitalis superior.

 Nervus Abducens (VI)9


N. Abducens adalah saraf motoris kecil dan mepersarafi m. rectus lateralis bola
mata. Saraf ini muncul dari permukaan anterior otak, di antara pinggir bawah pons
dengan medulla oblongata. Mula-mula saraf ini terletak di dalam fossa cranii
posterior. Kemudian ia membelok dengan tajam ke depan, melintasi pinggir superior
pars petrosa ossis temporalis. Setelah masuk sinus cavernosus, saraf ini berjalan ke
depan bersama a. Carotis interna. Masuk ke rongga orbita melalui fissura orbitalis
superior.

12
Gambar 7: Letak Saraf Kranial II-VI pada Cerebrum

Adaptasi Terang Gelap


Baik sel batang maupun kerucut mengandung bahan kimia yang akan terurai apabila
terpajan cahaya dan dalam prosesnya akan merangsang serabut-serabut saraf yang berasal dari
mata. Bahan kimia peka cahaya di dalam sel batang disebut rodopsin, sedangkan pada sel
kerucut disebut pigmen kerucut atau pigmen warna yang memiliki komposisi sedikit berbeda
dari rodopsin 10.
Sensitivitas mata terhadap cahaya bergantung pada jumlah fotopigmen peka cahaya yang
ada pada sel batang dan sel kerucut. Ketika berpindah dari tempat yang terang ke tempat yang
gelap, pada awalnya otak tidak akan melihat apapun, namun perlahan-lahan benda-benda akan
mulai terlihat. Hal ini disebut dengan adaptasi gelap. Dalam keadaan gelap, fotopigmen akan
dibentuk kembali secara bertahap. Sehingga sensitivitas mata perlahan akan meningkat 11.
Sebaliknya, ketika berpindah dari tempat gelap ke tempat terang, awalnya mata akan
sangat peka sehingga keseluruhan bayangan akan tampak keputihan. Pajanan sinar matahari
menyababkan terjadinya penguraian fotopigmen sehingga sensitivitas menurun. Hal ini disebut
sebagai adaptasi terang 11.
Proses adaptasi yang disebabkan oleh perubahan konsentrasi fotokimiawi warna, mata
memiliki dua mekanisme lain untuk adaptasi gelap dan terang. Yang pertama adalah perubahan
pada ukuran pupil. Ini dapat menyebabkan timbulnya tingkat adaptasi sekitar 30 kali lipat dalam

13
waktu sepersekian detik karena adanya perubahan pada jumlah cahaya yang masuk melalui
pupil tersebut.
Mekanisme yang lain adalah adaptasi saraf yang melibatkan sel saraf yang bekerja pada
rangkaian tahap penglihatan di dalam retina sendiri dan otak. Jadi apabila mula-mula intensitas
cahaya meningkat, sinyal yang dijalarkan oleh sel bipolar, sel horizontal, sel amakrin, dan sel
ganglion sangat besar. Namun sebagian sinyal ini akan berkurang sangat cepat pada berbagai
tingkat penjalaran dalam lingkaran saraf. Walaupun besarnya adaptasi ini hanya beberapa kali
lipat dibanding adaptasi fotokimiawi yang sebesar ribuan kali lipat, namun hanya
membutuhkan waktu sepersekian detik sedangkan adaptasi fotokimiawi yang membutuhkan
waktu bermenit-menit hingga berjam-jam 10.

Kesimpulan
Adanya sel batang dan sel kerucut membuat mata manusia dapat beradaptasi, baik dalam
ruangan gelap ataupun di dalam ruangan yang terang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk permula. Jakarta: Penerbit EGC; 2004; 184-5.
2. Suratun, Heryati, Manurung S, Raenah E. Sistem keseimbangan. Jakarta: Penerbit
EGC; 2006.
3. Cambridge communication limited. Anatomi fisiologi: sistem lokomotor dan
penginderaan. 2nd ed. Jakarta: Penerbit EGC; 2005.
4. Young B, Heath JW. Special sense organs. London: Churchill Livingstone; 2005; 380-
2.
5. Utami, HP. Mengenal cahaya dan optik. Jakarta: Penerbit Ganeca Exact; 2003; 22-5.
14
6. James B, Chew C, Bron A. Oftalmologi. 9th ed. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2006.
7. Wonodirekso S, Tambajong J. Organ-organ indera khusus dalam buku ajar anatomi.
Jakarta: Penerbit EGC; 2007; 574-7.
8. Singh I. Teks dan atlas histologi manusia. Jakarta: Binarupa Aksara; 2006; 115-20.
9. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Ed 6. Jakarta: EGC;
2006.h.778-80.
10. Guyton, Arthur C. Buku ajar fisiologi kedokteran, Jakarta: EGC; 2007
11. Sherwood, Lauralee. Fisiologi manusia, Jakarta: EGC; 2011

15