Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH METODOLOGI PENELITIAN

“Jenis-Jenis Penelitian Berdasarkan Tujuan, Metode,


[Type the document
Desain dan Teknik Analisis”

title]
[Type the document subtitle]
[Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short
summary of the contents of the document. Type the abstract of the document
here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document.]

OLEH:
ATIRAH RAHMAN
NIM :171050801021
JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA PASCASARJANA UNM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua elemen yang bisa merubah
peradaban dan kebiasaan lama yang bersiafat stagnasi (dogmatis) menjadi kebiasaan yang
bisa merubah atau membentuk kebudayaan atau tradisi baru yang lebih berguna bagi
masyarakat dunia. Banyak penemuan-penemuan ataupun inovasi yang telah ditemukan
mulai dari zaman pra sejarah (megalitikum, mesolitikum, dan nelitikum) hingga zaman
sejarah sekarang ini, dari mulai peradaban manusia yang sangat rendah, revolusi industri
di inggris dan prancis hingga zaman modern merupakan peran dari perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh seluruh lapisan
masyarakat.
Penelitian merupakan komponen atau bagian yang sangat penting bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Karena dengan penelitian akan dihasilkan
dan ditemukan temuan-temuan (inovasi) yang bersifat ilmiah dan dapat teruji
kebenarannya. Sehingga dari penelitian, para ilmuan bisa menjawab dan memberikan
solusi yang tepat dalam memberikan jawaban serta solusi tepat dari berbagai macam
masalah yang dihadapi umat manusia di muka bumi ini.
Begitu besarnya manfaat penelitian, maka dalam melakukan penelitian kita tdk
boleh sembarangan. Penelitian adalah kegiatan yang sistematis dan memiliki aturan-
aturan yang harus dipenuhi agar diperoleh hasil penilitian yang akurat. Sebelum
melakukan penelitian, peneliti harus tahu jenis penelitian yang akan dilakukan untuk
memecahkan masalah yang akan diteliti. Jenis penelitian sangat beragam macamnya,
disesuaikan dengan cara pandang dan dasar untuk memberikan klasifikasi akan jenis
penelitian tersebut. Dalam makalah ini penulis akan mengkaji jenis-jenis penelitian
didasarkan tujuan, metode, serta desain dan teknik analisisnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis-jenis penelitian berdasarkan tujuannya?
2. Apa saja jenis-jenis penelitian berdasarkan metodenya?
3. Apa saja jenis penelitian berdasarkan desain dan teknik analisisnya?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis-jenis penelitian berdasarkan tujuannya.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis penelitian berdasarkan metodenya.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis penelitian berdasarkan desain dan teknik analisisnya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Jenis-Jenis Penelitian berdasarkan Tujuan

Berdasarkan tujuan, penilitian dapat dibagi menjadi penelitian dasar (basic research),
penelitian evaluasi, penelitian terapan (applied research), dan penelitian pengembangan dan
penelitian tindakan.

1. Penelitian Dasar (Basic Research)


Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian murni (pure research) atau
penelitian pokok (fundamental research) adalah penelitian yang diperuntukkan bagi
pengembangan suatu ilmu pengetahuan serta diarahkan pada pengembangan teori-teori yang
ada atau menemukan teori baru. Penelitian ini lebih diarahkan untuk mengetahui,
menjelaskan, dan memprediksikan fenomena–fenomena alam dan sosial. Tujuan penelitian
dasar adalah untuk menambah pengetahuan dengan prinsip-prinsip dasar, hukum-hukum
ilmiah, serta untuk meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah.
Penelitian dasar memang tidak secara langsung bertujuan memecahkan suatu masalah.
Oleh karena itu, penelitian dasar biasanya dilakukan untuk menguji kebenaran teori tertentu
atau mengetahui konsep tertentu secara lebih mendalam. Penelitian dasar yang benar–benar
murni semata–mata bertujuan untuk pengembangan dan perbaikan teori yang sudah ada,
bukan untuk penerapan teori. Penelitian lebih banyak dilakukan didalam laboratorium dengan
pengendalian yang cukup untuk penelitian ilmiah. Penelitian dasar lebih banyak
memperhatikan tentang prinsip umum dari perilaku. Contoh penelitian dasar yang terkait erat
dengan bidang pendidikan adalah penelitian dalam bidang psikologi, misalnya penelitian
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku manusia.

2. Penelitian Terapan (Applied Research)

Penelitian terapan atau applied research dilakukan berkenaan dengan kenyataan-


kenyataan praktis, penerapan, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh
penelitian dasar dalam kehidupan nyata. Penelitian terapan berfungsi untuk mencari solusi

3
tentang masalah masalah tertentu. Tujuan utamanya adalah pemecahan masalah sehingga
hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia baik secara individu atau
kelompok maupun untuk keperluan industri atau politik dan bukan untuk wawasan keilmuan
semata.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara penelitian dasar
dan penelitian terapan. Penelitian dasar menyediakan teori yang menghasilkan konsep agar
dapat digunakan untuk penelitian terapan yakni memecahkan permasalahan kehidupan.
Sebaliknya, penelitian terapan juga mempunyai manfaat untuk penelitian dasar yakni
menyediakan data utuk mendukung, mengarahkan, dan merevisi teori yang dikembangkan
sebelumnya di dalam penelitian dasar.

3. Penelitian Evaluasi
Penelitian evaluasi adalah suatu prosedur ilmiah yang sistematis yang dilakukan untuk
mengukur hasil program atau proyek (efektivitas suatu program) apakah sesuai dengan tujuan
yang direncanakan atau tidak. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan,
menganalisis dan mengkaji pelaksaaan program yang dilakukan secara objektif. Kemudian
merumuskan dan menentukan kebijakan dengan terlebih dahulu mempertimbangkan nilai-
nilai positif dan keuntungan suatu program.
Michael Scriven (dalam Arikunto, 2007: 222-223) mengemukakan bahwa secara garis
besar fungsi penelitian evaluasi dapat dibedakan menjadi dua yakni:
a. Evaluasi formatif difungsikan sebagai pengumpulan data pada waktu pendidikan masih
berlangsung. Data hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk “membentuk” (to form) dan
memodifikasi program kegiatan. Jika pada pertengahan kegiatan sudah diketahui hal-hal
apa yang negatif dan para pengambil keputusan sudah dapat menentukan sikap tentang
kegiatan yang sedang berlangsung maka terjadinya pemborosan yang mungkin akan
terjadi, dapat dicegah.
b. Evaluasi sumatif dilangsungkan jika program kegiatan sudah betul-betul selesai
dilaksanakan. Evaluasi sumatif dilaksanakan untuk menentukan sejauh mana sesuatu
program mempunyai nilai kemanfaatan, terutama jika dibandingkan dengan pelaksanaan
program-program yang lain. Penilaian sumatif bermanfaat datanya bagi para pendidik yang
akan mengadopsi program yang dievaluasi berkenaan dengan hasil, program atau prosedur.

4
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penelitian evaluasi mempunyai dua fungsi yaitu 1)
Fungsi formatif, untuk pengumpulan data pada kegiatan yang sedang berjalan dan
digunakan untuk perbaikan, pengembangan, dan modifikasi program. 2) Fungsi sumatif
yang dilaksanakan setelah program selesasi dilaksanakan. Digunakan untuk
pertanggungjawaban program dan penentuan sejauh mana kemanfaatan program.
Penelitian evaluasi ini bertujuan untuk mengevaluasi komponen-komponen program dan
program secara menyeluruh.

4. Penelitian Pengembangan
Menurut Gay (dalam Sugiyono, 2015:) penelitian pengembangan adalah suatu usaha
untuk mengembangkan suatu produk yang efektif untuk digunakan dan bukan untuk menguji
teori.
Lebih jauh lagi Sujadi (2003:164) mengemukakan bahwa penelitian pengembangan
adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru, atau
menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Produk tersebut
tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu
pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software),
seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau
laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan,
evaluasi, manajemen, dll.
Sementara Seek dan Richey (dalam Setyosari, 2010: 195) menyatakan bentuk paling
sederhana penelitian pengembangan ini dapat berupa:
a. kajian tentang proses dan dampak rancangan pengembangan dan upaya-upaya
pengembangan tertentu dan khusus;
b. suatu situasi dimana seseorang melakukan atau melaksanakan rancangan pengembangan
pembelajaran atau kegiatan-kegiatan evaluasi dan mengkaji proses pada saat yang sama;
c. kajian tentang rancangan, pengembangan dan proses evaluasi pembelajaran baik yang
melibatkan proses evaluasi pembelajaran maupun yang melibabtkan komponen proses
secara menyeluruh atau tertentu saja.
Jadi, berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian
pengembangan adalah suatu proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi

5
produk-produk yang digunakan dalam pendidikan. Produk yang dihasilkan antara lain: bahan
pelatihan untuk guru, materi belajar, media, soal, dan sistem pengelolaan dalam pembelajaran

5. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan merupakan salah satu bentuk rancangan penelitian yang mana dlam
penelitian ini peneliti mendeskripsikan, menginterpretasi dan menjelaskan suatu situasi sosial
pada waktu yang bersamaan dengan melakukan perubahan atau intervensi dengan tujuan
perbaikan atau partisipasi.
Kurt Lewin (dalam Sulaksana, 2004) mengatakan bahwa action research dalam
pandangan tradisional adalah suatu kerangka penelitian pemecahan masalah, dimana terjadi
kolaborasi antara peneliti dengan client dalam mencapai tujuan sedangkan pendapat Davison,
Martinsons & Kock (2004), menyebutkan penelitian tindakan, sebagai sebuah metode
penelitian, didirikan atas asumsi bahwa teori dan praktik dapat secara tertutup diintegrasikan
dengan pembelajaran dari hasil intervensi yang direncanakan setelah diagnosis yang rinci
terhadap konteks masalahnya.
Lebih jauh lagi Gunawan (2007), mengemukakan bahwa action research adalah
kegiatan dan atau tindakan perbaikan sesuatu yang perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya
digarap secara sistematik dan sistematik sehingga validitas dan reliabilitasnya mencapai
tingkatan riset. Action research juga merupakan proses yang mencakup siklus aksi, yang
mendasarkan pada refleksi; umpan balik (feedback); bukti (evidence); dan evaluasi atas aksi
sebelumnya dan situasi sekarang. Penelitian tindakan ditujukan untuk memberikan andil pada
pemecahan masalah praktis dalam situasi problematik yang mendesak dan pada pencapaian
tujuan ilmu sosial melalui kolaborasi patungan dalam rangka kerja etis yang saling berterima.
Proses penelitian bersifat dari waktu ke waktu, antara finding pada saat penelitian, dan action
learning. Dengan demikian action research menghubungkan antara teori dengan praktek.
Dari penjelasan di atas kita dapat kita simpulkan bahwa penelitian tindakan berurusan
langsung dengan praktik atau tindakan (action) di lapangan dalam situasi alami. Penelitiannya
adalah pelaku praktik itu sendiri dan pengguna langsung hasil penelitiannya dengan lingkup
ajang penelitian sangat terbatas. Yang menonjol adalah penelitian tindakan ditujukan untuk
melakukan perubahan pada semua diri pesertanya dan perubahan situasi tempat penelitian
dilakukan guna mencapai perbaikan praktik secara inkremental dan berkelanjutan.

6
B. Jenis-Jenis Penelitian berdasarkan Metode
Berdasarkan metode, penilitian dapat dibagi menjadi penelitian survei, penelitian sejarah,
penelitian eksperimen, dan penelitian kualitatif.

1. Penelitian Survei
Penelitian survei adalah salah satu penelitian yang pada umumnya digunakan untuk
pengumpulan data yang luas dan banyak. Penelitian ini dilakukan pada populasi besar
maupun kecil, tetapi datanya dari sampel yang diambil dari populasi tersebut. Misalnya
penelitian tentang kecenderungan masyarakat memilih pemimpin nasional.
Tujuan penelitian survei adalah untuk mengetahui gambaran umum karakteristik dari
populasi. Penelitian survei digunakan untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari
sejumlah besar orang terhadap topik atau isu tertentu.
Ada tiga karakteristik utama dari penelitian survei yaitu:
a. informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa
aspek atau karakteristik tertentu,
b. informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan baik tertulis maupun lisan dari suatu
populasi,
c. informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi.
Penelitian survei dapat dilakukan secara pribadi ataupun kelompok. Penelitian survei
bukan hanya dimaksudkan untuk mengetahui status gejala, tetapi juga bermaksud menentukan
kesamaan status dengan cara membandingkannya dengan standar yang sudah dipilih atau
ditentukan. Disamping itu, juga untuk membuktikan atau membenarkan suatu hipotesis.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penelitian survei adalah adalah jenis penelitian yang
mengumpulkan informasi tentang karakteristik, tindakan, pendapat dari sekelompok
responden yang representative yang dianggap populasi. Penelitian ini memiliki karakteristik
yaitu mengambil sampel dari suatu populasi yang kemudian dijadikan responden dan
menggunakan kuesioner atau interview sebagai alat pengumpulan data pokok untuk menguji
hipotesis.

2. Penelitian Sejarah
E.H. Carr menyatakan bahwa penelitian sejarah adalah proses sistematis dalam mencari
data agar dapat menjawab pertanyaan tentang fenomena dari masa lalu untuk mendapatkan

7
pemahaman yang lebih baik dari suatu institusi, praktik, tren, keyakinan, dan isu-isu dalam
pendidikan. Sementara menurut Donald Ary penelitian sejarah adalah penelitian yang
dilakukan untuk menetapkan fakta dan mencapai simpulan mengenai hal-hal yang telah lalu,
yang dilakukan secara sistematis dan objektif oleh ahli sejarah dalam mencari, mengevaluasi
dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari masalah baru tersebut. Pendapat yang hampis
sama juga dikemukakan oleh Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen yang meyatakan bahwa
penelitian sejarah adalah penelitian yang memfokuskan kepada masa lalu.
Tujuan penelitian sejarah adalah untuk memahami masa lalu, dan mencoba memahami
masa kini atas dasar persitiwa atau perkembangan di masa lampau. Penelitian sejarah juga
memperkaya pengetahuan peneliti tentang bagaimana dan mengapa suatu kejadian masa lalu
dapat terjadi serta proses bagaimana masa lalu itu menjadi masa kini, pada akhirnya,
diharapkan meningkatnya pemahaman tentang kejadian masa kini serta memperolehnya dasar
yang lebih rasional untuk melakukan pilihan-pilihan di masa kini.
Adapun Langkah-langkah penelitian sejarah terbagi atas 5 tahapan, yaitu:
a. Menetapkan tema atau topik penelitian Sejarah
Menentukan topik atau bisa disebut juga dengan memilih subyek yang akan diteliti.
Langkah ini sangat penting, karena sebagai pembatas dalam penelitian (fokus penelitian).
Selain itu, juga bertujuan agar dalam pencarian informasi sejarah yang akan diteliti
menjadi terarah dan tepat sasaran.
b. Mencari informasi atau pengumpulan data (heuristik)
Pengumpulan data juga dapat desebut dengan heuristik. Heuristik merupakan langkah
dalam penelitian untuk berburu, mencari, atau mengumpulkan data dari berbagai sumber
yang terkait dengan topik yang diteliti. Pengumpulan data atau informasi yang berkaitan
dengan topik yang akan diteliti didapat dari berbagai sumber. Sumber data atau sumber
informasi dapat berupa dokumen, mengunjungi situs bersejarah, atau wawancara terhadap
para saksi sejarah.
c. Kritik atau verifikasi terhadap informasi
Verifikasi atau kritik data merupakan proses dalam menilai sumber dan
data/informasi sejarah yang telah dikumpulkan. Verifikasi adalah penilaian terhadap
sumber-sumber sejarah. Verifikasi dalam sejarah memiliki arti pemeriksaan terhadap
kebenaran laporan tentang suatu peristiwa sejarah. Penilaian terhadap sumber-sumber

8
sejarah menyangkut aspek ekstern dan intern. Aspek ekstern mempersoalkan apakah
sumber itu yang dikehedaki dalam penelitian?, apakah sumber itu asli atau turunan?, dan
apakah sumber itu masih utuh atau dirubah?. Aspek intern mempersoalkan apakah isi yang
terdapat dalam sumber itu dapat memberikan informasi yang diperlukan.
d. Penafsiran atau interpretasi
Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan merangkai fakta tersebut hingga
menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Dari berbagi fakta yang ada
kemudian perlu disusun agar mempunyai bentuk dan struktur. Fakta yang ada ditafsirkan
sehingga ditemukan struktur logisnya berdasarkan fakta yang ada, untuk menghindari suatu
penafsiran yang semena-mena akibat pemikiran yang sempit. Bagi sejarawan akademis,
interpretasi yang bersifat deskriptif saja belum cukup. Dalam perkembangan terakhir,
sejarawan masih dituntut untuk mencari landasan penafsiran yang digunkan.
e. Penulisan atau historiografy.
Historiografy adalah proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang
telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan penafsiran
terhadap data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu bukan hanya sekedar
untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibaca orang lain. Oleh karena itu perlu
dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisannya. Sejarawan harus menyadari dan
berusaha agar orang lain dapat mengerti pokok-pokok pemikiran yang diajukan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian sejarah adalah suatu usaha atau
proses dalam mencari kebenaran berdasarkan data yang valid dengan menggunakan cara yang
sistematis dan memfokuskan pada kejadian-kejadian yang telah lampau dengan tujuan untuk
memahami masa lalu, dan mencoba memahami masa kini atas dasar persitiwa atau
perkembangan di masa lampau. Penelitian ini dilakukan dengan lima tahapan yaitu
menetapkan tema, mencarai data atau Informasi, verifikasi atau kritik terhadap informasi,
penafsiran, penulisan atau historiografy.

3. Penelitian Eksperimen
Arboleda mendefinisikan eksperimen sebagai suatu penelitian yang dengan sengaja
peneliti melakukan manipulasi terhadap satu atau lebih variabel dengan suatu cara tertentu
sehingga berpengaruh pada satu atau lebih variabel lain yang di ukur. Selain itu, Gay

9
menyatakan bahwa metode penelitian eksperimental merupakan satu-satunya metode
penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis menyangkut hubungan kausal (sebab
akibat). Dalam penelitian eksperimen dilakukan manipulasi paling sedikit satu variabel,
mengontrol varibel lain yang relevan dan mengobservasi efek atau pengaruhnya terhadap satu
atau lebih variabel terikat.
Kerlinger menambahkan definisi eksperimen sebagai suatu penelitian ilmiah dimana
peneliti memanipulasi dan mengontrol satu atau lebih variabel bebas dan melakukan
pengamatan terhadap variabel-variabel terikat untuk menemukan variasi yang muncul
bersamaan dengan manipulasi terhadap variabel bebas tersebut. Lebih lanjut dijelaskan,
variabel yang dimanipulasi disebut variabel bebas dan variabel yang akan dilihat pengaruhnya
disebut variabel terikat.
Sementara itu, tujuan penelitian eksperimen diungkapkan oleh Isaac dan Michael yaitu
untuk meneliti kemungkinan sebab akibat dengan mengenakan satu atau lebih kondisi
perlakuan pada satu atau lebih kelompok eksperimen dan membandingkan hasilnya dengan
satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan. Dalam penelitian eksperimen,
dibedakan pengertian antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok
eksperimen adalah kelompok yang diberi perlakuan berupa variabel bebas, sedangkan
kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak diberi perlakuan apapun atau diberi perlakuan
natural (Azwar, 2007: 110).
Berdasarkan pendapat beberapa ahli yang dinyatakan sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa penelitian eksperimen adalah penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi
hubungan sebab akibat dari satu atau lebih variabel terikat dengan melakukan manipulasi
variabel bebas pada suatu keadaan yang terkendali (variabel kontrol).
Adapun karakteristik penelitian eksperimen, yaitu:
a. Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib ketat (rigorous
management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random
(acak).
b. Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan
kelompok eksperimen.
c. Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi
variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel

10
pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan
penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk
kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta
penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
d. Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian
eksperimen, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada saat
studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
e. Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan
penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi yang
sama.
f. Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara
sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
Adapun proses penyusunan penelitian eksperimen, yaitu:
a. Melakukan kajian secara induktif yang berkaitan dengan permasalahan yang hendak
dipecahkan
b. Mengidentifikasikan permasalahan
c. Melakukan studi litelatur yang relevan, mempormulasikan hipotesis penelitian,
menentukan definisi operasional dan variabel.
d. Membuat rencana penelitian mencakup: identifikasi variabel yang tidak diperlukan,
menentukan cara untuk mengontrol variabel, memilih desain eksperimen yang tepat,
menentukan populasi dan memilih sampel penelitian, membagi subjek ke dalam kelompok
kontrol dan kelompok eksperimen, membuat instrumen yang sesuai, mengidentifikasi
prosedur pengumpulan data dan menentukan hipotesis.

e. Melakukan kegiatan eksperimen (memberi perlakukan pada kelompok eksperimen)

f. Mengumpulkan data hasil eksperimen


g. Mengelompokan dan mendeskripsikan data setiap variabel
h. Melakukan analisis data dengan teknik statistika yang sesuai
i. Membuat laporan penelitian eksperimen.

11
4. Penelitian Kualitatif
Penelitian Kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran
orang secara individual maupun kelompok. Hal ini didasari oleh istilah kualitatif
menunjukkan penekanan terhadap proses-proses dan makna-makna yang tidak diuji atau
diukur dari segi kuantitas, intensitas atau frekuensi. Dunia sekeliling kita merupakan hasil
tafsir dari masing-masing orang. Tidak heran tafsir terhadap dunia selalu majemuk.
Contohnya : Kehadiran pengemis bisa ditafsirkan sebagai kehadiran orang yang malas atau
sebaliknya pihak lain menafsirkan adanya eksploitasi dari kaum kaya.
Penelitian kualitatif bersifat induktif, yang berarti bahwa peneliti membiarkan
permasalahan-permasalahan muncul dari data atau dibiarkan terbuka untuk interprestasi. Data
dihimpun dengan pengamatan yang saksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang
mendetail disertai catatan-catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis
dokumen dan catatan-catatan.
Penelitian kualitatif memandang kenyataan sebagai konstruksi sosial, individu atau
kelompok menarik atau memberi makna kepada suatu kenyataan dengan mengkonstruksinya.
Orang membentuk konstruksi untuk mengerti kenyataan-kenyataan dan dia memahami
konstruksi sebagai suatu sistem pandangan, persepsi atau kepercayaan. Persepsi seseorang
adalah apa yang ia yakini sebagai “nyata” baginya, dan terhadap hak itulah tindakan,
pemikiran dan perasaannya diarahkan.
Terdapat dua Tujuan Penelitian Kualitatif, yaitu :
a. Tujuan penelitian kualitatif untuk menggambarkan dan mengungkap (to describe and
explore).
b. Tujuan penelitian kualitatif untuk menggambarkan dan menjelaskan (to describe and
explain).
Kebanyakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan eksplanatori. Beberapa
penelitian memberikan deskripsi mengenai situasi yang kompleks dan arah bagi penelitian
selanjutnya. Penelitian lain memberikan eksplanasi atau kejelasan mengenai hubungan antara
peristiwa dengan makna terutama menurut persepsi partisipasion.
Lancoln dan Guba melihat penelitian kualitatif sebagai penelitian yang bersifat
naturalistis. Penelitian kualitataif bertolak dari paradigma naturalis, yang mengatakan bahwa

12
kenyataan itu berdimensi jamak, peneliti dan yang diteliti bersifat interaktif, tidak bisa
dipisahkan, satu kesatuan berbentuk secara simultan dan bertimbal balik, tidak mungkin
memisahkan sebab dengan akibat dan penelitian kualitatif ini melibatkan nilai-nilai. Para
peneliti mencoba memahami bagaimana individu mempersepsi makna dari dunia sekitarnya.
Melalui pengalaman kita mengkonstruksi pandangan kita mengenai dunia sekitar dan hal ini
menentukan bagaimana kita berbuat.
Adapun ciri-ciri pokok penelitian kualitatif, yaitu:
a. Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data
Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian utama
penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan mempelajari situasi.
Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat kejadian. Peneliti mengamati,
mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat hubungannya dengan peristiwa yang terjadi
saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang
diamati pada dasarnya tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku
berlangsung.
b. Memiliki sifat deskriptif analitik
Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan,
analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan
dalam bentuk dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan
memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar
data aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa
pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif.
c. Menekankan pada proses bukan hasil
Data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan
bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang dilakukan,
mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan pemaparan suatu
proses mengenai fenomena tidak dapar dilakukan dengan ukuran frekuensinya saja.
Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan, prosedur, alasan-alasan, dan
interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di mana dan pada saat mana proses itu
berlangsung.

13
d. Bersifat induktif
Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni
fakta empiris. Kesimpulan atau generalisasi yang lebih luas tidak dilakukan, sebab proses
yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks
lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep,
prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang
telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan.
e. Mengutamakan makna
Makna yang diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa.
Misalnya penelitian tentang peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti
memusatkan perhatian pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya. Peneliti
mencari informasi dari kepala sekolah dan pandangannya tentang keberhasilan dan
kegagalan membina guru. Apa yang dialami dalam membina guru, mengapa guru gagal
dibina, dan bagaimana hal itu terjadi. Sebagai bahan pembanding peneliti mencari
informasi dari guru agar dapat diperoleh titik-titik temu dan pandangan mengenai mutu
pembinaan yang dilakukan kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan (kepala
sekolah dan guru) diungkap oleh peneliti agar dapat menginterpretasikan hasil penelitian
secara sahih dan tepat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian
tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna
(perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan
sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan
teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai
bahan pembahasan hasil penelitian.
Penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori yang dipersiapkan sebelumnya, tapi dimulai
dari lapangan berdasarkan lingkungan alami. Data dan informasi lapangan ditarik maknanya
dan konsepnya, melalui pemaparan deskriptif analitik, tanpa harus menggunakan angka, sebab
lebih mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dalam situasi yang alami. Generalisasi
tak perlu dilakukan sebab deskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks dan situasi tertentu.
Realitas yang kompleks dan selalu berubah menuntut peneliti cukup lama berada di lapangan.

14
C. Jenis-Jenis Penelitian berdasarkan Desain dan Teknik Analisis

Berdasarkan desain dan teknik analisisnya, penilitian dapat dibagi menjadi penelitian
korelasional dan penelitian kausal komparatif.

1. Penelitian Korelasional
Gay dalam Sukardi (2008:166) menyatakan penelitian korelasi adalah suatu penelitian
dimana peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari adanya
suatu hubungan dan tingkat hubungan variabel yang dinyatakan dalam koefisien korelasi.
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Faenkel dan Wallen, yang menyatakan bahwa
penelitian korelasional adalah suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat
hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variabel
tersebut sehingga tidak terdapat manipulasi variabel.
Mc Millan dan Schumacher juga mengemukakan bahwa adanya hubungan dan tingkat
variabel ini penting karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan
dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. Jenis penelitian ini biasanya
melibatkan ukuran statistik/tingkat hubungan yang disebut dengan korelasi.
Penelitian korelasi mempunyai 3 karakteristik penting bagi para peneliti yang akan
menggunakannya. Tiga karakteristik tersebut, diantaranya yaitu:
a. penelitian korelasi tepat bila variabel kompleks dan peneliti tidak memungkinkan untuk
melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti pada penelitian eksperimen,
b. memungkinkan variabel dilakukan pengukuran secara intensif dalam setting atau
lingkungan nyata, dan
c. memungkinkan peneliti memperoleh derajat asosiasi yang signifikan.
(Sukardi, 2008:166)
Penelitian korelasional bertujuan untuk menentukan ada apa tidaknya hubungan antara
dua variabel atau lebih, kearah manakah hubungan tersebut positif atau negatif, dan seberapa
jauh hubungan yang ada antara dua variabel atau lebih yang dapat diukur. Misalkan saja sperti
hubungan antara kecerdasan dengan kreativitas, tinggi badan dengan umur, semangat dengan
pencapaian, nilai bahasa Inggris dengan nilai statistika, dan sebagainya. Tujuan dari
penyelidikan korelasional adalah untuk mengungkapkan atau menetapkan suatu hubungan
atau menggunakan hubungan-hubungan dalam membuat prediksi atau prakiraan.

15
Sementara Dalam bidang pendidikan, studi korelasi umumnya digunakan guna
melakukan penelitian terhadap sejumlah variabel yang diperkirakan memiliki peranan yang
signifikan dalam mencapai proses pembelajaran. Sebagai contoh, misalnya mengenai
pencapaian hasil belajar dengan motivasi internal, intensitas kehadiran mengikuti kuliah,
belajar strategi, dan lain sebagainya.
Adapun prosedur dasar penelitian korelasional yaitu:
a. Pemilihan Masalah
Studi korelasional bisa dirancang untuk menentukan variabel manakah dari suatu
daftar variabel yang mungkin berhubungan, maupun untuk menguji hipotesis mengenai
suatu hubungan yang diharapkan. Variabel yang dilibatkan dalam penelitian harus
dilakukan seleksi berdasarkan penalaran induktif dan penalaran deduktif. Dengan kata lain,
hubungan yang akan diteliti dan diselidiki haruslah didukung oleh teori atau diturunkan
berdasarkan dari pengalaman.
b. Sampel dan Pemilihan Instrumen
Sampel untuk studi korelasional dapat dipilih dengan memakai metode sampling
yang bisa diterima, dan 30 subjek dirasa sebagai ukuran sampel minimal yang bisa
diterima. Dalam suatu penilitian, merupakan hal penting untuk memilih dan
mengembangkan pengukuran yang reliabel dan valid terhadap suatu variabel yang hendak
diteliti. Bila variabel tidak memadai dikumpulkan, maka koefisien korelasi yang diperoleh
akan mewakili estimasi tingkat korelasi yang kurang bahkan tidak akurat. Kemudian bila
pengukuran yang dilakukan tidak secara nyata benar-benar mengukur variabel yang
diinginkan, maka koefisien yang dihasilkan tidak akan mengindikasikan hubungan yang
diinginkan.
c. Desain dan Prosedur
Desain korelasional dasar sangatlah sederhana; 2 atau lebih skor yang didapatkan
dari setiap jumlah sampel yang dipilih, 1 skor untuk setiap variabel yang diteliti, dan skor
berpasangan kemudian dikorelasikan. Koefisien korelasi yang diperoleh mengindikasikan
tingkatan atau derajat hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian yang berbeda
menyelidiki sejumlah variabel, dan beberapa penggunaan prosedur statistik yang
kompleks, namun desain dasar tetaplah sama dalam semua penelitian korelasional.
d. Analisis Data dan Interpretasi

16
Jika 2 variabel dikorelasikan maka hasilnya yaitu koefisien korelasi. Suatu koefisien
korelasi dalam bentuk angka desimal, antara 0,00 dan + 1,00, atau 0,00 dan – 1,00, yang
mengindikasikan tingkat atau derajat hubungan antara 2 variabel. Bila koefisien mendekati
+ 1,00; maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang positif. Hal ini dapat
diartikan bahwa seseorang yang mempunyai skor yang tinggi pada suatu variabel tertentu
akan mempunyai skor yang tinggi pula pada variabel yang lain. Dapat juga diartikan suatu
peningkatan pada suatu variabel berhubungan atau diasosiasikan dengan peningkatan juga
pada variabel lain.
Apabila koefisien korelasi mendekati 0,00 kedua variabel tersebut tidak mempunyai
hubungan. Hal ini dapat diartikan bahwa skor seseorang pada suatu variabel tertentu tidak
mengindikasikan skor orang tersebut pada variabel yang lain. Bila koefisien tersebut
mendekati -1,00, maka diartikan kedua variabel memiliki hubungan yang berkebalikan
atau negatif. Hal ini diartikan bahwa seseorang dengan skor tinggi pada suatu variabel
tertentu akan mempunyai skor yang rendah pada variabel yang lain, atau peningkatan pada
suatu variabel akan diasosiasikan dengan penurunan pada variabel lain, dan begitu juga
sebaliknya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian korelasional adalah


suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau
lebih dimana peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari
adanya suatu hubungan dan tingkat hubungan variabel yang dinyatakan dalam koefisien
korelasi.

2. Penelitian Kausal Komparatif


Penelitian kausal komparatif adalah penelitian yang dilakukan untuk membandingkan
suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda dan
menemukan hubungan sebab-akibatnya. Menurut Kerlinger sebagaimana dikutip Emzir,
menyatakan bahwa penelitian kausal komparatif (causal comparative research) adalah
penyelidikan empiris yang sistematis di mana peneliti tidak mengendalikan variabel
bebassecara langsung karena keberadaan dari variabel tersebut telah terjadi atau karena
variabeltersebut pada dasarnya tidak dapat dimanipulasi.

17
Lebih lanjut Gay yang juga dikutif Emzir, mengemukakan bahwa studi kausal
komparatif adalah penelitian yang berusaha menentukan penyebab atau alasan, untuk
keberadaan perbedaan dalam perilaku atau status dalam kelompok individu. Dengan kata lain,
penelitiankausal komparatif adalah penelitian yang diarahkan untuk menyelidiki hubungan
sebab-akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari faktor yang
menjadi penyebabmelalui data yang dikumpulkan.
Tujuan penelitian kausal-komperatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan
sebab akibat dengan cara : berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari
kembali faktor yang mungkin terjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan degan
metode eksperimental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dalam kondisi yang
dikontrol. Adapun ciri-ciri penelitian kausal komparatif yaitu bersifat ex post facto, artinya
data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti
mengambil satu atau lebih akibat (sebagai “dependent variable”) dan menguji data itu dengan
menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan
maknanya.
Penelitian kausal komperatif, sebagaimana penelitian lainnya dilakukan dalam lima
tahap:
a. Penentuan masalah penelitian
Dalam perumusan masalah penelitian atau pertanyaan penelitian, kita berspekulasi tentang
penyebab fenomena berdasarkan penelitian sebelumnya, teori, atau pengamatan.
b. Penentuan kelompok yang memiliki karakteristik yang ingin di teliti
Misalnya siswa yang sudah dapat menggunakan computer sebelum masuk SD, karena di
rumahnya ada computer dapat dilihat dengan melihat kelompok homogen yang paling kecil
yang memilki variabel kritis tersebut.
c. Pemilihan kelompok pembanding
Dengan mempertimbangkan karakteristik atau pengalaman yang membedakan kelompok
harus jelas dan didefinisikan secara operasional (masing–masing kelompok mewakili
populasi yang berbeda).
d. Pengumpulan data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunaka instrument penelitian yang
memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas.

18
e. Analisis data
Analis data dimulai dengan analisis statistik deskriptif menghitung rata-rata dan simpangan
baku. Selanjutnya, dilakukan analisis yang lebih mendalam dengan analisis inferensial.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian kausal komparatif


adalah penelitian yang diarahkan untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat berdasarkan
pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari faktor yangmenjadi penyebab melalui
data yang dikumpulkan. Dalam penelitian ini pendekatan dasarnya adalah memulai dengan
adanya perbedaan dua kelompok dan kemudian mencari faktor yangmungkin menjadi
penyebab atau akibat dari perbedaan tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk
menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat berdasarkan atas pengamatan terhadap
akibat yang ada, dan mencari kembali fakta yangmungkin menjadi penyebab melalui data
tertentu.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian terdapat

beberapa jenis penelitian yang dikategorikan berdasarkan tujuan, metode, serta desain dan

teknik analisisnya.

1. Berdasarkan tujuan, penilitian dapat diklasifikasikan menjadi penelitian dasar, penelitian


evaluasi, penelitian terapan, dan penelitian pengembangan dan penelitian tindakan
2. Berdasarkan metode, penilitian dapat dibagi menjadi penelitian survei, penelitian sejarah,
penelitian eksperimen, dan penelitian kualitatif.
3. Berdasarkan desain dan teknik analisisnya, penilitian dapat dibagi menjadi penelitian
korelasional dan penelitian kausal komparatif.

B. Saran

Hendaknya sebelum melakukan penelitian, kita harus mengenali terlebih dahulu jenis-
jenis penelitian. Sehingga kita dapat mengetahui jenis penelitian apa yang akan kita teliti dan
metode-metodenya untuk menghidari kesalahan dalam penelitian.

20
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifuddin. 2007. Sikap Manusia. Teori dan Pengukurannya. Edisi ke-2. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Davison, R. M., Martinsons, M. G., Kock N., (2004), Journal : Information Systems Journal :
Principles of Canonical Action Research 14, 65–86.
Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan:Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Rajawali
Pers.
Juliandi, Azuar, Irfan dan Saprinal Manurung. 2014. Metodologi Penelitian (Konsep dan
Aplikasi). Medan: UMSU PRESS.
Madya, S, (2006) Teori dan Praktik Penelitian Tindakan (Action Research), Alfabeta:
Bandung.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sujadi, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineka cipta
Sukardi. (2008). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta : PT.
Bumi Aksara.
Sulaksana,U., (2004), Managemen Perubahan, Cetakan I, Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta.
Setyosari, H.P. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana
Prenada Media Grup.

21