Anda di halaman 1dari 8

Struktur dan Mekanisme Mata pada Manusia

Angela Virgini Tiomegarani


102015007
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510, Indonesia
angela.2015fk007@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak

Dalam kehidupan sehari-hari seorang manusia perlu menggunakan indra yang dimilikinya agar dalam
menerima rangsang yang ada sehingga tubuh kita dapat memberikan respon pada sekitarnya. Mata
merupakan salah satu alat indera. Mata berfungsi sebagai penglihatan, untuk dapat melihat terdapat
mekanisme penglihatan yang melibatkan saraf mata pada otak. Saraf otak yang mempersarafi mata
ada yang berguna untuk sensorik dan ada juga yang berguna untuk motorik. Dalam mekanisme
penglihatan terdapat dua sel yang membantu yaitu sel kerucut dan sel batang. Didalam bola mata
terdapat lapisan-lapisan dan pelindung disekitarnya. Mata juga memiliki kemampuan akomodasi atau
refraksi, yang jika terjadi gangguan dapat menyebabkan suatu kelainan.

Kata kunci : mata, mekanisme penglihatan, saraf mata

Abstract

Everyday , a human being needs to use the sense they have in order to receive stimulus there so that
our body can respond to the environment. Eyes are important sense organ . The eyes are use for
vision , to be able to see there is a mechanism that involves the eyes nerve in cranial. Cranial nerve to
the eye to function as sensory and motor. In the mechanism of vision , there are two cells that cone
cell and rod cell. In the eyeball there are layers and protective tissue. The eyes also have the
capability for accommodation or refraction, if there is disease of eyes will cause abnormalities.

Key words : eyes, mechanism of vision, eyes nerve

Pendahuluan

Penglihatan merupakan salah satu fungsi dari alat indera yaitu mata. Mata memiliki banyak
fungsi dalam kehidupan. Manusia dapat memiliki mata yang fungsional, dengan adanya
beberapa hal misalnya persyarafan yang baik, tempat melekat yang baik (orbita), dan
mekanisme penglihatan yang baik juga. Jenis syaraf dapat dibagi menjadi yang digunakan
sebagai sensorik dan motorik. Saraf untuk sensorik yaitu syaraf ke 2. Saraf untuk motorik
yaitu syaraf ke 3, 4, dan 6. Pada saraf motorik dan sensorik dibutuhkan sinyal agar tubuh
dapat bekerja dengan baik yaitu lewat adanya proses melalui neurotransmitter, yang akan
menghasilkan sinyal kepada otak begitu juga sebaliknya dari otak menuju mata untuk
menggerakan bola mata. Bola mata yang melekat pada orbita memiliki 3 lapisan yaitu lapisan
luar, tengah, dan dalam.1,2
Struktur bola mata

Bola mata disebut juga bulbus okuli. Bola mata dilindungi terletak didalam tulang
orbita dan dilindungi oleh beberapa alat adneksa seperti kelopak mata (palpebra),
konjunktiva, dan kelenjar airmata (kelenjar lakrimal), muskuli, dan jaringan ikat disekitarnya.
Bola mata mempunyai diameter kira-kira 2,5cm. Bola mata terdiri dari beberapa lapis,
diantaranya lapisan luar, tengah, dan dalam.2

Lapisan luar (tunika fibrosa) terdiri dari kornea, limbus kornea dan sklera. Kornea
adalah bagian terluar bola mata yang bersifat transparan sehingga tembus terhadap cahaya.
Kornea terletak di 1/6 bagian depan mata. Limbus kornea merupakan batas antara kornea dan
sklera. Panjang limbus sekitar 1,5 mm. Sklera berfungsi untuk mempertahankan kekakuan
bola mata dan tampak sebagai bagian “putih” mata. 2,3

Gambar 1. Lapisan dan Bagian Matai

Lapisan tengah (tunika vaskulosa) terdiri dari korpus siliaris dan koroid. Koroid berisi
lapisan-lapisan yang mengandung banyak pembuluh darah dan pigmen. Koroid berfungsi
mengalirkan oksigen dan nutrisi ke retina. Diantara koroid dan iris, koroid menebal
membentuk korpus siliaris. Pada potongan sagital bola mata, korpus siliaris tampak
berbentuk segitiga, terdiri atas muskulus siliaris dan prosesus siliaris. Muskulus siliaris
adalah otot polos yang sirkuler. Prosesus siliaris melekat pada ekuator lensa, yang
memungkinkan lensa mengambil bentuk konveks. Iris adalah tirai berwarna di depan lensa
yang bersambung dengan koroid. Iris berfungsi mengecilkan ukuran pupil dan melebarkan
ukuran pupil. Pupil merupakan bintik yang berwarna hitam, berada di depan lensa dan
diantara iris, dilalui cahaya masuk untuk dapat mencapai retina. 2,3

Lapisan dalam (tunika nervosa) terdiri dari pars seka retina dan pars optika retina.
Ditengah keduanya terdapat zona peralihan yang disebut oraserata. Pars optika dibagi
menjadi 10 lapisan, yaitu membran limitans dalam, lapisan serat saraf n. optikus, lapisan
ganglioner, lapisan plexiform dalam, lapisan granular dalam, lapisan plexiform luar, lapisan
glanular luar, lapisan limitans luar, lapisan batang kerucut, lapisan epitel pigmen. Lapisan
epitel pigmen menempel pada koroid. 2-4

Lensa adalah sebuah benda transparan bikonveks yang terdiri dari beberapa lapisan.
Lensa terletak persis di belakang iris. Membrane yang dikenal sebagai ligamentum
suspensorium terdapat di depan maupun di belakang lensa itu, yang berfungsi untuk
mengaitkan lensa pada korpus siliaris. Vitreus humor merupakan daerah yang diisi dengan
cairan penuh albumen berwarna keputih-putihan seperti agar-agar, yaitu humor vitreus.
Humor vitreus befungsi untuk memberI bentuk dan kekokohan pada mata, serta
mempertahankan hubungan antara retina dengan koroid.2-4

Gambar 2. Lapisan-Lapisan Koroid dan Retina4

Saraf untuk penglihatan

Dalam lapisan yang ada di retina, salah satunya terdapat lapisan serat saraf nervus
optikus. Dimana cahaya yang masuk ke mata diubah menjadi sinyal elektrik di retina. Cahaya
tersebut mencetuskan reaksi fotokimiawi di sel batang dan kerucut, yang mengakibatkan
pembentukan impuls yang akhirnya dihantarkan ke korteks visual. Sel-sel bipolar
retina menerima input pada dendritnya dari sel batang dan kerucut, kemudian menghantarkan
impuls lebih jauh ke arah sentral pada lapisan sel ganglion. Akson panjang yang tidak
bermielin pada sel ganglion menembus skelera, melewati papilla optika (diskus nervi optica),
menjadi bermielin dan meninggalkan mata sebagai nervus optikus. Nervus optikus
digunakan sebagai saraf sensorik. Nervus optikus memasuki ruang intrakranial melalui
foramen optikum. Didepan tuber sinerium (tangkai hipofisis) nervus optikus kiri dan kanan
bergabung menjadi satu berkas membentuk kiasma optikum, dimana serabut bagian nasal
(bagian medial) dari masing-masing mata akan bersilangan dan kemudian menyatu dengan
serabut bagian temporal (bagian lateral) mata yang lain membentuk traktus optikus dan
melanjutkan perjalanan ke korpus genikulatum lateral dan nukleus pretektalis. Serabut saraf
yang bersinaps di korpus genikulatum lateral merupakan jaras visual sedangkan serabut saraf
yang berakhir di nukleus pretektalis di batang otak menghantarkan impuls visual (saraf
afferent) yang membangkitkan refleks visual seperti refleks pupil. Selanjutnya, dari korpus
genikulatum lateral, jaras visual terus melalui traktus genikulo kalkarina (radiasio optik) ke
korteks visual. Daerah berakhirnya serabut di korteks visual disebut korteks striatum (area
Brodmann 17). Area brodmann 17 merupakan pusat persepsi cahaya. Di sekitar area 17,
terdapat area yang berfungsi untuk asosiasi rangsang visual, yaitu area 18 dan 19. 5,6

Gambar 3. Perjalanan Serabut Saraf Nervus Optikus6

Selain saraf untuk sensorik, terdapat juga saraf untuk motorik. Saraf untuk motorik
yang mempersarafi otot mata ada tiga, yaitu nervus oculomotorius, nervus trochlearis, nervus
abducens. Nuklei nervus oculomotorius dan nervus trochlearis terletak di tegmentum
mesensefali, sedangkan nukleus nervus abdusens terletak di bagian tegmentum pontis di
bagian bawah dasar ventrikel keempat.5

Nervus ketiga atau nervus oculomotorius keluar diantara pons dan midbrain
(mesensefalon). Kemudian akan menembus duramater pada pinggir tentorium cerebelli.
Nervus oculomotorius berjalan pada sisi lateral atau sebelah anterior dari sinus cavernous.
Dimana berdekatan dengan saraf otak trochlearis, abducens dan cabang pertama dari saraf
kelima. Lalu masuk kedalam orbita melalui fissura orbitalis superior. Nervus oculomotorius
pun bercabang menjadi dua divisi yaitu divisi superior dan divisi inferior. Divisi superior
akan menginervasi m. rectus superior dan m.levator palpebra superior. Divisi inferior akan
menginervasi m. rectus medial, m. rectus inferior, dan m. oblique inferior.5

Gambar 4. Perjalanan divisi superior dan inferior nervus oculomotorius7

Nervus keempat atau nervus trochlearis perjalanannya hampir sama dengan nervus
oculomotorius. Nervus trochlearis merupakan saraf cranial yang paling kecil, memiliki 1
komponen yaitu motorik somatik umum. Nervus trochlearis keluar diantara pons dan
mesensefalon, saat masuk kedalam orbita yang melalui fissura orbitalis superior, saraf ini
menginervasi m. oblique superior. Nervus trochlearis terletak di bawah atau caudal dari saraf
oculomotorius.5

Nervus keenam atau nervus abducens memiliki 1 komponen yaitu motorik somatik
umum. Nervus abducens keluar diantara pons dan medulla oblongata, lalu akan menyilang
pada ruang subarachnoid bersama dengan a. basilaris. Kemudian menembus duramater dan
menjalani perjalanan intradular paling panjang. Memasuki sinus cavernous pada sisi lateral
dari arteri karotis interna, dimana nervus okulomotor, nervus trokhlearis dan nervus
opthalmikus berada di sisi lateral dari sinus cavernosus. Sebelum memasuki orbita akan
membengkok pada crista pars petrosa os. temporal. Selanjutnya akan masuk ke dalam orbita
melalui fissura orbitalis superior dan menginervasi m.rektus lateral.5,8
Gambar 5. Perjalanan Nervus Abducens8

Mekanisme Penglihatan

Cahaya akan masuk melalui kornea, pupil, lensa kemudian ke vitreous humor menuju
fovea centralis dan akan diterima oleh bagian ganglion. Namun ada juga proses transduksi
penglihatan untuk penglihatan dari sel kerucut yaitu sel yang berguna untuk membedakan
warna dan sel batang yang berguna pada malam hari. Hal ini mempergunakan ion natrium,
kalsium serta kalium, dimana saluran ion-ion itu akan terbuka ketika adanya cGMP. Sel
kerucut dan batang dibagi menjadi bagian dalam dan luar dimana pada luar terdapat cGMP
yang membuka saluran ion kalsium dan natrium sedangkan pada bagian dalam terdapat
saluran natrium dengan bantuan kalium. Pada bagian mata memiliki retina sebagai penerima
cahaya dan juga fotoreseptor pada sel batang yaitu rhodopsin dan iodopsin pada sel
kerucut.1,9

Pada malam hari rhodopin pada sel batang tidak aktif, sehingga cGMP pada bagian
luar terikat dengan natrium dan mempertahankan saluran tetap terbuka. Hal tersebut
dinamakan depolarisasi. Sedangkan ketika sel menerima cahaya, cGMP akan berkurang dan
memicu jalur tranduksi sinyal rhodopin, sehingga saluran ion akan tertutup dan akan terjadi
hiperpolarisasi. Dimana semakin negatifnya sebuah potensial aksi, sehingga enzim efektor
mengubah cGMP menjadi GMP yang membuatnya terlepas dari saluran natrium.1,9
Gambar 6. Transduksi Sinyal pada Mata1

Refraksi

Mata memiliki berbagai mekanisme kerja agar dapat menghasilkan bayangan yang
baik, salah satunya adalah kemampuan refraksi. Refraksi adalah kemampuan mata untuk
membiaskan cahaya pada saat mata tidak dalam keadaan akomodasi. Kegiatan refraksi
bertujuan agar kornea dapat memfokuskan bayangan. Ukuran daya bias atau daya fokus lensa
yang digunakan adalah dioptri, yang dinyatakan dalam meter. Secara numeric, dioptri adalah
satu meter dibagi jarak fokus yang diukur dalam satuan meter à D = 1/f. Orang yang
memiliki kemampuan refraksi mata dengan normal disebut emetrop, sedangkan orang dengan
gangguan fungsi refraksi disebut ametrop.10

Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola
mata demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan
dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata normal disebut sebagai mata emetropia dan
akan menempatkan bayangan benda tepat di retina pada saat keadaan mata tidak melakukan
akomodasi atau istirahat melihat jauh. Sedangkan pada orang dengan gangguan fungsi mata,
letak bayangan benda tidak tepat jatuh di retina.10

Miopa disebut juga rabun jauh. Miopia merupakan penurunan ketajaman penglihatan
jauh jika dibanding dengan orang normal. Dimana letak bayangan benda berada di depan
retina, sehingga harus dikoreksi menggunakan lensa cekung atau lensa konkaf. Sedangkan
Hipermetropia atau hiperopia disebut juga rabun dekat. Dimana penderita kelainan ini
mengeluh ketajaman penglihatannya kabur saat penglihatan jarak dekat. Dimana letak
bayangan jatuh dibelakang retina sehingga akomodasi lensa terlalu lemah. Kelainan ini dapat
dikoreksi dengan lensa kenveks atau lensa cembung.10,11
Presbiopia disebut juga mata tua. Dimana prebiopia biasanya dialami oleh orang yang
lanjut usia (diatas 45 tahun). Presbiopia dapat dikoreksi menggunakan lensa konveks.
Gangguan akomodasi ini dapat terjadi akibat kelemahan otot berakomodasi dan lensa mata
tidak kenyal lagi atau berkurangnya elastisitas akibat sklerosis lensa. Biasanya penderita akan
mengeluh mata lelah, berair, dan sering terasa pedas setelah membaca.10,11

Astigmatisma merupakan kelainan ketajaman penglihatan sehingga penderita tidak


dapat melihat jelas pada gambar disatu bidang datar. Hal ini disebabkan karena lengkung
kornea yang tidak rata pada salah satu bidang dimata. Kelainan ini dapat dikoreksi dengan
lensa silindris.10,11

Kesimpulan

Mata merupakan salah satu alat indera yang penting. Mata memiliki lapisan-lapisan di dalam
bola mata yang bekerja untuk penglihatan. Disekitar bola mata juga terdapat jaringan
pelindung seperti palpebra (kelopak mata). Dalam penglihatan ada suatu mekanisme yang
saat cahaya memasuki mata, mata memiliki fotoreseptor yang akan menghasilkan sinyal
kepada otak begitu juga sebaliknya dari otak menuju mata untuk menggerakan bola mata.
Pergerakan bola mata dibantu oleh saraf kranial yang dibagi menjadi sensorik dan motorik.
Mata dapat di refraksi, tetapi dapat juga terjadi ketidakjelasan penglihatan saat dimana
cahaya cahaya direfraksikan dan diakomodasi, tak lepas pula dari faktor usia.

Daftar Pustaka

1. Nelson DL, Cox MM.Principles of biochemistry. Edisi 6. New York: Macmillan;


2013.h.477-9.
2. Pearce E. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia ; 2015.h.315-7.
3. Sherwood L. Fisiologi manusia. Jakarta: EGC;2012. h. 167-264.
4. Eroschenko.VP. Atlas histologi di fiore dengan korelasi fungsional. Edisi 11. Jakarta:
EGC; 2011.h.333-41.
5. Mardjono M, Sidharta P. Neurologi klinis dasar. Edisi 15. Jakarta : DianRakyat;
2011. h. 121-13.
6. Frotscher M, Baehr M. Duus’ topical diagnosis in neurology. Edisi 12. Stuttgart:
Thieme; 2012. h. 130-7.
7. USU Institutional Repository: Tim Penulis; Diunduh 23 April 2016. Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/
8. University of British Colombia: Wilson-Paulwels L; Diunduh 23 April 2016. Diunduh
dari http://www.neuroanatomy.ca/
9. Reece C. Biologi. Jakarta: Erlangga; 2012.h.242-4.
10. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Edisi 5. Jakarta:FKUI; 2014.h.3-8.
11. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2014. h.173-5.