Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap makhluk hidup memiliki ciri – ciri hidup. Dengan mengenali ciri – ciri
makhluk hidup, kita akan melihat keanekaragaman makhluk hidup yang tidak
terbatas pada fisik saja, tetapi juga terlihat pada struktur tubuh, tingkah laku, dan
interaksi dengan yang lain.

Salah satu ciri makhluk hidup adalah bernapas. Manusi sangat membutuhkan
oksigen dalam bernapas dan untuk menjalankan berbagai aktivitas tubuh. Oleh
karena itu, di dalam tubuh manusia terdapat sistem pernapasan yang mensirkulasi
peredaran oksigen dan pengeluaran karbondioksida dari dalam tubuh.

1.2 Rumusan masalah


1. Pengertian sistem pernafasan?
2. Bagaimana perkembangan anatomi sistem pernafasan dari lahir sampai
dewasa?
3. Bagaimana perkembangan fisiologi sistem pernafasan dari lahir sampai
dewasa?
4. Bagaimana produksi syfaktan dari janin hingga dewasa?
5. Apa saja jenis otot-otot bantu jenis pernafasan?
6. Bagaimana faktor perkembangan pernafasan selama kehamilan?
7. Bagaimana perbedaan fisiologi pernafasan janin,neonatus dan dewasa?
8. Bagaimana histologi sistem pernafasan ?
9. Bagaimana fisiologi pernafasan dari mulai ventilasi,difusi,dan perfusi?
10. Bagaimana hukum fisika yang mendasari proses pernafasan seperti hukum
bernouli, dan hukum tegangan permukaan?
11. Bagaimana proses batuk,bersin dan aspirasi?
12. Bagaimana kadar oksigen dan gas lainnya dalam tubuh?
13. Bagaimana proses perpindahan oksigen dari alveoli ke pembuluh darah dan
dari pembuluh darah ke sel?

1
14. Apa saja pusat pengendalian pernafasan dalam otak?
15. Bagaimana proses pengendalian simpatis dan parasimpatis terhadap
pernafasan ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian sistem pernafasan
2. Untuk mengetahui anatomi sistem pernafasan dari lahir sampai dewasa
3. Untuk mengetahui fisiologi sistem pernafasan dari lahir sampai dewasa
4. Untuk mengatahui produksi surfaktan dari janin hingga dewasa
5. Untuk mengetahui jenis otot-otot bantu pernafasan
6. Untuk mengetahui faktor perkembangan pernafasan selama kehamilan
7. Untuk mengetahui perbedaan fisiologi pernafasan janin,neonats dan dewasa
8. Untuk mengetahui histologi sistem pernafasan
9. Untuk mengetahui fisiologi pernafasan dari mulai ventilasi,difusi,dan perfusi
10. Untuk mengetahui hukum fisika yang mendasari proses pernafasan seperti
hukum bernouli, dan hukum tegangan permukaan
11. Untuk mengetahui proses batk,bersin dan aspirasi
12. Untuk mengetahui kadar oksigen dan gas lainnya dalam tubuh
13. Untuk mengetahui proses perpindahan oksigen dari alveoli ke pembuluh
darah dan dari pembuluh darah ke sel
14. Untuk mengetahui pusat pengendalian pernafasan dalam otak
15. Untuk mengetahui proses pengendalian simpatis dan parasimpatis terhadap
pernafasan

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan

Bernapas yaitu proses menghirup oksigen dan mengeluarkan


karbondioksida. Oksigen digunakan untuk pembakaran zat makanan di dalam
sel untuk menghasilkan energi. Proses disebut oksidasi biologi atau respirasi.
Oksigen dibutuhkan untuk mengoksidasi glukosa, kemudian dihasilkan
karbondioksida (CO2), air, dan sejumlah energi.

Sistem pernapasan pada manusia adalah sistem menghirup oksigen dari


udara serta mengeluarkan karbon dioksida dan uap air. Dalam proses
pernapasan, oksigen merupakan zat kebutuhan utama. Oksigen untuk
pernapasan diperoleh dari udara di lingkungan sekitar. Alat-alat pernapasan
berfungsi memasukkan udara yang mengandung oksigen dan mengeluarkan
udara yang mengandung karbon dioksida dan uap air. Tujuan proses
pernapasan yaitu untuk memperoleh energi. Pada peristiwa bernapas terjadi
pelepasan energi. Sistem pernapasan pada manusia mencakup dua hal, yakni
saluran pernapasan dan mekanisme pernapasan.

Saluran pernapasan atau tractus respiratorius (respiratory tract) adalah


bagian tubuh manusia yang berfungsi sebagai tempat lintasan dan tampat
pertukaran gas yang diperlukan untuk proses pernapasan. Saluran ini
berpangkal pada hidung atau mulut dan berakhir pada paru-paru.

Udara masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan yaitu :


hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus dan paru – paru

a. Rongga hidung (cavum natalis)

Hidung merupakan organ pernapasan yang paling luar. Udara dari luar
akan masuk ke dalam tubuh melalui hidung. Udara dari luar tidak hanya

3
mengandung oksigen tetapi juga mengandung gas-gas lain seperti nitrogen,
belerang, dan karbondioksida.

Dalam rongga hidung terdapat rambut halus dan selaput lendir yang
berfungsi menyaring udara dan menahan benda – benda asing yang ikut
masuk kedalam ronga hidung seperti debu dan kuman dan konka yang
mengandung kapiler darah sehingga dapat menyesuaikan suhu udara
dengan suhu tubuh dan mengatur kelembapan udara oleh selaput lendir.

b. Faring

Faring merupakan pertemuan antar saluran pernapasan di bagian


depan dan saluran pencernaan di bagian belakang. Bagian ini
berhubungan dengan rongga hidung dan rongga mulut. Faring terdiri
dari nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Pada langiofaring sistem
pernapasan terpisah dari sistem pencernaan, udara akan memasuki
laring, sedangkan makanan akan memasuki esofagus melali gotis. Di
bagian belakang faring terdapat laring yang tersusun dari tulang rawan.

Tonsil secara struktural merupakan bagian dari faring yang terdiri


dari tonsil lingual, tonsil palatin, dan tongsil faringeal atau adenoid yang
menggantung pada atap nasofaring

c. Laring (Pangkal Tengorokan)


Pada ujung atas laring terdapat sebuah katup epiglotis. Katup
epiglotis merupakan tulang rawan yang sangat tipis yang menutup
pangkal tenggorok pada waktu menelan. Katup akan terbuka ketika kita
berbicara atau bernapas.
Saat kita makan sambil berbicara biasanya kita akan tersedak.
Tersedak ini dikarenakan katup epiglotis tidak bisa bekerja dengan baik
karena bingung harus menutup atau membuka saluran pencernaan atau
pernapasan.

4
Di bawah epiglotis terdapat tulang rawan yang membentuk jakun.
Di dalam jakun terdapat pita suara (vocal cord) tempat dihasilkannya
suara. Saat paru-paru mengeluarkan udara, pita suara akan bergetar dan
akan terdengar sebagai suara.

d. Trakea (Batang Tenggorokan)


Trakea adalah tabung atau pipa tempat keluar masuknya udara.
Dindingnya tersusun dari cincin-cincin tulang rawan dan selaput lendir
yang terdiri atas jaringan epitelium bersilia. Cincin tulang rawan
menjadikan tenggorokan selalu terbuka sebagai tempat keluar dan
masuknya udara.
Fungsi silia pada dinding trakea adalah untuk menyaring benda-
benda asing yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Sehingga kotoran
atau debu yang masuk ke dalam tenggorokan akan didorong ke atas oleh
silia dan dikeluarkan melalui mulut dengan mekanisme batuk.
Batang tenggrorokan berbentuk panjang seperti pipa dengan
panjang kira-kira 10 cm yang bersifat kaku. Trakea memanjang dari
leher ke rongga dada atas dengan susunan sebagian berada di leher dan
sebagian di rongga dada.
Pada bagian bawah trakea bercabang menjadi dua saluran yang
disebut dengan bronkus. Saluran bercabang ke sebelah kiri menuju paru-
paru sebelah kiri dan bercabang ke sebelah kanan menuju paru-paru
sebelah kanan.

e. Bronkus (Cabang Tenggorokan)


Bronkus adalah cabang tenggorokan yang bersambung ke bagian
kiri dan kanan paru-paru.
Sama seperti trakea, bronkus juga tersusun dari tulang-tulang rawan
hanya saja bentuk bronkus lebih kecil jika dibandingkan dengan trakea.
Susunan tulang rawan pada bronkus juga tidak teratur yaitu berselang-
seling antara tulang dan otot.

5
Bronkus juga berfungsi sebagai penyaring udara tetapi sifatnya
hanya sekedar sebagai penyaring sekunder. Jaringan epitel pada
dindingnya menghasilkan lendir yang menangkap kotoran yang ikut
masuk bersama udara. Dinding bronkus sama seperti trakea hanya saja
dinding bronkus lebih tipis jika dibandingkan dengan trakea.
Bronkus berjumlah sepasang yang menuju ke sebelah kiri dan ke
sebelah kanan. Saluran yang menuju ke sebelah kiri bentuknya lebih
panjang dan sempit. Bronkus memiliki cabang-cabang yang lebih halus
yang disebut dengan bronkiolus.

f. Bronkiolus (Anak Cabang Tenggorokan)


Bronkiolus merupakan percabangan dari bronkus. Fungsi
utama bronkiolus adalah menghubungkan bronkus dengan alveolus dan
untuk mengatur banyaknya udara yang didistribusikan ke paru-paru
melalui mekanisme dilatasi (melebar) dan konstriksi (menyempit) .
Banyaknnya bronkiolus di dalam paru-paru akan sama dengan
jumlah lobus di dalam paru-paru kiri dan kanan. Paru-paru kanan
memiliki 3 lobus dan paru sebelah kiri memiliki 2 lobus. Jadi jumlah
bronkiolus pada paru-paru sebelah kanan adalah 3 buah dan pada
sebelah kiri jumlahnya 2 buah.
Bronkiolus bercabang menjadi saluran yang semakin halus, semakin
kecil dan dindingnya semakin tipis. Berbeda dengan bronkus, dinding
bronkiolus tidak tersusun dari tulang rawan lagi. Pada ujungnya terdapat
banyak sekali gelembung-gelembung kecil yang biasa disebut alveolus.

g. Alveolus

Pada ujung bronkus terdapat gelembung-gelembung kecil berisi


udara yang disebut alveolus (jamak: alveoli). Pada gelembung-gelembung
ini terjadi proses pertukaran gas oksigen dengan gas sisa metebolisme
(karbondioksida) melalui dinding alveolus. Dinding alveolus dilapisi oleh
sel-sel tipis yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler.

6
Pertukaran gas terjadi dengan mekanisme difusi (perpindahan suatu
zat melalui sebuah selaput atau dinding). Oksigen yang berada dalam
alveolus akan diserap oleh pembuluh kapiler dan ditukar dengan gas
karbondioksida. Gas sisa tersebut akan di keluarkan dari dalam tubuh
melalui hidung.

Di dalam darah oksigen akan diikat oleh hemoglobin dan


selanjutnya akan dialirkan ke seluruh tubuh. Oksigen akan digunakan dalam
proses oksidasi zat makanan yang akan menghasilkan gas sisa berupa
karbondioksida. Darah yang banyak mengandung karbondioksida akan
dialirkan kembali ke paru-paru untuk ditukar dengan oksigen.

h. Paru – paru
Paru-paru merupakan organ paling besar yang ada dalam sistem
pernapasan manusia. Paru-paru terletak di rongga dada manusi. Antara
rongga dada dan rongga perut terdapat sebuah pemabatas yang disebut
diafragma. Sekat ini nantinya akan berguna bagi proses memasukkan
udara ke paru-paru (inspirasi) dan mengeluarkan udara dari paru-paru
(ekspirasi).
Didalamnya terdapat organ pernapasan lainnya, seperti bronkiolus,
alveolus dan pembuluh darah. Ukuran paru-paru sebelah kana lebih
besar jika dibandingkan paru-paru sebelah kiri. Hal ini dikarenakan
paru-paru kanan mempunyai 3 lobus dan sebelah kiri mempunyai 2
lobus.
Paru-paru dibungkus oleh sebuah dua selaput tipis yang biasa
disebut pleura. Lapisan luar pleura melekat pada rongga dada dan pleura
bagian dalam melapisi paru-paru untuk menggabungkan organ-organ
didalam paru-paru. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat cairan
limfa yang akan berfungsi melindungi paru-paru dari gesekan ketika
mengambang dan mengempis.Jaringan penyusun paru-paru bersifat
elastis dan memiliki rongga-rongga.

7
Kadar Oksigen dan Gas Lain dalam Tubuh

Udara yang kita hirup sehari-hari selama hidup di dunia ini


ternyata bukanlah oksigen murni. Saat bernapas, tubuh kita
mengambil udara dari alam bebas untuk digunakan untuk berbagai
keperluan tubuh. Udara yang masuk ke dalam tubuh mengandung
berbagai gas seperti oksigen, karbon dioksida, argon, nitrogen, dan
uap air. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat gas lain yang
tercapur di dalam udara yang dihirup manusia.

Udara bebas yang digunakan oleh manusia untuk bernapas


mengandung gas nitrogen sebesar 78%, mengandung gas oksigen
sebesar 20%, mengandung gas argon sebesar kurang dari 1%,
mengandung uap air kurang lebih sekitar 1% dan menganding
karbon dioksida sebanyak kurang dari 0,1%. Gas-gas tersebut
tercampur dengan baik di dalam udara yang ada di dunia ini. Jika
kita lihat persentasenya maka manusia sebenarnya bernapas dengan
menghirup nitrogen, karena sebagian besar gas yang dihirup
manusia saat bernapas adalah gas nitrogen.

Komposisi Kandungan Udara yang Digunakan Bernapas oleh


Manusia :

1. Nitrogen - 78%

2. Oksigen - 20%

3. Argon - kurang dari 1%

4. Karbon Dioksida - kurang dari 0,1%

5. Uap Air - kurang lebih 1%

Oksigen adalah gas yang paling dibutuhkan manusia saat


bernapas. Oksigen memainkan peranan penting dalam proses
perombakan bahan makanan di dalam tubuh. Tanpa oksigen,
manusia akan mati secara perlahan. Itulah sebabnya mengapa
tabung-tabung gas oksigen selalu tersedia di rumah sakit yang ada
8
di sekitar kita. Di saat tertentu seseorang membutuhkan oksigen
dengan alat bantu agar bisa bernapas dengan baik. Bukan nitrogen,
argon, maupun karbon dioksida. Jika menghirup gas karbon
dioksida terus menerus tanpa oksigen yang cukup, maka seseorang
bisa mati lemas secara perlahan.

Uap air yang kita hirup berbeda-beda kadarnya antara daerah


yang satu dengan daerah yang lain. Ada tempat-tempat yang
memiliki udara yang mengandung banyak uap air, dan ada pula
tempat-tempat yang kadar air dalam udaranya sangat rendah. Air
menguap dan bercampur dengan udara yang ada di sekitarnya.
Sebagian uap air akan naik ke atas dan membentuk awan yang
nantinya bisa menjadi hujan yang turun ke permukaan bumi.

Proses Perpindahan Oksigen Dari Alveoli Ke Pembuluh Darah Dari


Pembuluh Darah Ke Sel
Alveolus membawa O2 ke pembuluh darah dan pembuluh daraH
membawa CO2+H2O ke alveolus. Lalu O2 yang di pembuluh darah tadi
dibawa ke sel tubuh dan sel tubuh memberi CO2+H2O ke pembuluh darah.
Sistem sama dengan menukar O2 dengan CO2+H2O.

2.2. Mekanisme Pertukaran Udara

Berdasarkan tempat terjadinya pertukaran gas, terbagi menjadi dua yaitu :

1. Pernapasan Luar (Eksternal)


Pernapasan luar merupaakan pertukaran gas O2 dan CO2 yang terjadi
antara udara dan darah di dalam paru – paru. CO2 meninggalkan darah
dan O2 masuk ke dalam darah melalui proses difusi.
2. Pernapasan Dalam (Internal)
Pernapasan dalam merupakan pertukaran gas di dalam jaringan
tubuh. Di sini oksigen meninggalkan hemoglobin dan berdifusi masuk
ke dalam cairan jaringan tubuh.
9
2.3. Mekanisme Pernapasan Dada dan Perut
a. Pernapasan Dada

Pada proses ini terjadi konttaksi oto interkosta eksternal (otot antar
tulang rusuk) yang menarik tulang rusuk ke atas dan ke arah luar
sehingga rongga dada membesar. Meninggalkan volume rongga dada
menyebabkan rongga paru – paru membesar sehingga tekanan udara di
atmosfer dan udara akan bergerak masuk ke dalam paru – paru sampai
tekananya sama. Proses ini disebut inspirasi.

Bila otot antar rusuk berelaksasi (mengendur), tulang rusuk turun


kembali dan rongga dada kembali mengecil diikuti mengecilnya rongga
paru paru yang menyebabkan tekanan udaranya naik. Dengan demikian
udara akan bergerak ke luar paru – paru. Proses ini disebut ekspirasi.

Inspirasi : otot antar tulang rusuk kontraksi - tulang rusuk terangkat -


volume rongga dada membesar - tekanan rongga dada
menurun - udara masuk ke paru – paru.

Ekspirasi : otot antar tulang rusuk relaksasi – tulang rusuk turun –


volume rongga dada mengecil – tekanan rongga dada
meningkat – udara keluar dari paru – paru.

b. Pernapasan Perut
Bila otot diafragma berkontraksi maka rongga dada akan membesar
sehingga volume rongga paru paru juga membesar dan tekanannya
menurun. Udara dari atmosfer akan masuk ke dalam paru – paru
(inspirasi).
Bila otot – otot diafragma mengendur, rongga dada mengecil sehingga
tekanan udaranya naik. Udara akan terdorong ke luar dari paru – paru
(ekspirasi)
Inspirasi : diafragma kontraksi – volume rongga dada membesar –
tekanan rongga dada menurun – udara masuk ke paru – paru

10
Ekspirasi : diafragma relaksasi – volume rongga dada menurun –
tekanan rongga dada meningkat – udara keluar dari paru -
paru

2.4. Fisiologi Pernapasan


1. Ventilasi

Ventilasi merupakan salah satu proses pertukaran udara antara


atmosfer dengan alveoli. Proses ini terdiri dari inspirasi yaitu masuknya
udara ke paru-paru, dan ekspirasi yaitu keluarnya udara dari paru-paru. Dan
ventilasi ini terjadi karena adanya suatu perubahan tekanan intra pulmonal,
pada saat inspirasi tekanan intra pulmonal lebih rendah daripada tekanan
atmosfer sehingga udara yang ada di atmosfer akan terhisap ke dalam paru-
paru.

Sebaliknya ketika ekspirasi tekanan intrapulmonal menjadi lebih


tinggi daripada atmosfer sehingga udara yanga ada akan tertiup keluar dari
paru-paru. Perubahan tekanan intra pulmonal tersebut disebabkan karena
perubahan volume thorax akibat kerja dari otot-otot pernafasan dan
diafragma.

Ketika inspirasi terjadi kontraksi dari otot-otot insiprasi (muskulus


interkostalis eksternus dan diafragma)sehingga terjadi elevasi dari tulang-
tulang kostae dan menyebabkan peningkatan volume cavum thorax (rongga
dada), Secara bersamaan paru-paru juga akan ikut mengembang sehingga
tekanan intra pulmonal menurun dan udara terhirup ke dalam paru-paru.

Setelah inspirasi normal biasanya masih bisa menghirup udara


dalam-dalam (menarik nafas dalam), hal ini dimungkinkan karena kerja dari
otot-otot tambahan isnpirasi yaitu muskulus sternokleidomastoideus dan
muskulus skalenus. Ekspirasi merupakan proses yang pasif dimana setelah
terjadi pengembangan cavum thorax akibat kerja otot-otot inspirasi maka
setelah otot-otot tersebut relaksasi maka terjadilah ekspirasi. Tetapi setelah
ekspirasi normal, kitapun masih bisa menghembuskan nafas dalam-dalam

11
karena adanya kerja dari otot-otot ekspirasi yaitu muskulus interkostalis
internus dan muskulus abdominis.

Kerja dari otot-otot pernafasan disebabkan karena

1) Adanya perintah dari pusat pernafasan (medula oblongata) pada


otak.
2) Medula oblongata terdiri dari sekelompok neuron inspirasi dan
ekspirasi.
3) Eksitasi neuron-neuron inspirasi akan dilanjutkan dengan eksitasi
pada neuron-neuron ekspirasi serta inhibisi terhadap neuron-neuron
inspirasi sehingga terjadilah peristiwa inspirasi yang diikuti dengan
peristiwa ekspirasi.
4) Area inspirasi dan area ekspirasi ini terdapat pada daerah berirama
medula (medulla rithmicity) yang menyebabkan irama pernafasan
berjalan teratur dengan perbandingan 2 : 3 (inspirasi : ekspirasi).

Ventilasi dipengaruhi oleh :

a. Kadar oksigen pada atmosfer


b. Kebersihan jalan nafas
c. Daya recoil & complience (kembang kempis) dari paru-paru
d. Pusat pernafasan

Fleksibilitas paru sangat penting peranannya dalam proses


ventilasi. Fleksibilitas paru dijaga oleh surfaktan. Surfaktan
merupakan campuran lipoprotein yang dikeluarkan sel sekretori
alveoli pada bagian epitel alveolus dan berfungsi menurunkan
tegangan permukaan alveolus yang disebabkan karena daya tarik
menarik molekul air & mencegah kolaps alveoli dengan cara
membentuk lapisan monomolekuler antara lapisan cairan dan udara.
Energi yang diperlukan untuk ventilasi adalah 2 – 3% energi total
yang dibentuk oleh tubuh. Kebutuhan energi ini akan meningkat
ketika kita melakukan olah raga berat, dan ini bisa mencapai 25 kali
lipat.

12
Volume tidal adalah volume udara yang diinspirasi dan
diekspirasi dalam pernafasan normal. IRV (volume cadangan
inspirasi) adalah volume udara yang masih bisa dihirup paru-paru
setelah inspirasi normal. ERV (volume cadangan ekspirasi) adalah
volume udara yang masih bisa diekshalasi setelah ekspirasi normal.
Sedangkan RV (volume sisa) adalah volume udara yang masih
tersisa dalam paru-paru setelah ekspirasi kuat.

2. Difusi

Difusi dalam respirasi yaitu salah satu proses pertukaran gas


antara darah pada kapiler paru dengan alveoli. Proses difusi ini
terjadi karena adanya perbedaan tekanan, gas berdifusi dari tekanan
tinggi ke tekanan rendah. Salah satu ukuran difusi adalah tekanan
parsial.

Difusi sendiri terjadi melalui membran respirasi yang


merupakan dinding alveolus yang sangat tipis sekali dengan
ketebalan rata-rata 0,5 mikron. Di dalamnya terdapat jalinan kapiler
yang sangat banyak dengan diameter 8 angstrom. Dalam paru-paru
terdapat sekitar 300 juta alveoli dan bila dibentangkan dindingnya
maka luasnya mencapai 70 m2 pada orang dewasa normal.

Saat difusi terjadi pertukaran gas antara oksigen dan


karbondioksida secara simultan. Saat inspirasi maka oksigen akan
masuk ke dalam kapiler paru dan saat ekspirasi karbondioksida akan
dilepaskan kapiler paru ke alveoli untuk dibuang ke atmosfer. Proses
pertukaran gas tersebut terjadi karena perbedaan tekanan parsial
oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru.

Volume gas yang berdifusi melalui membran respirasi per


menit untuk setiap perbedaan tekanan sebesar 1 mmHg disebut
dengan kapasitas difusi. Kapasitas difusi oksigen dalam keadaan
istirahat sekitar 230 ml/menit. Saat aktivitas meningkat maka

13
kapasitas difusi ini juga meningkat karena jumlah kapiler aktif
meningkat disertai Dilatasi kapiler yang menyebabkan luas
permukaan membran difusi meningkat. Kapasitas difusi
karbondioksida saat istirahat adalah 400 – 450 ml/menit. Saat
bekerja meningkat menjadi 1200 – 1500 ml/menit.

Difusi dipengaruhi oleh :

a. Ketebalan membran respirasi


b. Koefisien difusi
c. Luas permukaan membran respirasi
d. Perbedaan tekanan parsial

3. Perfusi
Perfusi paru adalah gerakan darah yang melewati sirkulasi
paru untuk dioksigenasi, dimana pada sirkulasi paru adalah darah
deoksigenasi yang mengalir dalam arteri pulmonaris dari ventrikel
kanan jantung. Darah ini memperfusi paru bagian respirasi dan ikut
serta dalam proses pertukaran oksigen dan karbondioksida di kapiler
dan alveolus. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah jantung.
Sirkulasi paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi variasi
volume darah yang besar sehingga dapat dipergunakan jika sewaktu-
waktu terjadi penurunan volume atau tekanan darah sistemik.

4. Transportasi

Setelah difusi maka selanjutnya terjadi proses transportasi


oksigen ke sel-sel yang membutuhkan melalui darah dan
pengangkutan karbondioksida sebagai sisa metabolisme ke kapiler
paru. Sekitar 97 – 98,5% Oksigen ditransportasikan dengan cara
berikatan dengan Hb (HbO2/oksihaemoglobin,) sisanya larut dalam
plasma. Sekitar 5 – 7% karbondioksida larut dalam plasma, 23 –
30% berikatan dengan Hb (HbCO2/karbaminahaemoglobin) dan 65
– 70% dalam bentuk HCO3 (ion bikarbonat).

14
Saat istirahat, 5 ml oksigen ditransportasikan oleh 100 ml
darah setiap menit. Jika curah jantung 5000 ml/menit maka jumlah
oksigen yang akan diberikan ke jaringan sekitar 250 ml/menit. Saat
olah raga berat dapat meningkat 15 – 20 kali lipat.

Transportasi gas dipengaruhi oleh :

a. Cardiac Output
b. Jumlah eritrosit
c. Aktivitas
d. Hematokrit darah

Setelah transportasi maka terjadilah difusi gas pada sel/jaringan.


Difusi gas pada sel/jaringan terjadi karena tekanan parsial oksigen
(PO2) intrasel selalu lebih rendah dari PO2 kapiler karena O2 dalam
sel selalu digunakan oleh sel. Sebaliknya tekanan parsial
karbondioksida (PCO2) intrasel selalu lebih tinggi karena CO2
selalu diproduksi oleh sel sebagai sisa metabolisme.

2.5. Fisiologi Pernapasan Pada Janin, Neonatus dan Dewasa

1. Fisiologi pernafasan pada janin

Pada masa fetus, sistem respirasi dihambat karena tidak ada


udara untuk bernafas dalam kantung amnion. Akan tetapi pada trimester
pertama setelah organ-organ respirasi telah terbentuk, fetus mulai
mencoba pergerakan pernafasan oleh karena stimulus taktil dan
asfiksia. Setelah 3-4 bulan terakhir gerakan pernafasan fetus benar-
benar dihambat sehingga paru hampir tetap kempis seluruhnya. Hal ini
untuk mencegah terisinya paru oleh cairan dan debris dari mekonium
yg diekskresikan oleh traktus gastrointestinal fetus ke dalam cairan
amnion. Secara normal, di paru-paru hanya terisi sedikit cairan yang
dihasilkan oleh epitel alveolar paru-paru.

15
Janin dalam kandungan sudah mengadakan gerakan-gerakan
pernafasan, namun air ketuban tidak masuk ke dalam alveoli paru-
parunya. Pusat pernapasan ini di pengaruhi oleh kadar O2 dan CO2 di
dalam tubub janin. Keadaan inidipengaruhi oleh sirkulasi plasenter
(pengaliran darah antara uterus dan plasenta). Apabila terdapat
gangguan pada sirkulasi utero-plasenter sehingga satu rasi oksigen
lebih menurun, misalnya pada kontraksi uterus yang tidak sempurna,
eklampsia dan sebagainya, maka dapatlah gangguan dalam
keseimbangan asam dan basa pada janin tersebut, dengan akibat dapat
melumpuhkan pusat pernafasan janin. Pada permukaan paru-paru yang
telah matur ditemukan lipoprotein yang berfungsi untuk mengurangi
tahanan pada permukaan alveoli dan memudahkan paru-paru
berkembang pada penarikan nafas pertama pada janin.

Ketika partus, uterus berkontraksi dalam keadaan ini darah didalam


sirkulasi utero plasenter seolah-olah diperas ke dalam vena umbilicus
dan sirkulasi janin sehingga jantung janin terutama serambi kanan
berdilatasi. Akibatnya apabila diperhatikan bunyi jantung janin segera
setelah kontraksi uterus hilang akan terdengar terlambat. Dalam
keadaan ini fisiologi bukan patologi. Timbulnta bradikardia pada his
disebabkan adanya aspiksia janin yang sementara. Bradikardia ini
terjadi pada permulaan his dan menghilang beberapa detik sesudah his
berhenti. Bradikardia tidak disebabkan oleh hifoksia janin, akan tetapi
karena tekanan kepalajanin oleh jalan lahir aktu ada his.

Untuk klinik penting diperhatikan frekuensi denyut jantung ini


untuk mengetahui apakah ada gawat janin. Dalam ekadaan normal
frekuensi deniyut jantung janin berkisar antara 120 – 140 denyutan
permenit. Cara menghitung denyut bunyi jantung adalah hitung denyut
jantung janin 5 detik pertama kemudian 5 detik ketiga, kelima, ketujuh
sampaim mencapai satu menit. Dengan cara ini diperoleh apakah
denyut jantung janin tersebut teratur apa tidak. Tiap menit mempunyai
jumlah tertentu. Jika jumlah permenit berbeda lebih dari 8, maka
denyutan jantung itu umumnya tidak teratur. Jika jumlah denyutan
16
jantung lebih dari 160 per menit, disebut ada takikardia, sedangkan jika
kurang dari 120 permenit, disebut ada bradikardia. Dengan
mengadakan pencatatan denyut jantung janin yang dikaitkan dengan
pencatatan his, dapat diketahui ada tidaknya hipoksia pada janin.
Takikardia kadang-kadang dapat ditemukan pada ibu yang menderita
panas. Pemantauan janin dilaksanakan dengan alat kardiotokograf.

2. Fisiologi pernafasan neonatus

Perbedaan yang paling utama antara intrauterine dan


ekstrauterin adalah hilangnya hubungan plasenta dengan ibu.
Artinya fetus kehilangan dukungan untuk metabolisme tubuhnya.
Salah satu penyesuaian yang segera dan paling penting dari bayi
adalah mulai bernapas.

Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim


sampai dengan usia 28 hari,dimana terjadi perubahan yang sangat
besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim. Pada
masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua system.
Neonatus bukanlah miniatur orang dewasa, bahkan bukan
pula miniatur anak. Neonatus mengalami masa perubahan dari
kehidupan didalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi
kehidupan diluar rahim yang serba mandiri.Masa perubahan yang
paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama. Transisi ini

17
hampir meliputi semua sistem organ tapi yang terpenting bagi
anestesi adalah system pernafasan sirkulasi, ginjal dan hepar.
Sistem Pernafasan pada Neonatus adalah sistem organ yang
digunakan untuk pertukaran gas pada masa kehidupan pertama di
luar rahim sampai dengan usia 28 hari,dimana terjadi perubahan
yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar
rahim.
Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula
berada dalam lingkungan interna (dalam kandungan ibu) yang
hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke
lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala
kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk
memenuhinya.Saat ini bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui
sistem sirkulasi pernafasannya sendiri yang baru,mendapatkan
nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula yang cukup,
mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit. Periode adaptasi
terhadap kehidupan di luar rahim disebut Periode transisi. Periode
ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk
beberapa sistem tubuh.

Jalan nafas

Otot leher bayi masih lembek, leher lebih pendek, sulit


menyangga atau memposisikan kepala dengan tulang occipital yang
menonjol. Lidah besar,epiglotis berbentuk “U” dengan proyeksi
lebih ke posterior dengan sudut kurang lebih 45o relative lebih
panjang dan keras, letaknya tinggi,bahkan menempel pada palatum
molle sehingga cenderung bernafas melalui hidung. Akibat
perbedaan anatomis epiglotis tersebut, saat intubasi kadang kala
diperlukan pengangkatan epiglotis untuk visualisasi. Sementara
lubang hidung, glotis,pipa tracheobronkial relative
sempit,meningkatkan resistensi jalan nafas, mudah sekali tersumbat
oleh lendir dan edema.

18
Pernafasan

Sangkar dada lemah dan kecil dengan iga horizontal.


Diafragma terdorong ke atas oleh isi perut yang besar. Dengan
demikian kemampuan dalam memelihara tekanan negatif
intrathorak dan volume paru rendah sehingga memudahkan
terjadinya kolaps alveolus serta menyebabkan neonatus bernafas
secara diafragmatis. Kadang-kadang tekanan negative dapat timbul
dalam lambung pada waktu proses inspirasi, sehingga udara atau gas
anestesi mudah terhirup kedalam lambung. Pada bayi yang
mendapat kesulitan bernafas dan pertnya kembung dipertimbangkan
pemasangan pipa lambung.

Karena pada posisi terlentang dinding abdomen cenderung


mendorong diafragma ke atas serta adanya keterbatasan
pengembangan paru akibat sedikitnya elemen elastis paru, maka
akan menurunkan FRC (Functional Residual Capacity) sementara
volume tidalnya relative tetap.Untuk meningkatkan ventilasi
alveolar dicapai dengan cara menaikan frekuensi nafas, karena itu
nenatus mudah sekali gagal nafas. Peningkatan frekuensi nafas juga
dapat akibat dari tingkat metabolisme pada neonatus yang relative
tinggi, sehingga kebutuhan oksigen juga tinggi, dua kali dari
kebutuhan orang dewasa dan ventilasi alveolar pun relative lebih
besar dari dewasa hingga dua kalinya. Tingginya konsumsi oksigen
dapat menerangkan mengapa desaturasi O2 dari Hb terjadi lebih
mudah atau cepat, terlebih pada premature, adanya stress dingin
maupun sumbatan jalan nafas.

19
3. Fisiologi pernafasan dewasa
Fungsi paru-paru ialah pertukaran gas oksigen dan
karbondioksida. Pada pernapasan melalui paru-paru atau eksternal,
oksigen dipungut melalui hidung dan mulut pada waktu bernafas;
oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronkial ke alveoli dan dapat
berhubungan erat dengan darah didalam kapiler pulmonaris. Hanya
satu lapis membran yaitu membran alveoli-kapiler, yang
memisahkan oksigen dari darah. Oksigen menembus membran ini
dan dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke
jantung. Dari sisni dipompa didalam arteri kesemua bagian tubuh.
Darah meninggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100 mmHg
dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95% jenuh oksigen.
Didalam paru-paru,karbondioksida, salah satu hasil buangan
metabolisme, menembus membran alveoler-kapiler dari kapiler
darah ke alveoli dan sestelah melalui pipa bronkial dan trakea
dinapaskan keluar melalui hidung dan mulut.
Empat proses yang berhubungan dengan pernapasan
pulmonal atau pernapasan eksternal.
1. Ventilasi pulmoner atau gerk pernafasan yang menukar
udara dalam alveoli dengan udara luar
2. Arus darah melalui paru-paru

20
3. Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian sehingga
dalam jumlah tepat dapat mencapai semua bagian tubuh.
4. Difusi gas yang menembus membran pemisah alveoli dan
kapiler,CO2 lebih mudah berdifusi daripada oksigen.

Semua proses ini diatur sedemikian sehingga darah yang meninggalkan


paru-paru menerima jumlah tepat CO2 dan O2 . Pada waktu gerak badan,lebih
banyak darah datang di paru-paru membawa erlalu banyak CO2 dan terlampau
sedikit O2 ; jumlah CO2 itu tidak dapat dikeluarkan,maka konsentrasinya dalam
darah arteri bertambah. Hal ini merangsang pusat pernafasan dalam otak untuk
memperbesar kecepatan dan dalamnya pernapasan.penambahan ventilasi ini
mengeluarkan CO2 dan memungut lebih banyak O2.

Pernapasan jaringan atau pernapasan interna.Darah yang telah menjenuhkan


hemoglobinnya dengan oksigen (oksihemoglobin) megintari seluruh tubuh dan
akhirnya mencapai kapiler, di mana darah bergerak sangat lambat. Sel jaringan
memungut oksigen dari hemoglobin untuk memungkinkan oksigen berlangsung,
dan darah menerima sebagai gantinya yaitu karbondioksida.

Perubahan-perubahan berikut terjadi pada komposisi udara dalam alveoli,


yang disebabkan pernapasan eksterna dan pernapasan interna atau pernapasan
jarigan. Udara (atmosfer) yang di hirup:

Nitrogen.....................................................................79%

Oksigen......................................................................20%

Karbon dioksida ........................................................0-0,4%

Udara yang masuk alveoli mempunyai suhu dan kelembapan atmosfer udara
yang diembuskan:

Nitrogen.......................................................................79%

Oksigen.......................................................................16%

Karbon dioksida ........................................................4-0,4%

21
Daya muat udara oleh paru-paru. Besar daya muat udara oleh paru – paru
ialah 4500 ml sampai 5000 ml atau 41/2 sampai 5 literudara. Hanya sebagian kecil
dari udara ini, kira-kira 1/10nya atau 500 ml adalah udara pasang surut (tidal air),
yaitu yang di hirup masuk dan dihembuskan keluar pada pernapasan biasa dengan
tenang.

Kapasitas vital. volume udara yang dapat dicapai masuk dan keluar paru-paru
pada penarikan napas paling kuat disebut kapasitas vital paru-paru. Diukurnya
dengan alat spirometer. Pada seoranng laki-laki, normal 4-5 liter dan pada seorang
perempuan, 3-4 liter. Kapasitas itu berkurang pada penyakit paru-paru, penyakit
jantung (yang menimbulkan kongesti paru-paru) dan kelemahan otot pernapasan.

2.6. Faktor Perkembangan Pernafasan Selama Kehamilan

Pernafasan masih diafragmatik selama kehamilan, tetapi karena


pergerakandiafragma terbatas setelah minggu ke-30, wanita hamil bernafas lebih
dalam,dengan meningkatkan volume tidal dan kecepatan ventilasi, sehingga
memungkinkan pencampuran gas meningkat dan konsumsi oksigen
meningkat20%. Diperkirakan efek ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi
progesteron.Keadaan tersebut dapat menyebabkan pernafasan berlebih dan PO2
arterilebih rendah. Pada kehamilan lanjut, kerangka iga bawah melebar keluar
sedikit danmungkin tidak kembali pada keadaan sebelum hamil, sehingga
menimbulkankekhawatiran bagi wanita yang memperhatikan penampilan
badannya.

Sering ada keluhan sesak dan pendek nafas yang dikarenakan unsur
yangtertekan ke arah diafragma akibat pembesaran rahim biasanya terjadi pada
usiakehamilan 32 minggu ke atas, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak.
Sebagaikompensasi terjadinya desakan rahim dan kebutuhan O2 yg meningkat,
hamil akan bernafas dalam sekitar 20-25% dari biasanya.Yang lebih menonjol
yaitu pernafasan dada (thorachic breathing) ditandaidengan bagian bawah
toraksnya melebar ke sisi, setelah partus kadang-kadangmenetap jika tidak dirawat
dengan baik.Peningkatan energi dari rusuk menjadirileks sehingga terjadi

22
penambahan perkembangan dada. Diameter melintang darirongga torak bertambah
sekitar 2 cm dan keliling sekitar 6 cm.

2.7. Proses Terjadinya Batuk, Bersin dan Aspirasi

1) Batuk

Batuk adalah reaksi normal (refleks fisiologis) yang biasa terjadi pada saluran
pernapasan orang sehat maupun sakit. Terjadi sebagai mekanisme pertahanan
tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran pernafasan.

Penyebab Batuk antara lain: tenggorokan gatal, rangsangan selaput lendir


pernapasan yang terletak di tenggorokan dan cabang-cabang tenggorokan, radang
jalan pernapasan pada bronchitis dan pharingitis, bau-bauan, debu, gas, dan
perubahan suhu yang mendadak atau juga merupakan gejala dari penyakit TBC,
astma, atau kanker paru-paru.

Mekanisme terjadinya batuk yaitu :


1) Pernafasan dalam akan menutup glotis (bagian pangkal tenggorokan pada
pita suara).
2) Peningkatan tekanan intrapleura akan membuka glotis dan aliran udara
akan keluar dengan kecepatan tinggi dan terjadilah proses ekspirasi yang
cepat dan singkat (disebut juga ekspulsif). Derasnya aliran udara yang
sangat kuat dan cepat maka akan keluarlah benda asing dari saluran
pernafasan.

23
2) Bersin

Bersin bisa terjadi karena selaput lendir yang menyelimuti rongga hidung
terkena bahan-bahan iritan atau alergen sehingga timbullah bersin. Bisa juga karena
disebabkan oleh peradangan (rhinosinusitis), infeksi virus atau bakteri, alergi pada
suatu benda.

Mekaisme bersin:

Membran hidung mendeteksi adanya suatu bahan iritan, alergen, bakteri


atau virus dalam udara yang dihirup, maka udara tersebut akan dikeluarkan kembali
oleh hidung.

1) Pertama ada rangsangan di saluran pernafasan, baik yang normal mau pun
reaksi alergi.
2) Setelah itu ada sinyal syaraf memberi tahu otak pada pusat bersin di batang
otak bagian bawah, bahwa ada yang harus dikeluarkan dari saluran
pernafasan.
3) Sinyal saraf kemudian secara terus menerus secara sangat cepat dikirimkan
untuk menutup kerongkongan dan mata, melemaskan tenggorokan, dan
membuat otot pada dada dan diafragma berkontraksi.
4) Sebagai hasilnya; udara, ludah, dan lendir dipaksa keluar dari mulut dan
hidung; dan terjadilah bersin.

24
5) Aspirasi

Aspirasi adalah suatu keadaan dimana masuknya benda asing ke dalam


salurannafas yang menimbulkan obstruksi baik parsial maupun total
sehinggamenimbulkan gangguan pernafasan (sesak) yang berakibat pada kematian

Pada keadaan normal atau pada aspirasi dalam jumlah kecil, paru-paru
memiliki mekanisme pertahanan untuk mengeluarkannya, misalnya dengan batuk.
Aspirasi paru juga dapat mengakibatkan hal-hal berikut:

a. Infeksi bakteri yang dapat memicu terjadinya empiema, abses paru-paru,


dan gagal napas. Pneumonia aspirasi yang menetap dapat berkembang
menjadi bronkiektasis.
b. Pneumonitis kimia yaitu iritasi zat kimia terhadap jaringan paru yang dapat
memicu terjadinya gagal napas dan atau infeksi bakteri.
c. Obstruksi (penyumbatan) paru. Kondisi ini terjadi ketika benda asing yang
masuk ke dalam paru cukup banyak atau berukuran besar.

2.8.Hukum Fisika Yang Mendasari Proses Pernapasan


Hukum-hukum fisika yang berhubungan dengan pernafsan paru-paru
HUKUM LAPLACE

25
Tekanan di dalam alveolus berbanding lurus dengan besar tegangan
permukaan,namun berbanding terbalik dengan besar jejari atau volume alveolus.
Pernyataan inidinyatakan Laplace dalam sebuah Hukum yang diringkas dalam
sebauah persamaan,yaituLaplace juga menyatakan bahwa rahasia dibalik alveolus
tetap terkembang tanpameletus adalah adanya penyekat antar alveolus. Penyekat
menjaga antar alveolus tidak salingberhubungan. Hal ini penting agar alvelolus
tidak kolaps.Penyekat alveolus merupakan jaringan ikat yang menghasilkan gaya
recoil, sepertiotot. Gaya recoil tersebut menyebabkan paru memiliki elastisitas yang
tinggi. Gaya recoilmembatasi paru untuk terus mengembang saat inspirasi. Jaringan
ikat penyekat paruumumnya tidak bertambah banyak, namun dapat berkurang oleh
karena prosesdegenerasi (penuaan). Hal ini menyebabkan gaya recoil melemah
sehingga parukehilangan elastisitasnya dan molor saat inspirasi. Volume udara
yang mengisi parumeningkat melebihi batas normal. Masalah muncul saat
ekspirasi; volume udara yangbesar dikeluarkan secara bersamaan melalui jalan
napas yang mengecil saat ekspirasisehingga munculah keluhan sesak.Gaya recoil
dapat meningkat tanpa diikuti penambahan jumlah jaringan ikat penyekatalveolus.
Penyebabnya adalah munculnya jaringan parut atau cicatrix yang memilikikekuatan
tarikan lebih besar dari jaringan ikat penyekat itu sendiri. Jaringan parut
munculsebagai hasil akhir proses keradangan paru, misalnya TB paru dan
pneumonia. Alveolustak mampu mengembang maksimal oleh karena tertahan gaya
recoil yang besar sehinggasesak muncul saat inspirasi.

HUKUM OHM

Aliran udara masuk dan keluar paru berlangsung dengan tidak mudah karena
terdapattananan atau resistensi sepanjang jalan napas. Resistensi berbanding lurus
dengan besar tekanan udara di dalam jalan napas dan berbanding terbalik dengan
kecepatan alir udaramelewati jalan napas. Hal ini dinyatakan oleh Ohm melalui
hukum yang diringkas dalamsebuah persamaan berikutSesak napas dapat
disebabkan oleh peningkatan tekanan udara yang melalui jalannapas, seperti pada
kondisi emfisema dimana begitu besar tekanan udara di dalam parumelalui saluran
napas yang menyempit saat ekspirasi. Sebaliknya penurunan kecepatan alir
udarainsprasi menunjukan adanya resistensi yang besar terutama pada saluran
26
napasatas. Kondisi ini menunjukan adanya obstruksi, baik yang bersifat parsial
maupun total.Volume udara di dalam paru sulit dapat diketahui secara langsung.
Sebagian ahlimencoba menampung udara respirasi ke dalam sebuah kantong yang
ditemukan Douglas.Metode ini sangat membahayakan orang coba, sehingga
pengukran volume udararespirasi dilakukan dengan cara tidak langsung, yaitu
melalui alat yang disebut spirometer. Alat ini mencatat volume udara saat inspirasi
maupun ekspirasi dalam bentuk grafik yangmengikuti gerakan napas. Kelemahan
pengukuran menggunakan spirometer adalah tidakmampu mengukur volume residu
dan volume paru yang diperoleh belum menggambarkankondisi sebenarnya

2.9. Pusat Pengendalian Pernapasan Dalam Otak

Pusat kontrol pernapasan yang terletak di batang otak betangggung jawab untuk
menghasilkan pola bernapas yang berirama. Pusat control pernapasan primer, pusat
pernapasan medulla (medullary respiratory center), terdiri dari beberapa agregat
badan sel saraf di dalam medulla yang menghasilkan keluaran ke otot pernapasan.

Selain itu, terdapat dua pusat pernapasan lain yang lebih tinggi di batang otak
di pons-pusat apnustik dan pusat pneumotaksik. Pusat-pusat di pons ini
mempengaruhi keluaran dari pusat pernapasan medulla. Pengaruh Pusat Pneumatik
dan Apnustik pusat-pusat di pons menghasilkan pengaruh “Fine Tuning” pada
pusat medulla untuk membantu “mematikan” neuron inspirasi, sehingga durasi
inpirasi dibatasi. Sebaliknya, pusat apnustik mencegah neuron inpirasi dari proses
“Switch Off”, sehingga menambah dorongan inspirasi. Pada system check-and
balance ini pusat pneumotaksik lebih dominan daripada apnustik, membantu
inspirasi berhenti dan memungkinkan ekpirasi berlangsung normal. Tanpa rem
pneumotaksik, pola bernafas akan berupa inspirasi berkepanjangan yang mendadak
berhenti karena di selingi oleh ekpirasi. Pola bernafas abnormal ini di sebut apnusis,
dengan demikian, pusat yang bertanggung jawab untuk pola bernafas ini adalah
pusat apnustik. Apnusis dapat terjadi pada kerusakan otak jenis tertentu yang parah.

27
Bagian otak yang berperan dalam mengatur / mengendalikan pernapasan adalah
bagian meddula oblongata. Pengaturan pernapasan oleh persafan dilakukan oleh
korteks cerebri, medulla oblongata dan pons.

a. Korteks cerebri
Korteks cerebri berperan dalam pengaturan pernapan yang bersifat
volunter. Volunter pernapasan menghantarkan impuls pada neuron motorik
respirator dari jalan medulla mengakomodasi ketika bicara, renang, dan
makan. Sehingga memungkinkan kita bernapas dan menahan napas.
b. Medulla oblongata
Medulla oblongata yang terletak di batang otak berperan dalam
pernapasan automatik / spontan menghubungkan pons varolly dengan
medulla sprinalis. Berfungsi sebagai pengontrol automatik dan sinyal antara
saraf otak dan saraf tulang belakang, yang menghantarkan impuls dari
medulla dan otak. Medulla oblongata terdapat dua kelompok neuron yaitu;
dorsal respiratory group (DRG) yang terletak pada bagian dorsal medulla
dan ventral respiratory group (VRG) yang terletak pada ventro lateral
medulla. Keduanya berperan dalam pengaturan irama pernapasan.
c. Pons
Pons terdapat dua pusat pernapasan, yaitu pusat apneutik dan pusat
penumotaksis. Letak pusat apneutik di pormasio retikularis pons bagian
bawah. Pungsinya adalah mengkordinasi transisi antara inspirasi dan
ekspirasi dengan cara mengirimkan rangsangan impuls pada area inspirasi
dan menghambat ekspirasi. Sedangkan pusat penumotaksis terletak di pons
bagian atas. Yang menghambat aktipitas neuron inspirasi sehingga inspirasi
di hentikan dan terjadi ekspirasi. Pungsinya membatasi durasi inspirasi,
tetapi meningkatkan respirasi sehingga menjadi lebih halus dan teratur.

2.10. Proses Pengendalian Simpatis dan Parasimpatis Terhadap Pernafasan

Saraf simpatis berkinerja mendorong atau memacu kinerja organ-organ tubuh,


meski terdapat juga sejumlah aktifitas yang bertujuan untuk menghambat aktifitas
pada organ yang dilakukannya.

28
a. Mengalihkan aliran darah dari saluran gastro-intestinal (GI) dan kulit
melalui vasokonstriksi.
b. Aliran darah ke otot rangka dan paru-paru tidak hanya dipertahankan,
tapi ditingkatkan (sebanyak 1200 persen, dalam kasus otot rangka).
c. Melebarkan bronkiolus paru-paru, yang memungkinkan untuk
pertukaran oksigen alveolar yang lebih besar.
d. Meningkatkan denyut jantung dan kontraktilitas sel jantung (miosit),
sehingga memberikan suatu mekanisme untuk peningkatan aliran darah
untuk otot rangka.
e. Melebarkan pupil dan melemaskan lensa, memungkinkan lebih banyak
cahaya masuk ke mata.

Saraf parasimpatis memiliki mekanisme yaitu asosiasikan istilah rest-and-


digest.Hal ini disebabkan karena aktifitas syaraf para simpatik cenderung
berhubungan dengan pengaturan organ tubuh saat dalam posisi istirahat dan
membantu dalam mengendalikan proses pencernaan dan ekskresi.

a. Memperbesar pembuluh darah yang menuju ke saluran pencernaan,


meningkatkan aliran darah. Hal ini penting mendapat kecukupan konsumsi
makanan, karena tuntutan metabolik yang lebih besar ditempatkan pada
tubuh oleh usus.
b. Sistem saraf parasimpatis juga dapat menyempitkan diameter bronkiolar
ketika kebutuhan oksigen telah berkurang.
c. Selama akomodasi, sistem saraf parasimpatis menyebabkan penyempitan
pupil dan lensa.
d. Sistem saraf parasimpatis merangsang sekresi kelenjar ludah, dan
mempercepat gerak peristaltik, jadi, sesuai dengan fungsi istirahat dan
mencerna.
e. Juga terlibat dalam ereksi alat kelamin, melalui saraf splanknikus pelvis 2-
4.

29
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pernafasan atau respirasi suatu proses dari pengambilan oksigen,


pengeluaran kabohidrat hingga penggunaan energi dalam tubuh.

Manusia dalam bernafas menghirup oksigen dalam udara bebas dan


membuang karbondioksida ke lingkungan. Alat alat respirasi pada manusia adalah
rongga hidung, faring laring, trakea, paru paru, bronkiolus, dan alviolus. Pada
proses inspirasi dan ekspirasi, mekanisme pernafasan pada manusia di bagi atas
pernafasan dada dan pernafasan perut. Sedangkan faktor yang mempengaruhi
frekuensi pernafasan adalah umur, jenis kelamin, suhu tubuh, posisi tubuh.
Pernafasan atau pertukaran gas pada manusia berlangsung melalui dua tahap yaiti
respirasi eksternal dan respirasi internal. Serta ada beberapa gagngguan pada
sistem respirasi manusia.

3.2 Saran

Jagalah kesehatan organ pernafasan terutama pada paru paru dan organ
sistem pernafasan lainnya. Agar tidak terjadi gangguan pada sistem pernafasan kita,
hindarilah poludi udara dan gas gas beracun , dan terutama hindarilah sikap
merokok. Serta rawatlah paru paru (pulmo) agar tetap bersi, karena paru pru mudah
sekali terserang penyakit infeksi sehingga menimbulkan kerisakan jaringan

30
Daftar Pustaka

Pearce, Evelyn C. 2010. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT


Gramedia Pustaka Utama

Grant, Allison. 2011. Dasar – dasar Anatomi dan Fisiologi. Jakarta : Salemba
Medika

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisilogi untuk Pemula. Jakarta : EGC

31