Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

“Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sel Darah Putih


(Leukemia)”

Dosen : Bp Saka Suminar S.Kep M.Kes

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 7 :

 Septianing Yulistiani (13044)


 Sudarsih (13046)
 Sri Widi Hastuti (13095)
 Tiara Ersa L.T (13096)
 Yanang Febrianto (13050)
 Fajar Mahardhi (12012)

TINGKAT : II A

AKADEMI KEPERAWATAN INSAN HUSADA


SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
Asuhan keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sel Darah Putih
(Leukemia)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Leukemia berasal dari bahasa Yunani yaitu leukos yang berarti putih dan haima yang
berarti darah. Jadi leukemia dapat diartikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan oleh sel
darah putih. Proses terjadinya leukemia adalah ketika sel darah yang bersifat kanker
membelah secara tak terkontrol dan mengganggu pembelahan sel darah normal.

Di Indonesia kasus leukemia sebanyak ± 7000 kasus/tahun dengan angka kematian mencapai 83,6
% (Herningtyas, 2004). Data dari International Cancer Parent Organization (ICPO)
menunjukkan bahwa dari setiap 1 juta anak terdapat120 anak yang mengidap kanker dan 60
% diantaranya disebabkan oleh leukemia(Sindo, 2007). Data dari WHO menunjukkan bahwa
angka kematian di AmerikaSerikat karena leukemia meningkat 2 kali lipat sejak tahun 1971
(Katrin, 1997).Di Amerika Serikat setiap 4 menitnya seseorang terdiagnosa menderita
leukemia. Pada akhir tahun 2009 diperkirakan 53.240 orang akan meninggal dikarenakan
leukemia (TLLS, 2009).

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah.
2. Mengetahui Proses Terjadinya Leukemia.
3. Mengetahui Proses Asuhan Keperawatan pada Leukemia.

1.3 Manfaat Penulisan


Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak,
khususnya kepada mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang asuhan
keperawatan Leukemia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Medik

2.1.1 Pengertian Leukemia


Leukemia merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan proliferasi dini yang
berebihan dari sel darah putih.

Leukemia juga bisa didefinisikan sebagai keganasan hematologis akibat proses


neoplastik yang disertai gngguan diferensiasi pada berbagai tingkatan sel induk
hematopoietic.

2.1.2 Epidemiologi
Leukimia merupakan keganasan yang sering dijumpai tetapi hanya merupakan
sebagian kecil dari kanker secara keseluruhan.

2.1.3 Etiologi
Beberapa factor yang terbukti dapat menyebabkan leukemia :

1. Factor genetic
Insidensi leukemia akut pada anak-anak penderita sindrom down adalah 20 kli ebih
banyak dari normal. Kelainan pada kromosom 21 dapat menyebabkan leukemia akut.
Insidensi leukemia akut juga meningkat pada penderita kelainan congenital dengan aneuloidi,
misalnya agranulositosis congenital, sindrom ellis van grevelend, penyakit seliak, sindrom
bloom, anemia fanconi, sindrom klenefelter, dan sindrom trisomi D.

2. Sinar radioaktif
Sinar radioaktif merupakan factor eksternal yang paing jelas dapat menyebabkan
leukemia pada binatang maupun pada manusia. Angka kejadian leukemia mieloblastik akut
(AML) dan leukemia granulositik kronis (LGK) jelas sekali meningkat sesudah sinar
radioktif. Akhir-akhir ini dibuktikan bahwa penderita yang diobati dengan sinar radioaktif
akan menderita leukemia pada 6 % klien, dan baru terjadi sesudah 5 tahun.

3. Virus
Beberapa viru tertentu sudah terbukti menyebabakan leukemia pada binatang. Ada
beberapa hasil penelitian yang mendukung teori virus sebagai penyebabeukimia, yaitu
enzyme reverse transcriptase ditemukan daalam darah manusia.

2.1.4 Klasifikasi
Leukima dapat diklasifikasikan berdasarkan :
1. Maturasi sel
 Akut
 Kronis
2. Tipe sel asal
 Mielositik
 Limfositik
2.1.5 Patofisiologi
Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap
infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah, dapat dikontrol sesuai dengan
kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang
yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi
seperti biasanya. Sel leukemi memblok produksi sel darah normal, merusak kemampuan
tubuh terhadap infeksi. Sel leukemi juga merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang
termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada
jaringan.

Analisis sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal


yang terdapat pada pasien dengan leukemia. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan
angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur
termasuk translokasi (penyusunan kembali), delesi, inversi dan insersi. Pada kondisi ini, dua
kromosom atau lebih mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah
dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal.

Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih
mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut
seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel yang
kompleks). Translokasi kromosom mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel,
sehingga sel membelah tidak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini
menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang menghasilkan sel-sel
darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke dalam organ lainnya termasuk hati,
limpa, kelenjar getah bening, ginjal, dan otak.

2.1.6 Manifestasi Klinis


Gejala klinis dari leukemia pada umumnya adalah anemia, trombositopenia,
neutropenia, infeksi, kelainan organ yang terkena infiltrasi, hipermetabolisme.
a. Leukemia Limfositik Akut
Gejala klinis LLA sangat bervariasi. Umumnya menggambarkan kegagalan sumsum
tulang. Gejala klinis berhubungan dengan anemia (mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri
dada), infeksi dan perdarahan. Selain itu juga ditemukan anoreksi, nyeri tulang dan sendi,
hipermetabolisme.21 Nyeri tulang bisa dijumpai terutama pada sternum, tibia dan femur.
b. Leukemia Mielositik Akut
Gejala utama LMA adalah rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang disebabkan oleh
sindrom kegagalan sumsum tulang. perdarahan biasanya terjadi dalam bentuk purpura atau
petekia. Penderita LMA dengan leukosit yang sangat tinggi (lebih dari 100 ribu/mm3)
biasanya mengalami gangguan kesadaran, napas sesak, nyeri dada dan priapismus. Selain itu
juga menimbulkan gangguan metabolisme yaitu hiperurisemia dan hipoglikemia.
c. Leukemia Limfositik Kronik
Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. Penderita LLK yang mengalami
gejala biasanya ditemukan limfadenopati generalisata, penurunan berat badan dan kelelahan.
Gejala lain yaitu hilangnya nafsu makan dan penurunan kemampuan latihan atau olahraga.
Demam, keringat malam dan infeksi semakin parah sejalan dengan perjalanan penyakitnya.
d. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik
LGK memiliki 3 fase yaitu fase kronik, fase akselerasi dan fase krisis blas. Pada fase
kronik ditemukan hipermetabolisme, merasa cepat kenyang akibat desakan limpa dan
lambung. Penurunan berat badan terjadi setelah penyakit berlangsung lama. Pada fase
akselerasi ditemukan keluhan anemia yang bertambah berat, petekie, ekimosis dan demam
yang disertai infeksi.

2.1.7 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan Darah Tepi
Pada penderita leukemia jenis LLA ditemukan leukositosis (60%) dan kadang-kadang
leukopenia (25%). Pada penderita LMA ditemukan penurunan eritrosit dan trombosit. Pada
penderita LLK ditemukan limfositosis lebih dari 50.000/mm3, sedangkan pada penderita
LGK/LMK ditemukan leukositosis lebih dari 50.000/mm3.
2. Pemeriksaan Sumsum Tulang
Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan keadaan
hiperselular. Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia (blast), terdapat
perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa sel antara (leukemic gap).
Jumlah blast minimal 30% dari sel berinti dalam sumsum tulang. Pada penderita LLK
ditemukan adanya infiltrasi merata oleh limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari total sel yang
berinti. Kurang lebih 95% pasien LLK disebabkan oleh peningkatan limfosit B. Sedangkan
pada penderita LGK/LMK ditemukan keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah
megakariosit dan aktivitas granulopoeisis. Jumlah granulosit lebih dari 30.000/mm3.

2.1.8 Penatalaksanaan
a. Kemoterapi
 Kemoterapi pada penderita LLA
 Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian besar sel-sel
leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi induksi kemoterapi biasanya
memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena obat menghancurkan banyak sel
darah normal dalam proses membunuh sel leukemia. Pada tahap ini dengan memberikan
kemoterapi kombinasi yaitu daunorubisin, vincristin, prednison dan asparaginase.
 Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi intensifikasi yang bertujuan
untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga timbulnya sel
yang resisten terhadap obat. Terapi ini dilakukan setelah 6 bulan kemudian.
 Tahap 3 ( profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP. Perawatan yang
digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang lebih rendah. Pada tahap ini
menggunakan obat kemoterapi yang berbeda, kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi
radiasi, untuk mencegah leukemia memasuki otak dan sistem saraf pusat.
 Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)
Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi. Tahap ini biasanya
memerlukan waktu 2-3 tahun.

Angka harapan hidup yang membaik dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak hanya
95% anak dapat mencapai remisi penuh, tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar 80% orang
dewasa mencapai remisi lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka panjang,
yang dicapai dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.

 Kemoterapi pada penderita LMA


 Fase induksi
Fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif, bertujuan untuk mengeradikasi
sel-sel leukemia secara maksimal sehingga tercapai remisi komplit. Walaupun remisi komplit
telah tercapai, masih tersisa sel-sel leukemia di dalam tubuh penderita tetapi tidak dapat
dideteksi. Bila dibiarkan, sel-sel ini berpotensi menyebabkan kekambuhan di masa yang akan
datang.
 Fase konsolidasi
Fase konsolidasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari fase induksi. Kemoterapi
konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa siklus kemoterapi dan menggunakan obat dengan
jenis dan dosis yang sama atau lebih besar dari dosis yang digunakan pada fase induksi.

Dengan pengobatan modern, angka remisi 50-75%, tetapi angka rata-rata hidup masih 2
tahun dan yang dapat hidup lebih dari 5 tahun hanya 10%.

 Kemoterapi pada penderita LLK


Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan strategi terapi dan prognosis.
Salah satu sistem penderajatan yang dipakai ialah klasifikasi Rai:
· Stadium 0 : limfositosis darah tepi dan sumsum tulang
· Stadium I : limfositosis dan limfadenopati.
· Stadium II : limfositosis dan splenomegali/ hepatomegali.
· Stadium III : limfositosis dan anemia (Hb < 11 gr/dl).
· Stadium IV: limfositosis dan trombositopenia <100.000/mm3dengan/tanpa gejala
pembesaran hati, limpa, kelenjar.
Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena tujuan terapi bersifat
konvensional, terutama untuk mengendalikan gejala. Pengobatan tidak diberikan kepada
penderita tanpa gejala karena tidak memperpanjang hidup. Pada stadium I atau II,
pengamatan atau kemoterapi adalah pengobatan biasa. Pada stadium III atau IV diberikan
kemoterapi intensif.

Angka ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6 tahun dan 25% pasien dapat hidup
lebih dari 10 tahun. Pasien dengan sradium 0 atau 1 dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun.
Sedangkan pada pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat bertahan hidup kurang dari
2 tahun.
 Kemoterapi pada penderita LGK/LMK
 Fase Kronik
Busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan yag mampu menahan pasien bebas
dari gejala untuk jangka waktu yang lama. Regimen dengan bermacam obat yang intensif
merupakan terapi pilihan fase kronis LMK yang tidak diarahkan pada tindakan transplantasi
sumsum tulang.
 Fase Akselerasi,
Sama dengan terapi leukemia akut, tetapi respons sangat rendah.

b. Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia.
Sinar berenergi tinggi ini ditujukan terhadap limpa atau bagian lain dalam tubuh tempat
menumpuknya sel leukemia. Energi ini bisa menjadi gelombang atau partikel seperti proton,
elektron, x-ray dan sinar gamma. Pengobatan dengan cara ini dapat diberikan jika terdapat
keluhan pendesakan karena pembengkakan kelenjar getah bening setempat.

c. Transplantasi Sumsum Tulang


Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti sumsum tulang yang rusak
dengan sumsum tulang yang sehat. Sumsum tulang yang rusak dapat disebabkan oleh dosis
tinggi kemoterapi atau terapi radiasi. Selain itu, transplantasi sumsum tulang juga berguna
untuk mengganti sel-sel darah yang rusak karena kanker. Pada penderita LMK, hasil terbaik
(70-80% angka keberhasilan) dicapai jika menjalani transplantasi dalam waktu 1 tahun
setelah terdiagnosis dengan donor Human Lymphocytic Antigen (HLA) yang sesuai. Pada
penderita LMA transplantasi bisa dilakukan pada penderita yang tidak memberikan respon
terhadap pengobatan dan pada penderita usia muda yang pada awalnya memberikan respon
terhadap pengobatan.

d. Terapi Suportif
Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yag ditimbulkan penyakit
leukemia dan mengatasi efek samping obat. Misalnya transfusi darah untuk penderita
leukemia dengan keluhan anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan dan
antibiotik untuk mengatasi infeksi.
Proses Keperawatan Klien Dengan Leukemia
1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan pada klien dengan leukemia adalah sebagai berikut:
1. Riwayat pemajanan pada factor-faktor pencetus, seperti pemajanan pada dosis besar
radiasi, obat-obatan tertentu secara kronis, dan riwayat infeksi virus kronis.

2. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan manifestasi :


Pembesaran sumsum tulang dengan sel-sel leukemia yang seanjutnya menekan fungsi
sumsum tulang, sehingga menyebabkan beberapa gejala dibawah ini :
· Anemia : penurunan berat badan, kelelahan, pucat, malaise, kelemahan, dan anoreksia
· Trombositopenia : perdarahan gusi, mudah memar, petekie, dn ekimosis
· Netropenia : demam tanpa adany infeksi, berkeringat malam hari
Infiltrasi organ lain dengan sel-sel leukemia yang menyebabkan beberapa gejala
seperti hepatomegali, splenomegali, limfadenopati, nyeri tulang dan sendi, serta hifertropi
gusi.

2. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic yang dilakukan pada klien dengan leukemia adalah sebagai
berikut :
1. Darah lengkap : menunjukan adanya penurunan hemoglobin, hematokrit, jumlah sel darah
merah dan trombosit. Jumlah sel darah putih meningkat pada leukemia kronis, tetapi juga
dapat turun, normal, atau tinggi pada leukemia akut
2. Aspirasi umsum tulang dan biopsy memberikan data diagnostic definitive
3. Asam urat serum meningkat karena pelepasan oksipurin setelah keluar masuknya sel-sel
leukemia cepat dan penggunaan obat sitotoksin
4. Sinar X dada : untuk mengetahui uasnya penyakit
5. Profil kimia, EKG, dan kultur specimen : untuk menyingkirkan masalah atau penyakit lain
yang timbul

3. Diagnosis Keperawatan
Berdasarkan data dasar pengkajian , diagnostic keperawatan yang muncul adalah sebagai
berikut :
1. Nyeri b.d infiltrasi leukosit jaringan sistemik.
2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perubahan proliferative gastrointestinal
dan efek toksik obt kemoterapi.
3. Kelemahan b.d anemia
4. Berduka b.d kehilangan kemungkinan terjadi karena perubahan peran dan fungsi diri
5. Gangguan integritas kulit : alopesia b.d efek toksik kemoterpi
6. Gangguan gambarandiri b.d perubahan penampilan dalam fungsi dan peran

Dx Kep. I : Nyeri b.d infiltrasi leukosit jaringan sistemik


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri akan berkurng
Kriteria Evaluasi
1. Melaporkan penurunan tingkat nyeri
2. Menjelaskan bagaiana keletihan dan ketakutan memengaruhi nyeri
3. Menerima medikasi nyeri sesuai dengan yang diresepkan
4. Menunjukan penurunan tand-tanda fisik dan perilaku tentang nyeri
5. Mengambil peran aktif dalam pemberian analgetik
6. Mengidentifikasi strategi peredaan nyeri
Intervensi Keperawatan
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji karakterisik nyeri : lokasi, kualitas, 1. Memberikan dasar untuk mengkaji
frekuensi, dan durasi perubahan pada tingkat nyeri dan
mengevaluasi intervensi
2. Tenangkan klien bahwa anda mengetahui 2. Rasa takut bahwa nyerinya tidak dianggap
nyeri yang dirasakan nya adlah nyata dan nyata dapat meningkatkan ansietas dan
bahwa anda akan membantu klien dalam mengurangi toleransi nyeri
mengurangi nyeri tersebut
3. Kaji factor lain yang menunjang nyeri, 3.Memberikan data tentang factor-faktor
keletihan, dan marah klien yang menurunkan kemampuan klien untuk
menoleransi nyeri dan meningkatkan tigkat
nyeri klien
4. Berikan analgetik untuk meningkatkan 4.Analgetik cenderung lebih efektif ketika
peredaan nyeri optimal dalam batas resep diberikan secara dini pada siklus nyeri
dokter
5. Kaji respons prilaku klien terhadap nyeri 5.Memberikan informasi tambahan tentang
dan pengalaman nyeri nyeri klien
6. Kolaborasikan dengan klien, dokter, dan 6.Metode baru pemberian analgetik harus
tim perawatan kesehatan lain ketika mengubh dapat diterima klien, dokter, dan tim
penatalaksanaan nyeri diperlukan perawatan kesehatan lain agar dapat efektif,
partisipasi klien menurunkan rasa
ketidakberdayaan klien
7. Berikan dukungan penggunaan strategi 7.Memberikan dorongan strategi peredaan
pereda nyeri nyeri yang dapat diterima klien dan keluarga

Dx Kep. II : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan efek
toksik obat kemotrapi.
Tujuan : Mengurangi mual muntah sebelum, selama dan sesudah pemberian kemotrapi.

Kriteria Evaluasi
Berikut ini adalah hal-hal yang harus dilakukan pada klien dengan masalah nutrisi.
1. Melaporkan penurunan mual
2. Melporkan penurunan muntah
3. Mengkonsumsi cairan dan makanan yang adekuat.
4. Menunjukkan penggunaan distraksi, relaksasi, dan imajinasi ketika diinndikasikann.
5. Menunjukan turgor kulit normanl dan membran nukosa yang lembab.
6. Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan.

Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan pada klien ini bertujuan agar rasa mual dan muntah klien dapat
berkurang. Cara yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

Intervensi Rasional
1.Sesuaikan diet sebelum dan sesudah 1.Setiap klien berespons secara berbeda
pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan terhadap makanan setelah kemoterapi,
toleraansi klien. makanan kesukaan dapat meredakan mual
dan muntah klien.
2.Cegah pandangan, bau, dan bunyi – bunyi 2. Sensasi tidak menyenangkan dapat
yang tidak menyenangkan di lingkungan. menstimulasi pusat mual dan muntah.
3.Gunakan distraksi, relaksasi, dan imajinasi 3. Menurunkan ansiestas yang dapat
sebelum dan sesudah kemoterapi menunjang mual dan muntah
4.Berikan antiemetik, sedatif, dan 4. Kombinasi terapi obat berupaya untuk
kortikosteroid yang direserpkan mengurangi mual muntah melalui kontrol
berbagai faktor pencetus
5.Pastikan hidrasi cairan yang adekuat 5. volume cairan yang adekuat akan
sebelum, selama, dan sesudah pemberian mengencerkan kadar obat, mengurangi
obat. Kaji intake dan output cairan. stimulasi reseptor muntah.
6.Berikan dukungan kepada klien agar dapat 6. mengurangi rasa kecap yang tidak
menjaga personal higiene dengan baik. menyenangkan
7.Berikan tindakan pereda nyeri jika di 7. Meningkatkan rasa nyaman akan
perlukan meningkatkan toleransi fisik terhadap gejala
yang dirasakan.

Dx Kep. III : Kelemahan yang berhubungan dengan anemia.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan terjadi penurunan tingkat keletihan

Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi pada klien dengan masalah nyeri adalah bila didapatkan adanya hal – hal
berikut ini.
1. Melaporkan penurunan tingkat keletihan
2. Meningkatkan keikutsertaan dalam akivitas secara bertahap
3. Istirahat ketika mengalami keletihan
4. Melaporkan dapat tidur lebih baik
5. Melaporkan energi yang adekuat untuk ikut serta dalam aktivitas
6. Mengonsumsi diet dengan masukan protein dan kalori yang di anjurkan

Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan pada klien ini bertujuan agar kelemahan klien berkurang dan klien
dapat melakukan aktivitanya dengan baik.

Intervensi Rasional
1.Berikan dorongan untuk istirahat beberapa 1.Selama istirahat, energi dihemat dan
periode selama siang hari, terutama sebelum tingkat energi di perbaharu. Beberapa kali
dan sesudah latihan fisik. periode istirahat singkat mungkin lebih
bermanfaat di bandingkan satu kali periode
istirahat yang panjang
2.Tingkatkan jam tidur total pada malam 2.Tidur membantu untuk memulihkan
hari tingkat energi
3.Atur kembali jadwal setiap hari dan atur 3.Pengaturan kembali aktivitas dapat
aktivitas untuk menghemat pemakaian mengurangi kehilangan energi dan
energi mengurangi stresor
4.Berikan masukan protein dan kalori yang 4.Penipisan kalori dan protein menurunan
adekuat toleransi aktivitas
5.Berikan dorongan untuk teknik relaksasi 5.Peningkatan relaksasi dan istirahat
psikologis dapat menurunkan keletihan
fisik
6.Kolaborasi pemberian produk darah sesuai 6. Penurunan hemoglobin akan
yang di resepkan mencetuskan klien pada keletihan akibat
penurunan ketersediaan oksigen
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan

Leukemia berasal dari bahasa Yunani yaitu leukos yang berarti putih dan haima yang
berarti darah. Jadi leukemia dapat diartikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan oleh sel
darah putih. Proses terjadinya leukemia adalah ketika sel darah yang bersifat kanker
membelah secara tak terkontrol dan mengganggu pembelahan sel darah normal.
Leukemia ada 4 jenis berdasarkan asal dan kecepatan perkembangan sel kanker yaitu
Leukemia Mieloblastik Akut (LMA), Leukemia Mielositik Kronik (LMK), Leukemia
Limfoblastik Akut (LLA), dan Leukemia Limfositik Kronik (LLK) (Medicastore, 2009).
Gejala – gejala yang dirasakan antara lain anemia,wajah pucat, sesak nafas, pendarahan gusi,
mimisan, mudah memar, penurunan berat badan, nyeri tulang dan nyeri sendi.
Di Indonesia kasus leukemia sebanyak ± 7000 kasus/tahun dengan angkakematian mencapai 83,6 %
(Herningtyas, 2004). Data dari International Cancer Parent Organization (ICPO)
menunjukkan bahwa dari setiap 1 juta anak terdapat120 anak yang mengidap kanker dan 60
% diantaranya disebabkan oleh leukemia(Sindo, 2007). Data dari WHO menunjukkan bahwa
angka kematian di Amerika Serikat karena leukemia meningkat 2 kali lipat sejak tahun 1971
(Katrin, 1997).Di Amerika Serikat setiap 4 menitnya seseorang terdiagnosa menderita
leukemia.Pada akhir tahun 2009 diperkirakan 53.240 orang akan meninggal dikarenakan
leukemia (TLLS, 2009).
Kemoterapi merupakan jenis pengobatan yang menggunakan obat-obatan
untuk membunuh sel-sel leukemia, tetapi juga berdampak buruk karena membunuh sel-sel
normal pada bagian tubuh yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

Handayani, Wiwik dan Andi Sulistyo Haribowo. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pada
Klien Dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika.

http://bantarmerak64.blogspot.com/2013/04/asuhan-keperawatan-leukemia-pada-anak.html
diakses tanggaal 04 Oktober 2013.