Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Besi cor sebagai logam dari kelompok paduan besi, termasuk logam
yang relative sulit dila. Sulit dalam arti bukan tidak terjadi sambungan,
akan tetapi lebih pada terjadi retakan di ekitar logam las dan logam induk
yang dilas. Kendala itu lebih banyak disebabkan oleh karakteristik dari besi
cor itu sendiri. Logam – logam paduan besi yang banyak mengandung
karbon (lebih dari 0,3%) relative lebih sulit dilas. Oleh karena itu, perlu
pemilihan teknologi pengelasan yang tepat untuk melakukan pengelasan
terhadap besi cor.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui metode
pengelasan dan teknologi pengelasan yang tepat untuk besi cor.

1.3 Ruang Lingkup Materi


Pengelasan (welding) adalah salah satu teknik penyambungan
logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dengan atau tanpa
tekanan dan dengan atau tanpa logam tambah (filler metal) dan
menghasilkan sambungan yang kontinu. Berbeda jenis material yang akan
dilas, akan berbeda pula teknologi pengelasan yang digunakan. Dalam
makalah ini akan dibahas metode dan teknologi pengelasan yang tepat
untuk besi cor.
BAB II

TEORI DASAR

2.1 Besi Cor

Besi cor memiliki kandungan karbon dan silikon yang lebih tinggi dari baja,
karena tingginya kandungan karbon, sehingga strukturnya berlawanan dengan
baja, ditunjukkan dengan fasa kaya karbon.Daerah komposisi kimia ditetapkan
dalam diagram keseimbangan Fe-C pada batas kelarutan karbon pada besi,
yaitu mengandung 2% karbon atau lebih, tetapi besi cor yang sesungguhnya
terdiri dari panduan yang mengandung unsur Si, Mn, P, S dan unsur -unsur
lainnya, walaupun sebenarnya masih mengandung unsur-unsur tersebut namun
pengaruhnya tidak terlalu besar. Terkadang untuk tujuan tertentu unsur -unsur
paduan lainnya ditambahkan untuk meningkatkan sifat mekanik tergantung dari
aplikasi penggunaannya. Pada tabel di bawah ini akan disajikan komposisi dari
besi cor.

Tabel 2.1 Komposisi Kandungan Besi Cor ( Heine 1981)

Besi cor mempunyai lapisan yang mengandung grafit berbentuk flake


(serpihan) sehingga mempunyai kekuatan tarik yang tidak begitu tinggi dan
keuletannya sangat rendah sehingga tidak dapat dibentuk selain dengan proses
pengecoran dan permesinan. Bila pada besi cair ditambahkan sedikit
magnesium atau serium, maka grafitnya akan berubah menjadi bulat ( spheroid)
yang mempunyai keuletan lebih tinggi.
Tabel 2.2 Klasifikasi P atahan, S truktur Mikro Besi Cor (Metal
Handbook,1990)

Besi cor dapat diklasifikasikan menurut kadar karbon dan silikon yang

Dikandungnya, yaitu :

2.1.1 Besi Cor Kelabu (Gray Cast Iron)


Besi cor kelabu adalah besi cor yang kandungan karbonnya
bervariasi antara 2,5% - 4% sementara kandungan silikon antara 1% - 3%.
Sebagian besar grafit yang terbentuk pada besi cor jenis ini adalah
serpihan (flakes), yang sekitarnya dilingkupi matrik ferit atau perlit. Secara
umum bentukmikrostruktur besi cor kelabu tidak selalu sama, hal ini
dipengaruhi olehkomposisi atau pengaruh dari perlakuan panas.
Tabel 2.3 Sifat Mekanis Besi Cor Kelabu (ASM volume 1, 2005)
2.1.2 Besi Cor Putih (White Cast Iron)
Besi cor putih mempunyai kandungan silikon di bawah 1%, karbon
antara 2,8 – 3,6 %. merupakan paduan besi dan karbon dengan waktu
pendinginan yangcepat dan mempunyai fasa sementit sehingga
mempunyai karakteristik yang kerastetapi sangat rapuh, serta tidak
terbentuk grafit seperti besi cor lainnya karenaunsur silikonnya rendah dan
tingginya laju pendinginan dan warna patahannyaberwarna putih,
sehingga dinamakan besi cor putih.
2.1.3 Besi Cor Nodular (Ductile Iron)
Penambahan magnesium dan atau serium (saat fasa cair belum
terbentukgrafit atau sementit) terhadap besi ketika dalam fasa cair dapat
menyebabkan karbon yang terbentuk dalam besi berubah bentuk yang
semula serpihan menjadi bulat. Dan perubahan ini menimbulkan karakter
keuletan (ductility) dari besi cor meningkat.
2.1.4 Besi Cor Mampu Tempa (Malleable Cast Iron)
Pada umumnya besi cor mampu tempa merupakan besi cor putih
yang sudah mengalami perlakuan panas pada temperatur 800o C dan
900o C sehingga menyebabkan dekomposisi pada sementit membentuk
grafit yang menyebar dikelilingi oleh matrik ferit atau perlit bergantung
pada laju pendinginannya. Besi cor mampu tempa mempunyai sifat yang
mirip dengan besi cor nodular yaitu keras tetapi ulet karena hasil dari
kombinasi grafit nodular dan matrik logam yang rendah karbon. Karena
sifatnya yang ulet, maka pada besi cor mampu tempa dapat dilakukan
proses pemesinan. Besi cor mampu tempa banyak digunakan untuk
membuat benda-benda yang memerlukan ketahanan bentur yang besar.
Gambar 2.1 Diagram Fasa
Dari Gambar 2.3 diagram fasa besi -karbon (Fe–C) di atas,
koordinat aksismenunjukkan kandungan karbon hanya mencapai 6,67%
(berat), pada konsentrasi tersebut terbentuk besi karbida atau sementit
(Fe3C). Pada prakteknya, semua baja dan besi cor mempunyai
kandungan karbon kurang dari 6,67%. Besi dengan kadar karbon melebihi
2% digolongkan ke dalam besi cor jika kurang dari 2% maka termasuk
golongan baja.
2.2 Pengelasan (welding)
Pengelasan adalah proses penyambungan logam yang menghasilkan
gabungan dari logam dengan melakukan pemanasan pada temperatur yang
cocok, dengan atau tanpa penggunaan tekanan, dan dengan atau tanpa
pengisi material.
Dalam pengelasan, terdapat beberapa istilah :
1. Daerah logam las
Daerah logam las adalah bagian dari logam yang pada waktu
pengelasan mencair dan kemudian membeku. Komposisi logam las
terdiridari komponen logam induk dan bahan tambah dari elektroda.
2. Daerah pengaruh panas atau heat affected zone (HAZ)

Daerah pengaruh panas atau heat affected zone (HAZ) adalah


logam dasar yang bersebelahan dengan logam las yang selama proses
pengelasan mengalami siklus termal pemanasan dan pendinginan cepat.

3. Logam induk
Logam induk adalah bagian logam dasar di mana panas dan suhu
pengelasan tidak menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan struktur
dan sifat. Disamping ketiga pembagian utama tersebut masih ada
satudaerah pengaruh panas, yang disebut batas las.

Base metal Base metal

Gambar 2.2 zona-zona pada pengelasan

2.2.1 SMAW (Sheilded Metal Arc Welding)


SMAW merupakan suatu teknik pengelasan dengan menggunakan
arus listrik berbentuk busur arus dan elektroda berselaput. Tipe-tipe lain
dari pengelasan dengan busur arus listrik adalah submerged arc welding
SAW, gas metal arc welding GMAW-MIG, gas tungsten arc welding G dan
plasma arc.
Di dalam pengelasan SMAW ini terjadi gas penyelimut ketika
elektroda terselaput itu mencair, sehingga dalam proses ini tidak
diperlukan tekanan/pressure gas inert untuk mengusir oksigen atau udara
yang dapat menyebabkan korosi atau gelembung-gelembung didalam
hasil las-lasan. Prose pengelasan terjadi karena arus listrik yang mengalir
diantara elektroda dan bahan las membentuk panas sehingga dapat
mencapai 3000 oC, sehingga membuat elektroda dan bahan yang akan
dilas mencair. Berdasarkan jenis arus-nya, pengelasan ini dibagi atas arus
AC dan DC, dimana arus DC dibedakan atas Straight polarity- polaritas
langsung dan Reverse polarity - polaritas terbalik. Sedang mesin lasnya
terbagi atas dua jenis yaitu constant current - arus tetap dan constant
voltage - tegangan tetap, dimanapada setiap pengelasan busur arus listrik
jika terjadi busur yang membesar akan menurunkan arus dan menaikkan
tegangan serta pada busur yang memendek akan meningkatkan arus dan
menurunkan tegangan.

Gambar 2.2 Las SMAW

Pada proses las elektroda terbungkus,busur api listrik yang terjadi


antara ujung elektro danlogam induk (base metal) akan menghasilkan
panas. Panas inilah yang mencairkan ujungelektroda (kawat las) dan
benda kerja secara setempat. Dengan adanya pencairan ini maka
kampuh las akan terisi oleh logam cair yang berasal dari elektroda dan
logam induk, terbentuklah kawah cair, lalu membeku maka terjadilah
logam lasan (weldment) dan terak (slag).
2.2 Proses pengelasan Pada Besi Cor
Untuk mengelas besi cor kelabu digunakan proses pengelasan SMAW
dengan menggunakan logam las atau logam pengisi dari jenis besi cor kelabu
dengan kadar Si yang sangat tinggi (Super silicon cast iron) dengan jenis flux
yang terdiri dari borat, soda ash, sedikit ammonium sulfat dan oksida besi. selain
itu kadang-kadang digunakan logam las yang menganduing Nikel atau bahkan
Nikel murni.
Pada pengelasan besi cor, untuk menghindari terjadinya pengerasan pada
daerah pengaruh panas dan untuk menghilangkan tagangan sisa pada
pengelasan pelat tebal, dilakukan pemanasan awal. Pemanasan kemudian atau
dalam hal las lapis banyak diusahakan menahan suhu pengelasan sehingga
pendinginan tidak berjalan terlalu cepat.
Tabel 2.3 Suhu Pemanasan awal pengelasan besi cor

Aspek yang paling penting dari pengelasan besi cor adalah memiliki
permukaan bersih dan bebas dari cacat sebelum pengelasan, karena hasil
coran kemungkinan akan diresapi dengan minyak atau lemak. Semua
kontaminasi permukaan harus dihapus dengan pelarut, pembersih
komersial, atau Penghilang cat. Casting skin harus dihapus dari
permukaan yang akan dilas.
Minyak atau zat terbang lainnya dapat dihilangkan dengan
menggunakan pengoksidasi oxy-acetylene untuk memanaskan casting
atau alur las sekitar 900 F selama sekitar 15 menit dan kemudian kawat
menyikat, grinding atau mengisi rotary untuk menghilangkan residu.
Metode ini memiliki keuntungan dari de-gassing casting dan menghapus
beberapa grafit permukaan juga.
Untuk memperbaiki coran retak, melubangi bor di setiap akhir retak
untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan merambat ke bawah.
Memulai pengelasan pada akhir retakan.
Casting yang harus mengalami beban kerja yang cukup berat sering
memiliki sambungan las dengan cara mekanis, seperti tali baut, atau
lingkaran yang menyusut. Ini kemudian ditutupi dengan logam las dan
membangun dimensi yang diperlukan.
Pengelasan besi tuang akan berhasil baik apabila factor-faktor di
bawah ini dapat diminimalkan. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Tegangan pendinginan (cooling stresses)
Bahan las cenderung mengerut sewaktu mendingin. Proses pengkerutan
ini biasanya lebih besar dibanding pengkerutan pada bahan induk besi
tuang.Karena sifat besi tuang yang getas, tegangan pengkerutan yang
terjadi pada bahan las harus ditanggulangi untuk menghindari keretakan.
Penganggulangan tegangan pengkerutan dilaksanakan dengan
menggunakan parameter las yang benar, misalnya dengan :
a. Pengelasan dengan stringer pendek (kurang dari 30mm).
b. Ampere rendah
c. Urutan pengelasan yang benar

Makin sedikit daerah yang mendingin, makin kecil tegangan


pendinginnya. Pengelasan dengan teknik mengayun memperluas daerah
yang terpanaskan sehingga makin luas daerah yang membeku kembali,
sehingga akan menambah tegangan pendinginan.
Pengelasan dengan lajur berganda (multi layer) akan memanaskan
kembali lajur yang telah mendingin sehingga karenanya membuang
sebagian tegangan yang terbentuk pada pengelasan terdahulu.Akan
halnya pengelasan pelat tipis, untuk mengurangi masukan panas,
pengelasan dilaksanakan secara vertical turun dengan menggunakan
elektroda OK 92.60.
d. Cara selanjutnya untuk menurunkan tegangan sisa dalam bahan las
atau tegangan pendinginan dapat digunakan bahan las yang lunak
(dakktil) dengan tegangan yield rendah.
e. Tegangan yield suatu bahan biasanya menurun dengan meningkatkan
suhu. Karenanya apabila tegangan pendinginan yang berasal dari
pengelasan dapat diakomodasikan sepenuhnya dalam bahan las pada
suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar, maka tegangan sisa akan lebih
kecil. Itulah sebabnya pemanasan awal akan menurunkan pengaruh
tegangan pendinginan.
f. Peening, akan menimbulkan tegangan kompresi dalam bahan las
sewaktu pengelasan dan bukan tegangan tarik, sehingga merupakan cara
terefektif untuk menghilangkan kemungkinan retak dalam pengelasan besi
tuang.

2. Bentuk yang tidak beraturan


Pengecoran besi tuang biasanya di desain untuk kekakuan (rigity).
Ditambah dengan sifatnya yang getas, maka pengkerutan ini dapat
menyebabkan keretakan.Karena sifatnya lunak, besi tuang SG tidak peka
terhadap retak pengkerutan. Untuk menghindari keretakan pada bagian ini
yang disebabkan oleh tegangan pengkerutan (contractional stress) akibat
pengelasan, sebaiknya dilaksanakan pemuaian terlebih dahulu bagian
yang akan dilas dengan pemanasan awal, sehingga dapat mengimbangi
tegangan pengkerutan yang akan terjadi.
Pemanasan awal ini disebut pemanasan awal tidak langsung. Jika
prosedur ini digunakan, sebaiknya laksanakan pemanasan dengan suhu
rendah pada permukaan yang luas, daripada pemanasan awal dengan
suhu yang lebih tinggi pada permukaan yang sempit/ kecil.
Namun demikian pemanasan awal dengan suhu yang lebih tinggi
masih diperlukan juga pada bagian yang akan dilas apabila diperlukan
sambungan las yang kemudian masih dapat dibentuk dengan mesin
(lunak).
Pemanasan awal harus dilaksanakan secara perlahan agar suhu
dapat merata ke seluruh benda kerja. Suhu pemanasan awal biasanya
sekitar 600 derajat Celcius. Makin rumit bentuk tuangan, makin diperlukan
pemanasan awal yang merata sebelum pengelasan.

3. Pengerasan di daerah HAZ


Daerah terimbas panas (H.A.Z) dekat bahan las yang akan
mengeras sewaktu pengelasan karena kandungan karbonnya yang tinggi.
Kekerasan dari bagian yang tidak cair dari daerah terimbas panas
tergantung pada kecepatan penginginan dan luasan yang terkena
masukan panas.
Bagian HAZ yang dekat dengan garis fusi sebagian terdiri dari
logam yang mencair. Struktur mikro zona ini sangat rumit yang merupakan
campuran antara martensit, autenit, primary carbide, dan lederburite yang
mengelilingi nodules graphite yang larut sebagian atau keeping-keping
grafit (flake). Bagian ini merupakan bagian yang terkeras dari sambungan
las.
Luas dan tingkat kekerasan dari zona ini tergantung pada penggunaan
suhu tertinggi, masukan panas, dan laju pendinginan selama
pengelasan.Berhubung suhu tertinggi hampir sama dalam setiap
pengelasan SMAW apapun bahan lasnya, maka sifat sambungan las
tersebut tergantung pada masukan panas dan laju pendinginan.
Untuk menurunkan kekerasan pada daerah HAZ diperlukan
pemanasan awal hingga 500 derajat Celcius. Untuk mengurangi
kekerasan pada garis fusi (partly remelted zone), saat pencapaian suhu
tertinggi, sewaktu pengelasan, dipersingkat dengan menggunakan ampere
rendah.

4. Penyerapan unsur carbon (C pick up) dari bahan induk


Dilusi dengan bahan induk akan menyebabkan penyerapan unsur
karbon dalam bahan las dari bahan induk, dan juga akan menyebabkan
peningkatan kandungan sulfur dan fosfor dalam bahan las apabila unsur
tersebut terdapat dalam besi tuang.
Adapun cara memperkecil penyerapan karbon tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Menggunakan kombinasi pemanasan awal dengan pendinginan
lambat. Hal ini lebih penting apabila digunakan elektroda berbasis
Ferrum.
b. Menggunakan bahan las yang penyerapan karbonnya tidak
berpengaruh buruk, misalnya dengan menggunakan bahan las
berbasis nikel.

5. Penyerapan minyak (Impregnation) oleh besi tuang


Minyak dapat terserap oleh grafit dan lubang-lubang mikro dalam
besi tuang sehingga meresap jauh ke dalam bahan tersebut. Sewaktu
pengelasan, minyak ini menguap dan menyebabkan porosity dalam bahan
las.
Apabila minyak telah meresap jauh ke dalam tuangan, tidak mungkin
dibersihkan dengan menggunakan degreasing agent karena hanya akan
membersihkan bagian luar saja. Untuk membersihkan minyak secara
tuntas, benda tuangan diberi perlakuan panas pada suhu 500 derajat
Celcius selama 4 hingga 8 jam.
Namun dalam banyak hal, perlakuan panas selama ini tidak
praktis.Gouging dengan menggunakan elektroda OK 21.03 dianggap
sudah cukup memadai untuk menghilangkan resapan minyak di sekitar
kampuh las.
Bila masih terdapat porosity, maka untuk menghasilkan sambungan las
yang bersih, harus dilaksanakan gouging dan pengelasan ulang jika perlu
hingga lebih dari sekali sampai porosity benar-benar hilang.
BAB IV
KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Salah satu contoh teknik pengelasan yaitu pengelasan
dengan gas dan pengelasan dengan busur listrik.
2. Berbeda jenis material yang akan dilas, berbeda pula metode
dan teknologi pengelasan yang digunakan.
3. Besi cor dapat diklasifikasikan menurut kandungan kadar
karbon dan silikonnya, yaitu besi cor kelabu, besi cor putih,
besi cor nodular dan besi cor mampu tempa.
4. Karakteristik besi cor kelabu adalah adanya grafit yang
berbentuk serpih. Keberadaan grafit dengan bentuk seperti ini
menyebabkan besi cor kelabu sangat sensitif terhadap
timbulnya retak apabila dilas.
5. Metode yang digunakan agar tidak terjadi retak pada besi cor
kelabu adalah dengan melakukan pre-heating pada besi cor
yang akan dilas.
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wwr.Wb
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa,
karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya kelompok kami dapat
menyelesaikan sebuah makalah dengan tepat waktu. Berikut ini penulis
mempersembahkan sebuah makalah dengan judul Teknik dan “Cara
Pengelasan Besi Cor” , yang semoga dapat memberikan manfaat yang besar
bagi kita untuk mempelajari teknik pengelasan. Melalui kata pengantar ini penulis
lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah
ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat. Dengan ini
kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan
semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan
manfaat.

Walaikumsalam Wr. Wb.

Cilegon, 14 November 2014

Penulis
DAFTAR PUSTAKA

Generousdi. Jurnal Review Pengelasan Baja dan Besi Cor Kelabu. Jurnal
Teknik Mesin. DPK Akatel Indonesia Jambi, 2009.
MAKALAH TEKNOLOGI DAN METALURGI LAS

TENTANG

TEKNIK DAN CARA PENGELASAN BESI COR

OLEH : KELOMPOK 1

ANGGOTA :

ASFARI AZKA FADHILAH (3334122562)

BUNGA RANI ELVIRA (333412)

MIRNAWATI DEWI (333412)

NUR SUMIATI ACHMAD (333412)

RADHIYA INTEN (333412)

RATNA YULIANI (333412)

ROBBANIAH RAHMATUN NISA (3334120200)

ZILLA MALA ARTI (3334121577)

TEKNIK METALURGI

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

TAHUN AKADEMIK 2014