Anda di halaman 1dari 15

CASE BASE DISCUSION

Preeklamsia

Disusun untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Kesehatan masyarakat

Disusun Oleh :

Rfiki Ghifari Akbar


Andika Fajar Nugroho
Nurindah Chairunnisa
Fathin Nabila Qistie
Dina Rahayu

Pembimbing: dr. Gayut

PUSKESMAS JATILAWANG
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018
DATA PASIEN

Nama : ny. S
Usia : 42th
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Alamat : bantar
Agama : Islam
Nama suami : Tn. M
Usia : 32th
Pekerjaan : Pedagang

RPS
Pasien datang pada tanggal 16 November 2018 ke puskesmas jatilawang pada pukul
09.30 untuk melakukan pemeriksaan ANC yang ke-2 untuk kehamilan ini. Setelah dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan ANC, termasuk didalamnya leopold I-IV, Tinggi Fundus Uteri, detak
jantung janin,perkiraan usia kehamilan, berat badan dan tekanan darah.
Pada anamnesis, pasien mengatakan sebelum datang ke puskesmas, pada pagi harinya
pasien sempat datang ke bidan untuk dilakukan pengukuran tekanan darah terlebih dahulu karena
pasien memiliki riwayat tekanan darah tinggi baik ketika sebelum hamil maupun ketika sedang
hamil, dan didapatkan pengukuran tekanan darah sebelum datang ke puskemas adalah 170/90.
Pasien mengatakan ini merupakan kehamilannya yang kedua, hamilnya yang pertama dikatakan
terjadi pada tahun 2005 namun pasien mengatakan mengalami keguguran pada usia kehamilan 8
bulan, pasien mengatakan penyebabnya adalah dikarenakan pasien sempat terjatuh sebanyak 2x
ketika umur kehamilannya sudah pada trimester 3, dan ketika dilakukan pengecekan janin di
RSUD Banyumas, janin sang pasien dinyatakan telah meninggal oleh spesialis Obsgyn dan
spesialis jantung. Kehamilan saat ini merupakan kehamilannya yang kedua, bersama suaminya
yang kedua. Keluhan pasien pada kehamilan ini adalah pasien kadang merasa dadanya sesak,
sering pipis,dan sering BAK, pasien juga mengalami bengkak pada kedua tungkai kakinya.
Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan KB. Riwayat menarche pasien adalah ketika pasien
berumur 12 tahun, dengan lama haid bulanan sekitar 5 hari, dan disertai keluhan sakit pinggang.
Pada pemeriksaan ANC didapatkan hasil : tekanan darah 130/70, leopold I teraba bokong,
leopold II teraba punggung disebelah kanan dan lengan serta kaki disebelah kiri, leopold III
teraba kepala, dan leopold IV teraba divergen yang berarti kepala belum masuk kedalam pintu
atas panggul, TFU didapatkan setinggi 34cm, detak jantung janin terukur sebanyak 147x/menit,
perkiraan usia kehamilan saat dilakukan pemeriksaan adalah 35 minggu lebih 5 hari dengan
HPHT 7/4/2018 dan HTP 14/1/2019. Berat badan ibu adalah 66,5kg serta tinggi badan adalah
155cm. pasien juga mengatakan telah di imunisasi TT sebanyak 1x sebelum menikah.

RPD
HT (+), DM (-), Asma (-), Hb 3 bulan yang lalu 8,2.
RPK
HT (+), DM (+), asma (-)

TTV
TD 140/90
N 82x/menit
RR 20x/menit
T 36,9oC

PF
a. Kepala : normocephal
b. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor, reflek cahaya
(+/+)
c. Leher : Trakea di tengah, limfonoduli tidak teraba, JVP tidak meningkat
d. Thorax
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba, tidak kuat angkat
Perkusi : Tidak ditemukan cardiomegali
Auskultasi : S1S2 reguler, bising (-), gallop (-)
Pulmo
Inspeksi : Simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
Palpasi : Vokal fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : SD Vesikuler, ST Tidak ada
e. Abdomen
Inspeksi : Tampak datar
- - -
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-)
, massa (-), hepar/lien tidak teraba - -

Perkusi :-
Auskultasi : Bising usus (+)
Ekstremitas : tungkai kaki kanan kiri bengkak

Lab
Hb 8,5
Protein urin +1

Tinjauan Pustaka
Preeklampsia
2.1 Definisi
1. Hipertensi dalam kehamilan yaitu tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg sistolik
atau 90 mmHg diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 4-6 jam pada wanita yang
sebelumnya normotensi. 1
2. Preeklampsia adalah kondisi spesifik pada kehamilan di atas 20 minggu yang ditandai
dengan adanya disfungsi plasenta dan respon maternal terhadap adanya inflamasi spesifik
dengan aktivasi endotel dan koagulasi. 2
3. Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang
ditandai dengan timbulnya kejang atau koma. 3

2.2 Epidemiologi

Tiga penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan (30%), hipertensi dalam kehamilan
(25%), dan infeksi (12%).2 WHO memperkirakan kasus preeklampsia tujuh kali lebih tinggi di
negara berkembang daripada di negara maju.3 Prevalensi preeklampsia di Negara maju adalah
1,3% - 6%, sedangkan di Negara berkembang adalah 1,8% - 18%. Di Indonesia preeklampsia
berat dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu berkisar 1,5 persen sampai 25 persen,
sedangkan kematian bayi antara 45 persen sampai 50 persen. Eklampsia menyebabkan 50.000
kematian/tahun di seluruh dunia, 10 persen dari total kematian maternal6.

2.3 Etiologi dan pathogenesis


Penyebab hipertensi dalam kehamilan sampai saat ini belum diketahui pasti. Beberapa
penjelasan mengenai patogenesisnya masih berupa teori. Teori-teori yang saat ini banyak dianut
adalah7:

Teori Kelainan Vaskularisasi Plasenta

Pada hamil normal, dengan sebab yang belum jelas, terjadi invasi trofoblas ke dalam
lapisan otot arteria spiralis, yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi
dilatasi arteri spiralis. Invasi trofoblas juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis, sehingga
jaringan matriks menjadi hambur dan memudahkan lumen arteri spiralis mengalami distensi dan
dilatasi. Distensi dan vasodilatasi lumen arteri spiralis ini memberi dampak penurunan tekanan
darah, penurunan resistensi vaskular dan peningkatan aliran darah pada daerah utero plasenta.
Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada lapisan otot arteri
spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot arteri spiralis menjadi tetap kaku dan keras
sehingga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi.
Akibatnya, arteri spiralis relatif mengalami vasokonstriksi, dan terjadi kegagalan “remodeling
arteri spiralis”, sehingga aliran darah utero plasenta menurun, dan terjadilah hipoksia dan
iskemia plasenta. Dampaknya akan menimbulkan perubahan pada hipertensi dalam kehamilan.

Adanya disfungsi endotel ditandai dengan meningginya kadar fibronektin, faktor Von
Willebrand, t-PA dan PAI-1 yang merupakan marker dari sel-sel endotel. Patogenesis plasenta
yang terjadi pada preeklampsia dapat dijumpai sebagai berikut:

a. Terjadi plasentasi yang tidak sempurna sehingga plasenta tertanam dangkal dan arteri spiralis
tidak semua mengalami dilatasi.
b. Aliran darah ke plasenta kurang, terjadi infark plasenta yang luas.

c. Plasenta mengalami hipoksia sehingga pertumbuhan janin terhambat.

d. Deposisi fibrin pada pembuluh darah plasenta, menyebabkan penyempitan pembuluh darah

Teori Iskemia Plasenta dan pembentukan radikal bebas

Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan menghasilkan oksidan. Salah satu
oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah radikal hidroksil yang sangat toksis,
khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Radikal hidroksil akan merusak
membran sel, yang mengandung banyak asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak,
Peroksida lemak selain akan merusak sel, juga akan merusak nukleus, dan protein sel endotel.
Produksi oksidan dalam tubuh yang bersifat toksis, selalu diimbangi dengan produksi anti
oksidan

Peroksida lemak sebagai oksidan pada hipertensi dalam kehamilan

Pada hipertensi dalam kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan khususnya
peroksida lemak meningkat, sedangkan antioksidan, misal vitamin E pada hipertensi dalam
kehamilan menurun, sehingga terjadi dominasi kadar oksidan peroksida lemak yang relatif
tinggi. Peroksida lemak sebagai oksidan yang sangat toksis ini akan beredar diseluruh tubuh
dalam aliran darah dan akan merusak membran sel endotel. Membran sel endotel lebih mudah
mengalami kerusakan oleh peroksida lemak karena letaknya langsung berhubungan dengan
aliran darah dan mengandung banyak asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh sangat
rentan terhadap oksidan radikal hidroksil, yang akan berubah menjadi peroksida lemak

Disfungsi sel endotel

a) Gangguan metabolisme prostaglandin, karena salah satu fungsi sel endotel adalah
memproduksi prostaglandin, yaitu menurunnya produksi prostasiklin yang merupakan
vasodilator kuat.
b) Agregasi sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami kerusakan untuk menutup
tempat-tempat dilapisan endotel yang mengalami kerusakan. Agregasi trombosit
memproduksi tromboksan yang merupakan suatu vasokonstriktor kuat.
c) Perubahan khas pada sel endotel kapilar glomerulus.

d) Peningkatan permeabilitas kapilar

e) Peningkatan produksi bahan-bahan vasopresor

f) Peningkatan faktor koagulasi

Teori Intoleransi Imunologik antara Ibu dan Janin

a) Primigravida mempunyai risiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika
dibandingkan dengan multigravida.
b) Ibu multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai risiko lebih besar terjadinya
hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan suami sebelumnya.
c) Lamanya periode hubungan seks sampai saat kehamilan ialah makin lama periode ini,
makin kecil terjadi nya hipertensi dalam kehamilan.
Teori Adaptasi Kardiovaskular
Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan
vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor.
Artinya, daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang sehingga pembuluh
darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor. Peningkatan kepekaan pada kehamilan
yang akan menjadi hipertensi dalam kehamilan, sudah dapat ditemukan pada kehamilan dua
puluh minggu. Fakta ini dapat dipakai sebagai prediksi akan terjadinya hipertensi dalam
kehamilan

Teori Genetik

Telah terbukti bahwa pada ibu yang mengalami pereeklampsia, maka 26% anak
perempuannya akan mengalami preeklampsia pula

Teori defisiensi besi

Konsumsi minyak ikan dapat mengurangi risiko preeklampsia dan beberapa penelitian
juga menunjukkan bahwa defisiensi kalsium mengakibatkan risiko terjadinya
preeklampsia/eklampsia.

Teori stimulus inflamasi

Teori ini berdasarkan fakta bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam sirkulasi darah
merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi. Disfungsi endotel pada preeklampsia
akibat produksi debris trofoblas plasenta berlebihan tersebut diatas, mengakiba

tkan aktifitas leukosit yang tinggi pada sirkulasi ibu. Peristiwa ini disebut sebagai kekacauan
adaptasi dari proses inflamasi intravaskular pada kehamilan yang biasanya berlangsung normal
dan menyeluruh. Kebanyakan penelitian melaporkan terjadi kenaikan kadar TNF-alpha pada PE
dan IUGR. TNF-alpha dan IL-1 meningkatkan pembentukan trombin, platelet-activating factor
(PAF), faktor VIII related anitgen, PAI-1, permeabilitas endotel, ekspresi ICAM-1, VCAM-1,
meningkatkan aktivitas sintetase NO, dan kadar berbagai prostaglandin. Pada waktu yang sama
terjadi penurunan aktivitas sintetase NO dari endotel. Apakah TNF-alpha meningkat setelah
tanda-tanda klinis preeklampsia dijumpai atau peningkatan hanya terjadi pada IUGR masih
dalam perdebatan. Produksi IL-6 dalam desidua dan trofoblas dirangsang oleh peningkatan TNF-
alpha dan IL-1. IL-6 yang meninggi pada preeklampsia menyebabkan reaksi akut pada
preeklampsi dengan karakteristik kadar yang meningkat dari ceruloplasmin, alpha1 antitripsin,
dan haptoglobin, hipoalbuminemia, dan menurunnya kadar transferin dalam plasma. IL-6
menyebabkan permeabilitas sel endotel meningkat, merangsang sintesis platelet derived growth
factor (PDGF), gangguan produksi prostasiklin. Radikal bebas oksigen merangsang
pembentukan IL-6. Disfungsi endotel menyebabkan terjadinya produksi protein permukaan sel
yang diperantai oleh sitokin. Molekul adhesi dari endotel antara lain E-selektin, VCAM-1 dan
ICAM-1. ICAM-1 dan VCAM-1 diproduksi oleh berbagai jaringan sedangkan E-selectin hanya
diproduksi oleh endotel. Interaksi abnormal endotel-leukosit terjadi pada sirkulasi maternal
preeclampsia.

2.4 Faktor Resiko


1. Faktor kehamilan
2. Nullipara, gemeli, mola hidatidosa2
3. Faktor sosiodemografi
4. Usia < 20th dan Usia >35th2
5. Faktor Genetik2
6. Kondisi yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular: Diabetes Mellitus, Hipertensi
Kronik, Gangguan Pembuluh Darah4
7. RPD2
8. Obesitas2
9. Nefropati4

2.5 Manifestasi klinik


1. TD meningkat >140/90 mmHg
2. Nyeri kepala
3. Gangguan penglihatan
4. Hiperrefleksia
5. Proteinuria
6. Nyeri epigastrium2,4
2.6 Kriteria dignosis
Kriteria Minimal Preeklampsia
1. Hipertensi, tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg
diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 15 menit menggunakan lengan yang sama.
2. protein urin melebihi 300 mg dalam 24 jam atau tes urin dipstik > positif 1 (satu)
3. Jika tidak didapatkan protein urin, hipertensi dapat diikuti salah satu dibawah ini:
a. Trombositopeni, trombosit < 100.000 / microliter
b. Gangguan ginjal, atau didapatkan peningkatan kadar kreatinin serum
c. Gangguan liver, peningkatan konsentrasi transaminase 2 kali normal dan atau adanya
nyeri di daerah epigastrik / regio kanan atas abdomen
d. Edema paru
e. Gejala neurologis
f. Gangguan sirkulasi uteroplasenta, oligohidramnion, Fetal Growth Restriction (FGR) atau
didapatkan adanya absent or reversed end diastolic velocity (ARDV) 2,3

Disebut Disebut Preeklamsia Ringan apabila

- TD diastolik 90-110mmHg
- Proteinuria sampai ++
- Tidak ada tanda-tanda lain dari PEB
preekalmpsia berat apabila terdapat satu atau lebih tanda berikut :
- TD ≥160/110mmHg pada 2 pemeriksaan yang berjarak 4-6 jam, dengan pasien dalam
keadaan istirahat.
- Proteinuria ≥5g/24 jam, atau
dipstik +3
- Oliguria
- udema paru
- cerebral or visual disturbance
- Pulmonary edema
- nyeri perut kanan atas
- gangguan fungsi hepar
- Trombositopenia
- IUGR

2.7 Penatalaksanaan2
• Prinsip Tx PEB:
1) mencegah kejang
2) kontrol TD
3) terminasi kehamilan
• Tirah baring miring ke satu sisi (kiri)
• Infus Dekstrose 5% 20 tetes/menit

• Pemberian MgSO4
Dosis Awal : Berikan MgSO4 4 g IV
Dosis Pemeliharaan : MgSO4 2 g / jam IV
• Pemberian anti hipertensi
• Pemeriksaan Laboratorium : Hb, Trombosit, Hematokrit, Asam Urat, Urine lengkap dan
produksi urine 24 jam, Fungsi hati, Fungsi ginjal
Obat antihipertensi untuk ibu hamil 4

Pengobatan dan evaluasi selama rawat inap di Kamar Bersalin



Tirah Baring

Nifedipin 3 x 10 mg (po).

Pemeriksaan Laboratorium

Diet biasa

Dilakukan penilaian kesejahteraan janin (KTG/USG) 2,4
Syarat-syarat pemberian MgSO4 :

Harus tersedia antidotum MgSO4, yaitu Calcium Glukonas 10% (1 gr dalam 10 cc)
diberikan IV pelan (3 menit).

Refleks patella (+)

Frekuensi pernafasan > 16 x/menit

Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya. 2
2.8 Konseling dan edukasi

Memberikan informasi mengenai keadaan kesehatan ibu hamil dengan tekanan darah
yang tinggi.

Melakukan edukasi terhadap pasien, suami dan keluarga jika menemukan gejala atau
keluhan dari ibu hamil segera memberitahu petugas kesehatan atau langsung ke
pelayanan kesehatan

Sebelum pemberian MgSO4, pasien terlebih dulu diberitahu akan mengalami rasa panas
dengan pemberian obat tersebut.

Suami dan keluarga pasien tetap diberi motivasi untuk melakukan pendampingan
terhadap ibu hamil selama proses rujukan 4

Kriteria rujukan

Rujuk bila ada satu atau lebih gejala dan tanda-tanda preeklampsia berat ke fasilitas
pelayanan kesehatan sekunder.

Penanganan kegawatdaruratan harus di lakukan menjadi utama sebelum dan selama
proses rujukan hingga ke Pelayanan Kesehatan sekunder. 4

2.9 Komplikasi

Solutio plasenta, terjadi pada ibu yang menderita hipertensi

Hipofibrinogenemia, dianjurkan pemeriksaan fibrinogen secara berkala.

Nekrosis hati, akibat vasospasmus arteriol umum.

Sindroma HELLP, yaitu hemolisis,elevated liver enzymes dan low platelet.

Kelainan ginjal

Prematuritas, dismaturitas, kematian janin intra uterine 2

2.10 Prognosis
Menentukan prognosis eklamsia dengan kriteria Eden:
– Koma yang lama.
– Nadi > 120x/menit.
– Suhu > 40 ° C
– TD sistolik > 200 mmHg.
– Kejang > 10 kali.
– Proteinuria > 10 gr/dl.
– Tidak terdapat oedem.
Dikatakan buruk bila memenuhi salah satu kriteria di atas. 2
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan RI dan WHO (2013) Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di
Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta, Kementerian Kesehatan RI
2. Prawirohardjo, S. Saifuddin, A.B. Rachimhadhi, T. Wiknjosastro Gulardi H (2010) Ilmu
Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi keempat cetakan ketiga. Jakarta, PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
3. Kementerian Kesehatan RI (2013) Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Diagnosis
dan Tata Laksana Pre-eklampsia. Jakarta, Kementerian Kesehatan RI.
4. Ikatan Dokter Indonesia (2014) Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta, Menteri Kesehatan Republik Indonesia
5. Ramsay JE, Stewart F, Green IA, Sattar N. Microvascular dysfunction: a link between
preeclampsia and maternal coronary heart disease. BJOG. 2003;110:1029-31.
6. Nur Djannah Sitti , Sukma Arianti Ika . GAMBARAN EPIDEMIOLOGI KEJADIAN
PREEKLAMPSIA/EKLAMPSIA DI RSU PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
TAHUN 2007–2009. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 13 No. 4 Oktober 2010:
378–385

7. Prawirohardjo S. Kehamilan Kembar. Ilmu Kebidanan, Edisi III, Cetakan kedelapan.


Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo,2012. p386-97